Fokus pada Kebendaan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 17, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang raja kaya dengan 4 istri yang dikasihinya. Istri keempat yang termuda sangat dicintainya, raja memberinya gaun terindah, perhiasan yang mahal. Sang istri selalu menghibur raja sepanjang waktu dan raja mencintainya.

Istri ketiga sangat menarik. Dialah yang selalu menjadi pikiran sang raja setiap saat, apapun keinginan sang istri, raja  akan memenuhinya. Seluruh rakyat kerajaan menghormati raja beserta istri ketiganya. Sang raja sangat mencintainya.

Istri keduanya sangat setia. Raja selalu curhat dengan sang istri kedua, sang istri nampaknya bisa memahami semua permasalahan sang raja. Sang raja sangat mencintainya.

Istri pertama, yang paling tua, tidak begitu dekat dengan sang raja. Seorang istri yang sederhana. Sering sekali sang raja beda pendapat dengan istri pertama. Istri pertamalah yang mengingatkan jangan terlalu mengikuti kecerdasan pikiran saja.

Pada suatu hari, sang raja jatuh sakit parah dan berada pada ranjang kematiannya. Semua istri berkumpul di sekelilingnya.

Sang raja berkata pelan, “Istri-istriku, saya segera mati dan aku tidak ingin mati sendiri, siapakah di antara kalian yang mau mendampingiku bersama menghadapi kematian?”

Istri keempat yang selalu diberi raja yang terbaik menolak pergi bersama raja yang membuat sang raja sangat sedih.

Sang raja memanggil istri ketiganya dan memperoleh jawaban yang ketus, “Tidak mungkin saya mengikuti raja yang meninggal, saya akan pergi dengan orang lain!”

Hati sang raja semakin pilu dan memanggil istri keduanya yang selalu cocok kala melakukan curhat di masa sehat. Sang Istri kedua mmenjawab dengan penuh bijak, “Saya sedih raja sedang sekarat, saya berjanji akan datang tempat perabuan raja, tapi saya tidak akan bersama raja!”

Hati raja hancur berkeping-keping, saat istri keempat berkata dengan tegas, “Saya akan menemani sang raja ke manapun pergi.”

Sang raja menyesal di akhir kehidupannya, “Istriku, saya selalu mengabaikan dirimu. Kau terlihat sangat kurus. Tapi ternyata engkaulah istri yang paling setia.”

Sang raja memanggil para menteri dan berkata agar pesan terakhir sang raja kepada seluruh rakyatnya dicatat, “Renungkan! Kematian itu tidak bisa dihindari. Persiapkan diri kalian dengan baik. Layani pasangan yang akan menemani kalian saat kematian nanti sebaik-baiknya.”

Kita semua memiliki 4 istri: Istri keempat adalah tubuh dan keinginan kita. Istri ketiga adalah harta kekayaaan kita. Istri kedua adalah seluruh sahabat dan keluarga. Sedang istri pertama adalah Jiwa yang selalu mendampingi kita.

Kita terjebak dalam dunia yang menarik kita, seperti ketiga istri raja yang menarik dan menghabiskan pikiran dan energi sang raja. Akan tetapi keterikatan dengan dunia tersebut akan membuat kita sedih di saat ajal tiba, mereka tidak akan mau mendampingi kita.

Kita terjebak dalam ranting dan daun Pohon Kebendaan

Para leluhur kita menggambarkan bahwa kita seperti hidup pada sebuah Pohon Abadi Asvattha, yang akarnya berada di atas bersumber pada Gusti, sedangkan ranting dan dedaunannya menjalar ke bawah.

……………..

KONON, POHON YANG MEWAKILI KEBERADAAN INI bercabang ke bawah. Ranting dan dedaunannya menjalar ke bawah. Inilah simbol keberadaan, kebendaan.

………………

Segala macam pengetahuan, semua cabang pengetahuan, seluruh ilmu pengetahuan adalah ranting-ranting dan dedaunan dari Pohon Keberadaan ini. Taruhlah kita berhasil menguasai semua ilmu dan seni — yang sesungguhnya mustahil — kita baru tahu tentang ranting dan daun. Belum memahami akar pohon yang ada di atas.

 SEPANJANG USIA, bahkan dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan yang lain, kita sepenuhnya terjebak dalam, dan oleh jeratan ranting dan dedaunan Pohon Keberadaan ini.... Penjelasan Bhagavad Gita 15:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menebang Pohon Kebendaan dengan Kapak Ketidakterikatan

Krsna mengajak Arjuna untuk menebang Pohon Keberadaan ini. Berarti, melampaui paham, konsep, dan pandangan-pandangan kebendaan dengan menggunakan kapak “tanpa keterikatan”.

Keterikatan dengan Pohon Keberadaan ini, dengan dunia-benda ini, adalah sumber kekecewaan, ketidakpuasan, kesengsaraan, dan sebagainya.

ALASANNYA: JIWA ABADI ADANYA, Jiwa merdeka dan bebas adanya. Sementara itu Pohon Keberadaan “ada” karena keterikatan. Keterikatan membatasi gerak-gerik, kebebasan, dan menjadi penghalang bagi Jiwa untuk mengungkapkan keabadiannya. Tentunya, menjadi penghalang bagi Jiwa yang ingin bebas darinya.

Serukun apa pun rumah tangga kita, semewah apa pun rumah kita, sebaik apa pun pekerjaan kita, hanya dapat menyenangkan untuk beberapa saat saja. Dedaunan Pohon Keberadaan ini bukanlah untuk selamanya. Pohon ini pun rentan terhadap pergantian musim, cuaca, dan sebagainya. Ada musim semi, ada musim gugur.

Jiwa Abadi yang mengikat dirinya dengan pohon ini seolah kehilangan sayapnya untuk terbang. Padahal sifatnya adalah bebas, merdeka. Sebab itu, tebanglah pohon ini!

MENEBANG POHON KEBERADAAN tidak berarti kita menjadi Hitler dan menghabisi orang Yahudi, atau menjadi teroris, dan membom pusat-pusat keramaian. Menebang Pohon Keberadaan juga tidak berarti kita mernbunuh atau melakukan aksi bunuh diri atas nama kepercayaan dan pembelaan kepercayaan.

Menebang Pohon Keberadaaan tidak berarti mengakhiri kehidupan. Tidak bisa. Bersama  atau tanpa kita, roda kehidupan tetaplah berputar terus. Ia tidak pernah berhenti. Kelahiran, kematian, bahkan kiamat – semuanya adalah bagian dari Kehidupan Agung yang tak berujung dan tak berpangkal. Setidaknya demikian — tak berujung dan tak berpangkal— “bagi kita” dengan segala keterbatasan pemahaman kita.

Menebang Pohon Keberadaan dengan kapak ketidakterikatan adalah proses menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kepedulian terhadap setiap wujud kehidupan, rasa empati yang tinggi. Ya, menjalani hidup. Tidak berhenti. Keterikatan menghentikan perjalanan kita. Bolak-balik, lahir-mati — lahir dan mati lagi untuk mengurusi hal-hal yang sama. Bahkan, seringkali kita mengalami kelahiran dalam keluarga yang sama. Kita berjalan di tempat, tidak menjalani hidup.

Dan berjalan di tempat itulah samsara, pengulangan yang menyengsarakan, mernbosankan, menjenuhkan! Penjelasan Bhagavad Gita 15:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Brahmana Sekolahan dan Wanita PSK #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 15, 2018 by triwidodo

Dikisahkan ada seorang brahmana yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjana dan mulai menetap di suatu desa. Persis di depan tempat tinggal dia tinggallah seorang wanita PSK, Pekerja Seks Komersial. Sang brahmana setiap hari duduk di beranda membaca Bhagavad Gita.sedang wanita PSK menjalankan pekerjaan separti biasanya.

Setelah beberapa tahun, sang brahmana merasa begitu terganggu oleh kegiatan sang wanita PSK. Dia selalu berpikir, betapa rendahnya pekerjaan wanita PSK, akan tetapi dia tetap membaca Kitab  Bhagavad Gita.

Setelah tahun-tahun berlalu, sang brahmana dan sang wanita PSK meninggal pada saat yang sama.

Sang brahmana kaget saat dia akan meninggal, dia melihat Utusan Vishnu datang membawa wanita PSK ke Vaikuntha, sedangkan yang mendatanginya justru Utusan Yama, Dewa Kematian  yang akan menghitung jumlah kebaikan dan kejahatannya untuk dimasukkan surga atau neraka sesuai tindakan yang telah dilakukannya baru lahir kembali.

Sang brahmana protes, bahwa pasti telah terjadi kesalahan. Baik Utusan Vishnu maupun Utusan Yama berkata bahwa tidak ada kesalahan.

Selama ini sang brahmana membaca kitab suci akan tetapi pikirannya selalu fokus pada kegiatan rendah sang PSK. Sedangkan sang PSK sudah lama ingin kembali ke jalan Gusti, ia mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dibaca sang brahmana, fikirannya terfokus pada Gusti. Pada saat sang brahmana meninggal pikirannya terfokus pada kegiatan rendah PSK, sedangkan pada waktu sang PSK meninggal fikirannya terfokus pada Gusti.

Fokus pikiran yang terakhir itulah yang menentukan dia akan lahir kembali atau tidak perlu lahir kembali…………….

Pikiran terfokus pada Gusti saat ajal tiba niscaya mencapai-Nya

“Saat ajal tiba, seseorang yang meninggalkan badan dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku, niscaya mencapai-Ku. Tiada keraguan dalam hal itu.” Bhagavad Gita 8:5

Saat ajal tiba – ini adalah closing scene atau adegan akhir dalam salah satu episode kehidupan kita. Tentunya, adegan akhir ini menjadi awal dari episode baru. Akhir adegan dalam episode ini, mengantar kita pada adegan pembukaan dalam episode berikutnya.

Jika sepanjang hidup kita sudah melatih diri untuk senantiasa berada dalam kesadaraan Jiwa, maka dalam kehidupan berikutnya kita akan melanjutkan upaya itu. Namun, jika dalam kehidupan ini kita sudah mencapai kesempurnaan, dan saat ajal tiba kesadaran kita sepenuhnya terpusatkan pada Sang Gusti Pangeran, maka tiada lagi episode baru. Kita menyatu dengan Sang Saksi Agung, Sang Jiwa Agung, Krsna mengatakan hal ini sebagai suatu keniscayaan.

Ayat ini sering disalahtafsirkan, seolah sepanjang hidup, kita bisa memikirkan apa saja. Kemudian saat ajal tiba kita mengenang-Nya, dan bingo! Kita menyatu dengan-Nya.

Teorinya demikian, prakteknya beda. Jika sepanjang hidup yang terpikir adalah dunia benda saja, maka saat ajal tiba, sesaat sebelumnya, kita tidak bisa, tidak mungkin, mengalihkan kesadaran pada-Nya. Saat itu yang terpikir adalah rumah, kerabat, keluarga; istana, yang telah kita bangun dan ‘belum cukup’ menikmatinya; perusahaan, yang kita tidak yakin akan dikelola dengan baik oleh ahli waris kita — dan sebagainya, dan seterusnya.

Pikiran terakhir, kesadaran terakhir saat mengembuskan napas terakhir — sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala ritus yang kita lakukan sepanjang hidup, segala amal-saleh atau dana-punia. Jika semuanya itu kita lakukan untuk pamer, dan bukan sebagai persembahan kepada-Nya_

PEMUSATAN KESADARAN PADA-NYA mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya.

Hola menafsirkan ayat ini sesuai dengan pemahamannya yang kerdil, maka putra-putrinya diberi nama sesuai dengan Nama-Nama Mulia Sang Gusti Pangeran, sebut saja Krishna, Rama, dan sebagainya dan seterusnya. Pikirannya sederhana, ‘Saat mati, saya pasti memikirkan mereka, maka jika saya memanggil siapa saja di antara mereka, dan tiba-tiba plak – mati! Ya, pasti masuk surga.’

Menyatu dengan Gusti Pgngeran adalah keadaan melampaui surga – tapi, bagi Hola surga adalah yang tertinggi – mau bilang apa?

Saat Yama, Dewa Maut datang menjemput — melihat bayangannya, Hola cepat-cepat memanggil anak sulungnya, ‘Krishna, cepat kemari…’ Krishna datang, sayang napas rnasih belum berhenti. Tidak mau rugi dan kecolongan, Hola memanggil anaknya yang kedua, ‘Rama!’ Rama pun datang, tapi Hola belum mampus!

Kemudian anak ketiga, keempat . . keduabelas — semua hadir, Hola masih bernapas! Melihat semuanya mengelilingi ranjangnya — Hola gelisah, ‘Kalian semua di sini, siapa menjaga toko kita

di bawah?’ Dan, plak, mampus – mati!

HOLA TIDAK BISA MENIPU DEWA MAUT! Anda dan saya pun tidak bisa. Jika mau menyatu dengan-Nya, maka mulailah dari saat ini berupaya dengan sepenuh hati, pikiran, dan raga untuk selalu berada dalam kesadaran Jiwa. Tidak bisa beralih pada kesadaran Jiwa saat ajal tiba, jika sepanjang hidup kesadaran kita terpusatkan pada dunia benda.

Dunia benda ibarat kantor – tempat kerja. Silakan bekerja dan pulang ke rumah. Jangan menjadi workaholic dan tidur di kantor. Pisahkan urusan kantor dari urusan rumah.

Kantor adalah dunia benda. Rumah kita, rumah sejati kita adalah Istana Gusti Pangeran. Selesaikan tugas kewajiban, dan kernbalilah pada-Nya. Masak terikat dengan kantor? Untuk apa berkantor, untuk apa bekerja? Bukankah supaya bisa menggunakan hasil dari jerih-payah kita untuk menikmati hidup? Kehidupan sejati ada di istana Gusti Pangeran, bukan di gubuk-dunia ini! Dalam pengertian, kehidupan sejati ada dalam Kesadaran Jiwa, bukan dalam kesadaran alam benda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Apa yang terpikirkan saat ajal tiba adalah apa yang dipikirkan sepanjang hidup

 “Apa pun yang terpikirkan saat ajal tiba, saat seseorang meninggalkan badannya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), itu pula yang dicapainya setelah meninggalkan badan. Sebab, pikiran terakhir adalah sama seperti apa yang terpikir olehnya secara terus-menerus sepanjang hidup.” Bhagavad Gita 8:6

Ayat ini adalah penegasan atas apa yang telah kita bahas dalam ayat sebclumnya. Kita tidak bisa memikirkan kebendaan sepanjang hidup, kemudian sesaat sebelum ajal tiba, kita mengubah channel. Dalam konteks ini, boleh dibilang kita tidak memegang remote-control.

Saat itu, batere remote-control pun sudah aus, habis. Tidak bekerja lagi. Diri kita sangat lemah untuk bangun dan mengubah channel. Orang lain tidak bisa mengubah channel untuk kita, karena, sesungguhnya setiap orang memiliki pesawat televisi pribadi. Setiap orang hanya menonton program-program “buatannya” sendiri di channel pribadi dan pesawat pribadi!

Guruku selalu mengingatkan bahwa…..

DEWA MAUT IBARAT SEORANG FOTOGRAFER, “Jika mau fotomu bagus, maka tersenyumlah selalu, karena kau tidak tahu kapan Sang Fotografer akan mengambil fotomu. Bersiap-siaplah untuk difoto setiap saat.”

Alihkan kesadaranmu pada Sang Gusti Pangeran, walau kaki, tangan, badanrnu masih tetap bekerja di dunia ini. Biarlah indra melaksanakan tugas mereka masing-masing – namun kesadaranmu selalu terpusatkan pada-Nya! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

2 Cara Melepaskan Diri dari Keterikatan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on February 14, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Rishi Narada menemui Sri Krishna yang berada dalam keadaan menangis. Sri Krishna mengatakan banyak manusia yang terikat dengan dunia materi dan tidak mau kembali pada-Nya. Padahal manusia-manusia ini merupakan percikan dari-Nya. Narada bertanya apakah dia boleh membantu-Nya?

Sri Krishna menyebutkan di bumi ada seorang bhakta bernama Chandulal. Narada diminta menyampaikan padanya, bahwa dia tidak usah sadhana (laku spiritual), japa (zikir menyebut Tuhan), yagya (ritual persembahan) ataupun dana (persembahan harta) untuk kembali pada-Nya. Cukup bawa dia ke Vaikuntha (Manunggal dengan Gusti).

Chandulal ditemuai Narada dan berkata, bahwa saat ini dia sudah siap manunggal dengan Gusti, tapi mohon pengertian Narada bahwa dia baru saja menikah, istri sangat muda, bagaimana kata orang dia meninggalkan tanpa tanggung jawab. Chandulal minta setelah anaknya lahir baru ke Vaikuntha sehingga istrinya bisa melupakan kepergian dia.

Setelah beberapa tahun Narada datang lagi dan Chandulal sudah punya anak kecil yang berlarian kesana kemari. Chandulal berkata bahwa dia sudah siap, akan tetapi ada satu masalah. Istri dan ibunya berada satu rumah dengannya, dia perlu waktu agar ibu dan istrinya akur dan anaknya sudah cukup besar kala ditinggalkan.

Narada datang lagi, Chandalal sudah punya cucu, tapi nampaknya ingin bersembunyi dari Narada, lari naik tangga, terjatuh, Dewa Yama datang mencabut nyawanya……..

Narada melaporkan peristiwa tersebut kepada Sri Krishna, dan Sri Krishna meminta Narada tidak usah khawatir. Chandulal telah menjadi seekor anjing yang berada dil luar rumahnya. Narada diberi kemampuan berkomunikasi dengan bahasa anjing untuk mengajaknya langsung pergi ke Vaikuntha.

Narada datang ke rumah Chandulal dan menemui anjing di bawah pohon, mengatakan bahwa Sri Krishna sangat pengasih dan tetap minta anjing tersebut pergi ke Vaikuntha. Chandulal dalam wujud anjing, merasa bersalah dan bersyukur masih juga diberi undangan ke Vaikuntha. Akan tetapi Chandulal dalam wujud anjing berkata, “Wahai Rishi Narada, lihatlah rumah itu. Mereka membiarkan pintu dan jendela rumah terbuka, bagaimana jika ada pencuri yang masuk mengambil harta yang telah saya kumpulkan selama bertahun-tahun? Kalau mereka di dalam rumah itu sudah sadar dan rumah itu aman aku akan ikut Rishi Narada ke Vaikuntha!”

Semua kisah tersebut terjadi dalam diri manusia. Sri Krishna dan Narada berada dalam diri kita. Sudah berapa kali Sri Krishna mengajak kita kembali ke Ananda (Kebahagiaan sejati), sudah berapa kali Rishi Narada dalam diri mengajak kita menghadap Gusti di dalam diri agar kita dapat mencapai kebahagiaan sejati dan kita masih menunda-nunda saja demi dunia yang maya, yang merupakan ilusi belaka?

Antara Pesta Gusti yang Melimpah dan Kesadaran Restoran

Jalalludin Rumi memakai istilah Pesta Gusti yang melimpah dan kesadaran restoran manusia:

Tidak ikut dalam Pesta-Nya berarti tidak menerima undangan-Nya. Bukan karena Anda tidak dikirimi undangan, tetapi karena Anda memilih untuk tidak menerimanya. Kalaupun menerima undangan-Nya, Anda tidak menghadiri Pesta-Nya.

Menghadiri Pesta Dia berarti tidak memikirkan “soal dapur” lagi. Untuk apa memikirkan “soal dapur”? Bukankah Dia telah mengundang Anda untuk makan di Rumah-Nya?

Menghadiri Pesta Dia berarti tidak mengurusi “makanan”.”Untuk apa mengurusi ‘makanan’” Bukankah Dia telah mengurus semuanya?

Sementara ini kita masih ber-“kesadaran-restoran”. Masih membedakan antara “Mie Cina” dan “Mie Jawa”. Mau ini, tidak mau itu. Mau itu, tidak mau ini. Dengan “kesadaran-restoran” seperti itu, kita tidak bisa menghadiri Pesta-Nya. Di Pesta, kemauan Dia haruslah menjadi kemauan kita. Apa pun yang dia suguhkan kita terima.

Seseorang pernah menanggapi saya, “Kalau begitu, saya pilih ber-‘kesadaran-restoran’ saka. Saya bisa memilih. Di Pesta-Nya tidak ada pilihan.”

Demikianlah adanya. Mereka yang masih ber-‘kesadaran-restoran’ akan menolak undangan-Nya. ‘Untuk apa?’, pikir mereka. ‘Entah di sana ada makanan kesukaanku atau tidak, lebih baik makan di restoran saja.’

Tidak ada yang bisa mendesak Anda untuk melampaui ‘kesadaran-restoran’ dan berpesta bersama Dia. Para nabi, para mesias,para avatar dan para buddha hanya bisa merayu Anda, “Restoran yang kau datangi itu tidak ada apa-apanya. Di Pesta Dia semuanya berkelimpahan. Daftar makanan di restoran yang kau datangi itu masih belum apa-apa. Di Pesta Dia lebih banyak macam makanan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Cara Melepaskan Diri dari Keterikatan

Baik keterikatan pada keluarga maupun berkesadaran restorang kedua-duanya adalah wujud dari keterikatan. Bagaimankah cara melepaskan diri dari keterikatan?

“Wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), niscaya pikiran memang liar – pun sulit ditaklukkan. Namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti).” Bhagavad Gita 6:35

Dalam ayat ini, Krsna memberikan tips jitu untuk mengendalikan pikiran, pertama adalah:

Abhyasa – membiasakan diri, berlatih secara terus-menerus. Seorang sahabat, saintis tulen, ahli bedah otak, almarhum dr. Setiawan selalu menggunakan istilah ‘intensif dan repetitif’. Latihan untuk mengendalikan gugusan pikiran dan perasaan membutuhkan kegigihan, kebulatan tekad, keteguhan hati, dan kekuatan kehendak. Tidak bisa secara instan, seperti sering diiklankan oleh orang-orang yang sedang mencari keuntungan, dan tidak tahu-menahu tentang seluk-beluk mind.

Dr. Setiawan betul. Ia memahami kinerja brain, otak, sebagai alat yang digunakan oleh mind. Untuk itu butuh latihan secara intensif, tidak bisa sambilan. Hari ini berlatih, besok tidak – mustahil mind terkendali.

Berlatih secara intensif dan repetitif setiap hari saja tidak cukup. Dibutuhkan latihan setiap jam, setiap detik. Setiap kali mind baru mau kembali pada sifat keliarannya, segera kita menarik dia. Secara intensif dan repetitif – berulang-ulang. Inilah abhyasa – inilah cara untuk mengubah kebiasaan mind.

Namun, cara ini pun adalah semacam first-aid – pertolongan pertama. Untuk selanjutnya, supaya mind tidak liar terus, lagi-lagi secara intensif dan repetitif, kita mesti belajar untuk melepaskan keterikatan dari benda-benda dan keadaan-keadaan yang dapat memicu keliarannya. Ini disebut:

Vairagya – melepaskan diri dari keterikatan: membebaskan diri dari keterikatan pada hal-hal yang dapat memicu dan/atau menambah keliaran mind.

Abhyasa dan Vairagya – inilah cara untuk mengendalikan  mind. Pekerjaan ini adalah purnawaktu. Tidak bisa hanya sesekali saja. Mind tidak pernah mati. Setelah terkendali pun masih tetap diawasi, tidak bisa dilepas begitu saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Orang Paling Bodoh di Kerajaan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 13, 2018 by triwidodo

Dikisahkan ada seorang suci duduk di bawah pohon bersama para pengikutnya menyanyikan bhajan dan bercerita tentang Sri Krishna.

Seorang Raja lewat bersama para menteri dan rombongannya. Sang raja bertanya kepada penasehatnya apa yang mereka lakukan di bawah pohon tersebut. Sang penasehat berkata bahwa dia seorang bodoh, tidak cerdas tapi hanya membuat gangguan kecil.

Sang raja melanjutkan perjalanannya. Akan tetapi malam itu sang raja berpikir, ternyata ada orang bodoh di kerajaannya dan dia berniat memberinya hadiah kepada orang paling bodoh di kerajaannya.

Keesokan harinya sang raja memanggil penaehatnya dan memberikan satu koin emas agar diberikan kepada orang yang paling bodoh di kerajaannya.  Sang penasehat berkeliling akan tetapi tidak ada seorang pun yang mau dianggap sebagai orang paling bodoh walau akan menerima hadiah uang koin emas.

Capek mencari orang bodoh, penasehat raja datang ke tempat orang suci yang sedang menyanyikan lagu pujian bersama para pengikutnya. Sang penasehat menceritakan kesusahannya menemukan orang paling bodoh dan takut kembali sebelum tugasnya diselesaikan karena takut dihukum oleh sang raja.

Orang suci tersebut berkata bahwa dia adalah orang terbodoh. Sang penasehat memberinya koin uang emas yang segera dibuangnya ke tempat sampah.

Sang penasehat melapor kepada sang raja bahwa dia telah menemukan orang terbodoh, koin uang emas yang berharga dibuang oleh orang bodoh ke tempat sampah.

Beberapa tahun kemudian, sang raja sakit parah. Orang suci tersebut mendatanginya dan bertanya, bukankah sang raja telah mengumpulkan banyak kekayaan? Mengapa masih murung juga? Tidakkah kekayaan dan kemewahan akan menyertai apabila sang raja wafat?

Sang raja menggelengkan kepala.

Orang Suci tersebut berkata bahwa sang raja belum memperoleh kekayaan sejati. Kekayaan materi akan ditinggalkan di dunia saat kita mati, dan orang yang belum memperoleh kekayaan sejati adalah orang paling bodoh. Orang Suci tersebut melanjutkan bahwa sang raja berhak memperoleh koin uang emas karena sang rajalah orang terbodoh di dalam kerajaannya.

Putra sang raja mendengarkan penuh perhatian apa yang dikatakan oleh orang suci tersebut. Baik sang raja maupun putranya merasa bahwa apa yang dikatakan orang suci tersebut benar adanya. Dikisahkan pada akhirnya sang raja dapat sembuh kembali dan memulai hidup dengan penuh kesadaran, bukan hanya mengumpulkan harta kekayaan………..

Manusia selalu ingin untung dan tidak mau rugi. Mereka yang mau menerima kerugian dengan melakukan pengorbanan dikatakan bodoh. Akan tetapi harta yang menumpuk karena jumlah keuntungan sepanjang kehidupan akan ditinggalkan saat dia meninggal dunia? Dari perhitungan ekonomi, di akhir kehidupan kita tetap rugi juga. Merasa pintar tetapi sejatinya bodoh juga. Harta perlu digunakan untuk mencukupi kebutuhan kita dan untuk melakukan dharma………

 

Persiapan sebelum mati

Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian?”

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia) #SpiritualIndonesia

Mereka yang terpengaruh Maya Dunia termasuk bodoh

“Mereka yang bodoh dan terbawa oleh pengaruh Maya – kekuatan ilusif yang membingungkan – tidak mengenal-Ku, demikian mereka menjadi tidak selaras dengan-Ku (asura).” Bhagavad Gita 7:15

Setan, demon, atau asura adalah suatu keadaan yang tidak selaras, tidak seirama dengan irama alam. Asura berarti tidak berirama, tanpa irama.

Irama Alam adalah memberi, berbagi, mencintai, melindungi, empati – semua ini adalah irama alam. Gotong royong adalah irama alam. Dan, kebalikan semuanya itu membuat manusia tidak seirama dengan alam. Mereka yang seirama dengan alam adalah sura – kebalikannya adalah asura.

Jadi, Anda, saya, kita semua memiliki potensi ganda ini, mau menjadi seirama, selaras dengan semesta atau tidak selaras. Mau menjadi Sura atau Asura – pilihan di tangan kita!

Krsna menyebut mereka yang tidak seirama—mereka yang bersifat asura—sebagai orang bodoh.

Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa

 

KENYAMANAN TIDAK SAMA DENGAN KEBAHAGIAAN. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup!

BERAKTIFITASLAH SEPERTI BIASA—Nikmati segala kenyamanan, namun dengan penuh kesadaran bahwa kenyamanan yang Anda peroleh dari harta benda dan keuasaan tidak sama dengan kebahagiaan. Maka, berjuanglah pula untuk meraih kebahagiaan sejati dengan cara “mengenal diri”—mengenal Hakikat Diri, Hakikat Jiwa, hubungan Jiwa dengan Jiwa-Jiwa lain, hubungan Jiwa-Jiwa dengan sang Jiwa Agung.

Kembangkan sifat panembahan, belajarlah, biasakanlah diri untuk berbagi berkah. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati. Jangan menjadi bodoh, jangan terbawa oleh Maya! Lewati Maya, gunakan Maya untuk menembusnya, gunakan harta-benda dan kekuasaan untuk berbagi berkah! Di balik tirai Maya adalah Mayapati—the Lord of Maya—Sang Jiwa Agung. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Jumlah Kacang yang Dimakan Sri Krishna #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 12, 2018 by triwidodo

Dikisahkan perang bharatayudha adalah perang yang aneh menurut keadaan zaman sekarang. Kedua belah pihak saling berperang pada siang hari, akan tetapi begitu matahari terbenam mereka beristirahat dan makan bersama rombongan pasukan masing-masing. Kadang-kadang ada juga yang mengunjungi musuh, karena mereka masih satu keluarga besar Bharata.

Adalah Raja Udupi yang tidak mau bergabung dengan salah satu pihak yang berperang, tetapi dia berjanji dia dan rombongannya akan memberi makan pasukan kedua belah pihak.

Selama makan, Sri Krishna akan duduk di samping Yudhishtira dan Raja Udupi pribadi melayani keduanya makan.

Anehnya Raja Udupi hanya menyiapkan sejumlah makanan yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak yang selamat dari pertempuran.

Pada suatu hari para Pandava masuk ke dapur dan bertanya kepada para juru masak, berapa banyak makanan yang berlebih atau kurang setiap harinya.

Para juru masak menjawab bahwa setiap hari Raja Udupi memperbaiki jumlah makanan bagi prajurit yang masih hidup. Nampaknya sang raja tahu berapa orang pasukan yang akan mati hari itu.

Para Pandava mendatangi Raja Udupi dan bertanya, bagaimana bisa sang raja mengetahui dengan persis berapa prajurit yang akan tewas setiap hari.

Raja Udupi menjawab bahwa dialah yang melayani Sri Krishna makan. Dengan penuh perhatian sang raja menghitung berapa banyak kacang yang dimakan Sri Krishna. Setiap kacang yang dimakan Sri Krishna adalah petunjuk berapa ribu prajurit yang ditakdirkan mati dalam pertempuran. Pada saat Sri Krishna makan kacang banyak sekali itu adalah tanda bagi saya untuk menghitung berapa ribu banyaknya prajurit yang tewas kesokan harinya.

Para Pandava sadar, bahwa adalah Kehendak Sri Krishna, berapa banyak prajurit yang akan tewas dalam perang kesokan harinya. Bagi Sri Krishna peperangan ini hanyalah sebuah pergelaran pertunjukan…….

Segala sesuatu terjadi sesuai pengaturan Gusti. Gusti-lah pengendali segalanya. Kalau sudah sadar hal yang demikian, maka

Aku Tidak Berbuat Sesuatu, Yang Melakukan adalah Gusti Aku Sekadar Alat-Nya

“Ia yang tekun menjalani Yoga, berkarya tanpa pamrih, hendaknya memahami kebenaran-diri dan dalam keadaan apa pun – selagi melihat, mendengar, menyentuh atau mencium sesuatu; bahkan saat makan, berjalan, tidur dan bernapas – selalu mengingat, ‘Aku tidak berbuat sesuatu.’” Bhagavad Gita 5:8

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.”

Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

 Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Arjuna sudah melihat para raja dan prajurit yang akan mati saat melihat Visvarupa dari Sri Krishna.

 

Arjuna melihat para raja dan prajurit yang akan mati terlebih dahulu

“(Kulihat) putra Dhrtarastra, para Kaurava bersama raja-raja lain (di pihak mereka); Bhisma, Drona, dan Karna – putra sais; pun demikian para kesatria agung dari pihak kita; semuanya dengan cepat memasuki mulut-mulut-Mu yang bertaring dan sungguh mengerikan; beberapa di antara mereka tersangkut di sela-sela gigi-Mu, kepala mereka hancur karena benturan.” Bhagavad Gita 11:26-27

 

“Sebagaimana sungai-sungai yang kebanjiran melaju cepat menuju laut; pun demikian para kesatria unggul di antara manusia-manusia se dunia, seolah berlomba untuk memasuki mulut-Mu yang menyala mengeluarkan api.” Bhagavad Gita 11:28

 

“Sebagaimana laron terburu-buru memasuki nyala api untuk menemukan ajalnya; pun demikian seantero dunia dengan seluruh isinya sedang memasuki mulut-Mu dengan cepat, untuk berhancur-lebur tanpa bekas.” Bhagavad Gita 11:29

“Akulah Sang Kala, Waktu yang Berkuasa, Pemusnah Alam Semesta. Saat ini Aku berkehendak untuk memusnahkan mereka semua. Sekalipun tanpa bantuanmu, Arjuna, para kesatria di kubu lawan pasti binasa.” Bhagavad Gita 11:32

 Jika Gusti Pangeran sudah berkehendak demikian, maka adakah kekuatan lain yang bisa melawan atau menentukan sesuatu yang lain?

…………..

Krsna tidak membohongi Arjuna. Dia menjelaskan apa adanya, “Aku sudah berkehendak untuk memusnahkan, membinasakan, membunuh mereka, musuh-musuh adharma itu!”

Jika kita masih tetap tidak memahami hal ini, maka hendaknya mengartikan Kaurava dan sekutunya sebagai virus, serangga. Dan, Krsna sebagai Tukang Semprot. Arjuna sebagai alat semprot; atau Krsna sebagai Dokter AhliBedah, dan Arjuna sebagai alat bedah.

 

“Sebab itu, bangkitlah dan raihlah kemuliaan, kemenangan! Setelah menaklukkan para musuh (dharma), nikmatilah kekuasaan, kerajaan untuk menyejahterakan (rakyat).” Bhagavad Gita 11:33 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Budak dari Ambisi #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 11, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Maharaja Alexander yang Agung saat akan kembali ke negerinya, ingat pesan para penasehatnya untuk membawa seorang yogi dari India.

Dalam perjalanan di hutan, Alexander menemukan seorang yogi dalam keadaan meditasi. Alexander menunggu dengan sabar sampai sang yogi membuka matanya yang penuh cahaya kebijaksanaan. Alexander minta sang yogi ikut ke Yunani dan apa pun permintaannya akan dipenuhi. Sang yogi berkata bahwa dia tidak membutuhkan apa-apa.

Untuk pertama kalinya ada orang yang menolak permintaan dirinya dan Alexander menjadi marah. sang raja menghunus pedangnya dan berkata bahwa dialah Raja Agung Alexander dan orang yang tidak patuh padanya akan dibunuhnya.

Sang yogi menjawab bahwa sang raja tidak bisa membunuhnya, dia hanya bisa membunuh tubuhnya, dan tubuhnya hanyalah pakaian yang dipakai, sang yogi bukan pakaian tapi yang bersemayam di tubuh tersebut. Bahkan sang yogi berkata bahwa sang raja bukanlah raja sesungghnya, dia hanyalah budak dari budak diri sang yogi….

Tercengang, sang raja bertanya, “Bhagaimana saya menjadi budak Anda?”

Sang yogi berkata dengan lembut dan penuh kasih, “Saya sudah menguasai kemarahan saya, sedangkan Raja masih mudah marah. Raja masih sebagai budaknya kemarahan, sedangkan kemarahan sudah menjadi budak saya. Maka Raja adalah budaknya budak saya!

Tiba-tiba Alexander sadar, dia telah menguasai dunia tapi dia belum menguasai dirinya. Dia masih menjadi budak kemarahan dalam dirinya. Dia masih menjadi pesuruh dari ambisinya. Keberhasilan demi keberhasilan membuat dirinya angkuh dan serakah serta menjadi mudah tersinggung dan marah. Dia masih menjadi hamba sahaya dari keserakahannya sendiri…………………..

Tiga Pintu Neraka menurut Bhagavad Gita

“Keinginan, amarah, dan keserakahan – inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganya.” Bhagavad Gita 16:21

Naraka atau Neraka bukanlah suatu tempat di mana kita di-‘sate’. Itu terjadi di dunia benda, di mana pihak yang berkuasa hingga hari ini pun masih tetap melakukan praktek-praktek yang menjijikkan untuk menghabisi siapa saja. yang dianggapnya dapat merongrongi kekuasaannya. Tentunya pembakaran yang mereka lakukan saat ini sudah tidak selalu menggunakan api, kayu, ataupun oven. Pembakaran dapat dilakukan lewat black-campaign di media, fitnah, perkara esanan buatan dan sebagainya.

NERAKA ADALAH SUATU KEADAAN saat Jiwa lupa akan hakikat dirinya. Dan sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengan dunia benda. Neraka adalah keadaan ilusif di mana gugusan pikiran dan perasaan berkuasa, hawa nafsu berkuasa, dan Jiwa diperbudak olehnya.

Neraka adalah keadaan saat Jiwa tidak percaya diri, tetapi memercayai kendaraan badan, wahana indra, kereta gugusan pikiran dan perasaan yang semuanya, sebenamya hanyalah sarana, alat pelengkap — bukan jati diri.

KRSNA MENJELASKAN ALASAN ‘KEJATUHAN’ JIWA – Yaitu, karena keinginan, amarah, dan keserakahan. Sesungguhnya, ketiga hal ini adalah tritunggal — yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain.

‘Keinginan’ Jiwa untuk mengalami sesuatu tidaklah menjatuhkan kesadarannya, selama ia menempatkan diri sebagai penonton.

Menjadi penonton tidak berarti kita berdiam diri — tidak. Menjadi penonton adalah ‘sikap’, attitude. Kita bisa mengemudi Wahana badan, lengkap dengan indra, gugusan pikiran serta perasaan segala dengan penuh kesadaran bila wahana bukanlah diri kita. Dengan cara itu, walau sedang mengendarai wahana pilihan kita di jalan raya kehidupan, kita tetaplah sebagai penonton. Sebagai pelancong. Ya, berkesadaran pelancong bahwasanya, ‘Tempat ini bukanlah tempatku, aku berada di dunia ini sebagai pelancong.”

KETIKA TERJADI PERUBAHAN “ATTITUDE” – Dan kita menganggap dunia ini sebagai ‘tempat kita’, maka sudah pasti muncul ‘keinginan untuk memiliki’ ini dan itu. Inilah pintu neraka pertama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Selalu memikirkan objek di luar diri

“Dalam diri seorang yang senantiasa memikirkan objek-objek di luar yang memikat indra – timbullah ketertarikan, keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan, keterikatan timbul keinginan untuk memiliki objek-objek tersebut. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).” Bhagavad Gita 2:62

Keterlibatan Berlebihan menimbulkan Ketertarikan – Anda bertemu dengan seseorang setiap hari. Ada urusan, tidak ada urusan – tetap bertemu. Maka, kemungkinannya dua, Anda bertengkar, atau makin tertarik, makin ingin bertemu.

Dari ketertarikan itulah timbul keterikatan. Anda mulai merasakan dunia Anda hampa tanpa orang tersebut. Hidup terasa tidak berarti tanpa sesuatu yang telah merangsang Anda, mungkin kendaraan, mungkin rumah, mungkin gadget elektronik terbaru – apa saja.

Muncul keinginan untuk memiliki – inilah induk dari keterikatan. Jika Anda tidak berhasil memiliki apa yang Anda inginkan, maka timbul rasa kecewa, dan dari rasa kecewa, timbul amarah.

Kemungkinan Ketiga – Netral – Ya, dan kemungkinan itu adalah hasil meditasi. Biasanya, kita menafsirkan ketidaksukaan atau ketidakterikatan kita sebagai “sikap netral”. Itu jelas salah.

Tidak suka dan tidak tertarik tidak sama dengan sikap netral. Sikap netral adalah bukan karena ketidaksukaan dan ketidaktertarikan, tetapi karena kesadaran. Anda bersikap netral terhadap Dunia Benda, ketika Anda sadar akan sifat kebendaan yang tidak permanen dan berubah terus.

Anda tetap menggunakan benda, tetap berada di tengah dunia benda, tapi tanpa keterikatan – yang demikian itulah hasil dari sifat netral. Anda tidak menimbun harta benda karena keterikatan, dan tidak pula membenci benda karena ketidaktertarikan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Awal dari keterikatan adalah keinginan

“Amarah membingungkan, pandangan dan pikiran seorang menjadi berkabut; dalam keadaan bingung, terlupakanlah segala nilai-nilai luhur, dan lenyap pula kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan yang tidak tepat, sesuatu yang mulia dan sesuatu yang sekedar menyenangkan. Demikian, seorang tersesatkan oleh ulahnya sendiri.”Bhagavad Gita 2:63

Awal dari ketersesatan adalah keinginan; keinginan yang muncul dari ketertarikan, keterikatan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Yang Memberi itu Si Dermawan atau Tuhan? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 10, 2018 by triwidodo

Dalam Bhagavatam Katha dikisahkan tentang seorang raja bijak di wilayah Andhra. Setiap hari dua pengemis datang kepada sang raja dan keduanya diberi makanan dan uang. Pengemis tua selalu mengatakan, “Puji Tuhan yang Maha Pengasih.” Sedangkan pengemis muda selalu mengucapkan, “Terima kasih atas pemberian Raja yang Pemurah.”

Pada suatu hari sang raja memberikan uang yang lebih banyak dan tetap saja pengemis tua mengucapkan, “Puji Tuhan yang Maha Pengasih.” Dan, pengemis muda selalu mengucapkan, “Terima kasih atas pemberian Raja yang Pemurah.”

Sang raja mulai bertanya, “Sebenarnya yang memberi pada mereka itu saya atau Tuhan?

Keesokan harinya, sang raja membuat rencana dia minta pengemis tua pulang lebih dahulu lewat jalan pintas yang sepi. Sang raja telah menempatkan tas berisi emas di jalan tersebut. Pengemis tua agak bingung diminta lewat jalan yang bagus, sepi dan indah, angin bertiup sepoi-sepoi basa. Sang pengemis tua menikmati perjalanan sambil menutup mata memuji Tuhan. Setelah beberapa saat pengemis yang muda diminta lewat jalan yang sama.

Esok hari berikutnya, kedua pengemis tersebut ditanya apa yang mereka alami di perjalanan kemarin. Pengemis tua menyampaikan lewat ajalan yang indah dan dia menikmatinya. Sedangkan pengemis muda berkata, “Puji Tuhan yang Maha Pengasih, saya menemukan Tas berisi emas.”

Raja mulai berpikir bahwa walau pengemis muda meyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih , namun sebenarnya raja pribadilah yang memberi rejeki.

Setelah pengemis tua pergi, sang raja memberi labu kepada pengemis muda. Sebenarnya di dalam labu tersebut sudah diisi dengan uang emas.

Pengemis muda tidak menghargai labu tersebut dan menjualnya ke pedagang buah.

Keesokan harinya, sang raja bertanya kepada kedua pengemis apa yang terjadi sebelumnya.

Pengemis muda menjawab, “Saya mohon maaf baginda raja, saya menjual labu kepada pedagang buah di tepi jalan.

Pengemis tua berkata, “Puji Tuhan yang Maha Pengasih, saya diberi labu oleh pedagang buah dan setelah saya buka, saya menemukan banyak keping emas di dalam buah labu tersebut.”

Sekarang sang raja yakin bahwa Tuhan-lah yang memberikan rejeki. Dia bersyukur bahwa dia telah menjadi alat Gusti, alat Tuhan untuk memberi………………….

Swami Anand Krishna menyampaikan nasehat pada tahun 2012: “Selalu ingat bahwa Hyang bekerja bukanlah kita. Kita hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Serahkan semuanya kepada Dia. Kita berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego.”

 

Sebagai Alat kita dapat membebaskan diri dari dampak negatif perbuatan kita

Tidak ada perbuatan yang menghasilkan kebaikan saja. Pun, tidak ada perbuatan yang 100% jelek. Dalam tindakan yang baik pun pasti ada setitik, dua titik ketidakbaikan. Dan, dalam perbuatan jahat pun, pasti ada sedikit kebaikan.

…………..

Nah, dalam keadaan seperti ini — di mana tidak ada kebaikan 100% dan tiada pula kejahatan 100%, maka setiap orang yang berbuat baik, sebaik-baiknya, tetap saja memiliki sisi negatif, walau sedikit saja.

Tapi, jangan lupa konsekuensi kejahatan sesedikit apa pun; negativitas sekecil apa pun – ibarat nila. Setetes saja sudah cukup untuk rnerusak secawan susu mumi. Jadi kita mesti selalu waspada.

Bagaimana membebaskan diri dari setetes, dua tetes nila konsekuensi kebatilan itu? Bagaimana menyucikan diri? Bagaimana menetralisir dampak negatif dari karma kita?

Krsna menjawab:

DENGAN KESADARAN SEJATI…. Berkarya dengan penuh kesadaran, bahwa sesungguhnya Jiwa tidak tersentuh oleh akibat atau konsekuensi dari perbuatan apa pun.

Ini sisi lain dari filsafat spiritual.

Sisi yang lebih umum adalah berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya Tuhan Hyang Berkarya, kita hanyalah alat-Nya.

Namun, dari sisi lain, Jiwa sesungguhnya tidak berkarya, adalah badan, indra, dan dan mind atau gugusan pikiran serta perasaan yang berkarya.

Kembali pada niat di balik pekerjaan — kedua-dua konsep ini mampu membebaskan kita dari dampak negatif perbuatan baik kita. Penjelasan Bhagavad Gita 4:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Tidak ada yang namanya kebetulan

“Kauteya (Arjuna, Putra Kunti), di bawah pengawasan-Ku, roda Samsara semesta berputar terus, menyebabkan munculnya makhluk-makhluk bernyawa, bergerak; maupun benda-benda yang tidak bergerak.”Bhagavad Gita 9:10

 

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

Lebih luas lagi, kepengawasan Gusti Pangeran juga berarti bahwa… Ibu Tsunami dan Taante Katrina pun berkunjung atas kehendak-Nya. Jika terjadi gempa, badai, topan- maka itu pun di bawah pengawasan-Nya. Tak ada sesuatu apa pun, kejadian sekecil apa pun yang terjadi di luar kepengawasan-Nya, yang lolos dari kepengawasan-Nya.

Kitab-kitab suci kita penuh dengan cerita-cerita tentang musibah alam – natural disaster – yang terjadi karena ‘amukan’ Gusti Allah. Gusti Allah tidak mengamuk. Perbuatan kita, ulah kita sudah cukup untuk mengundang amukan alam. Jika Gusti mengamuk, entah apa yang terjadi! Jadi, bukan karena amukan-Nya, tapi karena ulah kita sendiri. Ia mengawasi setiap keadaan, memastikan pula bila ulah kita, kekurangajaran kita tidak lolos begitu saja. Ada sebab, sudah pasti ada akibat.

Ketika terpilih sebagai Pemimpin, kita girang bukan main. Kubu kita merayakaan kemenangan. Saat itu, kita lupa bahwa sebagai pemimpin – ulah sekecil apa pun – bisa berdampak terhadap setiap orang di bawah kepemimpinan kita.

Rakyat yang memilih seorang pemimpin yang salah, mesti memikul hasil dari kesalahannya sendiri. Ramai-ramai memilih seorang pemimpin hanya karena ‘cakep’, atau ‘imut-imut sih’, membuktikan bila kita ‘belum cukup cakep’ dalam hal memilih. Lebih parah lagi, ketika kita memilih seorang pemimpin karena tergiur oleh nasi bungkus atau t-shirt. Ada nasi bungkus seharga 5 ribu, ada yang harganya 5 triliun – memilih karena janji keuntungan pribadi adalah kesalahan yang sudah pasti mengundang akibat buruk.

Kemudian, di bawah kepemimpinan seorang pemimpin seperti itu, jika kita menderita, gunung meletus, jumlah kecelakaan meningkat, atau tingkat kejahatan makin tinggi – maka, janganlah menyalahkan sang pemimpin saja. Siapa suruh memilihnya? Siapa yang memilihnya? Sekarang, nikmatilah hasil pilihan yang salah.

Sang Pengawas Agung menyaksikan semua, mengawasi semua. Sudah berulang-kali, Ia pun memberi peringatan. ‘Kalian sudah salah, lihat apa yang terjadi!’ Tapi, kita budeg, tidak mendengar peringatannya. Maka, jika terjadi hal-hal yang lebih parah lagi, janganlah meyalahkan Sang Pengawas. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia