Muni Garga: Meramal Kehidupan Bayi Krishna dan Rama #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on July 19, 2017 by triwidodo

Ilmu astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul, melainkan berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup.

(Catatan: “Sifat dasar” di sini tidak berarti harga mati. Ia ibarat kain blacu yang biasa digunakan untuk batik tulis. Kita memang tidak bisa mengubah tenunan kain itu. Tetapi, dengan mengetahui sifat kain, kita bisa menentukan bahan celup dan tulis yang sesuai. Kita juga bisa menentukan corak sesuai dengan selera kita. Pada akhirnya, harga kain itu bisa meningkat beberapa kali lipat karena “tambahan-tambahan” yang kita lakukan).

Pengetahuan tentang sifat dasar membantu kita untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan dan menghindari apa yang tidak menguntungkan. Silakan mempelajari pengaruh konstelasi perbintangan terhadap kehidupan Anda. Pelajari pula kekuatan-kekuatan alam yang siap mendukung Anda, dan membantu dalam hal pengembangan diri. Gunakan kekuatan-kekuatan itu untuk meraih keberhasilan. Di saat yang sama, pelajari pula kelemahan-kelemahan, dan kekurangan-kekurangan diri. Janganlah berpikir bila kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan itu tidak dapat diatasi. Semuanya dapat diatasi dan diperbaiki. Adalah kehendak yang kuat dan karya nyata untuk mengubah diri, dan mengubah keadaan. Itu saja yang dibutuhkan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari, Muni Garga datang ke rumah Nanda di Gokula. Muni Garga adalah seorang suci dari Dinasti Yadu. Nanda merasa sangat terhormat karena seorang Muni jarang sekali mendatangi rumah seorang Grihastha, perumah-tangga seperti Nanda. Karena pada umumnya seorang Grihastha, yang berumah tangga, biasanya lebih mementingkan urusan keluarga daripada urusan rohani. Pada kesempatan yang baik tersebut Nanda menyampaikan permohonan agar Sang Muni memberikan nama kepada dua bayi yang ada di rumah Nanda.

Muni Garga menyampaikan bahwa dia datang ke tempat Nanda guna memenuhi keinginan Vasudeva yang meminta kepadanya untuk meramalkan kehidupan dua bayi yang ada di rumah Nanda berdasarkan ilmu astrologi. Muni Garga adalah seorang yang menguasai ilmu astrologi seperti pengaruh matahari, bulan, dan bintang-bintang lainnya terhadap kelahiran seseorang. Sang Muni mengabulkan pemberian nama kepada kedua anak bayi tersebut, akan tetapi hal tersebut dilakukan secara rahasia dan tidak memakai perayaan ritual seperti biasanya. Perayaan ritual akan menarik perhatian mata-mata Raja Kamsa yang telah mencurigai bahwa anak Vasudeva dan Devaki tinggal di daerah Gokula. Nanda sepakat dengan nasihat Sang Muni dan menyampaikan bahwa sudah ada tiga asura: Putana, Sakatasura, dan Trinavarta yang berkeliaran di Gokula dan mengalami kematian yang misterius.

Muni Garga menyampaikan informasi kepada Nanda bahwa putra Rohini akan membahagiakan seluruh keluarga besar Yadu, maka dia diberi nama Rama. Di kemudian hari dia akan sangat kuat sehingga akan dipanggil Balarama. Semua dinasti Yadu akan patuh pada perintahnya, karena itu dia juga disebut Sankarsana. Sang Muni belum membuka rahasia kepada Nanda bahwa sebetulnya Rama adalah putra Vasudeva dan Devaki, di mana janin dalam kandungan Devaki dipindahkan ke dalam kandungan Rohini.

Muni Garga kemudian menyampaikan informasi kepada Nanda, bahwa anak bayi yang satunya pernah mewujud dalam berbagai warna kulit dalam zaman yang berbeda. Pertama kali dia berkulit putih, kemudian merah, kuning, dan saat ini hitam. Muni Garga juga menyampaikan bahwa anak tersebut semula adalah putra Vasudeva, maka dia dinamakan Vasudeva dan juga disebut Krishna. Nanti orang akan memanggilnya Vasudeva atau Krishna. Tetapi perlu diingat bahwa anak tersebut mempunyai banyak nama sesuai kegiatannya. Muni Garga juga meramalkan bahwa anak laki-laki Nanda tersebut  juga akan dipanggil Giridhari karena dia mampu mengangkat Bukit Govardhana. Anak ini sangat membahagiakan para gopi dan gopal. Dia akan sangat terkenal di Brindavan dia akan memberi nasib yang baik kepada Nanda. Karena kehadirannya, Nanda akan dapat mengatasi berbagai bencana. Dia akan menjadi sangat perkasa, sehingga setiap orang yang menjadi bhaktanya akan selamat dari gangguan musuh-musuhnya.

Nanda sangat bersyukur atas nasihat dan ramalan tentang Rama dan Krishna. Dia merasa bahwa dirinya, istrinya dan semua orang yang tinggal di Gokula sangat beruntung dengan keberadaan kedua anak tersebut. Setelah menyampaikan nasihat tersebut Sang Muni pulang  dan menemui Vasudeva di kota menyampaikan perkembangan dari putra mereka, Rama dan Krishna.

Rishi Shuka terdiam beberapa saat setelah menceritakan pemberian nama kepada Rama dan Krishna. Nampak rona kebahagiaan dalam raut wajah sang rishi.  Parikhsit berkata, “Terima kasih Guru yang telah menceritakan tentang kebahagiaan keluarga Nanda di Gokula, yang bahkan menerima anugerah melebihi Vasudeva dan Devaki, orang tua mereka sebenarnya.” Rishi Shuka berkata, “Benar wahai raja, akan kuteruskan kisah tentang kebahagiaan Nanda dan Yashoda.”

Siapakah Nanda dan Yashoda? Bagaimana past life mereka sehingga memperoleh berkah membesarkan Sri Krishna?

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya……

Krishna Kecil: Menjatuhkan Trinavarta Penikmat Materi Ilusif #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on July 18, 2017 by triwidodo

Awan Delusi menyebabkan penglihatan kita tidak jelas. Awan delusi adalah awan jabatan, awan kekuasaan, awan kekayaan – sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Namun, kita percaya pada awan. Kita tidak pernah berupaya untuk melihat di balik awan. Itu sebabnya, kita selalu mengejar konfirmasi dari pihak lain. Pihak lain mengatakan kita baik, kita senang. Pihak lain mengatakan kita jahat, kita gusar. Kita mempercayai apa yang kita dengar, apa yang kita baca tentang diri kita, kita tidak memiliki kepercayaan diri.

Sifat ini Sungguh Melemahkan – Dan, membuat kita tergantung pada dunia benda. Kita makin percaya pada kebendaan, dan makin jauh dari Hakikat-Diri kita sebagai Jiwa.

Lampauilah awan delusi yang membingungkan, temukan diri-sejati, dan lepaskan ketergantungan pada dunia benda yang bersifat ilusif, sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Penjelasan Bhagavad Gita 2:52 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu ketika saat Yashoda selesai memandikan sang bayi di halaman rumahnya, dia merasa sang bayi terasa sangat berat. Melihat sang bayi sedang tertidur nyenyak, maka Yashoda meninggalkan sang bayi di halaman dan masuk ke rumah menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Asura pembunuh suruhan Kamsa bernama Trinavarta datang dan mengambil wujud angin puyuh. Seluruh penduduk Gokula berada dalam kepanikan dan menutup mata dan segera masuk ke rumah, karena debu, daun-daun kering, dan kerikil berterbangan. Tidak berapa lama angin puyuh mereda, dan Yashoda segera lari ke halaman mencari sang bayi. Akan tetapi, sang bayi tidak nampak. Yashoda cemas bahwa sang bayi terbawa oleh angin puyuh.

Asura Trinavarta membawa sang bayi terbang tinggi ke langit dan bermaksud menjatuhkannya, kala dia merasa sang bayi begitu berat, sehingga dia tidak kuat membawanya. Kemudian dalam keadaan setengah sadar dia merasa tangan mungil sang bayi mencekiknya dan tubuhnya jatuh ke bumi. Asura Trinavarta tewas.

Beberapa saat kemudian, penduduk Gokula merasa seperti ada gempa bumi dan mendengar suara seperti bukit runtuh di tepi hutan. Mereka berlari ke sana dan melihat seorang asura yang luar biasa besarnya mati dengan sang bayi yang masih berada dalam pelukannya. Para penduduk tak dapat memperkirakan apa yang terjadi dan hanya bersyukur kepada Narayana yang telah menyelamatkan sang bayi putra Nanda dan Yashoda.

Trinavarta dalam kehidupan sebelumnya (past life) adalah seorang raja yang merupakan seorang bhakta Narayana yang teguh. Pada suatu ketika di Pantai Reva yang indah dia menikmati waktu luang dengan ribuan wanita cantik.

Ketika Muni Durvasa datang, sang raja asyik dengan ribuan wanita cantik, dan tidak memberikan hormat kepada sang muni, sehingga keluarlah kutukan, “Wahai hati yang dipenuhi rasa kenikmatan, jadilah seorang asura penikmat duniawi!”

Ketika sang raja memohon ampun, Muni Durvasa berkata, “Wahai Raja, sentuhan tangan Krishna akan memberimu kebebasan!” Setelah mendapat sentuhan sang bayi avatara, Trinavarta menemui kebebasan.

Trinavarta, asura angin puyuh melambangkan kebanggan palsu seorang penikmati materi yang bersifat ilusif, bagaikan angin.  Kebanggaan palsu tersebut dibuang oleh Sri Krishna Kecil.

 

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, mengharap-harapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan permainan ego, ke-‘aku’-an yang ilusif – meraih kedamaian sejati.” Bhagavad Gita 2:71

 

Tidak lagi mengharap-harapkan, tidak lagi mengejar-ngejar, tidak lagi memburu sesuatu – berarti tidak ada lagi obsesi dalam dirinya. Ia sudah melewati semuanya. Ia sudah mencoba semuanya. Ia sudah merasakan semuanya dan menyadari bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari dunia tidak abadi, tidak langgeng. Kesadaran itu sendiri sudah cukup untuk membuatnya menjadi tenang.

Ia Berpaling kepada Dirinya Sendiri – Ia memperoleh sumber kedamaian dan Kebahagiaan Sejati dalam dirinya sendiri. Begitu ia menemukan dirinya, ia juga menemukan “Sang Aku” yang Universal. Ia mulai menyadari bahwa semuanya, segala sesuatu, hanya merupakan bayangan-bayangan “Sang Aku” yang Sejati itu. Kemudian, pada saat itu juga, ego yang selalu bersandar pada objek-objek duniawi runtuh, gugur. Ia sudah tidak dapat mempertahankan dirinya; dan rasa kepemilikannya yang ilusif terhadap seseorang atau sesuatu. Segala sesuatu adalah milik-Nya. Ia pun milik-Nya. Apa yang harus dimiliki lagi, siapa yang dapat memiliki lagi? Kesadaran-diri seperti inilah yang mendamaikan Jiwa. Penjelasan Bhagavad Gita 2:71 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Krishna Kecil: Menendang Sakatasura Pembawa Kebiasaan Buruk Masa Lalu #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 17, 2017 by triwidodo

Urusan duniawi sering melalaikan kita dari fokus pada Gusti

Orang tua Yesus tahu persis siapa anak mereka. Tetap saja seperti diwartakan dalam Lukas 2:48-9, mereka bisa meninggalkan dia seorang diri di Yerusalem. Sehari kemudian mereka baru sadar bila Yesus kecil tidak bersama mereka. Ini salah siapa? Setelah itu pun, ketika sadar bahwa Yesus tidak bersama mereka, mereka masih bertanya-tanya kepada kawan dan kerabat di dalam rombongan mereka.

Betapa cepatnya kita melupakan Yesus ketika berada dalam frekuensi kesadaran gerombolan. Akhirnya, mereka kembali ke Yerusalem dan menemukan Yesus. Apa kata Yesus? Dia selalu bersama Gusti di Bait Allah – berarti selalu dalam kesadaran kemahahadiran Gusti.

Yang meninggalkan siapa? Yesus meninggalkan kita atau sebaliknya justru karena kita berada di frekuensi rendah materi maka kilauan wajah Yesus tidak tampak lagi? kita jatuh dari gelombang kesadaran kemahahadiran-Nya, maka kehadiran Yesus pun tidak terasa, karena Beliau selalu berada dalam kesadaran kemahahadiran-Nya. Dikutip dari contoh Materi Bapak Anand Krishna dalam Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

 

Putra Nanda dan Yashoda telah berusia tiga bulan. Yashoda sangat berbahagia kala melihat sang bayi sudah mulai bisa tengkurap. Sang bayi memang amat menawan, dan setiap orang selalu mencintainya dengan hati yang tulus. Pada suatu saat sang bayi dimandikan di sungai Yamuna dan kemudian diberikan pakaian yang bagus. Sang bayi nampak mengantuk dan Yashoda meletakkan sang bayi di bawah pedati yang sudah ada di tepi sungai Yamuna. Sekejap Yashoda melupakan sang bayi dan asyik mengobrol dengan para gopi.

Ini adalah pelajaran dari kita bahwa mereka mereka yang dekat dengan Avatara, Wujud Ilahi, kadang-kadang melupakan berkah tersebut dan terlelap dalam permainan dunia, sehingga muncul masalah. Yashoda melupakan sang bayi dan asyik mengobrol dengan para Gopi lainnya. Sita yang sudah bertahun-tahun berjalan bersama Sri Rama, bahkan meminta Sri Rama untuk memperoleh Kijang Kencana. Seperti manusia yang sudah dekat dengan Gusti, yang merupakan tujuan akhir manusia, malah meminta kepada Gusti untuk sesuatu hal yang bersifat duniawi sehingga Sita menjadi terperangkap dalam sandera Rahvana, gambaran ego manusia, dan memerlukan perjuangan panjang untuk dapat kembali menjadi dekat dengan Sri Rama, Dia Yang Berada di Mana-Mana.  Mirip, sudah ketemu Sadguru tetapi yang diminta masih berkaitan dengan kebahagiaan duniawi yang tidak abadi, mohonlah kebahagiaan abadi….

 

Sakatasura, Asura yang mewakili pembawa kebiasaan buruk masa lalu

Tiba-tiba terdengar suara ribut, kereta pedati tersebut jatuh, hancur bersama dengan barang-barang yang berada di atasnya. Yashoda bersama para Gopi segera lari menuju sang bayi. Dan anak-anak kecil bercerita bahwa kaki kecil sang bayi menendang kereta pedati sehingga terjungkal dan rusak. Siapakah yang dapat percaya dengan cerita para anak kecil. Mana mungkin kaki seorang bayi mungil berusia tiga bulan menendang sebuah kereta pedati?

Adalah Kamsa yang menyuruh seorang asura bernama Sakatasura untuk menculik dan membunuh sang bayi putra Nanda dan Yashoda. Kematian Putana mulai meyakinkan diri Kamsa bahwa putra Nanda dan Yashoda sebenarnya adalah putra kedelapan Vasudeva dan Devaki yang telah pindah tempat seperti yang diucapkan oleh Mahamaya. Oleh karena itu, Kamsa mengirimkan “mesin-mesin pembunuh” untuk membunuh putra Nanda dan Yashoda tersebut. Sakatasura mengubah wujudnya sebagai kereta pedati dan bermaksud membawa sang bayi dan melarikannya keluar dan kemudian membunuhnya. Akan tetapi, kaki kecil sang bayi telah menyentuhnya dan Sakatasura meninggal.

Vamana Avatara pernah menggunakan kaki kecilnya untuk menaklukkan Raja Bali dengan tiga langkahnya. Langkah pertama meliputi langit, langkah kedua meliputi bumi, dan langkah ketiga di atas kepala sang raja yang memuliakan Raja Bali.

Varaha Avatara pernah menggunakan kaki celeng raksasa untuk menendang Hiranyaksa sehingga Hiranyaksa meninggal, tugasnya selesai, dan akan lahir lagi sebagai Kumbhakarna nantinya.

Dan kali ini sang bayi menyentuh Sakatasura dan sang asura menjadi terbebaskan. Pada Zaman Satya Yuga, Sakatasura lahir sebagai Utkaca putra dari Hiranyaksa. Utkaca pergi ke pondok Muni Lomasa dan menebang beberapa pohon. Muni adalah rishi yang melakukan pengabdian kepada Gusti dengan cara diam atau sedikit sekali mengucapkan kata-kata. Muni Lomasa kemudian mengutuknya sehingga dia tidak mempunyai wujud. Dan wujud Utkaca yang sangat besar tersebut berubah menjadi udara. Utkaca memohon ampun, dan Muni Lomasa berkata bahwa dalam manvantara berikutnya dia akan disentuh oleh Narayana dan ia akan terbebaskan.

Bila Putana, asura wanita penyihir, adalah simbol dari guru palsu yang harus dilenyapkan oleh Sri Krishna, maka Sakatasura adalah simbol dari kereta pedati yang membawa kebiasaan buruk dari masa kini dan sebelumnya. Sri Krishna menendang belenggu  “kereta pedati kebiasaan buruk” ini dengan menendangnya sampai hancur.

“Tanpa sadar manusia telah terbelenggu oleh kebiasaannya. Terbelenggu oleh obsesi masa lalu yang terungkap dengan sifat genetik tertentu yang dikaruniakan kepada masing-masing manusia. Kemudian manusia juga terbelenggu oleh obsesi dalam kehidupan saat ini. Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan, “Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurung kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita. Ada tiga lapisan utama:

Lapisan Pertama adalah yang diwarisi dari kelahiran sebelum ini, obsesi-obsesi Anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga Anda masih harus lahir kembali.

Lapisan Kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru.

Lapisan Ketiga adalah yang Anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok Anda semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.

Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Anda hidup dalam kurungan yang berlapis-lapis. Anda belum pernah hidup bebas. Hanya seorang Buddha yang hidup bebas. Hanya dialah yang hidup di luar kurungan. Buddha sedang mengundang Anda untuk membebaskan diri dari ‘kurungan’. Tetapi Anda tidak berani. Anda masih ragu-ragu. Anda masih bimbang, ‘Di dalam kurungan, hidup saya sudah cukup nyaman. Cukup terjamin. Sudah bisa makan enak. Sudah bisa jalan-jalan ke mal. Sudah bisa nonton film. Sudah bisa ke diskotik. Di luar sana, semua itu ada nggak? Seorang Yesus sangat persuasif. Seorang Muhammad sangat lembut. Mereka akan memberikan gambaran ‘surga’. Mereka ingin Anda bebas dari kurungan. Dan mereka tahu persis, jika tidak diberikan iming-iming surga, Anda tidak akan berani keluar dari kurungan.”

Krishna Kecil: Pemberian Air Susu Asura Putana #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on July 16, 2017 by triwidodo

DAMPAK PERGAULAN – Kedekatan fisik, pikiran, atau perasaan dengan orang-orang yang ber-“arus-pendek” adalah penyebab terbakarnya rumah kita.

Kita boleh bertanya, “Apa kesalahanku sehingga rumahku terbakar? Instalasi listrik rumahku cukup baik!” Sebaik apa pun instalasi listrik di rumah kita, keberadaan rumah kita “dekat” rumah yang terbakar itu sudah cukup alasan bagi rumah kita ikut terbakar!

Korsleting yang sedang terjadi dalam gugusan pikiran serta perasaan seorang yang dekat dengan kita adalah berbahaya, bisa fatal! Kita bisa ikut korslet, ikut terbakar.

Pemahkah kita memperhatikan sifat para pekerja di rumah sakit jiwa? Umumnya mereka  “rada-rada” juga, walau mereka tidak menyadari hal itu, atau tidak mau mengaku.

Tidak berarti orang gila tidak boleh dirawat, tidak boleh dilayani. Silakan merawatnya, silakan melayaninya, tapi jagalah “jarak aman”. Jangan terlibat dalam persoalan mereka secara emosional. Kita akan ikut menjadi gila dan malah tidak mampu rnerawat dan melayani mereka yang membutuhkan kita.

Mereka yang senang bercurhat—curhatan dengan menggunakan kedok “bertemu untuk arisan” atau kedok lain mana pun — berada dalam wilayah risiko tinggi menjadi “gila”.

Seseorang yang percaya pada kekuatan curhat tidak percaya diri. Dan “tidak percaya diri” menjauhkan diri kita dari kita sendiri. Kita membiarkan diri kita melemah, sehingga orang lain yang sama lemahnya dapat mengemudikan diri kita.

Setiap kelompok curhat, terdiri dari 2 orang, 200 orang, 2.000 orang, atau lebih — adalah kelompok orang-orang bingung, berjiwa lemah, berkesadaran jasmani saja, dan tidak tahu arah hidup. Mereka semuanya tanpa kecuali dan tidak pernah tidak — saling mencelakakan.

Jadilah Samkhya Yogi. Gunakan matematika kehidupan untuk memilah tindakan-tindakan mana saja yang tepat dan mana yang tidak tepat. Janganlah menanggung konsekuensi atas perbuatan yang tidak tepat melulu. Kita bisa bertindak secara tepat, asal menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kewaspadaan, ke-eling-an. Penjelasan Bhagavad Gita 18:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Kesadaran Kamsa tidak bertahan lama, karena pergaulan Kamsa yang tidak menunjang kesadaran. Manusia selalu terpengaruh oleh pergaulannya. Para pejabat sekeliling Kamsa mengingatkan Kamsa atas peringatan Mahamaya bahwa putra Devaki dan Vasudeva telah lahir dengan selamat. Mereka mengusulkan agar semua bayi yang usianya belum satu tahun semuanya dibunuh, demi kemananan kehidupan Kamsa. Kamsa terpengaruh dan merestuinya.

Rohini telah melahirkan putra setahun sebelumnya, putra yang tampan bersinar seperti putra Yasoda yang baru saja lahir. Dikisahkan, Nanda sangat berbahagia dengan kelahiran anak mereka. Nanda kemudian mengadakan upacara upacara penyucian bernama Jatakarma.

Bumi dibersihkan oleh kala, waktu. Tubuh dibersihkan oleh air. Brahmana dibersihkan oleh persembahan. Kekayaan dibersihkan oleh memberi. Pikiran dibersihkan oleh tapa, pengendalian diri dan anak yang baru lahir dibersihkan dengan Jatakarma.

Setelah selesai mengadakan acara Jatakarma, Nanda segera pergi ke kota untuk membayar upeti kepada bendahara istana. Dan di kota tersebut dia bertemu Vasudeva. Nanda mengungkapkan rasa belasungkawa atas nasib yang diterima Vasudeva ketika keenam putranya telah dibunuh Kamsa sambil mengabarkan bahwa Rohini telah melahirkan seorang putra. Nanda juga mengatakan bahwa Yashoda telah melahirkan seorang putra pula.

Vasudeva mengucapkan selamat dan berkata bahwa sebaiknya Nanda cepat pulang karena dia melihat malapetaka akan datang ke Gokula. Oleh karena itu, lebih baik Nanda cepat pulang agar dekat dengan istri dan anaknya.

 

Dikisahkan bahwa Kamsa memanggil salah seorang penasihatnya bersama istrinya yang bernama Putana. Putana adalah seorang asura perempuan. Dan Kamsa meminta Putana untuk membunuh bayi-bayi yang sedang menyusui yang usianya di bawah satu tahun.

Putana kemudian berkeliling desa dan membunuhi bayi-bayi yang tidak bersalah. Pada suatu saat, sampailah Putana di desa Gokula. Dengan kekuatan mayanya, Putana mengubah dirinya sebagai wanita cantik. Putana masuk ke halaman rumah Nanda dan melihat bayi kecil dalam ayunan. Segera bayi itu dipangkunya, layaknya seorang wanita yang mencintai anak kecil. Orang-orang yang melihatnya agak heran tetapi terkesan dengan kecantikan dan kasih sayang yang ditunjukkan wanita tersebut kepada bayi putra Yashoda.

Putana melonggarkan bajunya dan mulai memberi susu kepada sang bayi. Putana berpikir bahwa bayi tersebut akan segera mati setelah minum air susu beracunnya. Akan tetapi, dia kaget sekali tatkala sang bayi menghisap semua susu yang ada dalam dadanya dengan keras. Dia berteriak-teriak agar tindakan sang bayi tidak dilanjutkan. Akan tetapi, dia terlambat dan dia merasakan nyeri yang tak tertahankan dan kemudian tewas.

Mayat wanita cantik tersebut kemudian berubah wujud menjadi asura perempuan yang tinggi besar dan menyeramkan. Warga Gokula kemudian memotong-motong tubuh dan membakar mayatnya. Pada saat pembakaran mayat tersebut keluar bau harum yang mereka tidak tahu berasal dari mana.

Saat Nanda pulang dari kota dia mendengar cerita tentang kematian seorang asura perempuan. Nanda menceritakan bahwa Vasudeva,sahabatnya, adalah seorang yang dikaruniai kewaskitaan sehingga sudah melihat akan ada kejadian besar di Gokula sehingga dia diminta cepat pulang.

Dikisahkan bahwa Putana dalam kehidupan sebelumnya bernama Ratnamala dan merupakan putri Raja Bali. Saat pertama kali melihat Vamana Avatara, Ratnamala ingin mengambil Vamana sebagai putranya dan ingin menyusuinya. Akan tetapi, tatkala Vamana meminta Raja Bali untuk memenuhi permintaan tiga langkahnya yang membuat Raja Bali takluk, maka Ratnamala berubah pikiran dan ingin membunuh Vamana.

Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/18/vamana-avatara-lahir-dari-kegigihan-ibu-dan-berkah-narayana-srimadbhagavatam/

Dan https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/22/kepasrahan-raja-bali-dan-berkah-narayana-srimadbhagavatam/

 

Sri Krishna memenuhi keinginan Ratnamala dalam kehidupan selanjutnya sebagai Putana. Putana menyusui Avatara Krishna dan berkehendak untuk membunuhnya.

Beruntunglah Putana, sang bayi tidak hanya menyedot air susunya, tetapi juga menyedot semua kesalahannya, sehingga dia menjadi bersih suci kembali. Konon, itulah sebabnya pada saat pembakaran mayatnya keluar bau harum. Memberi makan seorang avatara membawa berkah.

Bagaimana dengan Yashoda dan para Gopi yang memberi Sri Krishna kecil makanan dan  buah-buahan? Para Gopi dan Gopala pun juga akan mengalami moksha.

Bukan suatu kebetulan bahwa para Gopi dalam kehidupannya yang lampau adalah para Gyaani, pertapa bijak yang sudah melakoni hidupnya sesuai Gyaana, pengetahuan tentang kesadaran dan mereka hanya perlu lahir sekali lagi untuk melaksanakan bhakti terhadap Narayana.

Pengaruh Mahamaya: Devaki dan Vasudeva Dibebaskan Kamsa #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 15, 2017 by triwidodo

Resiko maksimum adalah mati

Abhaya, Be Fearless, Do Not Fear, Jangan Takut: jangan takut menghadapi kenyataan hidup. Jangan takut mengahadapi stress berat, jangan takut memikul beban. Jangan melarikan diri. Kendati tidak takut, janganlah bertindak anarkis. Jangan seperti kerbau lepas kendali. Jangan membalas tindakan yang tidak bertanggungjawab dengan tindakan serupa. Pertahankanlah kewarasan serta kesadaran diri! Masih ingat Maximum Risk Theory kan? Mati, kematian adalah resiko maksimum, yang  tak dapat dihindari. Lalu apa yang harus ditakuti? Tetapi, tidak berarti kita “mencari mati”. “Tidak takut mati” tidak membenarkan aksi bunuh diri. Tidak takut mati berarti tidak khawatir akan kematian. Tidak takut mati berarti bekerja sekuat tenaga, menyelesaikan pekerjaan setiap hari, karena barangkali hari ini adalah hari terakhir. Berusahalah untuk tidak meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, karena Anda pula yang kemudian harus menyelesaikannya. Untuk itu, terpaksa Anda harus “kembali”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setelah Mahamaya memberikan peringatan kepada Kamsa, kemudian dia menghilang. Akan tetapi, peristiwa tersebut memberikan pengaruh luar biasa kepada Kamsa. Kamsa menjadi sadar tentang tindakan apa yang telah dilakukannya. Kamsa kemudian melepaskan rantai belenggu Vasudeva dan Devaki.

Kamsa berkata, “Aku menyesal atas perbuatanku kepada kalian, karena ketakutan terhadap kehilangan nyawaku, aku telah bertindak kejam kepada kalian. Aku telah mengingat kehidupan masa laluku sebagai Kalanemi yang dibunuh Narayana. Kemudian aku mengkhawatirkan masa depan saat aku dibunuh oleh anak kalian. Aku larut dalam kehidupan masa lalu dan terbelit dengan bayangan kehidupan masa depan sehingga aku tidak bisa menikmati masa kini dengan penuh kewajaran.

Banyak manusia yang tidak sadar dan bertindak seperti Kamsa. Karena ketakutan akan penderitaan di masa lalu dan ketakutan akan mengalami penderitaan di masa depan, maka dia tidak fokus pada tindakan saat ini, sehingga sering memilih tindakan yang salah yang bahkan akan mengacaukan kehidupannya.

 

Takut mati

Banyak diantara kita hanya “mengaku” tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi “rasa takut” yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita-bahkan “kekitaan” itu sendiri. Dan kalau anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena “ego”. Seolah-olah kalau anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kamsa berkata, “Aku percaya kepada suara dari langit, sehingga aku membunuh putra-putra saudaraku. Sebetulnya itu semua adalah akibat keserakahanku sendiri. Aku merasa bahwa diriku adalah pikiranku. Dan pikiranku selalu mencari keamanan dan keuntungan bagi diriku dan mengabaikan rasa orang lain. Aku masih merasa sebagai asura yang hanya ingin memuaskan keinginan diri tanpa mempedulikan kesusahan orang lain akibat perbuatanku. Aku sadar bahwa badan ini seperti mangkuk dari tembikar. Kala mangkuk ini pecah maka badan ini juga hancur. Akan tetapi, isi dari mangkuk tersebut adalah udara yang tak pernah mati. Kalian berdua mengetahui bahwa seseorang dilahirkan karena karma, perbuatannya di masa silam. Orang bodoh merasa bahwa seseorang membunuh atau dibunuh, akan tetapi kalian tahu bahwa Atman tidak bisa dibunuh. Kejadian memang harus terjadi karena adanya hukum sebab-akibat dan aku tahu aku akan menerima akibat perbuatanku di masa depan. Maafkan aku dan kalian sekarang kubebaskan dari penjara!”

Nampaknya terbit kesadaran dalam diri Kamsa, bahwa jati diri manusia itu kekal abadi. Akan tetapi , sekadar menyadari saja tidak cukup. Kesadaran tersebut harus dilakoni dengan tindakan dalam keseharian.

Jiwa yang Bersemayam di dalam Badan atau, lebih tepatnya, Jiwa yang menggerakkan badan, menghidupinya – tidak ikut mati, tidak pula terurai. Ia tetaplah Abadi sebagaimana sedia kalanya. Jiwa inilah identitas diri kita yang sesungguhnya. Bukan badan, bukan indra, bukan mind atau gugusan pikiran dan perasaan – semua itu entah terurai, atau berubah. Tidak demikian dengan Jiwa, yang adalah hakikat diri kita, hakikat diri setiap makhluk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Vasudeva dan Devaki mengatakan kepada Kamsa bahwa mereka telah melupakan kesalahan Kamsa. Devaki berkata bahwa apa yang Kamsa katakan adalah benar. Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam semesta termasuk diri kita. Dalam diri kita ada alam kebendaan dan benih Jiwa Agung.

……………..

Tantangannya ialah ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sumber: berdasarkan buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna: Penantian Para Gopi Reinkarnasi Para Pertapa Bijak #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags on July 14, 2017 by triwidodo

Ada kisah menarik tentang Krishna. Diceritakan bahwa beliau memiliki 16,000 pacar, para Gopi. Sesungguhnya hubungan Krishna dengan para Gopi adalah hubungan Kasih. Saat itu, Krishna baru berusia 10-11 tahun, sementara para Gopi rata-rata diatas usia 16 tahun. Gopi berarti Cow-girl. Bukan Cowboy tetapi Cowgirl!

Krishna sendiri disebut Gopal — Pclindung Sapi. Dalam tradisi Hindu, sapi dianggap sebagai hewan yang paling jinak, dan kejinakan itu yang dilindungi Krishna.

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

Para Gopi disebut-sebut sebagai reinkarnasi para pertapa yang telah mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu, tetapi belum mencicipi manisnya kasih. Mereka lahir kembali untuk menyelesaikan “skripsi”. Untuk mcngikuti “semester terakhir”. Sungguh beruntung mereka, karena Krishna menjadi dosen pembimbing mereka.

Sebelumnya, mereka hidup dalam masa yang berbeda. Setelah meninggalkan badan, di alam “transit” sana, mereka janjian, “Ada yang masih kurang nih. . .. Kembali yuk!”

Dan mereka menunggu lama sampai “berita” kelahiran Krishna. Mereka mendengar bahwa akan lahir scorang Avatar. Seseorang yang sudah mencapai Kesadaran Tertinggi dan balik lagi atas Kemauan-Nya “Sendiri”.  Jangan lupa bahwa “Sendiri” orang semacam itu tidak sama dengan “sendiri kita”. Seperti juga “Aku” dia tidak sama dengan “aku kita”.

                Ibarat para siswa, pertapa-pertapa itu menunggu kedatangan seorang Dosen Favorit. Sengaja mereka memilih lahir lebih awal, karena “informasi” yang mereka miliki, bahwa Krishna akan menjadi sangat sibuk. Jadi, antre duluan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sebanyak enam putra Devaki telah dibunuh oleh Kamsa. Nampaknya amat aneh bahwa dalam keadaan stres di penjara Vasudeva dan Devaki masih bisa berhubungan suami-istri dan melahirkan anak. Memang setiap melihat putra mereka dibunuh, mereka berjanji tidak akan berhubungan suami-istri lagi, akan tetapi saat bulan purnama, di mana air laut pasang, maka darah mereka pasang juga dan mereka lupa pada janjinya.

Kala Devaki sedang hamil anak yang ketujuh, seorang tabib istana memeriksa kandungan Devaki, dan berkata akan membantu mereka memindahkan janin mereka ke tempat Rohini, asalkan mereka setuju dan asal ada waktu kurang dari 6 jam untuk memindahkannya ke kandungan Rohini.

Rohini adalah istri pertama Vasudeva yang divonis mandul, yang bahkan menganjurkan Vasudeva agar menikah lagi dengan Devaki untuk mendapatkan seorang putra.

Singkat cerita, malam itu janin Devaki sudah dipindahkan ke rahim Rohini yang percaya pada sang tabib dan surat dari Vasudeva. Malam itu juga sang tabib kembali ke penjara dan menyampaikan bahwa segala sesuatunya berjalan lancar dan dia harus menyayat Devaki untuk mengatakan kepada Raja Kamsa bahwa Devaki mengalami keguguran.

Beberapa bulan kemudian Rohini hamil yang beritanya dirahasiakan dan Rohini dititipkan di Gokula di rumah Nanda, salah seorang sahabat Vasudeva.

Tidak berselang lama, Devaki pun mengandung putra kedelapan. Oleh Nanda, Rohini diperkenalkan sebagai kakak ipar Nanda. Kedatangan Rohini dianggap keberuntungan oleh keluarga Nanda, karena tidak lama kemudian istri Nanda juga mengandung. Dari rahim Rohini inilah akan lahir Balarama.

Pada suatu malam, lahirlah putra kedelapan Devaki, dan kebetulan para penjaga penjara sedang tidur setelah mabuk-mabukan sebelumnya. Vasudeva membantu kelahiran anaknya  yang “datang” lebih awal. Tidak seperti putra-putra sebelumnya, kali ini sang putra tidak menangis. Vasudeva segera mempraktikkan ilmu yang sudah lama dipelajarinya, dia bisa memperkecil tangannya sehingga bisa melepaskan diri dari belenggu dan kemudian mengambil kunci dari pinggang pengawal yang tidur bersandar di teralis penjara. Vasudeva membawa sang putra melewati sungai Yamuna ke tempat Nanda.

Pada malam itu kebetulan hujan lebat dan Yasoda juga berteriak akan melahirkan akan tetapi tidak terdengar oleh Nanda, sampai seorang putri lahir dan kemudian Yasoda pingsan. Malam itu Vasudeva menukar sang putra dengan putri Yasoda dan kembali ke penjara. Putra Devaki yang diletakkan di sebelah Yasoda menggantikan putrinya itulah yang nantinya disebut Sri Krishna.

Dalam penjara, sang bayi perempuan menangis dan mengejutkan sang penjaga yang segera melapor kepada Raja Kamsa.

Raja Kamsa mendatangi penjara dan berkata, “Wahai para peramal kerajaan, anak perempuan ini yang diramalkan untuk membunuhku?” Kamsa kemudian melemparkan sang bayi ke lantai. Tiba-tiba, bayi yang dilempar tersebut berubah wujud menjadi seorang wanita cantik, “Kamsa, aku Mahamaya, Kekuatan Ilahi yang berada di balik setiap kelahiran dan kematian. Ketahuilah bahwa putra kedelapan Vasudeva dan Devaki sudah pindah tempat dan semua itu terjadi karena kehendakku. Kelak, dia akan datang ke Mathura untuk membunuhmu!”

Bersamaan dengan kelahiran Krishna, sudah ada banyak gopi dan gopal, para penggembala hewan yang lahir lebih dulu di sekitar tempat kelahiran Krishna. mereka disebut-sebut sebagai reinkarnasi para pertapa yang telah mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu, tetapi belum mencicipi manisnya kasih. Mereka lahir kembali untuk menyelesaikan “skripsi”. Untuk mcngikuti “semester terakhir”. Sungguh beruntung mereka, karena Krishna menjadi dosen pembimbing mereka.

Sumber: berdasarkan buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kamsa: Residu Potensi Asura Dalam Diri #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 13, 2017 by triwidodo

Energi manusia, sesuai dengan tingkat kesadarannya, bekerja dalam tiga range yang berbeda:

  • Range pertama adalah Range Hewani, dimana instink-instink naluri hewani yang bekerja. Mati-matian mengejar harta, nama, kedudukan, melakukan seks, tidak peduli kenyamanan orang lain demi kenyamanan diri, anda berada dalam range ini.
  • Range kedua adalah Range Insani, dimana anda sudah bebas dari instink dan naluri hewani. Bisa jadi anda masih mengejar hal-hal diatas tetapi tidak secara mati-matian.
  • Range ketiga adalah Range Illahi, dimana anda mengikuti nurani, intuisi. Anda tidak mengejar hal-hal di atas, karena sadar tak ada yang langgeng. Cinta anda sudah berubah menjadi kasih, di mana anda akan memberi, memberi dan memberi. Bagimu pengorbanan adalah persembahan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna menjelaskan dalam Bhagavad Gita. Potensi hewan, atau kehewanian, atau lebih sopannya disebut insting-insting dasar, primitif, sesungguhnya tidakpernah mati sepenuhnya, tidak mati total. Dalam diri orang yang sudah tercerahkan pun, residue atau sisa-sisa insting itu masih ada, sehingga kita harus selalu berhati-hati. Kita harus selalu menyadar-nyadarkan diri. Bila tidak, kita bisa saja terseret lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

 

Setelah acara perhelatan perkawinan Devaki dengan Vasudeva selesai dan mereka akan pergi ke rumah Vasudeva, Kamsa sendiri yang bertindak sebagai sais kereta pengantin, yang menujukkan kecintaan Kamsa kepada saudaranya.

Kala kereta mulai berjalan, tiba-tiba ada suara membisiki Kamsa, “Kamu bodoh, Kamsa! Anak kedelapan dari perempuan yang akan kau bawa ke tempat tinggal suaminya itu akan membunuhmu!” Kamsa bergetar dadanya dan langsung turun dari kereta dan menyeret Devaki dan akan membunuhnya.

Kamsa sangat egois, demi kebahagiaannya, tidak peduli membunuh orang yang tidak bersalah. Kamsa masih berada dalam Range Hewani. Potensi raksasa tersisa dari  kehidupan masa lalu Kamsa sebagai Asura Kalanemi masih ada. Kamsa masih terkendali oleh fight or flight mechanism sehingga sangat egois, individualistik.

Celakanya, tidak seorang pun di antara kita yang bisa menganggap berada dalam wilayah aman. Kita semua belum aman. Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanlta, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada ‘pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah behas seperti Bola, dan berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola, masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri. Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Vasudeva mengingatkan Kamsa, “Wahai Kamsa, Engkau adalah seorang pangeran terhormat. Apakah engkau akan merusak nama baikmu dengan membunuh adikmu sendiri? Kematian adalah pasti. Yang lahir pasti mati. Kematian adalah pasti hanya waktu kematian yang bervariasi. Bila cahaya mengenai mangkuk berisi air yang bergoyang, maka yang bergoyang adalah airnya, sedangkan cahaya sendiri tidak bergerak.

“Demikian pula Atman. Pikiran kita tidak menyadari bahwa Atman itu bebas. Yang merasa membunuh dan dibunuh itu pikiran bukan Atman! Wahai Kamsa, langit tidak mengatakan adikmu akan membunuh kamu, biarkan adikmu hidup, langit mengatakan anak kedelapannya yang akan membunuhmu, dan aku akan menyerahkan setiap putraku yang baru saja lahir kepadamu!”

Vasudeva seakan-akan berkata spontan padahal Vasudeva mengikuti suara nuraninya yang yakin bahwa nanti akan ada jalan keluarnya. Kamsa berpikir sebentar dan kemudian menyetujui dan kemudian Vasudeva dan Devaki dibawa ke dalam ruang penjara di istana.

Setelah tiba waktunya, putra Devaki lahir dan dengan berat hati Vasudeva dikawal penjaga penjara menyerahkan sang putra kepada Kamsa. Kamsa berkata, “Aku diberitahu putra kedelapanmu yang akan membunuhku dan ini adalah putra pertama, maka aku tidak takut dengannya, bawalah kembali putramu!”

Setelah Vasudeva kembali ke penjaranya, Rishi Narada datang kepada Kamsa, “Para gembala di Gokula di bawah pimpinan Nanda semuanya adalah para dewa yang lahir ke bumi dengan perintah Narayana. Kemudian aku juga tidak berpikir bahwa kamu puas terhadap para putra Devaki. Berpikirlah sebentar siapa yang dimaksud putra kedelapan? Jika menghitung terbalik dari kedelapan, ketujuh dan seterusnya, maka putra pertama adalah kedelapan, jika menghitung dari yang kedua, ketiga dan seterusnya, maka yang kedelapan adalah putra pertama! Kamsa, kamu tidak ingat bahwa dalam kehidupan sebelum ini kau adalah seorang asura bernama Kalanemi yang matinya dibunuh oleh Narayana.”

Setelah menyebarkan benih keraguan pada diri Kamsa, Rishi Narada pergi. Kamsa semakin takut pada putra Devaki yang merupakan wujud dari Narayana yang lahir untuk membunuhnya.

Bisikan dari langit selaras dengan pikiran Kamsa yang menemukan jalan paling aman bagi kekuasaannya. Devaki yang sudah kawin dengan Vasudeva memang tidak membahayakan kekuasaanny., Namun putra-putra Devaki bisa mengganggunya, karena mereka keturunan Devaka. Sedangkan Mathura, selama Devaka masih hidup, diperintah bersama oleh Ugrasena, ayah Kamsa, dan Devaka, ayah Devaki. Demikian juga, yang peringatan Rishi Narada sesuai dengan pikiran Kamsa yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan segala cara.

Kamsa kemudian membunuh putra pertama Devaki dan selanjutnya Kamsa selalu membunuh putra-putra yang dilahirkan oleh Devaki. Selanjutnya, Kamsa mengurung ayahandanya di dalam penjara dan mengangkat dirinya sebagai Raja Mathura. Raja Jarasandha telah memberikan putrinya sebagai istri Kamsa. Koalisi Kamsa-Jarasandha sangat kuat di antaranya adalah para raja Pralambha, Baka, Chanura, Trinavarta, Aghasura, Mustika, Arista, Dhividha, Ratu Putana, Kesi, Dhenuka. Kecuali Kamsa dan Jarasandha, yang lain adalah para asura.

Banyak orang bertanya kepada Rishi Narada, akibat peringatanmu terhadap Kamsa, maka anak-anak tak berdosa dibunuh oleh Kamsa. Mengapa hal demikian kau lakukan?

Rishi Narada menjawab, “Anak-anak itu sebenarnya sudah mencapai kesadaran tinggi mada kehidupan sebelumnya. Tinggal lahir sekali lagi dan melunasi hutang-piutang karma yang tersisa. Dengan dibunuh Kamsa maka peran mereka di dunia terselesaikan.

Tugas Rishi Narada adalah tugas yang orang lain tidak bisa menyelesaikannya, bukan pemeran utama, tetapi memastikan bahwa sandiwara yang berlangsung sesuai skenario Gusti.

Sumber: berdasarkan buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)