Karma, Dualitas dan Melayani Tanpa Pamrih #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , , on January 21, 2018 by triwidodo

Dikisahkan adalah seorang cendikiawan yang merasa memahami seluk-beluk karma. Pada suatu hari dia bertemu dengan seorang hanya mempunyai kaki, dan mind-nya berkata, “Orang ini pasti pada kehidupan masa lalunya pernah menghina seorang Suci.” Pada kehidupan masa lalu orang tersebut memang amat angkuh dan menghina orang-orang yang memegang kaki seorang Suci dan berkata, “Kenapa tidak memegang Tuhan di kaki saya, hahaha…. Silakan menikmati Tuhan pada kaki saya…”

Sang Cendikiawan berjalan dan bertemu seorang pengemis tanpa jari mohon bantuan. Sang Cendikiawan melengos dan mind-nya berpikir, “orang ini pasti di kehidupan masa lalu sebagai pencuri dan kini jari-jari tangannya tak ada.” Pada kehidupan masa lalu dia memang mencuri harta seorang pedagang yang bekerja bersusah payah untuk membiayai kelarganya. Sang pedagang mengutuk pencuri yang tidak tahu kesusahan orang lain, semoga di kehidupan selanjutnya lahir tanpa jari-jari tangan.

Pada suatu kali Sang Cendikiawan melihat orang buta sedang memegang tongkat dan berjalan berhati-hati karena jalan disampingnya adalah sebuah parit yang dalam. Sang Cendikiawan tidak mau membantu orang buta tersebut dan mind-nya berkata, “Orang ini pada kehidupan yang lalu pasti memperoleh segala sesuatu tapi tidak mau melihat hal-hal yang penting dalam kehidupan maka sekarang dia menjadi buta!”

Tiba-tiba si buta tertawa, “Hahaha, benar sekali di kehidupan masa lalu saya tidak mau melihat hal yang penting, maka saya lahir buta. Demikian pula Tuan. Tuan akan lahir kembali sebagai orang buta!”

Tiba-tiba Sang Cendiawanan kaget dan matanya tidak dapat melihat lagi. Sang Cendikiawan mohon maaf dan mohon petunjuk apa yang harus dikerjakannya.

Si  Buta berkata, “saya dulu persis seperti Tuan hanya melihat dan menganalisa orang lain tapi tidak membantu sama sekali. Saya tidak melihat bahwa orang yang menderita adalah aku juga. Mereka yang tidak punya kaki, tidak punya jari-jari tangan dan mereka yang buta adalah diriku juga. Tuan masih hidup dalam dualitas, sehingga masih mengalami hukum karma!”

Sang Cendiawan sadar, mohon maaf, berjanji akan membantu orang yang sedang menderita sebagaimana membantu dirinya sendiri……….. dan matanya bisa dibuka kembali……………….

 

Tat Tvam Asi, aku adalah kamu, kamu adalah aku

“Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), apa pun yang kau lakukan; apa pun yang kau makan; apa pun yang kau persembahkan kepada api suci (segala puja persembahanmu); apa pun yang kau hadiahkan (derma yang kau berikan); dan segala tapa-brata – persembahkanlah semuanya  kepada-Ku.” Bhagavad Gita 9:27

Makna pertama adalah jelas: Lakukan segala-galanya dengan semangat persembahan. Jadi bukan sekadar ora-et-labora atau berdoa sambil berkarya – namun segala macam karya dijadikan doa. Pekerjaan itu sendiri menjadi persembahan – work is worship. Ini makna pertama.

Ada pula makna lain yang terselubung – Melakukan segala sesuatu, termasuk beramal saleh, berdana-punia, segala-galanya dengan penuh kesadaran bila kita sedang melakukannya bagi diri sendiri – bukan bagi orang lain.

Kita tidak menghadiahi orang lain, kita sedang menghadiahi diri sendiri. Kita tidak bersedekah atau melayani ‘orang lain’, kita tidak membantu ‘orang lain’ – kita sedang melayani diri sendiri, kita sedang membantu diri sendiri. Lihatlah kemuliaan Jiwa yang sama, percikan Jiwa Agung Hyang Tunggal dalam diri setiap orang, setiap makhluk.

Kegagalan segala Program Sosial – dompet bantuan, dan sebagainya – disebabkan oleh semangat yang salah. Semangatnya adalah membantu fakir-miskin, melayani yatim-piatu. Semangatnya adalah aku memberi, kau menerima. Semangatnya adalah terserah aku, mau memberimu berapa, dan seberapa kukantongi sebagai sendiri sebagai komisi.

Tidak heran bila dalam kegiatan amal-saleh di bawah pengawsan lembaga-lembaga kepercayaan pun – tetap terjadi korupsi dan proses penyunatan sumbangan. Bahkan tidak jarang, sunat berubah menjadi amputasi. Dapat 10, disalurkan 4 saja. Ini sudah bukan komisi lagi, sudah bukan korupsi lagi, sudah bukan sunat lagi – sudah amputasi.

Tega-teganya si penyalur yang diberi kepercayaan oleh masyarakat, oleh lembaga – melakukan hal itu. Dan melakukannyasecara beramai-ramai ; korupsi bersama, dengan melibatkan opsir tinggi, bahkan tertinggi, hingga pegawai kecil! Ketegaan seperti ini bisa terjadi karena semangatnya adalah aku memberi, kau menerima, ‘Sudah bagus kuberi kau. Dan sebagai pemberi, ya aku sendiri yang menentukan, seberapa yang kuberikan. Kau, sebagai penerima – tidak berhak untuk mempersoalkan keputusanku. Kuberi berapa, terima saja. Jangan mengeluh!’

Ya, itu – semangatnya adalah kau lain, aku lain. Semangat ini mesti diubah. Tidak ada orang lain. Yang ada hanyalah wujud lain dari Sang Jiwa yang sama – tunggal.

Tat Tvam Asi – sepertisemboyan Departemen Sosial yang masih merupakan warisan dari Founding Fathers kita, ‘Aku adalah kau, kau adalah aku – aku tidak melayanimu, tidak bisa. Aku sedang melayani diri sendiri lewat wujudmu. Aku sedang membantu diriku sendiri yang berada dalam wujud yang beda.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Lepas dari dualitas

“Demikian, dengan pikiranmu kukuh dalam kesadaran samnyasa, lepas dari segala dualitas dan keterikatan; niscayalah kau terbebaskan dari belenggu karma baik dan buruk, dan mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 9:28

Samnyas Yoga – melepaskan diri dari segala macam keterikatan adalah Samnyas. Dan, pelepasan itulah yang mengantar kita ke alam kemanunggalan, bebas, dari segala dualitas. Itulah Yoga.

Apa yang menyebabkan keterikatan? Dualitas, halusinasi-perbedaan. Ini anakku, itu anakmu. Ini hartaku, itu milikmu. Bahkan, tidak jarang para anggota ISTI – Ikatan Suami Takut Istri – setakut apa pun, masih tetap bisa membuat perjanjian ‘pisah harta’. Sehingga, suatu saat kalau cerai, nggak repot. Untung ada ‘lembaga’ pisah-harta! Ha ha ha…. Intinya, semua itu adalah hasil dari dualitas. Kepercayaanku, kepercayaanmu; Tuhanku, Tuhanmu. Daftar dualitas tidak pernah bisa diperpendek, selalu bertambah panjang.

Lampauilah dualitas! Melampaui dualitas tidak berarti kita meninggalkan suami atau istri. Tidak. Kita tetap melayani pasangan kita, tapi dengan semangat yang beda. Kita sedang melayani diri kita sendiri dalam wujud yang beda. Jika susah, maka layanilah dia dengan mempersembahkan yang terbaik kepada Gusti Pangeran.

Mulailah dari saat ini – ya mari kita mulai dari saat ini. Karya ini bukanlah karyaku, tapi karya kita. Tulisan ini, coretan-coretan ini, pemikiran ini adalah persembahan kita bersama kepada Gusti Pangeran.

Dalam wujud ini – yang sedang menulis dengan menggunakan bolpen dan saat ini berada di balik jeruji – aku sedang menulis. Dalam wujudmu, aku sendiri sedang membaca tulisanku. Antara menulis dan membaca – adalah proses panjang mentranskrip, mengedit, melakukan setting, menentukan layout, merancang sampul, mencetak, membungkus, menyalurkan, menjuala – dan masih entah berapa langkah lagi – semuanya adalah langkah yang kuambil, kita ambil. Semuanya adalah persembahaan kita kepada Hyang Maha Tunggal.

Akulah penulis, aku pula pembaca, akulah seluruh proses editing, penyaluran, penjualan – akulah semuanya. Akulah yang mempersembahkan karya ini kepada Gusti Pangeran yang adalah hakikat diriku. Akulah kau.

Aku-Ego dan Aku-Kesadaran beda – ‘aku-ego’ bunyinya nyaring. Aku-Kesadaraan Besar, Maha Besar, senantiasa bergetar dan Getaran-Nya menghidupi seantero alam dengan segala isinya, tetapi tidak berbunyi nyaring seperti kaleng kosong. Aku-Kesadaran berkarya tanpa gembar-gembor, seperti terbitnya matahari setiap pagi dan terbenamnya setiap sore. Raihlah Kesadaran Jiwa itu – demikian kita akan terbebaskan dari ikatan karma.

Ya, bebas dari ‘ikatan’ karma. Karma baik maupun buruk – dua-duanya menciptakan belenggu. Dua-duanya mengikat. Karma buruk mengikat kita, taruhlah dengan belenggu yang terbuat dari besi. Jelek. Kelihatan jelas.

Karma baik mengikat kita, merantai kita dengan belenggu yang terbuat dari emas. Indah dan kita menganggapnya sebagaai perhiasan, bukan belenggu lagi. Sehingga kita, enggan untuk melepaskannya.

Ya belenggu karma baik lebih susah dilepaskan. Kita sedang menikmati segala kenyamanan dan kenikmatan surga – bagaimana meninggalkan surga? Belenggu karma baik membuat kita lebih parah. Ada keengganan untuk melepaskannya. Atau malah seperti yang dianalogikan di atas, tidak tahu bila kita terbelenggu. Belenggu emas tidak seperti belenggu – seperti perhiasan.

Seorang Samnyas tidak berurusan dengan belenggu macam apa pun, jenis apa pun, sekalipun bertatahkan permata dan intan berharga. Harga adalah ilusi yang diciptakan oleh dualitas juga. Arang, batu bara, kristal, pernata, intan, berlian, wujud Anda dan wujud saya – semuanya adalah carbon-based. Kalau dihargai – semestinya sama harganya. Semestinya dihargai dengan satuan kiloan. Tapi tidak, kita menghargai tubuh dengan satuan lain, batu bara dengan satuan lain, dan berlian dengan satuan yang beda lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Mengubah Kebiasaan Lama #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 21, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang anak yang memiliki seekor anjing sedang berjalan-jalan dengan anjingnya bersama salah seorang temannya. Si pemilik anjing ingin memberi anjingnya yogurt tetapi tidak punya uang, demikian pula temannya, tidak membawa uang juga.

Mereka memperhatikan orang-orang yang pada membeli yogurt atau susu pada warung di dekat mereka. Mereka berdua berpikir keras bagaimana caranya agar anjingnya dapat makan yogurt.

Aha, teman si pemilik anjing melihat seorang berbadan tegap dan berjalan dengan langkap mantap ke arah warung tersebut. Anak tersebut berkata bahwa orang tersebut pasti seorang tentara. Temannya bertanya, bagaimana dia bisa tahu? Dia berkata bahwa langkah orang tersebut sangat mantap, tuk-wak, tuk-wak (satu-dua, satu-dua), kiri-kanan, kiri kanan……

Mereka melihat orang tersebut membeli segelas plastik yogurt dan berjalan di dekat mereka. Anak-anak itu bersama anjingnya mengikuti orang tersebut, dan salah satu dari  mereka berkata, “Tuk-wak, tuk-wak, kiri-kanan, kiri kanan….” Mereka melangkah bersama layaknya seperti baris-berbaris dalam sebuah barisan pasukan. Orang tegap tersebut tersenyum dan mengikuti aba-aba anak-anak. “Tuk-wak, tuk-wak, kiri-kanan, kiri kanan….” Semakin lama semakin cepat anak itu memberi aba-aba dan tiba-tiba dia berteriak, “Berhenti….. gerak!” Si orang tegap tersebut tiba-tiba berhenti dan lupa membawa yogurt dan yogurtnya jatuh. Segera saja anjing si anak makan yogurt yang jatuh tersebut.

Si anak bertanya kepada orang tersebut, mengapa dia menjatuhkan yogurt di tangannya. Orang tersebut menjawab, saat diberi aba-aba dia seperti lupa diri, dia mengikuti kebiasaan baris-berbaris dan saat berhenti, sebagaimana kebiasaan yang dikerjakannya, kedua tangannya diletakkan di samping badan dan yogurt yang dipegang jatuh.

Orang tersebut segera kembali ke warung membeli segelas plastik yogurt lagi.

Berhati-hatilah dengan kebiasaan lama, bisa saja menjadi kejatuhan kesadaaran kita.

Bukan hanya kebiasaan, tapi kebiasaan yang sudah dhapus pun masih berbahaya

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

CONTOH LAIN. Hola sudah lama lepas, sudah bersih dari rokok, shabu, ganja, dan sebagainya. Tetapi, ketika ia mencium aroma tembakau atau daun ganja yang terbakar, “Wah aromanya sedap sekali!”

Berarti, ia masih memiliki retrievable file tentang memori sedapnya aroma tembakau dan ganja.

Sebaliknya, Bola yang memang tidak pemah dan tidak suka merokok, saat mencium aroma yang sama, memberikan komentar berbeda, “Bau apa ini, apa yang terbakar?!”

Hola dan Bola mencium aroma yang sama. Namun, komentar mereka sesuai clengan purva samskara mereka masing-masing. Hola punya pengalaman sebagai “pemakai” pada masa lalu, maka aroma itu diterjemahkannya sebagai “sedap”. Bola tidak punya pengalaman rnasa lalu, maka ia menerjemahkannya sebagai “bau bakar”—bahkan, “bakar apa” pun tidak bisa ditentukannya.

Dalam hal ini, Hola dengan bekas residu atau sisa impresi masa lalu “berpotensi” untuk tergoda dan mulai merokok lagi, “memakai” lagi. Sebaliknya, Bola yang tidak memiliki seperti itu, relatif lebih aman.

 

CELAKANYA, DALAM HAL KEBENDAAN, tidak seorang pun di antara kita yang bisa menyebut dirinya Bola, yang bisa menganggap berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola. Kita semua belum aman. Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanlta, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada ‘pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah behas seperti Bola, dan berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola, masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri.

Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya.

 

RETRIEVABLE FILES PURVA SAMSKARA hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan.

Jadi, selain mengeliminasi files dari masa lalu, kita pun mesti pintar-pintar menjalani, melewati masa kini tanpa meninggalkan residu. Kita mesti hidup tanpa menyisakan sampah-kesan. Kalau tidak, maka sepanjang usia kita akan tersibukkan oleh upaya penghapusan files masa lalu, sembari menambah files masa kini yang kelak akan menantang dan mengganggu kita lagi.

Untuk itulah adanya teknik-teknik dalam Yoga, yang akan kita dalami sepanjang perjalanan kita lewat sutra-sutra ini. Pun, di bagian akhir buku ini, ada beberapa saran yang sudah teruji dan terbukti manfaatnya, dan dapat membantu Anda. Yoga Sutra Patanjali I.18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengubah Kebiasaan Lama

“Di antara Daitya, Danava, atau raksasa, Akulah Prahlada, panembah yang teguh dalam keyakinannya; di antara segala perhitungan, Akulah Sang Kala, waktu; di antara hewan, Akulah Raja Rimba atau Singa; dan, di antara burung, Akulah Burung Garuda.” Bhagavad Gita 10:30

Raksasa, Danava atau Daitya bukanlah kaum yang “terkutuk” dan mesti dimusuhi hingga akhir zaman. Tidak ada permusuhan mutlak atau abadi seperti itu. Di sinilah letak kemuliaan Gita dan Krsna.

DI ANTARA PARA DAITYA, DANAVA ATAU RAKSASA PUN, jika ada seorang Prahlada yang memutuskan untuk “berubah” — maka pintu kesempatan terbuka lebar baginya. Berubah, dalam hal ini berarti the conversion of heart — konversi hati. Bukan berubah kepercayaan atau keyakinan. Bukan pula perubahan ideologi. Tapi, perubahan-hati. Perubahan karakter.

Sejak usia dini, berkat pendidikan yang diperolehnya, Prahlada sudah merasa “tidak pas”, tidak cocok dengan karakteristik raksasa ayahnya.

la melakukan pemberontakan terhadap kebiasaan-kebiasaan, adat-istiadat, tradisi, dan segala sesuatu yang bersifat raksasa – alias, bersifat materialistis.

JIKA KITA INGIN BERUBAH, mau-tidak-mau, kita pun mesti bersikap seperti Prahlada. Tidak bisa adem ayem, berubah piece-by-piece, sedikit-sedikit. Tidak bisa. Perubahan sikap mesti terjadi secara drastis. Ini yang dilakukan oleh Prahlada. Pertama, ia mengubah dietnya. Para raksasa makan daging, ia makan sayur-mayur. Para raksasa mengejar kemewahan, ia hidup bersahaja. Para raksasa membanggakan diri sebagai makhluk kuat dan terpilih, ia bersikap rendah-hati. Prahlada bertolak belakang dari segala kebiasaan ayahnya.

PERUBAHAN SEPERTI INILAH YANG MESTI TERJADI. Sifat tegas dan ketegasan seperti inilah yang patut kita contohi. Tanpa ketegasan Prahlada — kita tidak bisa berubah. Kita akan tetap menjadi raksasa, hanya berjubah manusia saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bhakti Buaya dan Cendikiawan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 20, 2018 by triwidodo

Berdoa lima waktu setiap hari, dan setiap doa ada sebutannya; Biarlah melakoni kebenaran menjadi doa pertama; Hidup dengan mencari nafkah secara halal yang kedua; Melayani sesama sebagai pelayanan kepada Gusti, yang ketiga; Memiliki niat baik terhadap sesama, yang keempat; dan, senantiasa memuliakan Gusti Pangeran, yang kelima; Biarlah laku yang baik menjadi doamu, Setelah itu, barulah kau betul-betul beragama. (Guru Nanak Shri Guru Sahib, Hal. 140) dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dikisahkan ada seekor buaya yang selalu ingat pada Gusti. Dia bangun sebelum matahari terbit dan kemudian menjalankan sadhana, latihan spiritual mengingat Gusti. Mengucapkan om, melatih napas, membaca mantra dan sebagainya.

Sang Buaya paham bahwa sebelum matahari terbit, adalah waktu yang kondusif bagi peningkatan kesadaran. Matahari sebentar lagi akan muncul, seperti energi pucuk dedaunan yang baru saja muncul yang bermanfaat bagi diri kita. Pada saat itu lingkungan seperti vata, gas yang ringan yang setelah matahari terbit berubah menjadi kappha, tanah dan air yang berat dan lamban, membuat kita malas bangun.

Seorang cendikiawan memperhatikan tingkah buaya tersebut dan berkata bahwa upaya sang buaya akan sia-sia. Buaya tidak dapat mengalami Gusti sebelum lahir kembali sebagai manusia. Bagi sang cendikiawan, manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya, butuh banayk kehidupan untuk menjadi seorang manusia.

Sang Buaya menjawab bahwa Sang Cendikiawan bahkan tidak tahu hal yang mendasar, Gusti yang menciptakan manusia juga adalah Gusti yang menciptakan buaya. Jika suatu makhluk ingat Gusti setiap hari, maka dia memiliki kesempatan mengalami Gusti. Tidak demikian dengan manusia yang tidak melakukan sadhana, laku spiritual mengingat Gusti, seperti Sang Cendikiawan yang akan menjadi buaya.

Sang Cendikiawan kaget dia sudah berubah menjadi buaya. Dia bertanya mengapa Sang Buaya tahu dia akan berubah sebagai buaya?

Sang Buaya menjawab, bahwa dia memang buaya tapi hidup dengan cara welas asih, yakin pada Gusti, menjadikan kebaikan sebagai kiblatnya. Setiap hari melakukan sadhana rutin dan melepaskan keterikatan pada urusan dunia, sedangkan Sang Cendikiawan, terlihat layaknya manusia tapi berperilaku menghina orang yang beda keyakinan, merasa benar sendiri, memandang diri sebagai makhluk tertinggi dan menyepelekan makhluk lain. Tingkah lagi Sang Cendikiawan layaknya seperti buaya.

Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern

Biarlah welas asih menjadi tempat ibadahmu, Keyakinan pada Gusti Pangeran menjadi alasmu, Pencarian nafkah secara halal menjadi kitabmu, Kesahajaan ritusmu, dan kebajikan puasamu, Dengan cara itulah kau menjadi insan beragama. Semoga kau selalu berkiblat pada kebaikan, Dan menjadikan Kebenaran sebagai penuntunmu, Perbuatan baik menjadi doamu, dan Melakoni kehendak-Nya menjadi tasbihmu; Demikian, O Nanak, kau tak akan pernah dipermalukan. (Guru Nanak Shri Guru Granth Sahib, Hal. 140) dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kesadaran senantiasa terpusatkan pada Gusti

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kondisi saat meninggalkan raga

“Saat tibanya waktu meninggalkan raga, jika seorang yogi berpikiran tenang, terkendali, dan berjiwa penuh devosi – memusatkan prana atau aliran kehidupannya di tengah kedua alis-mata; maka, niscaya ia mencapai Sang Purusa – Gugusan Jiwa yang Suci.” Bhagavad Gita 8:10

…………..

Lagi-lagi, jangan menyalahtafsirkan ayat ini. Kita tidak bisa melakukan apa yang disarankan ini – walau sesungguhnya sangat mudah – jika tidak melakoni Yoga sepanjang usia. Saat ajal tiba, baru mau melakukan pranayama – pengaturan napas – ya, tidak bisa. Saat itu kesadaraan kita akan melayaang kemana-maana.

Sesaat sebelum Jiwa berpisah dari Badan – Sesaat sebelum perpisahan itu betul-betul terjadi, mulailah pertunjukan kolosal – film tentang hidup kita. Saat itu terjadi penyesalan, muncul keterikatan, dan sebagainya. Dan, apa yang terjadi saat itu menjadi benih bagi kehidupan berikut.

Nah, jika saat itu kita memusatkan seluruh pikiran, kesadaran, dan napas di tengah kedua alis mata sambil mengenang Gusti Pangeran, maka kitatidak akan terganggu oleh gambar-gambar yang disaksikan. Kita hanya menjadi saksi saja, penonton saja. Kemudian, karena tidak terpengaruh, maka pertunjukan akan berhenti dengan sendirinya; dan, kita manunggal dengan Purusa – Gugusan Jiwa, cahaya Murni Sang Jiwa Agung. Kita seolah keluar dari satu teater dan measuki teater lain.

……………….

Bagaimana caranya? Gampang, mudah. Kuncinya, sekarang ketika masih berbadan, Jiwa mulai menyadari bila ia bukan badan.ia hanyalah sedang menyaksikan kejadian-kejadian yang terjadi karena interaksi badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan dengan dunia benda.

Lagi-lagi menjadi penonton, berarti, ya, menjadi penonton. Sepanjang hidup, pertunjukan di atas panggung kehidupan berjalan terus. Taruhlah kita meninggalkan keramaian dan menjadi petapa di tengah keheningan hutan atau desa terpencil, itu pun pertunjukan! Hanya saja pemerannya barangkali berkurang.

Asal, tidak terkecoh oleh pikiran! Walau pemeran berkurang, pikiran bisa menciptakan karakter-karakter dalam bentuk wayang khayalan. Jika itu terjadi, maka keramaian atau keheningan sama saja. Di mana-mana tetap ramai. Hutan pun kembali menjadi kota!

So, intinya, latihan paling mudah ini hanya bisa dilakukan dan menjadi efektif, jika sekarang dan mulai saat ini juga kita bergaya hidup Yoga. Lakoni Yoga seutuhnya, setiap bagiannya, bukan sekadar gerak badan atau asananya saja. Ikutilah Yoga-Sadhana dari awal hingga akhir. Jadilah seorang Karma Yogi – berkarya tanpa mengharapkan hasil bagi diri, namun dengan tujuan mulia yang jelas. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Drupadi, Yudishthira dan Himalaya #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 18, 2018 by triwidodo

Saat itu, mereka berada di dalam hutan. Dalam pengasingan. Bila memperhatikan fakta, alasan penderitaan mereka menjadi sangat jelas. Mereka didzalimi oleh sepupu sendiri, para Kurawa.

Drupadi bisa melihat Kebenaran di balik fakta. Kurawa sekadar butir catur. Yang menentukan langkah mereka, ya Sang Pemain Catur Tunggal. Siapa lagi kalau bukan Tuhan? Itu sebab dia bingung melihat Yudishthira masih rajin sembahyang. Apalagi doanya yang selalu mensyukuri pemberian Tuhan.

Pada suatu hari, Drupadi mengeluh: “Aku sungguh tidak memahamimu. Untuk apa sembahyang? Apa pula yang harus kau syukuri? Penderitaan? Itu yang kau syukuri?”

Yudishthira balik bertanya, “Duduk di balik jendela selama berjam-jam tadi pagi, apa yang kau lakukan?”

”Ah. . .. Tadi pagi kebetulan langit cukup bersih. Dan, aku dapat melihat pegunungan Himalaya?”, jawab Drupadi.

“Lalu, apa yang kau peroleh dari Himalaya?”

“Aku tidak memperoleh sesuatu apa pun…. Kecuali kebahagiaan. Ketenangan, ketenteraman, kedamaian.”

“Itu pula yang kuperoleh dari Tuhan….. Senantiasa, setiap saat. Dan pemberian-Nya itu yang kusyukuri.”

Ini baru Bhakti. Ini baru Cinta Sejati. Kasih Ilahi. Melihat para Pandawa di dalam hutan, kita pikir mereka menderita. Itu kesimpulan kita. Belum tentu mereka menderita. Melihat ikan-ikan di dalam kolam, kita pikir mereka “tenggelam”. Apa iya? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Drupadi sudah bisa merasakan kedamaian saat melihat Himalaya. Tetapi Yudishthira bisa merasakan kedamaian yang diperoleh setiap saat dari Tuhan. Kita mungkin sering mengalami seperti Drupadi, pada saaat tertentu, melihat sesuatu dan kita merasa damai. Kita tetap seperti Drupadi yang masih terpengaruh kejadian “luar”. Tetapi sudahkah kita seperti Yudishthira? Merasa damai di setiap saat dan di mana pun juga, tidak terpengaruh keadaan di luar diri? Yudishthira begitu yakin, bahwa tidak ada sesuatu kejadian apa pun yang berada di luar pengawasan Tuhan. Baik yang kita anggap kebaikan atau kejahatan di belakang semuanya adalah tangan Tuhan juga……..

 

Ketenangan sejati

“Sebagaimana laut tidak terpengaruh oleh air sungai dan hujan yang memasukinya – ia tetap tenang; pun demikian dengan seorang bijak, ia tidak terganggu oleh keinginan-keinginan yang muncul di dalam dirinya. Maka, ia mencapai kedamaian, ketenangan sejati. Namun, tidaklah demikian dengan seorang yang terpengaruh oleh keinginan-keinginannya.” Bhagavad Gita 2:70

 

Kṛṣṇa sangat realistis. Hawa-nafsu tidak pernah mati. Keinginan-keinginan di dalam diri manusia tidak bisa menguap begitu saja. Berbagai Keinginan tetaplah muncul selama kita masih berada di dunia benda ini. Selama, indra-indra kita masih berinteraksi dengan kebendaan di luar diri.

Bedanya kita yang belum sadar dengan mereka yang telah meraih kesadaran diri adalah kita terganggu oleh berbagai keinginan tersebut. Kita terpengaruh – mereka tidak. Para bijak menyaksikan pasang-surutnya hawa-nafsu, muncul-lenyapnya keinginan, dengan tenang. Ketenteraman hatinya tidak terganggu.

Jadilah Oceanic! Seperti Laut. Tidak terganggu, tidak menolak, pun tidak merasa bertambah karena sungai-sungai yang memasukinya. Laut tidak menjadi sombong karena adanya sungai-sungai yang memasukinya. Ia tidak pula bergejolak karenanya. Dahsyatnya ombak di tepi pantai pun tidak mengganggu ketenangan di tengah laut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kedamaian sejati

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, mengharap-harapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan permainan ego, ke-‘aku’-an yang ilusif – meraih kedamaian sejati.” Bhagavad Gita 2:71

Tidak lagi mengharap-harapkan, tidak lagi mengejar-ngejar, tidak lagi memburu sesuatu – berarti tidak ada lagi obsesi dalam dirinya. Ia sudah melewati semuanya. Ia sudah mencoba semuanya. Ia sudah merasakan semuanya dan menyadari bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari dunia tidak abadi, tidak langgeng. Kesadaran itu sendiri sudah cukup untuk membuatnya menjadi tenang.

Ia Berpaling kepada Dirinya Sendiri – Ia memperoleh sumber kedamaian dan Kebahagiaan Sejati dalam dirinya sendiri. Begitu ia menemukan dirinya, ia juga menemukan “Sang Aku” yang Universal. Ia mulai menyadari bahwa semuanya, segala sesuatu, hanya merupakan bayangan-bayangan “Sang Aku” yang Sejati itu. Kemudian, pada saat itu juga, ego yang selalu bersandar pada objek-objek duniawi runtuh, gugur. Ia sudah tidak dapat mempertahankan dirinya; dan rasa kepemilikannya yang ilusif terhadap seseorang atau sesuatu. Segala sesuatu adalah milik-Nya. Ia pun milik-Nya. Apa yang harus dimiliki lagi, siapa yang dapat memiliki lagi? Kesadaran-diri seperti inilah yang mendamaikan Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Belajar dari Sapi dan Babi #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 11, 2018 by triwidodo

Seorang Guru bercerita: Adalah seorang kaya yang kikir dan hidup sendirian tanpa keluarga. Penduduk setempat tidak menyukainya. Si Kaya tersebut berjanji kepada penduduk, bahwa dia hidup sendiri, nanti setelah dia mati, silakan hartanya dibagai-bagi oleh penduduk.

Si Kaya berkata, “Mengapa kalian tidak menyenangi saya? Tidakkah kalian bisa bersabar menunggu aku mati dan seluru hartaku dapat kelian manfaatkan?”

Penduduk desa nampaknya tidak mempercayai ucapannya, mungkin mereka tahu setelah Si Kaya mati ada saja familinya yang mengambil hartanya.

Si Kaya melanjutkan perkataannya, “Apa menurut kalian saya hidup abadi? Saya seperti orang lain akan mati. Tidak bisakah kalian menunggu sampai beberapatahun?”

Pada suatu hari Si Kaya berjalan-jalan dan tiba-tiba hujan turun sangat deras. Dia berlindung di bawah pohondan melihat seekor babi dan seekor sapi sedang bercengkerama di sebuah peternakan.

Tiba-tiba Si Kaya seperti menerima intuisi, seakan-akan babi tersebut berkata, “Ketika saya mati, saya menyediakan, daging, bacon, ham dan sosis. Tapi mengapa penduduk menghormatimu dan tidak menghormati saya?”

Si Kaya seaka-akan mendengar jawaban sapi, “Dengar temanku, saya setiap hari memberikan susu pada mereka selagi saya hidup dan tidak usah menunggu sampai saya mati. Penduduk tidak percaya masa depan, masa depan banyak ketidakpastian, mereka mempercayai saya yang memberi susu setiap hari dan tidak percaya pada kau yang akan mmemberikan segalanya setelah kau mati.”

Tiba-tiba Si Kaya tercerahkan, dia sadar dirinya persis seperti babi yang menjanjikan segalanya setelah mati, mengapa tidak meledani sapi yang memberi setiap hari selagi masih hidup?

Mulai saat itu Si Kaya mulai befbagi setiap hari kepada penduduk. Mereka yang datang kepadanya tidak akan pulang dengan tangan hampa………

 

Mereka yang datang kepadamu sudah pasti ada hubungan

Siapapun yang datang kepadamu, manusia ataupun hewan, sudah pasti karena adanya hubungan. Maka, janganlah sekali-kali menolak mereka. Terimalah mereka dengan penuh rasa hormat.

Kau akan membahagiakan Ia, Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk, dengan memberi minum kepada mereka yang haus, memberi makan kepada mereka yang lapar; memberi pakaian kepada mereka yang membutuhkan; dan mempersilahkan orang asing beristirahat sejenak di Pekarangan rumahmu.

Janganlah bersikap kasar terhadap mereka yang mengharapkan bantuan darimu. Bila memang tidak bisa, atau tidak mau, mintalah maaf. Jangan menghardik mereka.

Biarlah orang lain mengejekmu, jangan membalas dia dengan ejekan. Jika kau bersabar, maka kau akan selalu bahagia. Biarlah seluruh dunia bersikap tidak waras, kau tetaplah tenang. Janganlah terganggu, anggap semuanya sebagai adegan dalam pertunjukan.

Runtuhkan dinding yang memisahkan dirimu dari-Ku, maka kita akan bertemu seketika. Anggapan bahwa dirimu beda dari-Ku, itulah yang memisahkan seorang murid dari Sang Guru. Singkirkan jauh-jauh anggapan keliru seperti itu. Anggaplah itulah yang menjadi penghalang sehingga kau tidak bertemu dengan-Nya.

Allah Malik hai, Tuhan adalah Hyang Maha Memiliki. Dia pula Hyang Maha Melindungi. Cara Dia bekerja memang sulit dipahami. Tapi, apa pun yang dilakukannya, adalah demi kebaikan kita. Maka, biarlah kehendak-Nya yang terjadi! Dialah yang selalu menuntunmu, dan Dia pula yang dapat memenuhi setiap keinginanmu.

Karena hubungan kita pada masa lalu, maka kita bertemu lagi pada masa kini. Marilah kita saling menyayangi dan saling membahagiakan. Dia yang mengenal jati diri telah mencapai tujuan hidupnya. Dialah yang hidup abadi. Yang lain sekedar bernapas saja, mereka belum hidup betul. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Anjing pun sesungguhnya adalah Jiwa

Memberi makan kepada seekor anjing, atau kepada-Ku, sama saja. Anjing itu pun sesungguhnya adalah jiwa. Badan dia lain, badan kita lain. Tetapi, setiap badan merasakan lapar. Saat lapar, ada makhluk yang bisa bersuara, dan minta makan. Ada juga yang tidak bisa bersuara, tidak bisa minta. Siapapun yang memberi makan kepada manusia, hewan, atau siapa saja yang lapar, sesungguhnya telah memberi makan kepada-Ku. Inilah Kebenaran Hakiki.

 

Berada di mana pun jua, Baginda tetaplah memperhatikan dia, Ibu siang tadi makananmu membuatKu kenyang sekali. Jiwa dan raga-Ku puas dengan pelayananmu. Bertindaklah selalu seperti itu. Berada di masjid yang suci ini, Aku tak akan pernah berbohong. Bila kau selalu bertindak seperti itu, maka selamatlah jiwamu. Kasihanilah Aku selalu seperti itu… Utamakanlah mereka yang lapar, berilah mereka makan… baru makan sendiri. Camkanlah kata-kataKu.

Saking polos dan tulusnya Nyonya Ramachandra, ia tidak memahami maksud Baginda. Baba, kapan aku memberikan makanan kepada-Mu? Tadi pun aku tidak sempat masak, dan mesti beli makanan. Baba tersenyum, Ya, makanan itu yang kumaksud. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Jiwa dalam diri manusia dan hewan menurut Bhagavad Gita

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Berarti, melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Bukan saja di balik wujud-wujud yang indah, tapi di balik wujud-wujud yang tidak indah.

BAHKAN, DALAM “DIRI” HEWAN…… Ya, hewan pun memiliki “diri”. Mereka pun berkepribadian. Setiap hewan adalah unik. Bukan saja unik-jenis, tapi unik-rupa antar hewan yang sejenis. Persis seperti manusia, tidak ada dua ekor kucing atau dua ekor anjing yang serupa.

Sifat mereka pun bisa beda. Ada anjing yang tenang, sementara kembarannya galak. Rasa empati kita mesti meluas dari detik ke detik. Meluas terus, hingga mencakup seluruh alam yang “terjadi” atas kehendak-Nya.

LIHATLAH GUSTI PANGERAN DALAM DIRI MEREKA YANG TELANTAR… Dalam diri orang-orang yang “dibuang”, ditinggalkan, dilupakan. Sesekali waktu, kunjungilah penjara-penjara, Anda akan menemukan mayoritas tahanan adalah orang-orang yang terlupakan, bahkan oleh keluarga terdekat. Layani mereka.

Layani mereka yang dianggap sampah oleh masyarakat — mereka yang disebut pecandu, pekerja seks. Layani mereka, karena hanyalah pelayanan tulus Anda yang dapat memunculkan harapan baru di dalam diri mereka, harapan untuk berubah, harapan untuk mencari jati diri, harapan untuk berkesadaran Jiwa.

Pelayanan ceramah-ceramah para ahli kitab yang hanya berteriak-teriak “dosa”, “ampun”, dan sebagainya – tidak membantu. Mereka malah tenggelam lebih dalam lagi dalam anggapan-anggapan keliru tentang identitas diri mereka. Pelayanan memberikan nasi kotak pun semestinya hanya menjadi pelengkap, bukan pelayanan utama. Pelayanan utama adalah berbagi kesadaran.

Pelayanan utama adalah membantu mereka menemukan Pelita Pencerahan di dalam diri mereka masing-masing. Membantu mereka menyalakan dan menjaga nyala pelita itu, supaya tidak padam lagi. Pelayanan utama adalah ketikakita melihat mereka semua sebagai wujud ilahi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Ego dalam Diri Si Pemberi dan Si Penerima #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 9, 2018 by triwidodo

Seorang Guru bercerita: Seorang murid belia bertanya kepada Gurunya, “Guru menyampaikan bahwa Sifat Kasih terungkap ketika kita suka memberi, memberi dan memberi. Kami paham Guru bahwa memberi itu sudah melampaui logika untung-rugi. Tapi bukankah kadang-kadang saat memberi pun masih ada rasa ego? Mohon petunjuk Guru!”

Sang Guru tersenyum dan memberikan sebuah cerita: Ada seorang pria yang mengemis di sudut jalan yang ramai orang berlalu lalang.

Seorang wanita merasa iba dan memberinya sekeping uang emas, sang pengemis berterima kasih dan mendoakan sang wanita. Kemudian seorang pedagang sedang berjalan bersama beberapa koleganya dan memberikan 5 keping uang emas kepada sang pengemis, sang pengemis sangat berterima kasih dan membungkuk sangat dalam, mendoakan sang pedagang agar banyak rejeki. Kemudian seorang anak kecil membawa beberapa kuntum bunga yang mungkin akan diberikan kepada adiknya, berhenti melihat sang pengemis dan kemudian dengan penuh ketulusan memberikan sekuntum bunga. Sang pengemis terkesima dan berterima kasih dan mendokan sang anak dengan tulus.

Sang Guru bertanya kepada muridnya, “Menurutmu apakah ada ego dari pemberi kepada pengemis itu?”

Sang Murid Belia menjawab, “Ibu itu kemungkinan merasa kasihan kepada pengemis, rasa kasihan tidak sama dengan kasih. Dalam kasihan, masih ada rasa ego si pemberi, aku memberi karena kebaikanku dan kamu saya beri; Sang Pedagang ingin dianggap dermawan oleh para koleganya, dia memberi banyak karena rasa ego, agar koleganya menganggapnya dia dermawan; Sang Anak tidak mempunyai kepentingan apa-apa, dia tulus, polos tanpa ego.”

Sang Guru kembali kepada murid belianya, “Bagaimana dengan pengemis itu?”

Sang Murid Belia menjawab, “Nampaknya sang pengemis menghormati orang berdasarkan seberapa besar orang memberinya. Dia tidak peduli sang pedagang yang memberinya dengan angkuh, yang penting dia pemberi yang paling besar, sehingga bungkuknya lebih dalam, bahkan hampir sujud. Mungkin walau dia  dilecehkan, pengemis itu tidak peduli asal dia memperoleh uang. Kami melihat ada ego dalam diri pemberi maupun penerimanya. Lain dengan anak kecil yang dengan polos memberikan bunga, dan si pengemis pun terpana, ada juga orang yang menghormatinya.”

Sang Guru berkata, “Sekarang saat kau memberi pada seeseorang, renungkan dulu ada rasa ego tidak? Adalah sulit sekali memberi tanpa rasa ego. Usahakan agar egomu meluas……..”

Ego yang Meluas

Perjalanan spiritual, menurut Swami, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari “kita” menuju “Dia” Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati.

Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas.

Asato – maa Sadgamaya, Tamaso – ma Jyotirgamaya, Mrityor – maa Amritamgamaya. Perjalanan ini adalah dari asat, ketidakbenaran, saya memilih untuk menafsirkannya sebagai “kebenaran rendah”, menuju Kebenaran Sejati, sat;

dari tamas atau kegelapan menuju terang Jyoti. Dan dari kematian atau mrityu menuju kehidupan Abadi, Amrita.

Makna yang terkandung dalam doa yang sangat penting ini adalah: Ya Tuhan, bimbinglah kami dari kegelapan khayalan, kebencian, dan ketidaksadaran yang mengerikan ini menuju Kehidupan Abadi, Kebenaran, Kasih, dan Kebijaksanaan. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Beda Kasih dan Kasihan

Ada perbedaan yang jelas sekali antara Kasih dan Kasihan. Kasih adalah sesuatu yang timbul tanpa alasan. Tidak ada logika, tidak ada matematika, tidak ada kalkulasi. Kasih juga bukan filsafat. Kasih berada di atas segalanya.

Apa yang akan dikatakan oleh Arjuna, bukan karena kasih, tetapi karena kasihan. Dalam Rasa Kasihan, ego kita, keangkuhan kita masih tetap ada. Kita memberikan sedekah kepada fakir miskin. Ini bukan Kasih – kita hanya tergerak karena rasa kasihan.

Sewaktu memberikan sedekah pun keangkuhan kita tetap ada: Aku yang memberikan sedekah, membantu pembangunan tempat ibadah, yang melayani mereka yang susah. Di mana-mana Anda akan menemukan ‘aku’ atau keangkuhan, Kasih tidak akan pernah ada.

Kasih belum bisa muncul. Kasih adalah pelepasan keangkuhan. Begitu ‘aku’ terlepaskan, Kasih pun muncul. Arjuna terdorong oleh Rasa Kasihan, bukan Rasa Kasih.

Orang yang gila kekuasaan akan selalu berlomba. Ia ingin menjadi nomer satu dan demi tercapainya keinginan itu, ia akan selalu melibatkan dirinya dalam perlombaan. Ia lebih mirip kuda-kuda yang digunakan di pacuan kuda. Perlombaan, persaingan itu sifat-sifat hewani. Manusia tidak usah terlibat dalam perlombaan. Setiap manusia unik. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Pertapa Muda dan Pohon Asvattha

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 8, 2018 by triwidodo

Seorang Guru bercerita: Ada seorang pertapa muda yang bertugas melayani seorang Master dan pada suatu hari berkata, “Master yang saya lakukan di sini adalah bekerja di padepokan, dan mendengarkan petuah Bapak di depan para murid. Saya merasa bekal saya sudah cukup dan saya akan keluar meninggalkan padepokan ini.”

Sang Master berkata, “Kau harus berkarya untuk Tuhan, kalau tidak akan jatuh tingkat kesadaranmu.”

Pertapa muda tersebut mengatakan tidak perlu mengkhawatirkan dia, dan kemudian pergi hanya dengan dua potong pakaian, 1 dipakai dan 1 dilipat, serta mangkuk pengemis. Pertapa muda itu sangat bangga karena telah meninggalkan duniawi, meninggalkan padepokan dan merasa hidup bebas tanpa keterikatan. Setelah berjalan cukup jauh ia selanjutnya beristirahat di bawah pohon.

Pada pagi hari dia melihat seekor tikus sedang menggigit-gigit pakaian yang dilipat. Dia khawatir dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan saya sudah memberikan segalanya kepadamu dan Kau masih ingin menguji merusak pakaian ganti saya.”

Seorang pria lewat dan bertanya masalah apa yang sdang dihadapi pertapa muda. Pertapa muda itu mengatakan ada tikus yang membuatnya waspada karena menggigit pakaiannya. Pria itu bertanya mengapa pertapa itu tidak memelihara kucing? Dari pembicaraan itu pria tersebut memberikan kucing kepada pertapa muda tersebut.

Tikus-tikus setelah itu lari melihat kucing, akan tetapi pertapa tersebut harus ke desa minta susu untuk memberi makan kucingnya.

Kembali pria tersebut datang dan mengatakan masalah yang dihadapi pertapa sekarang apa? Pertapa muda itu mengatakan bahwa dia perlu susu untuk memberi makan kucing. Pria tersebut kembali memberikan sapi perah untuk keperluan memberi makan kucing.

Sapi pertapa itu dihormati penduduk setempat, sehingga bebas makan di ladang semua orang. Akan tetapi akhirnya orang-orang kampung mengeluh dan memberikan pertapa tersebu sebidang tanah sebagai ladang tempat sapi makan rumput.

Pertapa tersebut sudah punya kucing, punya sapi dan punya ladang sendiri, tetapi dia butuh tenaga anak-anak untuk mengerjakan ladangnya. Kepala desa akhirnya mengeluh, agar sang pertapa tidak mengganggu anak orang lain mengapa tidak kawin dan punya anak-anak sendiri untuk mengerjakan ladangnya. Bahkan kepala desa tersebut menawarkan putrinya sebagai calon istri pertapa muda tersebut.

Pada saat sang pertapa berpikir untuk menerima pernikahan dengan putri kepala desa, Master dari padepokan datang dan berkata, “Saya pikir kau meninggalkan padepokan untuk meninggalkan pekerjaan. Kini saya dengar kamu sudah bangun rumah, punya ladang dan saya dengar kau akan menikah. Ada satu hal yang belum kau perhatikan, kau hanya mendengarkan kisah-kisahku di depan orang banyak. Kisah-kisah itu sebenarnya adalah benih tananaman yang baik. Dan untuk penyiapan lahan kau perlu mempraktekkan yoga dan meditasi. Aku tahu selama ini kau malas, kau merasa pengetahuan sudah cukup membuat kau cerah. Benih yang ditebar tidak pada ‘lahan yang siap’ akan sia-sia.”

Sang pertapa menyadari bahwa dia telah melenceng terlalu jauh dari tujuan semula. Dia kemudian berkata, “Master benar, ketersesatan saya ini semua dimulai dari 2 setel pakaian. Master benar, saya akan ikut Master kembali ke padepokan……….”

Sepanjang usia, bahkan dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan yang lain, kita seperti sang pertapa muda, sepenuhnya terjebak dalam, dan oleh jeratan ranting dan dedaunan Pohon Keduniawian ini. Beruntung dia diingatkan seorang Master. Apakah kita seberuntung sang pertapa? Sang Master mengajari pertapa bagaimana caranya memotong Pohon Keduniawian, mempersiapkan lahan dan menanam benih Pengetahuan Sejati……..

Pohon terbalik Asvattha, yang ranting dan daunnya di bawah akarnya di atas telah menjerat kita

“Mereka, yang memahami Keberadaan sebagai Pohon Abadi Asvattha (sejenis Beringin), dengan akarnya di atas dalam Kesadaran-Murni Jiwa Agung; batangnya sebagai Brahma atau Sang Pencipta; dan, ranting serta dedaunannya menjalar ke bawah, sebagaipengetahuan yang berasal dari Sumber Abadi — sesungguhnya telah memahami inti ajaran Veda.” Bhagavad Gita 15:1

Bayangkan pohon beringin yang terbalik. Pohon beringin umumnya dikeramatkan karena usianya yang bisa mencapai beberapa abad. Asvattha, jenis beringin yang disebut di sini adalah jenis yang paling unggul, sehingga digunakan sebagai perumpamaan untuk menjelaskan sifat keabadian Keberadaan.

KONON, POHON YANG MEWAKILI KEBERADAAN INI bercabang ke bawah. Ranting dan dedaunannya menjalar ke bawah. Inilah simbol keberadaan, kebendaan.

Akar pohon di atas berada dalam Alam Kesadaran Murni, Alam Kesadaran Jiwa Agung, Alam Kesadaran Brahman, Zat Tertinggi yang Melampaui Pencipta dan Ciptaannya.

Brahma adalah batang dari pohon ini. Ini penting  dipahami. Akar pohon bukanlah Brahma, tetapi  berada dalam Alam Kesadaran Brahman. Sementara itu, batangnya adalah Brahma atau Sang Pencipta.

Pengetahuan yang menjelaskan Keberadaan dan Dunia Benda pun hanyalah merupakan dahan dan ranting-ranting pohon ini yang menjalar ke bawah.

KITA TIDAK DAPAT MELIHAT AKAR POHON DI “ATAS” – Kita tidak bisa melihat Brahman, Sang Jiwa Agung. Kita hanya dapat melihat ranting-ranting dan daun-daun pohon ini yang menjalar ke bawah.

Pagelaran dunia benda dapat disaksikan. Namun, Hyang Menyebabkan Segalanya, Brahman atau Jiwa Agung tidak terlihat. Dalam pertunjukan wayang kulit, seorang dalang berada di balik layar. Kita tidak melihatnya. Kita hanya menonton pagelaran, pertunjukannya. Kemudian, dalang ini dikaitkan dengan Gusti Pangeran, Zat Teringgi, Jiwa Agung. Tidak, tidak demikian. Dalam Analogi Pohon Beringin di sini, dalang adalah Brahma, Pencipta – bukan Brahman, Jiwa Agung.

Dengan menonton, menyaksikan pertunjukan wayang, kita meraih pengetahuan tentang kebendaan dan keberadaan. Tentang Rama dan Ravana; tentang Pandava dan Kaurava; tentang Yesus dan Yudas; tentang Gandhi dan Godse; tentang apa yang umumnya disebut baik dan apa yang dicap buruk. Pengetahuan ini adalah pengetahuan dasar, yang bersumber dari Veda.

VEDA DALAM HAL INI tentunya tidak sekadar mewakili kumpulan himne-himne kitab suci Veda, tetapi sekaligus secara generik mewakili segala ilmu, segala macam seni; segala cabang pengetahuan atau sains dan arts tentang kebendaan, dunia benda, keberadaan, kepercayaan, dan lain sebagainya – yang bersurnber dari mana saja. Dari kitab-kitab suci semua tradisi dan kepercayaan, maupun dari Sains Modern.

Segala macam pengetahuan, semua cabang pengetahuan, seluruh ilmu pengetahuan adalah ranting-ranting dan dedaunan dari Pohon Keberadaan ini. Taruhlah kita berhasil menguasai semua ilmu dan seni — yang sesungguhnya mustahil — kita baru tahu tentang ranting dan daun. Belum memahami akar pohon yang ada di atas.

SEPANJANG USIA, bahkan dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan yang lain, kita sepenuhnya terjebak dalam, dan oleh jeratan ranting dan dedaunan Pohon Keberadaan ini.

Sekarang, saatnya keluar dari jeratan itu, membebaskan diri, dan memproklamasikan jati diri kita yang sejati… Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

 

Menebang Pohon Duniawi

“Dari sudut pandang dunia-benda, sungguh sulit melihat pohon ini secara utuh; sulit pula menemukan awal maupun akhirnya. Namun, pohon ini dapat ditebang dengan menggunakan Kapak Ketakterikatan.” Bhagavad Gita 15:3

Pohon Keberadaan “tampak” langgeng, abadi. Memang awal dan akhirnya adalah di luar jangkauan pandangan manusia. Jika kita ingin memaharni pohon ini, maka kita akan kecewa sendiri. Pohon Keberadaan tidak dapat dipahami, karena jauh lebih besar, tinggi dan dalam daripada pemahaman kita. Ba gaimana pula sehelai daun dapat memahami sifat pohon yang menjadi sumber kehidupannya?

NAMUN, POHON INI BISA DITEBANG – Tak ada gunanya mempelajari sifat, jenis, dan asal-usul pohon ini. Membuang Waktu saja. Pengalaman-pengalaman yang kita peroleh dari pohon ini bukanlah pengalarnan yang dapat mengantar kita pada Kebahagiaan Sejati.

Oleh karenanya, Krsna mengajak Arjuna untuk menebang Pohon Keberadaan ini. Berarti, melampaui paham, konsep, dan pandangan-pandangan kebendaan dengan menggunakan kapak “tanpa keterikatan”. Keterikatan dengan Pohon Keberadaan ini, dengan dunia-benda ini, adalah sumber kekecewaan, ketidakpuasan, kesengsaraan, dan sebagainya.

…………

Menebang Pohon Keberadaan dengan kapak ketidakterikatan adalah proses menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kepedulian terhadap setiap wujud kehidupan, rasa empati yang tinggi. Ya, menjalani hidup. Tidak berhenti. Keterikatan menghentikan perjalanan kita. Bolak-balik, lahir-mati — lahir dan mati lagi untuk mengurusi hal-hal yang sama. Bahkan, seringkali kita mengalami kelahiran dalam keluarga yang sama. Kita berjalan di tempat, tidak menjalani hidup.

Dan berjalan di tempat itulah samsara, pengulangan yang menyengsarakan, mernbosankan, menjenuhkan! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia