Pengantar Kisah Peningkat Kesadaran pada Relief Candi-Candi di Indonesia

borobudur sumber wikipedia

Gambar Candi Borobudur sumber Wikipedia

Mendengarkan Dongeng

Sewaktu kami masih kecil, kakek kami sering mendongeng. Dongengnya beraneka ragam dari kisah Bagus Burham yang setelah besar menjadi Ranggawarsita, ataupun dongeng perjuangan tentang orang sukses dalam kehidupan, kadang diselingi dongeng silat Kho Ping Hoo. Mendengarkan cerita sangat mengasyikkan.

Selama ini seakan-akan dongeng hanya bermafaat bagi seorang anak Balita. Terjalinnya interaksi komunikasi yang harmonis antara orang tua dengan anaknya. Menciptakan hubungan yang akrab, tanpa sekat dan terbuka. Hubungan tersebut akan terbawa sampai Sang Balita menjadi remaja. Perkembangan otak di masa Balita adalah paling besar, usia balita adalah usia paling reseptif, sesuatu yang diajarkan pada masa itu akan mempengaruhi kehidupannya sampai dewasa.

Membuka Diri

Ada hal yang mungkin tidak kita sadari bahwa mendengarkan dongeng membuat sang anak berlatih “membuka diri”.  Dan sebuah karakter terbuka yang senantiasa “membuka diri” akan membuat seseorang menjadi bijak.

“Orang bijak mendengarkan pendapat orang lain. Jangan sombong, bukalah dirimu, terimalah nasihat yang benar. Jangan menganggap dirimu sudah hebat. Dengan segala kerendahan hati, dengarkan pendapat orang. Terimalah nasihat yang baik. Dan kau akan selalu jaya, selalu berhasil! Untuk mendengarkan pendapat orang lain, nasihat orang lain, anda harus membuka diri – dan membuka diri sepenuhnya. Tidak bisa setengah-setengah. Anda tidak perlu menerima pendapat siapa pun. Membuka diri terhadap seorang anand krishna tidak berarti menerima “pendapat”-nya. Membuka diri terhadap seorang anand krishna hanya berarti bahwa anda menyadari adanya pendapat-pendapat lain. Belum tentu pendapat-pendapat lain itu cocok dengan anda. Apabila tidak cocok, salamilah si pemberi pendapat dan tinggalkan dia. Tidak perlu menghujat dia, tidak perlu mencaci-maki dia. Sebaliknya, apabila pendapat dia cocok, terimalah tanpa syarat. Tidak perlu mencocok-cocokkannya dengan “pemahaman” anda. Belum tentu “pemahaman” anda betul. Jangan arogan. Jangan menutup diri. Bukalah diri anda terhadap segala kemungkinan. Gunakan kesadaran anda untuk memilih kemungkinan yang paling tepat. Demikian, anda akan selalu jaya, selalu berhasil! (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Melampaui Logika

Kita juga sering melupakan bahwa dalam setiap ajaran spiritual selalu saja diselipi cerita untuk meningkatkan kesadaran para pendengarnya. Sebuah cerita membuat pendengarnya santai dan pikirannya tidak melakukan penolakan. Lain dengan sewaktu seseorang diberikan definisi atau batasan-batasan. Pikirannya bisa langsung menolak karena apa yang disampaikan berbeda dengan apa yang telah ada dalam pikiran. Karena tak ada benteng penahan, cerita tersebut dapat merasuk ke relung-relung pikiran. Pikiran bawah sadar pun dapat dimasuki secara pelahan. Sebuah cerita memang memakai rasa yang melampaui pikiran.

Sebuah cerita memang tidak logis, melampaui logika. Sebuah cerita menggunakan dan melatih penggunaan rasa. Yang dilatih bukan kepala akan tetapi hati manusia. Dan hati atau rasa bersifat universal, dapat dipahami oleh berbagai penganut keyakinan atau berbagai agama. Konon untuk menjelaskan bahwa logika bukan segalanya tersebutlah cerita tentang Nabi Khidir yang berjalan bersama Nabi Musa. Tindakan Nabi Khidir melobangi perahu nelayan, membunuh anak muda dan memperbaiki rumah yatim piatu tanpa menuntut biaya tidak bisa diterima logika Nabi Musa. Sesaat kemudian, Nabi Khidir menjelaskannya. Sebentar lagi pasukan raja mengambil perahu siapa saja, perahu dilobangi agar tidak dirampas dengan paksa. Sang anak muda tersebut adalah anak durhaka, bila hidup lama dia akan membunuh orang tua dan mengganggu desa. Selanjutnya di dalam rumah anak yatim tersebut tersimpan harta, rumah diperbaiki agar harta terjaga dan dapat diambil sang anak setelah dewasa. Nabi Musa menyadari keterbatasan logikanya dan mulai berusaha meningkatkan kesadaran untuk melampaui pikirannya.

Menembus Hati

Bagaikan angin yang dapat menerobos apa saja, dapat menyusup ke mana saja, orang bijak dapat menembus hati siapa saja. Mengatasi kesulitan apa saja, dengan kelembutan jiwanya, sehingga tidak terasa memaksa. Kelembutan adalah kekuatan yang nyata. Cerita sangat lembut dapat menembus hati siapa saja. Dengan kekerasan, seseorang dapat ditaklukkan. Tetapi hatinya tetap tak dapat tertembuskan. Untuk itu, dibutuhkan kelembutan. Angin begitu lembut, sehingga tidak dapat dilihat, dan hanya dapat dirasakan. Dan, kelembutannya itu justru menjadi kekuatan. Demikian juga sebuah cerita begitu lembut, dan tanpa terasa hal yang di luar logika pun dapat diterima.

Relief Candi Mendut

Kelebihan dari cerita adalah kita dapat mengembangkan imaginasi kita sesuai daya tangkap kita. Bhiku Sasana Bodhi Thera dari Kabupaten Gunung Kidul DIY pernah bercerita pada kami bahwa leluhur kita suka meninggalkan lukisan lambang yang diwujudkan dalam relief Candi. Lukisan tersebut terbuka untuk dimaknai sesuai kesadaran kita. Pada Candi Mendut terdapat banyak relief yang menggambarkan Buddha Maitreya (Buddha masa depan) didampingi oleh Avalokiteshvara (Kasih) dan Manjushri (kebijaksanaan) dan Vajrapani (Penjaga). Menurut Bhiku Sasana Bodhi Tera, untuk menjadi Buddha di masa mendatang seseorang harus welas asih dan bijaksana. Demikianlah pesan leluhur yang diwujudkan kisah-kisah dalam relief Candi hampir semuanya penuh nuansa welas asih dan bijaksana. Inilah pesan-pesan leluhur yang dicoba ditampilkan dalam blog: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/. Buku-buku Anand Krishna digunakan sebagai referensi, karena buku berjumlah 150-an lebih tersebut mengupas kehidupan spiritual dan telah meningkatkan kesadaran banyak orang yang memiliki keyakinan berbeda-beda. Selamat menikmati kisah-kisah pada relief Candi di Indonesia.

Berlatih Membuka Diri Setiap Saat

Bila kita sudah sadar bahwa dunia selalu berubah sesuai kemajuan zaman dan bahwa kemampuan dan pengetahuan kita masih terbatas, maka kita perlu latihan membuka diri.

“Membuka diri tidak berarti membuka otak. Tanpa dibuka pun sesungguhnya otak kita sudah terbuka. Keterbukaan otak terhadap apa saja tidak menjamin penerimaan. Otak bisa terbuka, dan bisa tidak menerima. Membuka diri berarti membuka jiwa kita. Bila jiwa terbuka, otak, hati, semuanya serentak ikut terbuka. Tidak perlu membuka satu persatu. Kita bisa membuka jiwa cukup dengan niat: Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru , ulangi niat itu dalam hati. Dengan hanya mengulangi niat untuk membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwa dan meningkatkan kesadaran saja, sesungguhnya kita sudah melangkah ke dalam keterbukaan diri! Setiap kali melihat sesuatu yang baru, jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan. Bukalah dirimu,jiwamu, batinmu, ucapkan niatmu,maka jiwamu akan terbuka semakin lebar.” (Krishna, Anand. (2005). Ishq Ibaadat Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: