Kisah Pemuja Vishnu dengan 3 Permohonannya #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 15, 2017 by triwidodo

Seorang pemuja Vishnu bertapa dengan keras agar hidupnya bahagia. Selama ini hidupnya selalu mengalami pasang-surut, suka dan duka yang tidak berkesudahan dan dia sudah jenuh mengalami hal tersebut.

Lakshmi kasihan terhadap orang tersebut dan minta Vishnu menemuinya. Vishnu berkata bahwa orang tersebut belum memahami kehidupan, apa pun yang dimintanya hanyalah untuk kepentingan dunia yang memberikan kebahagiaan yang bersifat sementara.

Atas desakan Lakshmi, Vishnu pun akhirnya menemui orang tersebut. Vishnu berkata bahwa dia akan mengabulkan 3 permintaan orang tersebut dan setelah itu dia orang tersebut jangan minta apa pun kepadanya.

Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta, agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Ternyata setelah kawin dengan istrinya, kebiasaan mereka tidak sama sehingga merepotkan. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

Akan tetapi semua teman-teman dan keluarganya yang menghadiri perabuan istrinya, menyesalkannya. Sulit sekali mencari orang seperti dia, kalau dengan dia saja tidak cocok pasti dengan yang lainnyapun sama. Perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan istri. Maka sang pemuja Vishnu itu menjadi murung dan merenung seharian. Akhirnya dia permohonan kedua adalah agar istrinya dihidupkan kembali.

 

Tinggal sebuah pertanyaan lagi, dan dia mulai bertanya kepada semua teman-temannya permohonan apalagi permohonan yang perlu disampaikan kepada Vishnu. Ada yang menyarankan agar minta hidup selamanya, akan tetapi kembali dia berpikir, apa gunanya hidup terus kalau badan sakit-sakitan. Mohon harta kekayaan, akan tetapi kalau kalau dirinya dikucilkan tidak punya teman tidak ada artinya. Mohon kesehatan prima, tapi kalau hidupnya menderita juga tidak memuaskan.

Apa pun yang diminta tidak ada yang membuatnya suka selamanya, rasa suka yang abadi. Semuanya selalu dibayang-bayangi duka.

Bertahun-tahun sang pemuja Vishnu melakoni hidup tanpa menyampaikan permohonan yang dijanjikan oleh Vishnu. Sang istri dengan setia mendampinginya dalam mencari solusi agar hidup bahagia selamanya. Mereka telah dikaruniai seorang putra. Di samping melakoni hidup, mereka tetap menyisakan waktu untuk merenungkan apa yang dapat membuat mereka hidup bahagia tanpa dibayang-bayangi rasa duka.

Mereka mengalami pasang surut tapi ada satu saat mereka tidak mengeluh lagi karena paham hidup memang demikian, selalu ada pasang dan surut. Sampailah mereka berdua pada satu kesimpulan semestinya mereka bisa hidup ceria walau mengalami kejadian apapun.

Akhirnya sang pemuja Vishnu menghadap Vishnu dan menyampaikan permohonan terakhir: “Gusti Vishnu, apabila Gusti berkenan dan kami berdua layak mendapatkan, mohon Gusti sudi memberi kami keceriaan hati yang tidak terpengaruh pasang-surutnya dunia.

Lakshmi datang kepada Vishnu dan tersenyum penuh arti. Lakshmi berbisik kepada Vishnu, “dia telah berupaya sungguh-sunggh untuk memperoleh keceriaan dalam hidupnya.” Vishnu berkenan mengabulkan permohonan pemuja-Nya.

 

Senantiasa Ceria   

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.” Bhagavad Gita 18:54

Tidak berarti seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi itu meninggalkan pekerjaannya. Tidak. Ia masih tetap berkarya di tengah keramaian pasar dunia, namun terjadi perubahan nyata dalam sikapnya.

PERTAMAI IA MENJADI CERIA — Keceriaan bukanlah cengengesan. Keceriaan bukanlah rasa bahagia yang dibuat-buat. Keceriaan adalah hasil dari kesadaran tertinggi, di mana ia mulai mengapresiasi keindahan jagad-raya. Keceriaannya adalah keceriaan polos, tulus, lugu. Keceriaan seorang anak kecil yang sedang mengamati dan menikmati warna-warni dunia.

KEDUA: IA TIDAK LAGI BERDUKA – Ini erat kaitannya dengan keceriaan. Jika ia hanya berada dalam keadaan suka, maka ketika keadaan berubah, ia akan berduka.

Keadaan suka, sebab itu, tidaklah sama dengan keceriaan. Keceriaan melampaui suka dan duka. Suka dan duka tergantung pada keadaan di luar diri. Keceriaan adalah sikap hidup yang muncul dari kesadaran diri.

Brahman, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, memiliki tiga sifat utama, yaitu Sad atau Kebenaran Hakiki; Cit atau Kesadaran Murni; dan Ananda atau Kebahagiaan Sejati. Keceriaan bersumber dari ketiganya itu. Namun, secara spesifik, keceriaan adalah ungkapan dari Ananda. Jadi, berasal dari dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri.

KETIGA: IA TIDAK MENGEJAR SESUATU – Ia tetap berkarya, dan berkarya secara efisien. Ia tidak malas, namun, ia berkarya sebagai ungkapan keceriaan dirinya. Ia tidak berkarya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya.

Alangkah baiknya, jika para pemimpin, pengusaha, pendidik, pekerja, kita semua bersemangat dernikian! Sehingga tidak ada urusan sikut-menyikut, tidak ada perlombaan, tidak ada praduga dan prasangka. Semua orang berkarya sepenuh hati sesuai peran serta kapasitasnya. Inilah keadaan yang dapat menciptakan masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam arti kata sebenarnya, sesungguhnya.

 

KEEMPAT: BERSIKAP SAMA TERHADAP SEMUA – Berarti, tidak pilih kasih. Tidak pandang bulu; tidak tebang pilih. Ia tidak menganggap orang lain rendah karena kepercayaannya beda, rasnya lain, bahasanya beda, dan sebagainya dan seterusnya.

Bersikap sama tidak berarti kita tidak adil. Bersikap sama berarti kita bersikap adil dengan menggunakan tolok ukur dan timbangan yang sama buat semua.

Berarti, kita tidak hanya bersuara lantang ketika seorang pengusaha ditindak karena memperbudak buruhnya, dan membisu seribu bahasa ketika saudara kita sendiri memparbudak staf, atau menipu rekan bisnisnya.

 

DEMIKIAN, DENGAN DIBEKALI KEEMPAT SIFAT MULIA INI – ketika seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi masih tetap berkarya juga; maka, sesungguhnya ia pun sedang berdoa.

Tidak sama dengan “berdoa sambil bekerja”.

Keadaan ini menjadikan doa sebagai warna dasar setiap pekerjaan. Jadi, pekerjaan itu sendiri berubah menjadi doa.

Inilah semangat panembahan, semangat bhakti.

Bagi seseorang yang berkarya dengan semangat bhakti — tiada lagi dosa, tiada lagi keraguan, kekhawatiran, atau kegelisahan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Arjuna, Krishna dan Brahmana Desa #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 14, 2017 by triwidodo

 

Seorang Guru bercerita: Pada suatu hari Arjuna, Krishna jalan pagi menyusuri sebuah desa. Mereka bertemu brahmana tua sedang mengemis dengan kondisi yang mengenaskan. Sang brahmana hanya mengemis makanan untuk keperluan sekali makan dan setelah mendapatkan dia pulang untuk dimakan bersama istrinya. Arjuna merasa iba dan memberinya sekantong koin, mata uang emas. Brahmana Desa tersebut berterima kasih dan pulang dengan rasa bahagia. Akan tetapi dalam perjalanannya dia dijambret oleh seorang pencuri di tepi hutan. Sang brahmana mengutuk nasibnya yang jelek dan mengemis lagi.

Pada hari berikutnya, kembali Arjuna dan Krishna jalan pagi di jalan yang sama dan melihat brahmana desa tersebut mengemis lagi. Arjuna bertanya kenapa dia mengemis lagi padahal kemarin diberi mata uang emas sekantong. Sangb brahmana menyampaikan apa yang telah dialaminya. Arjuna kembali merasa kasihan dan memberi sebuah sebuah berlian. Sang brahmana sangat gembira dan membawa berlian tersebut ke rumah dan menyimpannya dalam sebuah panci tua yang sudah beberapa tahun tidak digunakan.

Kesokan harinya dia bangun, dan melihat istrinya menangis kakinya luka. Istrinya berkata bahwa saat mengambil air di sungai dia tidak memakai ember tapi memakai panci tua dan dia terpeleset di sungai. Sang brahmana segera mencari berliannya di sungai tapi tidak ketemu lagi. Akhirnya dia kembali mengemis lagi.

Sekali lagi Arjuna dan Krishna berjalan di jalan yang sama melihat sang brahmana mengemis dan sang brahmana menceritakan tentang kehilangan berliannya di sungai.

Arjuna berbisik kepada Krishna, bahwa brahmana tersebut nasibnya selalu tidak baik, mungkin dia punya tumpukan karma buruk di masa lalu yang berjumlah besar, sehingga tidk ada gunanya menolong sang brahmana.

Krishna tersenyum dan memberikan uang 2 sen kepada sang brahmana dan mereka melanjutkan perjalanan. Arjuna bertanya kepada Krishna, bahwa dia diberi sekantong uang emas saja tidak bisa mengubah keadaan hidupnya, apalagi sekadar 2 sen.

Krishna tersenyum dan mengajak Arjuna membuntuti brahmana tersebut dari jauh.

Sang brahmana melihat seorang nelayan yang sedang menangkap ikan yang kelihatannya susah bernapas. Sang brahmana menarih rasa kasihan dan ikan tersebut dibelinya. Uang 2 sen tidak bisa mengenyangkan keluarganya, tapi minimal bisa menyelamatkan nyawa sekor ikan. Dia akan segera melepaskan ikan tersebut ke sungai, tatala dia dia melihat mulut ikan tersebut tersumbat. Sang brahmana menolong mengeluarkan barang yang menyumbat mulut ikan dan melepas ikan ke sungia kembali. Ternyata barang yang menyumbat mulut ikan itu adalah berlian pemberian Arjuna yang dimakan ikan tersebut.

Sang brahmana sangat gembira dan dengan histeris berteriak, “Akhirnya saya menemukan, akhirnya saya menemukan!”

Pencuri yang menjambret sekantung uang emasnya yang berada di dekat tersebut gemetar, dia merasa sang brahmana telah mengetahui bahwa dialah yang menjambret uang emasnya.

Dengan tergopoh-gopoh sang pencuri mohon maaf atas perbuatannya dan mohon jangan dilaporkan ke polisi. Sekantung uang emas dikembalikannya, dan sang perampok segera pergi……………

Arjuna bertanya kepada Krishna, bagaimana emas dan berlian darinya tidak membantu sedangkan uang 2 sen dari Krishna dapat memperbaiki hidupnya.

Krishna menjawab, saat menerima uang emas dan berlian dia masih egois hanya berpikir dengan mind-nya untuk kepentingan pribadi. Sedangkan saat menerima uang 2 sen dia berpikir untuk kepentingan makhluk lain, sang brahmana telah menggunakan buddhi, inteligensia-nya. Tujuan luhur. Selanjutnya, dia akan menggunakan uang emas dan berliannya untuk kepentingan orang banyak. Dia akan menjumpai kebahagiaan……..

 

Berkarya dengan tujuan pribadi tidak akan menemui kebahagiaan

Berikut dikutip dari video youtube dalam bahasa Indonesia: Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati oleh Swami Anand Krishna:

 

Ma Archana sebagai pewawancara menanyakan makna Bhagavad Gita 2:40. Tiada upaya yang tersia-sia; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir dan cemas.

Swami Anand Krishna menjawab dengan mempersilakan membaca ayat sebelumnya Bhagavad Gita 2:39. Demikian apa yang kau dengarkan, adalah kebijaksanaan. Ajaran luhur dari sudut pandang samkhya, yaitu buddhi yoga.

Di sini persoalannya adalah buddhi. Intelegensia ini yang menjadi keyword-nya. Jadi berkarya itu tidak asal berkarya tapi work smart. Berkarya dengan penuh kebijakan dengan mengetahui goal saya apa. Jadi tidak asal bekerja saja. Menggunakan faculty of discrimination, saya melakukan satu pekerjaan itu what is my end goal. Dan dalam Bhagavad Gita yang menjadi menarik sekali, bahwa 3.000 tahun sebelum masehi, dia sudah berbicara tentang transpersonal psychology. Yang sekarang baru dibicarakan. Jadi kalau kita bekerja untuk diri sendiri, saya mau memperkaya diri, memiliki mobil mewah mau memiliki perusahaan yang bagus, atau memiliki istri yang cantik, suami yang tampan, atau apa. Semuanya adalah personal goal. Untuk personal goal kita tidak butuh banyak energi.

Bhagavad Gita mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Apabila kamu hanya bekerja dengan tujuan personal saja. Kita tidak akan pernah bisa bahagia. Ini adalah konsep yang tidak bisa dipahami selama berabad-abad.

Kalau kita bekerja karena personal goal, biasanya kita membenarkan segala bentuk, segala macam cara bagaimana mencapainya. Bagaimana untuk mencapai personal goal itu kita bisa membenarkan berbagai tipu muslihat.

………………

Kita melihat dari kegagalan pemahaman yang terdahulu. Ego based psychology. Dengan mempertahankan ego kita, lihat apa yang kita lakukan terhadap dunia ini. Dunia ini menjadi sangat individualistik, tidak apa saya mencemari lingkungan, asal saya dapat meningkatkan growth rate, angka pertumbuhan yang bagus. Lingkungan tercemarkan no problem, karena, nanti 50 tahun kemudian saya baru merasakan dampaknya.

Dan itu yang menyebabakan soal global warming, climate change. Saya pernah, percaya bahwa climate change, global warming itu keniscayaan tidak bisa di hindari. Dari dulu juga perah terjadi. Tetapi at what rate? Dulu untuk mencapai kehancuran seperti sekarang, membutuhkan waktu ribuan tahun. Puluhan ribu tahun, dari zaman es ke zaman es yang berikutnya. Sekarang pesat sekali karena industrialisasi, yang tidak inteligen. Tidak menggunakan kata budhi tadi.

 

Ma Archana: ada yang pernah bertanya kepada saya, saya tidak mau menjalankan spiritual karena saya masih ingin kaya. Apakah orang spiritual nggak boleh kaya.

Swami Anand Krishna: siapa bilang tidak boleh kaya. Tapi tidak boleh mencuri harta, tidak boleh hidup untuk diri sendiri. Karena orang yang hidup untuk diri sendiri, tanpa berbagi, tanpa ber-yajna, tanpa memberikan offering of his blessings, tanpa berbagi kebahagiaannya dengan orang lain. Dia adalah seorang maling. Kata kata yang sangat keras sekali dari Bhagavad Gita. Jadi kalau ada orang yang mengatakan saya belum mau spiritual karena saya, masih mau mengejar harta, itupun dalam Bhagavad Gita ada petuahnya. Let and go on own will. Biarlah mereka begitu. Mereka adalah orang-orang yang lahir asuri, lahir tidak asuri tidak seirama dengan alam semesta. Mereka dalah orang-orang yang lahir dalam keadaan yang tidak menunjang spiritualnya. Dan mereka harus lahir dan mati, kalau kita percaya kepada reinkarnasi. Sampai pada suatu ketika mereka menemukan jalannya.

Dan jangan hanya berpikir orang yang mencari harta itu asuri. Orang mencari ketenangan, egois, kalau saya tidak mau diberikan porsi untuk bicara, saya tidak akan mau hadir dalam suatu acara. Saya butuh ketenaran, saya butuh orang harus sabar, wah kepada saya, ada orang yang saya temukan dalam hidup saya. Orang itu harus, dihandle seperti seorang baby, setiap kali tersinggung. Sehingga dia harus dikeloni harus diapa. Ini adalah asuri. Orang-orang seperti itu belum siap untuk bhagavad gita. Yang siap untuk Bhagavad Gita yang mau bekerja bukan untuk diri sendiri.

Silakan simak video youtube dalam bahasa Indonesia: Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati oleh Swami Anand Krishna

Kisah Vishnu dan Seorang Pertapa #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 13, 2017 by triwidodo

Cerita Vishnu beristri dua: Lakshmi dan Alakshmi

Seorang Guru bercerita bahwa Vishnu yang mempunyai dua istri, Lakshmi, Dewi Keberuntungan dan Alakshmi, Dewi Kemalangan. Kedua istri itu sudah sepakat hanya salah satu di antara mereka yang bersama Vishnu. Saat Lakshmi datang maka Alakshmi pergi dari Vishnu dan demikian sebaliknya.

Salah seorang pertapa berhasil menemui Vishnu dan menanyakan hal yang masih membingungkannya, dan dia bertanya kepada Vishnu, “Bagi Gusti Vishnu siapa yang lebih cantik? Lakshmi atau Alakshmi?

Vishnu menjawab, “Pada saat Lakshmi datang dialah yang paling cantik, dan ketika ALaksmi pergi, Alakshmilah yang paling cantik.”

Sang pertapa menanggapi, “Gusti Vishnu, apakah itu berarti yang cantik itu adalah Dewi Keberuntungan ketika datang dan Dewi Kemalangan ketika pergi? Tapi bagaimana saat Dewi Keberuntungan pergi dan Dewi Kemalangan datang? Padahal mereka sudah janjian, manakala yang satu pergi, yang lain akan datang. Bukankah mereka menjadi tidak cantik?

Sang pertapa melanjutkan, “Gusti, Bukankah ini berarti, bukan hanya masalah kecantikan dewi, tetapi masalah apa pun di dunia tidak ada jawaban yang benar, hanya ada jawaban yang tepat. Hidup bukan tentang kebenaran, tetapi tentang kesesuaian, tepat tidaknya pilihan keputusan. Apakah demikian Gusti Vishnu?

Vishnu menjawab, “Kalau kita terikat pada satu dewi, maka dewi yang lain menjadi menakutkan saat dia mendatangi. Kalau kita terikat pada suatu yang mendatangkan kebahagiaan, maka kita akan takut saat yang menyusahkan datang. Suka dan duka silih berganti, pasang-surut selalu dialami demikianlah hidup di dunia?

Sang pertapa bertanya lagi, “Adakah suatu jalan agar kita selalu tenang dan ceria saat Keberuntungan ataupun Kemalangan mendatangi kita?

Vishnu menjawab, “Belajarlah memahami dan melakoni Bhagavad Gita, kau akan melampaui rasa suka dan duka!

 

Melampaui Dualitas

Seorang Yogi Meraih Kebebasan dari Dualitas baik dan buruk, kedua-duanya merupakan sisi dari satu keping uang logam yang sama. Seperti halnya panas dan dingin, pagi dan sore, siang dan malam. Segala sesuatu dalam dunia ini memiliki oposannya, lawannya.

Selama kita masih berada di dunia ini, kita tidak dapat menghindari interaksi dengan dunia-benda yang bersifatkan dualitas ini. Namun, kita dapat menciptakan sistem filter bagi diri kita sendiri. Kita dapat menguasai diri, sehingga tidak terpengaruh oleh dualitas.

Tidak berarti bahwa seseorang yang sadar, yang telah mencapai pencerahan, tidak akan mengalami pasang surut dalam kehidupannya. Kṛṣṇa hanya ingin mengatakan bahwa ia tidak akan lagi terpengaruh oleh pasang surutnya kehidupan. Apa pun yang terjadi, tidak ada yang dapat memudarkan senyumannya.

Dan jangan lupa kata-kata Kṛṣṇa, berkaryalah secara efisien. Jangan setengah- setengah. Seluruh kesadaran kita dianjurkan terfokus pada apa yang sedang kita lakukan, pada saat ini, pada masa kini, pada pekerjaan itu sendiri, sehingga tidak ada energi yang terbuang. Inilah Yoga. Penjelasan Bhagavad Gita 2:50 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Para Bijak yang terbebaskan dari segala derita

“Para bijak yang berkesadaran demikian (Yoga; seimbang, terampil) tidak lagi terikat pada hasil perbuatannya, bebas dari kelahiran ulang, dan terbebaskan pula dari segala derita (di dunia, maupun di alam setelah kematian).” Bhagavad Gita 2:51

Kelahiran Menyebabkan Segala macam Pengalaman – Anda tidak dapat menghindari pengalaman-pengalaman Anda. Semuanya itu merupakan akibat dari kelahiran Anda. Lalu, apakah kematian dapat membebaskan Anda dari segala macam derita dan pengalaman yang bertentangan?

Apakah Kṛṣṇa menganjurkan bunuh diri? Tidak. Ia menganjurkan agar kita menghadapi segala situasi dengan kesadaran. Dengan kesadaran bahwa semuanya itu wajar-wajar saja, jangan mengeluh. Keluhan Anda hanya membuktikan bahwa Anda belum dapat memahami mekanisme kehidupan, bagaimana Anda dapat melakoninya?

Hiduplah dalam dunia ini dengan kesadaran semacam itu, dan Anda akan terbebaskan dari rasa duka dan kegelisahan, dari stres yang disebabkan oleh kelahiran Anda. Anda tetap berada dalam dunia yang sama ini tetapi alam Anda sudah berbeda.

Kelihatannya sama, serupa, namun sesungguhnya tidak. Kendati Anda hidup dalam kolam dunia yang kotor ini, Anda ibarat bunga teratai yang tidak tersentuh oleh lumpur. Keindahan Anda tidak terpengaruh oleh kolam berlumpur. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Lampaui Awan Tebal Delusi

“Ketika kesadaran telah melampaui awan tebal kebingungan yang bersifat ilusif, maka kau menjadi tawar, tidak lagi peduli pada segala apa yang telah kau dengarkan dan akan kau dengarkan (karena apa yang kau dengar, baca, dan sebagainya hanyalah pengetahuan belaka, Kesadaran adalah pengalaman pribadi).” Bhagavad Gita 2:52

Awan Delusi menyebabkan penglihatan kita tidak jelas. Awan delusi adalah awan jabatan, awan kekuasaan, awan kekayaan – sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Namun, kita percaya pada awan. Kita tidak pernah berupaya untuk melihat di balik awan. Itu sebabnya, kita selalu mengejar konfirmasi dari pihak lain. Pihak lain mengatakan kita baik, kita senang. Pihak lain mengatakan kita jahat, kita gusar. Kita mempercayai apa yang kita dengar, apa yang kita baca tentang diri kita, kita tidak memiliki kepercayaan diri.

Sifat ini Sungguh Melemahkan – Dan, membuat kita tergantung pada dunia benda. Kita makin percaya pada kebendaan, dan makin jauh dari Hakikat-Diri kita sebagai Jiwa.

Lampauilah awan delusi yang membingungkan, temukan diri-sejati, dan lepaskan ketergantungan pada dunia benda yang bersifat ilusif, sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Krishna dan Burung Gereja di Kurukshetra #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 11, 2017 by triwidodo

Seorang Guru bercerita tentang kejadian sehari sebelum perang Bharatayuda yang berdarah-darah sepanjang sejarah. Perang Pandava dengan Kaurava tersebut berlangsung selama 18 hari saja.

Pepohonan di sekitar medan perang ditebang sebagai kayu bakar untuk memasak makanan yang dikonsumsi selama perang berlangsung. Mereka menggunakan kawanan gajah untuk merobohkan pohon-pohon.

Adalah seekor induk burung gereja dengan 4 anak burung yang masih kecil-kecil, jatuh bersama sarangnya ketika pohon tempat dia tinggal dirobohkan.

Induk burung gereja tersebut paham dengan nalurinya, bahwa tempat tersebut mulai besok pagi akan digunakan sebagai medan perang dan anak-anaknya yang masih berada dalam sarang yang berada di tanah akan mati terinjak-injak pasukan perang. Pada saat itulah dia melihat Krishna bersam Arjuna sedang mengamati medan untuk merancang strategi perang. Sang burung gereja mendekati Sri Krishna dan mohon anak-anaknya yang terjatuh dari pohon dapat diselamatkan Krishna.

Krishna berbicara pada burung tersebut, “Saya mendengar permohonan Anda, tapi saya tidak dapat mengganggu hukum alam.”

Sang burung berkata, “ Saya tahu bahwa Gusti adalah pelindung makhluk, saya menyerahkan nasib saya dan anak-anak saya kepada Gusti!”

Krishna berkata, “Roda waktu bergerak tanpa pandang bulu!” sepertinya Sri Krishna tidak akan membantu keluarga burung tersebut, karena menghadapi perang besar yang segera terjadi.

Tetapi Sri Krishna berpesan agar burung tersebut menyimpan stok makanan selama 3 minggu dalam sarangnya.

Arjuna tidak sadar akan pembicaraan tersebut dan mengusir burung tersebut, saat Krishna tersenyum kepada burung tersebut. Burung tersebut segera kembali ke sarangnya.

Esok harinya sesaat sebelum dimulai peperangan, Krishna meminjam panah Arjuna. Arjuna bingung karena Krishna sudah berjanji tidak akan mengangkat senjata dalam perang tersebut. Krishna menenangkan Arjuna bahwa tidak akan ada yang mati oleh panahnya. Ternyata yang dibidik oleh Krishna adalah sebuah gajah dan panah tersebut meleset dan hanya mengenai lonceng besar gajah tersebut dan lonceng tersebut jatuh. Arjuna menahan ketawanya melihat hal tersebut.

Arjuna berkata, apakah dia harus memanah gajah tersebut, dan mengapa harus memanah seekor gajah. Krishna menjawab bahwa gajah itlah yang merobohkan pohon tempat burung gereja yang datang kepadanya sehari sebelumnya.

Perang Bharatayuda berjalan selama 18 hari dan kemenangan berada di pihak Pandava.  Sekali lagi Krishna mengajak Arjuna ke medan pertempuran dan melihat beberapa  gajah dan prajurit yang gugur yang belum sempat diperabukan.

Arjuna diminta mengangkat sebuah lonceng gajah dan diminta mengangkatnya. Arjuna heran mengapa Krishna tertarik dengan lonceng besar untuk gajah tersebut.

Saat Arjuna membuka lonceng gajah tersebut 4 burung kecil segera terbang diikuti oleh induknya. Arjuna langsung bersujud pada Krishna, dia teringat ucapan Sri Krishna pada burung agar menyimpan stok makanan selama 3 minggu, yang pada waktu itu aneh baginya, burung kok diajak bicara. Arjuna juga teringat Krishna yang pinjam panahnya untuk memananh lonceng gajah tersebut yang rupanya untuk menutupi sarang yang dihuni burung gereja dengan 4 anaknya.

Arjuna malu, dia baru yakin pada Krishna setelah Krishna menyampaikan Bhagavad Gita dan bahkan melihat Visvarupa. Akan tetapi sang burung gereja sudah yakin sejak dari awalnya.

 

Keyakinan terhadap Gusti Pangeran dalam Bhagavad Gita

“Keinginan-keinginan mereka terpenuhi, karena pemujaan mereka dengan penuh keyakinan. Sesungguhnya, apa pun yang mereka peroleh, semuanya berasal dari-Ku juga.”Bhagavad Gita 7:22

Lagi-lagi maknailah “Aku” Krsna sebagai Aku-Jiwa. Isa atau Isanatha pun berkata demikian, “Adalah imanmu, kepercayaanmu yang menyembuhkan!”

Suatu ketika seorang yang buta sejak lahir disentuh oleh Isa, dan saat itu juga ia sembuh dari kebutaannya. Maka, ia mengucapkan terima kasih. Dengan segala kerendahan hati, Sang Penyembuh Ilahi menjawab, “Bukan aku,” dalam pengertian bukanlah sosok fisiknya yang menyembuhkandia. “tapi adalah imanmu yang telah menyembuhkanmu.”

Iman, kepercayaan, keyakinan adalah urusan pribadi. Iman kita, kepercayaan kita, keyakinan kita, tidak bisa diurusi oleh lembaga. Bahkan tidak terdeteksi oleh orang lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Krishna adalah kesadaran Arjuna, kesadaran kita semua

Perbincangan ini, dialog antara Krsna dan Arjuna ini (Bhagavad Gita….Penulis kutipan), terjadi pada dua strata, dua level, dua alam.di alam benda, Krsna adalah sais kereta perang dan Arjuna adalah seorang ksatria yang duduk di belakang sais.

Dalam alam batin, Krsna adalah kesadaran Arjuna sendiri yang sedang berdialog dengan pikirannya. Dialog ini merupakan dialog transformatif. Tidak ada yang kalah atau menang dalam dialog ini. Pikiran tidak terkalahkan oleh kesadaran. Pikiran, sepenuhnya berubah menjadi kesadaran.

Kesadaran bukanlah sesuatu di luar pikiran. Kesadaran adalah benih-benih yang belum bertunas.

Sementara itu, pikiran adalah alang-alang yang seolah mencegah penunasan benih-benih itu. Sulit memang menjalankan proses ini – bagaimana pikiran kemudian bertransformasi menjadi kesadaran. Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Keyakinan mesti kuat

Keyakinan mesti menjadi sifat. Orang yang berkeyakinan tidak bimbang, tidak ragu. Orang yang berkeyakinan sesungguhnya meyakini diri sendiri. Ia tidak takut pada apa pun juga. Tiada sesuatu yang dapat membuatnya takut.

Keyakinan seperti itu – sebutlah, keyakinan pada diri, pada Jiwa – adalah hasil dari pengetahuan tentang Hakikat-Diri. Kemudian, keyakinan itu pula membuatnya mengenal hakikat hubungan dengan Jiwa Agung. Keyakinan seperti itu membuatnya mengenal diri lebih dalam, lebih jauh. ia melewati tahap-tahap pasca pencerahan seperti yang telah kita bahas sebelumnya.

Setelah mengetahui Kemampuan jiwa. Setelah mengetahui bila dirinya bukan badan, bukan indra, tapi Jiwa yang mengendarai kendaraan badan dan indra, maka ia langsung mengambil alih peran pikiran dan perasaan yang selama ini mengemudi kendaraan badannya.

Ia menjadi pengemudi. Ia menjadi pengendali indra. Dan, dengan pengendalian indra, ia memperoleh kedamaian abadi, kebahagiaan sejati. Perjalanan hidup menjadi menyenangkan. Tiada lagi kecelakaan-kecelakaan yang disebabkan oleh sifat ugal-ugalan mind – gugusan pikiran dan perasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:39 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Arjuna dan Penarik Gerobak Bunga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 9, 2017 by triwidodo

Cara Berdoa Bhima dan Arjuna

Ada beberapa panembah yang suka pamer. Selama berjam-jam mereka bermeditasi, beberapa jam membaca mantra, mengulang-ulang Nama Gusti Pangeran. Mereka memandang rendah panembah yang tidak menghabiskan waktu bermeditasi dan membaca mantra seperti mereka. Arjuna adalah salah satunya. Demikian seorang Guru bercerita demi kebaikan para pendengarnya.

Adalah Bhima kakak Arjuna, yang paling perkasa dalam Pandava, tidak pernah berdoa untuk dewa manapun. Bhima hanya terbiasa makan dan terbiasa bertarung. Bhima adalah banyak makan sekaligus petarung yang handal.

Arjuna lain, dia selalu berdoa kepada banyak dewa, dia berupaya menyenangkan semua dewa. Arjuna selalu mengumpulkan ratusan bunga dan mempersembahkan kepada Shiva satu persatu sambil menyebut nama Shiva. Arjuna bisa menghabiskan waktu berjam-jam jam untuk melakukan hal tersebut. Dan, hal itu membanggakannya.

Apa yang dilakukan Bhima sangat sederhana. Dia menempelkan jari di keningnya dan fokus selama beberapa menit sebelum makan dan dilanjutkan makan banyak. Demikianlah meditasinya.

Sri Krishna mengetahui hal tersebut dan mengajak Arjuna pergi jalan-jalan dengan menyamar sebagai orang biasa. Saat mereka berjalan, mereka melihat seorang pria sedang menarik gerobak penuh dengan bunga.

Arjuna bertanya kepada pria tersebut, “Kamu sedang melakukan apa? Ke mana kamu akan pergi membawa bunga-bunga tersebut?”

Pria itu tetap fokus pada pekerjaannya, dan tidak mempedulikan pertanyaan Arjuna. Krishna mengajak Arjuna untuk mengikuti pria tersebut melakukan perjalanannnya. Ketika pria itu sampai di tempat tujuannya, Arjuna dan Krishna melihat banyak gerobak berisi bunga.

Arjuna kembali bertanya, “Apa yang Anda lalukan dengan ribuan bunga ini?”

Pria tersebut menjawab, “Saya tidak punya waktu untuk berbicara dengan Anda. Saya baru fokus. Saya hanya berbicara kepada satu orang di bumi, dan itulah Bhima, Pandava yang kedua. Dia adalah pencari spiritual terbesar. Saat dia bermeditasi sebelum makan saja, untuk satu atau dua menit, dan berkata dengan penuh penghayatan, “Wahai Gusti Shiva Hyang Maha Kuasa”. Ribuan bunga dipersembahkan kepada Shiva dengan cara tersebut. Coba perhatikan adiknya yang bernama Arjuna, dia hanya melempar bunga kepada Shiva.”

Pukulan telak kepada Arjuna oleh pria tersebut, yang tanpa sadar tengah berhadapan dengan Arjuna sendiri yang sedang dalam penyamaran. Arjuna lunglai dan mohon petunjuk kepada Sri Krishna, bagaimana melakukan persembahan yang baik.

Krishna berkata pada Arjuna, “Aku ingin menyampaikan bahwa bukan jumlah jam, bukan jumlah bunga tapi fokus dan dedikasi.”

 

Bukan Ritual Tapi Menghayati Dengan Pikiran Tak Bercabang Dan Fokus

“Di pihak lain, Partha (Putra Prthu – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) para mahatma – mereka yang berjiwa mulia – yang selalu menyadari kemuliaan dirinya dan mengenali-Ku sebagai Sumber semua makhluk, dan segala-galanya; Tak Termusnahkan, dan Kekal Abadi; senantiasa memuja-Ku dengan seluruh kesadarannya berpusat pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:13

Selama Jiwa Individu atau Jivatma tidak mengenal hakikat dirinya – ia beranggapan bila dirinya adalah badan, indra, pikiran, perasaan dan sebagainya. Kadang seseorang yang menyatakan, “Aku Jiwa, bukan badan”, dan sebagainya pun, masih tetap tidak menyadari hal itu. Ia baru berwacana saja.

Meditator adalah seorang yang menyadari hakikat dirinya. Ia telah menemukan kemuliaan dirinya. Ia melihat dirinya di mana-mana. Tat Tvam Asi – Itulah kau. Kau juga Aku. Aku juga Kau. Dalam kesadaran Jiwa, dan hanyalah dalam kesadaran Jiwa, kita baru bisa bersatu.

…………..

Seperti apakah sifat para Mahatma? Apa yang mereka lakukan? Adakah yang dapat kita contohi? Krsna memberi rumusan: “bhajanty ananya-manasa” – mereka, senantiasa, memuja-Ku, mengenang-Ku, menyadari kehadiran-Ku, menghayati hakikat-Ku – dengan pikiran yang tak bercabang, dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku.

Ini tidak sama dengan disiplin doa beberapa kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Yang dimaksud bukanlah memuja-Nya dengan ritual-ritual tertentu, gerak badan tertentu, sesajen tertentu, ataupun cara-cara, metode-metode tertentu. Bukan, bukan semua itu. Adalah pemujaan purnawaktu yang dibutuhkan. Hal ini, jelas tidak bisa dilakukan secara fisik. Fisik punya dharmanya sendiri, banyak hal yang mesti dilakukannya – dari gosok gigi hingga mencari rezeki. Fisik tidak bisa berdoa atau meditasi saja. Yang dimaksud adalah kesadaraan diri.

“Bhajanty” bukan sekadar bhajan – Dalam pengertian memuji-Nya dengan bernyanyi, bertepuk tangan dengan diiringi musik. Inilah definisi bhajan yang kita temukan di internet. Bukan. Itu merupakan ekspresi bhajan yang paling mudah, paling populer dan paling umum. “Bhajanty” adalah “senantiasa memuji-Nya, mengagungkan-Nya; senantiasa bersyukur atas segala berkah  dan anugerah-Nya; senantiasa menyadari kehadiran-Nya.”

Dan, “ananya manaso” berarti, “dengan pikiran yang tidak bercabang”. Nah, pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran. Pikiran kita saat ini bercabang. Dan selama berinteraksi dengan dunia, pikiran yang bercabang tetap dibutuhkan.

Bagaimana kita bisa memutuskan, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Sifat dualitas pikiran kita membantu. Ia memilah antara yang sekadar nikmat, menyenangkan – dari sesuatu yang mulia. Sifat dualitas dibutuhkan pula untuk merawat badan sehingga kita dapat memilih makanan yang bergizi baginya. Sifat dualitas pikiran manusia di balik segala macam konflik, sekaligus di balik segala macam kemajuan dan perkembangan, pertumbuhan. Sifat dualitas inilah yang membuat pikiran bercabang. Jadi, pikiran yang bercabang pun tetap dibutuhkan.

Sifat pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran yang dibutuhkan pada tingkat Jiwa. Nyamuk yang mengganggu, menyebarkan berbagai penyakit; pun demikian dengan kecoa dan serangga-serangga lain – bahkan virus yang menyerang tubuh kita – mesti dibasmi. Saat itu, pikiran yang bercabang berguna untuk menentukan sikap.

Namun, pada saat yang sama pikiran tidak bercabang atau kesadaran juga dibutuhkan untuk menyadari bila dalam Kesadaran Jiwa kita semua bersatu. Tidak perlu membenci nyamuk dan kecoa saat membasmi mereka. Ada juga orang yang bahagia betul setelah berhasil ‘membunuh’ nyamuk dan kecoa. Tidak, tidak perlu bahagia, dan tidak perlu sedih. Pun tidak perlu bimbang, ‘saya kan spiritual, masak membunuh nyamuk?’ Kebimbangan seperti itu muncul dari ego-spiritual, bukan dari Jiwa-spiritual.

Nyamuk-nyamuk yang mengganggu manusia serta kemanusiaan tidak melulu berwujud sebagai nyamuk. Bisa juga berwujud sebagai manusia, sebagai Kaurava, sebagai apa dan siapa saja. Mereka mesti dibasmi tanpa rasa benci. Sembari membasmi ‘nyamuk-nyamuk’ itu, berdoalah dalam hati, semoga dalam perjalanan selanjutnya, kau mendapatkan tuntunan yang dibutuhkan demi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Kau tidak lagi mengganggu sesama makhluk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Cendekiawan dan Brahmana Pedesaan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 8, 2017 by triwidodo

Seorang Guru bercerita: Seorang Cendekiawan sedang berjalan-jalan ke daerah pedesaan. Dia bertemu dengan seorang brahmana desa yang duduk di bawah pohon membolak-balik kitab Bhagavad Gita sambil merenung dan menangis sedih.

Sang Cendekiawan mendekati dan berkata, “Bapak, tidak ada sebuah kejadian yang bersifat kebetulan. Pertemuan kita ini pun bukan bersifat kebetulan. Semuanya sepengetahuan Gusti. Mungkin Gusti mengirim saya untuk meringankan kesedihan Bapak.  Jangan bersedih karena bingung tidak memahami Bhagavad Gita, katakan pada saya, sloka yang mana yang sulit dipahami, saya akan menjelaskan kepada Bapak.”

Sang Cendekiawan masih hapal penjelasan Bhagavad Gita 9:10, “Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan….. Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adalah Hyang Maha Mengawasi – Sang Pengawas Agung.”

Sang Brahmana desa menjawab, “Terima kasih Nak, saya menangis karena saya melihat Sri Krishna selalu berada di depan saya. Tidak peduli halaman atau sloka yang mana yang saya lihat, saya melihat kereta Arjuna dan Sri Krishna. Di semua halaman atau sloka saya melihat Sri Krishna. Kemudian saat saya berjalan, bekerja, makan atau berbuat apa pun saya melihat Sri Krishna. Apakah itu tidak membuat saya menangis, Nak?”

Sang Cendekiawan hapal Penjelasan Bhagavad Gita 9:31, “Hati seorang bhakta yang seluruh kesadarannya terpusatkan pada Gusti Pangeran, sudah tidak bercabang lagi. Ia telah menghaturkannya pada Gusti Pangeran. Alam benda hanyalah ibarat kantor tempat ia bekerja, bukan rumahnya. Rumahnya adalah istana Gusti Pangeran. Ia tidak pernah lupa akan hal itu. Ia tidak mencari rumah lain. Ia tidak mencari cinta dari dunia benda. Ia sudah mendapatkan segala-galanya dari Gusti Pangeran, Hyang adalah Wujud Cinta Kasih.”

Sang Cendekiawan sadar, bahwa pertemuan itu memang bukan sebuah kebetulan, Gusti mempertemukan dirinya dengan seorang brahmana desa agar dia belajar dari sang brahmana, bukan dia mengajari sang brahmana. Dia hapal Bhagavad Gita tapi Sang Brahmana Desa telah melakoninya.

Sang Cendekiawan ingat Gurunya yang berkata, “Dikatakan perlu beberapa jam untuk membaca kitab suci. Perlu waktu bertahun-tahun untuk memahaminya. Tapi, untuk menghidupi kitab suci, melakoni kitab suci dalam kehidupan dengan penuh penghayatan, bisa menghabiskan banyak kehidupan.”

 

Menghidupi Pengetahuan Sejati dengan Laku

“Pengetahuan Sejati lebih mulia dari laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan, melepaskan diri dari keterikatan hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.” Bhagavad Gita 12:12

………………..

Pengetahuan sejati pun tidak berarti apa-apa jika tidak dihayati. Bukan sekadar ‘tahu’, tetapi menghayati pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa ‘dihidupi’, akan menjadi basi, tidak berguna.

‘Hayat’ dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti ‘hidup’. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah meditasi yang sebenarnya. Inilah meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… Dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada ‘laku’ – ya, kembali pada laku. Tapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

‘Laku’ di anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakakan; laku yang meditatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan segala atribut tambahan tersebut, laku di anak tangga tersebut sudah bukan laku biasa.

Tidak seperti laku di anak tangga awal. Laku di anak tangga ini adalah laku seorang panembah, laku dengan semangat manembah. Dan, bukanlah sekedar itu, laku di anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna ‘renunciation’ atau ‘tyaga’.

Berati, bukan sekadar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dimuliakan.

Dalam tradisi Hindu kuno, seorang anak menyerahkan seluruh penghasilannya kepada orangtua. Kemudian orangtua yang mengatur seluruh keuangan keluarga, termasuk untuk kebutuhan pribadi anak itu sendiri. Ketika terjadi keperluan di luar dugaan, maka orangtua pula yang berkewajiban untuk menutupinya. Si anak bebas dari segala tanggung jawab, karena ia telah menyerahkan seluruh penghasilannya.

Jika kita bisa menghaturkan buah perbuatan kita kepada Hyang Maha Kuasa, maka Ia akan mengatur hidup kita. As simple as that, memang membutuhkan iman, keyakinan yang kuat, penyerahan diri yang sempurna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Badan dan Jiwa berasal dari Gusti Pangeran

Baik kendaraan maupun pengemudi – baik Badan dan Alam Benda, maupun Jivatma atau Jiwa-Individu – ujung-ujungnya keberadaan semua adalah karena-Nya, karena Jiwa Agung. Kendati demikian, karena perbedaan fungsi, maka terciptalah ilusi-dualitas.

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada.

Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu.

KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAK – Jivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa.

LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung.

TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada. Penjelasan Bhagavad Gita 15:17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

5 Check Points Mengenali Diri Sendiri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 6, 2017 by triwidodo

5 chek points tersebut adalah: 1 Diri kita adalah kawan dan lawan kita; 2 Kesalahan meyakini identitasi diri yang palsu; 3 Tidak menyadari hakikat diri; 4 Dampak pergaulan terhadap diri; dan 5 Mengendalikan diri.

 

  1. Diri Kita adalah Kawan dan Lawan Kita

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan tidak membiarkannya terjerumus oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, ‘diri’-mu adalah kawan dan lawanmu sendiri.” Bhagavad Gita 6:5

Ini adalah puncak dari ayat-ayat pemberdayaan diri, di mana Krsna jelas sekali. Diri atau Atma dalam ayat ini adalah Diri-Sejati; Sang Jiwa yang merupakan percikan dari Jiwa Agung atau Paramatma.

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaraan kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan sebagainya.

Sesungguhnya, pembangkitan diri yang dimaksud  ialah meninggalkan alam ego dan kembali pada Alam Jiwa, yang merupakan habitat kita yang sebenarnya. Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena ‘setiap’ Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Kesalahan Meyakini Identitas Diri yang Palsu

Sebelum menggapai Kesadaran Jiwa, keadaannya persis seperti seorang putra raja yang diculik oleh gerombolan perampok. Ia dibesarkan oleh mereka. Maka, ia memiliki identitas palsu. Identitas palsu sebagai putra perampok, sebagai perampok. Indentitas palsu ini karena “pergaulannya” dengan gerombolan perampok. Karena keberadaannya di tengah mereka. Karena terlupakannya identitas asli yang sebenamya.

Menjalani peran palsu ini — peran yang sesungguhnya bukanlah peran dia — terjadi konflik batin dalam diri sang pangeran. Dia tidak puas dengan perannya sebagai perampok.

Ketika ia diculik, usianya baru 3 — 4 tahun. Ia masih balita. Sebab itu, ia pun tidak mengingat persis “masa lalunya” — identitas aslinya. Tapi, bagaimanapun juga — rekaman tentang kehidupan di istana sebagai pangeran, tidak pernah hilang juga. Rekaman itu masih ada. Walau buyar dan tidak jelas, ia masih melihat gambar-gambar, bayang-bayang dari masa lalunya — baik dalam keadaan jaga, maupun tidur — dalam mimpi. Ia tidak menyadari sebab kegelisahannya — Tapi ia tetap gelisah. Kehidupan perampok bukanlah kehidupannya. Ia tidak puas dengan pola-hidup yang sedang dijalaninya.

Kemudian, suatu ketika seorang menteri yang bijak menemukan si pangeran yang hilang itu. Ia mengenal tanda-tanda yang ada di badannya. Sekarang, Anda boleh menambahkan faktor DNA Test. Jelas dia bukan putra perampok. Dia seorang pangeran. Maka, kesadaran baru yang sesungguhnya adalah kesadaran awalnya, kesejatian dirinya, seketika membahagiakan sang pangeran. Ia tidak perlu merampok lagi. Ia seorang pangeran. Mereka, yang selama ini dirampoknya, adalah warganya, rakyatnya.

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa yang dialami oleh pangeran dalam kisah ini – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Tidak Menyadari Hakikat Diri

“Mereka yang tidak sadar (tidak menyadari hakikat diri), senantiasa terlibat dalam perbuatan yang sia-sia; harapan dan pengetahuan mereka pun sia-sia semata. Dalam kesia-sianan itu mereka merangkul kebiasaan-kebiasaan asuri atau syaitani yang tambah membingungkan.” Bhagavad Gita 9:12

Mereka yang tidak sadar bila badan hanyalah sebuah kendaraan; dan indra, gugusan pikiran serta perasaan dan lainnya hanyalah sekadar perlengkapan kendaraan; dan bahwasanya mereka adalah percikan Jiwa Agung — hidup dalam kesia-siaan.

Celakanya, hidup dalam kesia-siaan tidak hanya merugikan diri saja; tidak hanya merugikan yang bersangkutan saja; tapi setiap orang yang berhubungan dengannya. Persis seperti kecelakaan kendaraan beruntun di jalan bebas hambatan.

Atau, seperti seseorang yang bergaul dengan pemakai narkoba. Dirinya bukan pemakai. Ia pun tidak tahu-menahu bila teman yang duduk di dalam mobilnya sedang mengantongi beberapa butir ekstasi. Maka, saat tertangkap, dia ikut dijatuhi hukuman yang sama sebagai pengedar narkoba — karena “kendaraannya dipakai untuk berdagang, mengedar narkoba.”

Lagi-lagi, ayat ini kembali mengingatkan kita akan betapa pentingnya pergaulan. Pergaulan yang salah bisa mencelakakan diri kita.

Kebiasaan-kebiasaan asuri atau syaitani tidak berasal dari luar – sisa-sisa sampah syaitani masih ada di dalam diri kita, namun sudah mengendap. Adalah pergaulan syaitani di luar yang memunculkan sifat-sifat syaitani kita ke permukaan. Sisa-sisa yang tidak seberapa mendapatkan angin segar, hidup baru, dan berkembang biak kembali. Pemicu utama bagi sifat syaitani adalah pergaulan yang tidak menunjang perkembangan Jiwa, dan justru mengalihkan perhatian kita sepenuhnya pada badan dan indra. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Dampak Pergaulan terhadap diri kita

DAMPAK PERGAULAN – Kedekatan fisik, pikiran, atau perasaan dengan orang-orang yang ber-“arus-pendek” adalah penyebab terbakarnya rumah kita.

Korsleting yang sedang terjadi dalam gugusan pikiran serta perasaan seorang yang dekat dengan kita adalah berbahaya, bisa fatal! Kita bisa ikut korslet, ikut terbakar.

Pemahkah kita memperhatikan sifat para pekerja di rumah sakit jiwa? Umumnya mereka  “rada-rada” juga, walau mereka tidak menyadari hal itu, atau tidak mau mengaku.

Tidak berarti orang gila tidak boleh dirawat, tidak boleh dilayani. Silakan merawatnya, silakan melayaninya, tapi jagalah “jarak aman”. Jangan terlibat dalam persoalan mereka secara emosional. Kita akan ikut menjadi gila dan malah tidak mampu rnerawat dan melayani mereka yang membutuhkan kita. Penjelasan Bhagavad Gita 18:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Mengendalikan Diri

“Ia senantiasa menarik diri ke tempat yang sepi; makan secukupnya; mengupayakan pengendalian badan, indra, ucapan serta pikiran; memusatkan seluruh kesadarannya pada diri yang sejati (melakoni Dhyana Yoga); dan berlindung pada Vairagya, melepaskan segala keterikatan duniawi.” Bhagavad Gita 18:52

Sifat-sifat ini pun “datang dengan sendirinya”. Jika kita sudah berkesadaran Jiwa, kita tidak akan pernah menikmati pergaulan dengan mereka yang masih berkesadaran Jasmani murni, mereka yang hanya memikirkan materi.

Bukan karena sombong – Tapi karena urusannya sudah beda. Seorang pilot yang sedang membawa pesawat super canggih tidak berurusan lagi dengan rambu-rambu lalu lintas di darat. Ia mesti menaati rambu-rambu lain. Seorang mahasiswa tidak lagi berurusan dengan ujian nasional SD. Ia sudah melewatinya. Dalam hal ini, tidak ada rasa sombong atau angkuh, “Aku sudah mahasiswa, kau masih SD? Kasihan!” Ucapan seperti itu tidak masuk akal. Seorang mahasiswa sudah melewati masa SD. Tidak ada yang perlu disombongkan.

Mencari tempat yang sepi, baik untuk hunian maupun untuk laku spiritual, meditasi dan sebagainya — ini pun bukan karena sombong dan untuk membuktikan, “aku lebih hebat!” Tidak. Ini adalah mumi soal pilihan, dan kesukaan – preferensi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia