Suara Nurani di Tengah Kebisingan Pikiran #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on April 25, 2018 by triwidodo

Dikisahkan, dua sahabat berjalan di trotoar di tepi jalan pada saat jam sibuk. Ada berbagai kebisingan; klakson mobil, suara mobil mengerem, orang berbicara, suara motor dan mobil, suara sepatu hak tinggi wanita yang berjalan dan lain sebagainya. Salah satu sahabat berkata, “Saya mendengar suara Jengkerik.”

Sahabatnya berkata, “Tidak mungkin. Bagaimana kau bisa mendengar suara Jengkerik dengan semua kebisingan ini. Mungkin itu suara bayanganmu. Saya belum pernah melihat Jengkerik di kota.”

Dia berkata, “Saya mendengar suara Jengkerik. Saya akan tunjukkan padamu.” Dia berhenti sejenak, lalu mengajak temannya menyeberang jalan ke taman, sambil menguak semak dia menemukan seekor Jengkerik Coklat.

Sahabatnya berkata, “Itu luar biasa, kau harus mempunyai pendengaran super. Apa rahasianya?”

Dia berkata, “Tidak, pendengaranku sama saja dengan pendengaranmu. Saya akan menunjukkannya kepadamu!” Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa koin mata uang dan melemparkannya ke trotoar.

Di tengah semua kebisingan kota, semua orang dalam jarak 10 m menoleh untuk melihat darimana suara koin jatuh itu berasal.

Ini adalah fokus dari apa yang Anda ingin dengarkan. Apa yang kita dengarkan dalam hidup ini? Apakah nafsu ego kita yang kita dengarkan atau hati-nurani kita?

Dari berbagai bacaan di dunia maya, kita paham hanya mendengarkan pikiran saja, kita tidak akan bahagia, kita akan mengalami suka-duka yang tanpa akhir.

Teknik-teknik dalam latihan Ananda’s Neo Self Empowerment, Ananda’s Neo Kundalini Yoga, Membaca Mantra, melakukan Yoga Sadhana adalah salah satu cara menjernihkan pikiran dan melatih mendengarkan hati nurani kita dan melakoninya.

Mendengarkan Institusi di atas Pikiran, Ucapan dan Tindakan

Kita ingin mempersatukan antara pikiran, ucapan dan tindakan. Untuk mempersatukan ketiga-tiga unsur tersebut – anda membutuhkan bantuan dari “lembaga”, dari “institusi” yang berada di atas mereka. Yaitu, institusi “kesadaran”, lembaga “rasa”. Selama ucapan dan tindakan anda masih dikendalikan oleh “pikiran”, jiwa anda tidak akan pernah utuh. Sering kali tindakan anda tidak akan “klop” dengan ucapan anda. Demikian, anda akan berjiwa “jereng”. Kembangkan rasa dalam dirimu. Dan dengar jiwa yang utuh, dengan penuh kesadaran, bertindaklah sesuai tuntunan nurani anda, maka anda akar berhasil! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hati Nurani Mewakili Kebenaran

Mind tergantung pada fakta dan akan selalu menghitung laba-rugi. Sebaliknya, hati nurani mewakili Kebenaran – Kebenaran Hakiki, Kebenaran Ilahi di balik fakta-fakta yang terlihat oleh mata kasat. Hati nurani telah melampaui dualitas. la tidak mengenal laba-rugi. la akan mempertemukan anda dengan “hakikat diri”, dengan “jati diri”. Dan penemuan “jati diri” tidak bisa disebut keuntungan ataupun kerugian. Bahkan tidak bisa disebut “penemuan”. Anda tidak pemah kehilangan jati diri. Selama ini, anda hanya tidak menyadarinya. Dengarkan suara nurani anda. Dan anda akan selalu berjaya, berhasil! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengarkan Hati Nurani dan Bekerja Sesuai dengan Hati Nurani

Seorang yang selalu cemas sesungguhnya merasa bersalah atas perbuatannya sendiri di masa lalu. Misalnya, ia pernah berbuat jahat atau menipu orang lain. Dan, ia berhasil. Ia berhasil dalam tipu-muslihatnya itu.

Nah, seorang yang berhasil menipu orang lain selalu cemas, takut, “Jangan-jangan aku tertipu!” Pikirnya, jika aku bisa menipu orang lain, dan dia tidak menyadari hal itu. Maka, bisa saja ada orang yang menipuku, dan aku tidak sadar. Paranoid, Parno! Ia menjadi korban dari rasa bersalah yang muncul dari sanubarinya. Lalu, solusinya apa?

Bekerjalah sesuai dengan kata hat! terdalam. Nurani kita tidak akan pernah mendukung perbuatan yang merugikan orang lain. Jika kita bekerja sesuai dengan petunjuknya, maka tidak akan bertindak salah. Dan, tiada lagi kecemasan di kemudian hari.

Tiada lagi amarah yang muncul karena keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi dan sebagainya, sebab kata-hati, nurani selalu berbahasa moderat. Tidak pernah ekstrem.

Kemudian, pemusatan diri pada-Nya – Berlindung pada-Nya, serta menyucikan diri dengan Tapa, Disiplin-Diri untuk mengetahui Hakikat-Diri; untuk mengenal diri kita sebagai percikan_nya. Inilah jalan menuju kebebasan mutlak. Inilah satu-satunya cara untuk rnembebaskan diri dari kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Penjelasan Bhagavad Gita 4:10 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Sumber Persoalan adalah Dualitas, Nurani Melampaui Dualitas

Kedamaian Sejati adalah hasil berakhirnya konflik yang disebabkan oleh paham dualitas. Dualitas adalah sumber segala persoalan. Perhatikan kejadian-kejadiaan di dunia kita saja, di planet bumi ini. Orang-orang sebangsa pun saling bunuh-membunuh, karena beda haluan politik, beda pendapat, beda kepercayaan.

Mereka yang masih menyimpan konflik di dalam dirinya, belum tenang, memproyeksikan kekacauannya di luar diri. dan, terjadilah aksi terror, bom bunuh diri, perang dan sebagainya.

Umumnya mereka yang terlibat dalam konflik, menjadi sumber konflik, sekaligus pelaku kekerasan, belum bisa menerima Gusti Pangeran sebagai Tuhan seantero alam. Walau mayoritas mengaku percaya pada Satu Tuhan Hyang Maha Tunggal, sesungguhnya mereka masih bingung. Masih belum yakin pada apa yang mereka katakan.

Mereka belum bisa menerima Tuhan sebagai Mitra Jagad Raya. Tuhan dalam pemahaman mereka adalah Mitra Suku, Mitra Bangsa tertentu, Mitra Kelompok Kepercayaan tertentu – belum menjadi Mitra Seantero Alam.

Kemudian, jika Tuhan di dalam pemahaman kita masih merupakan Tuhan yang pilih kasih, lebih memperhatikan kelompok tertentu, bahkan memusuhi kelompok-kelompok lain, maka kita pun akan mencontohinya. Tidak, Tuhan seperti itu hanyalah khayalan kita. Tuhan Angkara Murka dan Maha Iri adalah proyeksi dari pikiran kita, perasaan kita.

Lampauilah pikiran, perasaan, bahkan inteligensia – dan temukan nurani, sanubari, Jiwa – itulah Tuhan penuh kasih – Mitra Seantero Alam. Penemuan ini dan hanya penemuan ini yang dapat mendamaikan kita! Penjelasan Bhagavad gita 5:29 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Para Suci Lebih Sakti Dari Pada Vishnu? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 24, 2018 by triwidodo

Narada, seorang Rishi yang bijaksana, berziarah ke istana Dewa Vishnu. Pada suatu malam ia singgah di sebuah desa dan diterima dengan baik oleh sepasang suami-isteri yang miskin. Sebelum ia berangkat pada hari berikutnya, si suami minta kepada Narada: “Tuan akan pergi kepada Dewa Vishnu. Tolong mintakanlah kepadanya, agar Ia menganugerahi saya dan isteri saya seorang anak. Sebab, sudah bertahun-tahun lamanya kami berkeluarga, namun kami belum juga mempunyai anak.”

Sampai di istana, Narada berkata kepada Dewa Vishnu: “Orang itu dengan isterinya amat baik kepada saya. Maka sudilah bermurah hati dan berilah mereka seorang anak.” Dewa Vishnu menjawab dengan tegas: “Telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan mempunyai anak.” Maka Narada menyelesaikan kebaktiannya, lalu pulang.

Lima tahun kemudian Narada berziarah ke tempat yang sama. Ia singgah pula di desa yang sama dan sekali lagi diterima dengan baik oleh pasangan suami-isteri yang sama pula. Kali ini ada dua orang anak bermain-main di muka pondok mereka.

“Anak-anak siapa ini?” tanya Narada. “Anak-anak saya.” jawab si suami. Narada bingung. Si suami meneruskan ceritanya: “Segera setelah Tuan meninggalkan kami lima tahun yang lalu, seorang pengemis suci datang mengunjungi kampung kami. Kami menerimanya barang semalam. Paginya, sebelum berangkat, ia memberkati saya dan isteri saya … dan Dewa mengaruniai kami dua orang anak ini.”

Mendengar cerita ini, Narada cepat-cepat menuju istana Dewa Vishnu lagi. Ketika tiba di sana, di depan pintu istana ia sudah berteriak: “Bukankah Dewa telah mengatakan: telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan punya anak? Kini ia mempunyai dua orang anak!”

Ketika Dewa Vishnu mendengar hal ini, ia tertawa keras dan berkata: “Pasti perbuatan seorang suci! Hanya orang suci yang mempunyai kuasa untuk mengubah nasib seseorang.”

Kita diingatkan akan pesta nikah di Kana. Waktu itu Ibu Jesus mendesak Putranya dengan doa-doanya untuk melakukan mukjizat yang pertama sebelum waktunya seperti yang telah ditentukan oleh Allah Bapa.

Dikutip dari (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Para Suci telah meninggalkan segalanya demi Gusti, maka Gusti tidak akan meninggalkan mereka. Para Suci penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Nya, mengingat-Nya, memuja-Nya tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Nya) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Nya. Mereka Dia-lindungi senantiasa dan Dia-penuhi segala kebutuhannya.

 

Para Suci Telah Meninggalkan Segalanya untuk Gusti, Gusti Tidak Akan Meninggalkan Mereka

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan bahwa Rishi Durvasa karena tersinggung kepada Raja Ambharisha menciptakan makhluk untuk menyerang sang raja. Akan tetapi Sudarsana Chakra melindungi sang raja dan bahkan mengejarnya. Rishi Durvasa minta tolong Brahma, tapi tidak bisa mengatasi senjata Vishnu tersebut. Demikian juga Mahadeva pun tidak sanggup mengatasi. Akhirnya Rishi Durvasa menghadap Vishnu.

Vishnu tersenyum dan berkata, “Durvasa, kamu juga tidak melihat bahwa aku pun sama seperti Brahma dan Mahadewa? Kamu tidak memahami diri-Ku. Aku bukan orang bebas. Aku mungkin mampu melakukan apa pun yang aku kehendaki. Tetapi aku adalah milik bhakta-Ku. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan memilih Aku sebagai sahabat mereka. Mereka meninggalkan segalanya untuk-Ku. Istri, rumah, anak, keinginan dan hidup mereka tinggalkan untuk-Ku. Mereka tidak memikirkan dunia dan tidak tergiur surga. Yang mereka harapkan hanya rahmat-Ku. Sebagai balasan, Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. mereka sudah menaklukkan aku dengan cinta mereka. hinaan apa pun terhadap mereka adalah hinaan kepada-Ku.”

Akhirnya Rishi Durvasa minta maaf kepada Raja Ambarisha.

Para Suci Senantiasa Ku-penuhi Segala Kebutuhannya

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Inilah alam yang lebih tinggi dari surga. Inilah alam-Nya, alam kebahagiaan Sejati. Bagi seorang panembah, alam ini, dunia ini adalah surga. Ia tidak mengejar surga setelah kematiannya. Ia sudah berada di dalam surga – sekarang dan saat ini juga.

Maka, setelah ia “mengalami kematian”, tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengalami sesuatu yang lebih tinggi; sesuatu yang lebih mulia.

Anak-anak kecil bermain dengan Gundu. Ketika sudah memasuki usia remaja, gundu-gundu itu ditinggalkannya. Ia memiliki permainan lain yang jauh lebih menarik. Demikian, seorang panembah melanjutkan perjalanan Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Gusti Memenuhi Segala Kebutuhan Para Suci

Seorang panembah tak pernah kekurangan sesuatu. Aku memenuhi segala kebutuhan para panembah yang telah berserah diri kepada-Ku. Demikian pula janji Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta. Maka, sesungguhnya kau tidak perlu khawatir tentang kebutuhanmu sehari-hari. Jika kekurangan sesuatu, mintalah kepadaKu.

Mintalah kepada Tuhan Hyang Maha Memiliki. Untuk apa mengharapkan sesuatu dari dunia, berharaplah kepada Hyang Memiliki dunia. Untuk apa mengharapkan penghargaan dan pengakuan dari dunia, lebih baik mengharapkan berkah dan karunia Ilahi.

Janganlah terperangkap dalam permainan dunia. Pujian yang kau terima dari dunia tidak berarti apa pun jua. Jalani hidupmu dengan kesadaranmu sepenuhnya terpusatkan kepada Tuhan. Ketertarikan kepada dunia sungguh tak berarti. Tuhan adalah Hyang Maha Menarik!

Ingatlah Aku setiap saat, sehingga dunia benda tidak menggodamu. Hanyalah dengan cara ini kau dapat merasakan kedamaian, dan ketenangan sejati. Inilah cara untuk hidup tanpa beban apapun.

Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Mengingat Guru Saat Menghadapi Masalah #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 23, 2018 by triwidodo

Ada seorang pria yang tersesat di padang pasir. Setelah berkeliaran untuk waktu yang lama tenggorokannya menjadi sangat kering, pada waktu itu ia melihat gubuk kecil di kejauhan. Dia berjalan ke gubuk dan menemukan pompa air dengan teko air kecil dan sebuah catatan. Catatan itu berbunyi: “Tuangkan semua air ke bagian atas pompa untuk menguasainya, jika Anda melakukan ini, Anda akan mendapatkan semua air yang Anda butuhkan”.

Pikiran pria itu bergejolak. Dia sangat haus, ada air dalam teko kecil yang bisa menghilangkan rasa hausnya. Tapi dia berpikir lagi, hanya dengan air dalam teko kecil, sebentar saja dia akan kehausan dan kemungkinan akan segera mati kehausan. Ada juga tulisan yang memnganggunya: “Tuangkan semua air ke bagian atas pompa untuk menguasainya, jika Anda melakukan ini, Anda akan mendapatkan semua air yang Anda butuhkan.”

Pikiran pria itu penuh gejolak. Pada saat yang kritis tersebut pria itu teringat pada Murshid-nya. Apakah yang dilakukan Murshid pada saat menemui kejadian seperti yang dialami dia? Selama ini dalam beberapa kali kehidupan dia menggunakan hasil pikirannya dan hasilnya dia selalu mengalami pasang surut dan lahir–mati berulang kali. Dia ingat pesan Sang Murshid mind-mu jadikan nol dan gunakan mind Murshid yang telah berhasil mencapai kedamaian sejati.

Dia ingat bahwa dia beberapa kali pernah di-“sentuh” oleh Sang Murshid. Sentuhan itu masih berpengaruh dan membuat dia lebih tenang. Kedua, dia pun sering mengikuti Satsang dengan Sang Murshid, menurut Sang Murshid hanya pandangan sekejap Sang Murshid, asal dia siap, dia akan bangkit sifat ke-muridan-nya. Inilah pentingnya hadir pada acara satsang dengan Sang Murshid. Akhirnya dia mengngat sang murshid dengan membaca simran, membaca mantra untuk mengingat Sang Murshid.

Setelah membaca simran dia mulai tenang dan datang keputusan yang mantap tidak terpengaruh pikiran yang kacau. Dia menuang air dalam teko kecil ke dalam pompa dan mulai menggerakkan pegangan pompa. Awalnya tidak terjadi sesuatu, akan tetapi akhirnya air keluar dari pompa dan dia bukan hanya minum akan tetapi dapat mandi dan mengisi semua tempat air untuk perjalanan berikutnya. Dia tidak lupa mengisi air ke dalam teko kecil agar orang yang tersesat bisa menggunakannya untuk memancing keluarnya air lewat pompa. Menghadapi keadaan kritis tersebut, kini dia paham bahwa kematian itu pasti, dan kehidupan harus disyukuri. Hanya Gurulah yang dapat membimbing kita menuju Kedamaian Sejati.

Percaya Pada Sadguru

Inilah sadhana, atau latihan spiritual yang paling mudah, dan sama sekali tidak membutuhkan biaya. Sedikit upaya pun sudah cukup untuk memberi hasil luar biasa. Percayalah kepada apa yang dikatakan oleh Sadguru. Sungguh sangat beruntunglah kita bila memperoleh kesempatan untuk melayani Sadguru. Tidak perlu mendalami berbagai macam ilmu dan filsafat.

Dengan berkah seorang Sadguru, dengan mudah kita memperoleh intisari seluruh cabang ilmu, bahkan kebahagiaan abadi yang tak terjelaskan lewat kata-kata. Jadikanlah Beliau sebagai pemandu, sebagai nakhoda, maka dengan sangat mudah kau dapat mengurangi lautan samsara, atau kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan dan mencapai keabadian.  Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Yakin Pada Sri Krishna

“Bagaimana dengan Mereka yang Tidak Seberuntung Arjuna?” Maksudnya, bagaimana dengan mereka yang tidak didampingi seorang Kṛṣṇa?

Percayalah, yakinlah, saat Anda betul-betul membutuhkan pengarahan dan bimbingan seorang Kṛṣṇa, Anda pasti memperolehnya. Kṛṣṇa bisa berwujud apa dan siapa saja. Kadang seorang Pemandu Rohani, kadang seorang sahabat, bahkan kadang seorang anak kecil, seorang remaja; kadang buku yang sedang Anda baca – Kṛṣṇa bisa mewujud sebagai apa dan siapa saja untuk membimbing Anda.

Syaratnya: Asal Anda Percaya, Anda Yakin. Jangan terkecoh oleh jubah dan penampilan-Nya. Ia bisa berjubah beda, bisa berpenampilan lain. Sang Jiwa Agung bisa mewujud dalam bentuk apa saja, lewat siapa saja, untuk mengarahkan Anda yang sedang bingung! Dikutip Penjelasan Bhagavad Gita 2:9 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

A Secret of Diksha or Inisiasi (Rahasia Inisiasi) oleh Anand Krishna Video dalam Bilingual

Pada waktu akan masuk sekolah yang diberikan adalah Gayatri Mantra. Mantra tidak dapat tidak berjalan. Kalau kita mengerti mantra, tidak ada mantra yang tidak bekerja. Mantra dari manas yantra alat untuk pikiran. Bagaimana membawa mereka bersama. Bahkan untuk pergi melampaui mind. Dan pertama kali adalah untuk fokus. Mantra mengembangkan intuisi.

Gayatri tidak minta keuntungan materi. Minta sesuatu yang lebih berharga. Berikan saya kekuatan kemampuan untuk memilih. Mana yang tepat, mana yang tidak tepat, mana yang sekedar untuk senang-senang, mana yang untuk mulia. Itulah mantra.

Kemudian setelah beberapa lama mempraktekkan mantra bertemu guru spiritual, ada Inisiasi yang berbeda: diksha sentuhan. Diksha adalah untuk menciptakan kebersahajaan. Bukan membuat kita menjadi superhero. Tidak.

Kalau ada guru yang menyentuh dan kita menjadi lembut, itu adalah diksha. Kalau kamu disentuh dan berkembang keangkuhan itu bukan diksha.

Guru berkata: Saya seperti magnet saya tidak ada rasa like and dislike. Meskipun kau sangat dekat dengan saya, tapi bila kamu berkarat saya tidak dapat menarikmu. Kita harus menangani karat kita dahulu.

Diksha diibaratkan seperti ayam yang mengerami telur. Dia tidak akan melepaskan telurnya, karena bila dilepaskan telur gagal menjadi anak ayam. Kita semua goblok, bolot, jadi kita butuh diksha seperti itu.

Diksha kedua adalah cakshu diksha. Pandangan sekejab. Ini seperti ikan. Meletakkan telur-telurnya di air. Telur tersebar di mana-mana. Di Upanishad disampaikan bahwa induk ikan melihat telur-telur. Telur berubah menjadi ikan. Dengan kekuatan pandangna sekejap dari sang induk telur-telur itu akhirnya menjadi ikan. Telur pecah menjadi anak ayam atau anak ikan berarti sifat ke-murid-an tumbuh.

Diksha Ketiga ini yang paling tinggi ketika kau tidak melihat Guru. Diksha ini untuk orang seperti Mira Bhai. Untuk umat shikh itu disebut simran diksha hanya dengan mengingat Guru. Ini untuk high evolve soul. Di Upanishad ini diibaratkan seperti kura-kura. Hidup di air meninggalkan telur di darat. Hubungan  antara induk dan telur-telurnya, hanya dengan kekuatan mengingat dia lahir sebagai kura-kura.

Silakan ikuti video bilingual lengkap di bawah ini: A Secret of Diksha or Inisiasi (Rahasia Inisiasi) oleh Anand Krishna

Ambisi dan Harapan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on April 23, 2018 by triwidodo

Seorang tukang cukur sedang berjalan di bawah sebatang pohon yang angker, ketika ia mendengar suara yang berkata: “Inginkah engkau mempunyai emas sebanyak tujuh buli-buli?” Tukang cukur itu melihat kiri kanan dan tidak tampak seorang pun. Tetapi nafsu lobanya timbul, maka dengan tak sabar ia menjawab lantang: “Ya, aku ingin!” “Kalau begitu, pulanglah segera ke rumah,” kata suara itu. “Engkau akan menemukannya di sana.”

Si tukang cukur cepat-cepat berlari pulang. Sungguh, ada tujuh buli-buli penuh emas, kecuali satu yang hanya berisi setengah saja. Si tukang cukur tak bisa melepaskan pikiran, bahwa satu buli-buli hanya berisi setengah saja. Ia ingin sekali untuk segera mengisinya sampai penuh. Sebab jika tidak, ia tidak akan bahagia.

Seluruh perhiasan milik anggota keluarganya disuruhnya dilebur menjadi uang emas dan dimasukkannya dalam buli-buli yang berisi setengah itu. Tetapi buli-buli itu tetap berisi setengah seperti semula. Ini menjengkelkan! Ia menabung, menghemat dan berpuasa sampai ia sendiri dan seluruh keluarganya kelaparan. Namun demikian, sia-sia belaka. Biarpun begitu banyak emas telah dimasukkannnya ke dalamnya, buli-buli itu tetap berisi setengah saja.

Pada suatu hari ia minta kenaikan gaji kepada raja. Upahnya dilipatduakan. Sekali lagi ia berjuang untuk mengisi buli-buli itu. Bahkan ia sampai mengemis. Namun buli-buli itu tetap menelan setiap mata uang emas yang dimasukkan dan tetap berisi setengah.

Raja mulai memperhatikan, betapa tukang cukur itu tampak kurus dan menderita. “Kau punya masalah apa?” tanya sang raja. “Kau dulu begitu puas dan bahagia waktu gajimu kecil saja. Sekarang gajimu sudah lipat dua, namun kau begitu muram dan lesu. Barangkali kau menyimpan tujuh buli-buli emas itu?”

Tukang cukur terheran-heran. “Siapakah yang menceritakan hal itu kepada Paduka, ya Tuanku Raja?”

Raja tertawa seraya berkata: “Tindak-tandukmu jelas menampakkan gejala-gejala yang terdapat pada semua orang yang ditawari tujuh buli-buli emas oleh setan. Ia pernah menawarkannya juga kepadaku. Aku bertanya, apakah uang itu boleh dipergunakan atau semata-mata untuk disimpan. Namun ia terus menghilang tanpa berkata apa-apa. Uang itu tidak bisa digunakan, tetapi hanya memaksa orang supaya mau menyimpannya. Lekas kembalikanlah uang itu pada setan. Pastilah engkau akan bahagia kembali!”

Dikutip dari buku (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Ambisi si Tukang Cukur, landasannya adalah lobha, serakah dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi tersebut. Inilah keadaan orang yang berada di bawah pengaruh rajas. Ketika berhasil, ia bersuka-cita. Ketika gagal, ia berduka. Kadang senang, kadang susah. Ia selalu terombang-ambing dalam lautan samsara — pengulangan yang tidak pernah berhenti. Keinginan, amarah, dan keserakahan – inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganya.

Ambisi, Harapan dan Ekspektasi

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita berikan kepada “cara berpikir” seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan. Dan keserakahan membawa bencana.

Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

LALU, APAKAH AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh.

Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Gelisah saat Keinginan Tidak Terpenuhi

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), ketika sifat Rajas berkuasa, seseorang menjadi serakah; dan, segala aktivitasnya hanyalah bertujuan untuk meraih kenikmatan duniawi. Sebab itu, ia pun gelisah ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.” Bhagavad Gita 14:12

Kekuasaan Rajas adalah yang paling umum. Rata-rata, kita semua, hampir sepanjang hari, berada di bawah pengaruhnya.

SEPANJANG HARI KITA AKTIF BEKERJA – Namun, tujuan kita hampir selalu untuk menghasilkan materi “saja”. Jarang sekali kita memikirkan apakah pekerjaan itu mulia atau tidak? Apakah pekerjaan itu hanya menguntungkan kita semata atau juga adalah baik bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain?

Kemudian, ketika keinginan dan harapan kita untuk meraih keuntungan sebesar dan sebanyak mungkin tidak tercapai, kita rnenjadi gelisah. Kegelisahan semacam itu memang wajar, lazim, dan alami — karena kesenangan sesaat yang kita kejar selalu bergandengan dengannya.

SELAMA KITA MENGEJAR “SUKA”, maka “duka” yang adalah kembarannya, menanti di luar pintu kehidupan kita. Begitu “suka” keluar, masuklah “duka”. Demikian mereka bergantian mengunjungi kita. Para pengunjung setia! Inilah keadaan orang yang berada di bawah pengaruh rajas. Ketika berhasil, ia bersuka-cita. Ketika gagal, ia berduka. Kadang senang, kadang susah. Ia selalu terombang-ambing dalam lautan samsara — pengulangan yang tidak pernah berhenti.

Samsara “pengulangan” adalah sebab kesengsaraan. Awalnya barangkali menyenangkan, tapi akhirnya selalu membosankan, mengecewakan dan menggelisahkan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Keinginan, Amarah, dan Keserakahan Penyebab Jatuhnya Jiwa

“Keinginan, amarah, dan keserakahan – inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganya.” Bhagavad Gita 16:21

Naraka atau Neraka bukanlah suatu tempat di mana kita di-‘sate’. Itu terjadi di dunia benda, di mana pihak yang berkuasa hingga hari ini pun masih tetap melakukan praktek-praktek yang menjijikkan untuk menghabisi siapa saja. yang dianggapnya dapat merongrongi kekuasaannya. Tentunya pembakaran yang mereka lakukan saat ini sudah tidak selalu menggunakan api, kayu, ataupun oven. Pembakaran dapat dilakukan lewat black-campaign di media, fitnah, perkara esanan buatan dan sebagainya.

NERAKA ADALAH SUATU KEADAAN saat Jiwa lupa akan hakikat dirinya. Dan sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengan dunia benda. Neraka adalah keadaan ilusif di mana gugusan pikiran dan perasaan berkuasa, hawa nafsu berkuasa, dan Jiwa diperbudak olehnya.

Neraka adalah keadaan saat Jiwa tidak percaya diri, tetapi memercayai kendaraan badan, wahana indra, kereta gugusan pikiran dan perasaan yang semuanya, sebenamya hanyalah sarana, alat pelengkap — bukan jati diri.

KRSNA MENJELASKAN ALASAN “KEJATUHAN” JIWA – Yaitu, karena keinginan, amarah, dan keserakahan. Sesungguhnya, ketiga hal ini adalah tritunggal — yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain.

“Keinginan” Jiwa untuk mengalami sesuatu tidaklah menjatuhkan kesadarannya, selama ia menempatkan diri sebagai penonton.

Menjadi penonton tidak berarti kita berdiam diri — tidak. Menjadi penonton adalah “sikap”, attitude. Kita bisa mengemudi Wahana badan, lengkap dengan indra, gugusan pikiran serta perasaan segala dengan penuh kesadaran bila wahana bukanlah diri kita. Dengan cara itu, walau sedang mengendarai wahana pilihan kita di jalan raya kehidupan, kita tetaplah sebagai penonton. Sebagai pelancong. Ya, berkesadaran pelancong bahwasanya, “Tempat ini bukanlah tempatku, aku berada di dunia ini sebagai pelancong.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Bahagia atau Sengsara Adalah Pilihan Kita? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 19, 2018 by triwidodo

Seorang mistik Sufi yang tetap bahagia sepanjang hidupnya – tidak ada yang pernah melihatnya tidak bahagia – dia selalu tertawa, yang tertawa, seluruh hidupnya penuh perayaan…. Di masa tuanya, ketika dia sekarat, di ranjang kematiannya dan masih menikmati kematian, tertawa dengan riang, seorang muridnya bertanya, “Guru membingungkan kita. Sekarang Guru sekarat, kenapa masih tertawa? Apa ada yang lucu? Kami merasa sangat sedih. Kami ingin bertanya berkali-kali mengapa Guru tidak pernah bersedih. Menghadapi kematian, setidaknya seseorang harus bersedih. Guru masih tertawa – bagaimana Guru mengelolanya?”

Orang tua itu berkata, “Ini sederhana. Saya telah bertanya kepada Master saya – saya telah pergi ke Master saya sebagai pemuda; Saya baru tujuh belas tahun dan dalam keadaan menderita, dan Master saya sudah tua, tujuh puluh tahun, dan dia duduk di bawah pohon, tertawa tanpa alasan sama sekali. Tidak ada orang lain di sana, tidak ada yang terjadi, tidak ada yang melontarkan lelucon atau apa pun, dan dia hanya tertawa, memegangi perutnya. Saya bertanya kepadanya, apa yang terjadi dengan Master?”

Dia berkata, “Suatu hari saya juga sama sedihnya dengan kamu. Kemudian saya sadar bahwa bahagia  itu adalah pilihan saya, ini adalah hidup saya.”

Sejak hari itu, setiap pagi ketika aku bangun, hal pertama yang kuputuskan adalah … sebelum aku membuka mataku, aku berkata pada diriku sendiri, “Abdullah – itu adalah namanya – apa yang kamu inginkan? Penderitaan? Kebahagiaan? Apa yang akan kaupilih hari ini? Dan saya selalu memilih kebahagiaan.”

Itu adalah sebuah pilihan. Cobalah. Ketika kau menjadi sadar saat pertama di pagi hari, saat bangun tidur, tanyakan pada diri Anda, “Abdullah, ini hari lain! Apa ide Anda? Apakah Anda memilih Sengsara atau Bahagia?”

Dan siapa yang memilih kesengsaraan? Dan mengapa? Hal ini sangat tidak alami – kecuali seseorang merasa bahagia dalam kesengsaraan. Tetapi kemudian Anda juga memilih kebahagiaan, bukan kesengsaraan. Dikisahkan oleh Osho…………………

Bahagia dan Derita adalah Pilihan Bebas Kita

Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi Berkah bagi dunia.

Be Joyful and Share Your Joy with Others- Jadilah Bahagia dan Bagilah Kebahagiaan. Tidak ada yang melarang kita untuk menjadi bahagia. Tidak ada yang bisa. Jadilah bahagia, sekarang dan saat ini juga, karena saat ini adalah saat kita , untuk menjadi bahagia dan berbagi kebahagiaan.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Uang Tetap Penting tetapi Bukan Segalanya

Mengutamakan “kebahagiaan” tidak berarti bahwa uang tidak penting. Uang tetap penting, tetapi uang bukanlah segalanya. Bila uang dapat membahagiakan, semestinya orang kaya tidak pernah menderita, walaupun sakit. Ternyata tidak dernikian. Orang sakit, tak peduli kaya atau miskin, tetap saja menderita.

Ketika seseorang jatuh sakit, harta seberapa pun tidak dapat membahagiakannya. Pada saat itu, kesehatanlah yang dibutuhkannya, dan kesehatan tidak dapat dibeli dengan uang. Uang hanya dapat membeli obat-obatan. Uang hanya dapat memastikan bahwa si kaya memperoleh bantuan medis yang terbaik, namun semuanya itu tetap tidak menjamin pemulihan kesehatan.

Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan uang. Adakah kita mengajarkan hal ini kepada anak-anak kita? Seorang anak yang ingin menjadi dokter ditanya “kenapa?”. Dengan enteng ia menjawab, “Supaya jadi kaya dan bisa beli mobil besar.” Idolanya adalah dokter keluarga yang memang memiliki mobil besar, rumah besar… dan barangkali juga kepala besar!

Idola anak-anak kita adalah para selebriti, bintang film dan sinetron yang serba wuaah. Idola mereka adalah para politikus dan pejabat, bukan karena mereka adalah pelayan dan pengabdi masyarakat, tetapi karena mereka memiliki banyak uang.

Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Para responden di Inggris menjawab “Ya”. Dan, lebih dari 50% mengharapkan bahwa sistem pendidikan harus berorientasi pada kebahagiaan, bukan pada kekayaan.

Berarti, sejak usia dini anak-anak kita sudah harus diperhatikan supaya tidak keluar dari jalur, supaya tidak menempatkan kekayaan, uang, dan harta di atas segalanya. Orientasi sistem pendidikan kita sudah saatnya diubah.

………….

Kenikmatan indriawi membutuhkan pemicu di luar. Telinga membutuhkan suara yang disenanginya. Hidung membutuhkan aroma pilihan. Mata ingin melihat tayangan yang mengasyikkan. Lidah ingin mencecap sesuatu yang enak. Dan, kulit kita ingin diraba, dielus-elus. Dan, untuk semuanya itu materi memang dibutuhkan.

Kenyamanan jasmani pun membutuhkan materi. Jangankan ranjang yang empuk, untuk ranjang biasa saja kita membutuhkan fulus. Lalu, apakah kenikmatan indra dan kenyamanan jasmani itu tidak panting? Penting juga! Kita hanya perlu menyadari bahwa semuanya itu “tidak dapat” membahagiakan. Silakan memanjakan diri dengan segala macam sarana yang dapat membuat tubuh nyaman dan memberi kenikmatan pada indra. Tidak ada yang salah dengan semuanya itu, asal kita ingat bahwa sarana-sarana itu tidak Ianggeng, tidak kekal, tidak abadi sehingga tidak dapat membahagiakan manusia untuk selamanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kesadaran Jiwa Membawa Kebahagian Sejati

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi. Bahkan, surga– mereka pun penuh dengan sarana-sarana kenikmatan indrawi, seolah “di sana” pun kita akan tetap berkaki-tangan, berkelamin, seperti “di sini”.

Bayangan kita tentang surga adalah cerminan dari keinginan-keinginan di dalam diri, keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi. Jika di sini punya pasangan yang menginjak dan menindas, maka kita akan berkhayal tentang surga yang memiliki jumlah pelayan tidak terhitung dan semuanya masih muda belia sehingga kita berharap tidak akan mengalami penindasan seperti di sini.

Ada pula yang berkarya, beramal saleh dengan pengertian membayar premi asuransi bagi reinkarnasi yang lebih baik – Lagi-lagi urusannya adalah kenikmatan indrawi. Lagi-lagi, urusannya adalah kebendaan.

Dengan berkesadaran Jiwa, kita tidak perlu menunggu mati untuk masuk surga. Dengan Kesadaran Jiwa, kita dapat mengubah hidp kita menjadi surgawi, dalam pengertian penuh kenikmatan Jiwani yang adalah esensi surga. Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa.

Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja. Penjelasan Bhagavad Gita 2:43 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Hidup Berkesadaran Menuju Kebahagiaan Sejati

Hidup Berkesadaran adalah Hidup Meditatif. Hidup Berkesadaran berarti hidup dengan penuh keyakinan bahwa kita adalah Jiwa, bukan badan, bukan indra. Kemudian, hidup yang demikian itulah yang membuahkan Samādhi, keseimbangan, di mana kita bisa melampaui segala dualitas, segala pengalaman suka-duka, panas-dingin, senang-susah, dan sebagainya. Adapun, hanyalah setelah itu, kita meraih Kebahagiaan Sejati atau Ānanda yang kekal, abadi. Penjelasan Bhagavad Gita 2:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Mengapa Karunia Kekayaan dari Lakshmi Tertunda #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 18, 2018 by triwidodo

Tidak ada gunanya doa kita dikabulkan kalau tidak dikabulkan pada waktu yang tepat:

Di  zaman  India kuno banyak tenaga dicurahkan untuk upacara Veda yang  dikatakan  begitu  ilmiah  dalam  pelaksanaannya, hingga  kalau  para  orang  suci  berdoa  mohon hujan, tidak pernah ada  kekeringan.

Demikianlah  seseorang  melakukan sadhana dan  berdoa kepada Dewi Kesejahteraan, Lakshmi, mohon supaya jadi kaya. Ia berdoa  tanpa  hasil  sepanjang  lebih dari sepuluh  tahun  lamanya.

Sesudahnya setelah waktu berlalu, ia tiba-tiba melihat sifat ilusi, maya pada kekayaan itu dan memilih hidup sebagai petapa di pegunungan Himalaya.

Ia  duduk bermeditasi dan pada suatu hari, ketika ia membuka matanya ia melihat di depannya seorang  wanita cantik,  gemilang dan gemerlapan seakan-akan ia terbuat dari emas.

“Siapa engkau dan kenapa engkau ke sini?” tanya orang tersebut.

“Aku Dewi  Lakshmi,  yang  kau  hormati  dengan  melakukan sadhana dan menyanyikan kidung selama  duabelas tahun,” kata Sang Wanita, “Aku menampakkan diri untuk mengabulkan keinginanmu.”

“Ah, sang dewi tercinta,” seru  orang  itu.  “Aku  sekarang sudah mendapat anugrah bermeditasi dan kehilangan keinginanku akan kekayaan. Engkau  datang  terlambat.  Katakan,  mengapa engkau datang begitu lambat?”

“Aku berkata kepadamu sebenarnya”, jawab “Sang Dewi, “Jika melihat sadhana dan doa  yang  kaulakukan  begitu  setia, engkau   sepenuhnya  pantas  menjadi  kaya.  Tetapi,  karena cintaku kepadamu dan keinginanku akan kesejahteraanmu,  maka kutahan dulu. Kekayaan akan memberikan kesejahteraan duniawi yang mengalami pasang dan surut. Sedangkan Kesejahteraan Jiwa tidak akan mengalami pasang surut lagi.

Lakshmi ingin memberikan Kesejahteraan Jiwa kepada orang itu dan bukan Kekayaan yang merupakan Kesejahteraan Duniawi. Dikutip dari buku (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)

Memuliakan Kesadaran Jiwa di atas Kebutuhan Raga dan Indra

“Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

………………..

“Memuliakan-Nya” berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan moderasi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan – berkecukupan. Namun jangan lupa, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.

JIKA KITA MEMILIKI TABUNGAN, atau, jika penghasilan kita memadai, maka ketika kendaraan kita rusak, kita akan menukarnya dengan kendaraan baru. Tukar-tambah, atau bahkan kendaraan yang sudah lama dan rusak itu dibiarkan di garasi untuk menjadi rongsokan. Tidak menjadi soal.

Tetapi jika penghasilan kita tidak cukup, tabungan kita tidak cukup—maka rusaknya kendaraan bisa membuat senewen. Kita stres berat. Tabungan dan penghasilan yang dimaksud di sini adalah “Kesadaran Jiwa.”

Tanpa Kesadaran Jiwa – badan yang satu ini; indra yang berjumlah lima ditambah indra-indra persepsi yang berjumlah lima pula; gugusan pikiran dan perasaan, keberhasilan akademis dan profesional – semuanya menjadi “segala-gala”nya. Jika ada yang hilang, maka kita kehilangan segala-galanya.

Kesadaran Jiwa membuat kita tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, walau kita menyaksikan tubuh menjadi debu, menjadi abu! Saat itu pun kita masih bisa menyanyi girang dan bersuka cita, “Aku abadi, aku abadi. Sivoham, So ham!” Saat itu, kita baru menyanyikan Bhajan, baru mengagungkan kemuliaan-Nya dalam pengertian yang sesungguhnya.

……………..

Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14. Dikutip Penjelasan Bhagavad Gita 9:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Kebahagiaan Sejati adalah Hasil dari Kesadaran Jiwa

“Ia yang tidak terikat dengan sensasi-sensasi indrawi karena interaksinya dengan objek-objek di alam benda; ia yang menemukan sumber kenikmatan di dalam dirinya sendiri; ia yang senantiasa berada dalam Kesadaran Brahman, dan manunggal dengan-Nya lewat Yoga (berkarya tanpa pamrih) —meraih Kebahagiaan Sejati nan kekal abadi.” Bhagavad Gita 5:21

Kita mesti selalu mengingat bahwa setiap kali menyebut Yoga, maksud Krsna adalah Karma Yoga, Yoga Perbuatan yang Dinamis, yakni Berkarya tanpa Pamrih. Ketika Ia menyebut Yoga- Yoga jenis lain seperti Samkhya dan sebagainya, maka Ia secara spesifik menyebut-Nya.

KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali.

Pernahkah Anda memperhatikan, setelah berhubungan intim dengan pasangan Anda, kenikmatan yang Anda peroleh memudar, berlalu dengan cepat. Dan, setelah itu Anda, justru merasa lebih hampa lagi. Itulah sebab, setelah berhubungan intim, umumnya Anda langsung merokok atau menuju lemari es untuk mencari makanan. Setelah memperoleh kenikrnatan pun, Anda tetap merasa lapar, haus, kekurangan sesuatu.

Jika hubungan intim pun tidak bisa membahagiakan, maka pengalaman-pengalaman sensasional lain sudah pasti tidak bisa. Sebab, hubungan intim merupakan pengalaman paling sensasional, dalam pengertian, melibatkan semua senses, semua indra — yang amat sangat intens. Jika pengalarnan seintens itu pun berakhir dengan kehampaan, maka janganlah berharap dari pengalaman-pengalaman lain, dari sensasi-sensasi lain.

SUMBER KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH JIWA SENDIRI! Sifat Jiwa adalah Ananda – kebahagiaan sejati. Namun, selama Jiwa “merasa” terpisah dari Jiwa Agung, ia tidak menyadari hal tersebut. Ia tidak mengalaminya.

Hanyalah Yoga, dalam pengertian, Kemanunggalan Jiwa dengan dan dalam Jiwa Agung yang dapat memunculkan pengalaman tersebut— kebahagiaan abadi tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa kemanunggalan ini sebetulnya sudah terjadi. Kemanunggalan ini adalah hakikat. Justru perpisahan adalah ilusif. Ketika ilusi perpisahan terlampaui— kemanunggalan “terasa” kembali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Tuhan Selalu Berada di Pihakku? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 17, 2018 by triwidodo

Anthony de Mello berkisah: Jesus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajak-Nya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.

Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya: “Saudara berteriak untuk pihak yang mana?”

“Saya?”, jawab Jesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. “Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.”

Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Jesus: “Ateis!”

Sewaktu pulang, Jesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. “Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan”, kata kami. “Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.”

Jesus mengangguk setuju. “Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya,” katanya. “Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat.”

“O Lord, berhati-hatilah dengan kata-kata-Mu,” kata salah seorang di antara kami dengan was-was. “Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu.”

“Ya – dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama”, kata Jesus sambil tersenyum kecewa.

Dikutip dari buku (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

 

Ilusi Dualitas Membuat Kita Pilih Kasih

Ilusi Dualitas menciptakan preferensi, pilih kasih, favoritism – ini kesukaanku, itu bukan kesukaanku.

Selama masih terjebak dalam Dualitas, kita tidak bisatidak pilih kasih. Ini bangsaku, itu bangsa lain, asing. Aku tidak boleh mencela, menyakiti dan merugikan orang-orang sekepercayaan. Tapi terhadap kelompok kepercayaan lain, aku boleh berbuat apa saja.

Beberapa tradisi di masa lalu, bahkan mengatur secara rapi siapa saja yang boleh dijarah, dan siapa saja yang tidak boleh. Penjarahan terhadap harta benda, bahkan istri, anak, dan budak-budak kelompok tertentu – tidak hanya diperbolehkan, tapi dianggap sesuatu yang lumrah, lazim.

 

Tentunya, aturan-aturan seperti itu bertentangan dengan apa yang hendak Krsna sampaikan. Misalnya…

Brahman atau Tuhan tidak pilih kasih – hal ini saja sulit dipahami oleh mereka yang menganggap  kelompok mereka, masyarakat mereka sebagai orang-orang yang terpilih. Penjelasan Bhagavad Gita 5:18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Pada Kenyataannya Setiap Orang Hanya Bekerja untuk Kelompoknya?

Masalah ekonomi, masalah sosial – hampir semua masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat kita, merupakan hasil putusnya rantai persatuan. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa masyarakat kita sudah sakit. Setiap orang bekerja hanya untuk kelompoknya.

Mulai dari pendidikan, sekolah-sekolah khusus yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kepercayaan… Sejak usia dini, kita telah meracuni anak-anak kita dengan racun perpecahan. Kita mengkotak-kotakkan mereka. Kau berkepercayaan A, B, C… Bahkan, kita mendirikan bank-bank, lembaga-lembaga keuangan yang bercirikan kepercayaan. Pers kita bernapaskan kepercayaan. Apabila situasi semacam ini dibiarkan terus, Persatuan Bangsa akan tinggal menjadi bagian dari sejarah masa lalu

Jalankan usahamu, profesimu, bukan hanya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan suatu kelompok, tetapi untuk kepentingan seluruh bangsa, untuk kepentingan masyarakat dunia – dan kepentingan pribadimu akan ikut terurus.

Jangan lupa bahwa kita semua merupakan bagian dari masyarakat dunia yang tidak dapat dipisahkan satu dari lainnya. Apalagi mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada tingkat atas dalam susunan kemasyarakatan kita. Mereka justru harus memberikan contoh, menjadi teladan. Apabila mereka mengabaikan kewajiban mereka, masyarakat di bawah akan kacau.

Kekacauan ini akan Memecah Belah Masyarakat dalam 3 kelompok.

Pertama, mereka yang cuek. Mereka yang sama-sama hanya mementingkan diri mereka pribadi. Mereka akan diam, bahkan akan melindungi pemimpin-pemimpin mereka. Mereka berada dalam perahu yang sama.

Kedua, mereka yang diam. Mereka tahu persis apa yang terjadi akan menghancurkan seluruh tatanan masyarakat, namun tetap memilih diam. Mereka takut, pengecut.

Ketiga, mereka yang berani. Berani mengungkapkan kebenaran. Acap kali mereka akan kita cap sebagai pemberontak.

Renungkan jasa para pahlawan – mereka yang mengabdikan seluruh hidup mereka untuk memperoleh kemerdekaan dari penjajah. Mereka pun pernah dicap sebagai pemberontak dan pembangkang oleh penguasa waktu itu. Penjelasan Bhagavad Gita 2:33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Jangan Hanya Bertumbuh, Maju-lah

PERTUMBUHAN ADALAH INDIVIDUALISTIK, KEMAJUAN ADALAH KOLEKTIF…… Kita bertumbuh sendiri. Keluarga, kerabat, kelompok, partai, atau siapa dan apa saja yang ikut bertumbuh bersama kita, adalah perpanjangan diri kita. Mereka tidak mewakili masyarakat umum. Mereka adalah bagian dari ego kita, keluarga-“ku”; kelompok-“ku”; umat-“ku”; dan sebagainya.

Kemajuan terjadi ketika kesadaran kita meluas dan mencakup seantero alam, seluruh umat manusia. Saat itu, tiada lagi ego-diri yang mengaku, “aku sudah berbuat”. Saat itu, hanyalah kesadaran pelayanan yang ada. Apa pun yang kita lakukan adalah persembahan pada semesta.

“Para bijak di masa lalu pun, sudah berkarya dengan semangat itu,” nasihat Krsna kepada Arjuna, “Kemudian, semangat kerja seperti itulah yang membebaskan mereka dari keterikatan yang menyedihkan, menyempitkan, menahan kemajuan. Wahai Arjuna, contohi mereka. Mereka berhasil dan engkau pun niscaya pasti berhasil!” Penjelasan Bhagavad Gita 4:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia