4 Checkpoints tentang Bhakta, Panembah dalam Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 19, 2017 by triwidodo

Menjadi Bhakta, Mengembangkan bhakti, Mengikuti Petunjuk Krishna, Melayani sesama

  1. Menjadi bhakta

“Pusatkanlah segenap pikiran dan perasaanmu pada-Ku; berbhaktilah pada-Ku; (tundukkan kepala ego) bersujudlah pada-Ku dengan semangat panembahan yang tulus; demikian, berlindung pada-Ku senantiasa, niscayalah kau meraih kemanunggalan dengan-Ku.” Bhagavad Gita 9:34

Segala sembah, sujud, dan sebagainya – bukanlah untuk membuat seseorang menjadi hamba Krsna. Bukan, itu bukanlah tujuan Krsna. Krsna bukanlah seorang guru picisan yang sedang mencari, dan merekrut murid. Ia tidak senang melihat kita membuntutinya seperti domba. Ia menginginkan kita – setiap orang di antara kita – untuk mengalami apa yang dialami-Nya. Yaitu, kemanunggalan ‘aku’ kecil, aku-ego, dengan Jiwa Agung. Pertemuan antara Jiwa-Individu dan Jiwa-Agung – Jivatma dan Paramatma.

……….

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaan pada-Ku; Berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalahengkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 18:65

“Aku, Aku, Aku,…..” Permainannya memang adalah antara aku-ego dan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.  Nasihat Krsna untuk berserah diri bukanlah berserah diri pada sosok Krsna—tetapi berserah diri pada Aku-Sejati yang kebetulan saat itu sedang mewujud sepenuhnya dalam diri Krsna.

……..

“Sebab itu, pusatkan segenap pikiran, perasaan, dan buddhi, inteligensiamu pada-Ku; demikian, niscayalah kau akan selalu bersama-Ku, tiada yang perlu kau ragukan dalam hal ini.” Bhagavad Gita 12:8

Bukan saja memusatkan segenap pikiran serta perasaan — tetapi juga segenap inteligensia. Berarti, memusatkan seluruh kesadaran pada-Nya.

“Jika kau tidak mampu memusatkan kesadaranmu pada-Ku; maka raihlah kemanunggalan dengan-Ku dengan melakoni Yoga; wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan).” Bhagavad Gita 12:9

Kata “melakoni” dalam ayat ini adalah terjemahan gagap dari kata abhyasa, sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, berarti praktek-praktek yang dilakukan secara terus-menerus. Praktek secara intensif dan repetitif, diulangi terus.

“Jika kau tidak melakoni Yoga, maka berkaryalah untuk-Ku; demikian dengan cara itu pun, kau dapat meraih kesempurnaan diri.” Bhagavad Gita 12:10

“Namun, jika itu pun tak mampu kau lakukan, maka dengan penuh devosi pada-Ku, kendalikanlah dirimu dan serahkan segala hasil perbuatanmu pada-Ku.” Bhagavad Gita 12:11

“Pengetahuan Sejati lebih mulia dari laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan, melepaskan diri dari keterikatan hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.” Bhagavad Gita 12:12

……………..

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

………..

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku Iewat panembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) — demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70

…………

“Seorang Yogi berkesadaran demikian – senantiasa bersatu dengan-Ku; memuji-Ku sebagai Jiwa Agung yang bersemayam dalam diri setiap makhluk, termasuk di dalam dirinya sendiri; dan melakukan semua kegiatan dengan kesadaran itu.” Bhagavad Gita 6:31

Berkegiatan  dengan menyadari kehadiran Sang Jiwa Agung dalam diri setiap makhluk berarti tidak menyakiti siapa pun. Namun, pada saat yang sama kesadaran tersebut juga membuatnya tidak ragu-ragu untuk melakukan bedah terhadap tumor yang bersarang di badannya atau badan siapa saja.

………………

“Sebaliknya, mereka yang senantiasa berkarya dengan semangat persembahan pada-Ku; memuja-Ku sebagai Hyang Maha Mewujud; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku tanpa terganggu oleh sesuatu; wahai Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, IbuArjuna), niscayalah Ku-bantu menyeberangi lautan samsara, kelahiran dan kematian yang berulang-ulang ini.” Bhagavad Gita 12:6-7

Memuja-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud berarti melayani setiap wujud, mencintai, menyayangi, mengasihi setiap wujud.

………..

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

……………

“Sebaliknya, ia yang berbagi ajaran ini dengan penuh kasih (dan sebagai ungkapan kasihnya pada-Ku), kepada para panembah yang memang sudah siap untuk menerimanya – niscayalah akan mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 18:68

Seseorang yang melakoni ajaran ini dan berbagi dengan penuh kasih—sebagai ungkapan kasihnya pada Hyang Tunggal – kepada para panembah yang penuh kasih juga…. Maka, hasilnya ialah Kesempumaan Diri. Hasilnya ialah menyatu dengan-Nya, dengan Sumber Kasih itu sendiri.

“Tiada seorang pun yang pelayanannya pada-Ku melebihi pelayanannnya (yang dimaksud ialah seorang yang berbagi ajaran mulia ini dengan penuh kasih kepada mereka yang memang siap untuk mendengarnya). Demikian pula, tiada seorang pun di seluruh dunia yang Ku-cintai lebih darinya.” Bhagavad Gita 18:69

Di sini Krsna menjelaskan rahasia orang yang paling dicintai-Nya — yaitu seperti yang telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya – orang yang berbagi ajaran yang mulia ini dengan pcnuh kasih, dengan semangat kasih, semangat manembah, semangat melayani, kepada mereka yang layak, yang siap untuk menerimanya.

Orang itu — menurut Krsna — adalah……. PANEMBAH SEJATI – Siapa saja bisa berbagi receh, nasi kotak, mie instan, pakaian, dan sebagainya. Beramal-saleh dengan cara itu adalah biasa. Berdana-punia dengan cara menyumbang untuk pembangunan ternpat-tempat ibadah pun biasa.

…………….

“Demikian, para resi berpandangan jernih, yang telah sirna segala keinginannya oleh Pengetahuan Sejati tentang hakikat diri; pun, dirinya telah terkendali — senantiasa bersuka-cita dalam perbuatan yang membahagiakan semua makhluk. Mereka telah mencapai Brahmanirvana — Keheningan Sejati, Kasunyatan Agung dalam Brahma (Hyang Maha Kreatif). Bhagavad Gita 5:25

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Mengembangkan bhakti

Enam cara mencapai kemanunggalan dengan semesta

“Bebas dari rasa benci terhadap sesama makhluk; bersahabat dengan semua, penuh welas asih; bebas dari ke-‘aku’-an dan rasa kepemilikan; sama dan seimbang dalam suka dan duka; penuh ketabahan, mudah memaafkan;” “Puas dengan apa yang diraihnya, dan terkendali dirinya, senantiasa mengenang-Ku, manunggal dengan-Ku; pikiran, perasaan, serta inteligensianya terpusatpada-Ku; seorang panembah yang teguh dalam keyakinannya seperti itu sungguh sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:13-14

…………..

“Tidak sombong, tidak munafik, tanpa kekerasan, kesabaran, kebajikan; pelayanan pada Guru; kemurnian atau kebersihan luar dan dalam diri; keteguhan hati dan pengendalian diri;”

“Tidak tergoda oleh pemicu-pemicu indra; tanpa ego, dan perenungan pada penderitaan kelahiran, kematian, masa tua dan penyakit;”

“Tanpa keterikatan dan tidak bergantung pada anak, pendamping, hunian dan lain sebagainya; keseimbangandiri dalam keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan;”

“Pengabdian pada-Ku tanpa keraguan, dan dalam kesadaran kemanunggalan Yoga; senang bepergian ke tempat-tempat yang tenang dan suci; tidak menikmati persahabatan dengan mereka yang bersifat duniawi;”

“Senantiasa berkesadaran Jiwa, dan menyadari Kebenaran Hakiki sebagai tujuan tunggal segala pengetahuan, semuanya ini disebut Pengetahuan Sejati, segala hal selain ini adalah kebodohan.” Bhagavad Gita 13:7-11

Setiap butir kebijaksanaan luhur di atas adalah dalam bentuk tindakan, bukan pengetahuan belaka. Sementara itu, kita menerjemahkan pengetahuan sebagai informasi yang diperoleh dari bacaan, studi atau paling banter dari pengalaman hidup, yang diperoleh secara acak dan kebetulan.

Bagi Krsna, semua itu belum ‘Pengetahuan’ – Bagi Krsna, kita tidak menjadi ‘berpengetahuan’ karena gelar yang kita peroleh, atau karena kita seorang kutu buku dan senang mengoleksi informasi. Bagi Krsna, pengetahuan sejati adalah tindakan, upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar tahu tentang ego, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Bukan sekadar tahu tentang indra, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Pun demikian dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lainnya.

Pengetahuan sejati bagi Krsna, adalah suatu keadaan di mana seorang yang berpengetahuan tidak terpicu, tidak tergoda oleh hal-hal luaran. Ia tidak tertipu oleh dualitas. Ia menyelami hidupnya dengan semangat ‘all is one’ – semua satu adanya. Ia tidak membedakan kepentingan diri dan keluarga dari kepentingan umum.

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Mengikuti petunjuk Krishna

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;” Bhagavad Gita 16:1

“Ahimsa atau tidak menyakiti lewat pikiran, pengucapan maupun perbuatan; kejujuran, bebas dari amarah, tanpa rasa kepemilikan atau keakuan, ketenangan pikiran, bebas dari gosip, welas asih terhadap semua makhluk; bebas dari keinginan dan keterikatan, lembut atau sopan, bersahaja, tidak terbawa oleh nafsu, dan teguh dalam pendirian serta pengendalian diri;” Bhagavad Gita 16:2

“Cekatan (penuh energi, penuh semangat), tabah dan pemaaf, teguh dalam keyakinannya, bersih badan dan pikiran; tidak bermusuhan dengan siapa pun juga; dan tanpa keangkuhan — demikian, semuanya ini adalah kecenderungan-kecenderungan lahiriah mereka, yang lahir dengan sifat bawaan atau karakter dasar Daivi, Ilahi, Mulia, Wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat).” Bhagavad Gita 16:3

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Melayani sesama

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

…………….

“Ia yang memandang semua sama, sebagaimana ia memandang dirinya; dan menganggap sama suka dan duka, adalah Yogi – Manusia Utama, ia melebihi apa dan siapapun juga!” Bhagavad Gita 6:32

………….

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Orang Saleh dan 3 Temannya #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 18, 2017 by triwidodo

 

Jangan pernah mempercayai seorang teman yang belum pernah diuji. Dalam kisah ini digambarkan dengan indah siapa yang bisa dipercaya sebagai teman sejati kita.

Di sebuah desa kecil tinggal seorang saleh dan jujur. Pada suatu hari dia menerima sebuah panggilan dari raja untuk menghadap pengadilan. Raja tersebut dikenal karena eksentrik, mudah berubah, dan kejam. Orang saleh tersebut menjadi sangat terganggu dan takut. Dia merasa tidak pernah melakukan kesalahan atau ketidakadilan, jadi bagaimana dia bisa menerima panggilan seperti ini, dia bertanya-tanya.

Orang saleh tersebut memiliki tiga teman: teman terbaik, teman biasa dan teman yang tidak akrab.

Dia mendatangi teman terbaiknya, menjelaskan ketakutan dan kesusahannya kepadanya, dan memintanya untuk datang bersamanya ke istana raja. Teman terbaiknya, yang berdiri di depan pintu rumahnya, mendengar keseluruhan masalah dan berkata, “Saya khawatir saya tidak bisa menemani Anda ke istana raja. Saya hanya bisa mengucapkan silakan datang memenuhi panggilan,” dan dia menutup pintu rumahnya. Orang saleh tersebut menjadi sangat kecewa karena menyadari bahwa seseorang yang selalu dia anggap sebagai teman terbaiknya membiarkannya dalam masalah sendirian.

Dia kemudian pergi menemui teman kedua yang merupakan teman biasa, menceritakan keseluruhan masalahnya, dan mengajukan permintaan yang sama kepadanya. Teman biasa tersebut berkata: “Saya tahu Anda menjadi orang yang baik dan saya tidak akan pernah bisa membayangkan Anda melakukan sesuatu yang salah. Saya akan menemanimu sampai ke gerbang istana, tapi saya tidak berniat masuk istana dan berdiri di hadapan raja, karena Raja tidak dapat diprediksi dan eksentrik yang mungkin saja memutuskan saya ke penjara bersama Anda. ” Orang saleh tersebut menjadi kecewa untuk kedua kalinya.

Merasa sedih dan kecewa dengan kebaikan manusia, dia mendatangi teman yang tidak akrab baginya, yang tidak pernah diharapkan bantuan apa pun juga dari teman tersebut. Ketika teman ketiga ini mendengar tentang masalahnya, dia berkata kepadanya: “Saya tahu Anda untuk menjadi orang yang jujur ​​dan saya juga yakin Anda tidak mungkin melakukan sesuatu yang salah. Jangan khawatir, teman saya datanglah dengan santai ke istana raja. Saya akan pergi untuk memberi kesaksian kepada raja tentang kejujuran dan kebaikan Anda.” Orang saleh tersebut sangat terkejut dengan janji dukungan dari seorang teman yang tidak pernah diperhatikannya.

 

Orang saleh dalam kisah tersebut mewakili manusia dalam keadaan tertekan, menghadapi raja maut dan panggilan kematian. Gerbang istana merupakan tempat pemakaman. “Teman terbaik” mewakili uang dan harta benda, yang mengatakan selamat tinggal pada orang saat meninggal dan tidak pernah keluar dari rumahnya untuk menemaninya.

“Teman berikutnya” mewakili keluarga dan para teman, yang menemaninya hanya sampai ke kuburan dan kemudian meninggalkan mayatnya di sana.

“Teman yang tidak akrab”, yang tidak pernah diperhatikannya, adalah amal perbuatan baiknya, yang dilakukan tanpa pamrih untuk kepentingan orang lain. Amal perbuatan baiknya menjadi satu-satunya dukungan dalam perjalanannya yang menakutkan menghadapi maut. Amal tersebut adalah satu-satunya teman sejati dan tepercaya.

Berikut penjelasan tentang teman yang tidak akrab yang perlu dijadakan teman sejatinya:

Berkarya demikian, tiada upaya yang tersia-sia; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir, dan cemas.” Bhagavad Gita 2:40 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bersahabat dengan diri sendiri

Persahabatan sejati sama sekali tanpa pamrih. Persahabatan adalah ekspresi keintiman antara dua manusia yang menghormati dan meninggalkan kebebasan masing-masing secara utuh. Mencintai seseorang berarti peduli dan merasa bertanggung jawab atas hidupnya – bukan hanya keberadaan fisiknya tapi juga kesejahteraan totalnya. Kebutuhan akan perawatan dan tanggung jawab menunjukkan bahwa persahabatan adalah laku, bukan hasrat.

Kita harus menyelamatkan diri dengan upaya sendiri, berteman dengan diri sendiri. Kita tidak bisa bersandar kepada dunia benda. Egolah yang salah mengidentifikasi diri sehingga membedakan ini milikku dan ini milikmu, ini keluarga dan teman-temanku, itu keluarga dan teman-temanmu. Bersandar kepada harta benda atau bersandar kepada keluarga dan teman-teman-teman kita adalah karena ego kita. Dan ego tidak bisa menyelamatkan kita, karena harta-benda dan keluarga serta teman-teman tidak akan menemani kita saat kita menghadap kematian.

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan tidak membiarkannya terjerumus oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, ‘diri’-mu adalah kawan dan lawanmu sendiri.” Bhagavad Gita 6:5

Ini adalah puncak dari ayat-ayat pemberdayaan diri, di mana Krsna jelas sekali. Diri atau Atma dalam ayat ini adalah Diri-Sejati; Sang Jiwa yang merupakan percikan dari Jiwa Agung atau Paramatma.

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaraan kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan sebagainya.

Sesungguhnya, pembangkitan diri yang dimaksud  ialah meninggalkan alam ego dan kembali pada Alam Jiwa, yang merupakan habitat kita yang sebenarnya.

Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena ‘setiap’ Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama.

Dalam Alam Ego, kita beragam, berbeda – Walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda. Wajah Anda tidak sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara pikir kita beda. Perasaan kita beda!

Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: ‘Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…’

KONFLIK ADALAH HASIL DARI SALAH IDENTIFIKASI. Ketika kita memercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” tanpa memiliki atau menguasai sesuatu — maka, kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri — karena sesungguhnya Jiwa bebas adanya, ia tidak mau terikat — tapi ia terpengaruh oleh keinginan-keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan ‘tidak’ terhadap kekuasaan ego.

Maka terjadilah kekecewaan — karena, bagaimanapun juga kita tak akan pernah bisa menguasai dunia-benda sepenuhnya. Penguasaan kita sudah pasti bersifat terbatas. Sementara itu, Jiwa adalah percikan Hyang Tak Terbatas. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

5 Petunjuk Krishna untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 15, 2017 by triwidodo

Krishna memberi petunjuk kepada Arjuna yang galau agar menjadi percaya diri. Berikut 5 petunjuk tersebut guna membangkitkan kepercayaan diri kita semua:

 

  1. Ketahui dirimu sejati, Ia Hyang Tak Termusnahkan menempati wujud kita

“Adalah suatu keniscayaan bahwa apa yang tidak ada tak akan pernah ada; dan apa yang ada, tidak akan pernah tidak ada. Keniscayaan kedua hal ini dipahami oleh mereka yang telah menyaksikan kebenaran.” Bhagavad Gita 2:16

Kebenaran Hyang Tunggal Melampaui kebenaran relatif yang terlihat oleh mata. Yang terlihat adalah perubahan-perubahan yang memberi kesan seolah sesuatu yang saat ini ada dan menjadi milik kita, besok tidak akan ada. Ya, barangkali tidak menjadi miliki kita. Harta yang kita miliki bisa pindah tangan. Tapi harta itu , materi itu tetap ada.

“Ketahuilah bahwa Hyang Meliputi alam semesta adalah Tak Termusnahkan. Tiada seorang pun yang dapat memusnahkan Ia Hyang Tak Termusnahkan.” Bhagavad Gita 2:17

Gusti Pangeran, Tuhan, Jiwa Agung, atau apa pun sebutan-Nya melingkupi, meliputi alam semesta. Segala sesuatu berada di dalam-Nya.

“Ia Hyang Kekal Abadi, Tak Termusnahkan, dan Tak Terukur (Kemuliaan, Keagungan, dan Kekuasaan-Nya) itulah yang menempati wujud manusia dan wujud makhluk-makhluk lainnya. Maka, wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), bertempurlah, hadapi tantangan ini!” Bhagavad Gita 2:18

“Badan, raga, fisik pun, sesungguhnya hanyalah tampak mati, punah, dan sebagainya. Padahal, yang terjadi, setelah apa yang kita sebut kematian, adalah penguraian elemen-elemen alami yang meng-“ada”-kan badan. Yaitu; tanah, air, api, angin, dan eter atau substansi ruang. Elemen-elemen tersebut hanyalah kembali ke asalnya. Kembali menjadi bagian dari alam. Dan di balik itu…

Jiwa yang Bersemayam di dalam Badan atau, lebih tepatnya, Jiwa yang menggerakkan badan, menghidupinya – tidak ikut mati, tidak pula terurai. Ia tetaplah Abadi sebagaimana sedia kalanya. Jiwa inilah identitas diri kita yang sesungguhnya.

……….. Begitu mudah! Sadarilah hal ini saja. Anda hanyalah penghuni badan ini. Anda adalah Jiwa Abadi yang menghuni badan ini. Dibutuhkan sedikit pengalihan kesadaran. Anda bukan badan, tetapi penghuni badan. Begitu Anda sadar bahwa Anda bukan badan, masalah Anda selesai pada saat itu juga. Karena selama ini yang menghadapi masalah selalu badan Anda. Apabila Anda berhasil memisahkan diri dari badan, masalah pun selesai. Penjelasan Bhagavad Gita 2:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Kerjakan apa yang menjadi swadharmamu

“(Dengan menyadari hakikat dirimu sebagai Jiwa) dengan menyadari tugasmu, kewajibanmu sebagai seorang kesatria, janganlah engkau gentar menghadapipertempuran, tantangan di depan mata. Sungguh, bagi seorang kesatria tiadalah sesuatu yang lebih mulia dari pertempuran demi penegakan kebajikan dan keadilan.” Bhagavad Gita 2:31

Dalam sandiwara kehidupan ini, setiap peserta telah mendapatkan perannya masing-masing. Sebagai seorang kesatria, bertempur di medan perang demi menegakkan Kebenaran merupakan kewajiban Arjuna. Itulah peran yang hams dibawakan oleh Arjuna.

“Betapa beruntungnya para kesatria yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur demi menegakkan Kebajikan dan Keadilan, wahai Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), baginya seolah gerbang surga terbuka lebar!” Bhagavad Gita 2:32

Krsna sedang berupaya untuk membangkitkan kembali semangat Arjuna.

“Apabila kau tidak bertempur demi Kebajikan dan Keadilan; apabila kau menghindari kewajiban yang mulia ini, maka hanyalah  celaan yang akan kau peroleh.” Bhagavad Gita 2:33

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Anggaplah sama suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan

“Dengan menganggap sama suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, bertempurlah! Demikian kau akan bebas dari segala dosa-kekhilafan yang dapat terjadi dalam menjalani tugasmu.” Bhagavad Gita 2:38

Jadikan Ayat ini Slogan Anda Sehari-Hari. Jalankan usaha Anda tanpa rasa khawatir, rasa cemas, rasa takut, dan Anda akan sepenuhnya hidup dalam masa kini, saat ini. Seluruh energi Anda, pikiran Anda, kesadaran Anda akan terfokuskan pada saat kini. Hal ini sendiri sebenarnya sudah menjamin keberhasilan Anda. Namun, kita pun perlu memahami, bila… Tidak Memikirkan Hasil Tidak Berarti Bertempur Tanpa Tujuan… Tujuannya jelas. Maksudnya jelas – yaitu untuk menegakkan dharma – kebenaran, kebajikan, dan keadilan.

“Demikian, apa yang telah kau dengarkan, adalah kebijaksanaan, ajaran luhur dari sudut pandang Samkhya, yaitu Buddhi Yoga, pandangan berdasarkan pertimbangan dan analisis yang matang. Sekarang dengarkan ajaran dari sudut pandang Karma Yoga. Jika kau berketetapan hati untuk menerima dan menjalaninya, maka kau dapat berkarya secara bebas tanpa kehawatiran; da, bebas pula dari rasa takut akan dosa-kekhilafan. Demikian, tiada lagi akibat karma atau perbuatan, yang dapat membelenggumu.” Bhagavad Gita 2:39 

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Lakukan tanpa memperdulikan hasil, lakukan karma yoga

“Kau berhak atas, dan kau hanyalah dapat mengendalikan karyamu, perbuatanmu, apa yang kau lakukan; kau tidak dapat mengendalikan hasil dari karyamu, perbuatanmu. Sebab itu, janganlah menjadikan hasil sebagai tujuanmu berkarya; janganlah menjadikan hasil sebagai pendorong atau motivasi untuk berkarya, untuk berbuat sesuatu. Jangan pula berdiam diri dan tidak berkarya.” Bhagavad Gita 2:47

“Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa, kemanunggalan diri dengan semesta, wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan). Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.” Bhagavad Gita 2:48

Kṛṣṇa mengingatkan Arjuna akan sifatnya. Arjuna bukanlah seorang materialis. Sebab itu, ia mendapat julukan Dhananjaya, Penakluk Kebendaan, Penakluk Harta-Kekayaan, berarti ia telah melampaui benda dan kebendaan, dalam pengertian, ia dapat menikmati dunia-benda tanpa keterikatan, maupun ketergantungan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Hidup Meditatif

“Ia, yang pikirannya tak terganggu saat mengalami kemalangan; ia yang tidak lagi mengejar kenikmatan indra, jasmani; ia yang sudah bebas dari hawa-nafsu, rasa takut, dan amarah; ia yang senantiasa berada dalam kesadaran meditatif, seimbang dalam suka dan duka  – disebut seorang muni, seorang bijak yang telahmencapai ketenangan diri, ketenteraman batin.” Bhagavad Gita 2:56

Ia yang Berkesadaran Jiwa tidak Mengejar – Ia yang cerah, hidup dalam masa kini. Ia “berkarya” dalam masa kini. Ia tidak hidup dalam masa lalu, tidak pula dalam masa mendatang. Apabila Anda hidup dalam masa lalu, Anda akan bernostalgia melulu. Masa lalu sudah lewat. Apabila Anda hidup dalam masa mendatang, Anda akan berkhayal dan sibuk kejar-mengejar. Anda akan kehilangan masa kini.

“Ia tidak terikat dengan sesuatu, di mana pun ia berada, dan dalam keadaan apa pun. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:57

Kṛṣṇa tidak menganjurkan agar kita menolak kebahagiaan, pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan sebagainya, ia hanya menganjurkan agar kita jangan sampai lupa daratan. Setiap Pengalaman Dalam hidup ini hanya bersifat sementara. Dalam keadaan duka, jangan sampai kecewa, dan menciptakan trauma bagi diri sendiri. Terimalah apa adanya. Demikianlah kehidupan ini, jangan terikat pada pengalaman apa pun. Semuanya hanya ada untuk sesaat.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Empat Orang yang Berkutat dalam Kehidupan Materi #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 13, 2017 by triwidodo

Menurut para rishi, para bijak sejak ribuan tahun yang lalu, tujuan hidup adalah Ananda, Bliss, Kebahagiaan Abadi. Mereka yang masih berkutat dengan materi, gigih untuk memperoleh materi duniawi akan  sulit memahami tujuan hidup.

Berikut ini adalah kelompok orang yang masih berkutat dengan materi duniawi.

 

  1. Miskin, selalu merasa kurang

Orang yang keinginannya tidak pernah merasa puas: “Kenalilah sifat keinginan yang selalu tidak pernah puas. Dilayani terus, ia pun menagih terus. Seperti apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, ‘Dunia ini memiliki sumber yang cukup bagi seluruh warga dunia, semua orang – tapi tidak cukup untuk melayani keserakahan seorang pun.’” Penjelasan Bhagavad Gita 3:37 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Orang yang belum menaklukkan insting hewani.

“Insting kita sama dengan insting hewani. Urusannya makan, minum, tidur, kenyamanan, seks, dan survival—pertahanan diri. BoIak-balik itu saja. Orang miskin maupun kaya raya; seorang pengusaha, pejabat, profesional, atau bahkan seorang pelacur, urusannya itu-itu saja. Ada yang melacurkan diri—dalam pengertian, melacurkan badannya—ada yang melacurkan batinnya.

Insting hewani berkepentingan dengan dirinya sendiri. Itu yang terutama. Sepenuhnya berada di bawah insting hewani, seseorang bisa saja tampak peduli terhadap keluarga, kerabat, atau siapa saja yang dekat dengannya—termasuk institusi, ideologi tertentu, dan sebagainya. Ruang geraknya sebatas: aku, punyaku, milikku, itu saja. Ia tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut.

Sementara itu, jiwa berada dalam ruang tanpa batas. Semesta adalah miliknya, dan ia adalah milik semesta. Berada dalam ruang inilah, kemanusiaan kita bisa berkembang dan berbuah menjadi keilahian dan kemuliaan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

  1. Pengusaha, profesional yang fokus pada aspek materi

Raksasa adalah para penguasa, pengusaha, profesional, siapa saja, termasuk para pendeta dan rohaniwan – yang sepanjang hidup lebih mementingkan aspek materi dari keberadaan. Berarti, para materialis. Misalnya, cari uang untuk apa? Jika untuk diri sendiri saja, atau untuk keluarga, kawan, kerabat, dan para pengikut saja – maka ia materialis, ia Raksasa.

Namun, jika uang yang dihasilkan itu juga menjadi berkah bagi masyarakat luas – maka orang tersebut tidak bisa disebut materialis. Tentunya, idealnya adalah “menjadi berkah secara alami dan bagi seluruh alam”. Maksudnya, membantu, melayani, berbagi tanpa pamrih. Bukan untuk mencari nama, penghargaan, atau pujian. Penjelasan Bhagavad Gita 10:23 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Politisi, yang berfokus untuk memperoleh kursi bagi dirinya

Jumlah kursi jelas jauh lebih kecil, Iebih sedikit dari jumlah para peserta lomba. Maka terjadilah sikut-rnenyikut. Terjadilah politik dagang sapi, dagang kuda, dagang kecoa, dagang nyamuk, dagang semut, dan entah dagang apa lagi. Dagang daging, barangkali.

Kita melupakan potensi diri – Berpotensi sebagai pendidik, tapi menjadi politisi. Berpotensi sebagai abdi negara, tapi lebih suka dagang karena “duitnya banyak.” Sebaliknya, pengusaha menginginkan kekuasaan, dan masuk politik.

Jiwa yang sadar tidak akan pernah melakukan hal itu. Jiwa yang sadar, sadar sesadar-sadarnya bahwa dengan menjalankan peran sesuai dengan potensinya, ia sudah berkontribusi terhadap masyarakat. Berkontribusi secara positif dan efektif. Mau apa lagi? Untuk apa mengikuti jejak orang lain, ramai-ramai berlomba untuk mendapatkan kursi panas yang berusia sangat pendek?

Ketika kita bertindak sesuai dengan potensi kita masing-masing, pekerjaan menjadi hiburan. Kita bekerja, tapi seperti tidak bekerja. Terlibat sepenuhnya dalam profesi kita, tapi seperti tidak terlibat. Seperti sedang bermain-main, sedang menghibur diri. Penjelasan Bhagavad Gita 4:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Selebriti, yang fokus pada ketenaran pribadi

Konflik antara Kesadaran Jiwa dan Kesadaran Raga. Kesadaran Raga menginginkan kenikmatan indra, kenyamanan; dan Jiwa ingin menikmati kebebasannya sebagai penonton. Dua-duanya nikmat, namun jenis kenikmatannya beda. Sebagai penonton, kita bebas. Kita bisa menikmati pertunjukan hidup ini sebagai pertunjukan. Selesai pertunjukan, ya sudah, kita pulang ke rumah. Namun sebagai pemeran, kita akan selalu was-was. “Permainan saya disukai orang Nggak? Diapresiasi nggak?” Sebagai pemeran kita tidak bebas. Seluruh identitas diri kita bergantung pada peran yang sedang kita mainkan.

Para “Selebriti” yang kita saksikan di TV hari ini belum tentu bertahan selama sepuluh tahun lagi. Silakan mengingat-ingat nama para pemain sinetron atau film 10-20 tahun yang lalu. Nama-nama mereka tenggelam bersama masa lalu. Kita juga tidak tahu apa profesi mereka sekarang.

Ketika seorang pemain sinetron atau teater kehilangan perannya, atau audiens memilih wajah baru yang lebih muda, lebih segar untuk dipandang – maka ia pun seolah hilang bersama pamornya sebagai pemain.

Ini adalah kehidupan materialistik yang menganggap materi-pamor, materi-apresiasi dari penonton, materi-ketenaran, dan tentunya materi-materi, yakni materi-fulus sebagai identitas diri, menjadi identitas diri. Ketika materi hilang, diri kita yang bergantung pada materi pun ikut hilang. Penjelasan Bhagavad Gita 6:38 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Memahami makna berkah

Untuk memberkahi mereka, “Aku” yang bersemayam di dalam sanubari mereka, melenyapkan gelap-ketidaktahuan, dengan menyalakan Pelita Pengetahuan Sejati. Bhagavad Gita 10:11

Ayat ini mengandung makna yang luar biasa. Makna anugerah, arti berkah yang sesungguhnya. Rezeki, jodoh, kekuasaan, pangkat, pujian, makian dan lain-lain – semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri. Semuanya materi. Dari rezeki yang berlimpah hingga relasi dengan suami, istri, anak, orang tua – semuanya adalah konsekuensi dari karma kita sendiri, perbuatan kita sendiri. Entah karma sekarang di masa kehidupan ini, atau hasil akumulasi dari beberapa masa kehidupan sebelumnya.

Semua terjadi karena perbuatan kita, ulah kita. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya pula, dalam pengertian Hukum Sebab Akibat atau Karma pun ada kehendak-Nya. Namun, semuanya itu belum berkah – bukan berkah. Untuk mendapatkan seorang pasangan yang baik – dibutuhkan ‘diri’ yang baik. jika kita baik, kita menarik orang-orang baik sekitar kita. Kita bergaul dengan orang-orang baik. tinggal memilih pasangan. Jika mesti membayar hutang karma kepada seseorang – maka pasangan baik pun bisa menyusahkan, padahal dia orang baik. berpasangan dengan orang lain – ok. Dengan kita – tidak ok. Karma.

Berkah atau Anugerah Gusti Pangeran adalah ketika gelap-kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksadaraan kita sirna; dan sanubari kita, nurani kita menjadi terang-benderang. Berkah adalah ketika kita mampu memilah mana tindakan yang tepat, mana yang tidak tepat. Berkah adalah ketika cahaya kesadaran yang telah menerangi hidup – mulai memancarkan sinarnya dan menerangi setiap orang yang berinteraksi dengan kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

4 Julukan Arjuna Sebagai Standar Karakter Teladan bagi Kita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , , on November 12, 2017 by triwidodo

Nama julukan atau nick-name adalah nama seseorang yang bukan merupakan nama aslinya. Nama julukan bersifat tidak resmi, namun bersifat sosial dalam suatu komunitas tertentu. Nama julukan dapat bercirikan karakter atau ciri khas yang gampang untuk diingat.

Para pembaca Bhagavad Gita sering tidak memperhatikan julukan Arjuna yang disebut Krishna dalam suatu sloka. Padahal julukan Arjuna tersebut penting agar para pembaca memahami makna atau karakter dari julukan tersebut agar bisa meneladani tindakan Arjuna dalam julukan tersebut.

  1. Kurunandana

Kebanggaan wangsa/dinasti Kuru, agar kita berupaya agar pantas menjadi orang yang dibanggakan keluarga kita.

“Wahai Kurunandana (Arjuna, Kebanggaan wangsa Kuru), dalam menjalani yoga ini, berkarya dengan Kesadaran Jiwa – mereka yang paham, niscayalah teguh dalam keyakinannya. Sementara itu, mereka yang tidak paham, tidak pula teguh dalam keyakinannya, karena pikiran mereka masih bercabang.” Bhagavad Gita 2:41

Rumusan atau Formula yang menakjubkan ialah, tidak seperti rumusan-rumusan ilmiah yang menjadi baku, ayat-ayat seperti ini tidak baku, tidak beku. Ayat-ayat ini cair; dan sepenuhnya berlandaskan kesadaran serta pemahaman spiritual. Sehingga, setiap membaca ayat-ayat seperti ini, Anda bisa menemukan pemahaman baru sesuai dengan tingkat kesadaran Anda.

Yang penting, terutama, adalah pemahaman tentang Hakikat-Diri sebagai Jiwa Abadi. Jika Anda berkarya dengan pemahaman tersebut, dengan penuh keyakinan, maka niscayalah segala tantangan hidup dapat dihadapi dengan mudah. Namun, jika Anda tidak memahami Hakikat-Diri sebagai Jiwa yang Kekal, Abadi, dan Mampu – tapi, justru menganggap diri sebagai badan yang serba terbatas, maka pikiran Anda sudah pasti kacau dan melemah. Kemudian, dengan pikiran yang kacau, bercabang, dan lemah – sungguh sulit menghadapi tantangan sekecil atau seringan apa pun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Gudakesa

Sebutan Gudakesa (Arjuna berambut lebat) oleh Sri Krsna dan sebutan Hrsikesa (Krsna berambut lebat) oleh Sanjaya adalah sebutan kepada orang yang terhormat. Sudahkah kita menjadi orang yang terhormat?

“Lihatlah di dalam diri-Ku ini, wahai Gudakesa (Arjuna Berambut Lebat); seantero alam yang terdiri dari makhluk-makhluk yang bergerak, maupun wujud-wujud kehidupan yang tidak-bergerak. Sungguh kau dapat melihat apa saja yang kau inginkan.” Bhagavad Gita 11:7

Pertama, Arjuna diajak-Nya untuk menyadari bila semua makhluk, semua bentuk kehidupan, termasuk bebatuan dan pepohonan — semua ada di dalam-Nya.

Sementara itu, kita masih sulit menyadari hal tersebut. Secara teori, barangkali kita tahu…. Semua makhluk ada di dalam-Nya. Tetapi teori saja tidak cukup. Adakah kita memiliki rasa empati dan kepedulian yang sama terhadap semua makhluk, temasuk wujud-wujud kehidupan yang “seolah tidak bergerak”.

Jangankan makhluk-makhluk lain dan wujud-wujud kehidupan yang beda, kita masih menarik garis antara milikku dan miliknya. Ini anakku, dia anak orang lain. Ini rumahku, “aku mesti memasang talang untuk pembuangan air hujan, supaya terasku tidak basah”. Pedulikah kita bila talang yang kita pasang itu bisa berakibat teras atau rumah tetangga terendam air hujan.

Jika, kita masih mengkonsumsi daging, maka saatnya kita bertanya pada diri sendiri, “Adakah rasa empati di dalam diri kita?” Demikian pula, jika kita masih seenaknya membakar hutan, merusak lingkungan, dan sebagainya – maka, kita belum mampu melihat sernua itu di dalam-Nya.

Kita mencintai seseorang, apakah kita akan “merusak”, menyayat, atau melukai jarinya dengan berdalih, “Ah, itu kan jari saja. Hanya salah satu dari sepuluh jari.” Cinta, tapi merusak jari orang yang kita cintai. Bisakah kita melakukan hal itu?

Sekarang tinggal selalu mengingatkan diri bahwa alam semesta dengan seluruh isinya adalah wujud-Nya. Merusak sesuatu apa pun adalah merusak-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Ada juga yang menyebut Gudakesa dari kata gudaka (tidur), Gudakesa berarti penakluk tidur atau ignorance, maya.

“Meninggal saat Rajas berkuasa, Jiwa mengalami kelahiran ulang di dalam keluarga yang (sama-sama) terikat dengan aktivitas dan agresivitas. Demikian juga, seseorang yang meninggal saat Tamas berkuasa, mengalami kelahiran ulang lewat rahim (seorang ibu yang sama-sama) bodoh (dan didominasi oleh tamas).” Bhagavad Gita 14:15

Mereka yangterikat dengan tindakan dan dengan agresivitas selalu mengejar kebendaan tanpa kesadaran bila yang dikejarnya adalah fatamorgana. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Dhananjaya

Penakluk kebendaan. Pada saat kita membaca Krsna menyebut Arjuna Dhanajaya, untuk memahami sloka tersebut, kita perlu memberdaya diri kita agar tidak menjadi budak materi, kebendaan.

“Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa, kemanunggalan diri dengan semesta, wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan). Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.” Bhagavad Gita 2:48

Kṛṣṇa mengingatkan Arjuna akan sifatnya. Arjuna bukanlah seorang materialis. Sebab itu, ia mendapat julukan Dhananjaya, Penakluk Kebendaan, Penakluk Harta-Kekayaan, berarti ia telah melampaui benda dan kebendaan, dalam pengertian, ia dapat menikmati dunia-benda tanpa keterikatan, maupun ketergantungan.

Arjuna adalah Calon Kuat untuk menjadi Yogi – Untuk hidup dalam Kesadaran Yoga, yakni hidup dengan penuh kesadaran bila alam benda, bahkan badan sendiri hanyalah ruang main, panggung sandiwara. Bahwasanya, Jiwa berada di ruang ini untuk meraih pengalaman yang dapat memperkayanya – itu saja.

Bukan memperkaya secara materi. Jiwa tidak berkepentingan dengan materi. Kekayaan Jiwa adalah, lagi-lagi, kesadaran diri. Kesadaran bahwa, sesungguhnya ia tak pernah berpisah dari Sang Jiwa Agung. Berbagai pengalaman yang diperolehnya selama “berbadan” hanyalah semata untuk mengukuhkan keyakinannya pada Hakikat-Diri.

Kekayaan seorang Yogi adalah Kesadaran Yoga. Dan, Yoga adalah keseimbangan diri, kebahagiaan sejati. Yoga membuat Anda tidak berjungkat-jungkit antara dua ekstrem, dua kubu suka dan duka. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Partha

Putra Pritha, Kunti yang merupakan seorang bhakta, panembah. Krishna mengingatkan Arjuha bahwa dia adalah putra dari ibu yang merupakan seorang bhakta, panembah.

“Demikian, roda kehidupan berputar terus, dengan makhluk-makhluk hidup saling menghidupi dan berbagi. Seseorang yang tidak melakukan hal itu Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) dan hidup untuk memenuhi nafsu-indranya saja, sesungguhnya hidup dalam kesia-siaan.” Bhagavad Gita 3:16

Berbagi berarti menjadi bagian dari Kehidupan Agung. Menjadi bagian dari Pesta Raya Kehidupan. Sungguh merugilah orang yang datang ke pesta, tapi duduk bengong di pojok.

Atau seperti seorang pedagang yang datang ke pasar untuk berbelanja, tapi tidak jadi. Ia malah menunggu di luar pasar sambil berulang-ulang menghitung uang di kantongnya dan berpikir terus, tidak bisa menentukan  mau beli apa untuk dijual kembali.

Jadilah bagian dari Pesta Raya Kehidupan, jadilah pedagang yang cerdas dan bijak. Berkaryalah dengan semangat manembah. Hidup dan saling menghidupi! Nikmatilahkeberadaan kita di dunia ini. Persinggahan  kita di sini hanyalah untuk sesaat saja, manfaatkan setiap saat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

4 Kegalauan Arjuna di Awal Bharatayuda adalah Kegalauan Kita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 9, 2017 by triwidodo

Ketidakjernihan pandangan Arjuna di medan perang Kurukshetra dan ketidakjernihan kita dalam menghadapi masalah

“Melihat mereka, kakiku melemah, bibirku gemetar, kulit terasa terbakar; senjata pun terlepaskan dari tanganku; Pikiranku kacau, wahai Krsna, Aku tak mampu berdiri tegak; Munculnya firasat-firasat buruk mengganggu hatiku……” Bhagavad Gita 1:28-30

Krsna mengingatkan Arjuna dan “Gusti Dalam Diri” mengingatkan kita,

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda: “Dalam keadaan genting dan ditengah krisis seperti ini, Arjuna, dari manakah munculnya kelemahan hatimu, yang sungguh tidak pantas bagi seorang kesatria, tidak mulain, tidak terpuji, dan sangat memalukan.” Bhagavad Gita 2:2

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Pertama, Takut.

“Wahai Madhusudana (Krsna Penakluk Raksasa Madhu), bagaimana aku bisa mengangkat senjata melawanmereka, untuk memusuhi mereka berdua yang sangat kuhormati?” Bhagavad Gita 2:4

Bhisma adalah seorang kakek yang kesaktiannya diakui para kesatria di seluruh anak benua Hindia atau Aryavrata. Dan, Drona adalah guru yang mengajarkan seni perang kepada Arjuna. Munculnya kedua nama tersebut merupakan proyeksi dari rasa takut di dalam hati; di dalam diri Arjuna. Memang kedua orang itulah yang sangat ditakutinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Ketakutan Arjuna adalah ketakutan kita karena selama ini karena kita masih berada dalam kurungan ketakutan. Seperti Nasehat Swami Anand Krishna:

Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurungi kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita. Ada tiga lapisan utama:

Lapisan Pertama adalah yang Anda warisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi Anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga Anda masih harus lahir kembali.

Lapisan Kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru.

Lapisan ketiga adalah yang Anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok Anda semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.

Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Anda hidup dalam kurungan yang berlapis-lapis. Anda belum pernah hidup bebas. Hidup sekian lama dalam “kurungan pikiran”, banyak di antara anda telah menjadi pengecut, tidak berani mengambil resiko. Anda belum berani hidup bebas.

 

  1. Kedua, Tidak memahami dharma dan adharma dengan benar

“Kita tidak tahu, apa yang menjadi pilihan terbaik bagi kita. Mana yang lebih baik, menaklukkan mereka, membunuh mereka; atau, tertaklukkan oleh mereka, terbunuh oleh mereka? Kita berhadapan dengan putra Paman Dhrtarastra, gairah hidup apa yang akan tersisa setelah membunuh mereka? Bhagavad Gita 2:6

Arjuna belum sadar akan urusan Dharma-Adharma. Ia masih melihat perang itu sebagai perang keluarga.

Tidak, persoalannya bukanlah rasa bersalah, Arjuna tidak merasa bersalah. Ia sekadar menutupi rasa takutnya dalam pembungkus rasa bersalah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Swami Anand Krishna menyampaikan kisah dalam bharatayuda:

Krishna berkata, lihat saya di sini bukan karena ini perang keluarga. Saya di sini menegakkan dharma, menegakkan kebenaran, keadilan. Dan sepupumu bukan pada keadilan yang benar, bukan pada sisi dharma? Sehingga saya tidak peduli apakah dia sepupu atau apa? Kamu harus menegakkan dharma dan saya tidak membantumu Arjuna. Jangan salah mengerti. Saya di sini menegakkan dharma tidak membantu kamu?

 

  1. Ketiga, Menyerah sebelum bertarung

 

“Demikian, setelah mengucapkan kata-kata seperti itu, Arjuna melepaskan senjatanya dan duduk di bagian belakang keretanya.” Bhagavad Gita 1:47

Namun, terlepas dari itu – ada kejujuran dalam diri Arjuna, maka ia bertanya. Arjuna mohon petunjuk Krsna:

“Karena rasa kasihan, badanku terasa lemas; pikiranku kacau tentang apa yang menjadi kewajibanku. Sebab itu, anggaplah aku sebagai murid-Mu, katakan jalan mana yang mesti kutempuh, mana yang mesti kupilih?” Bhagavad Gita 2;7

Umumnya, seorang yang berguru pun datang bersama ego-nya. Mau berguru, tapi ingin mengatur guru. Maunya sang guru berkata sesuai dengan keinginannya.

Arjuna beda. Ia tulus, jujur, “Tunjukkan jalan padaku, aku bingung. Aku sudah kehilangan arah. Jalan mana yang mesti kutempuh. Bimbinglah diriku.”

Kejujuran inilah yang membedakannya dari kita. Seringkali kita pun sangat dekat dengan Krsna. Tetapi, kita tidak memperoleh manfaat apa pun dari kedekatan kita. Kenapa? Karena kita menyumpal telinga kita dengan kapas ego. Kepala kita pun enggan menunduk sehingga tidak terjadi apa-apa dengan diri kita. Krsna melewati kita, diri kita tidak tersenuth oleh-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Keempat, kesedihan yang luar biasa

 

“Sungguh aku tidak tahu bagaimana mengatasi rasa duka yang telah melemahkan seluruh badanku, indra — semuanya. Kendati aku berhasil menaklukkan seluruh dunia dan menguasainya tanpa ada yang dapat menandingiku; walau aku memperoleh kekuasaan dun harta yang berlimpah, bahkan kekuasaan atas alam para dewa; kekuasaan terhadap kekuatan-kekuatan alam sekalipun; aku tidak melihat jalan keluar dari duka yang sedang kuhadapi.” Bhagavad Gita 2:8

 

Rasa takut mematikan akal sehat. Rasa takut membingungkan otak kita. Kadang, dalam keadaan gelap kita melihat bayangan seseorang dan kita menganggapnya hantu. Kita ketakutan. Arjuna berada dalam keadaan takut seperti itu.

 

Sanjaya berkata: “Aku tidak mau berperang,” demikian kata Arjuna kepada Govinda (Krsna, Sang Penjinak Kehewanian-diri manusia), dan kemudian ia membisu. Bhagavad Gita 2:9

 

Kita bisa melihat, merasakan keadaan Arjuna. Sedemikian bingungnya dia… Sesaat sebelumnya, ia masih berkata: “Bimbinglah aku!” Berarti, ia masih terbuka terhadap nasihat, bimbingan, arahan. Tapi, sekarang ia seolah memberi keputusan, “Aku tidak mau berperang.” Titik.

Seperti inilah keadaan kita saat menghadapi tantangan yang terasa sangat berat. Pikiran kita kacau, tidak tahu lagi mesti melakukan apa.

Saat bimbang seperti itu, kadang kita tidak mampu mendengarkan suara nurani. Maka, dibutuhkan pemicu dari luar. Dibutuhkan seorang Krsna untuk membantu kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Bagaimana dengan kita yang tidak didampingi Krsna

 

“Bagaimana dengan Mereka yang Tidak Seberuntung Arjuna?” Maksudnya, bagaimana dengan mereka yang tidak didampingi seorang Kṛṣṇa?

Percayalah, yakinlah, saat Anda betul-betul membutuhkan pengarahan dan bimbingan seorang Kṛṣṇa, Anda pasti memperolehnya. Kṛṣṇa bisa berwujud apa dan siapa saja. Kadang seorang Pemandu Rohani, kadang seorang sahabat, bahkan kadang seorang anak kecil, seorang remaja; kadang buku yang sedang Anda baca – Kṛṣṇa bisa mewujud sebagai apa dan siapa saja untuk membimbing Anda.

Syaratnya: Asal Anda Percaya, Anda Yakin. Jangan terkecoh oleh jubah dan penampilan-Nya. Ia bisa berjubah beda, bisa berpenampilan lain. Sang Jiwa Agung bisa mewujud dalam bentuk apa saja, lewat siapa saja, untuk mengarahkan Anda yang sedang bingung! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

5 Tuntunan Sadguru Mempersingkat Masa Samsara #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 7, 2017 by triwidodo

  1. Memberikan Contoh Keteladanan yang Jelas

Sadguru adalah guru spiritual yang memimpin dengan memberi contoh. Mereka menetapkan standar yang bisa ditiru orang lain. Jadikan Raja Janaka sebagai Teladan Kehidupan dalam berkarya tanpa pamrih tanpa keterikatan. (Seharusnya kita meneladani kehidupan sadguru sehari-hari dalam menghadapi masalah, akan tetapi karena karena kerendahan hati Sadguru, Beliau memberikan contoh kehidupan orang lain)

“Apa pun yang dilakukan oleh para petinggi, dan mereka yang berpengaruh, menjadi contoh bagi rakyat jelata. Keteladanan yang mereka berikan, menjadi anutan, dan diikuti oleh masyarakat umum.” Bhagavad Gita 3:21

Sebab itu, mereka yang berada dalam posisi “penting”, “besar”, “tinggi” , dan berpengaruh – mesti berhati-hati dalam segala hal. Dalam setiap ucapan dan tindakan.

Seorang pemimpin yang arogan menularkan sifat arogannya kepada mereka yang dipimpinnya. Tanpa disadari, rnereka mengikuti keteladanannya. Keteladanan Arogan. Seorang penguasa berdarah dingin, cuek terhadap penderitaan rakyat kecil; senantiasa sibuk melindungi pasangan, anak, dan cucunya – menciptakan rnasyarakat yang serupa.

Jika seorang penguasa seperti itu dibiarkan berkuasa hingga 20-30 tahun, atau beberapa penguasa dengan sifat serupa menguasai suatu bangsa secara bergilir, maka seluruh bangsa akan terkontaminasi oleh sifat-sifat syaitani dan tidak terpuji seperti itu.

Bangsa seperti itu akan membenarkan penindasan. Mereka yang berkuasa di pemerintahan bertindak zalim terhadap rakyat. Rakyat bertindak zalim terhadap sesama anak bangsa. Demikian, kacaulah seluruh tatanan masyarakat.

Krsna mengajak Arjuna untuk meneladani Janaka – Sebelum meraih kekuasaan, Krsna sudah meletakkan standar kepemimpinan bagi Arjuna, “Seperti Janaka, seperti para bijak lain yang bersifat sama.”

“Dengan berkarya tanpa keterikatan dan tanpa pamrih seperti itulah Raja Janaka dan para bijaklainnya mencapai kesempurnaan diri. Demikian, hendaknya engkau pun bertindak tanpa kepentingan pribadi dan, semata untuk mempertahankan tatanan dunia.” Bhagavad Gita 3:20

Keberhasilan Janaka adalah karena semangat di balik apa yang dilakukannya. Ia bebas dari kepentingan dirinya. Ia berkarya tanpa pamrih untuk menjaga tatanan dunia dan masyarakat. Krsna mengajak Arjuna untuk berbuat serupa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Sadguru mengungkapkan identitas sejati dari kita untuk menghemat waktu yang sangat berharga.

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Bhagavad Gita 2:20

Karena tidak pernah lahir, maka tidak pernah mati pula. Kematian adalah konsekuensi, akibat dari kelahiran. Jika, kelahiran tidak terjadi, maka kematian pun tidak bisa terjadi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Sadguru mengungkapkan rahasia yang paling membingungkan: Hidup dan Mati

“Bagi yang lahir, kematian adalah keniscayaan; bagi yang mati, kelahiran adalah keniscayaan. Sebab itu janganlah bersedih hati, menangisi sesuatu yang sudah pasti terjadi.” Bhagavad Gita 2:27

Setiap aksi akan menimbulkan reaksi. Ini merupakan hukum alam. Yang lahir harus mati. Sejak hari kelahiran, proses kematian sudah mulai berjalan. Setiap hari Anda mati sedikit, sedikit, sedikit – sampai akhirnya proses kematian pun berhenti, dan saat berhentinya proses kematian adalah saat Jiwa sudah meninggalkan badan.

Namun, alam tidak pernah berhenti – Kehidupan tidak pernah berhenti. Proses daur ulang berjalan terus. Kita tidak dapat menentang hukum ini. Boleh saja, hari ini karena keterbatasan wawasan, kita tolak suatu hukum, kita tolak satu kebenaran, namun sampai kapan? Sampai kapan kita dapat menolak seorang Galileo? Toh, akhirnya kita harus mengakui bahwa dunia ini bulat adanya. Sampai kapan kita dapat menolak seorang Krsna?

Sekadar untuk kita ingat: begitu kita sadar bahwa kelahiran dan kematian tidak saling bertentangan dan bahwasanya kehidupan merupakan suatu keutuhan yang terdiri dari kedua sisi yang “hanya terlihat” saling bertentangan, hidup kita akan menjadi jauh lebih nyaman, lebih nikmat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Sadguru mengungkapkan kepuasan atau kenyamanan yang diperoleh dari pancaindra tidak memberikan kebahagiaan abadi

“Sebab itu, wahai Mahābāho (Arjuna Berlengan Perkasa), seseorang yang telah berhasil mengendalikan indranya dan menarik mereka dari objek-objek duniawi yang dapat memikat dan mengikatnya – sudah teguh adanya, sudah tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:68

Ia Sadar bahwa Kepemilikannya adalah sebuah khayalan. Tak seorang pun dapat memiliki sesuatu. Benda-benda dunia, relasi-relasi di dunia ini – semuanya, tanpa kecuali, sedang berubah terus. Sedang dalam proses pemusnahan. Tidak ada yang kekal.

Seorang yang menikmati kekayaan, harta yang berlimpah, dan segala kenyamanan pun, akhirnya mati, dan meninggalkan semua. Ia tidak bisa membawa sesuatu ke alam yang sedang ditujunya. Kepemilikan hanyalah cerita alam ini, alam-benda ini. Segala apa yang kita pikir kita miliki, semuanya akan tertinggal di sini pula. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Sadguru menunjukkan jalan bhakti, pengabdian sebagai jalan untuk mencapai Kebahagiaan Sejati

“(Setelah meninggalkan badan-fana) Mereka yang percaya pada dewa atau malaikat, bergabung dengan mereka; mereka yang percaya pada leluhur, bergabung dengan leluhur; dan mereka yang percaya pada roh-roh lain (bertabiat baik, maupun buruk), bergabung dengan roh-roh tersebut. Namun, mereka yang senantiasa memuja-Ku (sepanjang hidupnya) datang pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:25

Di dunia ini, setiap pekerjaan — semuanya, tanpa kecuali — masih tetap menjadi bagian dari siklus  kelahiran dan kematian. Pun demikian dengan persinggahan kita di alam para dewa atau malaikat, alam leluhur, dan alam-alam roh lainnya.

Satu-satunya pekerjaan yang dapat membebaskan kita dari siklus kelahiran dan kematian – dari samsara – adalah Bhakti, penembahan sepenuh hati tanpa mengharapkan imbalan, berkarya tanpa pamrih dengan semangat bhakti, dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

HIDUP DENGAN PENUH KESADARAN adalah hidup seperti Krsna. Ia tidak punya urusan apa pun dengan siapa yang menang atau kalah di medan perang Kuruksetra. Tidak ada keuntungan pribadi bagi seorang Krsna. Raja Dvaraka atau Dvaravati, yang bagaimana pun akan tetap menjadi bagian  dari perserikatan negara-negara di bawah pengayoman Uni-Bharataa dengan ibukotanya Hastinapura.

Keberadaan Krsna di tengah medan perang itu semata karena urusan dharma. Untuk membela kebajikan, menegakkan kebenaran, dan mematahkan kekuatan-kekutanan yang telah menzalimi rakyat kecil; membuat peraturan-peraturan untuk menindas wong cilik; dan memperkaya diri dan kroni dengan mengabaikan kepentingan rakyat banyak. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia