Gerhana di Akhir Kalpa Menjelang Perang Bharatayudha #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on September 19, 2017 by triwidodo

“Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), terdorong oleh sifat mereka masing-masing, makhluk-makhluk beragam jenis muncul di awal hari Brahma, dan lenyap saat datangnya malam Brahma, untuk muncul kembali pada pagi hari Brahma berikutnya.” Bhagavad Gita 8:19

Teori Evolusi Darwin dan penemuan-penemuan para saintis modern kadang tidak selalu selaras. Krsna menyelaraskan keduanya dan menjelaskan kebenaran sebagaimana adanya.

PENEMUAN DARWIN ADALAH SEPOTONG atau sekilas kebenaran. Bahwasanya terjadi evolusi, ya. Tetapi, jika memang demikian, maka dalam kurun Waktu 3-4 miliar tahun sejak bumi dianggap layak bagi kehidupan, semestinya cacing dan ikan sudah tidak ada lagi. Bentuk-bentuk awal kehidupan semestinya sudah punah dan berevolusi menjadi manusia. Temyata tidak.

Hingga hari ini pun, bentuk-bentuk awal kehidupan masih ada. Bahkan dinosaurus pun masih ada. Bentuknya saja berubah — cecak! Ya, cecak adalah evolusi dari dinosaurus, yang merasa terdesak oleh manusia, dan “tumbuh menjadi kecil” tinggal di dinding, untuk menyelamatkan dirinya dari serangan manusia.

Jadi, dinosaurus mengalami evolusi dengan menjadi sekian ratus ribu kali lebih kecil. Ini pula menjelaskan berbagai macam virus, kuman, dan sebagainya. Mereka pun, persis seperti dinosaurus, adalah perkembangan — hasil evolusi — dari binatang-binatang yang telah kita bunuh dan gusur!

 

PARA RAKSASA ADALAH “THE MISSING LINK” kehidupan antara dinosaurus dan cecak. Namun, di antaranya ada pula raksasa-raksasa yang mengambil jalur evolusi yang beda, sesuai dengan kemungkinan yang dimilikinya. Ya, kemungkinan……

Kemungkinan evolusi sesuai potensi yang terekam dalam blok kehidupan. Bahasa kerennya “DNA”. Hampir 99% DNA kita sama — berpola, bercorak yang sama. Kurang dari 1% yang unik, sehingga Anda menjadi Anda, dan saya menjadi saya.

Pun demikian, lebih dari 99% dinosaurus mengambil kemungkinan yang paling gampang — menjadi cecak. Kurang dari 1% saja yang berani mengambil jalur yang tidak populer — rnenjadi manusia — dengan resiko bahwa sifat-sifat raksasanya masih terbawa juga.

……………….

Evolusi adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi, khususnya…. EVOLUSI BATIN, JIWA. Setelah tibanya malam Brahma — seekor dinosaurus bisa berevolusi, mengambil jalur yang tidak populer, menjadi raksasa, kemudian manusia – tapi, manusia seperti apa? Manusia bersifat raksasa atau dinosaurus? Manusia cecak?

Jika tidak, maka kita mesti mengembangkan terus nilai-nilai kemanusiaan, mengasahnya terus-menerus. Syukur-syukur di tengah siang hari Brahma kita sudah keluar dari Lingkaran Kelahiran dan Kematian. Tapi, jika tidak — upaya kita sepanjang hari Brahma akan menjadi modal awal kita pada pagi hari berikutnya — kita akan lahir sebagai manusia yang manusiawi, bukan hewani!

KELAHIRAN KITA DI HARI BRAHMA YANG SUDAH BERLALU telah mengantar kita pada hari ini, termasuk kehidupan ini. Dan, apa yang akan terjadi di hari Brahma besok, sangat bergantung pada perbuatan dan sikap serta sifat kita sekarang, saat ini. Jika kita masih bersifat raksasa, maka kita lahir kembali dengan sifat yang sama. Jika kita menyadari adanya kemungkinan lain, maka Iahirlah kita dengan segala apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan kemungkinan tersebut. Lahir di keluarga, di negara, di tengah masyarakat yang menunjang evolusi kita.

Jika pilihan kita adalah “Ah capek —jadi manusia segala. Jadi cecak saja!” Maka, itulah yang terjadi. Untuk menjadi cecak sungguh sangat mudah. Tidak perlu melakukan apa-apa. Tetaplah menjadi munafik, tidak berterima kasih terhadap orang yang berbuat baik. Malah kalau bisa mencelakakan mereka – maka, bim-salabim — jadilah cecak!

SEKARANG, KITA TIDAK INGAT LAGI sudah pernah jadi cecak berapa kali; jadi monyet berapa kali; jadi kambing berapa kali — dan, sebagainya. Kita tidak mengingat pengalaman-pengalaman itu karena pengalaman sebagai manusia saat ini, lebih dahsyat.

Coba lihat ke belakang….

Dalam hidup ini pun, adalah pengalaman-pengalaman dahsyat saja yang kita ingat betul. Tapi, ketika menjadi cecak atau cacing kita mengingat setiap hari yang pernah kita lewati sebagai manusia. Kita akan mengenang masa lalu dengan penuh penyesalan. Inilah kodrat seekor cecak, untuk menderita sepanjang hidupnya. Mau? Tidak? Berubahlah!

Setiap kali melihat cecak, sadarilah adanya kemungkinan bila ia pernah menjadi manusia yang bersifat raksasa, tidak mengolah dirinya, dan kembali menjadi cecak. Jangan meniru mereka.

Mau tahu warga bangsa mana yang masih banyak mewarisi sifat-sifat raksasa? Silakan memperhatikan jumlah cecak di dinding-dinding rumah mereka, di negeri mereka…… Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Catatan:

Satu Kalpa sama dengan “satu hari bagi Brahma”.

Satu hari bagi Brahma sama dengan seribu Yuga.

Satu Yuga terdiri dari empat zaman: Satya Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga.

 

Setelah musuh-musuh Sri Krishna hancur, maka Kerajaan Dvaraka berada dalam keadaan damai. Pada suatu saat para ahli astronomi menyampaikan akan terjadinya peristiwa gerhana matahari yang luar biasa. Gerhana seperti ini yang akan terjadi pada pergantian kalpa atau Hari Brahma akan berakhir. Untuk itu semua warga Dvaraka pergi ziarah ke tempat suci Kurukshetra di daerah yang disebut Samantapancaka. Hanya Aniruddha dan Krtavarma yang diminta menjaga Dvaraka.

 

Pada akhir Hari Brahma, akhir kalpa semua akan digulung. Dan, pada waktu awal Hari Brahma yang baru, awal kalpa baru, lahir makhluk-makhluk baru sesuai “pencapaian” 1 kalpa sebelumnya.

Dalam Srimad Bhagavatam disampaikan bahwa dalam kalpa sebelumnya Narada adalah anak pembantu, akan tetapi di kalpa selanjutnya dia sudah menjadi Rishi Putra Brahma. Sanathkumara guru Rishi Narada hidup di Kalpa sewaktu Narada sebagai pembantu kemudian tidak lahir lagi.

Kita semua lupa pada saat pergantian kalpa tersebut kita sebelumnya menjadi apa dan bagaimana pencapaian kita.

Kelahiran kita di hari Brahma yang sudah berlalu telah mengantar kita pada hari ini, termasuk kehidupan ini. Dan, apa yang akan terjadi di hari Brahma besok, sangat bergantung pada perbuatan dan sikap serta sifat kita sekarang, saat ini. Jika kita masih bersifat raksasa, maka kita lahir kembali dengan sifat yang sama. Jika kita menyadari adanya kemungkinan lain, maka Iahirlah kita dengan segala apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan kemungkinan tersebut. Lahir di keluarga, di negara, di tengah masyarakat yang menunjang evolusi kita.

Jika pilihan kita adalah “Ah capek —jadi manusia segala. Jadi cecak saja!” Maka, itulah yang terjadi. Untuk menjadi cecak sungguh sangat mudah. Tidak perlu melakukan apa-apa. Tetaplah menjadi munafik, tidak berterima kasih terhadap orang yang berbuat baik. Malah kalau bisa mencelakakan mereka – maka, bim-salabim — jadilah cecak!

 

Seluruh ksatria dan keluarganya dari daerah Bharatavarsa ziarah di tempat suci Samantapancaka. Vasudeva ayah Sri Krishna bertemu saudarinya, Kunti ibu Pandava di sana. Warga Brindavan di bawah pimpinan Nanda juga hadir di sana.

Sri Krishna memperhatikan para ksatria yang bertubuh kuat. Sebagian dari mereka angkuh karena kekayaan dan keperkasaannya. Sri Krishna telah melihat bahwa banyak ksatria sebentar lagi akan terbunuh, akan tetapi mereka tidak menyadarinya.

Avatara Parasurama pernah membunuh semua ksatria yang jahat dan darahnya ditampung di Danau Samantapancaka. Dan kini Sri Krishna melihat tidak lama lagi akan banyak ksatria dan prajurit yang mati di dekat tempat tersebut.

Kebanyakan yang hadir datang dalam rangka ziarah, mandi di di danau, karena akan ada gerhana matahari yang besar. Akan tetapi banyak yang tidak sadar bahwa pada saat kalpa berakhir nanti, mereka semua akan digulung oleh alam. Walaupun demikian, hitungan waktu bagi alam itu sangat panjang, sehingga masyarakat gampang melupakannya.

Sri Krishna sedang bermeditasi saat Balarama mendekat, Balarama mengatakan paham apa yang dipikirkan Sri Krishna, akan tetapi hal tersebut tidak akan dapat dihindari. Balarama kemudian mengajak Sri Krishna melihat siapa yang datang yang akan membahagiakan Sri Krishna………………..

Bagaimanakah pertemuan Vasudeva dengan Kunti, Sri Krishna dengan para gopi dan gopala dari Brindavan? Silakan ikuti kisah selanjutnya, apa yang dibicarakan mereka di akhir kalpa…….

Advertisements

Dantavakra: Takdir adalah Hasil dari Benih Tindakan Masa Lalu #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on September 18, 2017 by triwidodo

Reinkarnasi dan hubungan pada masa kini

Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada. Pertemuan kita, perpisahan kita, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak. Yang namanya takdir itu apa? Memang yang tengah kita alami sekarang ini merupakan takdir kita, sudah ditentukan oleh masa lalu kita. Tetapi yang menentukannya siapa? Kita, kita juga.

Apa yang kita buat pada masa lalu menentukan masa kini kita. Nah, Sekarang, apa yang kita buat sekarang, dapat menentukan masa depan kita.

Takdir sepenuhnya berada di tangan Anda. Bagi mereka yang mengetahui mekanisme alam ini, hidup menjadi sangat indah. Ia tidak akan menangisi takdirnya. Ia tahu persis bahwa ia pula yang menentukan takdirnya sendiri. Ini yang disebut Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat. Karma berarti tindakan, karya. Karma bukan berarti tindakan baik, ataupun tindakan buruk, sebagaimana anda tafsirkan selama ini. Anda yang menderita, anda katakan itu Hukum Karma. Hubungan-hubungan Anda pada masa lalu, menghubungkan Anda kembali dengan mereka yang menjadi kawan Anda, keluarga Anda pada masa kini.

 

Reinkarnasi dari Ego

Yang mengaktifkan komputer manusia ini adalah juga tiga unsur utama. Saya mengatakan tiga unsur utama, karena sebenarnya masih banyak unsur lain, tetapi yang utama adalah tiga.

Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware.

Kedua, Ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja,

Ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Badan kita sewaktu-waktu bisa rusak, bisa berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Ego kita, yang merupakan software masih dapat digunakan.

……………..

Yang lahir kembali itu siapa? Bukan badan kita, karena badan kita sudah menjadi bangkai, sudah dikubur atau dibakar. Badan sudah musnah. Badan tidak mengalami kelahiran kembali. Badan mengalami proses daur ulang dalam bentuk lain. Dari tanah datangnya, ia kembali ke tanah, untuk selanjutnya datang lagi dan kembali lagi, demikian seterusnya………. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ini adalah kisah reinkarnasi para tokoh di Zaman Sri Rama yang pada lahir kembali pada Zaman Sri Krishna.

 

Upacara Rajasuya telah berakhir. Dan dalam waktu tidak lama Shalva menyerang Dvaraka menuntut balas atas kematian Shishupala dan Jarasandha. Sri Krishna yang berada di Mathura segera datang ke Dvaraka dan membunuh Shalva.

Seorang sepupu Shishupala dan sahabat Shalva dan Jarasandha bernama Dantavakra menuntut balas menyerang Sri Krishna. Akan tetapi Dantavakra pun mati dibunuh Sri Krishna dan nampak sebuah sinar keluar dari tubuh Dantavakra masuk ke kaki Sri Krishna.

Rishi Shuka memberikan penjelasan kepada Parikshit, mengapa Shishupala dan Dantavakra memperoleh kebebasan saat dibunuh oleh Sri Krishna.

Silakan baca ulang:

Hiranyaksha dan Hiranyakashipu Kelahiran Sifat Raksasa Akibat Nafsu #SrimadBhagavatam

Varaha Wujud Avatara saat Kezaliman Hiranyaksha Merajalela #SrimadBhagavatam

Hiranyakasipu: Tercapainya Ambisi Menjadi Penguasa Tiga Dunia #SrimadBhagavatam

Prahlada: Kombinasi Ayah Buas dan Ibu Saleh, Menjadi Pengabdi Gusti #SrimadBhagavatam

Avatara Narasimha: Wujud Narayana Pelindung Dharma #SrimadBhagavatam

Pada suatu ketika, anak-anak Brahma: Sanaka, Sanatama, Sanananda dan Sanatkumara pergi ke Vaikuntha untuk menemui Sri Vishnu. Vaikuntha adalah istana tempat tinggal Sri Vishnu bersama permaisurinya, Lakshmi. Istana tersebut hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang mempunyai bhakti yang luar biasa tinggi kepada Narayana.

Para rishi putra Brahma memasuki Istana Vaikuntha sampai ke gerbang ke tujuh. Di sana dijaga oleh Dwarapala, dua penjaga, Jaya dan Vijaya. Ketika para rishi berusaha masuk, mereka dihalangi oleh kedua penjaga gerbang karena Sri Vishnu sedang berdua dengan Lakshmi. Hal ini menyebabkan kemarahan para rishi yang sudah mempunyai janji dengan Sri Vishnu. Resi Sanaka memberi kutukan bahwa kedua penjaga tersebut akan turun di dunia dan lahir dua belas kali sebagai musuh Sri Vishnu, Gusti yang selama ini menjadi pelindung mereka.

Pada saat pertengkaran itu, Sri Vishnu muncul di depan mereka. Bertobat atas kebodohan dan keangkuhan mereka, Jaya dan Vijaya memohon Sri Vishnu untuk membebaskan mereka dari kutukan sang tamu. Sri Vishnu mengatakan bahwa kutukan tidak bisa dibatalkan, tapi bisa mengurangi intensitasnya. Dia memberi mereka dua pilihan: mereka bisa memilih opsi pertama untuk lahir di dunia sebanyak 7 (tujuh) kali sebagai bhakta, devoti Sri Vishnu; atau opsi kedua untuk lahir di dunia sebanyak 3 (tiga) kali sebagai musuh bebuyutan Sri Vishnu. Sri Vishnu mengatakan kepada mereka bahwa setelah menjalani salah satu dari dua opsi tersebut, mereka akan bisa kembali ke Vaikuntha dan menduduki posisi semula sebagai Dwarapala.

Jaya dan Vijaya bahkan tidak bisa membayangkan berada jauh dari Sri Vishnu selama tujuh kali kehidupan di dunia. Oleh karena itu, mereka memilih untuk menjadi musuh bebuyutan Sri Vishnu selama tiga kali kelahiran. Dengan cara itu, mereka pikir mereka juga akan mampu mencapai mokhsa di tangan Sri Vishnu yang mereka cintai.

Demikanlah, mereka lahir sebagai Hiranyaksa dan Hiranyakasipu yang membenci Sri Vishnu, Ravana dan Kumbhakarna yang membenci Sri Rama, serta Shishupala dan Dantavakra yang membenci Sri Krishna. Mungkin mereka hanya menjalankan peran jahat sesuai skenario Sang Sutradara Agung sebagai pembelajaran kepada umat manusia.

Dikisahkan bahwa Lakshmana adalah adik Sri Rama yang setia mendampinginya. Saat Sri Rama beserta Sita berada dalam pengasingan di hutan, dia mendampinginya. Saat perang melawan Ravana dari Alengka, Lakshmana pun mendampingi Sri Rama. Bahkan sampai Sri Rama menjadi raja di Ayodhya, Lakshmana mendampinginya. Lakshmana ingin saat lahir kembali menjadi kakak avatara bukan adik avatara lagi. Dan dikisahkan Lakshmana lahir kembali sebagai Balarama yang menjadi kakak Sri Krishna, akan tetapi tetap saja dia diatur oleh sang adik.

Di Zaman Treta Yuga, Ravana menculik Sita istri Sri Rama dan di Zaman Dvapara Yuga, Ravana lahir kembali sebagai Shisupala yang calon mempelainya bernama Rukmini diculik Sri Krishna yang merupakan reinkarnasi dari Sri Rama………………….

Shishupala: Persiapan Menghadapi Kematian #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on September 17, 2017 by triwidodo

Menyaksikan banyak kematian tapi tidak merasa akan mati

Dalam cerita mahabharata disampaikan bahwa Yudhistira bertemu dengan Dharmaraja, yang salah satu tugasnya adalah sebagai Yama, pencabut nyawa.

Mereka berdialog dan Dharmaraja sedang menguji Yudhistira dengan pertanyaan, “Apa hal yang paling menakjubkan di dunia ini?”

Yudhistira menjawab, “Yang paling menakjubkan adalah kita semua menyaksikan kematian, tapi kita tidak percaya itu akan terjadi pada diri itu kita.”

Selama kita masih berusia 30-40 tahun. Bahkan kadang-kadang sampai 50 tahun, kita hampir tidak percaya bahwa kita akan mati. Kita masih mengejar ini, itu.

Tapi setelah usia 60 an tahun, sebetulnya 50 tahun dan apabila kita sensitif setelah usia 36 tahun.  Kita sudah merasakan bahwa arah jarum jam tidak bisa dibalik. Titik puncak energi kita adalah 36-38 tahun dan kemudian mulai menurun………………..

……………….

Menyadari kematian adalah keniscayaan, membuat kita mempunyai kesadaran baru, bagaimana kita dapat memanfaatkan sisa hidup yang kita miliki. Apa yang ingin kita lakukan besok lakukan hari ini. Apa yang kita rencana lakukan hari ini lakukan sekarang juga. Kita seharusnya bekerja dengan semangat itu. Dikutip dari petikan video youtube Menghadapi Kematian Tanpa Rasa Cemas oleh Bapak Anand Krishna.

Setelah kita mulai tua sering sakit-sakitan, energi kita terasa menurun, kita baru sadar bahwa pada suatu saat kita akan mati. Baterai kehidupan dalam diri ada batasnya. Walau baterai long life semacam duracell atau alkaline eveready tetap ada batasnya.

Persiapan menghadapi Kematian

Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian? Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Ini adalah kisah tentang raja yang bahkan tidak tahu bahwa maut sudah mendekatinya. Kebenciannya terhadap Sri Krishna, membuat di akhir hidupnya hanya memaki-maki Sri Krishna sampai melampaui batas jumlah penghinaan dan maut mendatanginya…….

Sebuah kisah adalah sebuah kitab yang terbuka, terserah kita melihat dari sudut pandang mana. Asal bisa membangkitkan kesadaran, maka kisah tersebut akan berguna. Itulah sebabnya Para Suci selalu memberikan kisah-kisah yang akan dirasakan sesuai dengan tingkat kesadaran pembaca kisah tersebut.

Jarasandha telah meninggal dunia, para raja yang telah dibebaskan dari tawanan Jarasandha mendukung Upacara Rajasuya yang dilaksanakan Yudhistira. Demikian pula raja di sekitar Indraprastha semua mendukung Upacara Rajasuya tersebut..

Upacara berjalan lancar, semua rishi, para raja dan ksatria dan undangan lainnya hadir meramaikan upacara. Tibalah saat akhir upacara Yudhistira untuk mohon doa restu kepada orang yang paling dihormatinya.

Putra Jarasandha berkata bahwa menurutnya hanyalah Sri Krishna yang pantas menerima penghormatan tersebut. Seluruh kegiatan alam semesta, termasuk setiap upacara, yajna, mantra, jnana, yoga dan lain sebagainya bertujuan sebagai persembahan kepada Gusti Pangeran, yang kini mewujud sebagai Sri Krishna.

Para rishi dan semua raja dan undangan yang hadir setuju. Dan, Sri Krishna duduk di tempat yang disediakan, Yudhistira bersujud dan selanjutnya mulai membasahi kaki Sri Krishna dengan air dalam mangkuk emas yang dibawa Draupadi. Kemudian, Yudhistira memercikkan air suci tersebut kepala semua saudaranya dan kepada Draupadi.

Pada saat itu, Raja Shishupala berteriak bahwa upacara itu salah besar. Mengapa Krishna sang penggembala sapi yang memperoleh penghormatan tersebut, karena banyak para raja dan ksatria agung yang pantas menerima penghormatan tersebut. Krishna adalah pencuri Rukmini yang sudah menjadi calon mempelai dirinya. Yang membunuh Raja Jarasandha yang perkasa juga Bhima bukan Krishna.

Keadaan menjadi tegang dan para Pandava mulai bergerak memegang senjata mereka, untuk membunuh raja yang menghina Sri Krishna. Akan tetapi Bhisma Yang Agung menenangkan mereka. Shishupala harus dibunuh oleh Sri Krishna sendiri. Pada waktu lahir Shishupala dalam keadaan cacat dan ibunya memperoleh petunjuk, bahwa cacat itu akan sembuh bila dia dipangku oleh seseorang yang akan menjadi pembunuh sang bayi setelah dewasa. Ibu Shishupala selalu minta setiap orang yang datang untuk memangku bayi tersebut. Pada suatu saat Sri Krishna datang ke tempat ibu Shishupala yang masih terhitung salah seorang bibi jauh Sri Krishna. Dipangku Sri Krishna, bayi tersebut sembuh dari cacatnya. Dan, kemudian Ibu Shishupala mohon agar Sri Krishna mengampuni dan tidak membunuh sang bayi pada saatnya nanti. Sri Krishna berjani bahwa dia tidak akan membunuhnya sampai bayi tersebut melakukan penghinaan 100 kali. Sang ibu tenang, karena tidak kan mungkin seseorang akan menghina Sri Krishna sampai 100 kali. Bhisma Yang Agung meminta para Pandava memperhatikan  Sri Krishna yang selalu menjatuhkan bunga satu per satu setiap dihina Shishupala. Sekarang bunga tersebut sudah menjadi setumpuk……

Shisupala terus menghina Sri Krishna sambil mendatangi Sri Krishna menantang bertarung. Tanpa terasa sudah 100 kali Shishupala menghina Sri Krishna dan tiba-tiba Sri Krishna mengelurakan Chakra dan sekali gerak matilah Shishupala. Semua orang melihat sebuah sinar keluar dari badan Shishupala dan masuk ke kaki Sri Krishna.

Parikshit bertanya kepada Rishi Shuka, mengapa seorang jahat penghina Sri Krishna SEPERTI Shishupala bisa mencapai pembebasan di saat kematiannya, sedangkan para suci belum tentu dapat mencapai hal demikian?

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya. Dalam buku Srimad Bhagavatam disampaikan bahwa mereka yang membaca atau mendengarkan kisah kematian Shishupala akan memperoleh berkah.

Kita tidak seberuntung Shishupala…….. Sudahkah kita mempersiapkan diri sebelum kematian? Silakan simak Video Youtube: Menghadapi Kematian Tanpa Rasa Cemas oleh Bapak Anand Krishna.

Bhima: Alat Gusti Pemusnah Adharma #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on September 15, 2017 by triwidodo

Pancaindra bagaikan kuda. Si Kuda itu sedang dalam perjalanan menuju Istana Raja, tetapi tidak tahu jalan. Rerumputan di pinggir jalan menggoda dia. Lagi-lagi dia berhenti untuk memakannya. Lagi-lagi dia tersesat dan tujuan perjalanan pun terlupakan.

Kuda itu harus ditunggangi oleh Sang Raja, karena hanyalah Dia yang bisa membawanya ke dalam lstana. Cahaya Ilahi – itulah Sang Raja. Bila Cahaya Ilahi atau Kesadaran Ilahi menunggangi pancaindra, Si Kuda tidak akan tersesat lagi.

Tanpa Cahaya Ilahi, kesadaran manusia akan mengalami kemerosotan terus-menerus. Dengan Cahaya Ilahi, kesadarannya akan mengalami peningkatan.

Rumi menasehati kita, “Janganlah sombong, janganlah angkuh; Kendati kesadaranmu sudah meningkat, jangan mengira bahwa hal itu terjadi karena upayamu semata-mata. Tidak! Apa pun yang terjadi, karena Rahmat-Nya.”

Jika Dia menghendaki, seorang wali pun bisa merosot kesadarannya dan menjadi kafir. Sebaliknya, seorang kafir bisa menjadi seorang wali.

Engkau seorang mukhlis—seorang penyembah, seorang pengabdi, sudah menjalankan perintah agama. Kendati demikian, jangan angkuh. Banyak perampok dalam perjalanan. Yang bisa melindungi kamu hanyalah Kekuasaan-Nya. Yang bisa menerangi perjalananmu hanyalah Cahaya-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ini adalah kisah tentang Bhima dari Pandava yang menjadikan Sri Krishna sebagai penunggang dirinya. Bhima bangga sebagai kuda (alat) Sri Krishna untuk menghancurkan adharma. Kemenangan pun terjadi karena rahmat-Nya………. Berbahagialah mereka yang merasa sebagai alat Gusti Pangeran, walau mereka berkarya tanpa pamrih, akan tetapi dunia tetap memuji keberhasilan mereka, bukan memuji Gusti Pangeran yang berada dibelakang diri mereka.

Arjuna mendampingi Sri Krishna bersama Bhima untuk mengalahkan Jarasandha tanpa pertempuran pasukan. Arjuna mempelajari apa saja yang dilakukan Sri Krishna. Arjuna belajar bukan hanya dari sabda Sri Krishna dalam Bhagavad Gita nantinya, tetapi belajar dari kehidupan sehari-hari Sri Krishna, itulah yang sering dilupakan para murid tentang Guru mereka.

Adalah Raja Magadha bernama Brihadratha yang memiliki 2 istri tapi belum mempunyai putra. Seorang rishi diminta pertolongan oleh sang raja, dan dia memohon pertolongan pada dewa. Sesaat kemudian ada sebuah mangga yang jatuh dipangkuan sang rishi yang kemudian diserahkan kepada sang raja. Sang rishi berkata bahwa siapa yang makan mangga ini akan memiliki putra yang terkenal.

Brihadratha kemudian membagi buah mangga tersebut masing-masing separuh untuk istrinya. Tidak berapa lama kedua istri sang raja hamil yang membuat sang raja sangat bahagia. Hanya pada waktu sang bayi lahir, masing-masing hanya melahirkan separuh bayi. Setiap bayi mempunyai satu tangan satu kaki, satu mata dan kedua bagian tersebut bagaikan bayangan cermin satu sama lain.

Karena begitu sedihnya, sang raja kemudian mengubur kedua bayi yang telah menjadi mayat itu ke hutan di belakang istana. Adalah seorang raksasa bernama Jara yang mencium ada daging dan segera membongkar kuburan kedua bagian bayi tersebut. Sang raksasa menggabung kedua bayi tersebut, membungkusnya dan membawa pergi. Sesaat setelah digabung sang bayi menjadi hidup dan menangis. Jara tercengang dan mengembalikan bayi yang sudah kembali hidup tersebut kepada sang raja kemudian menghilang.

Sang raja sangat bahagia dan menamakan bayi tersebut Jarasandha, yang dipersatukan oleh Jara. Akhirnya putra mahkota yang sangat kuat tersebut menjadi Raja Magadha.

………………

Krishna, Arjuna dan Bhima menyamar sebagai brahmana pergi ke istana Magadha. Raja Magadha, Jarasandha sangat menghormati para brahmana, maka dia menghormati ketiga brahmana tersebut.

Krishna dalam penyamaran berkata kepada Raja Jarasandha bahwa kedua temannya telah bersumpah tidak akan bicara sampai tengah malam nanti. Mereka bertiga kemudian diminta beristirahat di wisma tamu dan pada tengah malam Jarasandha menemui mereka.

Jarasandha berkata mereka bertiga berpakaian layaknya brahmana, akan tetapi dia tahu bahwa mereka bukan brahmana, karena tangan mereka menunjukkan tangan para ksatria. Bahkan setelah memperhatikan dengan teliti, Jarasandha tahu bahwa salah satu dari mereka adalah Sri Krishna.

Jarasandha berkata, apakah Sri Krishna yang dikenal sebagai wujud Avatara Vishnu akan mengulangi permintaan Vamana Avatara yang melakukan permintaan kepada Raja Bali? Dia tidak akan sebodoh raja Bali.

Sri Krishna berkata bahwa mereka ingin melakukan pertarungan dengan Jarasandha satu lawan satu dengan tangan kosong. Silakan memilih lawan. salah salah satu dari mereka bertiga. Itu kalau Jarasandha berani.

Jarasandha berkata bahwa dia tidak akan melawan Sri Krishna yang pengecut yang mendirikan istana di tengah samudra untuk menghindarinya. Arjuna juga nampak teralu kecil baginya. Jarasandha memilih Bhima sebagai lawan tarungnya dan pertarungan di mulai besok pagi di alun-alun.

Esok paginya dengan dihadiri semua prajuritnya, mereka bertarung. Para prajuritnya sudah diberitahu bahwa mereka adalah para ksatria dan bertarung secara ksatria. Para prajurit diminta tunduk kepada pemenang pertarungan.

Pertarungan berjalan keras dan seimbang, mereka saling jatuh menjatuhkan, saling pukul dan ketika matahari terbenam mereka beristirahat dan makan bersama. Ya demikianlah para ksatria zaman dahulu, mereka bertarung dengan fair. Mereka suka bertarung, akan tetapi saat beristirahat, mereka makan bersama, dan istirahat untuk melanjutkan pertarungan keesokan harinya.

Tidak terasa pertarungan sudah berjalan 28 hari. Pada malam hari ke-28 Sri Krishna bilang bahwa mereka tidak makan bersama, mereka perlu beristirahat lebih lama.

Bhima sangat percaya pada Sri Krishna, dan menurut pendapat Bhima sampai berapa hari pun pertarungan akan berjalan seimbang. Karena walau Bhima dapat membunuh Jarasandha, akan tetapi saat tubuh Jarasandha jatuh ke bumi dia akan pulih dan bangkit kembali.

Sri Krishna minta Bhima melirik dia saat bertarung, keesokan hari nanti. Demikianlah keesokan harinya mereka bertarung lagi. Dan pada saat Bhima melirik Sri Krishna, dia melihat Sri Krishna menyobek daun pada tengahnya dan melempar ke dua bagian sobekan daun tersebut.

Bhima paham petunjuk Sri Krishna, seketika Bhima menyerang Jarasandha sampai terjatuh. Bhima menginjak kaki kiri dan tangan kiri Jarasandha. Tangan kanan dan kaki kanan Jarasandha dipegang oleh tangan Bhima. Jarasandha masih tertawa melihat tindakan Bhima, dia merasa dia tidak bisa mati, dia akan bangkit kembali kemudian. Tiba-tiba Bhima menyobek tubuh Jarasandha menjadi dua bagian dan seperti dua bagian tubuh yang dilekatkan dengan perekat, kedua tubuh tersebut sobek dan masing-masing dilempar jauh ke kiri dan kekanan. Sebuah teriakan menggema dan Jarasandha tidak bisa bangkit kembali.

Semoga kita dapat belajar dari Bhima dalam kisah ini: 1.  Yakin pada Gusti. 2. Dedikasi, bertindak melakukan kebenaran dengan gigih. 3. Akrab dengan Gusti.

Sri Krishna kemudian minta Bhima mengangkat putra Jarasandha sebagai raja pengganti dan semua raja tawanan Jarasandha dibebaskan. Semua raja berjanji akan mendukung Upacara Rajasuya yang dilakukan Yudisthira.

Sri Krishna, Bhima dan Arjuna kemudian kembali ke Indraprastha.

Perangi Jarasandha atau Bantu Rajasuya Pandava? #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on September 14, 2017 by triwidodo

Kendarai Tubuh Kita menuju Tujuan

Kendaraan kita terparkir rapi, manis di garasi dunia ini. Namun, dalam keadaan itu pun, bahan bakarnya tetap menguap. Maka, dari waktu ke waktu kita pun mengisi bahan bakar, dan merasa seolah sudah menggunakan kendaraan itu, “Ternyata bahan bakarnya habis!” Iya bahan bakarnya habis karena menguap. Inilah sifat alam benda, kebendaan dan segala sesuatu dalam hidup kita. Segala sesuatu sedang berlalu. Tidak ada yang berhenti. Kendaraan digunakan atau tidak bahan bakar tetap habis menguap. Kerusakan pun tetap terjadi. Mesin yang digunakan malah berkarat dan berjamur.

……………….

Kendaraan para Avatara seperti Krsna belum tentu sebersih, selicin , dan secantik kendaraan kita. Karena Krsna menggunakan kendaraan-Nya. Kita menjadikannya barang tontonan di showroom kehidupan – sekadar untuk display, pamer tidak diapa-apakan.

Kehidupan Krsna penuh gejolak. Dari usia kecil sudah mulai berhubungan dengan para penguasa zalim seperti Kamsa yang adalah pamannya sendiri, namun telah memenjarakan kedua orangtua Krsna, bahkan ayahnya sendiri dipenjarakan demi takhta. Kemudian, sekian banyak tantangan, sekian banyak musuh, sekian banyak fitnahan – semuanya dihadapi Krsna dengan tenang, namun ia tidak berdiam diri. Ia bertindak. Ketenangan diri bukanlah ketenangan semu para pelarian berjubah pertapa.

Banyak orang menggunakan alasan Ahimsa saat dituntut untuk bersikap dan bertindak, mereka berdalih, ‘Aku percaya pada Ahimsa, main kekerasan bukanlah fitrahku.’ Mereka tidak siap membawa kendaraan mereka ke tempat di mana sedang terjadi keributan. Mereka tidak mau tahu apa yang sedang terjadi di sana – orang mau mati, hidup – kendaraanku mesti tetap aman. Sikap konyol ini kita kamuflase dan sebut Ahimsa – Kita menipu diri sendiri.

Kendaraan kita tidak pernah menabarak orang atau ditabrak kendaraan lain. Tidak pernah terjadi kecelakaan. Tidak ada tanda lecet. Tampangnya pun masih mulus. Namun, semua itu tidaklah membuat kita menjadi seorang bijak. Semua itu hanya menunjukkan bahwa kita tidak menggunakan kendaraan kita. Jiwa kita tidak mengalami sesuatu yang berharga. Kita sibuk dengan kelahiran dan kematian berulang-ulang tanpa mendapatkan pelajaran apa pun. Penjelasan Bhagavad Gita 7:4 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Beda Peran Sri Krishna di Brindavan dan di Dvaraka

Ada perbedaan kehidupan Sri Krishna sewaktu kecil di Brindavan dan sesudah menjadi raja dinasti Dwaraka. Para Gopi dan Gopal, para penggembala di Brindavan adalah para brahmana suci yang lahir kembali untuk meneruskan pelajaran kehidupan dibawah bimbingan Sri Krishna, Sri Krishna langsung bertindak melindunginya dari para asura. Sedangkan sebagai raja di Dvaraka, Sri Krishna memberikan bimbingan kepada para ksatria yang sering berperang melawan para raja yang zalim.

Ini adalah kisah bagaimana cara Sri Krishna memusnahkan para raja adharma di dunia, tidak hanya lewat tangan Sri Krishna sendiri, akan tetapi lewat para ksatria dan kerajaan yang menjadi alat Sri Krishna sebagai pemusnah adharma.

Seorang utusan para raja yang ditawan Jarasandha menghadap Sri Krishna di balai pertemuan di Dvaraka. Utusan tersebut menyampaikan bahwa dia tidak takut mati, dia lebih takut keterikatan dirinya dengan dunia yang menyebabkan kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Demikian pula halnya para raja yang ditawan Jarasandha mereka adalah bhakta Sri Krishna, mereka semua tidak mau mendukung Jarasandha yang mau menguasai dunia, karena mereka tahu Jarasandha adalah raja yang zalim. Semua raja yakin bahwa Sri Krishna datang untuk menghancurkan kejahatan. Semua raja yang ditawan Jarasandha telah menyerahkan semua nasib mereka di dunia kepada Sri Krishna.

Pada saat utusan tersebut selesai menyampaikan permasalahannya, Rishi Narada datang ke balai pertemuan tersebut. Rishi Narada menyampaikan bahwa Raja Yudhistira perlu memperoleh petunjuk Sri Krishna tentang rencana upacara Rajasuya yang akan diadakan olehnya. Setelah mereka memimpin di Indraprastha, Yudhistira akan diakui sebagai raja bila dia melaksanakan upacara Rajasuya. Pandava di bawah pimpinan Yudhistira adalah kerajaan yang menjunjung tinggi dharma. Rajasuya itu perlu didukung agar dharma bangkit di tengah kezaliman adharma Kaurava dan Jarasandha. Akan tetapi Raja Yudhistira hanya akan melakukan jika memperoleh restu dari Sri Krishna, saudara sepupu mereka, putra saudara ibu mereka yang lahir ke dunia sebagai avatara. Yudhistira ingin Sri Krishna sebagai orang yang paling dihormati pada saat upacara Rajasuya terselesaikan. Rajasuya perlu disucikan dengan kehadiran Sri Krishna yang merupakan wujud dari Gusti Pangeran.

Para pimpinan Disnasti Yadava bersemangat untuk segera berperang melawan Jarasandha. Mereka telah mengalahkan Jarasandha 17 kali di Mathura tetapi tidak membunuhnya dan hanya membunuh para penjahat yang mendukungnya. Demi ketenangan masyarakat kemudian Sri Krishna memindahkan istana ke Dvaraka. Mungkin sudah saatnya Sri Krishna membunuh Jarasandha.

Akan tetapi Sri Krishna hanya tersenyum dan bertanya kepada Uddhava, bagaimanakah menurut Uddhava? Antara 2 tindakan yang harus dipilih lebih dulu? Membebaskan para raja yang ditawan Jarasandha atau datang ke Indraprastha membicarakan Rajasuya dengan Yudhistira.

Uddhava menyampaikan pandangan dengan jernih. Uddhava tidak tahu mengapa Sri Krishna tidak membunuh langsung Jarasandha. Mungkin saja Sri Krishna mempunyai rencana untuk menegakkan dharma lewat sebuah sebuah kerajaan yang menjalankan dharma dengan baik.

Uddhava menyampaikan bahwa untuk melakukan Rajasuya, Pandava harus memperoleh dukungan dari para raja di sekitarnya. Mereka yang tidak mau memberikan dukungan harus diperangi sampai tunduk. Pertanyaannya, apakah Raja Jarasandha mau tunduk kepada Pandava? Berarti akan ada kemungkinan peperangan antara pasukan Pandava dengan pasukan Jarasandha. Bila Pandava mengalahkan Jarasandha, maka hampir seratusan raja yang sekarang ditawan Jarasandha akan mendukung Pandava dalam melakukan Rajasuya.

Uddhava melanjutkan, agar tidak melakukan peperangan terbuka, bisa dilakukan pertarungan antara ksatria Pandava dengan Jarasandha. Mereka yang kalah dalam pertarungan akan tunduk dan seluruh pasukan akan menaati perintah siapa yang memenangkan pertarungan. Jarasandha mempunyai kekuatan 10.000 gajah dan hanya ada salah satu Pandava yang memiliki kekuatan seimbang yaitu Bhima. Uddhava mengusulkan Sri Krishna datang ke Indraprastha membicarakan persiapan Rajasuya dan bagaimana menundukkan Jarasandha.

Uddhava adalah seorang bhakta Sri Krishna, dia paham bahwa dirinya hanyalah alat Sri Krishna. Bisa saja dia yang diminta menjadi pemeran pemberi usulan tindakan bagi Sri Krishna. Akan tetapi sebenarnya yang bertindak, yang berkata adalah Sri Krishna sendiri menggunakan dirinya sebagai alat.

Seluruh peserta pertemuan memandang usulan Uddhava sebagai pilihan yang terbaik. Dan Sri Krishna pun menyetujuinya. Rishi Narada hanya tersenyum, beliau yakin Sri Krishna tahu segalanya apa yang akan terjadi……..

Sudama: Persembahan Nasi Aking kepada Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on September 13, 2017 by triwidodo

Salah satu pesan Bapak Anand Krishna yang kami catat, adalah tentang kisah Karma yang mempersembahkan nasi setengah matang kepada Sri Krishna dan Sudama yang mempersembahkan nasi “aking” (sisa nasi yang dijemur dan dimasak kembali) kepada Sri Krishna.

          “Terimalah persembahanku yang sederhana ini, O Gusti, sebagaimana Engkau menerima nasi setengah matang dari Karma.”

Nasi setengah matang dari Karma mewakili kepanembahan kita yang setengah matang; iman kita yang belum matang. Nasi setengah matang dari Karma juga mewakili pikiran-pikiran kita yang belum dewasa; perbuatan-perbuatan kita yang tidak selalu selaras dengan pikiran, perasaan, dan ucapan kita; tindakan-tindakan kita yang tidak selalu bajik.

Sang panembah, sang murid meminta pada Master, “Gusti, aku belum matang, aku tidak matang, tidak dewasa, dan bodoh. Mohon terimalah aku apa adanya.”

Dengan mengakui ketidaksiapan kita, sesungguhnya kita mengkomitmenkan diri untuk Evolusi Jiwa. Jika tidak, sekadar pengakuan saja tidak berarti apa-apa.

Marilah kita tidak melupakan bahwa kita tidak akan pernah bisa membodohi sang Master. Sang Master mengenal kita luar dalam. Kita tidak bisa menyembunyikan apapun dari Master Sejati.

Karma mendekati sang Master dengan iman yang penuh dan kepanembahan yang total, yang one-pointed – jadi sang Master menerimanya, menerima persembahan dirinya yang belum matang, belum selesai dimasak, belum siap.

“O Master, O Gusti, Engkau tidak peduli, apakah nasinya keasinan atau kurang asing. Engkau memakannya seolah itu adalah makanan terlezat yang pernah dimasak.”

Bagi sang Master, panembahan atau iman kita adalah “kesiapan kita”, atau lebih tepatnya “kelayakan kita”; “satu-satunya kualifikasi” kita untuk memasuki diri-Nya. Waspadalah, jangan sampai kita menjadi sombong karena hal ini.

Penerimaan dari sang Master adalah keberuntungan kita. Adalah karunia dari-Nya.Janganlah kita menjadi sombong, “Lihat, lihat, aku diterima.” Kesombongan kita, ego kita hanya akan membawa satu hasil – yaitu, kejatuhan kita dari karunia-Nya.

Ketika seorang anak dikirim ke sekolah – perkara ia diterima masuk atau tidak adalah hak prerogatif dari sekolah. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Hak prerogatif sekolah duniawi masih dapat dikompromikan dengan uang, dengan sumbangan. Tetapi, prerogatif dari Guru tidak dapat dikompromikan dengan apapun, ketika ia menerima, itu adalah karunia-Nya. Dan, seperti telah kita lihat sebelumnya – ada pre-requisite tertentu, persyaratan tertentu, yaitu Iman dan Panembahan.

Dekatilah Sadguru dengan karma kita yang belum matang, selama kita memiliki iman dan panembahan yang dibutuhkan, Ia mungkin akan menerima kita.

Tetapi janganlah sekali-kali kita mengeluh saat Ia mulai memasak diri kita. Yang belum matang, setengah matang harus dimatangkan. Yang mentah harus dibuat matang. Yang belum dewasa harus didewasakan. Dan prosesnya bisa jadi sangat melelahkan.

Gusti menerima persembahan Karma berupa nasi setengah matang dan Ia memakannya. Pahami makna yang tersirat, signifikansi dari cerita ini. “Proses” makan inilah sesungguhnya arti bermurid. Dimakan oleh Sadguru berarti menjadi tanpa ego, menjadi nol.

Kita mungkin dipuja sebagai pahlawan oleh dunia, tetapi Sadguru tidak terpengaruh oleh itu. Sadguru harus menghabiskan kita, menghabiskan ego kita sampai nol, karena pintu, gerbang karunia terbuka semakin lebar saat kesadaran-ego kita semakin habis. Sumber catatan tentang kisah Bapak Anand Krishna

Ini adalah kisah Sudama yang mirip dengan kisah Karma. Ini adalah kisah Sudama teman sekolah Sri Krishna yang menjadi brahmana miskin. Silakan baca ulang Karma Sudama: Teman Sekolah Krishna #BhagavatamIndonesia

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/09/12/karma-sudama-teman-sekolah-krishna-bhagavatamindonesia/

 

Selesai pendidikan di Asram Sandipani, Sri Krishna ke Dvaraka sampai akhirnya menjadi raja dengan permaisuri Rukmini. Sudama tetap tinggal di desa dan menjadi brahmana. Sudama selalu teringat dan rindu dengan Sri Krishna. Sudama menikah dengan Sushila dan tetap sederhana bahkan terlalu miskin sehingga makan pun sering hanya satu kali setiap hari. Istri dan kedua anaknya hidup dalam kemiskinan akan tetapi mereka tidak pernah mengeluh.

Pada suatu ketika istri Sudama mohon agar suaminya berkunjung ke Sri Krishna. Sudama adalah seorang bhakta dan juga teman dekat Sri Krishna, Sri Krishna pasti akan membantu mereka.

Adalah seorang ksatria yang kaya dan sombong di desa Sudama yang tidak senang dengan popularitas Sri Krishna. Dia minta Sudama memujanya dan akan memberi apa pun yang akan diminta Sudama. Sudama menolak permintaan ksatria tersebut, dia hanya memuja Sri Krishna.

Istri Sudama terus mendesak agar Sudama datang ke Sri Krishna. Sudama enggan, karena sebagai Gusti Pangeran yang mewujud, Sri Krishna pasti tahu segalanya. Sudama paham bahwa apa yang dialaminya adalah hasil karma masa lalunya dan dia tidak akan mengeluh.

Atas desakan istrinya akhirnya Sudama bersedia menemui Sri Krishna, tapi dia tidak ingin dengan tangan kosong ke sana. Sang istri datang ke tetangganya akan tetapi tidak berhasil memperoleh oleh-oleh. Akhirnya Sudama membawa “nasi aking”, sisa nasi yang telah dikeringkan dan dimasak kembali untuk dibawa kepada Sri Krishna dlam sebuah bungkusan kecil.

Sudama tercengang melihat istana yang begitu indah dan saat masuk gerbang, Sri Krishna langsung menyambutnya untuk diajak duduk di dalam istana. Sri Krishna langsung membasuh kaki Sudama sebagaimana penghormatan terhadap seorang brahmana dan kemudian membasahi kepalanya dengan air basuhan kaki Sudama. Sudama menangis terharu….. Rukmini datang membawakan minuman bagi Sudama dan Sri Krishna.

Sri Krishna kemudian mengajak Sudama duduk di kursi santai di kebun dan mulai bercerita masa kecil mereka di Ashram Sandipani. Tiba-tiba Sri Krishna mengambil bungkusan Sudama dan berkata ini pasti oleh-oleh dari istri Sudama. Sri Krishna segera memakan satu suap dan mengatakan betapa lezatnya oleh-oleh ini. Sudama juga makan sesuap sambil matanya berlinang air mata.

Sudama kemudian diminta istirahat dan selama beberapa hari dijamu Sri Krishna dan Rukmini dengan penuh hormat. Tidak ada satu patah kata permintaan apa pun kepada Sri Krishna sampai saatnya pamit pulang ke desanya.

Ada kebahagiaan dijamu Gusti Pangeran akan tetapi bercampur kegalauan, apa yang akan dikatakan kepada sang istri yang memintanya mohon bantuan Sri Krishna. Layakkah dia mohon kepada Sri Krishna, tidak tahukah Sri Krishna mengapa dia datang kepadanya?

Sampai di desanya, dia heran lingkungan dekat rumahnya penuh dengan rumah megah. Dan rumahnya sendiri menjadi istana yang megah. Istrinya keluar dengan baju yang indah, betapa jelita istrinya dengan pakaian yang sangat indah tersebut. Terpana oleh suasana itu, sang istri berkata bahwa adalah Vishvakarma, arsitek surgawi yang melakukan bedah rumah lama mereka, tetapi dia tidak mau hidup di tempat istana mewah sedangkan tetangganya hidup di rumah reyot. Vishvakarma membangun rumah mereka dan rumah tetangganya………

Sudama bersama istrinya memanfaatkan kenyamana istana dan kekayaan mereka untuk persembahan kepada masyarakat. Mereka hanyalah alat Sri Krishna, setiap saat melakukan sadhana spiritual untuk meningkatkan kesadaran mereka. Setiap minggu mereka berbagi makanan kepada orang miskin. Makanan adalah persembahan terbaik. Pemberian uang yang tidak tepat bisa membuat orang yang diberi menjadi malas, atau menggunakan untuk hal yang tidak baik. Dia selalu membayangkan saat berbagi makanan seakan-akan dia mempersembahkan makanan kepada Sri Krishna.

Karma Sudama: Teman Sekolah Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on September 12, 2017 by triwidodo

Pertama tentang hukum karma, ada yang lahir dalam keluarga kaya. Ada yang lahir dalam keluarga miskin. Ada yang lahir sehat, ada yang cacat. Apa sebabnya? Apabila kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha Adil, bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, lantas kenapa ada yang berbuat baik, tetapi menderita terus? Lantas ada pula yang berbuat jahat, tetapi berjaya terus?

Ada yang mengatakan, Tuhan sedang menguji mereka. Ujian macam apa? Apabila betul ujian, maka sangat tidak adil. Ada yang diuji dan ada yang tidak diuji. Anda harus meninggalkan konsep-konsep semu, dan berani menerima sesuatu yang baru. Apabila anda belum berani menerima sesuatu yang baru, dan masih nyaman dengan dogma-dogma lama yang sudah tidak relevan, ilmu yang tidak cocok untuk Anda. Anda tidak memperoleh sesuatu apa pun. Anda akan berada di tepi sungai, tetapi tetap haus. Kehidupan ini akan melewati Anda begitu saja!

Hukum karma berarti hukum sebab-akibat. Setiap sebab akan berakibat. Kehidupan kita sekarang ini merupakan akibat dari kehidupan yang lalu. Perilaku kita dalam hidup ini akan menentukan kehidupan kita berikutnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #OtobiografiParamhansaIndonesia

Ini adalah kisah tentang seorang pelajar Ashram Sandipani, putra seorang brahmana yang miskin. Dia belum bisa mengubah warisan genetika yang ada dalam dirinya, masih egois hanya memikirkan diri sendiri, melupakan pesan Gurunya, bahkan tidak mau berbagi dengan Sri Krishna.

Kalau pada kisah-kisah Sri Krishna, kita membaca para asura atau hewan-hewan yang diselamatkan Sri Krishna, mestinya sang pelajar pun akan diselamatkan juga. Haruskah dia menderita kemiskinan terlebih dahulu baru diselamatkan? Haruskah dia berupaya mohon pertolongan baru dibantu?

 

Adalah Sudama kawan sekolah Sri Krishna dan Balarama sewaktu belajar di Ashram Sandipani. Sudama dari keluarga brahmana yang sangat miskin, dan Guru Sandipani tidak pernah membeda-bedakan apakah dia seorang cucu raja seperti Sri Krishna dan Balarama maupun putra seorang brahmana miskin. Semua diberi pelajaran yang sama dan semua membantu pekerjaan rumah tangga Guru Sandipani. Pada zaman itu para siswa belajar di rumah Gurukula. Jadi mereka belajar dan hidup dalam keluarga sang guru sampai mereka lulus pendidikan.

Pada suatu saat Sudama dan Sri Krishna mendapat tugas untuk mencari kayu untuk keperluan agnihotra yajna dan keperluan rumah tangga Guru Sandipani.

Guru Sandipani memberikan sebungkus buncis dan kacang kepada Sudama yang dianggap lebih tua, dengan pesan agar dimakan bersama Sri Krishna di hutan. Guru Sandipani mengingatkan bahwa hari itu ada kemungkinan hujan deras, dan apabila mereka harus menunggu hujan reda baru pulang ke rumah, mereka bisa makan buncis dan kacang tersebut.

Mereka mengumpulkan kayu dan akan pulang ke rumah, saat hujan tiba. Sudama memanjat dahan pohon besar yang di atas agar tidak kehujanan. Sri Krishna naik di dahan yang agak bawah.

Sudama masih ingat pesan sang guru agar makanan dimakan bersama Sri Krishna, juga dia tahu bahwa Sri Krishna adalah Gusti Pangeran yang mewujud, berita Sri Krishna yang membunuh Kamsa dan para asura sudah tersebar di mana-mana.

Akan tetapi Sudama sekarang merasa kedinginan dan lapar di dahan pohon. Bungkusan buncis dan kacang pemberian sang guru dibuka dan dimakannya. Menghadapi “mangsa” yang berada di depan mata, semua nurani terpinggirkan. Sifat egois yang dimiliki hewan yang masih berada dalam genetikanya membuatnya dia makan sendiri.

Sri Krishna yang berada di bawah mendengar Sudama makan dan minta dibagi. Akan tetapi Sudama menjawab itu bukan suara makan tapi suara gigi gemeretak karena kedinginan. Perlahan-lahan habislah bungkusan buncis dan kacang.

Hujan mulai reda, dan Sudama bersama Krishna turun dari pohon. Sri Krishna bertanya, dimanakah bungkusan makanan yang diberikan oleh guru. Sudama mohon maaf dan menyampaikan  karena kelaparan dia makan sendirian di atas pohon.

Sri Krishna mengingatkan bahwa tidak baik melawan perintah guru, dan berbagi makanan itu penting bagi peningkatan kesadaran. Cara egois yang demikian bisa menjadi kejatuhan seseorang.

Sudama dari keluarga miskin, jarang berbagi, makan untuk diri sendiri saja sering kurang. Sifat itu masih dilakoninya, bahkan saat diminta Gusti Pangeran untuk berbagi yang pasti akan membawa berkah pun ditolaknya. Tidak gampang memberi berkah kepada orang yang karena bawaan masa lalunya sengsara dan tidak mau berubah.

Sri Krishna mengingatkan Sudama agar berani mengubah kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak baik agar nasib baik mendatangi.

Sudah bertemu Gusti Pemberi Berkah, tapi belum membuka diri, sehingga hasil karma masa lalu harus dilakoni sehingga Sudama menjadi brahmana yang miskin. Akan tetapi Sudama berupaya sungguh-sungguh untuk mengubah karakter yang tidak baik. Dia ikhlas menerima karma yang harus dialaminya. Dia tidak pernah mengeluh karena kemiskinannya. Akan tetapi bagaimana dengan isterinya? Setelah merasakan kemiskinan yang begitu lama, masih sanggupkah istrinya? Silakan ikuti kisah selanjutnya…..

 

Membuat masa depan cerah dengan berbuat baik saat ini

Hukum Karma, Sebab-Akibat, atau Aksi-Reaksi adalah Hukum Alam yang bersifat universal. Tidak bisa dikaitkan dengan agama, peradaban, atau budaya tertentu. Jika kita alergi terhadap bahasa Sanskerta, atau Kawi, boleh saja kita menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Cina, atau Arab. Tidak menjadi soal.

Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri.

Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia.

Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu.

Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini.

Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan.

Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #SpiritualAstrologiIndonesia