Rahwana dalam Diri: Penyembah Hawa Nafsu yang Gigih dalam Mengejar Obsesi

Rahwana menculik Sita sumber en m wikipedia org

Gambar Rahwana menculik Sita sumber en.m.wikipedia.org

Penyembah Hawa Nafsu

Rahwana dikenal sebagai raja superpower yang sangat berkuasa, hanya tanpa disadari olehnya dia telah menjadi penyembah dari hawa nafsunya sendiri. Nafsunya dijunjung tinggi dan mengalahkan pertimbangan nuraninya. Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/) menyampaikan: “Para penyembah napsu telah menempatkan napsu diatas segalanya, kemudian menjadikannya objek panembahan. Dan, semua itu mereka lakukan dalam keadaan sadar. Maka, sia-sialah segala upaya untuk ‘menyadarkan’ mereka kembali. Mereka membutuhkan transformasi-hati. Dan, di atas segalanya hasrat yang sangat kuat untuk berubah total. Tanpa hasrat seperti itu mereka tidak akan pernah berubah. Para budak napsu selalu menempatkan diri sebagai pemimpin, persis seperti Rahwana. Ia diperbudak oleh dosomuko, sepuluh muka indra sensori dan persepsi; mata, telinga, hidung, mulut, kulit, penglihatan, pendengaran, penciuman, pececapan, dan perabaan. Itulah sebab kebinasaannya. Dan, bersama dia ikut binasalah seluruh kaumnya. Apa salah kaumnya? Hanya satu, mereka mengikuti Rahwana dan tidak menggunakan akal-sehat mereka. Wibisana yang menggunakan akal sehatnya terselamatkan.”

 

Rahwana Gigih dalam Mengejar Obsesinya

Rahwana adalah seorang yang ulet dan gigih dalam mengejar cita-citanya. Hal itu dibuktikan dengan tindakan dia yang bertapa selama 100 tahun memohon kepada Brahma (Kekuasaan untuk mencipta segala sesuatu). Rahwana berhasrat menciptakan kenyamanan duniawi terutama kenyamanan atas kekuasaan dan kekayaan. Oleh karena itu dia Ingin sakti luar biasa tidak bisa kalah oleh para saingannya. Rahwana menghalalkan segala cara. Anak buahnya disuruh menyusup ke tempat musuhnya, seperti Kala Marica yang mengubah diri menjadi kijang kencana untuk memperdaya Sita.

Rahwana adalah figur dari orang-orang yang cerdas, yang bersemangat selama masa pendidikan, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya termasuk membayar para pemilihnya, memberi jabatan kepada orang yang mendukung kepentingan pribadinya. Menyelamatkan pejabat yang bermasalah asal mendukungnya. Orang yang tega mengorbankan siapa pun, termasuk mengorbankan teman kolega, koalisi, atau kelompoknya sendiri. Orang yang tega menghancurkan musuhnya dengan segala cara. Menghabisi mereka yang beda keyakinan, beda pendapat dengan dirinya. Orang yang menggunakan kaki tangannya untuk menjatuhkan pasukan kebenaran yang dipimpin Sri Rama dengan kekerasan.

 

Menghalalkan Segala Cara

Dalam versi Pewayangan Jawa, Rahwana pernah mengutus Kala Maricha berganti rupa sebagai pelayan Dewi Tara, untuk menemui dan memprovokasi Subali, bahwa Sugriwa tidak menghormati istri anugerah dewa dengan layak. “Sang pelayan” juga mengingatkan tahta Kiskenda dan Dewi Tara yang seharusnya merupakan hak Subali yang telah berhasil melenyapkan musuh para dewa, membunuh Maesasura dan Jathasura. Atas dukungan moral Rahwana, Subali merebut tahta Kiskenda dan Dewi Tara dari Sugriwa. Karena itulah Rahwana diberi hadiah ilmu Pancasona sehingga Rahwana tidak bisa mati. Tindakan memecah belah persaudaraan negeri Kiskenda itulah yang menyebabkan, pada saatnya, negeri Alengka pun menderita hal yang sama, perpecahan antar saudara. Kumbakarna mengasingkan diri, Sarpakenaka mendukung tanpa reserve, sedangkan Wibisana berpihak pada Sri Rama.

Dikisahkan demi mengejar titisan Bidadari Dewi Widowati yang dianggap menitis pada Dewi Kausalya, Rahwana membunuh Banasura, Resi Rawatmaja dan melukai Sempati. Demi titisan Dewi Widowati yang juga dianggap menitis menjadi Dewi Citrawati, Rahwana membunuh Patih Suwanda dari Kerajaan Maespati, menipu Dewi Citrawati sehingga bunuh diri, bahkan menyebabkan prabu Harjuna Sasrabahu putus asa dan mati dalam pertarungan dengan Parasurama. Bahkan demi mengejar Sita yang juga dianggapnya sebagai titisan Dewi Widowati, dia juga membunuh Jatayu.

 

Obsesi terhadap Yang Menggairahkan dan Yang Menyilaukan

Gairah mengejar harta, kedudukan atau wanita cantik sebenarnya bersumber dari dalam diri. Demikianlah dalam diri Rahwana terdapat gelora gairah terhadap segala sesuatu yang menggairahkan dan menyilaukan. Rahwana telah mendewakan hal-hal di luar diri sebagai identitasnya. Rahwana telah melupakan jatidiri dengan mengkaitkan identitas dirinya dengan kedudukan, kekayaan dan ketenaran.

“Gairah Bersumber dari diri kita sendiri. Seperti halnya semangat, kehendak, keinginan, kemauan, keberanian; gairah pun tidak datang dari luar. Ia berasal dari dalam diri kita sendiri. Segala sesuatu di luar—entah itu apel, wanita, pria, kedudukan, kekayaan, atau apa saja—menjadi ‘pemicu’ ketika kita membuka diri untuk ‘terpicu’. Jika kita menolak dan tak mau terpicu, maka apel tidak berubah menjadi apa pun. Nasihat Sri Ramakrishna Paramhansa, berhati-hatilah terhadap segala sesuatu yang ‘menggairahkan’ dan ‘menyilaukan’, mesti dipahami secara bijak. Segala sesuatu yang memicu kegairahan di dalam diri saya adalah ‘kamini’ bagi saya. Dan segala sesuatu yang membuat saya menjadi angkuh, arogan, sombong adalah ‘kanchan’ bagi saya.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Rahwana dalam Diri

Bukankah di dalam diri kita juga masih ada gelora hasrat untuk mengejar kedudukan, kekayaan dan ketenaran? Kita mempercayai atribut-atribut di luar diri sebagai identias diri kita. Perlu perenungan yang lama bukankah bila mempunyai peluang, kita pun akan menjadi Rahwana?

“Kepercayaan terhadap harta benda. Fenomena inilah yang disebut mendewakan uang, menuhankan harta. Seolah uang, harta, kekayaan adalah segala-galanya. Saat itu kita sudah tidak percaya diri lagi. Kita sudah tidak percaya pada kekuatan diri, apalagi kekuatan Tuhan. Bagi kita uang, harta, menjadi identitas diri. Aneh, tapi kenyataannya kita menuhankan uang, harta, kedudukan, bahkan kecantikan, atau apa saja, kita sudah tidak dapat menikmati semuanya itu. Kemudian kita diperbudak oleh mereka, oleh harta, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya, dan seterusnya. Menuhankan harta kekayaan, kekuasaan, kedudukan, ketenaran, kewenangan, semuanya itu, tanpa kecuali, hanya menyusahkan diri kita sendiri. Kita kehilangan ‘diri’, kehilangan ‘kebebasan diri’, kehilangan ‘kepribadian kita yang sejati’. Uang, harta, kedudukan, kewenangan, ketenaran semuanya itu menyusup kedalam diri, kemudian menjadi penguasa. Kenikmatan apa yang kita dapat kita peroleh dari penyusupan seperti itu?” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Perang Antara Rama dan Rahwana

“Perang antara Rama dan Rahwana hanyalah sebuah sandiwara. Banyak sekali diantara kita yang mengira perang itu hanya dongeng berkala, tetapi kurang lebih 8,000 tahun sebelum Masehi, perang semacam itu memang ada dan harus terjadi. Perang untuk membersihkan bumi ini dari sub-human species bentuk kehidupan yang terciptakan karena hubungan seksual antar manusia dan binatang. Apa yang kita sebut raksasa atau demon itu merupakan jenis kehidupan yang memang harus dilenyapkan. Bagaimana juga yang dilenyapkan hanyalah ‘bentuk’ atau ‘wujud’ kehidupan tersebut. Lewat perang tersebut, jiwa mereka, roh mereka justru mengalami evolusi, peningkatan, dan lahir kembali sebagai manusia. Rahwana berperan sebagai raja para raksasa, sehingga ia mampu mengumpulkan mereka di satu tempat, di medan perang. Lalu datang Sri Rama, dan dalam satu minggu, selesailah pekerjaan itu.” (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Perang Antara Rama dan Rahwana diperlukan Bumi agar dapat mendukung kehidupan manusia. Seandainya para raksasa dengan wujud fisiknya masih hidup, mampukan Bumi mendukung keberadaanya?

Zaman dulu manusia dan raksasa terpisah, akan tetapi pada masa kini sifat raksasa, sifat Rahwana sudah berada di dalam diri. Rahwana mewakili ego kita yang sudah membesar tak terkendali. Perang antara Rama dan Rahwana sudah ada di dalam diri. Sita adalah diri kita yang berada dalam cengkeraman ego. Untuk mengalahkan Rahwana dibutuhkan kesadaran Hanuman, yang berani, kuat, terampil, perkasa yang selalu patuh terhadap Sri Rama, Dia yang Berada di Mana-Mana termasuk yang Berada di dalam Diri. Hanuman adalah wujud Bhakti. Ada kesempatan dalam diri kita untuk menghancurkan para raksasa ego selamanya dengan mengembangkan rasa bhakti.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: