Yogi dan Penggembala, Kisah Swami Vivekananda tentang Ishta Devata

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on July 14, 2018 by triwidodo

Kisah Yogi dan Penggembala

Dikisahkan oleh Swami Vivekananda tentang seorang Yogi yang biasa berlatih meditasi di hutan yang sepi, di tepi sungai. Kemudian tentang seorang penggembala sapi miskin, yang sangat bodoh, yang biasa menggembala hewan ternaknya hutan itu. Setiap hari  sang penggembala biasa melihat Yogi tersebut bermeditasi beberapa jam, berlatih tekun dan belajar. Sang penggembala sapi itu ingin tahu apa yang dilakukan oleh Yogi tersebut, sehingga dia datang kepadanya dan bertanya, “Tuan, bisakah Tuan mengajari saya jalan menuju Tuhan?” Yogi tersebut adalah seorang hebat yang sangat terpelajar, dan dia menjawab, “Bagaimana Anda akan mengerti Tuhan – Anda gembala sapi biasa? Lupakan, pulang ke rumah dan rawat sapi Anda dan tidak usah mengganggu pikiran Anda dengan hal-hal seperti itu”.

Sang penggembala pergi, tetapi keinginan yang nyata datang kepadanya. Dia datang lagi ke Yogi tersebut dan berkata, “Tuan, tidakkah Tuhan berkenan mengajari saya sesuatu tentang Tuhan?”

Sekali lagi Yogi menjawab: “Oh, kamu bodoh, apa yang bisa kamu mengerti tentang Tuhan? Pulanglah”. Tetapi gembala sapi itu tidak bisa tidur; dia tidak bisa makan. Dia harus tahu sesuatu tentang Tuhan.

Sang penggembala datang lagi; dan Yogi tersebut, untuk menenangkan sang penggembala yang begitu bersikeras, berkata, “Aku akan mengajarimu tentang Tuhan”.

Sang penggembala itu bertanya, “Tuan, Tuhan itu wujud-Nya seperti apa?”

Yogi tersebut berkata, “Tuhan itu seperti sapi jantan yang paling besar dalam ternak yang kaugembalakan. Tuhan telah menjadi sapi jantan yang paling besar itu”.

 

Memuja Sapi Jantan sebagai Ishta Devata

Sang penggembala percaya pada Yogi tersebut dan kembali pada hewan-hewan ternaknya. Siang dan malam dia membawa sapi jantan itu sebagai Tuhan dan mulai memujanya. Dia membawa rumput paling hijau untuk sapi jantan itu, beristirahat di dekatnya dan memberinya cahaya, duduk di dekatnya dan mengikutinya. Hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun berlalu. Seluruh jiwanya ada pada sapi jantan tersebut.

Pada suatu hari sang penggembala mendengar suara seakan-akan datang dari sapi tersebut, “Putraku, putraku.” “Kenapa, sapi berbicara! Tidak, sapi itu tidak bisa bicara.” Sekali lagi sang penggembala duduk dekat sapi bermeditasi. Dia tidak tahu apa-apa.

Sekali lagi dia mendengar suara yang keluar dari sapi: “Putraku, putraku”. Dia mendekat. “Tidak, sapi itu tidak bisa bicara.” Kemudian dia kembali lagi duduk dengan bersedih hati.

Sekali lagi suara itu terdengar, dan pada saat itu sang penggembala menemukannya. Suara itu dari hatinya sendiri. Ia menemukan bahwa Tuhan ada di dalam dirinya. Kemudian dia belajar kebenaran yang luar biasa dari Guru dari semua guru tersebut: “Aku selalu bersamamu”. Dan sang penggembala sapi itu mempelajari seluruh misteri itu.

Selanjutnya, sang penggembala kembali ke Yogi, dan ketika dia mendekat, Yogi tersebut melihatnya. Yogi tersebut adalah orang yang paling terpelajar di wilayah itu, berlatih keras selama bertahun-tahun, – bermeditasi, belajar. Dan penggembala sapi tersebut merupakan orang yang bodoh, tidak pernah belajar dari buku atau mempelajari tulisan lainnya. Tetapi saat sang penggembala datang – seluruh tubuhnya berbeda, wajahnya berubah, cahaya kemilau menyinari wajahnya. Sang Yogi berdiri. “Darimana kamu mendapatkan itu?”

“Tuan, Anda memberitahu saya hal tersebut. ”

“Bagaimana? Aku memberitahumu itu dengan bercanda.”

“Tapi Tuan, aku menganggapnya serius. Dan aku mendapatkan semua yang aku inginkan dari sapi jantan tersebut, karena Dia ada di mana-mana.”

 

Penjelasan Swami Vivekananda

Sapi jantan itu adalah Pratika. Dan penggembala itu memuja sapi jantan itu sebagai Pratika – sebagai Tuhan – dan dia mendapatkan semuanya dari itu. Jadi cinta yang kuat – keinginan itu – mengungkapkan segalanya. Segala sesuatu ada dalam diri kita, dan dunia luar serta ibadah eksternal adalah upaya-upaya memanggil-Nya. Ketika keyakinan menjadi kuat, Tuhan dalam diri bangkit.

Ketika Trust pada guru di luar sangat kuat, maka Guru dari semua guru di dalam diri berbicara, kebijaksanaan abadi berbicara dalam hati orang tersebut. Dia tidak perlu lagi mencari buku atau orang lain atau mahluk yang lebih tinggi; dia tidak perlu mengejar makhluk supranatural. Tuhan sendiri menjadi instrukturnya. Dia mendapatkan semua yang dia inginkan dari diri-Nya sendiri. Tidak perlu lagi pergi ke kuil atau gereja manapun. Tubuhnya sendiri telah menjadi kuil terbesar di dunia, dan di kuil itu hidup Tuhan Penciptaan. Di setiap negara, orang-orang kudus yang hebat tersebut telah dilahirkan, kehidupan yang luar biasa telah bangkit – keluar dari kekuatan cinta yang sangat besar.

Jadi semua bentuk eksternal Bhakti – pengulangan Nama, pemujaan Pratika, Nishtha, Ishta – hanyalah persiapan sampai kekuatan abadi itu bangun. Kemudian datang sendiri spiritualitas – ketika seseorang melampaui batasan hukum.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 9 Lectures and Discourses Bhakti Yog

Memahami Tuhan yang Bermanifestasi, Berwujud

Hanyalah ada dua aspek Brahman atau Tuhan yang dapat dipahami manusia. Pertama, aspek Nirguna, atau abstrak, gaib, tidak bermanifestasi, tanpa wujud. Dan, dua adalah aspek Saguna, nyata, bermanifestasi, berwujud. Kedua-duanya adalah aspek Brahman atau Tuhan yang sama. Kemudian, ada yang merasa lebih dekat dengan aspek Nirguna, ada pula yang merasa lebih mudah menyadari kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna.

Sebagaimana dijelaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta, adalah lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Karena, manusia sendiri memiliki aspek yang sama, Saguna. Manusia pun nyata, bermanifestasi, atau berwujud. Ada pula yang menggunakan aspek Saguna sebagai batu loncatan. Setelah mencapai tahap tertentu, ia beralih ke aspek Nirguna lewat meditasi dan latihan-latihan lain sebagainya…….

Bagi para panembah yang yakin, seorang Sadguru adalah aspek Saguna dari Brahman. Mereka menggunakan wujud Sadguru untuk mencapai Nirguna Brahman, Tuhan yang Tak Berwujud. Pun demikian dengan kita yang percaya kepada seseorang sebagai Sadguru. Adalah sangat mudah untuk mengembangkan kasih tanpa syarat lewat bakti kepada Sadguru… Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Advertisements

Kisah Shvetaketu dan Pravahana: Proses Kematian dan Kelahiran Kembali

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on July 4, 2018 by triwidodo

Proses Kematian dan Kelahiran Kembali

Dalam Chandogya Upanishad dikisahkan Shvetaketu putra Uddalaka Aruni menganggap dirinya bijaksana. Pada suatu hari dia pergi ke Sidang Panchala. Pangeran Pravahana bertanya apakah Shvetaketu telah memperoleh pendidikan dengan baik? Shvetaketu menjawabdengan bangga bahwa dia telah memperoleh pendidikan yang baik.

Pangeran Pravahana bertanya apakah Shvetaketu dia tahu kemana semua makhluk setelah kematian? Apakah dia tahu kapan dia lahir kembali? Apakah dia tahu Jalan Cahaya, Devayana dan Jalan Kegelapan, Pitriyana, dimana ruh melakukan perjalanan? Apakah dia tahu mengapa dunia di luar dunia tidak penuh walau banyak orang memasukinya? Apakah dia tahu bagaimana elemen menjadi purusha atau manusia hidup?

Shvetaketu tidak bisa menjawab semuanya dan merasa malu dan melaporkan pertanyaan Pangeran Pravahana kepada ayahandanya. Uddalaka, ayah Shvetaketu dengan jujur mengatakan bahwa beliau tidak tahu jawabannya juga. Selanjutnya Uddalaka memutuskan ke sidang Panchala untuk belajar pada Pangeran Pravahana.

Pravahana menawarkan hadiah kekayaan apa saja kepada Uddalaka, akan tetapi Uddalaka menolaknya dan mohon diajari ajaran tentang pertanyaan yang disampaikan kepada putranya. Pangeran Pravahana minta Uddalaka bersama sang pangeran selama beberapa lama.

Pravahana menyampaikan bahwa pengetahuan ini hanya untuk para kshatriya dan belum pernah diberikan kepada para brahmana. Baru pertama kalinya pengetahuan itu diberikan kepada seorang brahmana.

Inti ajaran Pravahana adalah sebagai berikut:

Elemen materi akan diubah menjadi hidup atau seseorang secara bertahap dengan melalui 5 tahapan yang berbeda. Tahap pertama, elemen diterima oleh api dan matahari dan berubah menjadi Soma. Tahap kedua, Soma dituangkan ke Parjanya, kekuatan yang membawa hujan, menghasilakn hujan di bumi. Tahap ketiga, hujan di bumi menghasilkan makanan. Tahap keempat, manusia mencerna makanan dan menghasilakn Retas. Retas pria dan wanita beda bentuknya. Tahap kelima, Retas wanita dan pria bersatu lahir menjadi anak. Tubuh manusia larut menjadi elemen-elemen yang membentuknya, akan tetapi takdir Jiwa tergantung pada tindakan dan pengetahuan yang diperolehnya. Orang yang mencapai pengetahuan spiritual yang benar berjelan melalui Jalan Cahaya dan tidak kembali ke dunia. Orang yang tidak memiliki pengetahuan atau hanya berpengetahuan parsial pergi melalui Jalan Kegelapan dan jatuh ke dalam siklus kelahiran dan kematian yang abadi. Dengan demikian, beberapa yang pergi ke Dunia Brahman tidak pernah kembali, beberapa yang pergi ke Surga tinggal di sana untuk beberapa waktu dan kembali ke bumi untuk meyelesaikan tugasnya, dan banyak orang yang terjebak dalam silus kelahiran dan kematian yang terus berulang. Itulah mengapa dunia di luar tidak pernah penuh. Ini adalah pengetahuan tentang kehidupan.

Penjelasan Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) sebagai berikut:

 

Mind yang Banyak Keinginan Tetap Berada di Bumi

Saat kematian fisik, mind yang masih utuh karena banyak keinginan, memori dan sebagainya akan tetap berada dalam lingkup gravitasi bumi. Kemudian lahir kembali tanpa kesadaran. Bila keinginan dan memori mulai berkurang, mind yang telah musnah fisiknya itu “dapat” meninggalkan gravitasi bumi. Biasanya beristirahat sejenak di planet bulan, bulan kita, bulan yang anda lihat setiap malam. Kadang bisa juga di salah satu planet lain, tapi masih dalam galaksi kita. Mind penuh obsesi dan memori terbebani oleh obsesi dan memori itu sendiri dan tidak bisa bepergian jauh. Ia tidak cukup ringan untuk menembus galaksi Bima Sakti, apalagi menggapai Yang Tertinggi “Itu”.

Untuk bereinkarnasi di dunia ini, mind “turun” bersama air hujan, petir atau rembulan. Mereka yang mati secara alami dan harus mengalami jatuh-bangun berulang kali, biasanya jatuh bersarna air hujan. Inilah kelahiran yang paling sering, paling umum.

Mereka yang mati karena kecelakaan, dan perang, terbunuh, atau karena dihukum mati, turun bersama petir. Mereka tidak rela mati, karena itu ingin cepat-cepat turun. Dalam kehidupan berikutnya, mereka mcenjadi sangat restless. Ingin cepat-cepat jadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan, dan dapat menghalalkan segala cara untuk itu. Ada rasa takut dalam diri yang tidak mereka sadari: “Jangan-jangan tali hidupku terputus di tengah jalan lagi.” Mereka pun dibutuhkan dunia. Perkembangan teknologi dan kemajuan yang terjadi dalam lima puluh tahun terakhir disebabkan oleh sekian banyak manusia yang mati semasa Perang Dunia Pertama dan Kedua. Makin banyak orang terbunuh dalam perang, semakin berkembang teknologi kita, termasuk teknologi destruktif yang dapat menghancurkan dunia ini.

Perkernbangan dan kemajuan di segala bidang biasanya disebabkan oleh mereka yang mati tak ikhlas, kemudian lahir kembali. Mereka memiliki sense of urgency yang luar biasa, seolah sedang berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, menolak perang juga berarti menolak kemajuan teknologi liar seperti yang terjadi saat ini.

Tanpa dua kali perang dunia, hari ini kita sudah pasti belum memiliki peralatan perang yang super canggih. Pada saat yang sama, teknologi seluler untuk telepon genggam pun pasti belum ada. Kita baru akan mengenal teknologi secanggih itu sekitar akhir abad ini. Perkembangan di bidang sains, kemajuan teknologi dan sebagainya akan berjalan pelan, tapi dunia kita jauh lebih tenteram.

Kembali pada proses kelahiran dan kematian…..

Terakhir: Jiwa-jiwa yang turun bersama rembulan. Mereka datang untuk berbagi pengalaman, berbagi ketenteraman. Mereka sadar akan peran mereka. Itulah terakhir kalinya mereka turun untuk memberkati dunia kita. Setelah itu mereka tidak perlu turun lagi, kecuali atas kehendak mereka sendiri… lagi-lagi untuk tugas-tugas tertentu. Tugas yang sebenarnya bukan tugas. Mereka datang karena kasih mereka terhadap kita. Mereka datang untuk menyadarkan kita.

Lewat air hujan, petir, maupun rembulan —Jiwa-jiwa yang turun kemudian berinteraksi dengan elemen-elemen alami dan berevolusi cepat dari satu wujud ke wujud yang lain. Dari tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah dan buah-buahan hingga sperma dan ovum. Penemuan antara dua terakhir itu akhirnya menciptakan kehidupan baru.

Kehidupan ada di mana-mana, semua ini hidup. Bila anda kaitkan Kehidupan dengan Tuhan, Ia pun berada di mana-mana. Namun manusia selalu mengaitkan Tuhan dengan “atas” —“Yang Di Atas”, “Father in Heaven”…. Kenapa? Karena jiwa manusia memang “turun dari atas”. Turun dari atas untuk kembali naik ke atas… “Atas” itulah yang dianggap sebagai “asalnya”. Kemudian, asal-usul itu dikaitkannya dengan Tuhan.

Manusia naik-turun, lahir-mati sekian kali hingga pada suatu ketika tidak perlu naik-turun lagi, tidak perlu lahir dan mati lagi. Pada saat itu ia menyatu dengan semesta…. Atas-bawah, kanan-kiri, utara-selatan memiliki makna karena kaitannya dengan ruang dan waktu. Bila ruang dan waktu terlampaui sudah, arah dan jarak pun akan kehilangan makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Lahir Kembali atau Menyatu dengan Brahman dalam Bhagavad Gita

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), sekarang dengarlah tentang waktu (dan jalur) ideal. Meninggalkan raganya pada waktu tertentu, seorang Yogi tidak (lahir) kembali. Meninggalkannya pada waktu lain, ia mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:23

“Elemen Api dan Cahaya? Terang, menguasai waktu siang, purnama, dan masa 6 bulan saat matahari berada di utara khatulistiwa. Seorang Yogi yang telah mengetahui hakikat Brahman, dan meninggalkan raganya saat itu – menuju dan menyatu dengan Brahman!” Bhagavad Gita 8:24

Krsna menjelaskan hubungan erat antara waktu dan ruang. Dua-duanya saling terkait. Namun, waktu dan ruang ideal saja tidak cukup untuk menjamin kemanunggalan Jiwa dengan Jiwa Agung. Tetap ada prasyarat, yaitu “pengetahuan tentang Brahman”. Yang dimaksud di sini bukanlah pengetahuan “kitabi” – pengetahuan buku, pengetahuan tekstual. Tapi, sesuatu yang telah kita hayati, sadari, insafi, dan lakoni.

MENGINSAFI BRAHMAN BERARTI menyadari kehadiran Tuhan di mama-mana. Prasyarat ini mesti terpenuhi. Setelah itu, dan barulah setelah itu, waktu dan ruang memfasilitasi kemanunggalan kita.

Masa 6 bulan yang dimaksud bermula dari TANGGAL 14 JANUARI SETIAP TAHUN – ini sesuai perhitungan mistis, psikis. Jadi bukan sekadar perhitungan hari sesuai kalender. Namun, kemudian berdasarkan perhitungan mistis dan psikis itulah kalender lunar dan solar dipertemukan, diselaraskan. Nah, berdasarkan penanggalan Gregorian, tanggal 14 Januari adalah hari pertama dari masa 6 bulan yang dimaksud.

Konon, Bhisma dalam cerita Mahabharata, menunggu Uttarayana atau hari pertama dari masa enam bulan ini untuk menghembuskan napas terakhir. Ia dalam keadaan luka berat, badannya berdarah-darah, namun tetap bertahan selama belasan hari untuk memulai perjalanannya menuju Brahman.

Terlepas dari inti ayat ini, adalah penting untuk kita catat bahwa sesungguhnya kematian bisa di-‘jadwal’-kan! Kita bisa mengatur hari, tanggal dan jam kematian kita. Tentunya, untuk itu kita mesti qualified. Orang tidak meraih gelar doktor begitu saja. Ia mesti bekerja keras, dan melewati tahapan-tahapan yang ada. Nah, tahapannya adalah seperti yang dijelaskan dalam ayat ini,

API, CAHAYA, SIANG HARI, BULAN PURNAMA

Pertama: Api, Membakar ego dalam api kerendahan hati, kesahajaan; Kedua: Cahaya, Menjadi terang dan berbagi terang; Ketiga: Siang Hari, Aktif sepanjang hidup untuk melayani sesama; Keempat: Bulan Purnama, Ini terkait dengan sifat ‘cahaya’ kita yaitu lembut.

Semua ini adalah anak tangga menuju pengetahuan sejati, pengetahuan tentang hakikat diri – tentang Jiwa Individu dan Jiwa Agung. Kemudian pengetahuan sejati itu pula mengantar kita pada peleburan-diri, kemanunggalan. Ia yang mengenal Brahman, manunggal dengan-Nya menjadi Brahman.

 

“Asap atau kabut, waktu malam Amavasya (bulan mati/gelap), dan masa 6 bulan ketika matahari berada di selatan khatulistiwa – jika seorang Yogi meninggalkan raganya saat itu, maka ia terserap oleh cahaya bulan dan mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:25

Adalah penting untuk kita pahami bahwa masa yang dimaksud tidaklah melulu sesuai dengan kalender kita. Mati di antara 14 Januari s/d 12/13 Juli: Bebas. Mati antaraa 14 Juli s/d 13 Januari:Balik! TIDAK. TIDAK SELALU DEMIKIAN – seseorang yang telah mengenal, menyadari, menginsafi hakikat dirinya seperti seorang pelancong yang sudah tahu jalan, tidak perlu ikut group untuk berpesiar. Dia bisa jalan sendiri.

Turis-awal, biasanya selalu mencari biro perjalanan, dan memercayakan seluruh agenda perjalanannya kepada mereka. dia tinggal bayar, dan ikut saja. Sebaliknya seorang turis yang sudah terbiasa, mengatur sendiri agenda perjalanan. Memesan hotel sendiri, beli tiket sendiri yang relatif lebih murah. Perjalanan turis-awal barangkali lebih nyaman, tapi belum tentu ‘senikmat’ turis adventuris yang mengatur sendiri semuanya.

Jadi, “JADWAL-JADWAL KEBERANGKATAN” dalam dua ayat ini, sesungguhnya mesti diartikan sebagai Jadwal Keberangkatan Group-Tour. Pilihan di tangan kita, ikut group atau jalan sendiri sewaktu-waktu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Rishi Satyakaama Putra Ibu dengan Ayah yang Tidak Jelas

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on July 3, 2018 by triwidodo

Merasakan Brahman

Dalam Chandogya Upanishad disampaikan tentang seorang anak laki-laki datang ke Rishi Bijak Harudrumata Gautama ingin menjadi muridnya. Sang Bijak bertanya mengenai dinasti atau dia keturunan siapa? Anak itu menjawab bahwa dia tidak tahu dinastinya, ibunya pernah menyampaikan bahwa dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada beberapa orang dan tidak tahu siapa ayah sebenarnya dari anaknya. Karena ibu anak tersebut bernama Jaabaalaa maka anak tersebut dinamakan Satyakaama Jaabaalaa.

Sang Bijak tersenyum dan berkata tidak satu pun anak dari keturunan bukan brahmana yang mengatakan kebenaran yang tidak menyenangkan, karena dia telah mengatakan yang sebenarnya dan belum menyimpang dari kebenaran maka anak tersebut diterima sebagai muridnya.

Setelah beberapa hari Rishi Haridrumata Gautama membawa 400 ekor sapi kurus dan lemah dan minta Satyakaama menggembalakan ke hutan dan baru kembali ke ashram setelah sapinya menjadi 1.000 ekor. Satyakaama tinggal di hutan merwat sapi-sapi tersebut selama bertahun-tahun. Satyakaama merasakan Brahman dalam nyanyian burung, siklus musim, kelahiran, pertumbuhan dan kematian kehidupan di hutan. Dia mengalami Brahman dalam rabaan, pendengaran, ucapan, penglihatan, pencecapan, detak jantung, saat bangun dan mimpi.

Pada suatu sore, seekor Lembu Jantan mendatangi Satyakaama dan mengatakan bahwa mereka sudah berjumlah 1.000 ekor dan agar Satyakaama membawa mereka ke ashram guru mereka. Lembu Jantan itu juga berkata akan mengajari seperempat Brahman. Timur, Utara, Barat dan Selatan adalah terang. Brahman terang. Dia yang bermeditasi pada Brahman sebagai terang akan bersinar di dunia ini. Lembu Jantan tersebut mengatakan bahwa Agni, Dewa Api selanjutnya akan mengajar dia.

Di pagi hari Satyakaama membawa sapi-sapi menuju ashram, dan pada malam hari Satyakaama mengadakan ritual agnihotra, mempersembahkan biji-bijian yang telah memberi manfaat bagi kehidupannya lewat api. Api berkata bahwa dia akan mengajari seperempat Brahman. Bumi, Langit, Surga dan Lautan itu tanpa akhir. Brahman itu tanpa akhir, seseorang yang bermeditasi tanpa henti akan menjadi abadi di dunia ini. Api mengatakan bahwa selanjutnya Angsa akan mengajar dia.

Pada pagi hari Satyakaama membawa sapi-sapi menuju ashram, dan pada malam hari kembali mengadakan acara ritual agnihotra. Tiba-tiba seekor Angsa terbang dan berkata bahwa dia akan mengajari seperempat Brahman yaitu bahwa Api, Matahari, Bulan, Kilat itu berkilau. Brahman itu berkilau. Seseorang yang bermeditasi pada pada kilauan Brahman akan berkilau di bumi. Angsa juga memberitahukan bahwa burung Madgu, Unggas Air akan memberi pelajaran selanjutnya.

Pada pagi hari Satyakaama membawa sapi-sapi menuju ashram, dan pada malam hari kembali mengadakan acara ritual agnihotra. Burung Madgu terbang dan berkata bahwa napas, penglihatan, pendengaran, dan pikiran mendukung. Brahman itu mendukung segalanya. Seseorang yang bermeditasi pada Brahman sebagai pendukung akan memiliki pendukung di dunia untuk menaklukkan dunia.

Ketika Satyakaama sampai ashram dengan 1.000 ekor sapi, Sang Guru berkata bahwa wajah Satyakaama nampak bersinar karena telah mengalami Brahman. Satyakaama menjelaskan tentang 4 Gurunya dan mohon Sadguru menyempurnakan pengetahuannya. Selanjutnya, Rishi Haridrumata Gautama memberikan pelajaran sepenuhnya tentang Brahman. Satyakaama akhirnya menjadi Guru yang hebat.

Tuhan Yang Tak Terbatas Dijelaskan Sesuai Kemampuan Otak Manusia Mencerna

“Wahai Kurusrestha (Arjuna yang termulia dalam Dinasti Kuru), sekarang biarlah Kujelaskan tentang hakikat dan kemuliaan serta kekuasaan-Ku yang utama saja, karena sesungguhnya kemuliaan dan kekuasaan-Ku tak terbatas.” Bhagavad Gita 10:19

Beberapa unsur dari Hyang Tak Terbatas sudah pasti ada di dalam diri yang terbatas. Lewat unsur-unsur inilah kita yang serba terbatas dapat berupaya untuk memahami sebagian dari Hyang Tak Terbatas.

Misalnya, kita mendapatkan file elektonik dari seorang rekan. Tetapi, program yang kita miliki tidak mampu untuk membaca keseluruhannya. Kita akan mendapatkan peringatan dari sistem kita, “Kemungkinan pembacaannya tidak akan sempurna, karena sistem Anda tidak sepenuhnya men-support file ini.”

Kita tetap membacanya, tetapi sebatas kemampuan sistem kita. Ini pula yang terjadi dalam hal penerimaan wahyu atau ilham. Seorang penerima wahyu atau ilham hanyalah “membaca” dan “memahami” sebatas kompatilitas systemnya. Ia tidak mampu membaca sesuatu yang berada di luar pemahaman sistemnya.

Krsna tidak akan membingungkan Arjuna. Ia hanya akan “mengirimkan” file-file yang dapat dibaca oleh Arjuna. Pengiriman semua file tidak akan berguna. Untuk apa? Arjuna juga tidak membutuhkan semua file. Beberapa file saja sudah cukup untuk menjadi pegangan dalam hidup ini.

Renungkan “kebenaran” ini, fakta ini, realitas ini, kebenaran itu mengandung “makna” dan “implikasi” yang luar biasa. Renungkan dan temukan makna itu! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Berikut ini Penjelasan Brahman Sesuai Kemampuan Otak Kita Mencerna

“Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

 

“Di antara putra Aditi, Akulah Visnu – Sang Pemelihara Agung; Matahaari di antara benda-benda terang di angkasa; Aku pula kemuliaan para Marut, Empat Puluh Sembilan jenis Angin yang bertiup; dan Akulah bulan di antara bintang-bintang.”Bhagavad Gita 10:21

 

“Di antara  Veda, sumber pengetahuan sejati, Akulah Samaveda; di antara para Dewa, Akulah Indra, Sang Pengendali Indra; di antaraindra-indra persepsi, Akulah Gugusan Pikiran atau Perasaan, Mind; Aku pula kesadaran makhluk-makhluk hidup seantero alam.” Bhagavad Gita10:22

 

“Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam, Akulah Sankara atau Siva; di antara para Yaksa dan Raksasa, penguasa alam tengah dan alam dunia yang bersifat materialis, Akulah Vittesa atau Kubera. Di antara delapan elemen penyuci, Vasu, Akulah Api; dan, di antara Gunung-gunung, Akulah Meru.” Bhagavad Gita 10:23

 

“Wahai Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), di antara para Pandita atau Ilmuwan, ketahuilah Aku sebagaai Brhaspati yang Agung; Di antara para Ahli Strategi Perang, Akulah Skanda – Panglima para Dewa; dan di antara Hamparan Air, Akulah Samudera.” Bhagavad Gita 10:24

 

“Di antara para Maharesi , Akulah Bhrgu; di antara aksara-aksara suci, Akulah Om yang Maha Suci; di atara yagya, yajna, atau upacara persembahan pada Hyang Ilahi, Akulah Japa, pengulangan asma-Nya yang mulia (zikir atau chanting); dan di antara yang kukuh dan tak tergoyahkan, Akulah Himalaya.” Bhagavad Gita 10:25

Silakan baca lengkap beserta penjelasannya pada Bab 10 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Narada dan Sanatkumara: Kesenangan Dunia Tidak Abadi

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on July 2, 2018 by triwidodo

Kebahagiaan yang Abadi pada Diri Sejati

Dalam Chandogya Upanishad dikisahkan Narada menghadap Sanatkumara mohon ditunjukkan jalan pengetahuan dan diajari tentang kebenaran tertinggi. Sanatkumara berkata, apa yang telah dipelajari Narada? Beliau akan mengajari apa yang belum dipelajarinya.

Narada menjawab bahwa dia telah belajar gramatika, ritual, matematika, astronomi, filsafat, psikologi, seni-rupa dan berbagai pelajaran yang lain. Bagaimana pun apa yang telah dipelajarinya tidak membantu Narada untuk mengenal dirinya.

Sanatkumara berbicara panjang-lebar yang pada intinya menyampaikan bahwa apa yang Narada ketahui hanyalah nama. Untuk melampauinya, seseorang harus tahu apa yang lebih besar dari nama. Ucapan lebih besar daripada nama, pikiran lebih besar daripada ucapan, kehendak lebih besar daripada pikiran, keterjagaan lebih besar daripada kehendak, pemahaman lebih besar daripada keterjagaan, daya lebih besar daripada pemahaman, makanan lebih besar daripada daya, air lebih besar daripada makanan, cahaya atau panas lebih besar daripada air, ether lebih besar daripada cahaya, atman atau spirit lebih besar daripada segala sesuatu lainnya.

Manusia selalu didorong bertindak demi kesenangan yang diperoleh dari tindakannya. Motivasi karena kesenangan itu ada batasnya, karena sumber kesenangan yang tidak abadi. Seseorang harus berupaya mengetahui Yang Tidak Terbatas. Sanatkumara mengajarkan kepada Narada tentang sifat Ketidakterbatasan.

Ketika seseorang menyadari kesatuan hidup yang tak terpisahkan, tidak melihat apa pun yang lain, tidak mendengar yang lain, tidak tahu yang lain, itu adalah Ketidakterbatasan. Yang Tak Terbatas berada di luar kematian, tetapi yang terbatas tidak bisa lolos dari kematian.

Narada kemudian bertanya, “Yang Tidak Terbatas itu bergantung pada apa?”

Sanatkumara menjelaskan bahwa Yang Tak Terbatas itu bergantung kepada kemuliaanya sendiri. Bahkan yang demikian pun bukan. Di dunia orang berpikir mereka bisa mencapai kemuliaan dengan memiliki sapi dan kuda, gajah dan emas, keluarga dan pembantu, ladang dan rumah mewah. Tetapi saya tidak menyebutnya kemuliaan, karena di sini semuanya masih bergantung pada sesuatu yang lain. Tetapi Yang Tak Terbatas benar-benar bebas, tidak tergantung. Yang Tak Terbatas berada di atas dan di bawah, yang belum dan yang di sudah, di kanan dan ke kiri.

Diri (the Self)ada di atas dan di bawah, yang belum dan yang di sudah, di kanan dan ke kiri. Seseorang yang merenungkan Diri dan menyadari Diri melihat Diri di mana-mana, dan bersukacita dalam Diri. Orang seperti itu hidup dalam kebebasan dan damai kemana pun dia pergi. Dia menemukan bahwa segala sesuatu dalam kosmos – energi dan ruang, api dan air, nama dan rupa, kelahiran dan kematian, pikiran dan kehendak, kata dan perbuatan, mantra dan meditasi – semua berasal dari Diri. Dia melampaui kebusukan dan kematian, di luar keterpisahan dan kesedihan. Tetapi mereka yang mengejar yang terbatas buta terhadap Diri dan hidup dalam perbudakan.

“Oleh karena itu, O Narada, kendalikan indra dan murnikan pikiran. Dalam pikiran yang murni ada kesadaran Diri yang konstan. Di mana kebebasan mengakhiri perbudakan dan sukacita mengakhiri kesedihan.”

Demikian Sanatkumara bijak mengajarkan Narada untuk melampaui perbudakan, melampaui kesedihan, di luar kegelapan, menuju cahaya Diri.

Diri yang Menempati Wujud Manusia dan Wujud Makhluk-Makhluk Lainnya

“Ia Hyang Kekal Abadi, Tak Termusnahkan, dan Tak Terukur (Kemuliaan, Keagungan, dan Kekuasaan-Nya) itulah yang menempati wujud manusia dan wujud makhluk-makhluk lainnya. Maka, wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), bertempurlah, hadapi tantangan ini!” Bhagavad Gita 2:18

Badan, raga, fisik pun, sesungguhnya hanyalah tampak mati, punah, dan sebagainya. Padahal, yang terjadi, setelah apa yang kita sebut kematian, adalah penguraian elemen-elemen alami yang meng-“ada”-kan badan. Yaitu; tanah, air, api, angin, dan eter atau substansi ruang. Elemen-elemen tersebut hanyalah kembali ke asalnya. Kembali menjadi bagian dari alam. Dan di balik itu…

Jiwa yang Bersemayam di dalam Badan atau, lebih tepatnya, Jiwa yang menggerakkan badan, menghidupinya – tidak ikut mati, tidak pula terurai. Ia tetaplah Abadi sebagaimana sedia kalanya.

Jiwa inilah identitas diri kita yang sesungguhnya. Bukan badan, bukan indra, bukan mind atau gugusan pikiran dan perasaan – semua itu entah terurai, atau berubah. Tidak demikian dengan Jiwa, yang adalah hakikat diri kita, hakikat diri setiap makhluk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Para Bijak Tidak Terpengaruh oleh Dunia Yang Tidak Abadi

Kebenaran Hyang Tunggal Melampaui kebenaran relatif yang terlihat oleh mata. Yang terlihat adalah perubahan-perubahan yang memberi kesan seolah sesuatu yang saat ini ada dan menjadi milik kita, besok tidak akan ada. Ya, barangkali tidak menjadi miliki kita. Harta yang kita miliki bisa pindah tangan. Tapi harta itu , materi itu tetap ada.

Kadang berpindah tangan, kadang berubah bentuk – Sesungguhnya materi pun hanyalah ungkapan dari energi yang kekal dan abadi.

Mereka, para resi yang telah menyaksikan, melihat kebenaran — memahami hal ini. Di balik segala sesuatu yang sedang berubah dan berpindah tangan, berpindah kepemilikan — ada Kebenaran  Tunggal yang Abadi. Sebab itu, mereka tidak terjebak dalam permainan petak-umpet di dunia ini.

Keberadaan—dunia bergantung pada dualitas – Ada dan tiada, zahir dan gaib, nyata dan tidak nyata. Di dalam dunia ini, yang ada, ya ada. Dan, yang tidak ada, ya tidak ada. Selama masih bermain petak-umpet, dualitas ini mesti dihormati. Untuk mempertahankan bumi ini, kerusakan lingkungan mesti dihentikan. Untuk menegakkan keadilan, kezaliman mesti dilawan.

Para bijak memahami hal ini. Sebab itu, walau mereka pun telah menjadi saksi akan Kebenaran Tunggal di balik segala dualitas, tetaplah mereka menghormati dualitas. Tanpa dualitas bumi tidak akan bertahan. Konstelasi perbintangan akan terganggu. Di mana-mana akan terjadi kekacauan. Maka, mereka tidak menolak kebenaran relatif yang dapat dilihat oleh mata kasat. Penjelasan Bhagavad Gita 2:16 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Hyang Maha Menawan Bersemayam dalam Diri

“Wahai Hyang Mahamenawan! Selama ini aku menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginanku, Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra. Gusti, aku tak mampu menggapaiMu, namun Kau dapat menemukanku. Aku tak berdaya, Engkau Mahadaya. Aku hanyalah debu dibawah kaki suciMu, angkatlah diriku dan berkahilah daku dengan kasihMu!”

Mengapa? Mengapa selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri. Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayangan-Nya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini.

Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis. Hyang Mahamenawan adalah raja segala raja. Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar denganNya. Sungguh sangat tidak masuk akal.

Silakan melayani keluarga. Silakan mencintai kawan dan kerabat. Tapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri. Kekuasaan apa, kekayaan apa, kedudukan apa, dan ketenaran apa pula yang menjadi ambisimu?

Jika kau menyadari hubunganmu dengan Ia Hyang Mahakuasa, dan Mahatenar adanya, saat itu pula derajadmu terangkat dengan sendirinya dari seorang fakir miskin, hina, dan dina menjadi seorang putra raja, seorang raja! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Raja Janashruti dan Raikva: Melepaskan Keangkuhan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on July 1, 2018 by triwidodo

Pengetahuan Sejati Tidak Dapat Diperoleh Tanpa Melepaskan Ego

Dalam Chhandogya Upanishad dikisahkan seorang raja terkenal bernama Janashruti yang memerintah pada Kerajaan Mahaa Vrishabha yang amat sangat besar. Sang raja terkenal dermawan, dia membangun rumah peristirahatan bagi para pelancong di sepanjang jalan, berbagi makanan kepada orang miskin dan membangun rumah sakit bagi orang-orang tua yang sakit-sakitan.

Pada suatu malam saat sedang duduk santai di teras iatananya, dia melihat dua angsa terbang di atasnya dan salah satunya berbicara, “Hati-hati melewati Raja Janashruti, cahaya kemasyhurannya bisa membakar kamu menjadi abu.” Temannya berkata, “Jangan bercanda, seakan-akan Raja Janashruti lebih besar daripada Raikva yang rendah hati.”

Sang Raja memahami percakapan mereka dan merenung, “Siapakah Raikva? Bagaimana dia bisa memperoleh karunia lebih besar daripada aku?” Sang Raja gelisah dan tidak bisa tidur.

Keesokan harinya, saat petugas membangunkan Sang Raja dengan ritual penghormatan, Sang Raja menjadi jengkel, “Hentikan semua pujian kosong untukku, akau tidak layak untuk itu.” Petugas bingung dan menyakan apa yang terjadi pada Sang Raja. Sang Raja menceritakan tentang pembicaraan dua angsa dan minta prajuritnya mencari pria bernama Raikva.

Setelah beberapa hari Raikva ditemukan. Raikva adalah seorang tukang gerobak yang miskin. Para petugas minta Raikva datang kepada Raja, akan tetapi Raikva berkata bila Raja ingin melihatnya bisa datang ke tempatnya. Akhirnya para petugas lapor kepada raja, dan Raja membuat persiapan untuk menemui Raikva pada keesokan harinya.

Raja Janashruti membawa pasukan dan hadiah berupa 600 sapi, kalung emas dan kereta kuda untuk Raikva. Setelah bertemu Raikva, Raja Janashruti memperkenalkan dirinya dan berkata, “Saya diberitahu bahwa Anda adalah salah satu orang paling langka yang pernah mengalami Brahman, Tuhan Yang Maha Esa.”

“Oh Raikva” sang Raja melanjutkan, “Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, dan sebagai imbalannya aku meminta agar kamu memberikan pengetahuan tentang Brahman.”

Raikva tersenyum, “Jadi Paduka Raja ingin membeli pengetahuan Ilahi! Pengetahuan tentang Brahman tidak bisa dibeli, bukan komoditas dagangan.”

Raja yang kecewa kembali ke istananya dengan penuh kesedihan. Keinginannya yang tulus ingin mengenal Brahman membuat Sang Raja menjadi orang yang berbeda hanya dalam beberapa minggu. Dan, akhirnya dia memutuskan akan menemui Raikva kembali.

Sang Raja bersujud di depan Raikva, “Mohon pencerahan. Saya tidak memiliki kedamaian. Pengetahuan Anda lebih bernilai daripada seluruh kekayaaan saya.”

Raikva mengangkat raja dan melihat keangkuhan Sang Raja telah hilang, “Aku memberkatimu, wahai Janashruti yang berbudi luhur, semua pengetahuan milikku akan menjadi milikmu.”

Raikva menerima Sang Raja sebagai muridnya. Janashruti tetap meneruskan tugasnya sebagai raja yang bijaksana dan Melayani Semua Makhluk Sebagai Wujud Brahman.

Melayani Semua Makhluk Sebagai Wujud Ilahi

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Berarti, melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Bukan saja di balik wujud-wujud yang indah, tapi di balik wujud-wujud yang tidak indah. Bahkan, dalam “diri” hewan.

Ya, hewan pun memiliki “diri”. Mereka pun berkepribadian. Setiap hewan adalah unik. Bukan saja unik-jenis, tapi unik-rupa antar hewan yang sejenis. Persis seperti manusia, tidak ada dua ekor kucing atau dua ekor anjing yang serupa. Sifat mereka pun bisa beda. Ada anjing yang tenang, sementara kembarannya galak.

Rasa empati kita mesti meluas dari detik ke detik. Meluas terus, hingga mencakup seluruh alam yang “terjadi” atas kehendak-Nya.

Lihatlah gusti pangeran dalam diri mereka yang telantar… Dalam diri orang-orang yang “dibuang”, ditinggalkan, dilupakan. Sesekali waktu, kunjungilah penjara-penjara, Anda akan menemukan mayoritas tahanan adalah orang-orang yang terlupakan, bahkan oleh keluarga terdekat. Layani mereka.

Layani mereka yang dianggap sampah oleh masyarakat — mereka yang disebut pecandu, pekerja seks. Layani mereka, karena hanyalah pelayanan tulus Anda yang dapat memunculkan harapan baru di dalam diri mereka, harapan untuk berubah, harapan untuk mencari jati diri, harapan untuk berkesadaran Jiwa.

Pelayanan ceramah-ceramah para ahli kitab yang hanya berteriak-teriak “dosa”, “ampun”, dan sebagainya – tidak membantu. Mereka malah tenggelam lebih dalam lagi dalam anggapan-anggapan keliru tentang identitas diri mereka.

Pelayanan memberikan nasi kotak pun semestinya hanya menjadi pelengkap, bukan pelayanan utama. Pelayanan utama adalah berbagi kesadaran.

Pelayanan utama adalah membantu mereka menemukan Pelita Pencerahan di dalam diri mereka masing-masing. Membantu mereka menyalakan dan menjaga nyala pelita itu, supaya tidak padam lagi.

Pelayanan utama adalah ketika kita melihat mereka semua sebagai wujud ilahi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Bukan Sekadar Tahu Tentang Ego, tapi Pengendaliannya dan Mengendalikannya

Bagi Krsna, pengetahuan sejati adalah tindakan, upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar tahu tentang ego, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Bukan sekadar tahu tentang indra, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Pun demikian dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lainnya.

Pengetahuan sejati bagi Krsna, adalah suatu keadaan di mana seorang yang berpengetahuan tidak terpicu, tidak tergoda oleh hal-hal luaran. Ia tidak tertipu oleh dualitas.

Ia menyelami hidupnya dengan semangat “all is one” – semua satu adanya. Ia tidak membedakan kepentingan diri dan keluarga dari kepentingan umum.

Di atas segalanya, walau sudah mencapai kemanunggalan seperti itu, ia tetap rendah hati, tidak sombong. Ia sadar betul selama masih berbadan, setiap orang dapat tergoda oleh pemicu-pemicu di luar diri. sebab itu, ia pun senantiasa eling, waspada, hati-hati dalam hal menentukan tempat tinggal, tempat kerja, profesi, karier, pergaulan, dan sebagainya dan seterusnya.

Ia tidak munafik. Ia jujur. Ia tahu persis bila tuntutan daging bisa saja menyeret dirinya ke “bawah” – maka ia tidak pernah membanggakan diri sebagai orang yang “sudah berkesadaran, sudah cerah, sudah bisa mengakses dirinya yang terdalam, sudah menemukan jati dirinya”.

Ia tahu persis semuanya itu adalah keadaan yang  mesti dirawat, dijaga, dan dilestarikan. Ia bekerja keras, berupaya sungguh-sungguh, untuk “menjaga diri” dan menjaga kesadaran diri. Penjelasan Bhagavad Gita 13:7-11 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Shvetaketu dan Pengetahuan Sejati Tat Tvam Asi

Posted in Inspirasi Rohani on June 30, 2018 by triwidodo

Dialog Shvetaketu dan Ayahandanya

Rishi Uddaalaka adalah putra dari salah satu murid utama Rishi Dhaumya – yang bernama Aaruni. Uddaalaka memiliki dua putra bernama Nachiketa dan Shvetaketu. Nachiketa adalah tokoh utama Katha Upanishad, sedangkan Shvetaketu muncul dalam tiga Upanishad UtamaBrihadaaranyaka, Chaandogya dan Kaushitakee Upanishad. Shvetaketu adalah penerima pengetahuan yang diabadikan dalam Mahaa-vaakya (Tat-Twam-Asi) yang muncul dalam enam belas bab dari bagian ke-6 dari Chaandogya Upanishad.

 

Setelah belajar selama 12 tahun di Gurukula, Shvetaketu kembali ke ayahnya, Uddaalaka putra Aaruni, dan membanggakan pencapaian pendidikannya.

Uddaalaka berkata, “Shvetaketu, berbagai cabang ilmu telah kau kuasai, tetapi apakah kau bisa mendengar Ia yang tak terdengar? Merasakan Ia yang melampaui segala macam rasa? Dan, mengetahui Ia yang berada di atas segala macam pengetahuan? Apakah ilmu itu pun telah kau kuasai?

Shvetaketu baru menyadari bahwa pengetahuannya belum sempurna dan minta ayahnya untuk mengajarinya kebenaran hakiki tersebut. Shvetaketu mohon penjelasan hal tersebut kepada ayahandanya.

Berikut kutipan penjelasan Uddaalaka kepada Shvetaketu dalam buku: (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Shvetaketu, berbagai cabang ilmu telah kau kuasai, tetapi apakah kau bisa mendengar Ia yang tak terdengar? Merasakan Ia yang melampaui segala macam rasa? Dan, mengetahui Ia yang berada di atas segala macam pengetahuan? Apakah ilmu itu pun telah kau kuasai?”

Tanah liat di seluruh dunia berada di luar jangkauanmu. Namun, segumpal tanah liat berada dalam jangkauanmu. Dengan mengetahui sifat segumpal itu, kau dapat mengetahui sifat tanah liat secara keseluruhan, secara utuh. Dengan mempelajari sifat benda-benda yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mempelajari sifat Yang Tak Terjangkau.

Tanah liat itu digunakan untuk membuat berbagai macam peralatan, bahkan mainan, patung dan lain sebagainya. Bentuk peralatan dan benda-benda itu memang beda, tetapi intinya satu dan sama, tanah liat. Nama dan sebutan yang kita berikan pada setiap benda beda, namun perbedaan itu pun tidak mempengaruhi inti setiap benda. Walau berbeda bentuk, wujud atau rupa, maupun nama dan sebutannya, bahan dasarnya masih tetap sama, tanah liat.

Contoh lain, emas. Kita menggunakannya untuk membuat berbagai macam perhiasan. Setiap perhiasan beda bentuknya, beda pula sebutannya,namun bahan bakunya tetap satu dan sama. Beda rupa dan nama adalah pemberian manusia; buatan kita. Nama dan rupa berasal dari manusia. Bahan baku bersifat alami. Nama dan rupa berbeda dan dapat berubah. Bahan bakunya tetap sama, tidak ikut berubah.

Shvetaketu, janganlah kau terjebak oleh lembaran kitab. Pengetahuan yang kau peroleh dari kitab hanyalah satu sisi dari dari Pengetahuan Sejati. Keseluruhannya hanya untuk menyadarkan dirimu bahwa masih ada yang jauh lebih tinggi, lebih penting, lebih mulia. Sesuatu yang tak tertuliskan, tak terjelaskan lewat kata-kata. Pengetahuan Sejati adalah Pengetahuan tentang Sifat yang Satu itu. Segala sesuatu dalam alam ini berasal dari Yang Satu Itu.

Untuk memahaminya, pelajarilah dirimu. Shvetaketu, gumpalan tanah liat itu adalah dirimu. Tat Tvam Asi – Itulah Kau. Dengan mempelajari diri yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mengetahui sifat dasar Yang Tak Terjangkau Itu! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Penghayatan Tat Tvam Asi untuk Melampaui Kesadaran Jasmani

Selama belasan, bahkan puluhan tahun, kita ber-“slogan” One Earth, One Sky, One Humankind—Satu Bumi, Sam Langit, Satu Umat Manusia. Syarat pertama Maitri atau Persahabatan sudah terpenuhi, setidaknya demikian anggapan kita. Tetapi saat menghadapi kenyataan di sekitar kita, di mana si sipit dan si belo dan si bule lebih berhasil dibandingkan dengan kita, maka terlupakanlah slogan yang telah kita ulangi selama bertahun-tahun ini. Muncul rasa iri, cemburu. Kenapa mereka lebih berhasil dibanding kita?

“Love is the Only Solution”—Cinta-Kasih adalah satu-satunya solusi. Syarat kedua Karuna pun rasanya terpenuhi. Tetapi, saat mempraktikkannya? Bagaimana menyikapi seseorang yang tidak memahami bahasa kasih? Apakah mesti mengasihi nyamuk demam berdarah atau anjing gila?

Dengan bekal slogan “Be Joyful and Share Your Joy with Others”—Jadilah Ceria dan Bagilah Keceriaanmu dengan Siapa Saja—rasanya syarat ketiga tentang Mudita terpenuhi. Ya, terpenuhi sebatas slogan. Praktiknya? Apa bisa ceria dan berbagi keceriaan ketika orang yang dibagi keceriaan malah menyerang balik?

SANGAT SULIT MEMPRAKTIKKAN KETIGA LAKU TERSEBUT tanpa terlebih dahulu membebaskan diri dari “pengaruh dualitas”—Upeksa. Untuk itu, kita mesti menembus kesadaran jasmani.

Selama masih berkesadaran jasmani murni, dualitas tidak bisa dilampaui. Dualitas baru bisa dilampaui, baru bisa “mulai” dilampaui pada tataran energi. Energi yang ada di dalam diri saya, yang menghidupi, menggerakkan diri saya adalah sama dengan energi yang ada di dalam dan menggerakkan Anda. Sebatas ini dulu. Landasan energi ini penting. Tidak perlu membahas filsafat yang tinggi. Sederhana dulu.

Dengan memahami hal ini, kita baru bisa mengapresiasi ungkapan Tat Tvam Asi, Itulah Kau; That Thou Art, That You Are! Dan itu pula Aku. That I am.

Kemudian, kedua tangan kita, dengan sendirinya, akan mengambil sikap.

NAMASTE ATAU NAMASKARA MUDRA—Patanjali selalu digambarkan dalam sikap, dalam mudra seperti ini. Kedua tangan tercakup dalam Namaskara.

Ketika kita sedang bersalaman dengan cara itu, boleh mengatakan Namaste, Namaskara, Salam, atau apa saja. Ungkapan di luar boleh apa saja, dalam bahasa mana saja. Tetapi dalam hati, kesadaran kita mestilah berbahasa satu dan sama, berbahasa kesadaran itu sendiri—Kesadaran Tat Tvam Asi.

Namaste, Namaskara, Salam; Tat Tvam Asi, Itulah Engkau—dan pada-Mu Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk, kuucapkan salam-hormatku, salam-kasihku. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tat Tvam Asi, Kesadaran Jiwa sebagai Pemersatu

Selama Jiwa Individu atau Jivatma tidak mengenal hakikat dirinya – ia beranggapan bila dirinya adalah badan, indra, pikiran, perasaan dan sebagainya. Kadang seseorang yang menyatakan, ‘Aku Jiwa, bukan badan’, dan sebagainya pun, masih tetap tidak menyadari hal itu. Ia baru berwacana saja.

Meditator adalah seorang yang menyadari hakikat dirinya. Ia telah menemukan kemuliaan dirinya. Ia melihat dirinya di mana-mana. Tat Tvam Asi – Itulah kau. Kau juga Aku. Aku juga Kau. Dalam kesadaran Jiwa, dan hanyalah dalam kesadaran Jiwa, kita baru bisa bersatu.

Tidak ada satu pun ideologi, kepercayaan, doktrin, atau dogma yang bisa mempersatukan umat manusia, apalagi mempertahankan persatuan dan kesatauan itu – kecuali Kesadaran Jiwa.

Lihat saja nasib lembaga kepercayaan. Kitab sucinya satu dan sama; anutannya satu dan sama; berawal dari satu akar; filsafat dasarnya sama; tapi, tetap saja terpecah-belah. Terbagi dalam sekian banyak mazhab dan sekte. Dan, hal itu memang lumrah, wajar, karena setiap orang bisa menginterpretasikan ajaran yang sama sesuai dengan cara berpikirnya, persepsinya, penghayatan, dan pemahamannya. Penjelasan Bhagavad Gita 9:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Nachiketa Tentang Kematian

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on June 29, 2018 by triwidodo

Kisah Nachiketa ini ada dalam Katha Upanishad. Nachiketa adalah putra seorang rishi bernama Udalaka. Pada suatu hari, Udalaka melakukan upacara persembahan. Sesuai kebiasaan masa itu, orang yang melakukan upacara menyumbangkan sapi kepada para Brahmana yang berkumpul di akhir upacara. Udalaka menyumbangkan sapi yang tua dan sakit-sakitan yang tidak menghasilkan susu. Nachiketa mengatakan seharusnya ayahnya menghadiahkan sesuatu yang berharga, yang masih disenanginya, bukan memberikan sesuatu yang dia sudah tidak menghargainya. Udalakan menjadi gusar kepada putranya dan berkata bahwa dia akan menghadiahkan Nachiketa kepada kematian, kepada Dewa Yama.

Nachiketa pergi ke tempat tinggal Yama. Penjaga Istana Yamaloka menghentikan Nachiketa di gerbang dan mengatakan kepadanya bahwa Yama tidak ada di Yamaloka. Nachiketa memutuskan untuk menunggu di gerbang Yamaloka tanpa makan dan minum. Yama kembali ke Istana-Nya dan menemukan anak muda itu menunggu Dia di depan gerbangselama 3 hari. Senang tindakan Nachiketa, Yama memberi makan dan minum dan menawarkan tiga anugerah kepada Nachiketa. Athiti devo bhava, tamu yang tidak diundang adalah Dewa yang patut dihormati.

Pertama, Nachiketa minta ayahnya menjadi damai bahagia bebas dari duka cita dan kemarahan. Yama menjawab, setelah Nachiketa kembali dari kematian, ayahnya akan menerimanya, bebas dari kesedihan dan kemarahan dan akan menjadi damai dan penuh suka cita.

Kedua, Nachiketa berkata bahwa di surga tidak ada rasa takut, bahkan tidak ada kematian dan usia tua, bahagia dan bebas dari semua penderitaan. Nachiketa ingin tahu jalan menuju surga melalui api batin. Yama menjelaskan tentang ilmu api batin sehingga Nachiketa dapat memahami sepenuhnya. Ilmu ini akan memberikan suka cita surgawi dan api ini tersembunyi dalam batin Nachiketa. Nachiketa dapat memahami ilmu tersebut dan Yama sangat senang dan bahkan memberikan nama ilmu api batin itu dengan nama Api-Nachiketa.

Yama menyampaikan bahwa eseorang yang membakar api batin ini tiga kali dan tanpa lelah mempraktekkan ritual api, praktik berbagi dan praktik pengendalian diri sesuai dengan tiga Veda, akan menjadi bebas dari kelahiran dan kematian. Dengan mengetahui api suci ini dan dengan memilihnya dengan tulus, dia akan mencapai kedamaian abadi.

Ketiga, Nachiketa berkata bahwa ada begitu banyak ketidakpastian tentang kematian. Ada yang mengatakan bahwa jiwa hidup setelah kematian dan yang lain mengatakan bahwa tidak demikian. Nachiketa ingin memahami ini hal tersebut.

Yama berpikir, adalaah berbahaya mengajarkan rahasia Jiwa kepada orang yang belum layak menerimanya.

Yama berkata, silakan Nachiketa minta anak keturunan dengan masa hidup ratusan tahun, banyak sapi, gajah, kuda dan emas. Bahkan kerajaan dengan wilayah yang luas dan menjadi kaisar terhebat di bumi. Akan tetapi Nachiketa tidak goyah.

Yama berkata agar Nachiketa minta kesenangan yang langka, musik yang indah, bahkan bidadari yang tidak mungkin diperoleh di dunia.

Nachiketa tahu bahwa segala kesenangan cepat atau lambat akan berakhir. Nchiketa ingin pengetahuan tentang Jiwa.

Akhirnya Yama menyampaikan ilmu tentang Jiwa kepada Nachiketa.

Usia Kesadaran dan Usia Fisik Manusia

Usia kesadaran sering tidak seirama dengan usia fisik. Banyak orang tua yang bertingkah seperti remaja, bahkan masih dipenuhi hasrat keserakahan di kala senja kehidupan telah datang menyapanya. Di lain pihak ada pula anak-anak yang sudah bijak sejak usia dini. Bagi yang mempercayai adanya siklus kehidupan, mereka menganggap bahwa anak-anak yang sudah bijak sejak dini telah banyak belajar dari sekian banyak kehidupan sebelumnya. Bagi yang mempercayai hidup itu hanya sepenggal garis lurus, mereka menganggap bahwa anak-anak tersebut lahir dengan sifat bawaan sempurna. Kita tidak dapat mencapai keadaan tersebut.

Sudahkah kita seperti Nachiketas yang mempertanyakan tindakan ayahnya (kebiasaan masyarakat) yang salah? Siapkah kita mendatangi kematian? Sadarkah kita bahwa segalaa kenyamanan dan kekuasaan di dunia ini hanya bersifat sementara dan selalu ada akhirnya?

Kematian

Ketika masih memiliki badan, kau menyia-nyiakannya untuk mengejar hal-hal yang serba semu. Kau tidak pernah mempersiapkan dirimu untuk sesuatu yang pasti terjadi, yaitu maut. Apabila kau hidup dalam ketidaksadaran, kau akan mati dalam ketidaksadaran pula. Lalu sia-sialah satu masa kehidupan. Kau memasuki lingkaran kelahiran dan kematian lagi.

Diantara sekian banyak ketidakpastian dalam hidup ini, mungkin hanya kematian yang merupakan satu-satunya kepastian. Aneh selama ini kita sibuk mengejar ketidakpastian. Dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sudah pasti. Sesungguhnya, mempersiapkan masyarakat untuk menerima kematian adalah tugas agama dan praktisi keagamaan. Tugas ini sudah lama terlupakan, karena para praktisi keagamaan tidak sepenuhnya memahami proses kematian. Lalu  penjelasan apa yang dapat mereka berikan? Tidak ada yang memperhatikan perkembangan diri manusia. Perkembangan rasa dalam diri manusia tidak diperhatikan sama sekali. Itu sebabnya, hidup kita masih kering, keras dan kaku. Tidak ada kelembamannya, tidak ada kelembutannya.

Agama bagaikan jalan-jalan menuju spiritualitas. Jalan menuju perkembangan batin. Sekarang agama dijadikan tujuan. Lalu kita sibuk mencocok-cocokkan yang satu dengan yang lain. Tentu saja tidak akan ketemu. Setiap jalan mempunyai rute sendiri, kekhasan sendiri. Pengalaman yang  diperoleh dalam perjalanan pun akan selalu berbeda.  Bekal kita adalah pengalaman-pengalaman yang berbeda yang kita peroleh dalam perjalanan. Kalau mau dicocok-cocokkan , ya pasti ribut melulu. Pengalaman perjalanan Kanjeng Nabi Muhammad berbeda dengan pengalaman Gusti Yesus. Pengalaman perjalanan Yang Mulia Buddha berbeda dengan pengalaman perjalanan Sri Krishna. Yang tidak berbeda adalah hasil akhirnya, tujuannya. Pengalaman akhir mereka tidak berbeda.

Pengalaman akhir setiap Nabi, setiap Mesias, setiap Buddha dan setiap Avatar, adalah apa yang terjadi pada saat kematian mereka. Peradaban yang masih sibuk dengan urusan perut dan politik tidak pernah memperhatikan pengalaman akhir. Mereka masih sibuk mempelajari pengalaman perjalanan para Nabi mereka, para Mesias mereka, para Avatar mereka, para Buddha mereka. Mereka yang sudah selesai dengan urusan perut, yang sudah muak dengan dunia politik, mulai mendalami hal-hal yang lenih esensial. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)