Relief Candi Mendut: Kisah Brahmana dan Kepiting, Rasa Welas Asih Menyelamatkan Diri Sendiri

Mendhut-Tantri02 brahmana kepiting wikipedia

Relief Brahmana dan Kepiting di Candi Mendut sumber Wikipedia

Kebaikan Brahmana dan Balas Budi Kepiting

Adalah seorang brahmana bernama Dwijeswara. Ia terkenal sangat bijaksana. Sang Brahmana sedang bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting yang bernama Astapada. Sang Kepiting mungkin tersesat dan sampai di puncak gunung dalam keadaan kelelahan dan kehausan. Hati Sang Brahmana terketuk melihat makhluk yang berada dalam kesusahan dan kebingungan. Kepiting tersebut oleh Sang Brahmana dimasukkan dalam buntalan pakaian dan dibawa berjalan. Setelah beberapa lama, Sang Brahmana tiba di sebuah sungai dan Sang Kepiting dilepaskan. Sang Brahmana merasa capai, beristirahat di atas batu datar dan ketiduran. Ia tidur dengan nikmat dan perasaan yang nyaman. Sang Brahmana bersyukur dianugerahi kesadaran sehingga dapat menyelamatkan makhluk yang sedang berada dalam penderitaan.

Seekor Ular dan seekor Burung Gagak sedang berencana melakukan kejahatan. Kepada Burung Gagak, Ular minta diberitahu  apabila ada orang ketiduran di atas batu, dia akan datang untuk memangsa orang itu. Tak berapa lama Burung Gagak melihat seorang brahmana sedang tidur di sana. Burung Gagak menemui Ular dan berkata ada manusia sedang tidur di sana. Burung Gagak mempersilakan Ular memangsanya, hanya sang Burung Gagak minta disisakan mata orang tersebut untuk menjadi santapan siangnya. Begitulah perjanjian mereka.

Sang Kepiting Astapada mendengar pembicaraan mereka dan berpikir bahwa kedua hewan itu sama-sama buruk kelakuannya. Sang Kepiting mendatangi mereka dan menghipnotis keduanya: “Wahai kedua temanku percayalah kepadaku, aku akan berusaha memanjangkan leher kalian, agar kalian lebih dapat menikmati santapan. Mereka setuju dengan usul Sang Kepiting, dan mereka diminta mendekatkan lehernya. Saat keduanya menyerahkan leher untuk dipanjangkan, maka kedua leher tersebut digunting oleh Sang Kepiting dan keduanya mati seketika.

 

Semua makhluk adalah WujudNya

Seseorang yang hidupnya penuh kasih akan mengasihi setiap makhluk. Apalagi Sang Brahmana dalam kisah tersebut paham bahwa setiap makhluk adalah wujudNya juga.

Anand Krishna menulis tentang Shirdi Baba dalam buku Shri Sai Sacharita: “Makanan yang kauberikan kepada anjing itu telah kuterima. Anjing itupun wujud-Ku, sebagaimana hewan-hewan lain. Ia yang melihat-Ku dalam setiap makhluk adalah kekasih-Ku. Sebab itu lampauilah dualitas yang disebabkan oleh rupa dan nama. Layanilah setiap makhluk hidup, sebagaimana kau melayani anjing itu, karena Aku berada di mana-mana, di dalam diri setiap makhluk. Lihatlah Tuhan dalam diri setiap makhluk inilah non-dualitas. Inilah inti ajaran Guru Baba, inilah inti pesan setiap Guru Sejati. Kitab-kitab suci pun mengajarkan kita hal yang sama. Tiada sesuatu yang beda antara ajaran-ajaran yang tertulis dan apa yang disampaikan oleh para Sadguru seperti Baba.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Bertindak Tanpa Pamrih dan Tidak Memikirkan Imbalan

Sang Brahmana menyelamatkan Kepiting tanpa pamrih pribadi dan tidak memikirkan imbalan atas perbuatannya. Dia hanya melakukan sebagai persembahan kepada Hyang Maha Kuasa yang berada di mana-mana termasuk berada di dalam diri setiap makhluk.

Dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/) Anand Krishna menyampaikan: Jika kita bekerja dengan penuh kesadaran akan tujuan dan hasil pekerjaan itu, maka kita hanya menanam benih materi-dunia, dan hasilnya pun pasti sama: materi-dunia. Tapi, jika kita bekerja (pekerjaannya tetap sama) tapi dengan semangat persembahan dan tidak memikirkan hasil materi-dunia, maka kita memperoleh hasil-ganda. Hasil materi-dunia sebagai akibat dari sebab pekerjaan tetaplah kita peroleh. Ditambah dengan hasil berkah sebagai akibat dari “niat” – dan hasil itulah furqaan. Furqaan berarti “kemampuan untuk memilah/membedakan”. Farq berarti “beda”, furqaan membedakan. Inilah viveka, bodhichitta. Dengan kemampuan inilah kita baru bisa membedakan antara shreya dan preya. Mereka yang tidak memiliki kemampuan ini jelas karena mereka bekerja dengan niat bekerja, bukan dengan niat persembahan. Berkarya tanpa pamrih dengan semangat persembahan – maka, Qur’an berjanji kesalahan-kesalahan kecil pun akan dimaafkanNya. Tidak berarti kita bekerja dengan tujuan akan selalu dimaafkan kesalahannya, tapi dengan semangat persembahan.

 

Ular dan Gagak Berhasil Digendam oleh Kepiting?

Tindakan Sang Kepiting menghipnosis Ular dan Gagak apakah merupakan perbuatan yang tidak terpuji? Kisah Ular dan Gagak dalam dunia nyata hanya beda sedikit dengan orang yang merasa digendam dan diminta mengambil uang di ATM dan menyerahkan kepada orang asing untuk dibawa lari. Ular dan Gagak tertipu dan mati karena keserakahannya sendiri. Dia sudah berpeluang makan “enak”, mengapa dia terbius rayuan Sang Kepiting untuk bisa merasakan makanan dengan lebih lezat, dengan cara memanjangkan lehernya?

“Ketika seseorang ‘terhipnosis’ oleh seorang asing yang mengajaknya ke ATM atau bank dimana dia menyimpan perhiasannya dan kemudian ‘tertipu dalam keadaan tidak sadar’ atau ‘dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar’, hendaknya kita tidak menerima cerita itu mentah-mentah. Keadaan ini hypnosis tidak dapat dipaksakan dalam tahap apa pun (saat dihypnosis) tanpa sepengetahuan dan seizin yang bersangkutan. Sesungguhnya, dalam hal ini hypnosis malah lebih menguntungkan dari pada ilmu medis karena banyak sekali obat keras yang dapat digunakan untuk tujuan kriminal tanpa sepengetahuan dan seizin dari yang bersangkutan. Terlebih lagi, saya juga sudah membuktikan bahwa tidak seorang pun dapat dipengaruhi kecuali hal itu diinginkannya sendiri secara sukarela, maka hypnosis tidak dapat digunakan sebagai sarana untuk sesuatu yang bersifat asusila, sebagaimana banyak orang menganggapnya. Orang itu tertipu oleh keserakahannya sendiri. Dia boleh mengaku, boleh tidak. Dia boleh membohongi orang lain, tapi tidak bisa membohongi diri sendiri. Ia tertipu oleh benih-benih keserakahan yang sudah ada di dalam dirinya.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: