Nahusha: Terpeleset Karena Mabuk Kekuasaan #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on June 26, 2017 by triwidodo

Berhati-hatilah dengan dunia. Berdayakan dirimu, sehingga para perampok tidak akan mendatangi dirimu. Interaksi antara panca indera dengan dunia benda, dan objek-objek duniawi, menimbulkan stimuli-stimuli dalam diri Anda. Lalu Anda tergoda dan terpeleset. Apabila itu yang terjadi, sesungguhnya Anda kena todong, kena rampok. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pururava mempunyai putra bernama Ayu. Dan Nahusha adalah putra Ayu yang menggantikan tahta sebagai raja. Nahusha adalah seorang raja yang baik dan bijaksana. Kekayaannya tak terukur dan wilayah kekuasaanya sangat luas. Nahusha melakukan beberapa yajna dan sudah dianggap setara dengan Indra.

Pada saat Indra membunuh brahmana asura Vishvarupa yang pernah membantu para dewa, hanya karena dalam pemujaannya mendahulukan asura daripada dewa, maka Indra telah melakukan Brahmahatya, pembunuhan brahmana. Dikisahkan, Indra berbagi akibat kesalahan membunuh seorang brahmana kepada tanah, air, pohon, dan wanita. Karena itu sebagian tanah menjadi gurun, sebagian pohon mengeluarkan getah yang dilarang diminum, sebagian air saat menjadi gelembung tidak dapat dimanfaatkan, dan wanita tak tersentuh saat periode datang bulannya.

Selanjutnya, pada saat Indra membunuh Vritra seorang brahmana asura titisan dari Raja Chitraketu yang berjiwa besar, maka kesalahan Indra sangat besar. Bumi tidak lagi sanggup menanggung kesalahan Indra seperti kala membunuh Vishvarupa. Dikisahkan bahwa Brahmahatya seakan-akan mengejar-ngejar Indra untuk membalas dendam dan Indra sangat menderita karena perasaan tersebut. Indra melarikan diri dan masuk Danau Manasa yang dijaga oleh Lakhsmi dan Brahmahatya tidak bisa mendekati danau tersebut.

Selama seribu tahun Indra berlindung di danau Manasa dan melakukan tapa. Setelah melakukan tapa penebusan dosa selama seribu tahun, Indra akhirnya dibersihkan dari Brahmahatya dan dipanggil ke surga oleh Brahma. Selama ketidakhadiran Indra, Raja Nahusha telah diminta para dewa untuk memerintah para dewa di surga sebagai pengganti Indra.

Dengan  berjalannya waktu, Nahusha menjadi angkuh. Ia menyimpang dari kebenaran karena mulai mabuk dengan kekuasaan. Selama Nahusha menjadi pengganti Indra dia dihormati dan pergi ke mana pun selalu memakai tandu yang dipanggul para rishi. Dan, Nahusha lupa bahwa para rishi menghormati statusnya sebagai pejabat sementara Raja Dewa. Nahusa mabuk kekuasaan. Bahkan dia mulai berkeinginan mengambil Saci, istri Indra sebagai istrinya. Dia menyuruh para rishi memanggul tandu menuju tempat Saci. Nahusha tidak sabar dengan jalannya para rishi dia berkata, “Lebih cepat, lebih cepat, Sarpa, Sarpa!”

Rishi Agastya mengetahui apa yang ada dalam pikiran Nahusha, dan segera menghentikan tandu dan berkata. “Kamu tidak mengetahui apa yang sedang kamu katakan dan apa yang akan kamu lakukan. Kamu akan menjadi sarpa, bukan sarpa yang dapat bergerak untuk mendapatkan makanannya. Akan tetapi, kamu akan menjadi ular sanca yang harus menunggu makanannya datang. Kamu akan berada di Hutan Dwaitavana, hutan dualitas selama ribuan tahun!”

Ketika dikutuk Rishi Agastya, Nahusha dibersihkan dari keangkuhannya. Dan, kemudian dengan kerendahan hati Nahusha berkata, “Aku layak mendapat hukuman yang lebih buruk. Mohon berkahi diriku!”

Rishi Agastya sadar bahwa semuanya harus terjadi, dia hanyalah “Alat” dari Gusti Yang Maha Kuasa. Rishi Agastya berkata, “Kutukan tidak dapat ditarik. Kamu akan lepas dari kutukan pada zaman Dvapara Yuga. Dalam garis keturunanmu akan ada ksatria agung bernama Yudhisthira. Ia merupakan “amsa” dari Dharma. Ia akan melepaskanmu dari kutukan dan pikiranmu menjadi jernih kembali. Dan, kamu akan kembali ke surga.

Rishi Agastya, seorang chiranjivin, yang dikaruniai usia panjang, dikenal di tanah air sebagai Semar, seorang Prajapati, Pengurus Alam Semesta anggota Sapta Rishi.

Vishvamitra: Tekad Berjuang menuju Brahmarishi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 25, 2017 by triwidodo

Tergoda oleh Bidadari Menaka

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

…………….

Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanita, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah bebas dan berada dalam wilayah aman. Kita semua masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri.

Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya. retrievable files purva samskara hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dewa Indra yang takut pada kesaktian Kaushika yang semakin keras bertapa, mengutus bidadari Menaka, untuk menggoda. Kaushika tergoda dan hidup bersama Menaka selama 5 tahun dan lahirlah Shakuntala yang nantinya menjadi ibu dari Bharata, nenek moyang Pandawa dan Hastina.

Walaupun sudah lama bertapa, Rishi Kaushika masih terpicu juga dengan kejelitaan bidadari Menaka. Masih ada purva samskara, kesan-kesan masa lalu sang rishi yang bisa terpicu.

Sebetulnya dengan datangnya Bidadari Menaka, Keberadaan mengajari kelembutan terhadap Kaushika.

Wanita tidak lemah, tetapi lembut. Seperti kelembutan bunga. Bagaimana Anda menangani sekuntum bunga? Dengan cara yang sama pula Anda harus menangani seorang wanita. Sesungguhnya, dia memberi Anda kesempatan untuk menjadi “lebih” lembut. Hubungan Anda dengan seorang wanita, entah dia pasangan Anda, ibu Anda, saudara Anda, kekasih Anda atau siapa pun dia, merupakan Rahmat Allah. Lewat hubungan itu, Allah sedang “melembutkan” jiwa Anda. Lewat hubungan dengan wanita-wanita di sekitar Anda, Allah sedang mengguyuri jiwa Anda, menyirami jiwa Anda dengan Air Kasih. Dengan kelembutan kasih. Allah sedang mengangkat derajat Anda. Allah sedang meningkatkan kesadaran Anda. (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Puasa Bicara

Ucapan ibarat napas yang dihembuskan di depan cermin. Sebersih-bersihnya cermin itu untuk sesaat akan berkabut, sehingga wajah kita tidak akan terlihat jelas. Lalu, jika Anda sudah mendengarkan suara hati nurani dan sudah tidak mengabaikannya lagi, jangan berisik. Jangan pamer. Jangan cepat-cepat menganggap diri Anda hebat.

Belajarlah untuk menyimpan rahasia. Diam-diam saja. Karena, setiap kata,setiap ucapan akan menciptakan “kabut keangkuhan”. Dan ‘cermin kesadaran’ pun akan berkabut kembali. Anda tidak akan bisa melihat wajah Anda yang sebenarnya, yang hakiki. Anda tidak akan bisa menemukan jati diri. Hindari kata-kata. Hindari banyak bicara. Seorang penyelam meditasi tahu persis apa yang dimaksudkan oleh sang maulana. Dia menyadari bahaya yang disebabkan oleh banyak bicara. (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Setelah mendapatkan pelajaran kelembutan, Kaushika kembali meneruskan bertapa selama 1.000 tahun. Takut tersaingi Kaushika, Indra kembali mengutus bidadari Rambha untuk menggoda, tetapi kali ini Kaushika tidak tergoda, bahkan mengutuk Rambha untuk hidup sebagai manusia selama 1.000 tahun di dunia.

Dengan perenungan selama 1.000 tahun, Kaushika sudah tidak tergoda oleh bidadari lagi. Akan tetapi, tiba-tiba kesadaran Kaushika muncul, bahwa dia belum bisa mengendalikan diri dan masih sering mengutuk. Padahal dia sudah belajar kelembutan dari Menaka sebelumnya. Potensi kekerasan masih ada dalam dirinya.

Selanjutnya Kaushika segera meneruskan tapanya dengan membisu. Tak mau bicara dengan siapa pun. Bukan hanya diam agar tidak menyakiti orang lain, Kaushika pun diam agar tidak ada keangkuhan dalam dirinya untuk memperlihatkan kelebihannya.

Para dewa menghormati semangat tak kenal lelah Kaushika dan memberinya gelar Brahmarishi kepadanya. Akan tetapi, hal tersebut belum memuaskannya, dia hanya mau menyudahi tapanya bila Rishi Vasishtha mengakui dirinya adalah seorang rishi.

Dengan sabar Rishi Vasishtha mendatangi Kaushika dan mengakui Kaushika sebagai rishi yang bergelar Rishi Vishvamitra, Sahabat Sahabat Alam Semesta. Rishi Vasishtha berkata, “Saat ini sudah kutunggu lama, akhirnya Rishi Vishvamitra menjadi mitraku sebagai Guru Sri Rama. Semoga kita diberkahi Sri Rama, Dia Yang Berada di Mana-Mana.”

Demikian perjalanan hidup seorang raja yang tak kenal lelah berupaya meningkatkan kesadaran, yang akhirnya menjadi Brahmarishi dan guru dari seorang avatara. Rishi Vishvamitra sejak zaman dulu sudah menjadi Guru dari Dinasti Surya, sejak Raja Trishanku, Harischandra putra Trishanku, Rohita putra Harischandra dan setelah beberapa generasi akhirnya menjadi guru Sri Rama, seorang avatara. Dan setelah perkawinan Sri Rama dengan Sita, tugasnya selesai dan dia pergi ke pegunungan Himalaya.

Vishvamitra: Keberanian Melawan Dewa #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 23, 2017 by triwidodo

Dalam kisah Kaushika disampaikan tentang kekuatan dirinya akibat bertapa, berikut penjelasan tentang Siddhi atau kekuatan-kekuatan metafisik dalam buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Siddhi adalah kekuatan-kekuatan metafisik atau suprasensorik,

yang bisa Anda peroleh dengan menjalankan disiplin tertentu. Kekuatan-kekuatan yang dimaksud adalah:

  1. Anima: Kekuatan untuk memperkecil tubuh sampai seukuran atom
  2. Mahima: Kekuatan untuk memperbesar tubuh sampai ukuran yang tak terbatas
  3. Garima: Kekuatan untuk menjadi berat tanpa batas
  4. Laghima: Kekuatan untuk menjadi ringan tanpa batas
  5. Prapti: Kekuatan untuk mengakses semua tempat
  6. Prakamya: Kekuatan untuk mewujudkan semua keinginan
  7. Istiva: Kekuatan untuk memiliki apa saja
  8. Vasitva: Kemampuan untuk menaklukkan segalanya

 

Dari sudut pandang psikologis, hal-hal tersebut di atas adalah puncak pencapaian kehidupan manusia:

  1. Anima adalah kemampuan untuk merelakan
  2. Mahima adalah kemampuan untuk memperluas kesadaran
  3. Garima adalah kemampuan untuk membulatkan tekad
  4. Laghima adalah kemampuan beradaptasi
  5. Prapti adalah kemampuan untuk memahami ilmu-ilmu duniawi
  6. Prakamya adalah kemampuan untuk mengetahui sifat keinginan
  7. Isitva adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang baik bagi Anda
  8. Vasitva adalah kemampuan untuk mengendalikan indera-indera Anda

 

Bagaimana kita memperoleh kemampuan-kemampuan tersebut?

  • Lepaskan segala emosi yang tidak diperlukan, pikiran yang menganggu, kekhawatiran, kegundahan, serta ingatan-ingatan yang penuh kepedihan.
  • Kembangkan pemahaman yang holistik terhadap hidup. Keluarlah dari cangkang Anda, lihatlah sekeliling. Hidup ini indah adanya. Anda indah adanya. Yang berlalu telah berlalu, Anda tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tidak ada gunanya bernostalgia terhadap masa lalu atau menyesali apa yang telah Anda perbuat. Lanjutkan perjalanan Anda! Dan, berhentilah mengkhawatirkan masa depan. Hiduplah dalam kekinian. Fokuslah pada apa yang Anda kerjakan, dan lakukan yang terbaik yang dapat Anda kerjakan. Masa depan Anda bergantung pada apa yang Anda lakukan hari ini, sekarang juga. Sesungguhnya Anda mampu membangun, merancang, dan membentuk masa depan Anda. Andalah pengendali hidup Anda sendiri. Tetaplah menjadi pengendali hidup Anda.
  • Ya, Anda bisa! Jangan ragukan kemampuan Anda untuk mencapai apa saja.
  • Hidup dan menghidupi. Berbagilah, pedulilah serta bekerjasamalah.
  • Anda terlahir dengan kemampuan untuk mengetahui dan mengembangkan semua jenis skill. Anda tidak lebih rendah dari siapa pun. Tingkatkan kemampuan Anda serta asahlah kemampuan Anda.
  • Kenali perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan. Anda bisa hidup tanpa keinginan, tetapi tidak tanpa kebutuhan. Ingatlah bahwa Keberlimpahan adalah nama lain bagi Ibu Pertiwi. Sang Bunda tidak akan pernah memisahkan Anda dari yang benar-benar Anda butuhkan.
  • Yang menyenangkan belum tentu memuliakan, maka, cari yang memuliakan bukan yang menyenangkan. Maka Anda tak akan pernah tersesat.
  • Perhatikanlah panca-indera Anda, organ-organ indera Anda serta kemelekatan mereka pada kenikmatan-kenikmatan semu. Banyak dari kemelakatan-kemelekatan tersebut yang berbahaya. Jangan biarkan mereka memperbudak Anda. Jadilah tuan bagi mereka.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan bahwa Raja Trishanku dari dinasti Surya ingin ke surga bersama raganya. Sang raja meminta Rishi Vasishtha mengabulkan permohonannya, tetapi dia ditolak. Ketika sang raja memohon kepada para putra Vasishtha, mereka bahkan mengutuknya menjadi seorang chandala, sehingga tak ada seorang pun yang mengenalinya, kemudian dia pergi mengembara dan tidak kembali lagi ke istana.

Dalam pengembaraannya, sang chandala bertemu dengan Kaushika yang sedang bertapa. Kaushika mengenali bahwa sang chandala adalah Raja Trishanku. Raja Trishanku berkata, “Sewaktu menjadi raja, aku selalu berbuat baik dan tak pernah menyimpang dari dharma, tetapi putra Vasishtha telah mengutukku, kami memohon pertolonganmu.”

Rishi Kaushika membantu Raja Trishanku, dan bahkan mengusahakan Raja Trishanku dapat naik ke surga bersama tubuhnya. Ketika Raja Trishanku naik ke surga dan dan ditolak Indra, Rishi Kaushika kemudian membuatkan surga khusus bagi Trishanku, dan para dewa terpaksa menyetujuinya karena takut kepada kesaktian Rishi Kaushika.

Pada suatu saat, Rishi Kaushika terketuk oleh pengorbanan Brahmana Ajigarta yang merelakan putranya menjadi persembahan Varuna, agar cucu Raja Trishanku yang menjadi putra mahkota selamat. Rishi Kausika kemudian memanggil seratus putranya agar ada salah satu yang sanggup berkorban menggantikan putra Ajigarta. Separuh putranya menolak dan beralasan mengapa putra seorang raja yang menjadi rishi menggantikan putra brahmanaa tak terkenal sebagai korban persembahan.

Kemudian kelimapuluh putranya dikutuk menjadi pengikut suku liar Nisadha, suku pemakan anjing, selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut bisa dimaknai, bahwa seorang putra yang tidak patuh dan tidak berbhakti kepada orang tuanya, akan lahir kembali selama beberapa kehidupan sebagai penjaga setia yang patuh kepada majikan, layaknya anjing yang patuh pada tuannya. Utangnya adalah kesetiaan mengabdi, sehingga karena tidak mengabdi kepada orang tua, maka dia harus mengabdi pada seorang majikan dalam beberapa generasi.

Demikian pula kala Rishi Kaushika sedang mengadakan upacara persembahan agar Raja Trishanku bisa naik ke surga, para putra Vasishtha datang melecehkannya, “Bagaimana bisa seorang bekas raja dapat menaikkan seorang chandala ke surga.”

Para putra Vasistha pun kemudian dikutuk  Kaushika menjadi pengikut suku liar Nisadha selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut dapat dimaknai, para brahmana (putra Vasishtha) yang membuat seorang raja (Trishanku) menjadi chandala, dan menyepelekan tapa seorang ksatria, maka dia pun harus merasakan bagaimana penderitaan seseorang  akibat perbuatannya dan bagaimana rasanya disepelekan masyarakat. Mereka yang suka mempersulit kehidupan orang lain harus segera sadar.

Rishi Vasishtha memang bijaksana dan tidak mempunyai keterikatan terhadap keluarga. Rishi Vasistha, tidak marah putra-putranya dikutuk, karena berpendapat sebuah kutukan hanya dapat terjadi karena adanya keselarasan dengan hukum sebab-akibat. Kesalahan masa lalu bisa saja memberikan akibat pada saat ini.

Kita berlu merenungkan tindakan Rishi Vasishtha, putra-putra kandung adalah para putra pada kehidupan saat ini. Sudah ribuan putra dalam ribuan kehidupan dimiliki dalam kehidupan sebelumnya. Putra sejati seorang Guru adalah para murid, yang ingin meningkatkan kesadaran melalui dirinya sebagai seorang Guru.

Vishvamitra: Makna Tapa Kaushika #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 22, 2017 by triwidodo

Makna bertapa dalam kisah Srimad Bhagavatam dan konteks masa kini

Tapah, bertapa atau mendisiplinkan diri; Svadhyaya, mempelajari kitab-kitab suci, atau mempelajari Sifat Diri yang Sejati; dan Isvara Pranindhana,Penyerahan diri pada Isvara, Ilahi Hyang Menerangi Sanubari setiap makhluk—inilah Kriya Yoga, Yoga atau Disiplin dalam Laku atau Perbuatan. Yoga Sutra Patanjali II.1

Tapah, biasa diterjemahkan sebagai “tapa” dalam konteks “bertapa”. betul, istilah “tapa” dalam bahasa kita berasal dari tapah, namun pengertiannya bukanlah sekadar menjauhkan diri dari keramaian dunia, dan menyepi di hutan—lalu duduk manis bersila, memejamkan mata, dan tidak bergerak selama berjam-jam.

……………

Tapah bukanlah tujuan. Tapah adalah Pemanasan-Diri, warming-up, Laku-Awal untuk mempersiapkan diri.  Sebab itu, para Sophy atau Sufi mewajibkan setiap pemula, setiap novice untuk menyepi selama 40 hari. Setelah masa tersebut berakhir, barulah mereka diberikan pelajaran, dipandu. Masa Sepi atau Pemanasan-Diri itu penting untuk menguatkan niat dan tekad para pemula. Jika tidak mampu, silakan meninggalkan padepokan.

Tradisi mistisisme Kristiani mengenal berbagai macam retret. Dari yang singkat selama beberapa hari, hingga yang bersifat sepanjang usia, seperti yang dilakukan oleh para petapa Trappists.

Demikian, sesungguhnya Tapah dikenal dalam semua tradisi, semua ajaran Spiritual. Tujuannya pun sama, yaitu untuk pemanasan diri, untuk persiapan supaya seorang sadhaka, seorang seeker atau aspirant, seorang pelaku spiritual bisa “tahan banting”. Tanpa ‘pertahanan diri’ prima seperti itu, sadhana is simply not possible. Seseorang tak akan mampu melanjutkan disiplin diri hingga mencapai tujuan akhirnya, yaitu samadhi, pencerahan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Memperoleh Brahmastra dari Shiva

Pasukannya dikalahkan pasukan sapi Sabala milik Rishi Vasishtha, Raja Kaushika merasa sangat malu. Ternyata kekuatan seorang raja tidak dapat mengalahkan kekuatan seorang rishi. Raja Kaushika pulang ke istana menyerahkan singgasana kepada putra mahkotanya dan pergi bertapa.

Dengan tapa kerasnya, Shiva berkenan memberikan panah Brahmastra. Dengan panah tersebut, Kaushika kembali mendatangi ashram Rishi Vasishtha. Ashram tersebut dapat dihancurkan dengan panah Brahmastra. Kaushika berhadap-hadapan dengan Rishi Vasishtha yang membawa tongkat Brahmadanda.

Ternyata anak panah Brahmastra dari Kaushika terserap oleh tongkat Brahmadanda. Kembali Kaushika mengalami kekalahan dari Rishi Vasishtha.

Kaushika kembali bertapa selama ribuan tahun ingin menjadi rishi yang dapat menandingi Rishi Vasishtha.

 

Ber-tapah atau bertapa berarti bekerja keras, berkeringatan, tidak bersikap pasif. Keuletan, Kecekatan, Kepandaian dalam pengertian memiliki skill dan mengasah diri secara terus-menerus, semua ini adalah tapah.

Arti harfiah dari kata tapah sebagaimana telah klta bahas adalah “berpanasan”—memanaskan-diri. Tidak malas, tidak sontoloyo, tidak pernah memberikan alasan, “Tunggu sebentar ya, saya tidak bisa didorong-dorong seperti itu. Saya makhluk luar angkasa, tidak terbiasa di-push, ditekan seperti itu.”

Jika kita tidak bisa, tidak mampu bekerja under great pressure—di bawah tekanan yang luar biasa—maka kita belum bisa ber-tapah, dan sebab itu pula kita belum bisa memasuki Yoga. Tiada Yoga tanpa tapah. Yoga bukanlah sesuatu untuk bermain-main.

Seandainya kita menghendaki keadaan yang adem-ayem saja, maka tapah bukanlah untuk kita, Yoga belum menjadi kebutuhan kita. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.32 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Merasa masih kalah dengan Rishi Vasishtha, Kaushika kembali melakukan tapa dan berkat kerja kerasnya memperoleh banyak siddhi, kekuatan alam. Dia dikenal sebagai Rishi Kaushika.

Silakan ikuti kisahnya lebih lanjut……

Vishvamitra: Putra Raja dengan Cetak Biru Seorang Rishi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 21, 2017 by triwidodo

Catur Varna: Empat Kelompok Masyarakat yang, awalnya, tidaklah dibagi berdasarkan kelahiran, keturunan, dan darah, tapi berdasarkan potensi diri dan profesi seseorang.

Kelompok-kelompok tersebut adalah: Pertama, Kelompok Brahmana atau Cendekiawan – para pemikir, pendidik, guru pengajar, ahli kitab atau ritus, pendeta, dan sebagainya. Profesi mereka sesuai dengan potensi diri mereka, yaitu untuk mendidik anak bangsa; mengarahkan masyarakat; menasihati pemerintahan, dan sebagainya.

                Kedua, Kelompok Ksatriya atau Kesatria adalah para politisi, diplomat, para abdi negara, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.

Ketiga, Kelompok Vaisya atau Pengusaha — jelas, berprofesi sebagai pedagang, industrialis, bankir, dan sebagainya.

Dan, Keempat, Kelompok Sudra, atau Kaum Pekerja. Mereka adalah para pelaksana, para profesional. Tanpa bantuan mereka, ketiga kelompok sebelumnya tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Pengelompokan ini bukanlah untuk mengangkat, meninggikan satu kelompok dan merendahkan atau menistakan kelompok lain. Sama sekali tidak demikian.

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Jika kita memperhatikan keadaan saat ini……. Kekacauan yang sama telah terjadi. Setiap kelompok ingin berkuasa, menjadi raja. Mereka ramai-ramai memasuki arena politik untuk berlomba.

Jumlah kursi jelas jauh lebih kecil, lebih sedikit dari jumlah para peserta lomba. Maka terjadilah sikut-menyikut. Terjadilah politik dagang sapi, dagang kuda, dagang kecoa, dagang nyamuk, dagang semut, dan entah dagang apa lagi. Dagang daging, barangkali.

Kita melupakan potensi diri – Berpotensi sebagai pendidik, tapi menjadi politisi. Berpotensi sebagai abdi negara, tapi lebih suka dagang karena “duitnya banyak.” Sebaliknya, pengusaha menginginkan kekuasaan, dan masuk politik. Penjelasan Bhagavad Gita 4:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Raja Gadhi anak keturunan Pururava sudah lama tidak mempunyai putra sebagai calon pengganti saat dia melepaskan jabatan dan pergi melakukan Vanaprastha, meninggalkan istana fokus pada Gusti Pangeran. Dia hanya memiliki satu anak perempuan bernama Putri Satyavati yang kawin dengan Rishi Ruchika putra Rishi Chyavana. Sang permaisuri dan putrinya minta tolong Rishi Ruchika agar mereka dapat memperoleh putra. Sang Permaisuri ingin putra ksatria yang perkasa sedangkan putrinya ingin putra brahmana yang bijaksana.

Rishi Ruchika mempersiapkan 2 mangkuk air bagi permaisuri dan istrinya, kemudian pergi melakukan sadhana di sangai. Sang permaisuri merasa menantunya pasti ingin memberikan putra yang terbaik bagi istrinya, maka dia minta tukar mangkuk dengan putrinya.

Demikianlah Putri Satyavati memberitahu kepada Rishi Ruchika apa yang telah terjadi. Rishi Ruchika berkata bahwa demikianlah takdir, Kehendak Gusti. Satyavati akan mempunyai putra berkarakter ksatria perkasa. Satyavati mohon agar diusahakan mempunyai putra brahmana. Rishi Ruchika hanya menyanggupi kelahiran sang ksatria ditunda satu generasi. Akhirnya lahirlah putra Satyavati sebagai Rishi Besar Jamadagni dan cucunya adalah Avatara Parashurama, brahmana yang berwatak ksatria.

Sesuai kutipan penjelasan Bhagavad Gita di atas:

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Avatara Parashurama adalah brahmana yang berkarakter ksatria pembasmi para ksatria yang menindas kelompok-kelompok lain tersebut.

 

Putra Raja Gadhi adalah Kaushika yang menjadi raja adil dan bijaksana. Bagaimana pun Blueprint, Cetak Biru Gusti menetapkan yang lain. Apakah dia akan menjadi Rishi Besar sesuai ramalan Rishi Ruchika?

Alkisah pada suatu hari, Raja Kaushika beserta pasukannya mengunjungi Rishi Vasishtha. Rishi Vasishtha sangat senang dan ingin menjamu sang raja dengan seluruh prajuritnya. Raja Kaushika tidak mau merepotkan sang rishi. Diterima saling tukar pikiran dan menanyakan masalah yang dihadapi masing-masing sudah sangat membahaagiakan.

Rishi Vasishtha memanggil sapi Sabala yang indah dan berkata persiapkan jamuan bagi para raja dan seluruh prajuritnya. Raja dan seluruh prajuritnya menikmati hidangan yang sangat lezat. Rishi Vasishtha menjelaskan bahwa sapi Sabala adalaah anak sapi Kamadhenu yang keluar dari samudra susu saat para dewa dan asura mengaduk samudra.

Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/14/amrita-keabadian-demi-ego-asura-atau-pelayanan-dharma-dewa-srimadbhagavatam/

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/10/kurma-avatara-mendukung-perjuangan-gigih-memperoleh-amrita-srimadbhagavatam/

Raja Kaushika ingin menukar sapi Sabala dengan emas, permata atau ribuan gajah, karena sapi tersebut sangat diperlukan bagi kerajaan. Rishi Vasishtha menolak, karena Sabala adalah berkah Gusti dan sabala seperti putranya sendiri.

Karena tetap teguh menolak, maka sang raja minta pasukannya, menarik paksa Sabala dari ashram sang rishi. Sabala menangis karena merasa Rishi Vasishtha membiarkan peristiwa tersebut. Melihat Sabala tidak rela dibawa prajurit, Rishi Vasishtha berkata agar Sabala mengeluarkan pasukan yang sebanding kekuatannya dengan pasukan sang raja. Pasukan Raja Kaushika mengalami kalah telak dari pasukan ciptaan Sabala dan sang raja pulang ke istana dengan rasa kecewa.

Silakan ikuti kisah selanjutnya……

Avatara Parashurama: Brahmana dengan Karakter Kshatriya #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 20, 2017 by triwidodo

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak.

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:7 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Renuka adalah istri dari Rishi Jamadagni, Rishi Besar dari Dinasi Bhrigu. Renuka mempunyai putra empat orang akan tetapi semuanya tidak mempunyai karakter ksatria. Padahal Satyavati, ibu mertua mereka menceritakan bahwa salah seorang putranya akan mempunyai karakter seorang ksatria sejati.

Pada saat Renuka mengandung calon putra yang kelima, para rishi datang menyampaikan berita bahwa putranya akan menjadi brahmana yang bersifat ksatria dan akan membersihkan dunia dari para ksatria yang telah berkubang adharma.

Pada saat itu para ksatria yang menjadi penguasa yang seharusnya melindungi rakyat, malah menindas rakyatnya. Akhirnya, putra kelima lahir diberi nama Rama, yang bermakna Dia Yang Berada di Mana-Mana. Setelah besar dia dikenal sebagai Parashurama, karena dia bersenjatakan “parashu”, kapak. Dia juga dikenal sebagai Rama Barghava karena merupakan keturunan dari Dinasti Bhrigu. Sejak kecil sudah diramalkan para rsi bahwa dia adalah Avatara, Sang Pemelihara Alam yang mewujud untuk menegakkan dharma.

Dikisahkan, ada seorang raja perkasa dari kerajaan Hehaya bernama Kartawiryarjuna atau Sahasrarjuna. Pada suatu hari Raja Kartawiryarjuna selesai berburu dengan para prajuritnya mampir ke pertapaan Rishi Jamadagni. Mereka dijamu dengan baik oleh sang rishi. Sang raja bertanya bagaimana dia bisa menjamu begitu banyak prajuritnya dengan sempurna, yang dijawab bahwa semua dilakukan oleh sapi sakti Kamadhenu.

Setelah sampai di istana sang raja mengutus pasukannya untuk mengambil paksa sapi Kamadhenu milik Rishi Jamadagni yang bisa menghasilkan makanan bagi banyak prajurit. Parashurama yang mendengar hal tersebut langsung membawa kapaknya dan membunuh sang raja serta para prajurit yang melindunginya.

Rishi Jamadagni berkata pada Parashurama, “Putraku, tindakanmu akan disalahpahami sebagai seorang yang telengas, mudah membunuh. Padahal aku tahu alasanmu. Seorang raja yang sering melakukan kejahatan besar, kalau dibiarkan hidup terlalu lama, maka  perbuatannya akan semakin parah.  Dan, dalam kehidupan mendatang dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, sehingga hidupnya akan sangat sengsara.

“Pembunuhan yang kaulakukan membuat hutang karma sang penjahat sudah terbayar dengan kematiannya di dunia. Selain itu dengan  dibunuhnya para raja yang jahat, maka masyarakat yakin adanya keadilan, bahwa kejahatan apa pun akan dikalahkan.

“Pandangan hidupmu akan sering disalahpahami. Bahkan mungkin saja kau punya alasan sendiri yang tidak kuketahui. Karena kau adalah Vishnu yang mewujud untuk menegakkan dharma.”

Selanjutnya Rishi Jamadagni minta agar Parashurama melakukan ziarah ke semua sungai suci selama satu tahun. Selesai mengadakan tirtayatra selama satu tahun Parashurama pulang ke rumah.

Renuka, ibu Parashurama,  adalah seorang istri yang setia dan selalu mengambil air dari sungai di bawa ke rumah. Pada suatu hari saat Renuka mengambil air di sungai dan dia melihat Gandharva Citrasena yang sangat tampan sedang bermain air dengan istrinya. Renuka terpesona sampai agak lama berada di sungai. Sepanjang jalan dalam pikirannya hanya terbayang ketampanan sang gandharva.  Penyebab keterlambatan Renuka pulang ke rumah diketahui oleh Rishi Jamadagni.

Rishi Jamadagni ingin segala sesuatu segera diselesaikan di kehidupan ini. Obsesi yang tidak selesai di dunia ini akan menyebabkan seseorang lahir lagi untuk mengejar obsesi tersebut. Rishi Jamadagni segera menyuruh empat putranya untuk membunuh Renuka, ibunya. Dan semua putranya ragu-ragu untuk melaksanakannya.

Kemudian Rishi Jamadagni berpaling ke Parashurama, “Parashurama bunuh ibumu dan saudara-saudaramu semuanya.” Dan, Parashurama melakukannya dengan patuh.

Rishi Jamadagni kemudian berkata, “Aku senang kau patuh padaku dan yakin pada kebijaksanaan ayahandamu. Sekarang kau minta anugerah apa pun kau akan kuberi.”

Parashurama menjawab, “Ayahanda aku minta anugerah untuk menghidupkan mereka semuanya dan begitu mereka bangun mereka lupa tentang apa yang telah terjadi.”

Rishi Jamadagni menyetujui dan ibu serta saudara-saudara Parashurama hidup lagi dan lupa dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Mati dibunuh seorang avatara berarti selesai sudah hutang-piutang karmanya dan lahir lagi dengan diri yang bersih. Kita akan banyak membaca hal-hal demikian dalam Kisah-Kisah Srimad Bhagavatam tentang Sri Krishna nanti.

Pada suatu ketika, saat Parashurama bersama saudara-saudaranya ke hutan, para putra Kartawiryarjuna membunuh Rishi Jamadagni dan kemudian kabur.  Mengetahui hal tersebut Parashurama membunuh semua putra-putra Kartawiryarjuna dan setelah itu mulai membinasakan seluruh ksatria yang jahat di dunia.

Semua raja dan ksatria jahat di dunia dibunuh olehnya dan konon dia berkeliling dunia selama duapuluh satu kali. Dan, darah para raja dan ksatria dikumpulkan pada lima danau yang disebut Samantapancaka yang terletak di dekat padang Kurukshetra yang nantinya akan menjadi medan pertempuran Bharatayuda nantinya.

Dikisahkan Parashurama mendatangi para raja dan mengajaknya berduel perang tanding satu lawan satu. Raja yang tidak mau beeperang tanding dan menyerah dan berjanji memimpin kerajaan dengan baik akan dibiarkannya hidup. Parashurama meminta putra dari raja yang dibunuhnya untuk menggantikan ayahnya.

Meskipun jumlah ksatria yang mati dibunuh Parasurama tidak terhitung banyaknya, namun tetap saja masih ada yang tersisa hidup. Di antaranya adalah para ksatria dari Dinasti Surya yang berkuasa di Kerajaan Ayodhya. Salah seorang keturunan dinasti tersebut adalah Sri Rama, putra Dasaratha. Parashurama mendatangi dan menantang Sri Rama. Parashurama mendengar Sri Rama dapat mematahkan Busur Shiva dan menyunting Sita. Dia meminta Sri Rama menarik tali Busur Vishnu kepunyaannya. Sampai saat itu tak ada seorang pun kecuali dia sendiri yang dapat menarik tali busur tersebut.

Sri Rama berhasil menarik tali Busur Vishnu dan berkata busur sudah kutarik sekarang siapa yang akan menjadi targetnya? Parashurama melihat siapa sejatinya yang telah menarik busurnya. Dia merasa peran Avatara Vishnu baginya sudah berakhir. Dia segera pamit pergi ke Himalaya bertapa. Seluruh kekayaannya dibagikan kepada semua brahmana di sepanjang perjalanannya. Diyakini Parashurama masih hidup karena menerima berkah sebagai Chiranjivin yang berusia panjang. Satu kalpa.

Avatara Parashurama: Akibat Beda Pikiran Permaisuri, Anak dan Menantu #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 19, 2017 by triwidodo

 

Kita dapat mengharapkan sesuatu pada anak kita, pasangan kita, tapi mereka mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan kita. Saya ingin dia memperhatikan saya itu keinginan saya. Bagaimana dengan keinginan dia. Akan selalu ada konflik, tak ada dua mind, pikiran yang sama. Sekalipun dalam satu pikiran kita saja, banyak konflik yang terjadi. Walaupun orang yang satu ranjang dengan kita, selalu saja berbeda mind-nya. Kutipan berdasarkan terjemahan bebas video Youtube Bapak Anand Krishna How to deal with life disappointment.

Ada mind, ada inteligensia. Bukan intelek, tetapi inteligensia, karena intelek masih merupakan bagian dari mind. Penghalusan mind itulah intelek. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Dikutip dari buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001

Raja Gadhi adalah generasi ke 14 dari keturunan Raja Pururava. Sang raja sudah lama belum mempunyai putra, walau sudah mempunyai putri seorang gadis bernama Satyavati. Adalah seorang rishi bernama Ruchika yang merupakan rishi besar putra Rishi Chyavana, anak keturunan Rishi Brighu putra Brahma, melamar sang putri.

Silakan baca ulang tentang Rishi Chyavana: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/06/02/putri-sukanya-temukan-gusti-lainnya-akan-ditambahkan-srimadbhagavatam/

Dan https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/06/01/sukanya-pengorbanan-putri-jelita-srimadbhagavatam/

Sang raja menyetujui asalkan sang rishi dapat memberikan 1.000 ekor kuda putih yang telinganya berwarna hitam sebagai mas kawin. Rishi Ruchika bertapa dan meminta kepada Varuna, raja samudra untuk membantunya. Dengan bantuan Varuna, sang rsi berhasil membawa persyaratan tersebut dan dia menjadi suami dari Satyavati.

Pada masa itu, para rishi dipandang sebagai manusia terhormat yang tidak begitu terikat dengan keduniawian dan tugasnya mengajar manusia ke arah kebaikan. Sedangkan para ksatria dan para raja yang berkuasa pada masa itu sering menyalahgunakan kekuasaannya.

Kedua ibu dan anak, Permaisuri Raja Gadhi dan Satyavati, meminta tolong Rishi Ruchika, suami Satyavati agar dapat membantu mereka memperoleh putra. Rishi Ruchika kemudian mempersiapkan dua mangkuk berisi air untuk diminum istri dan ibu mertuanya. Kemudian sang rishi pergi ke sungai melaksanakan ritual doa saat matahari mulai tenggelam.

Dalam mind, pikiran dan perasaan sang permaisuri, dia memperkirakan Rishi Ruchika akan memberikan putra yang terbaik bagi istrinya, maka kemudian sang permaisuri minta kepada putrinya untuk bertukar mangkuk dan selanjutnya mereka meminumnya.

Ketika Richi Ruchika pulang dari sungai, Satyavati berkata bahwa ibunya telah memintanya bertukar mangkuk. Rishi Ruchika menyampaikan bahwa Kehendak Tuhan-lah yang terjadi dan bukan kehendak manusia. Rishi Ruchika berpikir bahwa air dalam mangkuk yang diperuntukkan bagi ibunya bertujuan agar sang permaisuri memperoleh keturunan seorang ksatria yang berkarakter tegas yang cocok sebagai seorang putra mahkota. Sedangkan air dalam mangkuk yang diperuntukkan bagi Satyavati bertujuan agar dia memperoleh keturunan yang berkarakter brahmana yang teguh yang cocok bagi keturunan mereka. Demikianlah mind Permasuri, putrinya Satyavati dan Rishi Ruchika, anak menantunya berbeda.

Satyavati menyesal, rupanya dia tidak menginginkan putranya menjadi ksatria yang sakti yang sering menyalahgunakan kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang karena kekuasaannya. Selanjutnya, Satyawati memohon kepada Rishi Ruchika agar keadaan tersebut dapat diperbaiki.

Rishi Ruchika mengatakan bahwa dia bisa mengusahakan agar kejadian tersebut digeser tetapi hanya dalam satu generasi, sehingga cucu mereka akan menjadi ksatria walaupun keturunan Brahmana.

Satyavati akhirnya mempunyai seorang putra yang mempunyai karakter seorang brahmana sejati dan nantinya salah seorang cucunya mempunyai sifat seorang brahmana yang berkarakter ksatria sejati.

Tidak berapa lama, Permaisuri Raja Gadhi melahirkan seorang putra bernama Kausika. Kausika adalah seorang pangeran, seorang putra mahkota dengan sifat kebrahmanaan yang kuat. Dalam kisah selanjutnya Kausika akan menjadi seorang Rajarishi, Devarishi dan bahkan Brahmarishi bergelar Rishi Vishvamitra yang menjadi salah seorang Guru Sri Rama selain Rishi Vasistha putra Brahma.

Satyavati menurunkan putra seorang brahmana bijaksana bernama Rishi Jamadagni yang termasuk menjadi saptarishi dalam manvatara terkait. Rishi Jamadagni kemudian menurunkan Avatara Parashurama, seorang brahmana yang berkualitas sebagai ksatria sejati yang memberantas keangkaramurkaan para ksatria.

Silakan ikuti dalam kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya.