Karakter Korawa dalam Diri Manusia: Duryudana

duryudana sumber wikipedia

Gambar Duryudana sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Duryodana

Egoistis

Korawa dikesankan sebagai kaum yang egoistis, yang hanya memikirkan kepentingan diri pribadi dan mengabaikan kepentingan orang-orang lain yang dirugikannya. Sifat egois perlu dikendalikan sehingga kesadaran seseorang meningkat dari fokus memikirkan diri pribadi ke memikirkan sesama manusia dan semua makhluk lainnya.

Ego sendiri bukan sifat manusiawi, tetapi telah diwarisi manusia dalam proses evolusinya. “Pusat Ego adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan. Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun. Secara medis, medulla dikaitkan dengan fungsi respirasi, cardiag, batuk, bersin, muntah, menelan, termasuk pengaturan gerakan, waktu bangun, waktu tidur, dan sebagainya. Jadi, cukup banyak fungsinya. Fungsi-fungsi yang sangat esensial, sangat mendasar bagi kehidupan manusia.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Korawa adalah diri kita yang masih dikuasai insting bawaan hewani dalam diri, yang hanya ingin memuaskan diri sendiri dan tidak peduli dengan pihak lain.

Pemimpin Yang Menghalalkan Segala Cara

Duryudana adalah seorang raja di Hastina yang pongah, keras kepala dan mudah terhasut oleh pamannya Shakuni yang menjadi patih kerajaan. Demi kekuasaan yang diperolehnya, dia berusaha mempertahankannya sampai titik darah penghabisan dan menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Etika moral sudah diabaikannya. Dia bahkan membuat skenario untuk memperdaya dan berusaha membunuh Sri Krishna yang datang sebagai Duta Perdamaian…… Duryudana baru sadar saat dia tergolek luka parah setelah kalah perang melawan Bhima dan tengah menunggu Bathara Yamadipati datang menjemputnya. Bhima tak tega lagi untuk  membunuhnya, sehingga justru  membiarkan dirinya lebih lama menderita. Saat itu Duryudana mendengar bahwa istrinya Banowati sudah menyerah dan ingin menjadi istri Arjuna, musuhnya. Dia juga ingat bahwa anaknya Lesmana Mandrakumara yang diharapkannya menjadi pengganti dirinya ternyata mempunyai bawaan bodoh, sial dan pengecut. Bahkan dalam perang Bharatayuda saat putranya akan membunuh Abimanyu putra Arjuna yang sudah terkapar karena masuk perangkap dan luka parah ditembus banyak anak panah, dengan sisa tenaganya Abimanyu masih bisa membunuh putranya.

Menerima Akibat dari Perbuatan Diri Sendiri

Pada waktu kita berkuasa, setelah memperoleh harta dan tahta dengan perjuangan yang berat, kadang kita lupa bahwa perjuangan tersebut penuh lika-liku yang sering menggunakan tipu daya, akal yang cerdik dan keberanian mengambil resiko. Apa pun benih yang kita tanam, kita sendiri yang akan menuainya. Hanya saja bila menanam benih padi menunggu panen sekitar 4 bulan, menanam biji mangga menunggu buahnya sekitar 6 tahun, maka menanam benih kebaikan atau kejahatan akan panen pada waktunya nanti menunggu masaknya buah dari benih pohon yang kita tanam. Bisa segera, bisa menunggu lama ataupun datang dalam kehidupan yang akan datang, bagi yang mempercayainya, sehingga nasib seseorang sebenarnya adalah hasil dari perbuatannya sendiri.

Duryudana adalah gambaran dari seorang yang telah dibutakan mata hatinya oleh hasrat keduniawian. Dalam masyarakat, dia adalah figur seorang pejabat, pemimpin instansi yang pongah, keras kepala mudah terhasut orang kepercayaannya yang licik. Dia haus kekuasaan, kemewahan kenikmatan duniawi akan tetapi keluarganya tidak berbahagia. Dia bersama orang-orang kepercayaannya memperdaya, bahkan menyutradarai pembunuhan karakter seorang utusan ilahi pembawa perdamaian Sri Krishna.

Duryudana dalam Diri

Dalam diri kita pun terdapat sifat bawaan Duryudana, yang ingin memuaskan nafsu pribadi dengan menghalalkan segala macam cara. Apabila nurani kita telah mulai muncul, maka kita akan malu dengan segala perbuatan jelek yang telah kita lakukan. Sebagai pemeran pimpinan pelaku kejahatan dalam masyarakat, bila kita sudah tidak merasa nyaman dengan peran tersebut, maka kita perlu memperbaiki karakter kita. Kita harus mempunyai niat yang kuat untuk mengubah karakter jelek kita. Kita perlu mengendalikan kecenderungan jelek dari diri kita dan berupaya membiasakan diri, mengulang-ulang pikiran, ucapan tindakan yang baik, yang selaras dengan alam. Dengan mengulang-ulang akhirnya akan menjadi kebiasaan dan akhirnya mengubah karakter.

Boleh-boleh saja diberitakan seorang mantan pejabat yang menutup mata dengan khusnul khatimah. Ucapan terima kasihnya memenuhi setengah halaman berbagai koran. Yang datang takziah ribuan orang dan disiarkan berbagai televisi. Akan tetapi bila pada saat menjelang ajal, dia merasa bahwa dia telah banyak membuat kesalahan, dia akan menyesal mengapa tidak melakukan kebenaran semasa hidupnya. Oleh karena itu mengapa tidak memperbaiki karakter selama kita masih bernafas?

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: