Archive for July, 2013

Rahwana: Warisan Genetika Pilihan Belum Tentu Hasilkan Putra Teladan

Posted in Ramayana with tags , , , on July 31, 2013 by triwidodo

resi wisrawa dan sukesi

Gambar Resi Wisrawa dan Sukesi sumber: http://kajianspiritual212.blogspot.com

Beberapa Faktor  Yang Mempengaruhi Karakter Seseorang

Dikisahkan di Srimad Bhagavatam bahwa Raksasa Hiranyakasipu dan Hiranyaksa mempunyai orang tua pilihan, Rsi Kasyapa dan Dewi Diti. Akan tetapi karena mereka berdua bersanggama dengan penuh gelora nafsu pada saat senja yang biasa mereka gunakan untuk puja, sedangkan kesadaran mereka pada titik terendah, maka putra mereka menjadi raksasa walaupun raksasa yang hebat.

Faktor Genetik dan Lingkungan juga akan mempengaruhi karakter seseorang. Rahwana besar di lingkungan raksasa Alengka. Ilmu pengetahuan sekarang membuka cakrawala pandangan kita bahwa ibulah yang mempunyai peranan besar terhadap karakter sang anak. Pada beberapa serangga, yang jantan lebih berpengaruh terhadap keturunannya atau Male Inheritance. Akan tetapi pada mamalia, yang berpengaruh adalah Female Inheritance, sperma mamalia biasanya dihancurkan setelah terjadi proses pembuahan.

 

Maternal Inheritance

Demikian pula manusia termasuk Maternal Inheritance. Salah seorang sahabat kami ahli biologi menyampaikan bahwa saat terjadi fertilisasi, kedua perangkat kromosom dari ayah dan ibu disatukan.  Sel telur ibu yang mendapatkan perangkat kromosom dari sel sperma ayah, kini menjadi sel dengan 2 set kromosom sebagai sel diploid yang disebut sebagai zigot. Dari sebuah sel zigot inilah yang kemudian mulai berkembang menjadi sebuah organisme baru yang utuh melalui proses yang sangat rumit. Pada saat fertilisasi, sel sperma hanya berkontribusi untuk memberikan materi genetiknya pada sel telur, tidak lebih. Setelah terjadi fertilisasi, seluruh bagian sel sperma terdegradasi, sama sekali tidak terlibat dalam proses embriogenesis. Oleh karena itu, seluruh sel yang dimiliki oleh seorang manusia dia warisi sepenuhnya dari Ibu. Tiap sel yang kita miliki, lengkap dengan perangkat organ yang mengatur kehidupan kita, sepenuhnya berasal dari ibunda. dalam ilmu genetika, hal ini disebut sebagai “Maternal Inheritance”.

Penemuan medis mengakui bahwa kromosom “x” yang terdapat dalam diri manusia, baik pria maupun wanita, sesungguhnya berasal dari wanita. Dan, bila kita masih ingat, kromosom “x” inilah yang menjadi motor kehidupan. Seorang pria pun mewarisi kromosom ini dari induknya, dari ibunya, dari perempuan! (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Jangan Bersanggama Dalam Keadaan Mabuk Dan Di Sebarang Tempat

Bagi yang percaya, banyak jiwa yang ingin dilahirkan kembali dan ingin menjadi anak dari suatu pasangan suami istri. Jiwa-jiwa tersebut mestinya mempunyai kaitan karma masa lalu dengan calon kedua orang tuanya. Seorang Guru pernah memberi pesan agar kita perlu dalam keadaan sadar dan berdoa sebelum bersanggama agar anak yang dihasilkan menjadi anak yang berbakti. Bila kita lalai, bisa saja musuh kita yang akan lahir sebagai anak kita, sehingga lahirlah anak yang berseberangan dengan orang tuanya. Musuh tetap akan lahir demi membalas karma, akan tetapi tidak perlu dia menjadi putra kita.

 

Sayembara Memperebutkan Sukesi

Prabu Sumali, Raja Alengka sadar bahwa sayembara memperebutkan Sukesi, sang putri dengan cara perang tanding antar ksatria telah menimbulkan pertumpahan darah yang tidak seharusnya terjadi. Telah banyak ksatria mati di tangan Harya Jambumangli adik, sekaligus patih kerajaan Alengka. Akan tetapi permintaan sang putri untuk bersedia menjadi isteri dari orang yang sanggup mengupas Sastrajendra Pangruwating Diyu membuatnya sangat gundah. Bagaimana pun sang putri adalah seorang gadis yang tegas dan dia terlanjur memanjakannya, maka dia menuruti apa pun kemauan sang putri.

Resi Wisrawa adalah seorang raja yang meninggalkan kenyamanan istana demi peningkatan kesadaran. Akan tetapi sang resi masih punya keterikatan dengan sang putra yang menggantikannya sebagai raja Lokapala. Sang putra mabuk kepayang ingin mempersunting Sukesi, akan tetapi ketakutan karena semua ksatria yang datang meminang sang putri dibunuh oleh Patih Harya Jambumangli adik Prabu Sumali yang diam-diam jatuh cinta kepada sang keponakan.

Resi Wisrawa berangkat ke Alengka  untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Dan dia bersedia mengupas tentang Sastrajendra Pangruwating Diyu.

 

Sastra Jendra Pangruwating Diyu

Resi Wisrawa sedang mengupas ilmu Sastrajendra Pangruwating Diyu di taman keputren bersama Sukesi. ‘Sastrajendra’, Tulisan Agung tersebut tak jauh dari pemahaman tentang manusia itu sendiri, tentang ‘gumelaring jagad’, asal-usul jagad, ‘sejatining urip’, makna hidup, ‘sejatining panembah’, pengabdian kepada Gusti dan ‘sampurnaning pati’, kesempurnaan kematian.

“Sifat keraksasaan dalam diri harus diruwat, dikembalikan ke keadaan asalnya. Dan untuk mensucikan jiwa, kita harus menggunakan raga. “Anakku Sukesi, mari kita kembali ke bumi untuk menyelesaikan tugas kita mengendalikan keraksasaan, mengendalikan ‘Diyu’ dalam diri!” Sukesi merasa belum terpuaskan keingintahuannya dan belum mau menyudahi penguraian tentang Satrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

 

Godaan Nafsu

“Jangan lama-lama berpandangan dengan lawan jenis. Setiap orang memiliki daya magnet, ada yang kekuatannya melebihi kekuatan Anda, ada yang kurang. Tetapi, tanpa kecuali, setiap orang memilikinya. Selain itu ada juga ketertarikan alami antara lawan jenis. Dengan saling memandang untuk beberapa lama saja sudah terjadi interaksi energy, walau tidak sekata pun terucap.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Resi Wisrawa dalam mengupas Sastrajendra masih menuruti ego pribadi untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Sukesi dalam menerima pengetahuan juga masih mempunyai keterikatan terhadap ego pribadi untuk mencari suami. Mereka menuruti hasrat ego-nya, bukan ridho Gusti, hubungan mereka belum mencerminkan hubungan antara Guru dan murid.

Begitu larutnya mereka dalam penjabaran Sastrajendra, sampai mereka lupa bahwa “Diyu”, sang raksasa dalam diri mereka yang lama terpendam bangkit dan menutup kesadaran mereka. Keduanya bahkan gagal memaknai Sastrajendra, Sang Tulisan Agung. Mereka melakukan hubungan suami istri. Mereka tidak dinikahkan oleh orang tua atau dinikahkan oleh pelaksana ritual pernikahan, tetapi mereka dinikahkan oleh gelora syahwat mereka.

“Rumi menasihati kita untuk senantiasa waspada. Kendati sudah berada pada Kesadaran Kasih, Kesadaran Tinggi, kaki kita bisa saja terpeleset. Kita bisa jatuh lagi. Karena: Kesadaran rendah bagaikan seorang maling. Setiap saat dia bisa keluar dari tempat persembunyiannya.” (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kelahiran Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka

Dewi Sukesi mengandung akibat buah cinta terlarangnya dengan Resi Wisrawa. Dan, kemudian dari rahimnya terlahir segumpal darah, bercampur sebuah wujud telinga dan kuku. Segumpal darah itu menjadi raksasa bernama Rahwana yang melambangkan nafsu angkara manusia. Sedangkan telinga menjadi raksasa sebesar gunung yang bernama Kumbakarna, yang meski pun berwujud raksasa tetapi hatinya bijak, ia melambangkan penyesalan ayah ibunya. Sedangkan kuku menjadi raksasa wanita yang bertindak semaunya bernama Sarpakenaka. Kelak Wisrawa dan Sukesi melahirkan seorang putera bernama Gunawan Wibisana. Anak terakhir ini berupa manusia sempurna yang baik dan bijaksana, karena terlahir dari cinta sejati, jauh dari hawa nafsu kedua orang tuannya.

“Kesadaran kita masih mengalami pasang surut, hidup berkesadaran mengandung resiko kaki kita terpeleset dan jatuh. Itulah biaya kebebasan yang harus kita bayar karena tiada kebebasan di luar hidup berkesadaran. Di luar hidup berkesadaran itu, yang ada hanyalah perbudakan.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013

Advertisements

Karakter Korawa dalam Diri Manusia: Destarastra

Posted in Mahabharata with tags on July 30, 2013 by triwidodo

Dhritarashtra sumber uthkarshs blogspot com

Gambar Dhritarashtra (Destarastra) sumber: http://utkarshspeak.blogspot.com/2012/06/dhritarashtra-of-modern-times.html

Buta Hati

Destarastra digambarkan sebagai seorang raja yang buta dan memiliki seratus putra yang disebut Korawa. Kepedulian Destarastra hanyalah terhadap kedudukan dan kekuasaan. Destarastra bukan hanya buta fisik akan tetapi juga buta mata hatinya. Bahkan Krishna sebagai Duta Perdamaian, Sang Pembawa Peringatan pun tidak diacuhkan olehnya dan dia memilih perang melawan Pandawa. “Gerombolan para penjahat dan pembunuh dibutuhkan untuk menggalang massa pendukung kekuasaan dan kedudukan. Kepedulian mereka hanyalah terhadap posisi, terhadap power. Kebutaan mereka sungguh mengerikan. Kebutaan mereka adalah kebutaan yang dipelihara, dilestarikan. Aneh, tapi demikianlah adanya. Para Guru Bangsa menawarkan solusi, para Sadguru ingin membantu, para orang Suci senantiasa memberi peringatan, tetapi kita, yang sudah buta oleh kekuasaan dan kedudukan tidak mau mendengarnya. Kita tidak menerima uluran tangan mereka. Cinta kita terhadap kekuasaan dan kedudukan sudah melampaui batas wajar dan kewarasan. Sungguh edan bin ajaib! Mereka yang buta fisik mau diobati. Mereka bersyukur dan mengucapkan terimakasih jika ada yang menawarkan bantuan. Tidak demikian dengan mereka yang buta hati, buta otak, buta pikiran. Ketika ditawari obat, mereka malah berang, gusar, marah. Inilah sebab para Sadguru sering menjadi korban kezaliman penguasa dan ahli kitab yang mabuk kekuasaan.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pemicu Perang Bharatayuda

Destarasta adalah seorang raja yang buta dari negeri Hastina. Sebetulnya dia hanya menggantikan tahta Pandu, adiknya yang meninggal dan berjanji akan mengembalikan tahtanya kepada Pandawa, putra-putra Pandu setelah mereka dewasa. Akan tetapi karena dia lemah pendirian dan mudah dipengaruhi oleh saudara iparnya, Patih Sengkuni yang licik, maka dia tidak berniat menyerahkan tahtanya kepada Pandawa tetapi kepada putra-putranya. Tahta sudah di tangan mengapa harus dilepaskan? Mengapa tidak melakukan rekayasa agar putranya yang mendapatkan tahtanya. Bukankah semuanya bisa diatur? Keputusan raja yang tidak benar inilah yang memicu perang bharatayudha. Korawa ingin mempertahankan kekuasaan sedangkan Pandawa menginginkan haknya. Akan tetapi walau Pandawa minta sebagian haknya pun tidak diberikan oleh para Korawa. Destrasta termasuk seorang pendendam. Dia sangat benci kepada Bhima yang membunuh Duryudana, putra kesayangannya. Setelah perang usai, dia menerima sembah sujud dari para Pandawa yang masih menganggap dia sebagai pamannya. Saat Bhima akan melakukan sembah, dia berencana akan menggunakan kesaktiannya, “aji lebur saketi” yaitu apa saja yang dipegangnya akan hancur menjadi abu. Akan tetapi, karena dia buta matanya, saat Bhima menghaturkan sembah dan akan dipegang Drestarasta, Kresna menyuruh Bhima mengangkat arca batu ke hadapan Drestarasta dan setelah dipegang patung tersebut menjadi hancur berkeping-keping.

 

Karakter Destarastra dalam Diri

Destarasta adalah figur seorang pejabat yang tidak mau menyerahkan kekuasaan sesuai aturan main, dia merekayasa agar anaknya yang akan menggantikannya. Dia percaya kepada kaki tangannya yang berkarakter seperti Shakuni yang sangat licik. Dia juga termasuk seorang pendendam yang berusaha menjatuhkan orang yang telah mengganggu kenyamanannya.

Dalam diri kita pun ada masih ada sisa-sisa karakter Destarastra diantaranya adalah pertama sayang anak dan mengupayakan kesejahteraan anak dengan menghalalkan segala macam cara. Kedua karena hanya memperhatikan kesejahteraan putranya, maka dia mudah dipengaruhi Shakuni yang licik, jahat yang juga ahli merekayasa kasus demi keberhasilan obsesinya. Ketiga adalah sifat pendendam, sehingga rasa dendamnya memenuhi pikirannya. Destarastra juga selalu menginginkan status quo, padahal dunia selalu berubah. Pandawa kecil yang mudah diperdaya telah berubah menjadi para ksatria perkasa yang menginginkan sebagian wilayah yang sebetulnya adalah hak mereka.

 

Menghilangkan Kebiasaan Buruk

Bukankah dalam diri kita pun masih tersisa karakter Destarastra yang masih latent yang bila tidak berhati-hati maka karakter tersebut bisa bangkit kembali.

Anand Krishna memberikan beberapa nasehat kepada mereka yang mengakui bahwa diri mereka masih memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk.

“Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita warisi sejak lahir hanya dapat diubah dengan berkah ilahi, by the grace of God. Undanglah berkah ilahi dengan senantiasa memuji namaNya. Pujian yang dilakukan secara intensif dan repetitif, diulangi terus-menerus secara intens dapat mengubah kebiasaan Anda; dapat mengubah mulut yang jahat menjadi mulut yang penuh pujian.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Membaca saja tidak cukup. Banyak orang membaca kitab-kitab suci. Sejak dini, mereka sudah menghafal isi kitab suci. Namun, mereka tetap beringas, tetap korup, tetap zalim, tetap tunduk pada kekuasaan gelap. Mengapa? Karena, mereka hanya membaca. Mereka tidak meraih berkah Gusti Pangeran untuk memahami, menghayati, dan mengindahkan bacaan mereka. Tanpa penghayatan dan penerapan, bacaan tinggal bacaan saja. Tidak berguna sama sekali.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang Bhagtaa, Bhakta atau Panembah senantiasa berkembang. Kesadarannya berekspansi terus. Ia tidak statis. Ia tidak pernah berpihak pada kekuatan-kekuatan dunia yang selalu menginginkan status-quo. Atas nama stabilitas, kekuasaan dunia selalu menolak perubahan dan perkembangan. Perkembangan berarti kekuasaan mesti berpindah tangan. Dan, para penguasa yang sudah termabukkan oleh kekuasaan tidak menginginkan hal itu. Di sinilah letak perbedaan antara kekuasaan semu para penguasa dunia dan kekuasaan sejati para Sadguru dan para panembah. Seorang panembah tidak pernah berhenti berkarya. Ia tidak pernah berhenti melayani. Seorang panembah tidak pernah bermalas-malasan. (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013

Karakter Korawa dalam Diri Manusia: Burisrawa

Posted in Mahabharata with tags , , , on July 29, 2013 by triwidodo

burisrawa merayu subadra viva co id

Gambar Burisrawa merayu Subadra sumber: http://m.news.viva.co.id/news/read/152322-bangkitkan_nasionalisme_lewat_wayang_orang

Raksasa

“Burisrawa adalah seorang sekutu Korawa yang digambarkan dalam wayang berwujud raksasa. Wujud dalam wayang bisa saja merupakan gambaran dari karakter seseorang, sehingga Burisrawa yang digambarkan sebagai raksasa adalah gambaran dari seseorang yang berkarakter seperti layaknya raksasa.

“Raksasa disebut Asura dalam bahasa Sansekerta. Mereka tidak sura, tidak selaras dengan kehidupan. Mereka tidak seirama dengan keberadaan. Para raksasa ini, para asura ini bukanlah makhluk dari masa lalu. Mereka selalu ada di setiap zaman. Di zaman kita sekarang, para ekstrimis, para radikal, dan para teroris adalah raksasa. Mereka memiliki semua sifat raksasa di dalam diri mereka. Para raksasa tidak mesti tampil dengan tanduk dan taring, mereka bisa tampak sangat mirip dengan manusia. Tidakkah kita melihat mereka ada di sekeliling kita setiap saat? Bagaimana kita mesti berinteraksi dengan mereka? Raksasa dalam wadag manusia tidak bisa dan tidak seharusnya dianggap sebagai manusia. Paling banter mereka adalah subhuman. Dan mereka mesti dihadapi dengan cara yang tepat.” Demikian Terjemahan Bebas dari Kutipan buku The Hanuman Factor (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pemimpin Preman

Dalam pewayangan Jawa, Burisrawa adalah putra Prabu Salya. Tiga saudara perempuannya menjadi istri Baladewa, istri Duryudana dan istri Karna. Burisrawa mempunyai badan yang kekar dan ahli bermain pedang. Dia ditakuti musuh-musuhnya karena ketelengasannya dalam membunuh lawan-lawannya. Dia seorang yang angkuh atas kesaktiannya, sering menuruti kata hatinya, pendendam, mau menang sendiri, suka membuat keonaran dan hampir selalu menakut-nakuti lawan. Dia juga tergila-gila pada Subadra, istri Arjuna bahkan mau memperkosanya. Burisrawa adalah figur seorang pemimpin yang bergaya preman. Dia mempunyai koneksi dengan beberapa pejabat puncak. Suka mengintimidasi kaum minoritas. Dia bisa menggerakkan masa untuk menghancurkan kelompok yang tidak disukainya. Dan para penguasa akan mendiamkannya karena dia punya lobby-lobby yang kuat. Dia yang menginginkan istri orang lain dapat dimaknai dia menginginkan harta dan jabatan orang lain dan untuk memperolehnya menggunakan cara-cara preman.

Merasa Lebih Kuat Daripada Lainnya

Dalam diri manusia juga ada sifat Burisrawa yang yakin akan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya sehingga ingin mengintimidasi pihak lain yang tidak sesuai dengan pandangan kita. Dengan koneksi yang baik dengan penguasa (pikiran), maka para penguasa akan mendiamkan apa yang telah kita lakukan. Kadang terbersit keinginan dalam diri kita untuk mendapatkan wanita, harta dan tahta dengan mengandalkan kekuasaan kita. Pikiran tersebut adalah tanda Burisrawa dalam diri yang belum mati. Mungkin perbuatan tersebut tidak kita lakukan dengan berbagai pertimbangan, di antaranya penolakan dari suara hati-nurani, akan tetapi Burisrawa yang masih hidup dalam pikiran kita harus kita perbaiki karakternya. Sifat Utama Burisrawa adalah merasa kuat, perkasa dan tidak setara dengan orang lain, juga Burisrawa tidak mempunyai rasa kebersamaan dengan pihak lain, dia merasa dirinya paling benar.

“Ketidaksetaraan itu hanya terasa oleh kaum Asura, Daitya, Syaitan, Raksasa karena kepala mereka masih tegak. Mereka belum belajar menundukkannya di hadapan Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi itu! Sekali bersujud di hadapan-Nya, dirimu menjadi sadar, bahwa semut pun tidak lebih rendah (setara) dari dirimu. Semut dan cacing pun adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Namun, apa gunanya bersujud, menundukkan kepala, bila keangkuhanmu tidak ikut menunduk? Kesetaraan dan kebersamaan dalam bahasa Soekarno “Gotong Royong”, dalam bahasa Muhammad “Umma”, dalam bahasa Buddha “Sangha”, dalam bahasa Inggris “Communal Living” dalam bahasa  Bali “Banjar” tidak dapat dipaksakan. Kesetaraan lahir dari kesadaran, kesadaran kita sendiri. Kesadaran manusia. Kesadaran akan kemanusiaan kita. Kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang kita warisi bersama. Kemanusiaan yang saleh, beradab. Kemanusiaan yang menerima makhluk-makhluk lain sebagai saudaranya yang setara. Termasuk bebatuan dan pepohonan, sungai-sungai dan lingkungan. Sehingga ia tidak akan menggunakan kekerasan terhadap siapa pun jua.” (Krishna, Anand. (2006). Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)

Genetika Burisrawa

Prabu Salya ayahanda Burisrawa malu mempunyai mertua seorang raksasa, dan sang mertua Resi Bagaspati memahaminya. Resi Bagaspati meminta Prabu Salya untuk setia dengan Dewi Satyawati seumur hidupnya dan kemudian minta Prabu Salya membunuh dirinya. Kemudian aji-kesaktian Candrabirawa miliknya dipindahkan kepada Prabu Salya.

Putri-putri Prabu Salya adalah 3 orang putri yang cantik dan masing-masing bersuamikan Baladewa, Duryudana dan Karna. Burisrawa dikatakan memiliki wujud seperti kakeknya karena genetiknya yang diturunkan oleh kakeknya. Diperkirakan karakter Burisrawa adalah karakter Prabu Salya yang belum sadar pada saat itu, yang merendahkan wujud raksasa dari mertuanya. Dan, bahkan membunuhnya walaupun sudah diberikan aji kesaktian oleh sang mertua. Akan ada waktunya tindakan Prabu Salya akan menuai kejahatan yang dikerjakannya.

Menghadapi Burisrawa Tidak Bisa Menggunakan Ahimsa

“Raksasa dalam wadag manusia tidak bisa dan tidak seharusnya dianggap sebagai manusia. Paling banter mereka adalah subhuman. Dan mereka mesti dihadapi dengan cara yang tepat.”

Menghadapai nyamuk, kecoa tidak bisa menggunakan ahimsa. Mereka tidak akan paham. Kita harus menggunakan cara yang tepat untuk menaklukkannya. Demikian pula menghadapi Burisrawa. Dikisahkan pada hari ke-13 Perang Bharatayuda putra Arjuna yang bernama Abimanyu tewas dikeroyok pasukan Korawa secara licik. Arjuna bersumpah akan membunuh Jayadrata sang penyebab kematian Abimanyu. Pada hari ke-14 Arjuna bertempur dengan keras untuk menemukan Jayadrata yang disembunyikan para Korawa. Satyaki musuh bebuyutan Burisrawa dikirim untuk membantu Arjuna. Satyaki dihadang banyak pasukan musuh, sehingga Satyaki yang keletihan dengan mudah dipukul Burisrawa sampai pingsan. Arjuna pun melepaskan panah memotong lengan Burisrawa. Burisrawa marah dan menuduh Arjuna berbuat curang. Arjuna menjawab bahwa Burisrawa lebih dulu bersikap curang karena hendak membunuh Satyaki yang sedang pingsan. Juga Burisrawa pada hari sebelumnya dia melakukan perbuatan tidak ksatria dengan mengeroyok Abimanyu. Dalam diri Burisrawa mengalir darah Resi Bagaspati yang suci, sehingga pada saat kesakitan karena lengannya terpotong dia sadar akan tindakannya di masa lalu yang tidak benar. Bahkan dia ingat pernah berupaya memperkosa Subadra istri Arjuna atau ibu dari Abimanyu. Dia teringat kutukan Subadra bahwa tangannya yang jahat akan terpotong sebelum kematian dirinya. Burisrawa kemudian duduk bermeditasi, mengingat semua kejahataannya. Satyaki yang siuman dari pingsannya segera mengambil pedang Burisrawa yang tergeletak dan membunuh Burisrawa.

Memperbaiki Karakter Diri

Sebagaimana Burisrawa, dalam diri kita juga terdapat genetika baik dan jahat dari leluhur kita. Bila kita ingin menjadi anak keturunan yang saleh, maka sifat jahat yang mengalir dalam diri kita perlu dikendalikan dan sifat baik perlu dipupuk dan dikembangkan. Tidak mudah memang mengalahkan bawaan sifat jahat dalam diri, akan tetapi itulah jihad yang sesungguhnya, jihad purnawaktu sampai hembusan nafas yang terakhir. Mengapa tidak memulainya saat ini?

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013

Karakter Korawa dalam Diri Manusia: Duryudana

Posted in Mahabharata with tags , , , on July 28, 2013 by triwidodo

duryudana sumber wikipedia

Gambar Duryudana sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Duryodana

Egoistis

Korawa dikesankan sebagai kaum yang egoistis, yang hanya memikirkan kepentingan diri pribadi dan mengabaikan kepentingan orang-orang lain yang dirugikannya. Sifat egois perlu dikendalikan sehingga kesadaran seseorang meningkat dari fokus memikirkan diri pribadi ke memikirkan sesama manusia dan semua makhluk lainnya.

Ego sendiri bukan sifat manusiawi, tetapi telah diwarisi manusia dalam proses evolusinya. “Pusat Ego adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan. Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun. Secara medis, medulla dikaitkan dengan fungsi respirasi, cardiag, batuk, bersin, muntah, menelan, termasuk pengaturan gerakan, waktu bangun, waktu tidur, dan sebagainya. Jadi, cukup banyak fungsinya. Fungsi-fungsi yang sangat esensial, sangat mendasar bagi kehidupan manusia.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Korawa adalah diri kita yang masih dikuasai insting bawaan hewani dalam diri, yang hanya ingin memuaskan diri sendiri dan tidak peduli dengan pihak lain.

Pemimpin Yang Menghalalkan Segala Cara

Duryudana adalah seorang raja di Hastina yang pongah, keras kepala dan mudah terhasut oleh pamannya Shakuni yang menjadi patih kerajaan. Demi kekuasaan yang diperolehnya, dia berusaha mempertahankannya sampai titik darah penghabisan dan menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Etika moral sudah diabaikannya. Dia bahkan membuat skenario untuk memperdaya dan berusaha membunuh Sri Krishna yang datang sebagai Duta Perdamaian…… Duryudana baru sadar saat dia tergolek luka parah setelah kalah perang melawan Bhima dan tengah menunggu Bathara Yamadipati datang menjemputnya. Bhima tak tega lagi untuk  membunuhnya, sehingga justru  membiarkan dirinya lebih lama menderita. Saat itu Duryudana mendengar bahwa istrinya Banowati sudah menyerah dan ingin menjadi istri Arjuna, musuhnya. Dia juga ingat bahwa anaknya Lesmana Mandrakumara yang diharapkannya menjadi pengganti dirinya ternyata mempunyai bawaan bodoh, sial dan pengecut. Bahkan dalam perang Bharatayuda saat putranya akan membunuh Abimanyu putra Arjuna yang sudah terkapar karena masuk perangkap dan luka parah ditembus banyak anak panah, dengan sisa tenaganya Abimanyu masih bisa membunuh putranya.

Menerima Akibat dari Perbuatan Diri Sendiri

Pada waktu kita berkuasa, setelah memperoleh harta dan tahta dengan perjuangan yang berat, kadang kita lupa bahwa perjuangan tersebut penuh lika-liku yang sering menggunakan tipu daya, akal yang cerdik dan keberanian mengambil resiko. Apa pun benih yang kita tanam, kita sendiri yang akan menuainya. Hanya saja bila menanam benih padi menunggu panen sekitar 4 bulan, menanam biji mangga menunggu buahnya sekitar 6 tahun, maka menanam benih kebaikan atau kejahatan akan panen pada waktunya nanti menunggu masaknya buah dari benih pohon yang kita tanam. Bisa segera, bisa menunggu lama ataupun datang dalam kehidupan yang akan datang, bagi yang mempercayainya, sehingga nasib seseorang sebenarnya adalah hasil dari perbuatannya sendiri.

Duryudana adalah gambaran dari seorang yang telah dibutakan mata hatinya oleh hasrat keduniawian. Dalam masyarakat, dia adalah figur seorang pejabat, pemimpin instansi yang pongah, keras kepala mudah terhasut orang kepercayaannya yang licik. Dia haus kekuasaan, kemewahan kenikmatan duniawi akan tetapi keluarganya tidak berbahagia. Dia bersama orang-orang kepercayaannya memperdaya, bahkan menyutradarai pembunuhan karakter seorang utusan ilahi pembawa perdamaian Sri Krishna.

Duryudana dalam Diri

Dalam diri kita pun terdapat sifat bawaan Duryudana, yang ingin memuaskan nafsu pribadi dengan menghalalkan segala macam cara. Apabila nurani kita telah mulai muncul, maka kita akan malu dengan segala perbuatan jelek yang telah kita lakukan. Sebagai pemeran pimpinan pelaku kejahatan dalam masyarakat, bila kita sudah tidak merasa nyaman dengan peran tersebut, maka kita perlu memperbaiki karakter kita. Kita harus mempunyai niat yang kuat untuk mengubah karakter jelek kita. Kita perlu mengendalikan kecenderungan jelek dari diri kita dan berupaya membiasakan diri, mengulang-ulang pikiran, ucapan tindakan yang baik, yang selaras dengan alam. Dengan mengulang-ulang akhirnya akan menjadi kebiasaan dan akhirnya mengubah karakter.

Boleh-boleh saja diberitakan seorang mantan pejabat yang menutup mata dengan khusnul khatimah. Ucapan terima kasihnya memenuhi setengah halaman berbagai koran. Yang datang takziah ribuan orang dan disiarkan berbagai televisi. Akan tetapi bila pada saat menjelang ajal, dia merasa bahwa dia telah banyak membuat kesalahan, dia akan menyesal mengapa tidak melakukan kebenaran semasa hidupnya. Oleh karena itu mengapa tidak memperbaiki karakter selama kita masih bernafas?

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013

Pengantar Blog Kisah Spiritual Yang Tak Lekang Zaman

Posted in Mahabharata with tags , , , on July 28, 2013 by triwidodo

buku the hanuman factor

“Sejarah adalah kata-kata tertulis. Dan kata-kata yang tertulis selalu subyektif. Ia tidak bisa memisahkan dirinya dari subyektifitas sang penulis. Seorang penulis, siapa pun penulis tersebut, tidak bisa sepenuhnya memisahkan dirinya dari conditioning mentalnya. Sebaliknya, mitos tidaklah bergantung pada kata-kata yang tertulis semata. Mitos merangkul sejarah tertulis sekaligus legenda maupun cerita-cerita rakyat yang tidak tertulis. Selain itu, mitos juga terbuka pada setiap penambahan, insight, apa saja. Mitos seperti Wikipedia, sebuah ensiklopedia yang terbuka.” Terjemahan Bebas dari Kutipan buku The Hanuman Factor (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Cukup banyak terkumpul kisah-kisah dari Blog http://triwidodo.wordpress.com/. Kisah-kisah tersebut dicoba dikemas ulang dengan sudut pandangan khusus bahwa kisah-kisah tersebut terjadi dalam diri kita. Diri kita adalah pemeran dari semua peran yang ada dalam kisah tersebut. Semua pandangan ke dalam diri tersebut diilhami oleh pandangan Bapak Anand Krishna yang telah mengubah hidup banyak orang menjadi lebih bermakna.

Ada kisah Bharatayuda, Ramayana, Srimad Bhagavatam, Kisah-kisah yang tertera pada Candi-Candi di Indonesia, Legenda-Legenda Daerah, Kisah-kisah Dewi Lalitha dan lain-lain yang mungkin berkembang nantinya.

Kisah-kisah yang diketengahkan untuk menggugah rasa, diharapkan dapat meningkatkan kesadaraan kita semua. Kami kutip pandangan Bapak Anand Krishna tentang Alam Rasa: “Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa… dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih!” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Salam!

Situs Artikel Terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013