Dari Hubungan Darah Menuju Kesadaran Jiwa

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 20, 2018 by triwidodo

Kesedihan Yudistira atas Kematian Karna

Seorang Master berkisah tentang permusuhan Karna dengan Pandawa. Sebelum pertempuran Bharatayuda, dikisahkan Kunti, Ibu Pandawa memberitahu Karna bahwa Karna adalah putranya dan Pandawa adalah adik-adiknya. Kunti minta Karna membatalkan keikutsertaan dia dengan Kaurawa melawan Pandawa. Karna mengatakan bahwa dirinya sudah berjanji kepada Duryodana yang telah memberikan kedudukan dan kekayaan untuk berpihak kepada Kaurawa. Karna hanya berjanji bahwa dia tidak akan membunuh keempat Pandawa dan dia hanya bertarung dengan Arjuna saja.

Di pihak lain, Pandawa tidak tahu bahwa Karna adalah kakak kandung yang lahir dari ibunya. Kelima Pandawa mempersiapkan diri untuk menghancurkan Karna, karena Karna adalah musuh yang perkasa dari pihak Kaurawa.

Ketika Karna mati terbunuh dan Yudistira mengetahui bahwa Karna adalah kakak kandungnya, dia sangat sedih tidak terkira. Penyesalannya tidak berkesudahan.

Jadi sampai kita tahu bahwa yang kita bunuh adalah saudara kita sendiri, rasa kebencian terhadap musuh tidak terlupakan.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa seluruh manusia termasuk musuh-musuh kita adalah saudara kita?

Sri Krishna mengajari Arjuna bahwa perang yang dilakukan bukan  berdasarkan keterkaitan hubungan darah akan tetapi untuk menegakkan dharma. Walaupun dalam satu keranjang apel dari pohon yang sama, apel yang busuk harus dibuang demi kesehatan apel lainnya. Walau ada tumor hidup dalam tubuh kita sendiri, maka tumor tersebut harus diangkat demi kesehatan tubuh kita. Walau kita masih berhubungan darah demi kesehatan jiwa umat manusia kita harus berperang dengan musuh yang menebarkan adharma.

 

Bapak Anand Krishna pada tahun 2012 menyampaikan:

Kecuali kita lahir kembali dalam kesadaran ruhani, kita tidak bisa memasuki kerajaan-Nya. Maksud Yesus apa? Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. “Bagaimana pun juga,” kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri.” Atau, ada juga pepatah, “bagaimanapun juga darah lebih kental dari air.”

Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air.” Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga-“ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa.

Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi “kesadaran murni yang luar biasa”.

Penjelasan:

Hubungan darah adalah hubungan terkait fisik lewat genetika. Hewan pun demikian juga mempunyai ikatan erat antara induk dan anaknya. Hubungan erat dalam kelompok manusia pun juga dilakukan oleh hewan.

Hubungan lewat air sudah lebih murni lagi. Sudah tidak membeda-bedakan kelompok atau keluarga. Semua makhluk hidup mengandung air, tanpa air akan mati.

Walau demikian air masih wujud materi, prakrti. Sedangkan hubungan lewat roh, soul jauh lebih dekat. Ibaratnya Sang  Jiwa Agung adalah Matahari, maka Gugusan Jiwa adalah Cahaya Matahari, sedangkan Jiwa Individu adalah sinar matahari, yang sudah terpengaruh oleh materi dalam diri. Sinar matahari tidak bisa dipisahkan dari Matahari. Kita semua terhubung dengan roh, soul, Jiwa.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan tentang Kesadaran Jiwa, yang melihat bahwa Hyang Ada Hanyalah Gusti Pangeran Belaka. Semua makhluk adalah proyeksi dari Dia. Krishna menilai seeorang bukan dari jabatan atau orang awam, Dia menilai sama seperti menilai segumpal tanah, batu dan logam mulia.

Kesadaran Jiwa

“Berada dalam Kesadaran Jiwa, seseorang menganggap sama duka dan suka; ia menilai sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia; tidak tergoyahkan oleh hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, ia memandang sama pujian dan celaan.” Bhagavad Gita 14:24

 

Banyak yang menyalahgunakan ayat-ayat seperti ini untuk bertindak semau mereka terhadap orang-orang yang dianggap berkesadaran Jiwa. Mudah sekali bagi hakim-hakim dunia untuk menjatuhkan hukuman mati kepada para Socrates, karena mereka pun tahu para Socrates akan menerima kematian, sebagaimana menerima kehidupan. Yang mereka tidak sadari ialah bahwa penerimaan para Socrates terhadap hukuman mereka, tidak membebaskan mereka dari konsekuensi perbuatan konyol mereka.

 

ADA YANG PERNAH MENGKRITIK GANDHI – “Jika dia betul seorang Mahatma dan berjiwa besar, maka untuk apa mengajak bangsa India untuk memerdekakan diri dari penjajahan Inggris? Bukankah seorang bijak semestinya rnenganggap sarna kebebasan dan penjajahan sebagaimana iamenganggap sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia?”

Dalam penilaian para penilai duniawi, yang belum tercerahkan pun, “penjajahan adalah ibarat segumpal tanah atau batu” dan kebebasan adalah “logam mulia”. Namun, mereka ingin memaksa Gandhi unruk menerima segumpal tanah atau batu sebagaimana ia menerima logam mulia. Kenapa? Kenapa mesti memaksakan penilaian mereka pada Gandhi?

Seseorang berkesadaran Jiwa memang memandang sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia — namun tidak berarti tanah akan dijadikan perhiasan, batu disimpan di berangkas, dan logam mulia diletakkan di pinggir jalan.

 

KESADARAN JIWA TIDAK MENGUBAH FUNGI BENDA-BENDA DI DUNIA – Ketika Krsna mengatakan bahwa bagi seseorang berkesadaran Jiwa, semuanya itu adalah sama; atau lebih tepatnya, “dipandang sama”, Ia tidak mengisyaratkan bahwa seseorang yang telah berkesadaran demikian akan “mengacaukan tatanan inasyarakat dengan rnemutar balik fungsi setiap benda yang ada di alam benda.”

Segumpal tanah adalah segumpal tanah; pun dennikian batu adalah batu; dan logam mulia adalah logam mulia. Mereka yang berkesadaran Jiwa, tidak terikat pada sesuatu. Namun ketidakterikatannya itu tidak berarti ia akan membenarkan “batu berkuasa” dan “logam mulia dijajah”.

Segumpal tanah dan batu adalah ibarat penjajahan. Bukan si penjajah, tetapi tindakan menjajah. Dan logam mulia adalah kemerdekaan, kebebasan.

Sebab itu, walau Gandhi menganggap sama semuanya, tetap juga ia berseru “Do or die! Lakukan sesuatu demi kemerdekaan, berjuanglah untuk meraih kemerdekaan atau matilah, gugurlah dalam perjuangan!”

 

AYAT-AYAT SEPERTI INI MESTI DIARIFI, dipahami secara bijak. Menganggap sama duka dan suka tidak berarti kita memiliki otoritas untuk menindas dan menyebabkan duka pada seorang Socrates atau Gandhi, kemudian mengharapkan mereka yang telah ditindas itu untuk menerima tindakan kita yang biadab.

Menganggap sama segala sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan tidak berarti menyebabkan penderitaan umum sebagaimana yang dilakukan oleh para diktator dan penguasa zalim, yang selalu mengharapkan rakyat rela rnenderita demi “kebijakan-kebijakan”nya. Walau, kebijakan-kebijakan itu mengkhianati undang-undang negara, nilai-nilai luhur kemanusiaan, hukum alam, dan Ketuhanan yang Maha Esa, yang selalu digunakan sebagai slogan.

 

MENGANGGAP SAMA PUIIAN DAN CELAAN tidak mernberi kita hak untuk mencela siapa saja, untuk membunuh Gandhi, menembaki Martin Luther King, Jr., atau memenjarakan Mandela.

Tidak, tidak demikian maksud Krsna.

“Menganggap sama” adalah semangat Jiwa, Kesadaran Jiwa. Semangat ini bukanlah sebuah konsep yang bisa seenaknya dipakai dan disalahgunakan oleh mereka yang belum berkesadaran Jiwa.

Dan, para bijak yang telah berkesadaran demikian pun, hendaknya tidak menyalahartikan bila “semangat Jiwa” dapat mengubah “nilai pasar”, dalam arti kata “tata-krama dunia benda”, sifat kebendaan, dan lain sebagainya.

 

SEORANG BIJAK TIDAK TERTARIK DENGAN KEKUASAAN – Tetapi ia pun tidak duduk diam ketika menyaksikan kezaliman merajalela dan kemanusiaan serta nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan sebagainya terinjak-injak di bawah kaki mereka yang berkewajiban untuk menegakkan nilai-nilai tersebut.

Krsna sedang mempersiapkan Manusia Baru — Arjuna — seorang Kesatria Berkesadaran Jiwa, yang tetap berkarya di tengah rnasyarakat dunia, di tengah pasar alam benda.

Tugas Krsna memang berat — sangat berat.

Bagi seorang berkesadaran Jiwa, rneninggalkan keramaian dunia untuk menyepi di tengah hutan – adalah  hal yang mudah. Sebaliknya juga, jika seorang sepenuhnya berkesadaran dunia benda, berkarya di tengah pasar dunia — sama mudahnya.

Adalah sebuah tantangan berat untuk berkarya di tengah hiruk pikuknya dunia benda, dan mempertahankan Kesadaran Jiwa. Inilah “agenda” Krsna bagi Arjuna, bagi kita semua! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Perjuangan PurnaWaktu Mencapai Vairagya, Bebas dari Keterikatan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 18, 2018 by triwidodo

Kisah Ketidakterikatan Pangeran Mohajith

Vairagya, atau pelepasan dirl dari berbagai keinginan, benda, situasi ataupun perorangan yang menyebabkan keterikatan. Berarti, dari segala pemicu di luar diri yang dapat menimbulkan ketertarikan dan kerinduan.

Gita menyampaikan hal yang sama, dan sama pula kesimpulan Buddha. Berarti, rumusan ini, sutra ini ibarat rumusan sains, ilmiah, dan bersifat empiris. Pengalaman siapa pun sudah pasti sama, maka solusi-solusi yang ditawarkan oleh Patanjali juga bersifat universal. Jika penyakitnya sama, maka obatnya sudah pasti sama pula. Tinggal menentukan dosisnya. Jika penyakitnya berat dan sudah lama, mungkin membutuhkan dosis yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan yang penyakitnya belum berat dan baru terjangkit. Penjelasan I.12 dari Buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang Master bercerita tentang Pangeran Mohajith, yang sudah menjalani Vairagya dan sedang mencari Pemandu Spiritual. Seorang Rishi bertanya apakah dia telah melakoni Vairagya.  Sang Pangeran mengatakan bahwa bukan hanya dia, akan tetapi demikian juga setiap orang di kerajaannya.

Sang Rishi menguji kebenaran kata-kata Sang Pangeran. Dia mengambil jubah Sang Pangeran dan dilumuri dengan darah dan bergegas ke gerbang istana. Sang Rishi mengatakan bahwa telah terjadi pembunuhan mengerikan oleh para perampok di hutan terhadap Sang Pangeran. Pelayan istana mengatakan, “Sang Pangeran dilahirkan dan akan mati, apa perlunya saya meninggalkan pekerjaan rutin saya untuk melaporkan ke Raja dan Permaisuri?”

Sang Rishi lapor kepada Raja, akan tetapi Sang Raja tidak terganggu, dan hanya bergumam, “Burung-burung itu terbang dan mereka akan hinggap di pohon untuk beristirahat.” Permaisuri pun tetap tenang dan berkata, “Di bumi ini adalah kisah para kafilah yang berkumpul untuk beristirahat di penginapan. Para kafilah melakukan perjalanan dengan tujuan yang berbeda-beda. Kawan dan kerabat adalah kata-kata yang kita gunakan  kepada para musafir yang bertemu sejenak di penginapan.”

Istri Sang Pangeran juga tidak terpengaruh, dia berkata, “Suami dan istri seperti dua potong kayu bersama di sungai yang sedang banjir. Masing-masing menuju laut dengan kecepatan yang berbeda dan dengan waktu yang berbeda. Hal demikian sangatlah alamiah.”

Sang Rishi sangat bahagia melihat praktek vairagya, ketidakterikatan para penguasa dan orang-orang yang berhubungan dengan dirinya.

Sang Rishi kembali ke hutan dan berkata bahwa musuh telah menyerbu dan menaklukkan kerajaan ayahandanya. Sang Pangeran Mohajith dengan tenang berkata, “Semuanya adalah gelembung yang rapuh dan tidak kekal. Biarkan saja jalannya gelembung. Mohon pandu saya untuk mencapai yang abadi yang tidak dapat rusak.”

Sang Rishi berbahagia mempunyai calon murid yang sudah tidak fokus pada kesadaran fisik dan mental emosional.

Beda Fokus Antara Yang Berkesadaran Tubuh dengan Yang Berkesadaran Jiwa

Kesadaran itu satu, akan tetapi kesadaran dalam diri Guru (yang berkesadaran Jiwa) berbeda dengan kesadaran dalam diri kita. Perbedaan itu karena beda fokus. Fokus kita pada kesadaran tubuh, kita hanya memperhatikan keinginan tubuh. Fokus kita pada kesadaran mental/emosional, kita hanya memperhatikan kebutuhan mental/emosional. Dengan melakukan Vairagya, melepaskan dari keterikatan, membuang keinginan duniawi dan membatasinya keinginan sesuai plafond yang kita tetapkan, kita bisa melampaui kesadaran kesadaran tubuh dan mental/emosional. Kita bisa fokus pada Cosmic Consciousness. Kesadaran Kosmis. Kesadaran Jiwa. Selama kita menganggap berbeda maka kita belum mencapai Kesadaran Kosmis. Dalam Kesadaran Kosmis kita semua adalah satu.

Sumber: Video Yutube What is Cosmic Consciousness and How to Attain it oleh Bapak Anand Krishna

Mempraktekkan Ketidakterikatan dengan Abhyasa

“Abhyasa atau Upaya secara Terus-Menerus Membutuhkan Yatna, Kerja Keras; dan Sthiti atau Ketetapan Hati.” Yoga Sutra Patanjali I.13

ABHYASA BUKANLAH UPAYA ASAL-ASALAN. Misal, hari ini hidup sesuai dengan pola hidup yang dianjurkan dalam Yoga, besok tidak; lusa Yoga lagi dan keesokan harinya tidak. Yang demikian itu bukan Yoga Abhyasa, bukanlah laku atau praktik yang bisa disebut Yoga.

Lawan kata dari Yoga adalah Bhoga.

Jika Yoga berarti disiplin diri, pengendalian diri, Bhoga berarti sebaliknya, yakni hidup tanpa disiplin, membiarkan diri terkendali alam benda dan kebendaan; membiarkan indra lepas kendali dan mencari mangsa, mencari kenikmatan sesaat yang tidak berarti (malah bisa membahayakan, mencelakakan diri dan orang lain). Itulah Bhoga.

………………

PENGENDALIAN DIRI PURNAWAKTU ALA PATANJALI, tidak sama dengan pengendalian diri paruh waktu ala ahli kitab.

Pengendalian dan Keseimbangan Diri ala ahli kitab tidak membutuhkan abhyasa. Tidak perlu mempraktikkan ketidakterikatan atau vairagya, tidak perlu menarik diri dari segala pemicu di luar. Hari ini bisa mengendalikan diri, besok tidak, lusa bisa, keesokan harinya kebablasan lagi, no problem.

Dalam model, modulus, atau mandala para ahli kitab, ada institusi “penebusan dosa dengan berbagai cara”—semacam sin laundering, pencucian dosa. Jadi, salah-salah boleh saja, nanti tinggal dicuci.

Lain hal dengan model, modulus, atau mandala ala Patanjali. Tidak ada Lembaga Pencucian Dosa. Pasalnya, tidak ada yang disebut Dosa. Yang ada adalah Dosa atau Kesalahan Diri, dan setiap kesalahan mesti dipertanggungjawabkan oleh pembuat kesalahan; kemudian, diperbaiki olehnya juga.

Nah, dalam rangka “perbaikan” itulah dibutuhkan Abhyasa, Upaya yang Sungguh-Sungguh; kerja keras; upaya dengan seluruh tenaga; upaya dengan segenap energi; dan upaya dengan niat yang jelas dan kuat, serta ketetapan hati, kebulatan tekad. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Abhyasa dan Vairagya

“Wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), niscaya pikiran memang liar – pun sulit ditaklukkan. Namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti).” Bhagavad Gita 6:35

Dalam ayat ini, Krsna memberikan tips jitu untuk mengendalikan pikiran, pertama adalah:

Abhyasa – membiasakan diri, berlatih secara terus-menerus. Seorang sahabat, saintis tulen, ahli bedah otak, almarhum dr. Setiawan selalu menggunakan istilah ‘intensif dan repetitif’. Latihan untuk mengendalikan gugusan pikiran dan perasaan membutuhkan kegigihan, kebulatan tekad, keteguhan hati, dan kekuatan kehendak. Tidak bisa secara instan, seperti sering diiklankan oleh orang-orang yang sedang mencari keuntungan, dan tidak tahu-menahu tentang seluk-beluk mind.

Dr. Setiawan betul. Ia memahami kinerja brain, otak, sebagai alat yang digunakan oleh mind. Untuk itu butuh latihan secara intensif, tidak bisa sambilan. Hari ini berlatih, besok tidak – mustahil mind terkendali.

Berlatih secara intensif dan repetitif setiap hari saja tidak cukup. Dibutuhkan latihan setiap jam, setiap detik. Setiap kali mind baru mau kembali pada sifat keliarannya, segera kita menarik dia. Secara intensif dan repetitif – berulang-ulang. Inilah abhyasa – inilah cara untuk mengubah kebiasaan mind.

Namun, cara ini pun adalah semacam first-aid – pertolongan pertama. Untuk selanjutnya, supaya mind tidak liar terus, lagi-lagi secara intensif dan repetitif, kita mesti belajar untuk melepaskan keterikatan dari benda-benda dan keadaan-keadaan yang dapat memicu keliarannya. Ini disebut:

Vairagya – melepaskan diri dari keterikatan: membebaskan diri dari keterikatan pada hal-hal yang dapat memicu dan/atau menambah keliaran mind.

Abhyasa dan Vairagya – inilah cara untuk mengendalikan  mind. Pekerjaan ini adalah purnawaktu. Tidak bisa hanya sesekali saja. Mind tidak pernah mati. Setelah terkendali pun masih tetap diawasi, tidak bisa dilepas begitu saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Ikuti Nurani Bukan Pertimbangan Pribadi

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 14, 2018 by triwidodo

Kisah Karna Sang Pemberi Agung

Seorang Master berkisah tentang Karna, yang sedang mengoleskan minyak yang diambil dari cawan permata ke kepalanya sebelum mandi. Tangan kanan Karna menggosok rambut dengan minyak tersebut, saat Krishna datang menghampirinya.

Krishna minta cawan permata Karna sebagai hadiah baginya. Karna terkejut dan berkata, “Paduka Penguasa Alam Semesta memiliki keinginan ini, akan tetapi siapakah saya yang mengajukan pertanyaan kepada Paduka?” Karna segera menyerahkan cawan permata di tangan kiri kepada Krishna.

Krishna menerimanya dengan tangan kanan dan berkata, “Bukankah memberikan dengan tangan kiri tidak sesuai dengan sopan-santun?”

Karna menjawab, “Paduka, mohon maaf, tangan kanan saya sedang berlumuran minyak. Saya takut bila saya mencuci tangan saya lebih dahulu dan menyerahkan cawan lewat tangan saya. Waktu yang sekejap untuk mencuci tangan tersebut dapat mengubah pikiran saya yang telah setuju menyerahkan cawan dan membatalkannya. Waktu sekejap bisa mengubah pikiran saya untuk mempertimbangkan mengapa saya harus menyerahkan cawan berharga kepada Paduka. Itulah sebabnya saya menyerahkan dengan tangan kiri, walau kesantunan. Saya mengucapkan terima kasih atas Berkah Paduka sehingga saya legawa menyerahkan cawan kepada Paduka.”

Krishna tersenyum penuh makna….. Pada kisah ini, Karna telah mencapai Kesadaran Jiwa. Seandainya Karna dapat mempertahankan Kesadaran Jiwa ini, maka kisah perang Bharatayudha akan berbeda.

Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan apabila muncul keinginan untuk berbagi, untuk memberi segera lakukan, jangan diberi kesempatan berpikir lama, menunda-nunda sehingga kita batal berbagi. Mind itu bisa licik dan mempengaruhi kita. Mind atau ego itu tidak senang berbagi, pertimbangannya untung-rugi. Lampaui Mind

Karna Paham Mind Hanya Berkutat pada 3 Gigi Persneling

Ada tiga hal yang berbisa, yang juga bisa menjadi landasan bagi kebijakan. Kita harus melakukan perenungan sedikit. Apa maksud Atisha ? perhatikan pikiran anda; perhatikan pola kerja mind anda. Mind yang selama ini terasa begitu liar, sesungguhnya memiliki pola kerja yang sangat sederhana. Ibarat perseneling mobil. Mind hanya memiliki tiga gigi. Tidak lebih dari itu. Suka, tidak suka dan cuwek, itulah gigi-gigi mind. Tidak ada gigi keempat, kelima dan seterusnya. Hanya tiga gigi. Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan itu; Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan, dan antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuwek terhadap sesuatu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Karna Paham Bagaimana Menggunakan 3 Fungsi Mind

Atisha bukan seorang utopian. Ia tidak berhalusinasi, tidak berimajinasi. Ia sedang memberikan solusi. Pertama, lepaskan diri dari perbudakan mind. Kedua, gunakan mind untuk membantu anda dalam hidup ini. Sekarang kita terkendalikan oleh mind dengan tri fungsinya. Nanti, kita akan mengendalikan mind, tetap dengan tri fungsinya juga.

Aktifkan “Kesadaran” dan mind dengan trifungsinya dapat dijadikan landasan yang kukuh, landasan yang dapat menyangga bangunan kehidupan anda. Tri fungsi mind ini dapat Memperindah kehidupan anda. Fungsi pertama, suka-sukailah kesadaran fungsi kedua, tidak suka jangan menyukai ketidaksadaran. Fungsi ketiga, cuwek bersikaplah demikianlah terhadap mereka yang menghujat anda. Apabila itu yang ada lakukan, apabila pekerjaan itu yang anda berikan kepada mind, maka mind yang sama justru bisa memperkukuh kesadaran anda. Mind menjadi alat yang sangat efektif. Mind tidak akan memperalat anda lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Karna Mengucapkan Terima Kasih dengan Tulus Bukti Tidak Terikat Mind

Setiap kali anda mengucapkan Terima kasih sesungguhnya anda melepaskan mind anda. Mind tidak pernah berterimakasih. Mind selalu melakukan perhitungan. “Terima kasih” yang diucapkan oleh mind sekedar basa-basi. Mind hanya mengenal bahasa kalkulator. Mind, pikiran, selalu menghitung laba rugi. Mind tidak pernah bersyukur “Bersyukur” adalah sebuah rasa. “berterimakasih” adalah sebuah rasa. Setiap kali anda sungguh-sungguh bersyukur dan mengucapkan “Terima kasih”, sebenarnya anda sudah melepaskan diri dari cengkeraman mind. Anda sudah berhubungan dengan “rasa”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Orang yang Berkesadaran Jiwa Tidak Mengharapkan Hasil Akhir Nanti Bagaimana

Harapan merupakan salah satu sifat, salah satu fungsi mind. Dan apabila mind terlampaui, sifat-sifatnya, fungsi-fungsinya pun akan terlampaui. Seorang meditator akan bekerja tanpa memikirkan hasil akhir. Ia akan bekerja keras sebatas kemampuannya. Ia sangat efisien. Dan mengikuti hukum sebab-akibat, ia akan berhasil tidak pernah memikirkan hasil akhir. Jangan memikirkan hasil akhir. Lepaskan harapan akan hasil. Demikian kata Atisha. Karena ia tahu bahwa setiap aksi menimbulkan reaksi, ia tahu pula bahwa karya yang membawa hasil. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Identitas Diri adalah Jiwa Bukan Badan, Indra atau Mind

Jiwa yang Bersemayam di dalam Badan atau, lebih tepatnya, Jiwa yang menggerakkan badan, menghidupinya – tidak ikut mati, tidak pula terurai. Ia tetaplah Abadi sebagaimana sedia kalanya.

Jiwa inilah identitas diri kita yang sesungguhnya. Bukan badan, bukan indra, bukan mind atau gugusan pikiran dan perasaan – semua itu entah terurai, atau berubah. Tidak demikian dengan Jiwa, yang adalah hakikat diri kita, hakikat diri setiap makhluk. Penjelasan Bhagavad Gita 2:18 dikutip dari Buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #BhagavadGitaIndonesia #SpiritualIndonesia

 

Selama Masih Memiliki 3 Guna Kita Tidak Akan Mencapai Kesetimbangan

“Veda, kitab-kitab suci bicara tentang tiga sifat utama alam benda. Lampauilah ketiga sifat itu, wahai Arjuna. Bebaskan dirimu dari perangkap dan pengaruh dualitas yang tercipta dari ketiga sifat itu. Berpegang teguhlah pada Kebenaran Hakiki tentang Jiwa; bebas dari pikiran-pikiran yang mengejar kenikmatan serta kekuasaan, beradalah senantiasa dalam Kesadaran Jiwa.” Bhagavad Gita 2:45

Tiga sifat utama alam benda mempengaruhi manusia. Sebab itu, manusia pun dapat dibagi dalam tiga kelompok utama. Pertama mereka yang Tenang. Kedua, mereka yang penuh Gairah, cenderung Agresif. Ketiga, mereka yang Malas-malasan.

Tidak berarti, Kita Memiliki Salah Satu Sifat Saja – Kita memiliki ketiga-tiganya, hanya proporsinya berbeda-beda. Apabila dalam diri Anda, sifat pertama lebih dominan, Anda akan kelihatan lebih tenang dari saya, karena dalam diri saya mungkin sifat kedua yang lebih dominan. Begitu pula, seseorang yang lebih dominan sifat ketiganya, akan tampak malas-malasan.

Pada dasarnya kita memiliki ketiga sifat tersebut. Dan, selama kita masih memiliki ketiga sifat tersebut, kita tidak akan pernah mencapai keseimbangan. Kita bagaikan pendulum, bandul yang sedang berayun-ayun dari ekstrem kanan ke ekstrem kiri. Kadang tenang, kadang tidak. Kadang agresif, kadang tidak. Kadang malas-malasan, kadang tidak.

Lampauilah ketiga sifat tersebut. Melampaui ketiga sifat tersebut berarti, berada di atas ketiga sifat tersebut. Saat itu, trinitas sifat alam benda tidak berkuasa lagi, yang berkuasa adalah Anda, Jiwa. Anda bersandar pada diri sendiri. Anda menyadari bahwa Anda bisa mengendalikan diri. Anda tidak lagi diperbudak oleh tiga sifat tersebut.

Beradalah dalam Kesadaran Jiwa – Itulah Kesadaran Hakiki Anda. Dalam kesadaran tersebut, Anda memberdayakan diri, Anda membebaskan diri dari perbudakan pada badan, indra, mind atau gugusan pikiran dan perasaan, dan sebagainya.

Saat itu Anda barulah merajai diri, menjadi penguasa atas diri sendiri. Kṛṣṇa mengajak Arjuna untuk menjadi penguasa diri seperti itu. Dikutip dari Buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #BhagavadGitaIndonesia #SpiritualIndonesia

Bhakti Setelah Lelah dengan Konflik Dalam Diri Tanpa Henti

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 11, 2018 by triwidodo

Kisah Vibhisana Menghadap Sri Rama

Seorang Master berkisah tentang Vibhisana, saudara Ravana yang tidak menyetujui tindakan Ravana menculik Sita. Pada saat bertemu Hanuman, Vibisana bertanya, “Apakah Sri Rama akan menerimaku? Aku afalah saudara dari musuhnya, aku juga dari ras asura?”

Hanuman menjawab, “Apakah kamu berpikir Dia peduli tentang status keluarga, ras, kelompok? Gusti Pangeran Sri Rama hanya peduli terhadap kebenaran. Kalau tidak demikian, bagaimana Dia bisa menerima saya, seekor monyet?”

Atas berkah Gusti Pangeran yang mewujud sebagai Sri Rama, mendengar jawaban Hanuman, Vibhisana merasa lega.

Ketika Vibhisana menghadap Sri Rama dan mohon agar bisa diterima sebagai pengikut-Nya, Sri Rama bertanya kepada Sugriva. Tentu saja, Sri Rama tidak membutuhkan nasihat siapa pun, mesti ada maksud tertentu bertanya kepada Sugriva.

Ketika Sugriva mengatakan “tidak”, Sri Rama mengingatkan bahwa Sugriva saat datang kepadanya juga tidak setuju dengan saudaranya yang bernama Bali. Bahkan, Sri Rama membantunya menjadi Raja Kera. Ketika Sugriva mengatakan sebaiknya mengembalikan Vibhisana ke Lanka, Sri Rama mengatakan Dia akan memberikan mahkota kerajaan Lanka kepada Vibhisana, seperti mahkota Kerajaan Kera Kiskendha kepada Sugriva.

 

Sugriva teringat pada waktu hidupnya penuh frustasi. Dia berupaya menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan Bali, saudaranya, akan tetapi dia menemui jalan buntu. Dia dan Bali bertarung akan tetapi dia selalu kalah. Sugriva merasa Lelah, Jenuh menghadapi masalah yang tidak terselesaikan. Pada waktu itu Hanuman, keponakannya memperkenalkan dirinya dengan Sri Rama. Hidupnya kemudian berubah, bukan hanya dirinya mengalahkan Bali dan menjadi Raja Kera, akan tetapi dia membawa pasukannya untuk menegakkan dharma melawan Ravana. Bersama Sri Rama, dirinya memperoleh makna hidup. Hidup bukan hanya memuaskan keinginan dunia tapi menemukan jatidiri. Dan setelah itu dirinya bangga sebagai alat Gusti Rama menegakkan dharma. Mati pun dirinya tidak menyesal. Dia sudah tidak menggunakan pikiran yang selalu membuat keraguan, dia hanya trust, yakin pada Gusti Rama dan selesai. Menjadi Bhakta Gusti Rama.

Sugriva juga bisa merasakan rasa frustrasi yang dihadapi Vibhisana. Vibhisana Lelah, Jenuh menghadapi Ravana, kakaknya yang merasa benar sendiri. Ego Ravana tidak bisa ditundukkan. Sugriva sekarang merasa keputusan Vibhisana adalah tepat. Hidup bukan hanya memuaskan urusan dunia. Setelah memperoleh kedamaian berada dekat Sri Rama Vibhisana pun akan bersedia menjadi alat Gusti Rama. Apa pun yang diperintahkan Gusti Rama akan dilakukannya. Sudah cukup berpikir keras membujuk Ravana agar kembali ke jalan benar, sekarang Vibhisana tidak menggunakan pikiran lagi, cukup trust, yakin pada Gusti Rama. Menjadi Bhakta Gusti Rama.

Bapak Anand Krishna pernah mengingatkan: Penggunaan pikiran yang lebih diutamakan daripada bhakti, membuat kita lebih mudah jatuh, atau paling tidak mandek di tempat.

Bapak Anand Krishna memberikan contoh. ……. Swami Vivekananda yang penuh gelora semangat, di akhir hidupnya, setelah begitu banyak yang dia lakukan, akhirnya kembali ke kaki Bunda Kali dan berkata, “Cukup Bunda, aku sudah lelah. Terimalah aku di kaki-Mu”……

 

Pikiran Kita Sering Melakukan Kusang Walau Kita sudah Dalam Lingkungan Satsang

Dalam Catatan Secangkir Kopi Kesadaran, Bapak Anand Krishna menyampaikan, “Cara terbaik untuk mempertahankan kesadaran adalah dengan menjauhi ‘Kusang’ atau lingkungan yang tidak menunjang peningkatan kesadaran. Dan, memulai kembali untuk meningkatkan bhakti kita dengan cara lebih mengembangkan Rasa daripada Pikiran. Namun kadang kita sudah mencoba untuk ‘satsang’ tetapi pikiran kita justru melakukan ‘kusang’. Dan di situlah kita memerlukan seorang Guru untuk selalu mengingatkan kita karena keberadaan beliau dari mulai perbuatan, ucapan dan apa pun yang dipikirkannya selalu mengenai peningkatan kesadaran……..

Seorang sahabat konon lagi iseng menggambar seekor anjing di atas selembar kertas. Kemudian Guru datang dan menambahkan gambar tersebut dan merubahnya menjadi gambar Yesus, sambil berkata, ‘See the difference? I make God from Dog.’ Betapa seorang Guru dalam situasi apa pun mencoba meningkatkan kesadaran kita meskipun dalam keadaan bercanda”…

Betapa telaknya pernyataan Bapak Anand Krishna bagi kita yang membaca sharing tersebut…….. kita semua tadinya bagaikan hewan yang hanya menuruti nafsu dan naluri…… dan karena tuntunan seorang Guru kita dapat meningkat kesadarannya….. Tanpa tuntunan seorang Guru, tanpa panduan terus-menerus penuh kasih untuk memelihara kesadaran kita akan kembali ke sifat hewani lagi……. Kita ibarat Dog dan Guru berupaya menjadikan God.

 

Kembali ke Bhakti

Sang Murid yang menggambar anjing di atas meneruskan sharingnya…….. “Yang paling susah adalah masalah Bhakti. Menurut Guru, saat ini kita sudah terlalu banyak menggunakan pikiran dan meninggalkan Bhakti, seperti ilustrasi tentang Vivekananda di atas yang pada akhirnya pun harus kembali ke Bhakti. Spiritualitas, mengutip kata-kata Guru, pada akhirnya adalah suatu proses penghapusan Ego secara terus menerus. Dengan keberadaan seorang Guru, kita dapat lebih mudah untuk menghapuskan Ego kita karena seorang Guru dapat menjadi subjek bagi kita untuk menafikan ego. Dalam salah satu kelas, Guru bercerita bahwa seorang global master di depan jutaan muridnya pernah berkata bahwa beliau sedang mencari seorang Bhakta. Bayangkan dengan jumlah murid yang berjumlah jutaan itu dan dengan tingkat devosi yang demikian tinggi, Sang Master masih sedang mencari seorang Bhakta. Mendengar penjelasan Guru seperti itu, bikin shock juga”……..

Keraguan Berasal dari Pikiran, Keyakinan Berasal dari Jiwa

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 7, 2018 by triwidodo

Kisah Shankara Sewaktu Kecil

Kita telah membaca karya Mahaguru Shankara yang disampaikan oleh Bapak Anand Krishna yaitu:

  1. (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Indonesia: Gramedia Pustaka Utama)
  2. (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang Master menyampaikan kisah legenda tentang Mahaguru Shankara pada saat dia masih anak-anak. Sejak kecil Shankara telah paham kata-kata dari Veda: Matru devo bhava, Pitru devo Bhava. Ibu adalah Gusti Pangeran demikian Ayah adalah Gusti Pangeran juga.

Pada suatu hari, sang ayah berkata bahwa dia akan pergi bersama sang ibu. Sang ayah berpesan bahwa dia secara rutin melakukan ritual persembahan makanan untuk Bunda Ilahi di altar dan setelah itu membagikan sisa makanan persembahan (prasadam) kepada semua orang. Sang ayah berpesan agar Shankara melakukan hal tersebut, selama kedua orangtuanya bepergian. Shankara berjanji akan melakukan dengan sebaik-baiknya.

Shankara menuangkan susu ke dalam cangkir di altar dan berdoa kepada Bunda Ilahi, “Bunda mohon ambillah susu yang saya persembahkan ini!” meskipun Shankara sudah berdoa lama, akan tetapi Sang Bunda Ilahi tidak juga minum susu, susunya masih utuh, dan Shankara sangat kecewa. Shankara sendiri belum pernah melihat susu persembahan ayahandanya berkurang atau tidak di altar, akan tetapi dia sangat yakin, trust, terhadap pesan ayahandanya.

Shankara sangat kecewa dan kembali berdoa dari lubuk hati terdalam, bhava, “Bunda, ayah saya meminta saya mempersembahkan susu kepada Bunda, tapi Bunda tidak mau menerima persembahan. Kalau demikian, lebih baik saya mati!” Shankara pergi keluar mengambil batu besar untuk bunuh diri.

Bunda Alam Semesta sangat welas asih dan tersentuh dengan ketulusan Shankara. Dia langsung muncul di hadapan Shankara dan minum seluruh susu dalam cangkir persembahan. Shankara kecil sangat bahagia dan ingin meminum seteguk sisa susu dalam cangkir tersebut. Tapi cangkir tersebut telah kosong melompong.

Shankara bingung, nanti pada saat ayah dan ibunya datang pasti menanyakan susu sisa persembahan. Di keluarga mereka, mereka selalu mempersembahkan makanan ke altar dan baru kemudian mereka makan sisa persembahan (prasadam), makanan yang telah terberkati. Shankara berdoa, “Bunda, setidaknya beri setetes dua tetes susu bagi kedua orangtuaku.” Shankara berdoa terus tidak mau pergi sebelum cangkir susunya berisi susu walau sedikit. Bunda Alam Semesta akhirnya hadir dan memberikan air susu dari payudara Bunda sendiri. Shankara bersyukur dengan bersujud dan minum sedikit susu di cangkir.

Dikatakan itulah sebabnya Shankara memperoleh kebijaksanaan tertinggi karena minum air susu Bunda Ilahi.

 

Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava, Ibu dan Ayah Wujud Tuhan

Hormatilah ibumu sebagai Wujud Hyang Mulia, hormatilah ayahmu sebagai Wujud-Nya pula. Siapakah Tuhan itu? Ibu dan Ayah adalah Tuhan…… melupakan Sang Hyang yang berwujud dan berada dihadapanmu, dan berupaya mencari Tuhan di tempat lain tidak ada gunanya. Mereka (orangtua) senantiasa bersama kita dalam keadaan sulit, kehilangan dan duka, merekalah yang memahami dan memelihara kita. Cintailah orangtuamu lebih dahulu. Jika kau tidak mencintai orangtua, kau tidak akan pernah mendapatkan cinta sejati…Hormati orangtuamu. Layani mereka. Ketika membuat mereka bahagia, hidupmu akan selamanya bahagia.

Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava, Ibu dan Ayah Wujud Tuhan: Jika kita tidak menghormati melayani kedua orang tua kita, kelak janganlah mengharapkan anak-anak kita akan mengurusi kita. Ingat Hukum Karma. Kita menuai hasil dari apa yang kita tanam.

Sumber: Sabda Sang Guru 4 Pancha Yajna Kewajiban Untuk Berbagi Bagian 2  Oleh Bapak Anand Krishna Sumber Media Hindu

Keyakinan Bersumber dari Jiwa

“Have faith, trust—yakinlah! Keraguan muncul dari pertimbangan, perhitungan, logika, dan pikiran. Sementara itu, keyakinan adalah urusan jiwa. Yakinlah bila kekuatan jiwa jauh melebihi kekuatan pikiran. Dan jangan lupa, energi yang Anda keluarkan untuk berkarya, untuk bekerja, justru memperkuat jiwa Anda, iman Anda, keyakinan Anda pada diri sendiri. Pertimbangan, penilaian, semuanya bisa salah. Akal bisa akal-akalan, bisa juga mengakali. Logika hanya menggunakan informasi yang sudah dimilikinya sebagai acuan. Keyakinan adalah dari jiwa. Dan dari keyakinan seperti itu lahir kehendak yang kuat. So, trust and will power, keyakinan dan kehendak yang kuat, dua-duanya adalah buah jiwa. Urusannya dengan akal budi di dalam diri Anda, bukan dengan akal atau akal sehat saja, yang adalah buah pikiran.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012).Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Biarlah kehendak-Nya yang terjadi!

“Hendaknya kekuatan kehendak tidak diterjemahkan sebagai kekeraskepalaan. Tujuan Anda  berkehendak kuat bukanlah untuk memenuhi keinginan Anda dan melayani kemauan ego Anda. Tidak. Tujuan Anda berkehendak kuat adalah untuk meleburkannya dalam Kehendak Gusti Pangeran. Untuk memuliakan-Nya, untuk mengagungkan-Nya. Biarlah kehendak-Nya yang terjadi!” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012).Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam buku Bhaja Govindam, Shankara menyampaikan tentang Keyakinan, Trust,

Keyakinanmu Menyelamatkanmu

Apa yang kau tahu tentang perjalanan bersama Shankara? Saat ini kau masih sibuk berjalan bersama Ahamkara, sama ego-mu.

“Kenikmatan duniawi saja yang kau kejar sepanjang hidup; di usia senja, penyakit mulai mengganggu; walau tahu yang lahir kelak pasti mati, kau tetap tidak berupaya untuk mengubah sikapmu.”

“Upaya apa Shankara? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana mengubah sikap? Aku belum capek, belum jenuh dengan dunia ini, walau kutahu pula kenikmatan yang kuperoleh selama ini semu, tak berarti. Aku belum layak duduk bersamamu, tapi janganlah mengusirku dari pekarangan rumahmu…. Apa yang harus kulakukan Guru?” ada juga murid seperti itu.

Maka Shankara pun tersenyum. Ia memeluknya, “Keyakinanmu akan menyelamatkanmu. Ketahuilah bahwa jiwamu terselamatkan sudah.”

Demi murid-murid seperti itulah seorang Shankara menggelar pesta raya di padepokannya. Ada nyanyian, tarian, macam-macam hiburan. Untuk apa? Agar panca indera kita terlibat semuanya, dan tidak lagi tergoda oleh stimulus-stimulus lain.

Ada yang mengeluh, “Koq pesta melulu?”

Daripada murung melulu! Daripada perang melulu! Dia tidak tahu apa tujuan Sang Guru dengan pesta-pesta itu. Musik Sang Guru bukanlah musik biasa. Nyanyiannya bukan nyanyian biasa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Indonesia: Gramedia Pustaka Utama)

Memperoleh Anugerah Lewat Ketulusan Persembahan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 6, 2018 by triwidodo

Kisah tentang Kuchela dan istrinya, para Panembah Sri Krishna

Seorang Master berkisah tentang Kuchela. Nama aslinya adalah Sudama, teman sekolah Krishna di Gurukula Sandipani, akan tetapi karena karena selalu mengenakan pakaian compang-camping maka dipanggil Kuchela. Dalam banyak hal, seseorang berhail adalah karena Shakti, Wanita, Sumber Energi yang mendampinginya, apakah dia ibunya, istrinya atau bankan murid wanitanya.

Demikianlah istri Kuchela adalah bhakta Sri Krishna, dia tidak mengeluh hidup miskin bersama Kuchela. Pada suatu hari datang intuisi untuk mempersembahkan makanan pada Sri Krishna. Kuchela malu, apakah Sri Krishna masih mengingatnya, dan apakah pantas mempersembahkan nasi kering kepada seorang raja sekaligus seorang Avatara.

Akan tetapi sang istri mendesaknya, mengingatkan bahwa Sri Krishna memperhatikan ketulusan persembahan dari bhaktanya. Kalau tidak berani menghadap Krishna, cukuplah sampai di gerbang istana saja, Sri Krishna pasti memanggilnya.

Sang istri mengambil segenggam nasi yang telah dijemur (nasi aking) dan memasukkan dalam air mendidih, kemudian menggoreng tanpa minyak, menambah bumbu rempah dan menumbuknya. Itulah nasi aking tumbuk kesenangan Sri Krishna waktu sekolah kata Kuchela. Nasi tumbuk itu disimpan dalam kain dan dibawa Kuchela. Kuchela adalah seorang brahmana walau miskin, dia menguasai kitab-kitab, akan tetapi emakin melangkap rasa takut menghantuinya. Apakah dia akan diterima Sri Krishna. Hanya semangat sang istri yang mendorongnya berjalan menuju gerbang istana Sri Krishna. Kalau kita berjalan selangkah menuju Gusti, Dia akan mendekat seribu langkah.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan tentang 4 macam panembah, pertama yang mencari dunia tapi berbagi sebagian hartanya sebagai persembahan. Kedua, mereka yang menderita tapi tetap mengingat Gusti Pangeran, ketiga mereka yang mencari pengetahuan sejati dan keempat yang hidupnya semata-mata dipersembahkan kepada-Nya.

Sang istri meningatkan bahwa mereka adalah keluarga yang menderita tapi tetap ingat Gusti. Apabila Gusti berkenan mereka tidak akan miskin lagi dan mereka benar-benar bisa menjadi bhakta yang mempersembahkan hidupnya pada Gusti Pangeran.

Akhirnya, sampai juga Kuchela di gerbang istana Sri Krishna. Benar juga Sri Krishna memanggilnya dan mereka langsung bernostalgia tentang waktu sekolah dulu. Sri Krishna membuka buntalan kain yang dibawa Kuchela dan makan nasi tumbuk dengan nikmatnya. Persembahan yang tulus membuat Sri Krishna nampak bahagia.

Rukmini datang dan memegang tangan Sri Krishna agar tidak menghabiskan persembahan, dia pun ingin menikmati persembahan dari istri Kuchela. Air mata Kuchela menetes, sang istri benar, Gusti berkenan dengan persembahan yang tulus, bahkan permaisuri pun ingin memperoleh bagian dari persembahan tersebut.

Kuchela meninggalkan istana Sri Krishna dengan sedikit kecewa, karena tidak memperoleh bantuan dana dari Sri Krishna. Akan tetapi sampai di rumah dia melihat istrinya memanggilnya dari rumah besar yang indah. Gubuk reyotnya telah berubah menjadi rumah indah dengan berbagai harta kekayaan. Keluarga Kuchela telah menjadi bhakta yang mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Sri Krishna.

Persembahan Seorang Panembah

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

…………..

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Kisah Karma yang Mempersembahkan Nasi Setengah Matang kepada Sri Krishna

Berikut adalah salah satu kisah dari Bapak Anand Krishna yang kami catat tentang Kisah Karma yang mirip dengan kisah Sudama. Karma mempersembahkan nasi setengah matang kepada Sri Krishna dan Sudama mempersembahkan nasi “aking” (sisa nasi yang dijemur dan dimasak kembali) kepada Sri Krishna.

“Terimalah persembahanku yang sederhana ini, O Gusti, sebagaimana Engkau menerima nasi setengah matang dari Karma.”

Nasi setengah matang dari Karma mewakili kepanembahan kita yang setengah matang; iman kita yang belum matang. Nasi setengah matang dari Karma juga mewakili pikiran-pikiran kita yang belum dewasa; perbuatan-perbuatan kita yang tidak selalu selaras dengan pikiran, perasaan, dan ucapan kita; tindakan-tindakan kita yang tidak selalu bajik.

Sang panembah, sang murid meminta pada Master, “Gusti, aku belum matang, aku tidak matang, tidak dewasa, dan bodoh. Mohon terimalah aku apa adanya.”

Dengan mengakui ketidaksiapan kita, sesungguhnya kita mengkomitmenkan diri untuk Evolusi Jiwa. Jika tidak, sekadar pengakuan saja tidak berarti apa-apa.

Marilah kita tidak melupakan bahwa kita tidak akan pernah bisa membodohi sang Master. Sang Master mengenal kita luar dalam. Kita tidak bisa menyembunyikan apapun dari Master Sejati.

Karma mendekati sang Master dengan iman yang penuh dan kepanembahan yang total, yang one-pointed – jadi sang Master menerimanya, menerima persembahan dirinya yang belum matang, belum selesai dimasak, belum siap.

“O Master, O Gusti, Engkau tidak peduli, apakah nasinya keasinan atau kurang asing. Engkau memakannya seolah itu adalah makanan terlezat yang pernah dimasak.”

Bagi sang Master, panembahan atau iman kita adalah “kesiapan kita”, atau lebih tepatnya “kelayakan kita”; “satu-satunya kualifikasi” kita untuk memasuki diri-Nya. Waspadalah, jangan sampai kita menjadi sombong karena hal ini.

Penerimaan dari sang Master adalah keberuntungan kita. Adalah karunia dari-Nya.Janganlah kita menjadi sombong, “Lihat, lihat, aku diterima.” Kesombongan kita, ego kita hanya akan membawa satu hasil – yaitu, kejatuhan kita dari karunia-Nya.

Ketika seorang anak dikirim ke sekolah – perkara ia diterima masuk atau tidak adalah hak prerogatif dari sekolah. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Hak prerogatif sekolah duniawi masih dapat dikompromikan dengan uang, dengan sumbangan. Tetapi, prerogatif dari Guru tidak dapat dikompromikan dengan apapun, ketika ia menerima, itu adalah karunia-Nya. Dan, seperti telah kita lihat sebelumnya – ada pre-requisite tertentu, persyaratan tertentu, yaitu Iman dan Panembahan.

Dekatilah Sadguru dengan karma kita yang belum matang, selama kita memiliki iman dan panembahan yang dibutuhkan, Ia mungkin akan menerima kita.

Tetapi janganlah sekali-kali kita mengeluh saat Ia mulai memasak diri kita. Yang belum matang, setengah matang harus dimatangkan. Yang mentah harus dibuat matang. Yang belum dewasa harus didewasakan. Dan prosesnya bisa jadi sangat melelahkan.

Gusti menerima persembahan Karma berupa nasi setengah matang dan Ia memakannya. Pahami makna yang tersirat, signifikansi dari cerita ini. “Proses” makan inilah sesungguhnya arti bermurid. Dimakan oleh Sadguru berarti menjadi tanpa ego, menjadi nol.

Kita mungkin dipuja sebagai pahlawan oleh dunia, tetapi Sadguru tidak terpengaruh oleh itu. Sadguru harus menghabiskan kita, menghabiskan ego kita sampai nol, karena pintu, gerbang karunia terbuka semakin lebar saat kesadaran-ego kita semakin habis.

Sumber catatan tentang message Bapak Anand Krishna

Hewan pun Merupakan Wujud-Nya

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 6, 2018 by triwidodo

Kisah Laba-Laba dalam Perang Bharatayuda

Seorang Master bercerita tentang Vyasa yang sedang gundah gulana menyaksikan pertempuran Baratayuda yang sedang berlangsung. Vyasa tahu peperangan akan berlangsung 18 hari penuh genangan darah. Genangan darah dari kedua pasukan yang bertempur yang merupakan garis keturunannya. Vyasa seorang Rishi, seorang Bhagavan yang sadar akan jati dirinya, akan tetapi sebagai manusia sedih juga perasaannya. Vyasa sedang keluar dari medan pertempuran saat dia melihat seekor laba-laba lari cepat sekali. Fokus mind Vyasa berganti.

Vyasa bertanya, “Kenapa kau berlari cepat sekali?” Laba-laba itu bergegas naik ke bukit dan menjawab, “Rishi tahu bahwa kereta perang Arjuna akan lewat di sini. Jika saya terperangkap di bawah roda kereta habislah saya!”

Vyasa tertawa, “Tidak ada mata yang menangis, ketika kau mati. Dunia tidak akan menderita saat kau mati terlindas kereta Arjuna. Ketika kau lenyap, dunia tidak kehilangan.” Laba-laba bergetar karena penghinaan Vyasa dan berteriak, “Bagaimana kau dapat dipanggil Orang Bijak, Wahai Rishi yang merasa kalau mati akan terjadi kerugian besar. Sedangkan kalau saya mati, tidak ada yang peduli? Saya juga mempunyai istri dan anak-anak yang saya cintai. Saya juga merasakan kelaparan, haus, kesedihan, rasa sakit, kegembiraan, sukacita dan sedih saat berpisah dengan kawan-kawan dan kerabat. Bagimu kehidupanmu, bagiku kehidupanku!”

Vyasa tersentuh, merasa bersalah dan minta maaf.

Dia ingat Bharata, leluhur dia dan juga seluruh dinasti Bharata yang bahkan dia kisahkan di Srimad Bhagavatam, pada saat menjadi salah satu pembawa tandu Raja Rahugana, Bharata selalu berjalan berhati-hati takut menginjak semut atau binatang lain. Sang raja bingung dan terjadilah tanya jawab yang membuat sang raja sadar dan berguru pada Bharata.

Vyasa juga ingat telah menulis tentang Dattatreya di Srimad Bhagavatam, seorang avadhuta yang belajar dari kehidupan hewan.

Kita sebagai manusia lupa bahwa hewan juga punya kehidupan. Kadang kita mencintai anjing, kucing atau burung, tapi tidak peduli pada kehidupan sapi dan ayam yang kita hilangkan nyawanya demi kenikmatan lidah saja.

 

Emosi pada Binatang

Para ilmuwan semakin percaya bahwa hewan pun merasakan emosi seperti manusia. Sukacita, kesedihan, kemarahan, kecemburuan dan cinta memainkan peran penting dalam kehidupan mereka.

Ada 3 komponen emosi yang dipelajari: fisiologis (respon tubuh/fisik), perilaku (apa yang ditunjukkan kepada makhluk lain), dan respon psikologis (apa yang dirasakan). Emosi berbeda dari sensasi, yang hanya merupakan konsekuensi fisik (misalnya panas), dan dari perasaan, yang hanya mengacu pada keadaan internal tanpa referensi untuk reaksi eksternal.

Hal tersebut diperkuat bahwa mamalia memiliki struktur otak yang mirip dengan manusia, dan cara kerja otak mereka mirip dengan cara kerja otak manusia.

Sumber: onekindplanet.org/animal-behaviour

Manusia Hasil Proses Evolusi yang Sangat Panjang

Setelah menjalani proses evolusi yang sangat panjang, manusia berhasil memiliki pikiran (mind), otak (brain), dan pancaindra (senses) yang cukup canggih, melebihi makhluk-makhluk lain di dunia ini. Hal ini merupakan berkah sekaligus serapah bagi dirinya. la memiliki otak dan pancaindra untuk mewujudkan apa yang dikehendakinya termasuk melawan dan menentang hukum alam.

Manusia memiliki kebebasan, baik untuk menyadari kemanuggalannya dengan alam semesta maupun untuk tidak menyadarinya. Ketika ia memilih untuk tidak menyadari kemanunggalannya maka ia berpikir bahwa dirinyalah yang Maha Kuasa dan dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. la merusak lingkungan, melawan alam, bertindak sesuai dengan keinginannya karena menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling hebat, tinggi, spesial, dan berada di atas seluruh makhluk-makhluk lainnya. Jadi manusia memiliki kebebasan untuk memajukan diri atau menghancurkan dirinya sendiri……… Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Manusia yang menuruti keinginannya tanpa mempedulikan manusia lain dan lingkungannya bisa lebih ganas daripada hewan. Kita melihat perang antar manusia, sekelompok manusia menyerang kelompok manusia yang lebih lemah, keganasannya jauh melebihi hewan. Ke-“tidakmanusiawi”-annya di atas hewan.

Hewan pun adalah Wujud-Nya

Di mana pun kau berada, apa pun yang kau lakukan, ketahuilah bahwa Aku mengetahui segala hal. Akulah pengendali diri setiap makhluk. Aku meliputi semua, bukanlah manusia saja, tetapi setiap makhluk, bahkan benda yang tak bergerak, dan kau anggap mati. Akulah dalang, dan sutradara permainan alam semesta. Aku pula ibu sejati yang melahirkannya. Akulah sumber segala hal.

Tiga sifat utama, Satva yang tenang, Rajas yang dinamis, dan Tamas yang malas, berasal dari-Ku. Akulah yang merasakan lewat pancaindera. Akulah Pencipta, Pemelihara, dan Pendaur ulang alam semesta.

Mereka yang berpaling kepada-Ku akan terbebaskan dari cengkeraman Maya. Dualitas kebendaan yang menyengsarakan. Mereka yang berpaling dari-Ku, terperangkap dalam permainan Maya.

Segala sesuatu yang terlihat maupun tak terlihat, termasuk cacing-cacing dalam selokan dan semut yang kauinjak, benda-benda yang bergerak maupun yang tidak bergerak, semuanya adalah wujud-Ku… Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)