Persepsi Musa dan Kejernihan Sang Guru #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on May 8, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Musa belajar pada seorang Master. Sang Master mewajibkan Musa berlatih disiplin dan untuk pertama kalinya adalah “diam”.

Mereka berjalan di lewat tempat yang indah pemandangannya, Musa terpesona sehingga mudah untuk “diam”.

Pada suatu kali mereka sampai pada sebuah sungai dan Musa melihat seorang anak tenggelam di tepi seberang sedangkan ibunya berterian-teriak minta tolong. Musa tidak tenang dan bertanya, “Guru apakah Guru tidak dapat menyelamatkan anak tersebut?” Sang Guru berkata, “Diam.”

Musa terusik hatinya, “Apakah Guru saya ini bergati batu? Tidak punya perasaan? Tidak bisakah dia membantu menyelamatkan anak tersebut?” Musa takut berpikiran tidak baik tentang Gurunya, tapi pikiran tersebut selalu mengganggunya.

Dikisahkan mereka sampai di tepi laut dan melihat sebuah perahu tenggelam bersama para awak kapalnya. Musa berkata, “Guru, lihat perahu itu tenggelam.” Sekali lagi Sang Guru menyuruh Musa diam dan Musa tidak berbicara lagi.

Musa tidak tenang dan ketika sampai di rumah, Musa berkeluh-kesah kepada Tuhan. Tuhan berkata, “Gurumu benar. Anak kecil yang tenggelam akan menyebabkan pembunuhan terhadap ratusan ribu orang. Bencana itu terhindarkan dengan tenggelamnya anak kecil tersebut. Perahu yang tenggelam di laut itu berisi para bajak laut yang merencanakan penjarahan harta dan pembunuhan seluruh penduduk di sebuah desa  di tepi pantai.”

Musa menyadari pikirannya belum sejernih Gurunya, Kebajikan dapat dilakukan bila disertai Kebijaksanaan. Mulai saat itu Musa mulai berlatih menjernihkan pikirannya sehingga pikiran Musa cepat menjadi jernih dan memahami kebenaran seutuhnya.

…………..

Seorang Master berkata: “Aku selalu tahu tentang masa depan, masa lalu, serta masa kini setiap orang di antara kalian, sehingga aku tidak bergerak oleh belas kasihan. Karena Aku tahu tentang masa lalu, latar belakang, maka reaksiku berbeda.” Dikutip dari Artikel Sabda Sang Guru 1: Devosi Tanpa Disiplin Tidak Berharga oleh Bapak Anand Krishna. Media Hindu 168, Edisi 168, Februari 2018.

Persepsi dalam bahasa Sanskrit adalah “pashyati”, akar katanya “pashu”, hewan

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion. Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Bapak Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Kebenaran Relatif dan Kebenaran Mutlak

Arjuna berterima kasih kepada Krsna, sebab, berkat kasih-Nya, berkat wejangan-Nya, ia bisa memahami tentang kedua hal ini, bahwasanya ada. .. ..

KEBENARAN RELATIF DAN ADA KEBENARAN MUTLAK – Kebenaran relatif adalah kebenaran alam  benda, kebendaan, materi. Segalanya berubah, relatif. Kejadian-kejadian di alam ini kita pahami berdasarkan persepsi kita.

Huru-hara yang terjadi di suatu negara bisa dipahami sebagai urusan dalam negeri mereka; atau, sebagai suatu kejadian yang dapat mengganggu stabilitas seluruh Wilayah di sekitarnya. Ada yang memahami huru-hara itu sebagai upaya untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Ada yang melihatnya sebagai konspirasi pihak-pihak yang memang tidak menginginkan stabilitas di wilayah tersebut.

Jadi, persepsi kita tentang satu kejadian yang sama bisa beda, bahkan bertolak-belakang, karena kebenaran alam-benda mernang bersifat relatif.

Namun, di balik kebenaran relatif, adalah Kebenaran Mutlak — Kebenaran Jiwa — yang mana, tidak selalu dipahami. Di balik segala kejadian, ada ‘sebab utama’. Untuk mengetahuinya, mesti menggali diri.

Di balik pengalarnan suka dan duka, adalah keinginan  Jiwa sendiri untuk mengalami semua itu. Dan, Jiwa yang sedang mengalami pun sesungguhnya adalah percikan dari Jiwa Agung, Hyang adalah Kebenaran Mutlak. Keraguan kita, sebagaimana juga keraguan Arjuna, bisa sirna karena kesadaran tentang Jiwa dan tentang hubungannya dengan Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 11:2 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Mind dapat di-over write

Mind ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, perangkat lunak itu (mind)dapat di-over write dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berbeda dari aslinya.

Ini yang disebut proses deconditioning dan re-creating mind yang sudah diulas dalam buku Atisha, Seni Memberdaya Diri-3. Isi mind bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. Mind itu sendiri tidak lebih dari sebuah ilusi. Diatas apa yang ditulis, kita dapat menulis ulang apa saja. Mind itu rewritable !

Mind menciptakan dualitas kaya-miskin, lengkap dengan “definisi” orang kaya dan orang miskin. Mind dapat menimbang kekayaan dan kemiskinan. Mind terpengaruh oleh definisi kekayaan dan kemiskinan ciptaannya sendiri. Bebas dari mind-set berarti bebas dari ketergantungan pada mind; bebas dari segala sesuatu yang memahami jiwa. Kemudian, barulah berjalan proses pemberdayaan diri, diawali dengan “penemuan jati diri”, kesadaran diri, self-awareness! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Mind yang Mapan Sulit Tunduk

Mind yang terlalu nyaman akan menegakkan ego. Mind yang terlalu mapan, sulit tunduk. Anda akan menundukkan kepala, anda akan mendatangi tempat-tempat ibadah, anda akan berdoa di tengah malam, tetapi ego anda akan tetap tegak. Ego anda tidak akan ikut tunduk.

Hasrat Inayat Khan selalu mengatakan bahwa “Mind must be exhausted” mind harus dibuat lelah, dibuat kehabisan tenaga, harus dibuat loyo seperti keledai Sang Sufi dalam cerita ini. Jangan pula berpikir bahwa mind yang loyo akan membuat anda menjadi loyo. Tidak. Sama sekali tidak demikian.

Mind yang loyo justru akan menegakkan kesadaran dalam diri anda. Kesadaran yang selama ini tertimbun di bawah ego dan mind akan bangkit kembali. Dan kesadaran adalah alat yang jauh lebih efisien daripada mind dan ego. Dengan kesadaran, hidup anda menjadi jauh lebih berarti, lebih bermakna.

Keraguan anda tentang No-Mind selama ini disebabkan oleh ketidaktahuan. Anda belum mengetahui sesuatu yang lebih berarti daripada mind. Bagi anda, mind masih merupakan “all and all”. Banyak di antara kita yang menuhankan mind, padahal kitab-kitab suci mengibaratkan mind dengan iblis, dengan setan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Kehidupan: Telah Dipahami Sudahkah Dilakoni? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on May 6, 2018 by triwidodo

Ramakrishna Paramahansa, seorang mistik di Calcutta, guru dari Vivekananda pernah berkisah:

Ada  seorang  raja  yang  setiap  hari  mendengarkan kisah Bhagavad  Gita  yang  dibawakan  oleh  seorang Fasilitator (Pengajar Perantara). Setelah menjelaskan isinya Pengajar  itu biasanya bertanya,  “Sudahkah Baginda memahami yang saya katakan?”

Sang  Raja  tidak  pernah mengatakan Ya atau Tidak. Ia hanya berkata, “Sebaiknya engkau sendiri memahaminya lebih dulu.”

Jawaban ini selalu membuat sedih Pengajar  yang  malang, yang setiap  hari  menghabiskan  banyak waktu untuk mempersiapkan pengajaran bagi Raja. Ia sendiri yakin  bahwa  pengajarannya jelas dan terang.

Pengajar  itu adalah seorang pencari Kebenaran yang tulus. Suatu hari ketika ia  sedang  bermeditasi,  tiba-tiba  ia  melihat sifat  ilusi – kenyataan  yang nisbi – dari segala sesuatu, rumah, saudara, kekayaan, sahabat, kehormatan, nama baik dan semua  yang lain. Begitu jelas ia melihatnya, sehingga semua keinginan  akan  hal-hal  itu  lenyap   dari   hatinya.   Ia memutuskan  untuk  meninggalkan  rumah  dan  menjadi seorang Sanyasi.

Sebelum meninggalkan rumahnya, ia mengirimkan  pesan  kepada sang Raja, “Baginda Raja! Akhirnya saya memahami.” Dikutip dari buku (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Sang Raja betul, walau kita menjelaskan Bhagavad Gita dengan jelas, akan tetapi kita sebenarnya kita belum memahami esensinya. Belum memahami Inti Kehidupan. Oleh karena itulah kami selalu mengutip Penjelasan seorang Master, bukan dari pikiran kami sendiri yang belum sepenuhnya paham.

Tujuan Hidup Seperti yang Disampaikan di Bhagavad Gita itu Esensinya Apa?

Madhusūdana, Penakluk Raksasa Madhu. Memahami setiap peran Kṛṣṇa adalah penting. Sebab, Kṛṣṇa mewakili solusi, jawaban atas segala persoalan dan tantangan hidup yang dihadapi Arjuna. Dan, Arjuna mewakili diri kita – diri Anda dan diri saya.

Madhu berarti “Madu”. Bayangkan seorang raksasa bernama Madhu. Madhu, madu adalah sesuatu yang menyenangkan, nikmat, manis – sulit bagi manusia untuk menaklukkan sesuatu yang nikmat.

Mudah membebaskan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan. Tapi, membebaskan diri dari keadaan yang menyenangkan! Coba Anda pikirkan.

Madhu mewakili kenikmatan yang kita peroleh dari dunia benda, dari indra. Terbawa oleh suatu kenikmatan yang mereka tawarkan – kita sering kali lupa akan tujuan hidup kita. Menaklukkan Madhu berarti melampaui kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih tinggi.

…………….

Madhusudana adalah seruan bagi Arjuna untuk mengingat tujuan hidup yang jauh lebih tinggi dari kenikmatan-kenikmatan sesaat yang bersifat rendahan. Penjelasan Bhagavad Gita 2:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Bila tujuan hidup sudah jelas yaitu untukmemperoleh kebebasan, moksha, bukan dari kenikmatan-kenikmatan yang bersifat rendahan, maka setiap Tahap Kehidupan yang dijalani oleh kita harus berdasarkan pada Tujuan Hidup tersebut.

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam sering dikisahkan banyak Raja yang melakukan perjalanan menuju kebebasan, moksha lewat Chatur Ashram. Sewaktu muda melakukan Brahmachari, kemudian melakoni Grahasthya dan baru setelah itu melepaskan tahta untuk melakukan Vanaprashta dan kemudian akhirnya menjadi Sanyasi.

Brahmachari, Grahasthya, Vanaprastha, Sanyasi

Menurut buku Sanyas Dharma (Krishna, Anand. (2012).Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang anak, remaja, atau mahasiswa yang sudah dewasa tetap disebut Brahmachari jika ia menggunakan waktunya untuk mengolah diri dan menjadi kreatif. Celibacy atau menghindari kegiatan seksual semasa itu, semata-mata supaya energi di dalam seorang Brahmachari tidak tersia-siakan untuk kegiatan seksual, karena sesungguhnya energi yang sama itu yang membuat kita menjadi kreatif. Jika energi tersebut mengalir ke bawah, terpakailah ia untuk kegiatan seksual. Dan ketika energi tersebut mengalir ke atas, hasilnya adalah kreativitas.”

Grahasthya berarti “Komitmen terhadap Keluarga”, jadi bukan sekedar membina keluarga atau rumah tangga, tetapi berkomitmen terhadap pasangannya dan putra-putrinya. Grahasthya bukan sekedar kawin, tetapi menghormati lembaga perkawinan.

Masa Vanaprastha. Selambat-lambatnya pada usia 60 tahun, para orang tua yang telah menyelesaikan tugas dan kewajiban terhadap anak-anak mereka, mesti meninggalkan rumah untuk bermukim di Vana, atau hutan untuk selanjutnya “sepenuhnya” mendalami laku spiritual. Dalam masa Vanaprastha, laku spiritual menjadi full time job. Tidak lagi mengurusi dunia dan kebendaan, tetapi mengurusi diri, mengurusi jiwa. Dan melayani manusia, sesama makhluk secara purnawaktu.

Para Vanaprasthi atau pelaku Vanaprastha Ashram boleh juga bergabung dengan salah satu ashram dalam arti padepokan yang di masa lalu berada di tengah hutan.

Vanaprastha Ashram mesti dimaknai kembali… Vanaprastha dalam konteks modern mesti diterjemahkan sebagai pelepasan diri dari ketergantungan pada materi. Materi masih dibutuhkan untuk bertahan hidup. Namun, ya sebatas itu saja, untuk bertahan hidup, dan sisanya untuk berbagi kehidupan. Tidak lagi mengejar kemewahan. Kenyamanan boleh saja, tetapi tidak lagi mengejar kenikmatan hidup berlebihan. Untuk itu seseorang boleh masuk hutan, pindah ke kampung kelahirannya dan melayani warga sekampung yang barangkali membutuhkan pelayanan, atau bergabung dengan suatu lembaga spiritual secara purnawaktu dan mengabdikan dirinya, apa saja yang memungkinkan. Intinya, ia tidak lagi mengurusi benda dan kebendaan, dan hidup dalam pengertian simple living, bukan impoverish living atau menjadi miskin dan bergantung pada belas kasihan orang lain.

Masa Sanyas. Ini merupakan masa terakhir, masa akhir hidup manusia. Dalam masa ini, seorang Sanyasi – ia yang telah memasuki masa sanyas – melepaskan segala macam ‘keterikatan’ duniawi. Ia tidak lagi membedakan antara anak kandung, anak saudara, anak orang lain, bahkan manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya.

Bagi yang ingin mendalami keempat chatur ashram dalam masa kini silakan baca buku (Krishna, Anand. (2012).Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebaikan dan Kejahatan dalam Diri Kita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on May 3, 2018 by triwidodo

Kita biasa menggolongkan manusia dalam dua kategori: orang suci dan orang berdosa. Penggolongan itu dilakukan atas dasar angan-angan saja. Sebab, di satu pihak, tidak seorang pun betul-betul tahu, siapa saja yang suci dan siapa saja yang pendosa: kesan lahiriah mudah menipu. Di lain pihak, kita semua, baik yang suci maupun yang berdosa, adalah pendosa.

Seorang pendeta mengajukan pertanyaan ini dalam sebuah kelas: “Anak-anak, seandainya semua orang baik itu putih dan semua orang jahat itu hitam, kamu akan berwarna apa?”

Si kecil Maria-Yoana menjawab: “Aku akan menjadi orang yang berwarna loreng-loreng, Pak!”

–o000o–

Seseorang mencari gereja yang baik untuk ikut serta beribadat. Kebetulan ia masuk ke sebuah gereja tempat jemaat bersama pendetanya sedang berdoa. Mereka membaca dari sebuah buku doa: “Kami melalaikan hal-hal yang sebenarnya harus kami lakukan, dan kami melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh kami lakukan.”

Orang itu langsung ikut duduk di situ dan berkata kepada dirinya sendiri dengan perasaan lega: “Syukur kepada Tuhan! Akhirnya aku menemukan juga kelompok orang yang sama seperti diriku!”

Usaha-usaha untuk menyembunyikan loreng-loreng yang ada pada orang suci kita kadang-kadang berhasil, tetapi usaha itu selalu kurang jujur. Dikutip dari buku (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Pada Zaman Treta Yuga terdapat konflik antara yang baik dan jahat antara Manusia dan Raksasa antara Sri Rama melawan Ravana. Pada Zaman Dvapara Yuga, Raksasa hampir punah dan terdapat konflik antara yang baik dan yang jahat antara Pandava dan Kaurava (yang bersifat raksasa). Setelah masuk Zaman Kali Yuga, baik yang baik maupun yang jahat semua ada dalam diri manusia. Kalau kejahatan mau dimusnahkan maka semua orang akan musnah.

 

Yang Kita Beri Perhatian dan Makanan yang Menang

Bapak Anand Krishna pernah berkisah, seorang kakek berkata pada cucunya bahwa dalam diri kita ada dua serigala: yang baik dan yang jahat. Sang cucu bertanya, “Siapa yang menang Kakek? Yang baik atau yang jahat?”

Kakeknya menjawab, “Yang menang adalah serigala yang kau pelihara dan kau beri makan!” Demikianlah kejahatan maupun kebaikan dalam diri kita juga berkonflik, siapa yang kita beri perhatian dan kita beri makan dialah yang menang!

Pilihan antara Sreya dan Preya

Krsna menggunakan istilah Sreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah sreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatandengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan sreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Viveka atau Memilah Mana Sreya dan Mana Preya

Ahamkaara atau Ke-aku-an (Ego). Mind selalu menemukan ego dalam kesadaran gemuk tidak keruan dan berpenyakitan. Ia mengidap penyakit dendam, iri, amarah, keserakahan, dan sebagainya. Sementara itu, bagian lain: Buddhi atau Inteligen (Intelligence) ditemukannya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, kurus, lemas, tak berdaya.

……………

Jalan menuju kemuliaan dan jalan menuju kepuasan indera yang bersifat sementara, inilah dua jalan yang terbuka bagi manusia. Mereka yang inteligen, berakal budi memilih jalan menuju kemuliaan. Mereka yang bodoh memilih jalan kepuasan indera, kenikmatan, dan kesenangan sesaat.

Viveka memberi kita kemampuan untuk memilah. Kemampuan inilah yang kelak mengantar kita pada Bodhichitta. Viveka ibarat Buddha dalam proses. Adalah sangat penting bahwa dalam perjalanan menuju kesadaran Buddha, atau Bodichitta, kita sadar akan apa yang tepat bagi kita, dan apa yang tidak tepat.

Viveka adalah buah meditasi. Viveka tidak dapat diperoleh dari buku. Buku, tulisan, serta pengalaman orang lain hanyalah sebatas untuk menyemangati kita.

Buku menjelaskan pengalaman para penulis yang memilih shreya atau kemuliaan dan meraih Bodhichitta. Buku juga bercerita tentang mereka yang memilih preya, atau kesenangan sesaat dan meraih penderitaan.

Mengapa preya tidak pernah memuaskan? Karena, jiwa kita abadi. Ia sedang mencari keabadian. Ia hendak meraih kebahagiaan abadi atau aananda. Sementara itu jalan preya hanyalah mengantar dia pada kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan sesaat.

Adalah viveka yang mengenal aananda. Sebelum viveka berkembang, kita tidak pernah mengenal aananda. Mind atau maanas hanya mengenal kebahagiaan dan kesenangan sesaat. Ia tidak bisa menjangkau sesuatu yang bersifat langgeng dan abadi karena dirinya sendiri tidak abadi. Ia hanyalah merekam dan menikmati pengalaman-pengalaman jiwa yang bersifat luaran, dan senantiasa berubah-ubah.

Untuk menemukan aananda, para Buddha selalu mengajak kita untuk meniti ke dalam diri sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bahagia itu Sikap Hidup #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on May 2, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang wanita berusia 92 tahun, mungil, berpenampilan menarik dan percaya diri, yang berpakaian lengkap setiap pagi pada pukul delapan, dengan rambutnya yang dikepang dan di tata rias sempurna, meskipun ia buta secara hukum, hari ini pindah ke panti jompo.

Suaminya baru saja meninggal dunia, dan dia merasa perlu pindah ke panti jompo.

Setelah berjam-jam menunggu dengan sabar di lobi panti jompo, dia tersenyum manis ketika petugas mengatakan bahwa kamarnya sudah siap. Saat dia mengarahkan alat berjalannya ke lift, petugas memberikan gambaran visual tentang kamar kecilnya.

“Saya menyukainya,” katanya dengan antusiasme seperti seorang anak berusia balita yang baru saja diberikan mainan.

“Nyonya Jones, kamu belum melihat ruangan … tunggu saja.”

“Itu tidak ada hubungannya dengan itu,” jawabnya. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang Anda putuskan sebelumnya. Apakah saya suka kamar saya atau tidak tergantung pada bagaimana perabotan diatur…… itulah cara saya mengatur pikiran saya.”

“Saya sudah memutuskan untuk menyukainya … Ini adalah keputusan yang saya buat setiap pagi ketika saya bangun. Saya punya pilihan; Saya dapat menghabiskan hari di tempat tidur menceritakan kesulitan yang saya miliki dengan bagian-bagian tubuh saya yang tidak lagi berfungsi, atau bangun dari tempat tidur dan bersyukur. Setiap hari adalah hadiah, dan selama mata saya terbuka, saya akan fokus pada hari baru dan semua kenangan indah yang telah saya simpan….. hanya untuk kali ini dalam hidup saya.”

Tumbuh lebih tua, dan semoga lebih bijak, seperti rekening bank. Anda menariknya dari apa yang telah Anda masukkan. Ketika Anda terus menyimpan di rekening bank kenangan, ingatlah rumusan sederhana ini untuk kehidupan yang damai dan menyenangkan:

Bebaskan hati Anda dari kebencian. Bebaskan pikiran Anda dari kekhawatiran. Hidup sederhana. Berikan lebih banyak. Kurangilah berharap.

Be Happy! Jadilah Bahagia dan Berkah bagi Dunia

Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi berkah bagi dunia.

Bertanyalah pada seekor kambing. Saya kira, dia tidak tahu bahagia itu apa. Selama masih bisa makan rumput dan hidup dalam kandang, ya bahagialah dia. Padahal, itu baru sebatas kenyamanan. Dia tidak dapat membedakan kebahagiaan dari kenyamanan.Bertanyalah kepada seekor keledai. Selama ada yang masih menyediakan makanan baginya, diapun tenang. Dan, ketenangan itu dianggapnya kebahagiaan. Kita manusia, dan kita memiliki kemampuan untuk membedakan kenyamanan sesaat dari kebahagiaan sejati.

Kepuasan dan ketenangan batin atau contentment dan inner peace adalah rasa puas dan tenang yang muncul dari kesadaran. Kita sadar bahwa keinginan tidak mengenal batas. Setiap keinginan yang terpenuhi menimbulkan kekecewaan. Karena itu, dengan penuh kesadaran kita membatasi keinginan kit. Saat itulah kita menjadi puas. Kala itulah kita menjadi tenang. Aman Sentosa.

Kunci kebahagiaan adalah kesadaran. Dengan kunci kesadaran itulah kita membuka pintu batin dan menemukan inner peace dan contentment yang dimaksud. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebahagiaan Sejati berada dalam Kesadaran Jiwa

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi.

……….

Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa. Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja. Penjelasan Bhagavad Gita 2:43 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Kebahagiaan dan Manusia Indonesia

Berikut adalah sebagian kutipan Artikel Bapak Anand Krishna Anand Krishna pada Radar Bali, Senin 26 November 2007:

Sumber: https://triwidodo.wordpress.com/tag/kebahagiaan/

Tuhan dan Uang – keduanya itulah yang membahagiakan Manusia Indonesia. Coba kita telusuri lebih lanjut dengan menggunakan sedikit rasio, sedikit intelejensia: Apa urusan kita dengan Tuhan, sehingga Ia dapat membahagiakan kita?

Ya, pertanyaan ini sungguh penting, sangat penting – supaya menjadi jelas “apanya” Tuhan yang membahagiakan kita? Saya berusaha untuk mencari jawaban dari orang-orang yang sebelumnya saya tidak kenal, supaya lebih objektif. Ternyata dugaan saya betul – umumnya kita berurusan dengan Tuhan karena Ia adalah Yang Maha Memberi.

Urusan kita dengan Tuhan pun bukanlah urusan cinta, bukanlah urusan kasih – tetapi perkara materi murni. Kita berdoa, kita menjalankan ritus-ritus keagamaan, bahkan kita beragama – hanya karena Tuhan adalah Hyang Maha Memberi segala apa yang kita butuhkan, Hyang Maha Mendengar segala macam keluhan kita, Hyang Maha Memenuhi segala macam keinginan kita, Hyang Maha Menyelesaikan segala macam perkara kita.

Barangkali kita tidak akan berurusan dengan Tuhan bila Ia adalah Hyang Maha Menegur dan Maha Menjewer kuping ketika kita berbuat salah. Kita lebih suka dengan atribut-atribut Tuhan seperti Hyang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Jelas, kita tidak mau ditegur dan dijewer kuping kita.

Berarti, Tuhan yang Membahagiakan kita adalah Tuhan yang Memenuhi segala macam kebutuhan, bahkan keinginan materi kita. Dan, tidak pernah menegur, apalagi menghakimi dan menghukum kita. Keberagamaan kita sepenuhnya, 100 persen adalah urusan materi murni!

Tuhan dan Uang Membahagiakan kita…..

Sesungguhnya, yang kita maksud adalah: Tuhan yang menyediakan Uang dan Uang itu sendiri yang membahagiakan kita. Berarti, kebahagiaan manusia Indonesia sepenuhnya datang dari Uang, dari Materi.

Tidak heran, bila politisi senior kita menganggap perolehan suara di pemilu sebagai rejeki. Tidak heran pula bila kita tidak pernah lupa mengucapkan syukur kepada Hyang Maha Kuasa ketika meraih kekuasaan. Dari olahragawan hingga rohaniwan – semuanya mengharapkan materi dari Tuhan.

Nabi Isa pernah mengingatkan kita: “Carilah Dia, maka segala sesuatu yang lain akan ditambahkan kepadamu.”

Kita mencari Dia, supaya memperoleh segala sesuatu.

Sama-sama mencari, tetapi lain pencaharian Sang Nabi dan lain pencaharian kita. Sang Nabi tidak mencari untuk memperoleh sesuatu. Kita mencari dengan tujuan jelas untuk memperoleh sesuatu.

Dikutip dari Artikel Bapak Anand Krishna: Kebahagiaan dan Manusia Indonesia,  pada Radar Bali, Senin 26 November 2007:

Let Go! Apa pun Yang Terjadi Terjadilah #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on May 1, 2018 by triwidodo

Dikisahkan, pada saat matahari terbit, setetes embun menjadi sadar akan sekitarnya. Di sana ia duduk di daun, menangkap sinar matahari dan melemparkannya kembali. Bangga akan kecantikannya yang sederhana, sangat puas. Di sekelilingnya ada tetesan embun lainnya, beberapa di atas daun yang sama dan beberapa daun lain di sekelilingnya. Tetes embun yakin bahwa itu adalah tetes embun terbaik dan paling istimewa dari semuanya. Ah, itu bagus untuk menjadi setetes embun.

Angin bertiup dan tanaman mulai bergetar, memberi gerakan pada daun. Teror mencengkeram tetesan embun ketika daya gravitasi menariknya ke tepi daun, ke arah yang tidak diketahui. Mengapa? Mengapa ini terjadi? Semua terasa nyaman. Semuanya aman. Kenapa mereka harus berubah? Mengapa? Mengapa?

Tetes embun mencapai tepi daun dan dia ketakutan sekaligus marah, yakin bahwa dia akan dihancurkan menjadi seribu keping di bawah, yakin ini adalah akhir dari pada dirinya. Hari yang baru saja dimulai, dan akhir itu datang begitu cepat. Rasanya tidak adil. Tampaknya begitu tidak berarti. Ia berusaha mati-matian untuk melakukan apa pun untuk bisa menempel pada daun, tetapi itu tidak ada gunanya. Rasa amarah pun tidak berguna.

Akhirnya, dia melepaskan diri, menyerah pada tarikan daya gravitasi. Jatuh, turun. Di bawah sepertinya ada cermin. Refleksi dari dirinya sendiri tampaknya akan datang untuk memenuhi tetesan embun. Lebih dekat dan lebih dekat mereka datang bersama sampai akhirnya…….

Dan kemudian rasa takut itu berubah menjadi sukacita yang dalam ketika tetesan embun kecil bergabung dengan luasnya kolam itu. Sekarang embun turun, tetapi tidak hancur. Itu menjadi satu dengan keseluruhan.

Seperti kata Rabindranath Tagore: Biarkan hidup Anda menari ringan di tepi waktu seperti embun di ujung daun.

Let Go, Biarlah Kehendak-Mu yang Terjadi

Ribuan tahun sebelum lahirnya psikologi modern, para pujangga di Timur sudah mulai memikirkan masalah-masalah psikis dan efeknya terhadap kesehatan manusia. “Amarah”, misalnya, oleh Sri Krishna dijelaskan sebagai akibat dari rasa kecewa. Dan rasa kecewa itu sendiri merupakan akibat dari keinginan-keinginan yang tak terpenuhi. Jadi, sesungguhnya “amarah” adalah akibat keinginan manusia. Karena itu, untuk mengatasi amarah, hanya ada dua jalan. Memenuhi setiap keinginan atau tidak berkeinginan sama sekali.

 Yang pertama, memenuhi setiap keinginan jelas mustahil. Kursi presiden hanya satu. Yang menginginkannya sekian banyak. Jelas, yang tidak memperolehnya akan kecewa. Yang kedua, tidak berkeinginan. Tidak mustahil, tetapi sulit sekali. Kesadaran kita harus selalu prima dan berada pada lapisan yang teratas, sehingga kita bisa menerima “ada adanya”, tanpa keinginan pribadi.

Dalam keadaan ini, kita sudah berserah diri sepenuhnya kepada Kehendak ILahi, no question asked, not mine but let Thy will be done! Kita tidak lagi mempertanyakan kebijakan-Nya, tetapi menerima sepenuhnya……

Para avatar, para mesias, para nabi, para master dan para Buddha berada dalam kelompok kedua. Mereka tidak memiliki keinginan pribadi. Karena itu, mereka tidak pernah marah. Tidak pernah marah “seperti” kita. Kualitas amarah mereka berbeda. Amarah mereka bukan produk keinginan yang tak terpenuhi. Amarah mereka adalah produk kepedulian mereka terhadap keadaan kita. Amarah mereka lahir dari rasa kasih. Bila melihat seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus atau seorang Muhammad amat sangat manis amarah yang dapat mengupas daki ketidaksadaran dari batin kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Medina, Sehat Dalam Sekejap. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Salah Identitas Diri

Manusia menderita karena menganggap dirinya hanyalah kelima indera, badan, pikiran, atau intelejensia. Kemudian, apa yang terjadi pada mereka, dianggapnya terjadi pula pada jatidirinya. Padahal tidak demikian. Sekali lagi, dia bukanlah kereta, bukan jalan raya yang ditempuh oleh kereta itu. Bukan tali pengendali, bukan sais, tetapi pemilik kereta. Itulah dia yang sebenarnya! Kesadaran itu seketika membebaskan manusia dari segala macam penderitaan, dan keterikatan yang disebabkan oleh salah identitas. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Bebas dari Rasa Takut

Bebas dari rasa yang membebani…… Seperti Rasa Iri, Kekhawatiran, dan Kesenangan Semu yang diperoleh dari kenikmatan indra dan kenyamanan materi. Dan lagi-lagi Krsna mengingatkan bila seorang panembah bebas dari rasa takut.

Rasa takut adalah “sebab utama” kelahiran kita di dunia ini. Selama hampir I0 bulan dalam rahim ibu, di mana 2-3 bulan terakhir Jiwa sudah sepenuhnya mengidentifikasikan dirinya dengan rahim yang mengandungnya — kita mengalami rasa takut. Takut sepi, sendiri — maka “terjadilah” kelahiran. Tidak semua, tetapi banyak kasus keguguran terjadi ketika Jiwa “tidak merasa takut” dan “kelahiran” menjadi tidak penting lagi.

Persis seperti itu, jika selagi masih hidup kita terbebaskan dari rasa takut — maka bebaslah kita dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Penjelasan Bhagavad gita 12:15 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Badan ini Sekadar Kereta, Aku adalah Pemilik Kereta

Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, “Aku Sejati”, “Self”, “Atma” adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini.

Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka “aku” atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya.

Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan. Untuk itu, setiap orang mesti menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Ia tidak bisa melarikan diri dari kewajiban, dan mengharapkan agar pikirannya tenang.

Pikiran yang tenang adalah pikiran yang suci. Dan, di atas lahan pikiran yang suci itulah tumbuh Viveka kemampuan untuk memilih mana yang tepat bagi kita, dan mana yang tidak tepat. Tumbuh pula Vairagya, ketakterikatan kepada dunia benda, karena sadar bila kebendaan itu tidak langgeng, dan berubah terus. Maka, dengan sendirinya manusia terbebaskan dari ego, ke-“aku”-an, atau identitas palsu. Ia tersadarkan bila dirinya bukanlah badan, apa lagi kelima indera yang merupakan bagian dari badan. Ia tercerahkan bila menyadari bahwa dirinya bukanlah pikiran, bukan intelejensia, tetapi pemilik kereta, Atma, Self, “Aku Sejati”. Ia memahami bahwa penderitaannya selama ini semata karena salah identitas. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Terbebaskan dari Individualitas

Ternyata, perubahan yang terjadi pada badan, pikiran serta perasaanku, status sosial serta ekonomi – semuanya tidak serta merta merubah-“ku”. Ketika kau menyadari hal itu, maka kau terbebaskan dari belenggu “aku” yang kecil dan bersifat individual. Ketika “aku” menyadari “aku” tidak berubah, maka “aku” pun terbebaskan dari belenggu  dan pada saat itu juga Sang Aku Sejati “terungkap” dengan sendirinya! Setiap orang yang terbebaskan dari individualitas – menemukan Sang Aku yang satu dan sama. Luar biasa! Maka, para resi merumuskan: “Itulah Kebenaran Hakiki”. Itulah Satya, Al Haqq. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Membatasi Keinginan dan Mulai Meniti ke Dalam Diri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 30, 2018 by triwidodo

Ada sebuah kisah, pernah ada pemotong batu yang tidak puas dengan dirinya sendiri dan dengan posisinya dalam kehidupan.

Suatu hari dia melewati rumah seorang saudagar kaya. Melalui gerbang terbuka, ia melihat banyak barang bagus dan pengunjung penting. “Betapa senangnya pedagang itu!” Pikir pemotong batu itu. Dia menjadi sangat iri dan berharap dia bisa menjadi seperti pedagang.

Yang sangat mengejutkan, dia tiba-tiba menjadi pedagang, menikmati kemewahan dan kekuatan lebih dari yang pernah dibayangkannya, tetapi iri dan dibenci oleh orang-orang yang kurang kaya daripada dirinya sendiri.

Segera seorang pejabat tinggi lewat, ditemani oleh petugas dan dikawal oleh polisi. Semua orang, tidak peduli seberapa kaya, harus membungkuk rendah sebelum prosesi. “Seberapa kuasanya jabatan itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi pejabat tinggi!”

Kemudian dia menjadi pejabat tinggi, ditakuti dan dibenci oleh orang-orang di sekitarnya. Saat itu adalah hari musim panas yang panas, jadi pejabat itu merasa sangat tidak nyaman. Dia menatap matahari. Itu bersinar dengan bangga di langit, tidak terpengaruh oleh kehadirannya. “Betapa kuasanya matahari itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi matahari!”

Kemudian dia menjadi matahari, menyinari semua orang, membakar ladang, dikutuk oleh para petani dan buruh. Tapi awan hitam besar bergerak di antara dia dan bumi, sehingga cahayanya tidak lagi bersinar di segala sesuatu di bawah. “Betapa kuatnya awan badai itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi awan!”

Kemudian dia menjadi awan, membanjiri ladang dan desa, diteriaki oleh semua orang. Tetapi segera dia menemukan bahwa dia didorong oleh kekuatan besar, dan menyadari bahwa itu adalah angin. “Betapa kuatnya itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi angin!”

Kemudian dia menjadi angin, meniup ubin dari atap rumah, mencabut pohon, takut dan dibenci oleh semua di bawahnya. Tapi setelah beberapa saat, dia berlari melawan sesuatu yang tidak akan bergerak, tidak peduli seberapa kuat dia menghempaskannya – sebuah batu besar yang menjulang tinggi. “Betapa kuatnya batu itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi batu!”

Kemudian dia menjadi batu karang, lebih kuat dari apa pun di bumi. Tetapi ketika dia berdiri di sana, dia mendengar suara palu yang memukul pahat ke permukaan yang keras, dan merasa dirinya sedang berubah. “Apa yang bisa lebih kuat daripada batu karang itu?” Pikirnya.

Dia menunduk dan melihat jauh di bawahnya sosok pemotong batu.

………………..

Kisah ini nampaknya sederhana, tapi ini cara untuk membuka diri kita bahwa kita semua memiliki kekuatan luar biasa di dalam diri kita. Kita tidak pernah sadar, kadang kita mempunyai obsesi sebagai pedagang sukses. Untuk mencapai kondisi itu mungkin perlu menjalani beberapa kehidupan. Apalagi bila kita ingin menjadi yang nomer 1, perlu lebih banyak kehidupan dan setelah tercapai kita tidak puas dan obsesi kita berganti ingin menjadi pejabat. Entah berapa banyak kehidupan kita mengalami suka-duka yang tidak berkesudahan demi obsesi kita. Tidakkah sebaiknya kita berhenti mencari di luar dan mulai meniti ke dalam diri?

Beri Batas Plafon Keinginan dan Mulai Meniti Ke Dalam Diri

Awal dari ketersesatan adalah keinginan; keinginan yang muncul dari ketertarikan, keterikatan. Pertanyaannya ialah: Apakah Manusia bisa Hidup Tanpa Keinginan? Jawabannya: Ya, bisa. Adalah kehendak kuat, yang dibutuhkan untuk hidup bersahaja, dengan apa adanya. Tanpa keinginan, dan dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok saja.

Namun, jika kita belum bisa hidup seperti itu, maka, setidaknya kita bisa hidup dengan membatasi keinginan, atau seperti Guru saya mengatakan, dengan memplafoni keinginan – ceiling on desires.

Berapa stel baju, berapa pasang sepatu yang Anda butuhkan? Tapi, jika Anda setiap hari ke mall dan hobi Anda adalah window shopping, maka, sudah pastilah muncul keinginan untuk membeli sesuatu yang baru. Jika dompet Anda tebal, maka Anda akan langsung membelinya. Jika dompet Anda tipis, maka timbul rasa kecewa, amarah, dan pikiran menjadi liar, timbul kebingungan…… Penjelasan Bhagavad Gita 2:63 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Jangan Membanding-Bandingkan dengan Orang Lain

Mind atau manah memang senantiasa kacau dan mengacaukan. Kita menerjernahkan mind atau manah sebagai Gugusan Pikiran serta Perasaan. Sebab itu, memusatkan manah pada-Nya berarti mengendalikan kekacauan pikiran dan gejolak emosi.

………………..

UNTUK SELALU DIINGAT, “AKU” SRI KRSNA ADALAH “Aku” Arjuna — “aku” saya, “aku” Anda, “aku” mereka, “aku” kita semua. Krsna mengajak Arjuna untuk memperhatikan “diri”nya sendiri. Untuk memusatkan seluruh kesadarannya pada diri — pada “aku”. Tidak pada hal-hal di luar diri. Inilah tindakan yang paling inteligen. Inilah langkah jitu, langkah paling tepat untuk meraih keberhasilan dalam hidup.

Kita ingin sukses – dan mengukur tingkat sukses, tingkat keberhasilan kita dengan membandingkan diri dengan orang lain yang kita anggap sudah cukup berhasil. Padahal, POTENSI SETIAP ORANG LAIN. Lain potensi saya, lain potensi Anda. Barangkali, dengan potensi kita, keberhasilan yang dapat kita raih melebihi keberhasilan yang dapat diraih orang lain. Tetapi, dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, kita malah menutup diri terhadap kemungkinan itu. Kita sudah menganggap keberhasilan orang itu sebagai “plafon” yang dapat dicapai. Demikian, kita merugikan diri sendiri. Kita tidak akan berjuang untuk melebihi keberhasilannya. Sebaliknya, jika nilai keberhasilan orang yang kita jadikan anutan adalah berbeda dengan nilai kita — maka kita akan kecewa sendiri.

Baginya, barangkali ketenaran adalah nilai keberhasilan tertinggi. Bagi kita, hubungan dan relasi adalah nilai keberhasilan tertinggi. Orang lain barangkali mengukur keberhasilan dengan harta-benda yang dimilikinya. Jelas, penilaiannya, tolok-ukurnya sudah beda. Jika kita membandingkan diri dengan orang lain — maka, hanyalah kekecewaan yang akan kita peroleh. Penjelasan Bhagavad Gita 12:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Keunikan Diri Setiap Orang

Keunikan setiap orang merupakan akibat dari perbuatannya di masa lalu yang telah berubah menjadi sifatnya. Obsesi dari masa lalu; ingatan atau memori dari masa lalu; hubungan atau relasi dari masa lalu – semuanya itu membentuk pribadi yang unik. Oleh karena itu setiap orang memang unik adanya. Cara dia menempuh perjalanan hidup; cara dia merespon terhadap tantangan hidup – semuanya unik.

Keunikan manusia ini terjamin sepenuhnya oleh hukum karma, hukum evolusi, dan hukum-hukum lainnya. Tapi keunikan ini pula yang menciptakan ego pribadi. Ego dalam pengertian “aku”. Selama kita masih berada dalam wilayah hukum karma, keunikan kita adalah jati diri kita. Keunikan ini diterima oleh para psikolog modern sehingga mereka akan selalu menganjurkan supaya kita tidak melepaskan ego kita. Ego yang unik ini adalah jati diri kita. Ada kalanya, ego ini bersifat liar – maka diciptakanlah syariat  atau dharma untuk menjinakkan  ego-ego yang masih liar dan berbisa.

Keunikan manusia adalah sangat manusiawi. Tetapi, itu bukanlah monopoli manusia saja. Hewan pun unik. Tanaman dan pepohonan adalah unik. Bukit, gunung, kali sungai – semuanya unik. Madam Katrina dan Ni Made Tsunami adalah unik. Kamu unik. Aku unik. Dia unik……… dikutip dari Secangkir Kopi Kesadaran dari The Torchbearers Newsletter 1/2008.

 

Bhakti Merampas Keunikan Diri Kita

Tetapi, kemudian hadirlah seorang Krishna di depan kita yang secara jelas dan tegas mengajak kita untuk menyerahkan ego kita sepenuhnya untuk melepaskan keunikan kita sepenuhnya. Ajakan dia sungguh berat sekali untuk diikuti dan sangat membingungkan. Krishna berada di satu pihak, seorang diri – dengan ajakannya yang tidak masuk akal. Di pihak lain adalah para cendekiawan, ilmuwan, psikolog yang semuanya masuk akal. Dan mereka menasehati kita, berhati-hatilah dengan Krishna. Dia akan merampas segala-galanya darimu! Sebab itu, hanyalah para Gopal dan Gopi yang akan mendekati Krishna. Mereka tidak peduli dengan keunikan mereka. Karena, seunik apapun diri mereka – tokh hanyalah got, kali, dan sungai. Mereka telah menyaksikan luasnya lautan Kasih Krishna. Apa gunanya mempertahankan keunikan diri lagi? Setiap manusia memang unik. Kemudian, manusia-manusia yang telah menyaksikan yang telah menyaksikan kemulian-Nya memutuskan untuk melepaskan keunikan mereka masing-masing dan berbhakti pada Hyang Mulia. Bhakti merampas segala keunikan kita. Seluruh kepribadian kita larut dalam bhakti.

Seperti yang dikatakan oleh Shri Rama Krishna Paramhansa, mereka hidup di tengah keluarga mereka tetapi hati mereka berada di tepi sungai Yamuna di mana Krishna sedang memainkan serulingnya…….. Keadaan kita terbalik, badan kita bersama Guru, dekat sekali – tetapi hati kita, seperti yang dikatakan oleh Yogananda, ada di Starbuck……………. dikutip dari Secangkir Kopi Kesadaran dari The Torchbearers Newsletter 1/2008.

Arjuna dan Siddharta #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on April 29, 2018 by triwidodo

Dia duduk di bawah pohon. Seorang astrolog mendekatinya – dia sangat bingung, karena dia melihat jejak Buddha di atas pasir basah dan dia tidak bisa mempercayai matanya. Semua tulisan suci yang telah dia pelajari sepanjang hidupnya telah menceritakan kepadanya tentang tanda-tanda tertentu yang ada di kaki seorang pria yang memerintah dunia – seorang chakravartin – penguasa dari semua enam benua, dari seluruh bumi. Dan dia melihat jejak kaki di pasir basah di tepi sungai semua simbol begitu jelas sehingga dia tidak bisa mempercayai matanya! Entah semua kitab sucinya salah dan dia menyia-nyiakan hidupnya dalam astrologi … jika tidak, bagaimana mungkin pada suatu sore yang panas, di desa kecil yang kotor seperti itu, seekor chakravartin akan datang dan berjalan tanpa alas kaki, di atas pasir panas yang membara?

Dia mengikuti jejak kaki, hanya untuk mencari pria yang menjadi jejak kaki itu. Dia menemukan Sang Buddha duduk di bawah pohon. Dia bahkan lebih bingung. Wajahnya seperti chakravartin – rahmat, keindahan, kekuatan, aura – tapi pria itu adalah seorang pengemis, dengan mangkuk mengemis!

Sang peramal menyentuh kaki Sang Buddha dan bertanya kepadanya, “Siapa Anda, Tuan? Anda telah membingungkan saya. Anda harus menjadi chakravartin, penguasa dunia. Apa yang kamu lakukan di sini, duduk di bawah pohon ini? Entah semua buku astrologi saya salah, atau saya berhalusinasi dan Anda tidak benar-benar ada di sana.”

Buddha berkata, “Buku-buku Anda benar-benar benar – tetapi ada sesuatu yang tidak termasuk kategori, bahkan tidak termasuk kategori chakravartin. Saya, tapi saya bukan orang tertentu.”

Sang peramal berkata, “Kamu membuatku lebih bingung. Bagaimana Anda bisa tanpa menjadi orang pada khususnya? Anda pasti dewa yang telah datang mengunjungi bumi – saya dapat melihatnya di mata Anda!”

Buddha berkata, “Aku bukan dewa.”

Sang peramal berkata, “Maka Anda harus menjadi gandharva – seorang musisi surgawi.”

Buddha berkata, “Bukan, saya juga bukan gandharva.”

Dan sang peramal terus bertanya, “Jadi, apakah Anda seorang raja yang menyamar? Kamu siapa? Anda tidak bisa menjadi binatang, Anda tidak bisa menjadi pohon, Anda tidak bisa menjadi batu – siapa sebenarnya Anda?”

Dan jawaban yang diberikan Sang Buddha adalah sangat penting untuk dipahami. Dia berkata, “Saya hanyalah seorang Buddha – saya hanyalah kesadaran, dan tidak ada yang lain. Saya tidak termasuk kategori apa pun. Setiap kategori adalah identifikasi dan saya tidak memiliki identitas apa pun.”

Dikisahkan oleh Osho……………..

Dalam diri setiap orang terdapat “Kesadaran” tetapi tertutup oleh pikiran dan emosi.

Orang yang Telah Terjaga Dari Tidur Panjang Pikiran dan Emosi

Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “tatha”. “Tatha”, Berarti….“Thus”, atau “Such” – seperti itulah!. Ya, seperti itulah arti “Tatha” – “Seperti Itulah!” Singkatan dari “Yatha-Bhuta”, yang juga bisa diartikan “As It Is”, atau  sebagaimana adanya”. “Tatha” adalah keadaan awal setiap manusia.

Kemudian, apakah kita diharapkan menjadi “kekanak-kanakan”? Tidak. Yesus tidak mengatakan kita “menjadi anak kecil lagi”, tetapi “kembali seperti seorang anak kecil” – like a little child! “Kembali seperti seorang anak kecil”, berarti, “tetap dewasa, tapi dengan kepolosan, kesahajaan, dan terutama keceriaan seorang anak kecil.” Oleh sebab itu, seorang yang telah terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi disebut “Tathagata”-”ia yang telah mencapai keadaan itu”.

Menjadi “seperti seorang anak kecil” berarti menjadi seorang Tathagata. Polos, tapi tidak bodoh. Bersahaja, tapi tidak naif. Lembut, tapi tidak lemah. Sopan, tapi menjaga diri, “supaya tidak dimakan orang juga”. Ketika Buddha ditanya seperti apakah ciri-ciri seorang Tathagata la menjelaskan: “Tak terjelaskan” (“Vajracchedika Prajnaparamita Sutra” atau “Diamond Sutra”).

Namun, Buddha menjelaskan cara untuk mencapai keadaan itu, yakni dengan membebaskan diri dari keterikatan pada kebendaan yang senantiasa berubah terus. Dan, menyadari hal itu, menyadari bahwa “perubahan adalah sifar dasar benda”. Jika kita terikat dengan salah satu wujud, ketika wujud itu berubah menjadi sesuatu yang lain, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka. Kendaraan baru kita ditabrak, berubah bentuk menjadi rongsokan, kita kecewa dan berduka. Rumah mewah kita terbakar, berubah bentuk menjadi abu dan puing-puing, kita kecewa dan berduka. Orang yang kita sayangi meninggal, badan berubah bentuk menjadi jasad, jasad menjadi abu, atau kembali ke tanah, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka.

Adakah Kemungkinan Kita Bisa Bebas dari Keterikatan? Ada. Jika kita bisa mengakses “keadaan awal seperti itu” – tatha. Ada kemungkinan, jika kita bisa berada dalam keadaan itu – tathagata. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Nirvana dan Samsara

Nirvana adalah suatu keadaan pikiran yang sudah tidak liar lagi, perasaan atau emosi pun tidak berjungkat-jungkit lagi. Nirvana adalah “pemadaman api pikiran serta perasaan”. Tiada lagi gejolak di dalam diri.

Nirvana adalah Kebebasan Mutlak – Moksa. Nirvana adalah kedamaian sejati yang merupakan “rasa terdalam” – bukan rasa “emosi”. Dan, rasa terdalam itu bersumber dari Ia Hyang adalah Wujud Kebahagiaan Sejati – Sang Jiwa Agung.

“Pemusatan pikiran pada-Ku” adalah pemusatan diri pada diri – pada Sumber Kebahagiaan Sejati yang ada di dalam diri. kedamaian Sejati “Nirvana” pun bukanlah sesuatu yang asing dan ada di lapisan langit tertinggi.

Nirvana adalah Keadaan Alami “Setiap Diri” – Keadaan alami Anda dan saya, keadaan tanpa keterikatan, tidak ada belenggu, tidak ada perbedaan. Nirvana adalah kebebasan Jiwa. Sementara dunia luar adalah kebalikannya.

Dunia Luar adalah Samsara – Alam pengulangan yang menyengsarakan. Betapa bodohnya  kita yang terjebak dalam roda pengulangan Samsara! Sudah tergilas sekali di bawah rodanya, tetap tidak sadar. Tetap tidak menyingkir, dan menghindari penggilasan diri di bawah rodanya terus-menerus – inilah Samsara. Penjelasan Bhagavad Gita 6:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Upaya Kita Tidak Sia-Sia Walau Belum Mencapai Kesempurnaan

Walau, dalam kehidupan ini kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga, belum menyatu dengan-Nya dan keburu “mati”, tiada yang perlu dikhawatirkan. Upaya kita sepanjang hidup tidak sia-sia.

DALAM MASA KELAHIRAN BERIKUTNYA… Walau lahir dalam keluarga kaya, sejahtera, serba berkecukupan, atau bahkan berlimpah, walau masih sering terbawa oleh hawa nafsu, dan masih pula terkendali oleh indra — kita akan tetap berupaya untuk meraih kesempurnaan dalam Yoga.

Kita tidak bisa mengabaikan dorongan Jiwa, suara hati, untuk melanjutkan perjalanan rohani kita. Kiranya, keadaan ini yang dialami oleh seorang pangeran seperti Siddhartha. Maka, dengan adanya pemicu sedikit saja — dengan melihat kenyataan hidup berupa kelahiran, kematian, penyakit, usia tua, dan sebagainya — ia langsung mengingat kembali “tujuannya” dan meninggalkan istana untuk melanjutkan perjalanannya.

ARJUNA BERADA DALAM P0SISI YANG MIRIP, tapi tidak sama. Dalam diri Arjuna, potensi sebagai seorang kesatria masih tetap melengket. Tidak demikian dengan Siddharta. Sebab itu, Arjuna mesti berada di tengah keramaian dunia dan mengupayakan kesempurnaan dalam Yoga sambil tetap menjalankan profesinya.

Sementara itu, Siddhartha tidak memiliki identitas-kesatria yang melengket pada dirinya. Walau lahir sebagai pangeran, Jiwa Siddhartha sudah rnerasa cukup menjalani peran sebagai kesatria dalam beberapa masa kehidupan sebelumnya. Maka, ia ingin memiliki pengalaman yang beda – pengalaman sebagai petapa.

Potensi seorang Siddharta adalah sebagai bhiksu, sebagai petapa. Potensi Arjuna sebagai kesatriia.Namun kedua-duanya sedang menuju pengalaman akhir yang satu dan sama—kesempurnaan! Penjelasan Bhagavad Gita 6:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia