Vishvamitra: Keberanian Melawan Dewa #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 23, 2017 by triwidodo

Dalam kisah Kaushika disampaikan tentang kekuatan dirinya akibat bertapa, berikut penjelasan tentang Siddhi atau kekuatan-kekuatan metafisik dalam buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Siddhi adalah kekuatan-kekuatan metafisik atau suprasensorik,

yang bisa Anda peroleh dengan menjalankan disiplin tertentu. Kekuatan-kekuatan yang dimaksud adalah:

  1. Anima: Kekuatan untuk memperkecil tubuh sampai seukuran atom
  2. Mahima: Kekuatan untuk memperbesar tubuh sampai ukuran yang tak terbatas
  3. Garima: Kekuatan untuk menjadi berat tanpa batas
  4. Laghima: Kekuatan untuk menjadi ringan tanpa batas
  5. Prapti: Kekuatan untuk mengakses semua tempat
  6. Prakamya: Kekuatan untuk mewujudkan semua keinginan
  7. Istiva: Kekuatan untuk memiliki apa saja
  8. Vasitva: Kemampuan untuk menaklukkan segalanya

 

Dari sudut pandang psikologis, hal-hal tersebut di atas adalah puncak pencapaian kehidupan manusia:

  1. Anima adalah kemampuan untuk merelakan
  2. Mahima adalah kemampuan untuk memperluas kesadaran
  3. Garima adalah kemampuan untuk membulatkan tekad
  4. Laghima adalah kemampuan beradaptasi
  5. Prapti adalah kemampuan untuk memahami ilmu-ilmu duniawi
  6. Prakamya adalah kemampuan untuk mengetahui sifat keinginan
  7. Isitva adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang baik bagi Anda
  8. Vasitva adalah kemampuan untuk mengendalikan indera-indera Anda

 

Bagaimana kita memperoleh kemampuan-kemampuan tersebut?

  • Lepaskan segala emosi yang tidak diperlukan, pikiran yang menganggu, kekhawatiran, kegundahan, serta ingatan-ingatan yang penuh kepedihan.
  • Kembangkan pemahaman yang holistik terhadap hidup. Keluarlah dari cangkang Anda, lihatlah sekeliling. Hidup ini indah adanya. Anda indah adanya. Yang berlalu telah berlalu, Anda tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tidak ada gunanya bernostalgia terhadap masa lalu atau menyesali apa yang telah Anda perbuat. Lanjutkan perjalanan Anda! Dan, berhentilah mengkhawatirkan masa depan. Hiduplah dalam kekinian. Fokuslah pada apa yang Anda kerjakan, dan lakukan yang terbaik yang dapat Anda kerjakan. Masa depan Anda bergantung pada apa yang Anda lakukan hari ini, sekarang juga. Sesungguhnya Anda mampu membangun, merancang, dan membentuk masa depan Anda. Andalah pengendali hidup Anda sendiri. Tetaplah menjadi pengendali hidup Anda.
  • Ya, Anda bisa! Jangan ragukan kemampuan Anda untuk mencapai apa saja.
  • Hidup dan menghidupi. Berbagilah, pedulilah serta bekerjasamalah.
  • Anda terlahir dengan kemampuan untuk mengetahui dan mengembangkan semua jenis skill. Anda tidak lebih rendah dari siapa pun. Tingkatkan kemampuan Anda serta asahlah kemampuan Anda.
  • Kenali perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan. Anda bisa hidup tanpa keinginan, tetapi tidak tanpa kebutuhan. Ingatlah bahwa Keberlimpahan adalah nama lain bagi Ibu Pertiwi. Sang Bunda tidak akan pernah memisahkan Anda dari yang benar-benar Anda butuhkan.
  • Yang menyenangkan belum tentu memuliakan, maka, cari yang memuliakan bukan yang menyenangkan. Maka Anda tak akan pernah tersesat.
  • Perhatikanlah panca-indera Anda, organ-organ indera Anda serta kemelekatan mereka pada kenikmatan-kenikmatan semu. Banyak dari kemelakatan-kemelekatan tersebut yang berbahaya. Jangan biarkan mereka memperbudak Anda. Jadilah tuan bagi mereka.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan bahwa Raja Trishanku dari dinasti Surya ingin ke surga bersama raganya. Sang raja meminta Rishi Vasishtha mengabulkan permohonannya, tetapi dia ditolak. Ketika sang raja memohon kepada para putra Vasishtha, mereka bahkan mengutuknya menjadi seorang chandala, sehingga tak ada seorang pun yang mengenalinya, kemudian dia pergi mengembara dan tidak kembali lagi ke istana.

Dalam pengembaraannya, sang chandala bertemu dengan Kaushika yang sedang bertapa. Kaushika mengenali bahwa sang chandala adalah Raja Trishanku. Raja Trishanku berkata, “Sewaktu menjadi raja, aku selalu berbuat baik dan tak pernah menyimpang dari dharma, tetapi putra Vasishtha telah mengutukku, kami memohon pertolonganmu.”

Rishi Kaushika membantu Raja Trishanku, dan bahkan mengusahakan Raja Trishanku dapat naik ke surga bersama tubuhnya. Ketika Raja Trishanku naik ke surga dan dan ditolak Indra, Rishi Kaushika kemudian membuatkan surga khusus bagi Trishanku, dan para dewa terpaksa menyetujuinya karena takut kepada kesaktian Rishi Kaushika.

Pada suatu saat, Rishi Kaushika terketuk oleh pengorbanan Brahmana Ajigarta yang merelakan putranya menjadi persembahan Varuna, agar cucu Raja Trishanku yang menjadi putra mahkota selamat. Rishi Kausika kemudian memanggil seratus putranya agar ada salah satu yang sanggup berkorban menggantikan putra Ajigarta. Separuh putranya menolak dan beralasan mengapa putra seorang raja yang menjadi rishi menggantikan putra brahmanaa tak terkenal sebagai korban persembahan.

Kemudian kelimapuluh putranya dikutuk menjadi pengikut suku liar Nisadha, suku pemakan anjing, selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut bisa dimaknai, bahwa seorang putra yang tidak patuh dan tidak berbhakti kepada orang tuanya, akan lahir kembali selama beberapa kehidupan sebagai penjaga setia yang patuh kepada majikan, layaknya anjing yang patuh pada tuannya. Utangnya adalah kesetiaan mengabdi, sehingga karena tidak mengabdi kepada orang tua, maka dia harus mengabdi pada seorang majikan dalam beberapa generasi.

Demikian pula kala Rishi Kaushika sedang mengadakan upacara persembahan agar Raja Trishanku bisa naik ke surga, para putra Vasishtha datang melecehkannya, “Bagaimana bisa seorang bekas raja dapat menaikkan seorang chandala ke surga.”

Para putra Vasistha pun kemudian dikutuk  Kaushika menjadi pengikut suku liar Nisadha selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut dapat dimaknai, para brahmana (putra Vasishtha) yang membuat seorang raja (Trishanku) menjadi chandala, dan menyepelekan tapa seorang ksatria, maka dia pun harus merasakan bagaimana penderitaan seseorang  akibat perbuatannya dan bagaimana rasanya disepelekan masyarakat. Mereka yang suka mempersulit kehidupan orang lain harus segera sadar.

Rishi Vasishtha memang bijaksana dan tidak mempunyai keterikatan terhadap keluarga. Rishi Vasistha, tidak marah putra-putranya dikutuk, karena berpendapat sebuah kutukan hanya dapat terjadi karena adanya keselarasan dengan hukum sebab-akibat. Kesalahan masa lalu bisa saja memberikan akibat pada saat ini.

Kita berlu merenungkan tindakan Rishi Vasishtha, putra-putra kandung adalah para putra pada kehidupan saat ini. Sudah ribuan putra dalam ribuan kehidupan dimiliki dalam kehidupan sebelumnya. Putra sejati seorang Guru adalah para murid, yang ingin meningkatkan kesadaran melalui dirinya sebagai seorang Guru.

Vishvamitra: Makna Tapa Kaushika #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 22, 2017 by triwidodo

Makna bertapa dalam kisah Srimad Bhagavatam dan konteks masa kini

Tapah, bertapa atau mendisiplinkan diri; Svadhyaya, mempelajari kitab-kitab suci, atau mempelajari Sifat Diri yang Sejati; dan Isvara Pranindhana,Penyerahan diri pada Isvara, Ilahi Hyang Menerangi Sanubari setiap makhluk—inilah Kriya Yoga, Yoga atau Disiplin dalam Laku atau Perbuatan. Yoga Sutra Patanjali II.1

Tapah, biasa diterjemahkan sebagai “tapa” dalam konteks “bertapa”. betul, istilah “tapa” dalam bahasa kita berasal dari tapah, namun pengertiannya bukanlah sekadar menjauhkan diri dari keramaian dunia, dan menyepi di hutan—lalu duduk manis bersila, memejamkan mata, dan tidak bergerak selama berjam-jam.

……………

Tapah bukanlah tujuan. Tapah adalah Pemanasan-Diri, warming-up, Laku-Awal untuk mempersiapkan diri.  Sebab itu, para Sophy atau Sufi mewajibkan setiap pemula, setiap novice untuk menyepi selama 40 hari. Setelah masa tersebut berakhir, barulah mereka diberikan pelajaran, dipandu. Masa Sepi atau Pemanasan-Diri itu penting untuk menguatkan niat dan tekad para pemula. Jika tidak mampu, silakan meninggalkan padepokan.

Tradisi mistisisme Kristiani mengenal berbagai macam retret. Dari yang singkat selama beberapa hari, hingga yang bersifat sepanjang usia, seperti yang dilakukan oleh para petapa Trappists.

Demikian, sesungguhnya Tapah dikenal dalam semua tradisi, semua ajaran Spiritual. Tujuannya pun sama, yaitu untuk pemanasan diri, untuk persiapan supaya seorang sadhaka, seorang seeker atau aspirant, seorang pelaku spiritual bisa “tahan banting”. Tanpa ‘pertahanan diri’ prima seperti itu, sadhana is simply not possible. Seseorang tak akan mampu melanjutkan disiplin diri hingga mencapai tujuan akhirnya, yaitu samadhi, pencerahan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Memperoleh Brahmastra dari Shiva

Pasukannya dikalahkan pasukan sapi Sabala milik Rishi Vasishtha, Raja Kaushika merasa sangat malu. Ternyata kekuatan seorang raja tidak dapat mengalahkan kekuatan seorang rishi. Raja Kaushika pulang ke istana menyerahkan singgasana kepada putra mahkotanya dan pergi bertapa.

Dengan tapa kerasnya, Shiva berkenan memberikan panah Brahmastra. Dengan panah tersebut, Kaushika kembali mendatangi ashram Rishi Vasishtha. Ashram tersebut dapat dihancurkan dengan panah Brahmastra. Kaushika berhadap-hadapan dengan Rishi Vasishtha yang membawa tongkat Brahmadanda.

Ternyata anak panah Brahmastra dari Kaushika terserap oleh tongkat Brahmadanda. Kembali Kaushika mengalami kekalahan dari Rishi Vasishtha.

Kaushika kembali bertapa selama ribuan tahun ingin menjadi rishi yang dapat menandingi Rishi Vasishtha.

 

Ber-tapah atau bertapa berarti bekerja keras, berkeringatan, tidak bersikap pasif. Keuletan, Kecekatan, Kepandaian dalam pengertian memiliki skill dan mengasah diri secara terus-menerus, semua ini adalah tapah.

Arti harfiah dari kata tapah sebagaimana telah klta bahas adalah “berpanasan”—memanaskan-diri. Tidak malas, tidak sontoloyo, tidak pernah memberikan alasan, “Tunggu sebentar ya, saya tidak bisa didorong-dorong seperti itu. Saya makhluk luar angkasa, tidak terbiasa di-push, ditekan seperti itu.”

Jika kita tidak bisa, tidak mampu bekerja under great pressure—di bawah tekanan yang luar biasa—maka kita belum bisa ber-tapah, dan sebab itu pula kita belum bisa memasuki Yoga. Tiada Yoga tanpa tapah. Yoga bukanlah sesuatu untuk bermain-main.

Seandainya kita menghendaki keadaan yang adem-ayem saja, maka tapah bukanlah untuk kita, Yoga belum menjadi kebutuhan kita. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.32 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Merasa masih kalah dengan Rishi Vasishtha, Kaushika kembali melakukan tapa dan berkat kerja kerasnya memperoleh banyak siddhi, kekuatan alam. Dia dikenal sebagai Rishi Kaushika.

Silakan ikuti kisahnya lebih lanjut……

Vishvamitra: Putra Raja dengan Cetak Biru Seorang Rishi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 21, 2017 by triwidodo

Catur Varna: Empat Kelompok Masyarakat yang, awalnya, tidaklah dibagi berdasarkan kelahiran, keturunan, dan darah, tapi berdasarkan potensi diri dan profesi seseorang.

Kelompok-kelompok tersebut adalah: Pertama, Kelompok Brahmana atau Cendekiawan – para pemikir, pendidik, guru pengajar, ahli kitab atau ritus, pendeta, dan sebagainya. Profesi mereka sesuai dengan potensi diri mereka, yaitu untuk mendidik anak bangsa; mengarahkan masyarakat; menasihati pemerintahan, dan sebagainya.

                Kedua, Kelompok Ksatriya atau Kesatria adalah para politisi, diplomat, para abdi negara, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.

Ketiga, Kelompok Vaisya atau Pengusaha — jelas, berprofesi sebagai pedagang, industrialis, bankir, dan sebagainya.

Dan, Keempat, Kelompok Sudra, atau Kaum Pekerja. Mereka adalah para pelaksana, para profesional. Tanpa bantuan mereka, ketiga kelompok sebelumnya tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Pengelompokan ini bukanlah untuk mengangkat, meninggikan satu kelompok dan merendahkan atau menistakan kelompok lain. Sama sekali tidak demikian.

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Jika kita memperhatikan keadaan saat ini……. Kekacauan yang sama telah terjadi. Setiap kelompok ingin berkuasa, menjadi raja. Mereka ramai-ramai memasuki arena politik untuk berlomba.

Jumlah kursi jelas jauh lebih kecil, lebih sedikit dari jumlah para peserta lomba. Maka terjadilah sikut-menyikut. Terjadilah politik dagang sapi, dagang kuda, dagang kecoa, dagang nyamuk, dagang semut, dan entah dagang apa lagi. Dagang daging, barangkali.

Kita melupakan potensi diri – Berpotensi sebagai pendidik, tapi menjadi politisi. Berpotensi sebagai abdi negara, tapi lebih suka dagang karena “duitnya banyak.” Sebaliknya, pengusaha menginginkan kekuasaan, dan masuk politik. Penjelasan Bhagavad Gita 4:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Raja Gadhi anak keturunan Pururava sudah lama tidak mempunyai putra sebagai calon pengganti saat dia melepaskan jabatan dan pergi melakukan Vanaprastha, meninggalkan istana fokus pada Gusti Pangeran. Dia hanya memiliki satu anak perempuan bernama Putri Satyavati yang kawin dengan Rishi Ruchika putra Rishi Chyavana. Sang permaisuri dan putrinya minta tolong Rishi Ruchika agar mereka dapat memperoleh putra. Sang Permaisuri ingin putra ksatria yang perkasa sedangkan putrinya ingin putra brahmana yang bijaksana.

Rishi Ruchika mempersiapkan 2 mangkuk air bagi permaisuri dan istrinya, kemudian pergi melakukan sadhana di sangai. Sang permaisuri merasa menantunya pasti ingin memberikan putra yang terbaik bagi istrinya, maka dia minta tukar mangkuk dengan putrinya.

Demikianlah Putri Satyavati memberitahu kepada Rishi Ruchika apa yang telah terjadi. Rishi Ruchika berkata bahwa demikianlah takdir, Kehendak Gusti. Satyavati akan mempunyai putra berkarakter ksatria perkasa. Satyavati mohon agar diusahakan mempunyai putra brahmana. Rishi Ruchika hanya menyanggupi kelahiran sang ksatria ditunda satu generasi. Akhirnya lahirlah putra Satyavati sebagai Rishi Besar Jamadagni dan cucunya adalah Avatara Parashurama, brahmana yang berwatak ksatria.

Sesuai kutipan penjelasan Bhagavad Gita di atas:

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Avatara Parashurama adalah brahmana yang berkarakter ksatria pembasmi para ksatria yang menindas kelompok-kelompok lain tersebut.

 

Putra Raja Gadhi adalah Kaushika yang menjadi raja adil dan bijaksana. Bagaimana pun Blueprint, Cetak Biru Gusti menetapkan yang lain. Apakah dia akan menjadi Rishi Besar sesuai ramalan Rishi Ruchika?

Alkisah pada suatu hari, Raja Kaushika beserta pasukannya mengunjungi Rishi Vasishtha. Rishi Vasishtha sangat senang dan ingin menjamu sang raja dengan seluruh prajuritnya. Raja Kaushika tidak mau merepotkan sang rishi. Diterima saling tukar pikiran dan menanyakan masalah yang dihadapi masing-masing sudah sangat membahaagiakan.

Rishi Vasishtha memanggil sapi Sabala yang indah dan berkata persiapkan jamuan bagi para raja dan seluruh prajuritnya. Raja dan seluruh prajuritnya menikmati hidangan yang sangat lezat. Rishi Vasishtha menjelaskan bahwa sapi Sabala adalaah anak sapi Kamadhenu yang keluar dari samudra susu saat para dewa dan asura mengaduk samudra.

Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/14/amrita-keabadian-demi-ego-asura-atau-pelayanan-dharma-dewa-srimadbhagavatam/

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/10/kurma-avatara-mendukung-perjuangan-gigih-memperoleh-amrita-srimadbhagavatam/

Raja Kaushika ingin menukar sapi Sabala dengan emas, permata atau ribuan gajah, karena sapi tersebut sangat diperlukan bagi kerajaan. Rishi Vasishtha menolak, karena Sabala adalah berkah Gusti dan sabala seperti putranya sendiri.

Karena tetap teguh menolak, maka sang raja minta pasukannya, menarik paksa Sabala dari ashram sang rishi. Sabala menangis karena merasa Rishi Vasishtha membiarkan peristiwa tersebut. Melihat Sabala tidak rela dibawa prajurit, Rishi Vasishtha berkata agar Sabala mengeluarkan pasukan yang sebanding kekuatannya dengan pasukan sang raja. Pasukan Raja Kaushika mengalami kalah telak dari pasukan ciptaan Sabala dan sang raja pulang ke istana dengan rasa kecewa.

Silakan ikuti kisah selanjutnya……

Avatara Parashurama: Brahmana dengan Karakter Kshatriya #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 20, 2017 by triwidodo

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak.

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:7 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Renuka adalah istri dari Rishi Jamadagni, Rishi Besar dari Dinasi Bhrigu. Renuka mempunyai putra empat orang akan tetapi semuanya tidak mempunyai karakter ksatria. Padahal Satyavati, ibu mertua mereka menceritakan bahwa salah seorang putranya akan mempunyai karakter seorang ksatria sejati.

Pada saat Renuka mengandung calon putra yang kelima, para rishi datang menyampaikan berita bahwa putranya akan menjadi brahmana yang bersifat ksatria dan akan membersihkan dunia dari para ksatria yang telah berkubang adharma.

Pada saat itu para ksatria yang menjadi penguasa yang seharusnya melindungi rakyat, malah menindas rakyatnya. Akhirnya, putra kelima lahir diberi nama Rama, yang bermakna Dia Yang Berada di Mana-Mana. Setelah besar dia dikenal sebagai Parashurama, karena dia bersenjatakan “parashu”, kapak. Dia juga dikenal sebagai Rama Barghava karena merupakan keturunan dari Dinasti Bhrigu. Sejak kecil sudah diramalkan para rsi bahwa dia adalah Avatara, Sang Pemelihara Alam yang mewujud untuk menegakkan dharma.

Dikisahkan, ada seorang raja perkasa dari kerajaan Hehaya bernama Kartawiryarjuna atau Sahasrarjuna. Pada suatu hari Raja Kartawiryarjuna selesai berburu dengan para prajuritnya mampir ke pertapaan Rishi Jamadagni. Mereka dijamu dengan baik oleh sang rishi. Sang raja bertanya bagaimana dia bisa menjamu begitu banyak prajuritnya dengan sempurna, yang dijawab bahwa semua dilakukan oleh sapi sakti Kamadhenu.

Setelah sampai di istana sang raja mengutus pasukannya untuk mengambil paksa sapi Kamadhenu milik Rishi Jamadagni yang bisa menghasilkan makanan bagi banyak prajurit. Parashurama yang mendengar hal tersebut langsung membawa kapaknya dan membunuh sang raja serta para prajurit yang melindunginya.

Rishi Jamadagni berkata pada Parashurama, “Putraku, tindakanmu akan disalahpahami sebagai seorang yang telengas, mudah membunuh. Padahal aku tahu alasanmu. Seorang raja yang sering melakukan kejahatan besar, kalau dibiarkan hidup terlalu lama, maka  perbuatannya akan semakin parah.  Dan, dalam kehidupan mendatang dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, sehingga hidupnya akan sangat sengsara.

“Pembunuhan yang kaulakukan membuat hutang karma sang penjahat sudah terbayar dengan kematiannya di dunia. Selain itu dengan  dibunuhnya para raja yang jahat, maka masyarakat yakin adanya keadilan, bahwa kejahatan apa pun akan dikalahkan.

“Pandangan hidupmu akan sering disalahpahami. Bahkan mungkin saja kau punya alasan sendiri yang tidak kuketahui. Karena kau adalah Vishnu yang mewujud untuk menegakkan dharma.”

Selanjutnya Rishi Jamadagni minta agar Parashurama melakukan ziarah ke semua sungai suci selama satu tahun. Selesai mengadakan tirtayatra selama satu tahun Parashurama pulang ke rumah.

Renuka, ibu Parashurama,  adalah seorang istri yang setia dan selalu mengambil air dari sungai di bawa ke rumah. Pada suatu hari saat Renuka mengambil air di sungai dan dia melihat Gandharva Citrasena yang sangat tampan sedang bermain air dengan istrinya. Renuka terpesona sampai agak lama berada di sungai. Sepanjang jalan dalam pikirannya hanya terbayang ketampanan sang gandharva.  Penyebab keterlambatan Renuka pulang ke rumah diketahui oleh Rishi Jamadagni.

Rishi Jamadagni ingin segala sesuatu segera diselesaikan di kehidupan ini. Obsesi yang tidak selesai di dunia ini akan menyebabkan seseorang lahir lagi untuk mengejar obsesi tersebut. Rishi Jamadagni segera menyuruh empat putranya untuk membunuh Renuka, ibunya. Dan semua putranya ragu-ragu untuk melaksanakannya.

Kemudian Rishi Jamadagni berpaling ke Parashurama, “Parashurama bunuh ibumu dan saudara-saudaramu semuanya.” Dan, Parashurama melakukannya dengan patuh.

Rishi Jamadagni kemudian berkata, “Aku senang kau patuh padaku dan yakin pada kebijaksanaan ayahandamu. Sekarang kau minta anugerah apa pun kau akan kuberi.”

Parashurama menjawab, “Ayahanda aku minta anugerah untuk menghidupkan mereka semuanya dan begitu mereka bangun mereka lupa tentang apa yang telah terjadi.”

Rishi Jamadagni menyetujui dan ibu serta saudara-saudara Parashurama hidup lagi dan lupa dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Mati dibunuh seorang avatara berarti selesai sudah hutang-piutang karmanya dan lahir lagi dengan diri yang bersih. Kita akan banyak membaca hal-hal demikian dalam Kisah-Kisah Srimad Bhagavatam tentang Sri Krishna nanti.

Pada suatu ketika, saat Parashurama bersama saudara-saudaranya ke hutan, para putra Kartawiryarjuna membunuh Rishi Jamadagni dan kemudian kabur.  Mengetahui hal tersebut Parashurama membunuh semua putra-putra Kartawiryarjuna dan setelah itu mulai membinasakan seluruh ksatria yang jahat di dunia.

Semua raja dan ksatria jahat di dunia dibunuh olehnya dan konon dia berkeliling dunia selama duapuluh satu kali. Dan, darah para raja dan ksatria dikumpulkan pada lima danau yang disebut Samantapancaka yang terletak di dekat padang Kurukshetra yang nantinya akan menjadi medan pertempuran Bharatayuda nantinya.

Dikisahkan Parashurama mendatangi para raja dan mengajaknya berduel perang tanding satu lawan satu. Raja yang tidak mau beeperang tanding dan menyerah dan berjanji memimpin kerajaan dengan baik akan dibiarkannya hidup. Parashurama meminta putra dari raja yang dibunuhnya untuk menggantikan ayahnya.

Meskipun jumlah ksatria yang mati dibunuh Parasurama tidak terhitung banyaknya, namun tetap saja masih ada yang tersisa hidup. Di antaranya adalah para ksatria dari Dinasti Surya yang berkuasa di Kerajaan Ayodhya. Salah seorang keturunan dinasti tersebut adalah Sri Rama, putra Dasaratha. Parashurama mendatangi dan menantang Sri Rama. Parashurama mendengar Sri Rama dapat mematahkan Busur Shiva dan menyunting Sita. Dia meminta Sri Rama menarik tali Busur Vishnu kepunyaannya. Sampai saat itu tak ada seorang pun kecuali dia sendiri yang dapat menarik tali busur tersebut.

Sri Rama berhasil menarik tali Busur Vishnu dan berkata busur sudah kutarik sekarang siapa yang akan menjadi targetnya? Parashurama melihat siapa sejatinya yang telah menarik busurnya. Dia merasa peran Avatara Vishnu baginya sudah berakhir. Dia segera pamit pergi ke Himalaya bertapa. Seluruh kekayaannya dibagikan kepada semua brahmana di sepanjang perjalanannya. Diyakini Parashurama masih hidup karena menerima berkah sebagai Chiranjivin yang berusia panjang. Satu kalpa.

Avatara Parashurama: Akibat Beda Pikiran Permaisuri, Anak dan Menantu #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 19, 2017 by triwidodo

 

Kita dapat mengharapkan sesuatu pada anak kita, pasangan kita, tapi mereka mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan kita. Saya ingin dia memperhatikan saya itu keinginan saya. Bagaimana dengan keinginan dia. Akan selalu ada konflik, tak ada dua mind, pikiran yang sama. Sekalipun dalam satu pikiran kita saja, banyak konflik yang terjadi. Walaupun orang yang satu ranjang dengan kita, selalu saja berbeda mind-nya. Kutipan berdasarkan terjemahan bebas video Youtube Bapak Anand Krishna How to deal with life disappointment.

Ada mind, ada inteligensia. Bukan intelek, tetapi inteligensia, karena intelek masih merupakan bagian dari mind. Penghalusan mind itulah intelek. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Dikutip dari buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001

Raja Gadhi adalah generasi ke 14 dari keturunan Raja Pururava. Sang raja sudah lama belum mempunyai putra, walau sudah mempunyai putri seorang gadis bernama Satyavati. Adalah seorang rishi bernama Ruchika yang merupakan rishi besar putra Rishi Chyavana, anak keturunan Rishi Brighu putra Brahma, melamar sang putri.

Silakan baca ulang tentang Rishi Chyavana: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/06/02/putri-sukanya-temukan-gusti-lainnya-akan-ditambahkan-srimadbhagavatam/

Dan https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/06/01/sukanya-pengorbanan-putri-jelita-srimadbhagavatam/

Sang raja menyetujui asalkan sang rishi dapat memberikan 1.000 ekor kuda putih yang telinganya berwarna hitam sebagai mas kawin. Rishi Ruchika bertapa dan meminta kepada Varuna, raja samudra untuk membantunya. Dengan bantuan Varuna, sang rsi berhasil membawa persyaratan tersebut dan dia menjadi suami dari Satyavati.

Pada masa itu, para rishi dipandang sebagai manusia terhormat yang tidak begitu terikat dengan keduniawian dan tugasnya mengajar manusia ke arah kebaikan. Sedangkan para ksatria dan para raja yang berkuasa pada masa itu sering menyalahgunakan kekuasaannya.

Kedua ibu dan anak, Permaisuri Raja Gadhi dan Satyavati, meminta tolong Rishi Ruchika, suami Satyavati agar dapat membantu mereka memperoleh putra. Rishi Ruchika kemudian mempersiapkan dua mangkuk berisi air untuk diminum istri dan ibu mertuanya. Kemudian sang rishi pergi ke sungai melaksanakan ritual doa saat matahari mulai tenggelam.

Dalam mind, pikiran dan perasaan sang permaisuri, dia memperkirakan Rishi Ruchika akan memberikan putra yang terbaik bagi istrinya, maka kemudian sang permaisuri minta kepada putrinya untuk bertukar mangkuk dan selanjutnya mereka meminumnya.

Ketika Richi Ruchika pulang dari sungai, Satyavati berkata bahwa ibunya telah memintanya bertukar mangkuk. Rishi Ruchika menyampaikan bahwa Kehendak Tuhan-lah yang terjadi dan bukan kehendak manusia. Rishi Ruchika berpikir bahwa air dalam mangkuk yang diperuntukkan bagi ibunya bertujuan agar sang permaisuri memperoleh keturunan seorang ksatria yang berkarakter tegas yang cocok sebagai seorang putra mahkota. Sedangkan air dalam mangkuk yang diperuntukkan bagi Satyavati bertujuan agar dia memperoleh keturunan yang berkarakter brahmana yang teguh yang cocok bagi keturunan mereka. Demikianlah mind Permasuri, putrinya Satyavati dan Rishi Ruchika, anak menantunya berbeda.

Satyavati menyesal, rupanya dia tidak menginginkan putranya menjadi ksatria yang sakti yang sering menyalahgunakan kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang karena kekuasaannya. Selanjutnya, Satyawati memohon kepada Rishi Ruchika agar keadaan tersebut dapat diperbaiki.

Rishi Ruchika mengatakan bahwa dia bisa mengusahakan agar kejadian tersebut digeser tetapi hanya dalam satu generasi, sehingga cucu mereka akan menjadi ksatria walaupun keturunan Brahmana.

Satyavati akhirnya mempunyai seorang putra yang mempunyai karakter seorang brahmana sejati dan nantinya salah seorang cucunya mempunyai sifat seorang brahmana yang berkarakter ksatria sejati.

Tidak berapa lama, Permaisuri Raja Gadhi melahirkan seorang putra bernama Kausika. Kausika adalah seorang pangeran, seorang putra mahkota dengan sifat kebrahmanaan yang kuat. Dalam kisah selanjutnya Kausika akan menjadi seorang Rajarishi, Devarishi dan bahkan Brahmarishi bergelar Rishi Vishvamitra yang menjadi salah seorang Guru Sri Rama selain Rishi Vasistha putra Brahma.

Satyavati menurunkan putra seorang brahmana bijaksana bernama Rishi Jamadagni yang termasuk menjadi saptarishi dalam manvatara terkait. Rishi Jamadagni kemudian menurunkan Avatara Parashurama, seorang brahmana yang berkualitas sebagai ksatria sejati yang memberantas keangkaramurkaan para ksatria.

Silakan ikuti dalam kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya.

Pururava: Cinta Bidadari Urvashi dari Planet Berbeda #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 18, 2017 by triwidodo

Dulu, kita masih bisa memilih: mau berteman, bersahabat, bergaul dengan para dewa, para malaikat, manusia, atau pada raksasa, para danawa. Sekarang, hal itu sudah tidak mungkin lagi, karena ketiga sifat malaikat, manusia dan raksasa berada dalam porsi yang sama dalam setiap insan. Karena itu, hendaknya kita mengembangkan ketiga nilai luhur dam, datta, dan dayaa, pengendalian diri, membari atau berbagi, dan mengasihani.

………….

Suara pertama diterjemahkan para Dewa sebagai dam atau Pengendalian Diri. Dewa atau Malaikat tercipta dari Cahaya atau Nur. Mereka dalam pandangan manusia Hindia zaman dahulu, berasal dari siklus penciptaan sebelumnya. Sang Keberadaan mengangkat mereka untuk tugas-tugas tertentu. Mereka ibarat para menteri. Antara lain, mereka juga bertugas untuk menuntun dan mengarahkan para pejalan, para pencari. Sesungguhnya bagi setiap orang yang berkuasa dan sedang menikmati kekuasaan, kekayaan, kedudukan serta ketenarannya harus belajar mengendalikan diri.

Namun lain dewa, lain manusia. Ia menerjemahkan suara itu sebagai datta – memberi. Dengan cara memberi dan berbagi, manusia belajar untuk tidak menjadi egois, tidak hanya mementingkan diri.

Kesimpulan para raksasa atau danawa lain lagi: dayaa – kasihanilah, kasihilah. Tumbuh kembangkanlah nilai yang satu ini di dalam diri. Kalian memang kuat, penuh tenaga, namun janganlah menggunakan kekuatan dan tenaga itu untuk mencelakakan makhluk lain.

Bila bertemu dengan seseorang yang telah berhasil mengendalikan diri, mengendalikan nafsu-nafsu rendahan, senang memberi atau berbagi, dan mengasihi tanpa memandang bulu, ciumlah tangan dia. Bertekuk-lututlah kehadapannya. Ia adalah Insan Kaamil, Manusia Sempurna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pururava adalah putra Budha dari Dinasti Chandra dengan Putri Ila dari Dinasti Surya. Pururava terkenal mempunyai ketampanan seperti Soma, sang kakek namun mempunyai kebijaksanaan seperti Budha, sang ayah. Saat Putri Ila berubah menjadi Raja Sudyumna, Pururava menjadi putra mahkota penerus sang raja.

Dikisahkan Devarishi Narada sedang bercerita tentang kebaikan dan ketampanan Raja Pururava di istana para dewa, dan seorang bidadari cantik Urvasi menjadi jatuh cinta kepada sang raja.

Dalam Srimad Bhagavatam sering dikisahkan intervensi para dewa yang kawin dengan putri manusia, atau bidadari yang kawin dengan putra manusia. Ada kemungkinan bahwa hal tersebut juga untuk meningkatkan evolusi manusia ke arah kesempurnaan. Hal tersebut juga bisa menjadi jawaban, mengapa ada kelompok manusia yang sudah berperadaban sangat maju dan masih ada kelompok manusia yang seakan-akan masih mengalami peradaban manusia purba karena terisolasi. Karena bila hanya berdasar evolusi saja mestinya peradaban di seluruh dunia akan sama.

Dalam alam semesta ini ada ratusan miliar galaksi. Dan dalam satu galaksi ada ratusan milyar matahari. Dalam satu matahari ada beberapa planet. Mungkin sekali di alam semesta ada makhluk-makhluk yang sangat tinggi peradabannya dan datang ke bumi dengan pesawat yang lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Siapa tahu mereka mengintervensi kita, datang dengan vimana dan dibayangkan dalam tulisan lama dengan naik kereta yang ditarik kuda. Seperti tulisan lama yang menggambarkan Gatotkaca terbang pakai sayap yang digantung di kedua pundaknya, padahal kemungkinan besar Gatotkaca memakai jet tempur, karena perang Bharatayuda adalah perang nuklir. Hal tersebut terjadi karena pada saat tersebut sang penulis belum bisa membayangkan bepergian tanpa kereta atau terbang tanpa sayap.

 

Pada saat Pururava ketemu Urvasi mereka saling jatuh cinta. Akan tetapi, Urvasi mengajukan dua syarat kepada Pururava yang berniat mempersuntingnya. Pertama, Urvasi mempunyai kambing kesayangan yang harus dilindungi. Kedua, Urvasi tidak boleh melihat sang raja telanjang, kecuali saat mereka sedang bercinta saja. Mungkin maksud Urvasi agar tidak melihat Pururava berkasih mesra dengan wanita lain. Pururava menyanggupi dan jadilah mereka suami-istri yang setia dan bahagia.

Adalah Dewa Indra yang selalu mengganggu ketenangan hidup manusia. Dikisahkan bahwa setelah beberapa bulan, Indra merasa surga menjadi muram dengan hilangnya Urvasi dan Indra berusaha mengembalikan Urvasi ke istana para dewa.

Pada suatu ketika, sewaktu Pururava dan Urvasi tidur nyenyak, datang para gandharva utusan Indra untuk mengambil kambing Urvasi. Sang kambing mengembik karena ditarik dengan paksa. Urvasi berteriak bahwa ada pencuri yang mengambil kambing kesayangannya. Dalam keadaan buru-buru Pururava mengambil senjatanya dan meloncat keluar dalam keadaan telanjang. Kesempatan itu digunakan Indra untuk membuat kilat sehingga Pururava nampak sedang tidak berpakaian.

Urvasi melihat suaminya dalam keadaan telanjang dan sebagaimana janjinya dahulu, maka dia menghilang. Para gandharva segera melepaskan melepaskan sang kambing, tetapi Urvasi telah lenyap.

Pururava sangat berduka, akan tetapi hal itu sebagai pembangkit semangat untuk bertemu lagi dengan Urvasi. Dan kemudian Pururava bertapa dan mengembara mencari jejak berita Urvasi. Pada suatu ketika, sang raja bisa bertemu dengan para bidadari dan mendengar kabar bahwa pada akhir tahun Urvasi akan datang selama satu malam sambil menyerahkan putranya.

Akhirnya, Pururava dapat bertemu dengan Urvasi yang membawa putranya sebagai obat kerinduan dan juga penerus keturunannya. Tanpa keturunan dari Urvasi maka tidak akan ada Dinasti Bharata. Pururava sendiri dengan mantra gandharva bisa ikut Urvasi tinggal di Planet para dewa.

Rishi Shuka putra Bhagavan Vyaasa berkata kepada Parikhsit, bahwa Pururava adalah nenek moyang Parikhsit yang juga nenek moyang dirinya. Itulah sebabnya Bhagavan Vyaasa, ayahnya, tidak mau tergoda oleh bidadari, karena tidak mau mengalami kejadian seperti nenek moyangnya tersebut.

Putra Pururava adalah Ayu. Putra Ayu adalah Nahusha. Putra Nahusha adalah Yayati. Putra Yayati adalah Puru. Setelah 14 generasi lahirlah Dusyanta. Dusyanta mempunyai putra Bharata.

Putri Ila: Istri Budha yang Setiap Bulan Berganti Gender #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 18, 2017 by triwidodo

 

Dari sudut pandang spiritual “Perempuan dan Lelaki adalah sama”. Di sana pertanyaan emansipasi tak pernah muncul. Pada titik itu, masalah tolok ukur, status juga tak relevan. Dan tak berguna untuk dibahas.

Jiwa melampaui semua pembahasan dan penjelasan. Ini tak butuh persetujuan ataupun penyangkalan. Ini adalah ini. Dan Ini Utuh dalam Dirinya sendiri. Tak ada perdebatan di sana, tak ada apa-apa.

Di sini, kita perlu mendiskusikan sesuatu, tapi bukan yang tak ada apa-apa melainkan jiwa dalam bentuknya yang paling kasat. Ya…kekasatannya yang kita bisa diskusikan di sini. Dalam bentuknya yang halus, jiwa-jiwa mereka, lelaki dan perempuan tetaplah sama. Mereka tak beda. Tapi dalam bentuknya yang kasat, mereka sama sekali berbeda. Kekasatanlah yang membuat perbedaan. Dan, kita harus menatap tajam guna menembus kekasatan ini. Dikutip dari artikel Bapak Anand Krishna Emansipasi dan Kaum Perempuan 22 April 2009 di: http://www.aumkar.org/ind/

 

Sraddhadeva dari Dinasti Surya lama tidak mempunyai keturunan dan meminta Vasishtha, gurunya untuk melakukan upacara yajna memohon bantuan Mitra dan Varuna. Akan tetapi, istri Sraddhadeva menginginkan kelahiran seorang putri, sehingga ketika proses yajna sedang berlangsung dia meminta bantuan Hota agar anak yang lahir menjadi seorang putri. Dan lahirlah seorang putri yang dinamakan Ila.

Rishi Vasishtha menjelaskan kepada raja bahwa Hota telah mengubah mantra. Akan tetapi, Rishi Vasistha sanggup mengubah kelamin Ila menjadi laki-laki dengan kekuatan tapanya. Dan, kemudian Ila berubah menjadi pangeran bernama Sudyumna.

Di suatu lereng Meru, dikisahkan bahwa Mahadeva sedang bercengkerama dengan Parvati. Pada suatu ketika, para rishi yang ingin bertemu dengan Mahadeva masuk ke tempatnya tanpa memberitahu lebih dahulu. Pada waktu itu Parvati sedang duduk di pangkuan Mahadeva tanpa pakaian. Parvati sangat malu atas kejadian tersebut, dan Mahadeva kemudian berkata bahwa mereka yang masuk ke dalam hutan tersebut akan berubah menjadi wanita.

Para rishi berubah menjadi wanita dan Parvati menjadi lega. Dengan berjalannya waktu tak ada lelaki yang berani memasuki hutan tersebut. Pada suatu ketika Pangeran Sudyumna kebetulan masuk ke hutan tersebut, dan dia berubah menjadi wanita lagi atau menjadi Ila.

Sang raja meminta bantuan Rishi Vasishtha lagi. Dan, Rishi Vasishtha kemudian berdoa kepada Mahadeva agar Ila dapat berubah menjadi laki-laki lagi. Mahadeva mengatakan bahwa dalam satu bulan, putra Sraddhadeva akan menjadi putri Ila dan satu bulan berikutnya menjadi pangeran Sudyumna dan sewaktu menjadi laki-laki lupa pernah menjadi wanita. Demikian pula saat menjadi wanita dia lupa pernah menjadi pria.

Dikisahkan saat Putri Ila berwujud wanita, Pangeran Budha, putra Chandra atau Soma, jatuh hati kepadanya, sehingga akhirnya mereka menikah. Dikisahkan selama 1 bulan Ila menjadi istri Budha, dan 1 bulan berikutnya begitu bangun tidur dia menjadi Pangeran Sudyumna dan belajar bertapa dari Budha, temannya tersebut. Setelah satu tahun lahirlah putra dari Ila dan Budha. Setelah sang putra lahir, Budha mohon bantuan Mahadeva agar masalah istrinya diselesaikan. Mahadeva memberkati dan Putri Ila menjadi Pangeran Sudyumna selamanya.

Dari Budha dan Ila lahirlah Pururava, raja pertama dari Dinasti Chandra yang merupakan nenek moyang Pandawa dan Kaurawa.

Ingatlah selalu bahwa Tuhan adalah Imminent dan Transendent. Berarti Ia berada di dalam setiap gender, semua gender ada di dalam diriNya, semua berasal dariNya. Itu imminent. Namun, Ia pun melampaui segalanya, transcendent.

………….

Kebahagiaan abadi hanya dirasakan ketika unsur-unsur maskulin dan feminin di dalam diri Anda bertemu di dalam Tuhan. Itulah kesempurnaan diri. Itulah pencerahan.

Sementara itu, pertemuan antara pria dan wanita, umumnya hanyalah pertemuan antara dua ego. Dan pertemuan antara dua ego tidak pernah bertahan lama. Selalu terjadi tarik-menarik, masing-masing ingin menguasai yang lain. Dari hubungan seperti itulah lahir ego baru dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Namun jika terjadi pertemuan agung di dalam Tuhan, maka hasilnya adalah kreativitas yang tertinggi, kesempurnaan abadi, kebahagiaan sejati.

……………..

Ketika Kesadaran Manusia berada di Wilayah 3 Chakra Awal, khususnya sekitar Chakra Kedua, maka ia mengejar kenikmatan duniawi. Ia baru mengenal keterikatan dan ketertarikan. Cintanya masih bersifat birahi dan ditujukan terhadap seseorang atau beberapa orang.

Ketika berada sekitar Chakra Keenam, ia mengenal kasih sejati yang tak bersyarat dan tak terbatas. Ia mulai mencintai sesama manusia tanpa mengharapkan timbal-balik. Ia tinggal selangkah lagi merasakan keselarasan sampurna dengan semesta. Tinggal selangkah lagi untuk melihat wajah Allah di mana-mana. Interaksi antara gender bagi para sanyasi hanya bermanfaat ketika masing-masing sudah berada di wilayah chakra keenam tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan ikuti kisah Raja Pururava dalam kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya.