Karakter Korawa dalam Diri Manusia: Destarastra

Dhritarashtra sumber uthkarshs blogspot com

Gambar Dhritarashtra (Destarastra) sumber: http://utkarshspeak.blogspot.com/2012/06/dhritarashtra-of-modern-times.html

Buta Hati

Destarastra digambarkan sebagai seorang raja yang buta dan memiliki seratus putra yang disebut Korawa. Kepedulian Destarastra hanyalah terhadap kedudukan dan kekuasaan. Destarastra bukan hanya buta fisik akan tetapi juga buta mata hatinya. Bahkan Krishna sebagai Duta Perdamaian, Sang Pembawa Peringatan pun tidak diacuhkan olehnya dan dia memilih perang melawan Pandawa. “Gerombolan para penjahat dan pembunuh dibutuhkan untuk menggalang massa pendukung kekuasaan dan kedudukan. Kepedulian mereka hanyalah terhadap posisi, terhadap power. Kebutaan mereka sungguh mengerikan. Kebutaan mereka adalah kebutaan yang dipelihara, dilestarikan. Aneh, tapi demikianlah adanya. Para Guru Bangsa menawarkan solusi, para Sadguru ingin membantu, para orang Suci senantiasa memberi peringatan, tetapi kita, yang sudah buta oleh kekuasaan dan kedudukan tidak mau mendengarnya. Kita tidak menerima uluran tangan mereka. Cinta kita terhadap kekuasaan dan kedudukan sudah melampaui batas wajar dan kewarasan. Sungguh edan bin ajaib! Mereka yang buta fisik mau diobati. Mereka bersyukur dan mengucapkan terimakasih jika ada yang menawarkan bantuan. Tidak demikian dengan mereka yang buta hati, buta otak, buta pikiran. Ketika ditawari obat, mereka malah berang, gusar, marah. Inilah sebab para Sadguru sering menjadi korban kezaliman penguasa dan ahli kitab yang mabuk kekuasaan.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pemicu Perang Bharatayuda

Destarasta adalah seorang raja yang buta dari negeri Hastina. Sebetulnya dia hanya menggantikan tahta Pandu, adiknya yang meninggal dan berjanji akan mengembalikan tahtanya kepada Pandawa, putra-putra Pandu setelah mereka dewasa. Akan tetapi karena dia lemah pendirian dan mudah dipengaruhi oleh saudara iparnya, Patih Sengkuni yang licik, maka dia tidak berniat menyerahkan tahtanya kepada Pandawa tetapi kepada putra-putranya. Tahta sudah di tangan mengapa harus dilepaskan? Mengapa tidak melakukan rekayasa agar putranya yang mendapatkan tahtanya. Bukankah semuanya bisa diatur? Keputusan raja yang tidak benar inilah yang memicu perang bharatayudha. Korawa ingin mempertahankan kekuasaan sedangkan Pandawa menginginkan haknya. Akan tetapi walau Pandawa minta sebagian haknya pun tidak diberikan oleh para Korawa. Destrasta termasuk seorang pendendam. Dia sangat benci kepada Bhima yang membunuh Duryudana, putra kesayangannya. Setelah perang usai, dia menerima sembah sujud dari para Pandawa yang masih menganggap dia sebagai pamannya. Saat Bhima akan melakukan sembah, dia berencana akan menggunakan kesaktiannya, “aji lebur saketi” yaitu apa saja yang dipegangnya akan hancur menjadi abu. Akan tetapi, karena dia buta matanya, saat Bhima menghaturkan sembah dan akan dipegang Drestarasta, Kresna menyuruh Bhima mengangkat arca batu ke hadapan Drestarasta dan setelah dipegang patung tersebut menjadi hancur berkeping-keping.

 

Karakter Destarastra dalam Diri

Destarasta adalah figur seorang pejabat yang tidak mau menyerahkan kekuasaan sesuai aturan main, dia merekayasa agar anaknya yang akan menggantikannya. Dia percaya kepada kaki tangannya yang berkarakter seperti Shakuni yang sangat licik. Dia juga termasuk seorang pendendam yang berusaha menjatuhkan orang yang telah mengganggu kenyamanannya.

Dalam diri kita pun ada masih ada sisa-sisa karakter Destarastra diantaranya adalah pertama sayang anak dan mengupayakan kesejahteraan anak dengan menghalalkan segala macam cara. Kedua karena hanya memperhatikan kesejahteraan putranya, maka dia mudah dipengaruhi Shakuni yang licik, jahat yang juga ahli merekayasa kasus demi keberhasilan obsesinya. Ketiga adalah sifat pendendam, sehingga rasa dendamnya memenuhi pikirannya. Destarastra juga selalu menginginkan status quo, padahal dunia selalu berubah. Pandawa kecil yang mudah diperdaya telah berubah menjadi para ksatria perkasa yang menginginkan sebagian wilayah yang sebetulnya adalah hak mereka.

 

Menghilangkan Kebiasaan Buruk

Bukankah dalam diri kita pun masih tersisa karakter Destarastra yang masih latent yang bila tidak berhati-hati maka karakter tersebut bisa bangkit kembali.

Anand Krishna memberikan beberapa nasehat kepada mereka yang mengakui bahwa diri mereka masih memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk.

“Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita warisi sejak lahir hanya dapat diubah dengan berkah ilahi, by the grace of God. Undanglah berkah ilahi dengan senantiasa memuji namaNya. Pujian yang dilakukan secara intensif dan repetitif, diulangi terus-menerus secara intens dapat mengubah kebiasaan Anda; dapat mengubah mulut yang jahat menjadi mulut yang penuh pujian.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Membaca saja tidak cukup. Banyak orang membaca kitab-kitab suci. Sejak dini, mereka sudah menghafal isi kitab suci. Namun, mereka tetap beringas, tetap korup, tetap zalim, tetap tunduk pada kekuasaan gelap. Mengapa? Karena, mereka hanya membaca. Mereka tidak meraih berkah Gusti Pangeran untuk memahami, menghayati, dan mengindahkan bacaan mereka. Tanpa penghayatan dan penerapan, bacaan tinggal bacaan saja. Tidak berguna sama sekali.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang Bhagtaa, Bhakta atau Panembah senantiasa berkembang. Kesadarannya berekspansi terus. Ia tidak statis. Ia tidak pernah berpihak pada kekuatan-kekuatan dunia yang selalu menginginkan status-quo. Atas nama stabilitas, kekuasaan dunia selalu menolak perubahan dan perkembangan. Perkembangan berarti kekuasaan mesti berpindah tangan. Dan, para penguasa yang sudah termabukkan oleh kekuasaan tidak menginginkan hal itu. Di sinilah letak perbedaan antara kekuasaan semu para penguasa dunia dan kekuasaan sejati para Sadguru dan para panembah. Seorang panembah tidak pernah berhenti berkarya. Ia tidak pernah berhenti melayani. Seorang panembah tidak pernah bermalas-malasan. (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: