Kedatangan Dewi Kekayaan dan Kepergian Dewi Kemiskinan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on October 16, 2018 by triwidodo

Kisah Dewi Kekayaan dan Dewi Kemiskinan Menemui Seorang Pedagang

Seorang Master bercerita tentang dua dewi cantik jelita yang datang pada seorang pedagang dan memperkenalkan diri sebagai Dewi Kekayaan dan Dewi Kemiskinan. Sang pedagang bertanya, “Apa gerangan yang membawa Bunda-Bunda Dewi ke rumah hamba?” Dewi Kekayaan berkata, “Kami ingin kau menilai dan memberitahu siapa yang lebih cantik dari kita berdua?”

Sang pedagang berada dalam keadaan dilematis. Jika dia menyatakan Dewi Kekayaan lebih cantik daripada Dewi Kemiskinan, maka Dewi Kemiskinan akan mengutuknya, dan dia bisa saja menjadi miskin selamanya. Akan tetapi, jika dia mengatakan Dewi Kemiskinan lebih cantik daripada Dewi Kekayaan, maka Kekayaan akan meninggalkannya dan dia akan hidup miskin. Dengan menarik napas pelan-pelan yang dalam, dan membuang napas juga perlahan-lahan beberapa kali, dia kemudian menjawab, “Wahai Bunda-Bunda Dewi, hamba sangat menghormati Bunda berdua. Semoga Bunda berdua berkenan menuruti permohonan saya, agar saya dapat menilai dengan benar.”

Kedua Dewi setuju, dan sang pedagang berkata, “Wahai Bunda Kekayaan, mohon datang dan masuk ke rumah hamba. Dan, wahai Bunda Kemiskinan, mohon berjalan dari sini ke pintu halaman?” kedua Dewi mengikuti permintaan sang pedagang.

Sang pedagang kemudian berkata, “Bunda Kekayaan, Bunda tampak sangat cantik ketika memasuki rumah hamba. Dan wahai Bunda Kemiskinan, Bunda terlihat sangat cantik saat Bunda meninggalkan rumah hamba!” Kedua Dewi menghargai kejernihan pikiran sang pedagang. Dewi Kekayaan dengan senag hati tinggal di rumah sang pedagang dan Dewi Kemiskinan dengan senang hati pergi dari rumah sang pedagang.

Ketika kita menghadapi masalah, sebaiknya kita tenang, berpikir jernih untuk mencari solusinya.

 

Walau Kaya, Akan Tetapi Seseorang Tetap Mengalami Suka dan Duka

Mungkin sang pedagang tetap kaya menurut ukuran masyarakat. Walaupun demikian bila dia mengharapkan keuntungan yang besar, sedangkan hasilnya hanya keuntungan kecil, dia tetap mengalami duka. Ibarat obat addiktif, seseorang yang teradiksi terhadap kekayaan apabila dosisnya tidak bertambah dia tidak akan merasa nyaman lagi. Pada saat dia memperoleh keuntungan sedikit atau bahkan keruguan sedikit, dia tetap akan mengalami duka.

Juga, Sang Dewi Kekayaan tidak mau serumah dengan Dewi Kemiskinan, apabila Dewi Kemiskinan datang, maka Dewi Kekayaan akan pergi meninggalkan rumah. Sang pedagang tetap merasa terancam dengan kedatangan Dewi Kemiskinan dan hidupnya tidak akan tenang.

Suka dan duka silih berganti, demikianlah kehidupan di dunia. Pertanyaannya, adakah suatu jalan agar kita selalu tenag dan ceria saat Dewi Kekayaan ataupun Dewi Kemiskinan mendatangi kita?

Melampaui Dualitas Suka dan Duka

Seorang Yogi Meraih Kebebasan dari Dualitas baik dan buruk, kedua-duanya merupakan sisi dari satu keping uang logam yang sama. Seperti halnya panas dan dingin, pagi dan sore, siang dan malam. Segala sesuatu dalam dunia ini memiliki oposannya, lawannya.

Selama kita masih berada di dunia ini, kita tidak dapat menghindari interaksi dengan dunia-benda yang bersifatkan dualitas ini. Namun, kita dapat menciptakan sistem filter bagi diri kita sendiri. Kita dapat menguasai diri, sehingga tidak terpengaruh oleh dualitas.

Tidak berarti bahwa seseorang yang sadar, yang telah mencapai pencerahan, tidak akan mengalami pasang surut dalam kehidupannya. Kṛṣṇa hanya ingin mengatakan bahwa ia tidak akan lagi terpengaruh oleh pasang surutnya kehidupan. Apa pun yang terjadi, tidak ada yang dapat memudarkan senyumannya.

Dan jangan lupa kata-kata Kṛṣṇa, berkaryalah secara efisien. Jangan setengah- setengah. Seluruh kesadaran kita dianjurkan terfokus pada apa yang sedang kita lakukan, pada saat ini, pada masa kini, pada pekerjaan itu sendiri, sehingga tidak ada energi yang terbuang. Inilah Yoga. Penjelasan Bhagavad Gita 2:50 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Menjadi Ceria, Tidak Berduka dan Bersikap Sama terhadap Semua

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.” Bhagavad Gita 18:54

Tidak berarti seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi itu meninggalkan pekerjaannya. Tidak. Ia masih tetap berkarya di tengah keramaian pasar dunia, namun terjadi perubahan nyata dalam sikapnya.

PERTAMAI IA MENJADI CERIA — Keceriaan bukanlah cengengesan. Keceriaan bukanlah rasa bahagia yang dibuat-buat. Keceriaan adalah hasil dari kesadaran tertinggi, di mana ia mulai mengapresiasi keindahan jagad-raya. Keceriaannya adalah keceriaan polos, tulus, lugu. Keceriaan seorang yang sedang mengamati dan menikmati warna-warni dunia.

KEDUA: IA TIDAK LAGI BERDUKA – Ini erat kaitannya dengan keceriaan. Jika ia hanya berada dalam keadaan suka, maka ketika keadaan berubah, ia akan berduka.

Keadaan suka, sebab itu, tidaklah sama dengan keceriaan. Keceriaan melampaui suka dan duka. Suka dan duka tergantung pada keadaan di luar diri. Keceriaan adalah sikap hidup yang muncul dari kesadaran diri.

Brahman, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, memiliki tiga sifat utama, yaitu Sad atau Kebenaran Hakiki; Cit atau Kesadaran Murni; dan Ananda atau Kebahagiaan Sejati. Keceriaan bersumber dari ketiganya itu. Namun, secara spesifik, keceriaan adalah ungkapan dari Ananda. Jadi, berasal dari dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri.

KETIGA: IA TIDAK MENGEJAR SESUATU – Ia tetap berkarya, dan berkarya secara efisien. Ia tidak malas, namun, ia berkarya sebagai ungkapan keceriaan dirinya. Ia tidak berkarya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya.

Alangkah baiknya, jika para pemimpin, pengusaha, pendidik, pekerja, kita semua bersemangat dernikian! Sehingga tidak ada urusan sikut-menyikut, tidak ada perlombaan, tidak ada praduga dan prasangka. Semua orang berkarya sepenuh hati sesuai peran serta kapasitasnya. Inilah keadaan yang dapat menciptakan masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam arti kata sebenarnya, sesungguhnya.

KEEMPAT: BERSIKAP SAMA TERHADAP SEMUA – Berarti, tidak pilih kasih. Tidak pandang bulu; tidak tebang pilih. Ia tidak menganggap orang lain rendah karena kepercayaannya beda, rasnya lain, bahasanya beda, dan sebagainya dan seterusnya.

Bersikap sama tidak berarti kita tidak adil. Bersikap sama berarti kita bersikap adil dengan menggunakan tolok ukur dan timbangan yang sama buat semua.

Berarti, kita tidak hanya bersuara lantang ketika seorang pengusaha ditindak karena memperbudak buruhnya, dan membisu seribu bahasa ketika saudara kita sendiri memparbudak staf, atau menipu rekan bisnisnya.

DEMIKJAN, DENGAN DIBEKALI KEEMPAT SIFAT MULIA INI – ketika seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi masih tetap berkarya juga. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Menolak Hukum Gravitasi dan Hukum Karma, Itulah Takdir Manusia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on October 15, 2018 by triwidodo

Kisah Konperensi Hewan-Hewan di Hutan

Seorang Master berkisah tentang seekor Rubah cerdik yang berpikir, “Mengapa manusia dianggap lebih tinggi derajatnya dibanding hewan. Bukankah manusia memiliki emosi dan nafsu, ada yang berkualitas baik dan berkualitas buruk?” si Rubah pergi ke sarang Singa. Rubah berkata, “Wahai Raja Hutan, manusia adalah makhluk yang kuat dan meng-klaim kedaulatan atas seluruh ciptaan. Saya tidak bisa menolerasi arogansi manusia yang merasa superior dibanding hewan, bisakah kita membangun superioritas hewan? Kita harus melakukan sesuatu!” Singa setuju dan akhirnya diadakan konperensi bagi semua hewan di hutan. Temanya keuntungan dan kerugian manusia dan hewan. Sebagai pemimpin konperensi dipilih ditunjuk seorang bijak yang telah lama bertapa di hutan. Sebagai teman baik manusia dan hewan, dia tidak akan pilih kasih, berat sebelah, fair.

Rubah segera melaksanakan seluruh rencana konperensi dan ditunjuk sebagai Sekretaris Konperensi. Rubah membuka konperensi dan menyampaikan 4 poin utama yang harus dibahas:

  1. Manusia dan juga hewan dilahirkan dari rahim induknya, mengapa yang satu disebut manusia sedangkan kita disebut hewan? Seharusnya diperlakukan sama.
  2. Ada anggapan manusia disebut bijak, sedangkan hewan itu bodoh. Kita tidak bisa menerima penghinaan dan stigma tanpa dasar ini.
  3. Dikatakan manusia diberkati mempunyai kemampuan bicara. Tapi manusia hanya menyalahgunakan berkat ini. Meskipun hewan dianggap bodoh, kita dapat mencari makanan, tempat berlindung dan bahagia bersama anak-anak kita. Manusia bukan makhluk superior.
  4. Kita makhluk hewan dikatakan buas dan manusia baik dan penuh kasih sayang. Sebenarnya kita lebih baik dan penuh perhatian daripada manusia. Kita harus menyanggah tuduhan ini.

Setelah Rubah kembali ke tempat duduknya, Singa maju ke podium dan berkata, “Saya sepenuhnya menyetujui semua poin. Saya tidak menganggap manusia lebih superior dibanding kita. Meskipun saya raja hutan, saya tidak menikmati ketidakadilan dan korupsi.  Saya tidak akan membunuh hewan apa pun kecuali saya sedang lapar.”

Giliran selanjutnya Gajah menyampaikan, “Perawakan dan kekuatan saya jauh lebih unggul dari manusia. Mengenai kesucian sejak zaman dahulu, saya selalu disebut, karena menyebut saya mendatangkan manfaat. Para orang saleh mengalungkan bunga ke leher saya. Bagaimana manusia merasa lebih tinggi dari kita?”

Selanjutnya Anjing menyampaikan pendapat, “Dalam hal kualitas cinta dan kesetiaan bisakah manusia lebih unggul daripada Anjing? Manusia memperlakukan Anjing sebagai anggota keluarganya karena sifat langka ini. Bagaimana dengan manusia? Mereka tidak memiliki rasa bersyukur. Mereka tetap memberikan pada Anjing sisa makanan mereka. Kepada majikannya sendiri manusia tidak berterima kasih. Dalam kualitas ini kita lebih unggul daripada manusia.”

Sekarang Orang Bijak yang ditunjuk sebagai Ketua Konperensi diminta memberikan kesimpulannya terhadap materi yang disengketakan. Orang Bijak tersebut, berkata, “Sahabat-sahabatku, apa yang dikatakan Anjing itu benar. Manusia sering tidak konsisten. Dalam hal makan minum dan melakukan seks tidak ada perbedaan antara manusia dan hewan. Tapi ada satu perbedaan mendasar. Hewan-hewan tidak dapat mengubah diri mereka sendiri. Sementara manusia bisa mengubah dirinya lewat pendidikan, pergaulan dan meniru. Para hewan bahkan tidak dapat mengubah kebiasaan makan mereka.”

Rubah menyela, Tidakkah Anda berpikir bahwa tidak semua manusia dapat mengubah dirinya?” Sang Bijak berkata, “Orang yang tidak bisa mengubah diri mereka sendiri lebih buruk dari hewan.” Semua bertepuk tangan dengan meriah.

Orang bijak itu melanjutkan, “Manusia mempunyai kelebihan lain, dia dapat memilah.” Rubah menyela, “Tapi manusia membuat perilaku buruk. Mereka menghabiskan waktu, bakat, daya dan uang untuk mengumpulkan harta-benda.” Orang Bijak itu melanjutkan, “Anda juga perlu diberitahu tentang perbedaan lainnya. Manusia dapat menaklukkan ilusi. Ia dapat mencapai keabadian. Dengan menyingkirkan ilusi, dapat mencapai atma, manusia dapat mengalami Tuhan. Mengapa Anda tidak mengakui keterbatasan hewan? Manusia telah mengalahkan hukum karma, menolak keterikatan pada gravitasi dengan mengalami evolusi. Manusia pernah menjadi berbagai hewan dalam waktu jutaan tahun.”

Para hewan sadar  dan bertanya, “Wahai Yang Bijak, Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa semua manusia dapat mengalami Tuhan, mencapai kebebasan?” Sang Bijak menjawab, “Tidak. Tidak semuanya mencapai ‘kebebasan’ itu. Aku datang ke hutan hanya untuk menjadi temanmu dan membuktikan diriku adalah Manusia Sejati.”

Intelijensia Hewan Masih Sangat Rendah

Intelenjensia binatang masih sangat rendah. la baru mampu memahami, “apa” yang harus dimakannya, apa yang tidak; “siapa” yang harus dikawininya, siapa tidak. Dan, pilihan mereka masih sederhana sekali, antara jantan dan betina. Seekor binatang jantan mencari betina, dan betina mencari jantan. Kriterianya hanya satu: Lawan Jenis, itu saja.

…………….

Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita.

Manusia juga merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi ini dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu, sekarang pun sama. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus.

Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia.

Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Lampaui Gravitasi, Lampaui Hukum Karma! Itulah Takdirmu!

Kebangkitan spiritual adalah membumi, tapi dia tidak harus lewat berbagai program seperti grounding, earthing, dan berbagai program seperti saat ini. Grounding menjadi kata-kata yang biasa saat ini, seseorang menciptakan kata lain, earthing.

Adalah memakan waktu jutaan tahun, dari amuba menjadi human being, makhluk manusia dan berdiri pada kedua kaki kita. Ini menjelaskan tentang apa? Kita telah menantang, menolak hukum gravitasi. Semua dari kita, telah menolak hukum gravitasi. Itulah takdir kita.

Kalau kita grounded, membumi kita akan menjadi kaki empat yang menapak bumi lagi. Itu telah menjadi grounded. Menjadi membumi adalah merangkak seperti hewan. Bangkit dari takdirmu, tergantung pada kemanusiaanmu. Kamu harus melawan gravitasi. Melawan gravitasi berarti melampaui hukum karma. Sepanjang kau grounded, earthed, kamu tidak menolak hukum gravitasi. Kamu terikat dengan hukum karma. Aksi-Reaksi. Semua program grounding, earthing hanya akan membuat kamu terikat dengan hukum karma. Lawan, tolak hukum karma.

Banyak orang belajar tentang hukum karma dan reinkarnasi dengan harapan kehidupan kita berikutnya akan lebih baik. Tapi itu bukan tentang reinkarnasi, tentang Hukum karma. Reinkarnasi dan hukum karma adalah pergi ke next level. Tolak, dapatkan lebih dari itu, dan lakukan hal yang lain. Pergi ke next level. Jangan hanya terikat dengan hukum karma. Terikat dengan sistem bumi. Pergi lampaui galaxy dan kerjakan hal lain.

Sumber: Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna: Spiritual Awakening, A Discourse on Pain Waves, Animal Slaughter, Eartquakes, Grounding, Earthing, Law of Karma

Tuhan Bersemayam dalam Diri Bhakta-Nya

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on October 14, 2018 by triwidodo

Kisah Narada dan Narayana tentang Kebesaran Alam Semesta

Dikisahkan oleh seorang Master tentang Maharishi Narada yang sedang menghadap Gusti Narayana. Gusti bertanya, “Narada, dalam perjalananmu di seluruh dunia, apakah kau menemukan rahasia utama alam semesta? Apakah kau mampu memahami misteri di balik dunia iani? Saat kau melihat lima elemen alami besar, bumi, air, api, angin dan ruang, menurutmu apa yang paling penting?”

Narada mengingat-ingat pengalamannya menjelajah dunia dan menjawab, “Gusti, dari lima elemen yang paling padat yang paling penting adalah elemen bumi.” Gusti Narayana berkata, “Bagaimana mungkin bumi menjadi yang terbesar ketika tertutup oleh lautan? Ditelan oleh air? Mana yang lebih besar, benda yang ditelan atau yang menelannya?” Narada mengakui bahwa air harus lebih besar karena telah menelan bumi.

Gusti Narayana berkata, “Tapi Narada, kita memiliki kisah kuno bahwa ketika iblis berada di lautan, seorang bijak yang sakti datang dan menelan seluruh air lautan termasuk iblis di dalamnya dalam satu tegukan. Apakah kau pikir Orang Bijak tersebut lebih besar dari lautan?” Narada setuju pendapat tersebut. Tetapi Gusti Narayana melanjutkan, “Tetapi dikisahkan ketika dia meninggalkan tubuh duniawinya, dia menjadi bintang di langit. Orang Bijak tersebut sebagai bintang kecil di hamparan luas langit. Manakah yang lebih besar, Orang Bijak atau Langit?” Narada menjawab, “Gusti pasti Langit lebih besar?” Gusti Narayana bertanya, “Narada, tidakkah kau ingat kala Gusti mewujud sebagai Vamana, orang kerdil, satu langkahnya dapat menutupi bumi dan langit. Bukankah kau berpikir kaki Gusti lebih besar daripada langit?” Narada berkata, “Benar Gusti, kaki Gusti lebih besar daripada langit. Gusti Narayana berkata, “Jika kaki Gusti saja demikian besar, bagaimana pula dengan tubuh-Nya yang tidak terbatas?”

Maharishi Narada sampai pada kesimpulan akhir, “Ya, Gusti adalah terbesar, tak terbatas dan tak terukur, tidak ada yang lebih besar dari Guati.” Gusti Narayana masih melanjutkan, “Bagaimana dengan Bhakta yang dapat memenjarakan Gusti? Gusti berkenan bersemayam dalam diri Bhakta. Bhakta itu lebih besar daripada Gusti.”

 

Gusti “Takluk” dengan Bhakta-Nya

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan bahwa Rishi Durvasa karena tersinggung kepada Raja Ambharisha menciptakan makhluk untuk menyerang sang raja. Akan tetapi Sudarsana Chakra milik Vishnu melindungi sang raja dan bahkan mengejarnya. Rishi Durvasa minta tolong Brahma, tapi tidak bisa mengatasi senjata Vishnu tersebut. Demikian juga Mahadeva pun tidak sanggup mengatasi. Akhirnya Rishi Durvasa menghadap Vishnu.

Vishnu tersenyum dan berkata, “Durvasa, kamu juga tidak melihat bahwa aku pun sama seperti Brahma dan Mahadeva? Kamu tidak memahami diri-Ku. Aku bukan orang bebas. Aku mungkin mampu melakukan apa pun yang aku kehendaki. Tetapi aku adalah milik bhakta-Ku. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan memilih Aku sebagai sahabat mereka. Mereka meninggalkan segalanya untuk-Ku. Istri, rumah, anak, keinginan dan hidup mereka tinggalkan untuk-Ku. Mereka tidak memikirkan dunia dan tidak tergiur surga. Yang mereka harapkan hanya rahmat-Ku. Sebagai balasan, Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. mereka sudah menaklukkan aku dengan cinta mereka. hinaan apa pun terhadap mereka adalah hinaan kepada-Ku.”

Akhirnya Rishi Durvasa minta maaf kepada Raja Ambarisha.

 

Tuhan Bersemayam dalam Hati Hamba Beriman

Bapak Anand Krishna menyampaikan, “Bumi dan langit-Ku tidak dapat memuat-Ku. Tetapi hati hamba-Ku yang berimanlah yang lemah lembut dan tenang yang dapat memuat-Ku”.

Keyakinan, kelembutan dan ketenangan, tiga hal ini yang Anda butuhkan. Untuk menyadari kehadiran-Nya dalam kalbu Anda, dalam hati Anda, itu saja yang anda butuhkan. Selama Anda masih mencari-Nya di luar, sesungguhnya anda belum berkeyakinan, Anda belum cukup lemah lembut dan jelas belum tenang. Itu sebabnya Anda mencari Dia kemana-mana. Padahal Ia berada dalam hati kita sendiri. Keyakinan, kelembutan dan ketenangan pernahkah Anda menyelami kata-kata kunci ini? Pernahkah Anda menganggapnya sebagai kata-kata kunci?

Untuk menyadari kehadiran-Nya dalam hati, Anda harus berkeyakinan. Berarti pikiran Anda tidak kacau lagi. Selama pikiran Anda masih kacau, Anda tidak bisa yakin sepenuhnya. Keyakinan Anda, iman Anda akan selalu mengalami pasang surut. Jadi pikiran Anda harus terkendalikan. Kemudian, Anda harus lembut. Dan yang dimaksudkan harus menjadi lembut adalah kepribadian Anda, sifat Anda. Perilaku Anda harus lembut. Kata-kata yang Anda ucapkan harus lembut. Cara Anda mengucapkan harus lembut. Tetapi kelembutan ini harus muncul dari kesadaran. Bukan sesuatu yang dipaksakan. Bukan pula topeng yang harus Anda pakai. Anda harus menjadi lembut karena “sadar” bahwa kekerasan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah.

Yang ketiga, dan terakhir, adalah ketenangan. Ketenangan adalah rasa. Anda harus mengembangkan rasa dalam diri Anda. Jangan mengembangkan otak melulu………. Selama ini, kepribadian kita memang agak pincang. Otak diisi dengan segala macam pengetahuan, tetapi rasa tidak pernah dikembangkan. Dan jika rasa tidak berkembang, belum berkembang, seseorang tidak akan pernah kenal kasih. Lalu tanpa kasih Anda tidak akan pernah bisa mengasihi. Anda akan takut pada Tuhan, tetapi tidak bisa mengasihi-Nya. Ia yang mengaku dirinya sudah “cerah” sesungguhnya masih belum apa-apa. Ia masih angkuh, masih sombong. Ia masih hidup dalam kegelapan. Ia yang cerah akan membagi “pencerahan” tanpa gembar-gembor. Ia tidak akan memasang iklan. Ia tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari mereka yang memperoleh bingkisan “pencerahan” dari dirinya. Bahkan, mereka tidak pernah “merasa” telah membagikan sesuatu kepada siapapun juga. Dan, sebenarnya mereka memang tidak “memberikan” atau “membagikan” sesuatu apapun juga. “Kehadiran” mereka sudah merupakan berkah. Dimanapun mereka berada, disana akan terjadi pencerahan………..

Panembah yang Penuh Welas Asih dalam Bhagavad Gita

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Inilah alam yang lebih tinggi dari surga. Inilah alam-Nya, alam kebahagiaan Sejati. Bagi seorang panembah, alam ini, dunia ini adalah surga. Ia tidak mengejar surga setelah kematiannya. Ia sudah berada di dalam surga – sekarang dan saat ini juga.

Maka, setelah ia “mengalami kematian”, tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengalami sesuatu yang lebih tinggi; sesuatu yang lebih mulia.

Anak-anak kecil bermain dengan Gundu. Ketika sudah memasuki usia remaja, gundu-gundu itu ditinggalkannya. Ia memiliki permainan lain yang jauh lebih menarik. Demikian, seorang panembah melanjutkan perjalanan Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Laku Menghadapi Kematian

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on October 12, 2018 by triwidodo

Kisah Raja dan Sahabatnya, Si Puncak Kebodohan

Seorang Master berkisah tentang Raja yang telah mengalihkan tanggung-jawab kekuasaannya kepada Menteri dan menghabiskan waktunya dengan santai. Sang Raja mempunyai sahabat pribadi sekaligus sebagai pengawal pribadinya. Sang Raja memanggil sahabat pribadinya dengan sebutan “Avivekasikhamani”, Si Puncak Kebodohan. Sebagai hiburan Sang Raja minta sahabatnya yang bodoh memakai tulisan Avivekasikhamani dari emas yang diikat di dahinya. Semua orang menganggap sahabat Sang Raja sangat bodoh dan tidak pernah didengarkan pandangannya. Sahabat Sang Raja sendiri maklum bahwa dirinya memang bodoh.

Pada suatu ketika Sang Raja jatuh sakit, dan seluruh kerajaan berupaya menyembuhkan Sang Raja dengan mencari tabib dan obat-obatan. Akan tetapi semua upaya gagal dan kesehatan Sang Raja semakin memburuk dan dia sudah sampai di depan pintu kematian. Sang Raja menulis beberapa pesan dan tenggelam dalam kesedihan. Sang Raja sangat takut menghadapi kematian dan tidak bisa memikirkan hal yang lain.

Sang Raja memanggil Avivekasikhamani, Si Puncak Kebodohan dan berbisik, “Saya akan segera pergi, sahabatku!” Si Puncak Kebodohan bertanya, “Apa! Gusti lemah dan tidak bisa berjalan, saya segera akan memesan tandu, mohon tunggu sebentar.” Sang Raja berkata, “Tidak ada tandu yang bisa membawaku ke sana.” Si Puncak Kebodohan menanggapi, “Kalau demikian, saya akan memesan kereta.” Sang Raja berkata, “Kereta juga tidak ada gunanya.” Si Puncak Kebodohan menanggapi, “Kalau demikian, kuda menjadi satu-satunya sarana perjalanan Gusti.” Sang Raja menatap sahabatnya yang tidak ingin dirinya mengalami kesusahan dalam melakukan perjalanan, “Kuda juga tidak akan dapat masuk ke sana.” Si Puncak Kebodohan berkata, “Gusti, aku akan membawamu ke sana.” Sang Raja menjawab, “Sahabat terkasihku, “Bila waktunya tiba, seseorang harus pergi sendirian ke sana.” Si Puncak Kebodohan berkata, “Sangat aneh Gusti! Gusti berkata tidak bisa pakai tandu, kereta, atau kuda dan tidak ada orang yang bisa menemani. Tolong Gusti memberitahu, setidaknya di mana tempat itu.” Sang Raja menjawab, “Saya tidak tahu.”

Si Puncak Kebodohan berpikir lama dan setelah itu mengambil tulisan emas “Avivekasikhamani” dari dahinya dan memasangkannya di dahi Sang Raja. Si Puncak Kebodohan berkata, “Gusti tidak tahu tentang tempat itu, bahkan bagaimana perjalanan menuju ke sana, akan tetapi Gusti tetap akan pergi ke sana. Kalau demikian Gusti juga berhak memperoleh gelar Avivekasikhamani.” Sang Raja tersenyum malu, dan bergumam pada diri sendiri, “Saya telah menyia-nyiakan hidupku dengan makan, minum dan mengejar kesenangan. Tidak pernah berpikir, dari mana saya datang, ke mana saya pergi dan mengapa saya berada di dunia ini. Ya, saya berhak memperoleh gelar Avivekasikhamani, Si Puncak Kebodohan karena telah menyia-nyiakan kehidupan.aku tidak pernah belajar memilah mana hal yang menyenangkan pancaindra dan pikiran dengan hal yang membawa Kebahagiaan Sejati.” Dan Sang Raja menghembuskan napasnya yang terakhir.

Persiapan Apa yang Sudah Dilakukan untuk Perjalanan Menuju Kematian?

Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian?”

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Dunia ini Penuh dengan Orang-Orang Bodoh yang Tidak Tahu Tujuan Hidup

Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa

KENYAMANAN TIDAK SAMA DENGAN KEBAHAGIAAN. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

BERAKTIFITASLAH SEPERTI BIASA—Nikmati segala kenyamanan, namun dengan penuh kesadaran bahwa kenyamanan yang Anda peroleh dari harta benda dan keuasaan tidak sama dengan kebahagiaan. Maka, berjuanglah pula untuk meraih kebahagiaan sejati dengan cara “mengenal diri”—mengenal Hakikat Diri, Hakikat Jiwa, hubungan Jiwa dengan Jiwa-Jiwa lain, hubungan Jiwa-Jiwa dengan sang Jiwa Agung.

Kembangkan sifat panembahan, belajarlah, biasakanlah diri untuk berbagi berkah. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati. Jangan menjadi bodoh, jangan terbawa oleh Maya! Lewati Maya, gunakan Maya untuk menembusnya, gunakan harta-benda dan kekuasaan untuk berbagi berkah! Di balik tirai Maya adalah Mayapati—the Lord of Maya—Sang Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Tujuan Hidup adalah Ananda (Kebahagiaan Sejati)

HIDUP BUKANLAH mengembangkan otak, mengumpulkan harta, ataupun beranak pinak. Tujuan hidup bukanlah sekadar menjalani profesi kita masing-masing, semulia apa pun profesi itu. Semua itu hanyalah sarana penunjang. Bukan tujuan. Sementara itu, badan, pikiran, perasaan, indra, intelek — semuanya adalah bagian dari wahana yang diperuntukkan bagi Jiwa.

Ya, kita butuh uang untuk membeli bensin dan merawat kendaraan. Tapi, uang bukanlah tujuan hidup. Kendaraan pun tidak dibuat untuk bensin. Bensin dibutuhkan untuk menjalankan kendaraan, bukan sebaliknya.

…………..

TUJUAN HIDUP ADALAH Kebahagiaan Sejati yang hanyalah diraih ketika kita sadar akan jati diri kita. Inilah “kesempurnaan-diri” yang dimaksud oleh Krsna. Untuk itu, kita mesti “bermain dengan apik”. Mengisi kendaraan badan kita dengan bensin, minyak, dan air secukupnya. Tidak perlu sampai meluber dan bertumpah-tumpah.

Di atas segalanya, setelah memeriksa kendaraan, setelah memahami perbedaan dan hubungan antara ksetra dan ksetrajna — antara badan, pikiran, perasaan, indra, dunia benda, Jiwa, dan Sang Jiwa Agung—berjalanlah menuju tujuan hidup, menuju kesempurnaan diri, dan meraih kebahagiaan sejati. Penjelasan Bhagavad Gita 15:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kesadaran Jiwa: Adalah Ia Hyang Kekal Abadi yang Menempati Wujud Kita

“Ketahuilah bahwa Hyang Meliputi alam semesta adalah Tak Termusnahkan. Tiada seorang pun yang dapat memusnahkan Ia Hyang Tak Termusnahkan.” Bhagavad Gita 2:17

“Ia Hyang Kekal Abadi, Tak Termusnahkan, dan Tak Terukur (Kemuliaan, Keagungan, dan Kekuasaan-Nya) itulah yang menempati wujud manusia dan wujud makhluk-makhluk lainnya. Maka, wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), bertempurlah, hadapi tantangan ini!” Bhagavad Gita 2:18

“Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan yang menganggapnya terbunuh—kedua-duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.” Bhagavad Gita 2:19

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Bhagavad Gita 2:20

“Seseorang yang mengetahui hal ini; mengenal dirinya sebagai yang tak termusnahkan, tak-terlahirkan, dan tidak pernah punah, bagaimana pula iadapat terbunuh, wahai Partha (Putra Prtha – sebutan bagi Kunti, ibu Arjuna)? Dan, bagaimana pula ia dapat membunuh?” Bhagavad Gita 2:21

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” Bhagavad Gita 2:22

Yang tidak termusnahkan itu Tuhan tapi sel-sel badan kita sedang termusnahkan. Tuhan tidak terganggu oleh itu. Nanti kita mati pun Tuhan tidak terganggu. Yang terganggu siapa? Kita semua akan mati. Tapi kita mau mati dengan senyuman atau mati dengan aduh aduh, kesakitan itu di tangan kita. Kita bisa menentukan.

Silakan ikuti Video Youtube Bhagavad Gita Percakapan 2 15-27 Menghadapi Kematian & Keabadian Jiwa oleh Bapak Anand Krishna

Ananda, Kebahagiaan Sejati

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 11, 2018 by triwidodo

Kisah Maharishi Bhrigu dan Rishi Varuna

Seorang Master berkisah tentang Bhrigu yang bertanya kepada Varuna, ayahandanya, “Ayah! Maukah ayah mencerahkan saya tentang Brahman?” Varuna menjawab, “Putraku, tidak ada seorang pun yang bisa mencerahkan tentang Brahman. Seseorang harus mengalami lewat meditasi. Bermeditasilah, lakukan penyelidikan diri. Aku memberkatimu.”

Bhrigu pergi ke hutan dan melakukan meditasi. Dia merenungkan, “Apa hal terpenting yang diperlukan makhluk hidup pada umumnya dan manusia pada khususnya? Itu pasti makanan. Manusia hidup, tumbuh dan bekerja karena makanan, jadi makanan adalah Brahman.” Bhrigu berlari ke ayahnya dan berkata, “Ayah, makanan adalah Brahman.” Varuna menjawab dengan tersenyum, “Tidak putraku, makanan bukan Brahman. Pergi dan bermeditasilah!”

Bhrigu melanjutkan meditasi dan pada suatu hari berpikir, “Makanan mungkin penting, tapi tanpa energi bagaimana makanan bisa dicerna? Energi itu pasti Prana.” Bhrigu pergi ke ayahnya dan berkata, “Ayah! Prana adalah Brahman.” Varuna berkata, “Tidak putraku, Prana bukan Brahman. Pergi dan bermeditasilah.”

Bhrigu mematuhi ayahnya dan melanjutkan meditasi. Pada suatu hari dia berpikir, “Makanan dan Prana itu penting, tetapi apa yang lebih penting? Kalau seseorang tidak mempunyai keinginan untuk makan, maka makanan dan prana mubazir. Tempat keinginan adalah manas atau pikiran.” Bhrigu kembali menemui ayahandanya dan berkata, “Ayah! Manas adalah Brahman.” Varuna kembali tersenyum dan berkata, “Putraku! Manas bukan Brahman. Lakukan meditasi untuk beberapa hari lagi.”

Bhrigu melanjutkan meditasinya dan pada suatu hari berpikir, “Makanan, Prana, Manas itu penting tapi apa yang lebih penting? Pemilihan mana yang menyamankan badan (preya) dan mana perbuatan mulia (shreya) itu penting. Pengetahuan tentang Kebendaan (Vijnana) itu penting.” Bhrigu sekali lagi menemui ayahandanya, “Ayah! Vijnana adalah Brahman.” Varuna sekali lagi berkata, “Putraku! Vijnana bukan Brahman. Lakukan meditasi untuk beberapa hari lagi.”

Bhrigu melakukan meditasi dan pada suatu hari berpikir, “Makanan, energi dan manas itu penting. Kesadaran untuk memilah (Viveka) yang diperoleh dari Vijnana itu penting. Tapi saya harus mencari tahu apa tujuan akhir dari kehidupan manusia. Saya harus mengalaminya.” Dan, Bhrigu bermeditasi lebih dalam. Pada suatu hari Bhrigu mengalami sukacita yang tak terlukiskan dan dia benar-benar tidak sadar tentang dunia luar. Pada hari itu Varuna datang ke hutan dan bahagia melihat Sang Putra dalam keadaan samadhi, wajah Brighu bersinar. Varuna menyadari bahwa Bhrigu telah menyadari bahwa Ananda adalah Brahman.

Pengalaman adalah Guru Terbaik!

Bagaimana Memperoleh  Ananda

Apa yang membuat kita bahagia? Kita berpikir dengan membeli mobil kita akan bahagia? Beberapa orang berpikir setelah mengawini gadis itu saya akan bahagia? Setelah kawin dengan pria ini aku akan bahagia? Kita pikir setelah memperoleh sesuatu kita akan bahagia? Tapi pada akhirnya hari kita berpikir yang kita cari adalah kebahagiaan bukan perolehan atas sesuatu?

Dan apa yang kita cari bukan hanya kebahagiaan? Tapi kebahagiaan tanpa akhir. Kebahagiaan yang lestari tidak musnah? Dan apa pun yang kita pikir dapat memberikan kebahagiaan akan selalu punya akhir, akan selalu berubah. Adakah sesuatu yang tidak berubah? Kita hanya dapat memperoleh kebahagiaan permanen dari sesuatu yang permanen?

Para yogi kemudian mengasumsikan ada sesuatu yang tetap ada meskipun kita mati. Kemudian dengan asumsi tersebut mereka melakukan riset. Dan riset tersebut menegasikan segala sesuatu. Saya berkata saya punya tubuh berarti tubuh bukan saya. Saya punya hidung, hidung bukan saya. Dan mereka melakukan penegasian seperti itu. Saya punya otak, otak bukan saya. Saya punya pikiran, pikiran bukan saya? Akhirnya ketemu yang bahkan tidak diberi nama. Suatu energi, suatu atma yang tetap ada. Itulah diri yang sejati. Itulah yang tetap ada. Itu adalah atma bukan jiwa. Atma adalah diri. Dan dalam diri itu kita semua satu?

Bagaimana menjelaskan itu? Murid bertanya kepada guru bagaimana menjelaskan atma? Guru minta murid bawa ember air. Ambil garam dengan tangan dan aduk  garam tersebut. Dimana garam itu? sudah tidak ada. Rasakan dari yang di atas. Asin. Yang ditengah yang di bawah semuanya asin. Garam di mana? Garam di mana-mana. Dia ada di mana-mana, tat twam asi itulah dia? Garam yang ada di air yang ada dalam tubuh kita dalam berbagai bentuk. Bagaimana Anda mengetahui. Karena Anda asin seperti saya. Anda ilahi seperti saya dan kamu syaitani seperti saya. Apa yang ada pada kamu ada pada saya juga?

Anda punya hidung saya juga. Tapi kita melampaui wujud fisik. Ada esensi nya, esensi nya adalah life force. Apakah life force itu? Dan Menyadari hal itu semua adalah penuh keceriaan. Penuh dengan ananda. Itulah tujuan hidup  Semuanya menuju ke arah  itu…………….

Silakan simak video youtube: How to acquire Ananda, True Everlasting Happiness? (by Anand Krishna)

 

Bhagavad Gita Adalah Panduan untuk How to Live

Gita adalah panduan untuk how to live – Bagaimana melakoni hidup ini. Krsna mengajak Arjuna untuk menjalani hidup, bukan untuk berfilsafat.

Kendati demikian, di sana-sini Ia pun mesti memberi bocoran sedikit tentang apa yang akan ditemukannya di ujung terowongan. Bocoran ini adalah sepenuhnya berdasarkan pengalaman pribadi Krsna. Ia adalah Pribadi Agung. Ia senantiasa, 24/7 berada dalam Kesadaran Jiwa Agung. Sebab itu, bocoran dari Krsna adalah sangat berguna. Dalam ayat-ayat ini Krsna menyebut Sang Jiwa Agung, Tuhan, sebagai Brahman. Ia adalah Tri-Tunggal Kebenaran Abadi, Kesadaran Murni, dan Kebahagiaan Sejati — Sad, Cit, Ananda.

BOCORAN INI PENTING supaya kita tidak salah persepsi. Tidak menyalahartikan sebuah pengalaman “biasa” sebagai pencapaian. Bocoran ini semacam tolok ukur untuk Arjuna di dalam diri kita masing-masing.

Ketika kita mencapai-Nya, maka pengalaman awal kita adalah Ananda atau Kebahagiaan Sejati, langgeng, abadi. Bukan kebahagiaan sesaat seperti yang selama ini kita raih, kebahagiaan yang cepat menguap. Ananda adalah sifat Jiwa, bukan emosi sejenak.

Ketika kebahagiaan kita tidak terpengaruh oleh pengalaman suka dan duka di luar; ketika dalam keadaan apa pun kita masih tetap berkarya — maka kita telah meraih Ananda. Setelah Ananda, baru Kesadaran Murni dan Kebenaran Abadi. Jadi diurut dari belakang dulu. Sulit mencapai Kebenaran Abadi atau Kesadaran Mumi dulu. Awalnya, mesti dari Ananda. Penjelasan Bhagavad Gita 13:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kebahagiaan Sejati (Ananda) Adalah Hasil dari Kesadaran Jiwa

KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali.

Pernahkah Anda memperhatikan, setelah berhubungan intim dengan pasangan Anda, kenikmatan yang Anda peroleh memudar, berlalu dengan cepat. Dan, setelah itu Anda, justru merasa lebih hampa lagi. Itulah sebab, setelah berhubungan intim, umumnya Anda langsung merokok atau menuju lemari es untuk mencari makanan. Setelah memperoleh kenikmatan pun, Anda tetap merasa lapar, haus, kekurangan sesuatu.

Jika hubungan intim pun tidak bisa membahagiakan, maka pengalaman-pengalaman sensasional lain sudah pasti tidak bisa. Sebab, hubungan intim merupakan pengalaman paling sensasional, dalam pengertian, melibatkan semua senses, semua indra — yang amat sangat intens. Jika pengalarnan seintens itu pun berakhir dengan kehampaan, maka janganlah berharap dari pengalaman-pengalaman lain, dari sensasi-sensasi lain.

SUMBER KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH JIWA SENDIRI! Sifat Jiwa adalah Ananda – kebahagiaan sejati. Namun, selama Jiwa “merasa” terpisah dari Jiwa Agung, ia tidak menyadari hal tersebut. Ia tidak mengalaminya.

Hanyalah Yoga, dalam pengertian, Kemanunggalan Jiwa dengan dan dalam Jiwa Agung yang dapat memunculkan pengalaman tersebut— kebahagiaan abadi tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa kemanunggalan ini sebetulnya sudah terjadi. Kemanunggalan ini adalah hakikat. Justru perpisahan adalah ilusif. Ketika ilusi perpisahan terlampaui— kemanunggalan “terasa” kembali. Penjelasan Bhagavad Gita 5:21 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

“Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kita Telah Diperbudak oleh Pancaindra?

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 10, 2018 by triwidodo

Kisah Petani di antara 2 Kelompok yang Berseteru

Seorang Master bercerita tentang perseteruan 2 kelompok yang telah berlangsung lama. Adalah salah satu petani desa yang bukan anggota dari 2 kelompok tersebut, yang mempunyai kebun anggur 2 ha untuk menghidupi keluarganya. Masing-masing kelompok menekan si petani untuk masuk ke dalam kelompok mereka. Akhirnya dia bergabung dengan kelompok yang berisi orang-orang buruk. Beberapa bulan kemudian si petani ditangkap bersama anggota kelompok buruk. Akibatnya tidak ada lagi yang menjaga kebun anggurnya, tanpa disirami dan diolah tanahnya pohon anggurnya tidak berbuah lagi. Istri dan anak-anaknya di rumah mulai menderita.

Di penjara, si petani biasa mendapatkan satu kartu pos setiap minggu dari istrinya. Adalah aturan di penjara baik kartu pos yang masuk maupun yang dikirim narapidana disensor dan dibaca oleh Petugas Penjara. Pada suatu kali, istrinya menulis, “Kebun kita kering, tidak ada yang mencangkul dan menyiapkan tanah untuk musim berikutnya. Saya juga tidak punya uang untuk mencangkul tanah karena uang yang masih ada dihemat untuk keperluan hidup saya dan anak-anak.

Si petani merasa sangat sedih membaca kartu pos tersebut, tapi dia punya sebuah rencana dan kemudian menulis di kartu pos, “Istriku, jangan khawatir, saya tidak pernah bercerita tentang harta karun berupa kepingan-kepingan emas yang saya simpan di kebun kita. Silakan gali dan gunakan koin emas tersebut untuk mencukupi kebutuhan hidup. Petugas Penjara membaca kartu pos si petani dan tidak mengirimkannya kepada istri si petani. Dia mengumpulkan semua tahanan untuk menggali kebun anggur si petani untuk menemukan harta karun tersebut. Dalam waktu singkat, seluruh kebun telah digali, tetapi tidak ditemukan harta karun tersebut. Pada hari ketiga, hujan turun dengan deras, tanah sudah dicangkul dan pada musim itu hasil panen sangat bagus. Sang istri memperoleh banyak uang dari penjualan anggur.

Setelah 6 bulan, si petani dibebaskan dari penjara. Sang istri bertanya, “Bagaimana kau bisa mengirim begitu banyak orang untuk mencangkul tanah?” Sang istri tidak menerima kartu pos dari suaminya yang disimpan Petugas Penjara. Si petani menjawab, “Ini semua karunia Tuhan, saya telah berpikir untuk membuat Petugas Penjara meyakini akan adanya harta karun di kebun kita. Mari kita bersyukur pada Tuhan”.

Sang Master memberi makna: Setiap individu memiliki 2 hektar lahan. Manusia memiliki 2 inchi hati. Dalam hati tersebut ada 2 kelompok: kelompok kualitas buruk yang mengikuti mind dan pancaindra serta kelompok kualitas baik yang bisa mengendalikan mind. Kedua kelompok ini selalu terlibat perseteruan. Jiwa, pemilik tubuh tadinya tidak mau ikut salah satu kelompok. Akan tetapi akhirnya dia ditarik masuk kelompok kualitas buruk.

Jiwa memiliki seorang istri – ia adalah Nivrithi dan anak-anaknya Pravirthi. Ada 2 impuls dalam setiap pikiran, yang pertama mengatakan “pergi ke luar” (Pravirthi) memenuhi tuntutan pancaindra dan mind, serta yang kedua mengatakan pergi “ke dalam” (Nivrithi) dengan pengendalian mind.

Karena Jiwa memilih kelompok kualitas buruk maka dia di penjara, penjara keterikatan. Namun Jiwa menyadari bahwa hati harus dibersihkan (dicangkul) untuk menemukan kebijaksanaan – emas. Untuk memperoleh kebijaksanaan, semua tahanan (semua keterikatan) harus mencangkul hati. Setelah proses penggalian dan pembersihan, seseorang akan menuai panen kebahagiaan. Pemurnian hati melalui pencangkulan (sadhana) sangat penting sekali.

Apakah Pancaindra Satu-Satunya Kebenaran dalam Diri Kita?

Bebaskan dirimu dari anggapan keliru bahwa badan inilah dirimu. Bebaskan diri dari anggapan keliru yang bersifat “delusory” ilusif. Anggapan keliru ini telah membingungkan kita. Kemudian kita bersuka dan berduka dalam kebingungan itu. Kita senang karena “merasa” berhasil dan menang. Kita sedih karena “merasa” gagal dan kalah. Siapa yang merasakan keberhasilan dan kegagalan itu? Siapa yang merasakan kemenangan dan kekalahan itu? Pancaindra kita. Apakah pancaindra itu satu-satunya kebenaran diri kita? Adakah kebenaran lain yang lebih tinggi di balik pancaindera yang kita miliki?

………….

Ketahuilah bahwa segala kenikmatan yang kita peroleh lewat indra kita diselimuti oleh duka. Inilah penyebab dosa. Inilah sebab kesalahan dan kekhilafan. Mempercayai kenikmatan yang kita peroleh lewat indra, dan menganggap bahwa kenikmatan itu menghasilkan adalah kesalahan atau kesalahpahaman kita. Kenikmatan yang diperoleh lewat indra adalah hasil interaksi kita dengan hal-hal di luar diri, dengan pemicu-pemicu luaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

…………..

Pancaindra, pikiran dan tubuh adalah alat untuk berinteraksi dengan dunia. “Perbudakan” pada tubuh terjadi ketika kita memikirkan makanan melulu… “makanan” lewat mulut, lewat telinga, lewat hidung, lewat mata, lewat perabaan, lewat getaran-getaran pikiran. Melepaskan diri dari perbudakan pada tubuh tidak berarti melepaskan tubuh, tidak berarti meninggalkan tubuh. Melainkan mengangkat diri sebagai majikan. Promosi ini bukanlah sedekah. Promosi ini adalah prestasi. Kita meraihnya sebagai hasil dari kerja keras… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Menyadari Diri Kita Terjebak Dalam Lumpur Pancaindra

Pertama-tama dengan menyadari keadaan kita, perbudakan dan kejatuhan kita. Kita semua berada dalam lumpur. “Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra”. Inilah kesadaran awal. Tanpa adanya kesadaran awal ini, sungguh tidak ada harapan bagi kita. Dan, kesadaran ini muncul ketika kita mulai jenuh, ketika kita mulai susah bernapas. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa menjadi jenuh? Bagaimana pula susah bernapas? Bukankah selama ini kita sudah terbiasa hidup dalam lumpur dan bernapas dalam lumpur? Ya, selama ini kita memang sudah terbiasa hidup dan bernapas dalam lumpur. Lumpur ini adalah lumpur pancaindra. Kita sibuk melayani segala kemampuan pancaindra. Sekarang, angkatlah kepalamu sedikit saja. Lihatlah ke atas, ke kanan, ke kiri. Ada dunia yang indah di balik kuala lumpur tempat kau tinggal. Kebebasanmu di dalam kuala lumpur ini adalah kebebasan yang semu… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pengendalian Diri dan Menyadari Kehadiran-Nya lewat Sadhana

Kehadiran-Nya dapat terasa bila pikiran dan pancaindra sudah terkendali dan keseimbangan diri terasa.  Penyusun Atmopanishad menyebut tiga “bagian” Yoga supaya kita dapat merasakan kehadiran-Nya setiap saat dan di setiap saat. Pertama, Pranayama: Pengendalian Pikiran Lewat Pengaturan Napas. Tarik napas dan buang napas pelan-pelan. Gunakan lubang hidung dan napas harus lembut tanpa suara. Makin pelan napas, makin jarang pula pikiran yang melintas dan makin tenang diri anda. Kedua, Pratyahara: Pengendalian Panca Indra dengan cara menarik diri dari rangsangan- rangsangan dari luar. Ketiga, samadhi  atau keseimbangan diri yang diperoleh lewat meditasi. Para pemula membutuhkan waktu dan tempat khusus untuk melakukan latihan meditasi. Dibutuhkan juga disiplin dan ketekunan. Lambat laun meditasi akan mewarnai seluruh hidup…… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kesadaran Materi atau Kesadaran Jiwa?

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam sernesta. TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng. Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Apa pun yang Diamanahkan pada Kita, Jadikan Ladang Kebaikan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 8, 2018 by triwidodo

Kisah Anjing, Brahmana dan Sri Rama

Seorang Master bercerita tentang anjing yang datang melapor kepada Sri Rama bahwa dia berdarah karena dipukul. Lakshmana diminta menemui dan menanyakan mengapa dia harus menerima pukulan seperti demikian. Anjing utu berkata, “Saya dipukuli seorang brahmana dengan sebatang tongkat.” Lakshmana mencari brahmana dan bertanya mengapa dia melakukan hal tersebut. Brahmana itu menjawab bahwa anjing itu selalu mengganggu dia menutupi jalan di depannya.

Sri Rama berkata kepada anjing tersebut, “Baiklah, bagaimana kau ingin menghukum brahmana tersebut?”

Anjing itu berkata, “Gusti! Jadikan brahmana itu manager sebuah kuil.”

Sri Rama dengan heran bertanya, “Tidakkah itu sebuah karunia dan bukan merupakan hukuman?”

Anjing itu berkata, “Tidak Gusti, saya adalah menager sebuah kuil di kelahiran saya sebelumnya. Adalah tidak mungkin tidak menyalahgunakan sebagian uang Tuhan ketika menjadi manager sebuah kuil. Nanti, saat dia menjadi manager kuil, dia akan menyalahgunakan sebagian uang Tuhan dan di kehidupan berikutnya memperoleh kelahiran menjadi anjing seperti saya. Dan, kemudian dia akan dipukuli seorang brahmana juga.”

Bukan hanya anjing dan brahamana, bukan hanya uang kuil, apa pun yang kita kelola adalah milik Tuhan. Apa yang di kelola kita harus dijadikan ladang kebaikan, kita tidak seharusnya hanya makan dan duduk dengan santai. Kita harus melayani orang dengan apa pun yang diamanatkan Tuhan pada kita.

Sesungguhnya Semua yang Dikelola kita Hanyalah Amanat Tuhan

(Uang Kuil adalah Amanat Tuhan)

Harta-benda, keluarga, apa saja yang kau miliki sesungguhnya hanyalah amanat dari Tuhan. Untuk disayangi, dirawat, dijaga. Demikian, kau akan berhasil mengubah keterikatan menjadi ibadah. Kemudian ibadah itu pula yang akan meningkatkan kesadaranmu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). A Date with Life, satu mutiara setiap hari. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Jadikan Apa yang Kita Hadapi Sebagai Ladang Kebaikan, Kelola dengan Penuh Kasih, Tanpa Keterikatan

(Uang kuil digunakan sebagai ladang kebaikan bukan sumber keterikatan dan menyalahgunakannya)

Masih lahir ke dunia merupakan bukti kita belum sempurna. Tetapi dunia bukan bui atau penjara. Dunia lebih cocok disebut Pusat Rehabilitasi. Programnya disesuaikan bagi setiap diri. Rehabilitasi khusus yang didisain mulia. Agar setiap jiwa menjalani program pembersihan dan pelurusan. Semuanya terarah bagi jiwa, agar mengalami proses pensucian dan pengembangan. Kelahiran di lingkungan tertentu pada suatu masa. Orang tua dan saudara, pun bukan tanpa rencana. Negara kelahiran diselaraskan pula. Sahabat dan musuh juga ada alasannya. Semuanya mempunyai tujuan utama. Untuk pensucian dan pengembangan jiwa. Rintangan, tantangan, kesulitan dan persoalan dimaksudkan demi pembersihan dan pengembangan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Obyek Duniawi Tidak Mengikat Mereka yang Bijak

(Tidak menyalahgunakan sebagian uang kuil)

 “Sebab itu, wahai Mahābāho (Arjuna Berlengan Perkasa), seseorang yang telah berhasil mengendalikan indranya dan menarik mereka dari objek-objek duniawi yang dapat memikat dan mengikatnya – sudah teguh adanya, sudah tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:68

Pengendalian indra berarti kemampuan untuk memisahkannya dari benda-benda duniawi. Kita begitu melihat sesuatu, langsung terangsang, tertarik, langsung muncul keinginan untuk memilikinya. Seorang bijak boleh saja melihat benda-benda yang sama, tapi tidak terangsang seperti kita. Bahkan, ketika memiliki dan menikmati benda-benda duniawi pun, ia tidak terikat dengan mereka.

Ia Sadar bahwa Kepemilikannya adalah sebuah khayalan. Tak seorang pun dapat memiliki sesuatu. Benda-benda dunia, relasi-relasi di dunia ini – semuanya, tanpa kecuali, sedang berubah terus. Sedang dalam proses pemusnahan. Tidak ada yang kekal.

Seorang yang menikmati kekayaan, harta yang berlimpah, dan segala kenyamanan pun, akhirnya mati, dan meninggalkan semua. Ia tidak bisa membawa sesuatu ke alam yang sedang ditujunya. Kepemilikan hanyalah cerita alam ini, alam-benda ini. Segala apa yang kita pikir kita miliki, semuanya akan tertinggal di sini pula. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Rasa Kepemilikan dan Keterikayan Muncul dari Rasa Doership

(Kita adalah Alat Tuhan untuk mengelola Keuangan Kuil, Semuanya adalah Milik Tuhan)

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.” Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

 Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia. Penjelasan Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia