Archive for August, 2013

Harimau dan Pengorbanan Nyawa Boddhisattva, Kisah pada Relief Candi Borobudur

Posted in Relief Candi with tags , , , on August 30, 2013 by triwidodo

borobudur harimau dan bodhisattva

Ilustrasi Harimau dan Bodhisattva sumber: Gernot katzer spice pages com

Selalu Membayar dengan Kasih, karena di Dompetnya Hanya berisi Mata Uang Kasih

“Master Sufi, Attar dari Nishapur pernah bercerita tentang Yesus: Para ahli kitab, ahli Taurat para cendikiawan tidak bisa menerima Yesus. Ajarannya yang mengutamakan kasih dan rasa di anggap berbahaya dan dapat meruntuhkan ‘apa yang mereka anggap’ Lembaga Keagamaan. Mereka menertawakan Yesus, mencemoohnya, namun tidak berhasil mengundang reaksi apa pun. Malah, Yesus mendoakan mereka. Para Murid mengeluh, ‘Rabbi, Master, Guru, mereka menghina, menertawakan Guru. Kok Guru tidak mencela mereka, malah mendoakan mereka? Aneh!’ Yesus menjawab, ‘Tidak aneh, sahabatku, Aku hanya dapat memberikan apa yang aku miliki. Yang kumiliki hanyalah kasih, doa, dan itu pula yang dapat kuberikan kepada mereka. Mata uang yang ada dalam kantongku adalah mata uang kasih. Aku tidak memiliki mata uang lain’.”  (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seseorang yang mengutamakan rasa dan penuh kasih, yang di dalam dirinya hanya ada kasih, maka tindakannya akan selalu penuh rasa kasih. Egonya sudah lumer menjadi kasih. Bahkan nyawa pun diberikan sebagai wujud rasa kasih. Kisah ini sulit dinalar dengan pikiran, karena pikiran memikirkan logika untung rugi, dan menganggap aku ini lebih penting daripada lainnya, aku jangan sampai dirugikan dengan memberikan berbagai alasan yang rasional. Kisah ini berkaitan dengan rasa yang melampaui pikiran. Rasa bahagia justru datang saat memberi tanpa pamrih pribadi. Tanpa pertimbangan logika untung-rugi, hanya memberi, memberi dan memberi tanpa mengharap balasan kembali.

Dilema Harimau Betina dan Anak yang Disusuinya

Pada suatu ketika seorang Bodhisattva berjalan-jalan di pegunungan bersama muridnya bernama Agita. Mereka melihat dari atas tebing seekor harimau betina yang sedang galau, resah kebingungan. Sang Harimau betina sedang menderita kelaparan. Bagaimana pun kehidupannya harus dipertahankan. Seekor anaknya nampak sedang menyusu kepadanya. Ada sebuah dilema yang luar biasa sulitnya. Dia harus mempertahankan kehidupannya sendiri. Kehidupan itu pemberian Ilahi. Kalau dia mati, sang anak pun akan mati, karena sang anak akan kelaparan, tidak punya induk yang dapat menyusui. Untuk mempertahankan hidup hanya ada satu jalan yaitu memakan sang anak, si buah hati. Di kemudian hari sang harimau dapat melahirkan anak yang lain sebagai pengganti. Berdasar pikirannya, itulah yang harus dilakukannya. Akan tetapi, rasa nuraninya berkata lain, air matanya meleleh, dia menangis melihat anaknya yang sedang menyusui, yang sebentar lagi akan mati sebagai makanan penyelamat diri. Tegakah memakan anak sendiri? Dalam diri harimau ada pertempuran sengit antara pikiran dan hati nurani. Dia hanya bisa menangis tak punya solusi.

Seandainya Harimau itu seorang manusia, maka untuk menghilangkan rasa bimbang dia akan berupaya mendengarkan suara nuraninya.

“Pikiran itulah Setan yang menggoda. Ketika suara pikiran muncul, ketika bisikan setan terdengar, tercipta pula keraguan di dalam diri. Saat itu, nurani menciptakan keraguan itu. Sebaliknya jika kita mendengar suara hati, bisikan nurani, tidak ada keraguan lagi. Kita sudah pasti bertindak sesuai dengan tuntunannya. Selama kita masih ragu, masih bimbang, selama itu suara hati belum terdengar. Saat itu, lebih baik duduk tenang, lakukan pernapasan perut sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Biarlah pikiran mengendap. Setelah beberapa menit, suara hati pun pasti terdengar jelas.” (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Emphaty Sang Bodhisattva

Sang Boddhisatwa menyuruh Agita mencari makanan pengganti bagi Sang Harimau, tetapi sudah berjam-jam dia belum kembali. Melihat harimau sekarat karena kelaparan, Sang Bodhisattva menggigil karena kasih, seperti menggigilnya Mahameru karena gempa. Sang Bodhisattva berpikir bahwa dia akan melihat seekor harimau betina memakan anaknya, melawan hukum kasih alam semesta. Sang Bodhisattva merenung dalam, mengapa saya menyuruh Agita mencari tubuh makhluk lainnya. Tubuh saya cukup untuk mengobati kelaparannya. Ragaku sudah tua, beberapa saat lagi juga sudah tidak berguna. Ragaku sudah tak mudah untuk melakukan dharma. Sang Bodhisattva melihat kesempatan untuk membahagiakan makhluk yang sedang menderita. Kini diperhatikannya bahwa sang harimau akan memilih mati daripada memakan anaknya. Dan, dua kehidupan akan segera meninggalkan dunia fana.

Hubungan seseorang dengan lainnya bisa berupa “apathy”, “sympathy” dan “empathy”. Seorang yang “apathy”, tidak peduli urusan orang lain, dia berkutat pada urusan pribadinya. Cuek dengan penderitaan orang lain. Tidak mengakui eksistensi yang lain. Emangnya Gue Pikirin? Bukankah takdir seseorang memang lain-lain? Seorang yang mempunyai “sympathy”, merasa kasihan dengan orang yang sedang menderita, tetapi dia sendiri dia sendiri tidak merasakan penderitaannya. Lugasnya, yang menderita itu kamu, saya ikut bela sungkawa, tetapi saya tidak mengalaminya. Seorang yang mempunyai rasa “empathy”, ikut merasakan apa yang diderita orang lainnya. Seorang ibu merasa stress  kala anaknya tidak tidur mengerjakan tugas dari dosennya. Seseorang ikut merasakan kerepotan seorang  ibu tua yang berdesakan dalam bis kota, sehingga memberikan tempat duduknya. Dalam empathy atau “tepo saliro” seseorang merasa ada “connectedness” dengan yang lainnya.

“Simpati berarti aku menaruh rasa kasihan terhadapmu. Empati berarti aku merasakan penderitaanmu. Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing dan menjawab sendiri pertanyaan itu?” (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pasrah kepada Alam

Harimau betina akhirnya dapat mendengarkan suara nuraninya, untuk apa dia bertahaan hidup bila dia akan selalu sedih mengenang perbuatannya memakan anaknya. Mengapa harus takut mati? Paling tidak di akhir hayatnya dia telah berbuat kebaikan menyelamatkan sementara kehidupan anaknya dengan susunya. Setelah dia mati? Itu sudah bukan urusannya lagi, itu urusan alam yang akan mengurus anaknya yang masih hidup. Bisa saja sang anak mati kelaparan, tapi bisa saja hidup dan ada pertolongan. Harimau betina menjadi tenang dan memasrahkan segalanya kepada alam.

Suara kejatuhan benda dari atas tebing di dekatnya membuat sang harimau waspada. Dan dia melihat tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa. Dia menyembah tubuh yang tidak bernyawa sebagai karunia dari Yang Maha Kuasa. Dan dia mulai memakannya setelah berdoa. Telah terselamatkan kehidupan dia dan anaknya.

Kemenangan Bodhisattva menaklukkan Mara

Tidak dapat menemukan hewan buruan di hutan, sang murid Agita kembali menemui Gurunya. Akan tetapi dia dapat melihat jasad gurunya yang berada di bawah tebing, sedang dimakan harimau betina. Dia menangis, melihat pengorbanan nyata seorang Bodhisattva. Sang Bodhisattva seperti bumi yang menyerahkan apa pun yang ada pada dirinya demi kehidupan makhluk yang mendiaminya. Semua makhluk, termasuk para gandarwa, dewa, binatang, tanaman menghormati tindakan yang begitu mulia. Sang Mara kecewa, dia dikalahkan Sang Bodhisattva. Setelah beberapa kehidupan konon Sang Bodhisattva  lahir sebagai Sang Buddha, yang dihormati semua makhluk di alam semesta. Inilah kisah Dia yang pernah mengorbankan nyawanya kepada harimau betina yang hampir makan anaknya.

“Bagi seorang Bodhisattva semangat melayani adalah sangat alami. Dalam pandangan kita seorang Bodhisattva telah melakukan pengorbanan yang tertinggi. Tidak ada lagi pengorbanan lain yang sebanding dengan pengorbanannya. Tetapi, bertanyalah kepada seorang Bodhisattva. Ia akan tersenyum, “Pengorbanan apa?” Bagi dia, apa yang kita sebut pengorbanan itu hanyalah bagian dari sifatnya. Bagi dia pengorbanan seperti itu bersifat sangat alami. Semangat untuk melayani sangat alami. Kerelawanan sangat alami. Kesadaran seorang Bodhisattva tidaklah sama dengan kesadaran kita, dimana kita masih membedakan antara napsu yang senantiasa menutut; cinta yang mulai memberi dan menerima; dan kasih yang selalu memberi, dan memberi, dan memberi. Seorang Bodhisattva telah melampaui napsu hewani – ia sudah tidak menuntut lagi. Apa yang kita sebut kasih adalah napsu dia. Dia bernapsu untuk membantu, untuk melayani sesama makhluk hidup. Pembagian napsu, cinta, dan kasih sudah tidak berlaku baginya. Seorang Bodhisattva hanyalah mengenal cinta-kasih yang tidak bersyarat dan tidak terbatas.”  (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Beda Anak yang Lahir Akibat “Kecelakaan” dan Hasil “Pemujaan”: Kisah Kelahiran Sri Rama

Posted in Ramayana with tags , on August 29, 2013 by triwidodo

dasaratha-payasam sumber kbehari wordpress com

Ilustrasi Dasharatha menerima karunia payas sewaktu Upacara Yajna sumber: kbehari wordpress com

Persiapan Melahirkan Putra

Dalam diri pasangan suami istri terdapat ribuan potensi genetika yang akan menurun kepada anak mereka. Bagi yang percaya, banyak jiwa yang ingin dilahirkan kembali dan ingin menjadi anak dari pasangan suami istri tersebut. Jiwa-jiwa tersebut mempunyai kaitan karma masa lalu dengan calon kedua orang tuanya tersebut. Anak yang lahir karena “kecelakaan” dan akibat “pemujaan” akan berbeda, karena beda jiwa yang masuk dalam benih calon anak tersebut. Minimal itulah yang disampaikan dalam kisah Ramayana.

Akibat “kecelakaan” Resi Visrava dengan Sukesi lahirlah Rahwana, Kumbhakarna dan Sarpakenaka yang digambarkan bersifat raksasa. Di pihak lain Sri Rama, Lakshmana, Satrughna dan Bharata lahir akibat pemujaan orang tua dan seluruh rakyat Kerajaan Kosala. Kedua orang tua boleh memiliki kualitas genetika yang sempurna, akan tetapi “persiapan” kedua orang tua dalam membentuk calon anak sangat mempengaruhi karakter anaknya.

Upaya Rahwana Menggagalkan Ramalan Kekalahannya

Di Kahyangan, para dewa mengadu bahwa Rahwana menjadi sangat sakti akibat karunia Brahma, dan bertindaksewenang-wenang kepada kerajaan lain. Ia bahkan ingin merebut tahta Indra. Brahma dan para dewa menghadap Vishnu dan Vishnu berkata bahwa dia akan lahir ke dunia menyelesaikan masalah tersebut.

Dalam kitab Ananda Ramayana, dikisahkan bahwa Rahwana mendengar selentingan ramalan bahwa nantinya dirinya akan bisa dikalahkan oleh satria yang sebentar lagi akan lahir. Rahwana segera menemui Brahma, dan bertanya siapakah nantinya satria yang dapat mengalahkannya. Akhirnya Rahwana tahu bahwa satria tersebut akan dilahirkan oleh Dasaratha dan Kausalya. Untuk melawan Dasaratha dari Kerajaan Kosala, Rahwana berpikir matang-matang karena Kosala selama ini belum pernah ditaklukkan oleh kerajaan mana pun. Rahwana akhirnya menculik Kausalya dan diletakkan di pulau kecil di tengah lautan. Dasaratha membawa pasukanke pulau tersebut, akan tetapi kapal mereka ditenggelamkan oleh para raksasa pasukan Rahwana. Ternyata Dasaratha tidak tenggelam tetapi memegang serpihan kayu kapal dan bisa menemui Kausalya. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia di istana Ayodya, ibukota kerajaan Kosala.

Kejadian serupa terjadi pada zaman Dvapara Yuga yang dilakukan Raja Kamsa untuk selalu membunuh Putra Devaki yang baru lahir, karena Putra Devaki diramalkan akan membunuhnya di kemudian hari. Firaun juga dikatakan membunuh semua bayi laki-laki Yahudi yang diramalkan akan menaklukkannya di kemudian hari. Pada masa kini pun seseorang yang diperkirakan menjadi pesaing kuat dalam Pemilihan Kepala Negara atau Kepala Daerah, sering dirusak sebelum menjadi Calon Saingan. Potensi Rahwana, Kamsa dan Firaun dalam diri manusia belum pernah reda.

“Cara-cara klasik ini sampai saat kini pun masih digunakan. Aneh, kita tak pernah belajar dari sejarah. Kita selalu takut akan persaingan, karena kita tidak percaya pada diri sendiri. Kita takut pada mereka yang kita anggap sebagai saingan kita. Untuk menghilangkan persaingan, kita melakukan apa saja. Kita tidak dapat menerima keberadaan seorang kompetitor. Kita akan berupaya keras untuk mengeluarkan dia dari arena permainan.”  (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Melakukan Pemujaan Guna Memperoleh Putra

Karena belum juga mempunyai putra, maka Kausalya meminta Dasaratha kawin lagi dan kemudian kawin dengan Sumitra. Ternyata mereka berdua belum juga mempunyai putra dan mereka berdua minta Dasaratha kawin lagi, dan akhirnya kawin dengan Keikayi. Keikayi mempunyai syarat bahwa dia mau kawin hanya bila anak sulungnya putra, maka putranyalah yang akan menggantikan Dasaratha. Ternyata ketiga permaisuri belum melahirkan putra semuanya.

Atas nasehat Penasehat Agung, Resi Vasishta, maka Dasaratha dan para istrinya diminta melakukan upacara yajna mohon dikaruniai putra. Setelah selesai acara ritual, bubur payas dalam acara persembahan dibagi dalam 3 mangkok untuk dibagikan kepada 3 istri Dasaratha. Ketiga permaisuri segera melakukan mandi keramas, mencuci rambut mereka, sebelum makan makanan tersebut. Saat Sumitra berkeramas, mangkok berisi makanan diletakkannya  di atas tembok. Seekor burung elang mendekat dan tiba-tiba membawa mangkok tersebut. Sumitra menjadi panik dan menceritakan kejadian tersebut kepada Kausalya dan Keikayi. Kausalya dan Keikayi memberikan separuh bagian mereka kepada Sumitra sehingga Sumitra mendapatkan separuh makanan dari Kausalya dan separuh makanan dari Keikayi.

Akhirnya ketiga permaisuri melahirkan putra-putra mereka. Kausalya melahirkan Rama, Keikayi melahirkan Bharata sedangkan Sumitra melahirkan anak kembar Lakshmana dan Satrughna.

Kedekatan Lakshmana dengan Rama

Nampaknya pembagian bubur payas tersebut menjadi tanda bagi kelahiran keempat putra Dasharatha.

Dikisahkan disediakan 4 ayunan untuk 4 bayi tersebut, akan tetapi Lakshmana selalu menangis dan atas saran Resi Vasishta, Lakshmana di tempatkan pada ayunan Rama, dan Lakshmana  menjadi tenang. Setelah agak besar semakin nampak bahwa Lakshmana selalu menemani Rama, sedangkan Satrughna selalu menemani Bharata. Mungkin itulah makna pemberian sebagian makanan dari Kausalya dan Keikayi kepada Sumitra.

Makna Nama Keluarga Dasharatha

Berikut adalah terjemahan bebas dari kutipan buku the Hanuman Factor, (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dasharatha atau “sepuluh” ratha, atau kereta perang di bawah perintahnya. Yang dimaksud di sini adalah kereta-kereta dari 5 pengindera serta 5 organ-organ panca indera kita.

Kaushalyaa adalah melatih diri dan disiplin. Dengan melatih kemampuan dan dengan disiplin, sesungguhnya kita dapat mengendalikan Dasharatha.

Sumitra adalah seorang mitra, seorang “teman” bagi semuanya, dan tidak menjadi musuh bagi siapa pun juga.

Kaikeyi adalah manis dan lembut, namun “tidak bijak”. Itulah mengapa pembantunya, Manthara, yang bermakna “pikiran yang bergejolak”, dapat mempengaruhinya. Dan mereka berdua membuat sang komandan 10 kereta perang, Dasharata, kehilangan kendali atas kereta-kereta tersebut dan mematuhi apa yang mereka berdua perintahkan. Demikianlah, ketidak-bijaksanaan dan pikiran yang bergejolak menjadi alasan pengusiranmu ke hutan.

Lakshmana adalah “perhatian yang tidak bercabang”, intelejensia dan kebijaksanaan sejati, yang merupakan antidote bagi ketidakbijaksanaan dan pikiran yang bergejolak.

Bharat terlahir dari Kaikeyi, ia yang tidak bijak, Bharat membuktikan diri bahwa dia mampu menjalankan kerajaan ketika Rama tidak ada. Bharat mewakili cinta dalam perwujudannya yang paling tinggi: cinta yang terarah pada Tuhan, cinta bagi Tuhan.

Shatrughna adalah Sang Penghancur para musuh.

Rama adalah Sang Penghuni Sejati. Saya menghuni tubuh ini dalam waktu yang sudah ditentukan bagi saya. Saya membawa voucher hotel yang membatasi waktu tinggal saya di kamar hotel ini. Saya tidak bisa tinggal di hotel ini melewati masa tertera dalam voucher tersebut. Ketika saya meninggalkan kamar ini, kamar ini mungkin menganggap saya mati. Ia mungkin tidak bertemu dengan saya lagi. Saya mungkin tidak akan tinggal di kamar hotel yang sama lagi. Tetapi, apakah saya mati? Manajemen hotel dan para staff bisa saja menyampaikan ucapan selamat tinggal kepada saya, tetapi kemanakah sebenarnya saya pergi? Saya hanya check out saja dari hotel tersebut. Saya masih ada di sekitar hotel tersebut. Saya mungkin akan mendapatkan voucher untuk menginap di hotel lain. Atau saya mungkin mencoba untuk memesan kamar di hotel yang sama. Saya mungkin datang kembali untuk menyapa Anda lagi. Kemana saya dapat pergi? Jika tidak di kota ini, maka di kota lain—jika tidak di planet ini, maka di planet lain—saya tetap ada. Saya telah ada dalam keabadian. Dan saya tidak melihat kemungkinan bagi saya untuk berhenti ada.

Proses evolusi terus berlanjut; saya telah mengupgrade diri saya dari sebuah hotel tak berbintang menjadi hotel berbintang dan mewah. Ya, kamar hotel tetaplah kamar hotel. Waktu tinggal saya di sini, dalam kehidupan kali ini, mungkin singkat—sesingkat waktu tinggal saya yang sebelum-sebelumnya. Hotel ini bukan milik saya. Saya hanya seorang tamu di sini.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Tilottama: Bidadari Cantik Penakluk Sunda Upasunda, Kisah Kamadeva dalam Lalitopakyana

Posted in Lalitha with tags , on August 28, 2013 by triwidodo

Tilottama sumber apsaramagic blogspot com

Tilottama akumulasi kecantikan dunia sumber apsaramagic blogspot com

Brahma pun Terpedaya oleh Ciptaannya

“Penciptaan, Pemeliharaan dan Pemusnahan ….. Tiga hal ini yang berada di balik kelahiran, kematian, dan sepotong kehidupan yang tengah kulakoni saat ini …. Tiga hal ini menentukan segala aspek kehidupan dan kebendaan. Tiga hal inilah Tri Tunggal Keberadaan. Ketiga hal ini terjadi dalam Kolam Energi dimana aku berada. Ketiga hal ini sedang terjadi di Iuar dan di dalam diriku. Kesimpulan para resi ini dijelaskan oleh para seniman Iewat karya seni mereka: Sebagai Pencipta, Ia adalah Brahma. Sebagai Pemelihara, Ia adalah Vishnu. Dan, sebagai Pemusnah, Ia adalah Maheshwara. Tri Murti, Tiga Wujud, Tiga Fungsi, tetapi tetap Satu. Trimurti, tapi Tunggal. Tri Tunggal.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam sering dikisahkan bahwa Brahma memberi anugerah kekuatan kepada makhluk ciptaannya, yang justru membuat Brahma  dan para dewa kewalahan, sehingga Kekuatan Pemeliharan, Vishnu harus turun tangan.

Sunda, Upasunda dan Tilottama

Pada suatu ketika ada dua asura bersaudara bernama Sunda dan Upasunda yang saling menyayangi satu sama lain. Mereka mempunyai hasrat yang kuat sebagai penguasa tiga dunia. Mereka melakukan tapa yoga yang keras. Brahma akhirnya datang dan mengabulkan permintaan mereka. Mereka ingin menjadi yang paling kuat di tiga dunia dan tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh diri mereka sendiri. “Power tends to corrupts”, sifat keserakahan asura telah mendarah daging bagi mereka, sehingga mereka berperang untuk menguasai tiga dunia yang membuat kekacauan tak habis-habisnya.

Perang disebabkan oleh keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Anda boleh saja bicara tentang kedamaian. Anda boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan akan selalu ada. Selama itu pula perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari. (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Brahma berpikir bagaimana caranya agar mereka saling berkelahi satu sama lain, sehingga akhirnya Brahma menciptakan bidadari Tilottamma yang sangat cantik yang merupakan akumulasi dari semua kecantikan di seluruh dunia. Kemudian Brahma berencana memanggil Kamadeva dan memberikan instruksi bagaimana caranya memanahkan anak panah asmaranya kepada Sunda dan Upasunda agar mereka berkelahi memperebutkan Tilottama.

Kamadeva Memperdaya Brahma

Kamadeva, dewa muda tampan dengan senjata andalan panah asmara, mempunyai keinginan untuk mencoba keampuhan senjatanya. Pada saat datang ke tempat Brahma dia melihat Brahma sedang berdua dengan Tilottama. Kamadeva kemudian memanahkan anak panah dengan lima bunganya kepada Brahma. Brahma terpengaruh panah asmara dan mengejar Tilottama. Tilottama lari dan mengubah dirinya sebagai rusa dan Brahma tetap mengejarnya dengan mengubah wujudnya sebagai rusa jantan. Para dewa geger melihat kejadian itu.

Shiva kemudian mendatangi Brahma dalam wujud pemburu. Dan Brahma dalam wujud rusa jantan sangat takut kepada Shiva dan tidak lagi mengejar Tilottama. Cinta sang rusa jantan kepada hidupnya melebihi cinta terhadap lawan jenis impiannya. Dan masalah pun terselesaikan, Brahma minta maaf dan para dewa tenang kembali. Tilottama kemudian diminta mendatangi asura Sunda dan Upasunda serta Kamadeva  mendampinginya. Dengan panah asmara akhirnya Sunda dan Upasunda berkelahi memperebutkan Tilottama sampai kedua-duanya mati. Tilottama kemudia diangkat menjadi bidadari di Surga.

Kutukan Brahma kepada Kamadeva

Brahma selanjutnya mengutuk Kamadeva, karena tanpa sadar, demi kepuasan pribadi ingin mencoba kekuatan yang membahayakan dunia. Tanpa adanya Shiva, maka Sunda dan Upasunda tidak dapat dikalahkan dan bahkan dunia geger karena kekacauan yang ditimbulkan akibat jatuh cintanya Brahma terhadap ciptaannya, Tilottama.

Brahma berkata, “Suatu kali kau akan terbakar oleh mata ketiga Shiva!” Mendengar kutukan tersebut Rati dan Kamadeva mohon pengampunan. Brahma berkata bahwa sebuah kutukan itu bukan tanpa dasar. Kutukan itu memang harus terjadi, agar hutang perbuatan seseorang di masa lalu bisa lunas. Brahma menasehati agar Kamadeva selalu menjalankan dharma, karena bila kutukan terjadi pada saat seseorang menjalankan dharma tanpa pamrih pribadi, maka Bunda Ilahi akan menolongnya. “Setelah kau terbakar nanti akan datang Bunda Alam Semesta yang mewujud sebagai Lalithadevi, shaktinya Paramashiva. Dia akan menghidupkan kamu lagi! ” Sejak saat itu Rati dan Kamadeva selalu memuja Bunda Ilahi, Lalithadevi.

Kekuasaan yang Besar Sering Membuat Lupa Diri

Sewaktu seseorang mempunyai kekuasaan yang besar dia sering lupa diri, itulah yang terjadi pada asura Sunda dan Upasunda. Mereka hanya mementingkan kenikmatan duniawi, dan kenikmatan duniawi itu bersifat sementara, ada batas waktunya. Dengan pikiran manusia mereka menganggap bahwa mereka saling sayang-menyayangi dengan saudaranya dan tidak mungkin mereka saling berkelahi, tetapi pikiran manusia ada batasnya dan mereka saling bunuh dalam memperebutkan bidadari jelita Tilottama.

Kamadeva yang mempunyai kekuasaan yang sangat besar, juga lupa diri, dia menjadi angkuh dan “cengengesan”, bercanda yang keterlaluan yang dapat berakibat merusak dunia. Hanya demi kepuasan pribadi yang bersifat sementara dia mempermainkan Brahma. Kutukan Brahma membuat Kamadeva sadar bahwa setiap orang selalu diberi kesempatan untuk memilih. Memilih “Preya” yang hanya menyenangkan pikiran dan pancaindra yang bersifat sementara atau memilih “Shreya” yang perupakan tindakan mulia. Saat menghadapi Tilottama, Kamadeva telah memilih “Preya” untuk sekedar mengetahui apakah Brahma tergoda atau tidak oleh ciptaannya. Sedangkan saat menghadapi Tarakasura yang mengancam dunia, Kamadeva memilih “Shreya”,  memanahkan anak panahnya kepada Shiva agar segera kawin dengan Parvati dan akhirnya lahir putra yang dapat mengalahkan Tarakasura. Resiko yang besar telah dialaminya dan akhirnya dia mati terbakar oleh mata ketiga Shiva.

“Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih ‘yang memuliakan’. Mereka yang tidak bijak memilih ‘yang menyenangkan’ karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kelahiran Bhandasura

Pada suatu ketika Chitrakarma, salah satu komandan pasukan Shiva mengambil sebagian abu Kamadeva dan membentuk sebuah boneka dan membawanya ke hadapan Shiva. Secara tak terduga Shiva menghidupkan boneka yang kemudian bersujud pada Shiva dan Chitrakarma. Chitrakarma sangat senang dan meminta anak tersebut bertapa. Setelah bertapa ribuan tahun datanglah Shiva kepada anak tersebut. Sang anak mohon kepada Shiva untuk diberi karunia, agar siapa pun yang bertarung dengannya akan kehilangan separuh kekuatannya yang akan berakumulasi menjadi tambahan kekuatan dirinya. Sang anak juga meminta bahwa tak ada senjata apa pun yang dapat mengalahkannya.

Shiva mengabulkan permohonannya dan memberi anugerah tambahan untuk memerintah kerajaan selama enam puluh ribu tahun. Brahma menamakan anak tersebut Bhanda, karena sifatnya sebagai asura yang sangat terikat pada keduniawian, dan oleh karena itu ia sering disebut Bhandasura. Dari sisa abu Kamadewa kemudian lahir asura Vishukra dan asura Vishanga yang menjadi saudara Bandhasura dan lahir juga ribuan raksasa. Mereka membentuk pasukan yang sangat kuat yang terdiri dari 300 Akshouhini ( 1 akshouhini terdiri dari 21.870 gajah, 65.610 kuda dan 109.350 prajurit). Guru mereka adalah Shukracharya. Mereka kemudian membuat kota baru bernama Shoonyaka Pattana. Mereka selalu mengadakan upacara ritual dengan teratur.

Apakah Bhandasura akan merepotkan manusia dan dewa? Dapatkah Shiva menanggulanginya? Silakan baca kelanjutan Kisah Kamadeva: Dunia Tanpa Nafsu: Bhandasura Merajalela, Kisah Kamadeva dalam Lalitopakyana.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Draupadi: Cantik Jelita Pemersatu dan Pemantik Semangat Hidup Pandawa

Posted in Mahabharata with tags , on August 26, 2013 by triwidodo

draupadi dipermalukan Korawa sumber mysticme13 blogspot com

Draupadi dipermalukan Korawa akibat Yudistira kalah main dadu sumber mysticme13 blogspot com

Draupadi istri Pandawa

Draupadi sering disebut Yajnaseni, yang lahir lewat ritual Yajna, juga dikenal sebagai Mahabharati, istri dari 5 keturunan Bharata, dan pernah dipanggil sebagai Sairandhri, perawan penata rambut permaisuri Raja Virata, kala bersama-sama Pandawa menyamar sebagai pelayan istana. Draupadi yang cantik jelita adalah Permaisuri Maharaja Yudistira dan istri daripada 5 Pandawa serta mempunyai 5 putra dari masing-masing Pandawa: Prativindhya, Sutasoma, Srutakirti, Satanika, dan Srutakarma.

Drona yang dendam pada Raja Draupada mengerahkan murid-muridnya untuk mengalahkan Draupada dan kemudian menghina Draupada dengan mengambil separuh wilayah kerajaannya. Raja Draupada yang merasa terhina, melakukan ritual yajna untuk memperoleh putra yang dapat membunuh Drona. Dewi Kali mengabulkannya dan lahirlah Dhristayumna dan Draupadi.

Raja Draupada memperbolehkan Draupadi ikut belajar pada Guru yang mengajar Dhristayumna. Draupadi menjadi seorang wanita yang maju pada zamannya, berani berterus terang dan ahli politik. Selain itu Draupadi adalah tipe wanita yang setia dan cerdas. Draupadi nampak manusiawi dengan karakternya yang jujur apa adanya, seperti marah, cinta, benci, bahagia dan sedih.

Sayembara Untuk Memperoleh Suami Draupadi

Raja Draupada mengadakan sayembara untuk memperoleh suami bagi Draupadi dengan cara melepaskan 5 anak panah pada target yang berputar dan hanya boleh melihat target dari cermin. Arjuna memenangkan sayembara dan Draupadi dibawa Pandawa kepada Kunti yang berada di hutan. Yudistira berteriak kepada ibunya bahwa mereka membawa hadiah dan Kunti menjawab agar dibagi yang adil. Kunti kaget setelah tahu bahwa hadiahnya adalah Draupadi, akan tetapi Sri Krishna yang kemudian datang menyampaikan bahwa Draupadi memang dilahirkan untuk menjadi istri 5 bersaudara Pandawa. Pandawa semakin kuat apabila Draupadi menjadi istri pemersatu. Draupadi yang cerdas patuh terhadap Kunti dan terutama Sri Krishna yang sangat dimuliakannya.

Sri Krishna menyampaikan bahwa pada kehidupan sebelumnya, Draupadi dilahirkan sebagai Nalayani yang selalu berdoa kepada Shiva agar diberikan suami dengan 14 kualitas utama. Shiva mengatakan sulit diperoleh pada kehidupan saat ini, akan tetapi pada kehidupan berikutnya akan memperoleh 5 suami dengan 14 kualitas utama tersebut. Nalayani kaget dan bertanya, apakah ini anugerah atau kutukan baginya? Shiva menjawab bahwa ini adalah anugerah bagi dharma kebenaran. Nalayani tidak perlu kuatir, dia akan memperoleh kembali keperawanannya setiap tahun.

“Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada. Pertemuan kita, perpisahan kita, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak. Yang namanya takdir itu apa? Memang yang tengah kita alami sekarang ini merupakan takdir kita, sudah ditentukan oleh masa lalu kita. Tetapi yang menentukannya siapa? Kita, kita juga. Apa yang kita buat pada masa lalu menentukan masa kini kita. Nah, Sekarang, apa yang kita buat sekarang, dapat menentukan masa depan kita. Takdir sepenuhnya berada di tangan Anda. Bagi mereka yang mengetahui mekanisme alam ini, hidup menjadi sangat indah. Ia tidak akan menangisi takdirnya. Ia tahu persis bahwa ia pula yang menentukan takdirnya sendiri. Ini yang disebut Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat. Karma berarti tindakan, karya. Karma bukan berarti tindakan baik, ataupun tindakan buruk, sebagaimana anda tafsirkan selama ini. Anda yang menderita, anda katakan itu Hukum Karma. Hubungan-hubungan Anda pada masa lalu, menghubungkan Anda kembali dengan mereka yang menjadi kawan Anda, keluarga Anda pada masa kini.” (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Melampaui Kelahiran Dan Kematian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Menjadi Alat Hyang Maha Kuasa

Draupada juga menerima putrinya menjadi istri Pandawa, karena Sri Krishna berkata bahwa musuh utamanya Drona tidak bisa dikalahkan oleh Dhristayumna sendirian, dia harus dibantu Pandawa yang merupakan suami dari Draupadi.  Draupadi menjadi istri masing-masing Pandawa setiap tahun dan mempunyai 5 putra dari 5 Pandawa yang mempunyai wujud mirip ayah mereka masing-masing.

Draupadi sadar bahwa dia sebenarnya hanya alat Hyang Maha Kuasa, untuk mempersatukan Pandawa, alat untuk membalaskan dendam ayahandanya serta alat untuk menegakkan dharma.

Bhagavad Gita 2: 27-28: “Ia yang lahir harus mati, ia yang mati harus lahir. Jangan gelisah, karena hukum ini memang tak terelakkan. Makhluk-makhluk yang kau lihat ini, wahai Arjuna, pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya kamu bersedih hati? Yang diketahui manusia hanya antara lahir dan mati saja. Kita ini sebenarnya hanya alatNya, yang dikirimkan untuk melakukan tugas-tugasNya, jadi kita seharusnya berbhakti sesuai dengan kehendakNya.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bhakta Sri Krishna

Draupadi adalah devoti Sri Krishna. Dia selalu menembangkan Nama Krishna untuk melembutkan jiwanya. Pada suatu hari Krishna teriris jari tangannya dan Draupadi langsung menyobek kain sarinya untuk membalut luka Krishna. Draupadi penuh kasih terhadap Krishna tanpa mengharapkan apa pun juga. Krishna berkata bahwa bila Draupadi berdoa kepadanya, dia akan datang membantu.

Bhagavad Gita 7: 16-18: “Ada empat kelompok manusia yang berpaling pada ‘Aku’: mereka yang dalam keadaan duka, mereka yang ingin memperoleh pengetahuan tentang ‘Aku’, mereka yang sedang mengejar harta dan kesenangan-kesenangan duniawi lainnya, dan mereka yang bijak. Di antara mereka, yang unggul adalah ia yang bijak – yang berpaling pada ‘Aku’ hanya karena cinta dan kesadaran, tanpa harapan ataupun keinginan yang lain. Dengan berpaling pada ‘Aku’, sebenarnya mereka semua sudah melakukan yang terbaik, namun di antara mereka, ia yang mengasihi ‘Aku’ hanya karena kasih itu sendiri, sesungguhnya sangat bijak.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam pengembaraan di hutan, pernah Pandawa kehabisan beras, padahal Pandawa akan kedatangan tamu Resi Durvasa beserta murid-muridnya. Resi Durvasa terkenal kesaktian dan sifatnya yang temperamental, sehingga apabila sang resi tidak berkenan dia sering mengutuk. Draupadi dalam kebingungan berdoa pada Sri Krishna, dan Sri Krishna datang. Draupadi berkata bahwa yang tersisa hanya satu butir beras ketan sedangkan dia harus menjamu Resi Durvasa dan para muridnya. Sri Krishna makan separuh butir dan berkata bahwa separuhnya diperuntukkan bagi dunia. Ketika Resi Durvasa dan murid-muridnya datang bertamu mereka semua telah merasa kenyang dan tidak ingin makan. Dan masalah Draupadi dan Pandawa terselesaikan.

Dihina para Korawa

Yudhistira yang gemar bermain dadu terpedaya oleh permainan Shakuni dan kalah bertaruh. Seluruh Pandawa telah dipertaruhkan dalam permainan dadu dan kalah sehingga mereka telah menjadi budak Korawa. Akhirnya Draupadi pun dijadikan taruhan dan kembali Yudhistira kembali kalah. Sebagai budak Korawa, Pandawa diminta melepaskan baju dan hanya memakai pakaian dalam, dan selanjutnya Dursasana juga berupaya menarik kain sari Draupadi.

Draupadi dengan lantang berkata, “Jika kalian menghormati ibu kalian, saudara-saudara perempuan kalian dan putri-putri kalian, maka jangan perlakukan aku seperti ini!” Tetapi para Korawa tidak mempedulikannya. Mereka mengatakan bahwa pakaian yang dikenakan Pandawa dan Draupadi pun sudah menjadi milik Korawa. Dursasana pun segera menarik kain sari Draupadi. Draupadi merasa sudah tak ada gunanya minta tolong kepada para suaminya yang telah menjadi budak. Dia minta tolong pada Resi Bhisma yang juga hanya diam seribu basa. Akhirnya dia memohon pada Sri Krishna. Dan, keajaiban pun terjadi kain sari Draupadi yang ditarik oleh Dursasana selalu digantikan dengan yang baru sehingga Dursasana kewalahan.

“Aku memenuhi keinginan setiap orang yang mengucapkan nama-Ku dengan tulus, dan meningkatkan kesadaran Kasih di dalam dirinya. Siapa pun yang mengagungkan kisah kehidupan-Ku dan ajaran-Ku, akan kulindungi dari segala macam mara bahaya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Dhristarastra diberitahu Gendari perihal peristiwa Draupadi dan segera menghentikan perbuatan Dursasana. Takut Korawa dikutuk oleh Draupadi, Dhristarastra memberikan anugerah 2 hal kepada Draupadi. Draupadi minta Pandawa dibebaskan  dan demikian juga senjata mereka. Akhirnya Pandawa diasingkan dan harus mengembara selama 13 tahun. Draupadi dengan setia mengikuti Pandawa mengembara. Peristiwa Draupadi dihina para Korawa sangat membekas di hati Pandawa, dan ini merupakan benih peperangan Bharatayudha.

Demikian Kisah Draupadi Bagian Pertama. Bagaimana pembalasan dendam Draupadi dan akhir kisah hidupnya? Silakan mengikuti Kisah Draupadi Bagian Kedua: : Akhir Dendam Draupadi di Penutup Perang Bharatayudha.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Menyaksikan Perselingkuhan, Kisah Dua Burung Beo pada Relief Candi Mendut

Posted in Relief Candi with tags , , on August 25, 2013 by triwidodo

Mendhut-Tantri-2_parrots wikipedia

Gambar dua burung Beo pada Relief Candi Mendut sumber Wikipedia

Pengolahan Otak Harus Diimbangi Penghalusan Rasa

“Tidak berarti bahwa otak tidak perlu diasah. Tidak berarti bahwa ilmu tak berguna. Otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus. Kemampuan untuk “mengenal fakta” datang dari ilmu. Kepekaan untuk “melihat kebenaran” berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membuka bagi saya semua pintu ilmu.” (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah dua burung beo yang menyaksikan perselingkuhan istri seorang brahmana, membuat kita merenung apakah kita cukup dengan mengembangkan otak saja ataukah juga perlu mengembangkan intuisi kita.

 

Menyaksikan Perselingkuhan Istri Brahmana

Dua bersaudara burung beo ditangkap pemburu dan diserahkan kepada seorang brahmana. Mereka dipelihara dengan sangat baiknya, sehingga walau tidak diikat mereka tidak pergi juga, karena ingin membalas budi pada Sang Brahmana. Pada suatu hari Sang Brahmana pergi keluar kota untuk beberapa lama dan berpesan kepada kedua beo bersaudara. Agar mereka dapat menjaga istrinya. Bila istrinya berbuat tidak baik tolong diingatkan oleh mereka.

Ternyata istri Sang Brahmana tidak setia, setelah Sang Brahmana pergi dia bermain cinta dengan kekasih selingkuhannya. Baik di dalam maupun di luar rumahnya. Beo muda yang masih remaja berkata pada kakaknya yang sudah dewasa: “Kakak, kita diminta menjaga istri Sang Brahmana. Dia berpesan agar kalau istrinya berbuat tidak baik kita diminta mengingatkannya. Mengapa kita tidak mengingatkan istrinya?” Sang kakak berkata dengan bijaksana: “Adikku, kita harus tetap waspada, istri Sang Brahmana terlalu keji. Kita harus hati-hati dan melihat dengan jeli. Mari kita tunggu Sang Brahmana datang, kita laporkan dan segera pergi. Mungkin Sang Brahmana sudah mencurigai sang istri. Dan, kita diminta memberikan konfirmasi. Istri sang brahmana masih dipengaruhi oleh naluri hewani, hanya wujudnya manusia, akan tetapi tindakannya masih seperti hewan.”

“Setelah berhasil memahami sebagian rahasia DNA manusia dan berhasil memetakannya, para saintis pun bingung. Ternyata DNA manusia, blue print dasar manusia itu, menyimpan rahasia alam semesta. Setiap orang memiliki ‘memori’ yang bisa ditarik ke belakang sampai asal-usulnya alam semesta. Sungguh misterius! Jadi setiap manusia juga memiliki naluri hewani. Dituntun olehnya, tindakan anda akan menjadi hewani. Dipengaruhi olehnya, pikiran anda akan menjadi hewani. Dikuasai olehnya, ucapan-ucapan anda akan menjadi hewani.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Beo Remaja yang Kurang Waspada

Sang Beo Remaja tak bisa menahan diri. Pada suatu hari dia menemui istri Sang Brahmana dan menasehati, “Mengapa Nyonya melakukan tindakan tidak setia? Mohon jangan diulangi lagi, tidak baik seorang isteri melakukan ini!” Istri Sang Brahmana berkata, “Beo remaja yang bijaksana kau benar dalam berkata. Mari ke sini kuelus lehermu. Sebagai rasa terima kasihku. Aku tidak akan selingkuh lagi karena nasehatmu.” Istri Sang Brahmana memegang leher beo remaja. Dipuntir lehernya sampai kehilangan nyawa dan badannya dimasukkan api di dapur yang tengah membara.

Burung beo remaja belum paham, bahwa sang istri brahmana  adalah manusia, akan tetapi masih mengikuti naluri kebinatangan. Sehingga dia kurang waspada.

“Binatang harus mengikuti nalurinya. Ketika lapar, ia akan makan. la tidak bisa menahan diri. Ketika haus, la akan minum. Ketika harus melampiaskan napsu birahi, la akan melakukannya. Tidak perlu suasana, tidak perlu basa-basi. Lihat saja anjing-anjing di tengah jalan. Hanya manusia yang dapat melakukan sesuatu dengan ‘kesadaran’. la sudah tidak ‘perlu’ mengikuti nalurinya. la bisa ‘mengurus’ dirinya sendiri. Mereka yang ‘merasa’ digoda oleh Setan, lalu bertindak sesuai dengan apa yang mereka sebut ‘bisikan Setan’, sesungguhnya sedang mengikuti nalurinya. Dan manusia memang memiliki ‘naluri hewan’ the basic instincts.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kematangan Beo Dewasa Menghadapi Orang Berbahaya

Beo Dewasa sadar bahwa menghadapi manusia berbahaya yang tidak bisa dinasehati, perlu kehati-hatian.

“Orang yang dengki menjadi kalap; matanya tertutup. la tidak bisa memilah lagi, tindakan mana yang tepat dan yang mana tidak tepat. la seperti seorang pengemudi yang mabuk. la dikuasai oleh ‘alkohol’, oleh ‘anggur’. la akan mencelakakan dirinya dan orang lain. Dalam perjalanan, jika anda bertemu dengan seorang pengemudi seperti itu, apa yang akan anda lakukan? Menyadarkan dia? Percuma. la tidak akan menghentikan kendaraannya. la tidak akan mendengarkan nasihat anda. Satu-satunya jalan adalah ‘menyingkir’, melindungi diri. Jangan sampai jadi korban ketololannya.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Beo Dewasa pura-pura tidak mengetahui kejadian yang menimpa adiknya. Istri Sang Brahmana masih tetap berselingkuh. Saat Sang Brahmana pulang dia bertanya kepada Sang Beo bagaimana kabar istrinya. Sang Beo menceritakan tentang perselingkuhan istrinya. Setelah dia bercerita, dia bilang sekarang tak ada tempat yang aman baginya di rumah Sang Brahmana.  Sang Beo pamit terbang ke rimba. Konon Sang Beo Dewasa pada suatu ketika menitis menjadi Sang Buddha dan adiknya menjadi adalah salah seorang muridnya.

 

Melatih Intuisi

Beo Dewasa adalah lambang seorang yang telah memiliki intelijen, sedangkan beo remaja melambangkan orang yang masih dalam taraf intelektual.

“Saya selalu membedakan antara ‘intelljen’ dan ‘intelektual’. Seorang ‘intelijen’ menjadi demikian karena membuka diri terhadap semesta. la belajar dari alam. la belajar dari setiap peristiwa, setiap kejadian dalam hidupnya. la belajar dari pengalaman pribadi. Pengetahuan dia sepenuhnya berdasarkan pengalaman bahkan melampaui pengalaman pribadi. la memperolehnya lewat mekanisme alam yang mulai bekerja, apabila ia menjadi lebih peka, lebih reseptif terhadap alam itu sendiri. Itu yang disebut intuisi, ilham.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Kebenaran dihasilkan oleh intuisi dan intuisi berkembang dalam keheningan. Intuisi melampaui instink-instink hewani Anda, melampaui pikiran dan logika, melampaui filsafat, dan hanya intuisilah yang dapat bertatap muka dengan Kebenaran. Biarkan dunia, menentang Anda – pikiran Anda mungkin mengatakan satu hal dan hati Anda mengatakan hal yang lain. Jangan ikuti mereka. Ikutilah intuisi Anda. Pada saat-saat awal, memang sulit, bahkan sangat sulit untuk mendengar suara halus intuisi Anda. Tetapi, jangan menyerah. Suatu saat mungkin Anda salah menangkap suara pikiran ataupun suara hati Anda sebagai intuisi. Lewat kesalahan-kesalahan Anda sendiri, Anda akan belajar. (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Vibhisana Berseberangan Dengan Kepala Negara Demi Menegakkan Dharma

Posted in Ramayana with tags on August 22, 2013 by triwidodo

Vibhishana pasrah terhadap Sri Rama sumber www namadwaar org

Gambar Vibhisana pasrah terhadap Sri Rama sumber www namadwaar org

Perjalanan Karakter dari Rahwana lewat Kumbhakarna menuju Vibhisana

Perjalanan spiritual, menurut Swami, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari “kita” menuju “Dia” Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati. Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas. (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Rahwana mewakili ego yang hanya memikirkan diri pribadi, termasuk menculik Sita dengan menggunakan segala cara dan mempertahankannya dengan kekuasaan. Kumbhakarna mewakili ego yang sudah meluas memikirkan negara yang menghidupinya, sehingga walaupun tahu kepala negara sekaligus kakak kandungnya nya salah, dia berperang membela negaranya yang sedang diserang. Vibhisana mewakili diri yang sudah sadar, bahwa kakak-kakaknya Rahwana dan Kumbhakarna adalah saudara dalam kehidupan kini. Vibhisana mengasihi kakak-kakaknya, akan tetapi dia lebih mengasihi Dharma, Kebenaran yang Nyata dan Abadi. Wujud kakak-kakaknya hanya sementara di dunia, yang belum tentu dikenalnya dikehidupan sebelumnya maupun yang kehidupan yang akan datang. Akan tetapi Dharma, Kebenaran adalah kerabat yang terdekat sepanjang masa kehidupan. Kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berharga untuk ditegakkan.

 

Vibhisana Bertemu dengan Hanuman

Setelah menyempaikan pesan Rama kepada Sita, Hanuman sempat bertemu dengan Vibhisana. Vibhisana adalah devoti Vishnu dan yakin bahwa Sri Rama adalah Vishnu yang mewujud untuk menegakkan dharma. Setiap pagi dan senja Vibhisana selalu berdoa untuk keselamatan Sri Rama. Doa/chanting/meditasi yang rutin tersebut menyebabkan Vibhisana tidak terpengaruh oleh lingkungan raksasa di Alengka. Vibhisana berkata kepada Hanuman: “Wahai Hanuman, engkau sungguh beruntung telah dipilih sebagai Duta Sri Rama. Tahukah wahai Hanuman, mengapa saya yang berdoa setiap hari terhadap Sri Rama belum dapat bertemu Sri Rama?” Hanuman menjawab: “Pangeran Vibhisana, karena senantiasa doa  maka Pangeran akanmemperoleh kesempatan dharsan, bertemu muka dengan Sri Rama. Akan tetapi sekedar berdoa kurang bermakna, doa harus diikuti perbuatan nyata. Paling tidak Pangeran harus menyuarakan Kebenaran. Karena yang paham diam maka negeri Alengka mengalami carut-marut dalam penegakan dharma.”

“Janganlah engkau menyerah sebelum mencoba. Cobalah bersuara… kumpulkan seluruh tenagamu dan bersuaralah dengan jelas. Suaramu akan terdengar, pasti. Kau menjadi pemimpin karena keyakinanmu, semangatmu, suaramu. Percayalah pada dirimu. Sukarno, Gandhi, bahkan para nabi seperti Isa dan Muhammad pun seorang diri. Para bijak seperti Lao Tze dan Siddhartha juga seorang diri. Merekalah yang mengubah dan membuat sejarah. ‘Barangkali banyak diantara kita takut bersuara.’ Ya, itulah, sebab kita tidak bersuara. Kita takut. Bukan takut tidak didengar, tapi takut ribut. Takut mengundang persoalan. Kelompok lain dianiaya, aku bungkam. Kemudian kelompokku dianiaya. Namun, sebelum kusadari, penganiayaan pun terjadi pada diriku… dan tidak seorang pun membantuku, karena semua beranggapan sama, yang dianiaya bukanlah mereka! (Krishna, Anand. (2006).” Indonesia Under Attack Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Vibhisana menjalankan nasehat Hanuman, menyampaikan kesalahan Rahwana yang menculik Sita dan agar mengembalikannya. Rahwana tersinggung dan mengusir Vibhisana dari Alengka, yang kemudian menemui Sri Rama di hutan.

 

Vibhisana Dalam Diri

Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/) menyampaikan: “Para budak napsu selalu menempatkan diri sebagai pemimpin, persis seperti Rahwana. Ia diperbudak oleh dosomuko, sepuluh muka indra sensori dan persepsi; mata, telinga, hidung, mulut, kulit, penglihatan, pendengaran, penciuman, pececapan, dan perabaan. Itulah sebab kebinasaannya. Dan, bersama dia ikut binasalah seluruh kaumnya. Apa salah kaumnya? Hanya satu, mereka mengikuti Rahwana dan tidak menggunakan akal-sehat mereka. Wibisono yang menggunakan akal sehatnya terselamatkan. Saat ini kita semua tinggal dalam kerajaan dunia dimana budak napsu dosomuko Rahwana menjadi pemimpin.”

“Apa yang mesti kita lakukan? Mencari Wibisono, karena dalam setiap kerajaan Alengka, niscayalah ada seorang Wibisono. Berpihaklah padanya. Berdirilah bersamanya. Dalam unit terkecil, diri kita adalah Alengka. Saat ini dosomuko mental/emosional berkuasa. Tapi kesadaran Wibisono pun ada berupa suara hati. Berpihaklah pada dia, dan bebaskan dirimu dari kuasa dosomuko. Maka, niscayalah Wibisono mengantarmu ke Sri Rama, ke Allah. Maha Besar Allah! Salam Pembebasan dari napsu rendahan!”

 

Vibhisana Bertemu dengan Kumbhakarna

Sebelum pergi dari Alengka, Vibhisana menyempatkan diri menemui Kumbhakarna.  Kumbhakarna memeluk adiknya denganpenuh kasih. Vibhisana berkata: “Kakanda Rahwana telah menghina saya di sidang terbuka dan menendang saya keluar pendopo. Saya telah memberitahu dia dengan segala cara, tetapi dia tetap mempertahankan pendiriannya untuk tidak mengembalikan Sita. Sebentar lagi saya akan dikejar-kejar para pengawal Raja. Sri Rama akan melindungi saya dari kejaran para pengawal Raja.”

Mendengar hal demikian, Kumbhakarna berkata: “Adikku yang paling kukasihi, Kanda Rahwana sudah di ambang kematian. Bagaimana dia akan memperhatikan nasehat yang baik. Adinda telah melakukan hal yang benar. Adinda tidak lagi Vibhisana, sekarang telah menjadi Vibhusana (ornamen yang paling indah seperti permata). Adinda telah memahami bahwa negara pun hanya merupakan Maya yang tidak abadi yang berguna bagi peningkatan kesadaran kita. Sedangkan Dharma, Kebenaran adalah yang benar-benar Nyata. Adinda telah memuliakan dan mensucikan klan Rakshasa. Saya harus bertempur demi negara, saya juga mendekati kematian. Permohonan saya demi negara, apabila Alengka di kalahkan pasukan Rama, bangunlah negeri yang baru berdasar dharma.”

 

Vibhisana tidak Terbawa oleh Ketidaksadaran Massal Para Rakshasa di Alengka

Vibhisana selalu rutin berdoa/chanting/meditasi sehingga tidak terpengaruh oleh mob-consciousness di Alengka. Saat berdoa, bukan hanya tubuh Vibhisana yang menghadap Tuhan. Pikiran dia pun tidak seperti pikiran kita yang  berkiblat pada harta benda. Perasaan Vibhisana tidak seperti perasaan kita yang berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri.

“Dharma adalah kesatuan, persatuan, keutuhan, kebersamaan, sekaligus kebajikan, Dan intisari dari segala kemuliaan. Dharma adalah kemanusiaan Manusia dan ketuhanan Tuhan. Dharma adalah penopang jagad raya. Sebab itu, Dharma menjadi keseimbangan dalam segala hal. Bagaimana menerapkan Dharma dalam keseharian hidup? Buddha menjelaskannya sebagai “jalan tengah”. Jangan berlebihan dalam hal apa pun juga. Dengan menjaga dan mempertahankan keseimbangan diri, Anda menjadi selaras dengan semesta yang selalu berada dalam keseimbangan sempurna. Tanpa nilai dasar dharma, Anda tidak bisa bersikap adil. Keadilan adalah hasil dharma.”

“Kita terbawa oleh mob consciousness—kesadaran gerombolan. Kita terbiasa mengungkapkan pendapat “umum” dan bahkan menerima pendapat “mayoritas”. Itulah sebab segerombolan orang jahat—orang yang berniat jahat—selalu menggunakan media untuk mempengaruhi Anda. Ketika Anda melihat sekian banyak orang menonton pertunjukkan tertentu, Anda ikut menontonnya. Ketika Anda mendengar sekian banyak orang membicarakan sesuatu, Anda ikut membicarakannya.”

“Kesadaran gerombolan ini membuat Anda semakin malas untuk memutar otak. Lama-lama otak Anda melemah dan mempercayai apa saja yang disuguhkan padanya. Inilah yang sedang terjadi saat ini. Para Sadguru dan para sikh, para murid, yang sudah “selaras” dengan Sang Guru, dalam pengertian mereka sudah sepenuhnya “memahami, menerima, menghayati, dan berkomitmen untuk ikut mewujudkan visi dan misi Sadguru”, tidak pernah terpengaruh oleh kesadaran gerombolan. Jika kita masih terpengaruh oleh kesadaran gerombolan, kita belum siap menjadi sikh atau murid. Kita belum selaras dengan visi dan misi Sang Guru.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Membangkitkan Asmara Shiva, Kisah Kamadeva dalam Kitab Lalitopakyana

Posted in Lalitha with tags , on August 20, 2013 by triwidodo

Kamadeva membidik Shiva dengan anak panah asmara sumber www ebay com

Gambar Kamadeva membidik Shiva dengan anak panah asmara sumber www ebay com

Kamadeva Sang Dewa Asmara

“Seks, napsu birahi, bukanlah sesuatu untuk dihindari. Anda tidak bisa menghindari. Seks, napsu birahi sesungguhnya sangat alami. Satu-satunya yang ‘masih’ alami. Makanan bisa diganti dengan ‘pil’. Tidur pun bisa direkayasa dengan ‘pil’. Kecerdasan otak pun bisa ditingkatkan dengan ‘pil’. Tetapi seks ‘belum’ bisa dinganti denga pil. Pelampiasan napsu birahi harus lewat seks. Entah dengan cara masturbasi atau senggama, lalu untuk senggama anda mencari lawan jenis atau sejenis atau bahkan vibrator dan boneka yang terbuat dari plastik, tetapi ‘masih’ harus dilakukan sendiri. Belum ada pil yang jika ditelan akan membuat anda lupa seks. Mereka yang sakit dan tidak bisa melakukan hubungan seks juga masih berpikir tentang seks. Tadinya ‘badan’ mereka yang make love, sekarang ‘pikiran’ mereka. Seks, napsu birahi muncul dari kesadaran rendah, kesadaran badaniah. Yang harus kita lakukan bukanlah mengharamkan sentuhan dan duduk kesebelahan, tetapi meningkatkan kesadaran diri. Peningkatan kesadaran diri inilah yang disebut ‘Pembangkitan Kundalini’ dalam tradisi Yoga dan Tantra.” (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Asmara sering dihubungkan dengan hubungan seks. Senjata Cinta Kamadeva akan mempersatukan sepasang manusia untuk melahirkan keturunan mereka. Senjata Cinta membantu Penciptaan Manusia. Ketertarikan terhadap lawan jenis adalah hal yang alami. Nafsu Birahi adalah hal yang alami. Yang penting dilengkapi dengan caring dan sharing. Loving, caring, dan sharing adalah produk 3 in 1. Cinta, kepedulian dan kerelaan untuk berbagi adalah tritunggal yang disebut compassion, kasih.

 

Senjata Kamadeva

Kamadeva adalah dewa tampan berkulit hijau bersenjatakan busur dari tebu dan tali busur dari madu lebah dengan anak panah terdiri dari 5 macam bunga. Dia ditemani burung kakatua, lebah, musim semi dan angin yang lembut. Busur berupa batang tebu bermakna bahwa sari tebu sangat lezat dan bisa menghapuskan dahaga kama atau nafsu. Tali busur dari madu lebah merupakan persembahan yang sangat berharga, madu adalah simbol dari sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan. Lebah hanya mengkonsumsi sepersepuluh madunya bagi keperluan dirinya dan bagian terbesar dipersembahkan kepada alam semesta.

Anak panah dari lima macam bunga yang terdiri dari: bunga Asoka yang yang bebas dari rasa sedih; bunga Teratai yang indah dan suci walau dikelilingi lumpur, yang terdiri bunga Teratai putih yang mekar diwaktu siang,  bunga Teratai biru yang mekar di waktu malam; bunga Melati yang melambangkan kesederhanaan, kesucian dan keelokan budi; bunga Mangga, bunga majemuk yang jumlahnya bisa mencapai 1000-6000 dalam setiap tangkai bunga.

Senjata Kamadeva adalah sarinya tanaman yang dikaitkan dengan tebu, sari yang dihasilkan hewan yang disampaikan lewat madu, serta keindahan dan keharuman sepanjang waktu yang diungkapkan dengan bunga.

Semua Makhluk Dipengaruhi oleh Senjata Kamadeva

Senjata Kamadewa efektif untuk segala keadaan dan segala waktu. Brahma berkata pada Kamadeva bahwa dengan panah keindahan yang menawan, dan busur batang tebu dengan harum bunga, dia akan melakukan pekerjaan membantu penciptaan. Dan, pekerjaan Kamadewa selamanya akan membingungkan pria dan wanita. Tidak dewa, tidak gandharva, tidak kinara, tidak ular, tidak asura, tidak daitya, tidak vanavidya, tidak raksasa, tidak yaksa, tidak pisaca, tidak bhuta, tidak vinayaka, tidak guhyasa, tidak vasiddha, tidak manusia. tidak burung, sapi, rusa, cacing, serangga, tak satu pun dari semua ini akan dibebaskan dari panah Kamadeva.

 

Terpenggalnya Ego Panglima Prajapati Daksha

Dalam lalitopakyana dikisahkan bahwa Sati istri Shiva membakar diri dengan yoganya, karena tindakan Daksha, sang ayah yang mengucilkan dirinya dan menghina suaminya dengan tidak mengundang mereka dalam upacara yajna. Daksha akhirnya mati dibunuh Virabadra, makhluk ciptaan Shiva. Selanjutnya Daksha dihidupkan lagi oleh Shiva dengan mengganti kepalanya dengan kepala kambing.

Kisah ini bermakna bahwa seseorang yang sudah dekat dengan Tuhan (Sati), masih berkeinginan duniawi dengan datang ke acara ayah duniawinya yang merupakan panglima prajapati para dewa. Tindakan tersebut akan mengakibatkan kekecewaan dan penderitaan.  Daksha adalah contoh orang yang sukses, bangga akan kemampuan dan kekuasaannya sehingga egonya mengembang serta lupa menundukkan kepala kepada Tuhan. Daksha sangat terpukul dengan kematian putri tercintanya. Daksha yang berkepala kambing adalah seorang yang sudah terpenggal egonya, dia akan selalu patuh kepada Tuhan. Daksha baru sudah menerima anugerah untuk menghacurkan egonya. Daksha Baru adalah seorang yang hanya mendengarkan hati nuraninya dalam bertindak, “Biarlah kehendak-Nya yang terjadi, bukan kehendak pikiranku.”

Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/) menyampaikan:

“Dalam Lukas 23:46 kita diberikan inti dari doa. Inilah akhir dari segala doa. Inilah Islam, atau submission to the will of the Lord. Inilah ‘nrimo’ yang sesungguhnya. Inilah surrender, sharanaagati, atau bhakti, ‘Ya Bapa, Gusti, Allah, Widhi, Buddha, apa pun sebutan kita, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku.’ Berarti menyerahkan hidup ini. Tidak perlu menunggu untuk disalibkan seperti Yesus, jangan tunggu sampai ajal tiba – serahkan dirimu, egomu, pribadi-palsumu kepada Dia, sekarang dan saat ini juga… Ini adalah milikku, ini terjadi karena aku, aku berjasa, aku yang bisa meluruskan apa yang sudah bengkok lama, aku tahu cara menyelesaikan konflik, orang lain hanya bisa memulai konflik, aku lebih pintar, dan lebih berpengalaman – aku, aku, aku – aku inilah sumber dari segala macam persoalan. Aku inilah yang mesti dipenggal kepala-egonya, aku ini mesti mati, supaya Sang Aku, Jiwa Sejati bangkit dalam segala kemegahan dan kemuliaannya. Saksikan kebangkitan dirimu sendiri, jadilah saksi bagi kehidupan abadi dimana maut tidak dikenal lagi, rahayu.”

Lukas 23:46:  Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

 

Parvati Sang Putri Gunung

Dikisahkan Himavanta (Himalaya) dan bidadari Menaka berhasrat agar apabila Sati lahir kembali bisa menjadi anak mereka. Mereka bertapa selama 150 juta tahun. Akhirnya mereka punya anak yang diberi nama Parvati (putri Parvata, putri Gunung). Setelah Parvati remaja, Rishi Narada datang dan berkata kepada Himavanta dan Menaka bahwa Shiva sedang bertapa disekitar wilayah tersebut dan minta agar Parvati melayani Shiva. Himavanta menemui Shiva, dan Shiva setuju Parvati untuk melayani dan menyiapkan keperluannya bertapa, dan Shiva kembali kepada meditasinya.

 

Bangkitnya Rasa Asmara Shiva

Pada suatu saat Kamadeva, dewa kama yang  juga disebut Manmatha, sang pengaduk hati menuju ke tempat Shiva. Kamadeva memasuki tempat tinggal Siwa secara diam-diam, bersembunyi di balik batu dan melihat Shiva yang sedang melakukan  meditasi. Pada saat yang sama, Parvati datang ke sana sedang bangkit setelah membungkuk rendah bersujud kepada Shiva, pakaian atas nya terselip sedikit. Tepat pada saat itu, Manmatha memanah Shiva, dan  pikiran Shiva terpengaruh sedikit. Mencermati hal ini, Parvati merasakan sukacita dalam hati.

Tetapi Shiva kemudian sadar, mengapa musim semi datang bukan pada saatnya dan dia melihat Kamadeva sedang bersembunyi. Shiva kemudian mengarahkan mata ketiganya kepadanya dan terbakarlah Kamadeva. Parvati pingsan melihat hal tersebut dan ketika bangun Shiva sudah pergi dari tempat tersebut. Parvati kemudian bertapa sampai akhirnya Shiva terketuk hatinya dan menikahi Parvati.

 

Musim Semi atau Keremajaan Shiva diperlukan oleh Dunia

Dunia sedang membutuhkan keturunan Shiva, musim semi yang datang pada Shiva adalah untuk keperluan keberlangsungan dunia.

“Kita memisahkan masa kecil dari masa remaja dan masa remaja dari masa tua. Kita membedakan kelahiran dari kematian seolah keduanya adalah dua kubu yang terpisah, yang tidak pernah bertemu. Padahal, seorang anak kecil pun menyimpan di dalam sanubarinya, bukan saja ‘keceriaan seorang remaja’ tetapi juga ‘kematangan seorang dewasa’ dan ‘kebijakan seorang tua’. Seorang remaja pun demikian, masih ada ‘seorang anak’ di dalam dirinya yang ingin bermain, bercanda. Dan, seorang tua pun masih memiliki ‘semangat remaja’ yang sesungguhnya tidak pernah padam di dalam dirinya. Karena tidak memahami hal ini, kita sengsara. Kita hidup setengah-setengah. Kita tidak pernah hidup sepenuhnya. Kempat sifat eksis dalam setiap masa. Seorang remaja tengah membunuh ‘anak kecil’ di dalam dirinya. Seorang dewasa berupaya untuk melupakan keremajaannya. Dan, seorang tua tenggelam dalam ketuaannya. ‘Pertumbuhan’ adalah esensi masa kecil. ‘Semangat yang membara’ adalah hakikat masa remaja. ‘Kematangan’ adalah ciri seorang dewasa, dan ‘kebijakan’ adalah pertanda seorang tua. Namun demikian, keempatnya juga eksis dalam setiap masa. Kadarnya boleh beda. Kebijakan dalam diri seorang anak kecil barangkali tidak sama seperti dalam diri seorang tua. ‘Barangkali’, karena ‘tidak selalu’ demikian. Kadang, seorang anak kecil pun terbukti lebih matang daripada seorang dewasa, dan lebih bijak daripada orang tua. (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hutang-Piutang Masa Lalu Kamadeva?

Dewi Rati, istri Kamadeva datang ke tempat tersebut dan menangis melihat keadaan suaminya. Vasanta,dewa musim semi  saudara Kamadeva menghiburnya dan berkata bahwa semuanya memang harus terjadi. Kamadeva harus menyelesaikan hutang-piutang perbuatannya di masa lalu. Karena niat Kamadeva yang mulia, bukan untuk kepentingan pribadi tetapi demi keselamatan umat tiga dunia yang pada saat ini di bawah cengkeraman Tarakasura. Tarakasura hanya dapat dikalahkan oleh putra Shiva dan Parvati, maka Kamadeva  telah menempuh resiko yang sangat besar. Vasanta minta agar Dewi Rati bersabar, karena akan datang saatnya Kamadeva hidup kembali.

 

Kisah Bunda Ilahi

Bunda Ilahi selalu mengasihi devotinya, yaitu mereka yang berkarya demi kepentingan makhluk lain tanpa pamrih pribadi. Mengapa Kamadeva harus mengalami kematian? Apa yang akan terjadi bila dunia kehilangan gelora nafsu? Masihkan dunia berkembang bila sudah tidak ada lagi kasih sayang antara pria dan wanita, antara hewan jantan dan betina, antara putik sari dengan bunga?

Ternyata ada kisah lain di balik kematian Kamadeva. Melihat sebuah kehidupan itu tidak bisa sepotong-sepotong, harus secara holistik, karena masa kini adalah kelanjutan dari masa lalu, dan masa depan adalah kelanjutan dari masa kini. Ternyata Dunia kerepotan tanpa pengaruh Kamadeva. Apakah dunia akan menuju pralaya? Ikuti kisah selanjutnya!

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013