Pengantar Kisah Bunda Ilahi, Dewi Paling Mulia dalam Kitab Lalitopakyana

agastya sebelah kiri di Museum Prambanan sumber wikipedia

Arca Agastya (sebelah kiri) di Museum Prambanan sumber Wikipedia

Resi Agastya

Resi Agastya adalah Resi Utama dari Bangsa Arya di India. Dikisahkan Resi Agastya pindah dari India Utara ke India Selatan. Dengan kehadiran sang resi seluruh masyarakat India Selatan mulai berangsur-angsur menjadi saleh dan sejahtera.

“Bersama Lopamudra, Agastya menyebarkan pesan kasih dari padepokannya. Kadang pesan itu disampaikannya lewat kata-kata. Lewat ucapan. Lebih sering lewat getaran-getaran pikiran. Agastya masih hidup. Berbadan dan berdarah daging, dia masih hidup. Lima ribu tahun yang lalu, setelah kematian Lopamudra, dia pindah ke Yava-Dvipa. Ke Jawa – sekarang disebut Indonesia. Di sana dia dikenal dengan nama Semar. Semar, Agastya adalah roh Indonesia. Jiwa Indonesia. Itulah sebabnya orang Indonesia pun sangat akomodatif, adaptif. Bisa menerima apa saja. Masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam tidak melunturkan budaya asal mereka. Ya, Agastya gelisah. Sejak beberapa abad terakhir, beliau memang sangat gelisah. Manusia “beragama” semakin fanatik. Indonesia mulai melupakan budaya asalnya.” (Krishna, Anand. (2001). Shalala, Merayakan Hidup. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Menurut keyakinan sebagian masyarakat, Resi Agastya adalah seorang chiranjivin, seseorang yang dikaruniai usia sangat panjang, sehingga dia diyakini masih hidup bahkan sampai saaat ini. Chiram – lama, jivi – hidup, hidup lama. Seorang chiranjivin tidak imortal, tidak abadi, tetapi berusia sangat panjang. Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan beberapa chiranjivin: Agastya, Markandeya, Bali, Parashurama, Hanuman, Vyasa, Ashwatthama, Kripa.

Zaman Kali (Zaman Besi)

Waktu terus berlalu dan zaman berubah dari Krta Yuga (Zaman Emas) ke Treta Yuga (Zaman Perak), masuk Dvapara Yuga (Zaman Tembaga) dan kemudian Kali Yuga (Zaman Besi). Di zaman Kali Yuga, sifat-sifat jahat berkembang lebih pesat, manusia nampak semakin egois dan menjadi budak dari pancaindra dan ini membuat Sang Resi sangat sedih. Resi Agastya kemudian pergi berziarah di wilayah India Selatan. Setelah mencapai Kanchi (Tamil Nadu) sang resi melakukan tapa.

Buku “The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO”, menyampaikan garis besar ke 4 zaman tersebut.

“Pada Zaman Emas, hidup adalah sederhana, begitu juga orang-orangnya. Kebenaran-lah yang mengatur sistem sosial. Kebenaran-lah yang menjadi hukum dan peraturan kehidupan. Orang-orang pada zaman itu sangat waspada terhadap pikiran-pikiran mereka, dan tidak akan mengijinkan benih-benih kebatilan tumbuh di dalam pikiran mereka. Kebenaran pun menjadi jalan menuju hidup yang terberkati”

“Hal yang demikian tidak terjadi pada Zaman Perak. Hidup menjadi lebih rumit, yang membuat orang semakin sulit dalam mengawasi pikiran mereka yang menghasilkan penyelewengan pada mind manusia. Sistem sosial tidak lagi diatur oleh kebenaran dan pikiran yang jernih, tetapi oleh seperangkat aturan buatan manusia. Orientasi manusia bergeser dari pikiran menjadi perkataan dan perbuatan.”

“Berikutnya, pada Zaman Tembaga, bahkan kata-kata serta perbuatan yang tepat pun sering diabaikan. Orang-orang melakukan semua jenis kejahatan untuk memenuhi keinginan-keinginan duniawi mereka. Maka pada zaman inilah supremasi cinta diagungkan. Para bijak menyampaikan bahwa cinta adalah solusi bagi semua kejahatan. Sebuah golden rule mengatakan, ‘Lakukan pada orang lain, hal yang kau inginkan dari orang lain melakukannya kepadamu’.”

Yang terakhir adalah Zaman Besi ditandai dengan berkurangnya kedamaian. Jika tidak ada kedamaian di dalam rumah tangga, maka tidak ada kedamaian di dalam lingkungan kita, tidak ada kedamaian di desa kita, kota kita, dan tidak ada kedamaian di negeri kita dan tidak ada kedamaian di dunia kita. Konflik dan kekerasan, yang sering berujung pada perang, berkuasa penuh pada zaman ini. Kebenaran, Kebajikan dan Cinta, semuanya mengalami penurunan.”

“Zaman di mana kita hidup sekarang ini. Kita sudah berada di zaman ini sejak 5000 tahun terakhir. Berdasarkan pada beberapa perhitungan, kita sedang berada di akhir sebuah siklus. Kita akan segera memasuki sebuah siklus baru, permulaan Zaman Emas lagi.”

Demikian Terjemahan Bebas dari Kutipan buku The Hanuman Factor tentang 4 zaman (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan membaca kisah Zaman Kali dalam category: Srimad Bhagavatam dari Blog: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

Resi Agastya bertemu dengan Resi Hayagreeva

Resi Agastya bertapa di daerah Kanchi (Tamil Nadu) dan Sri Vishnu mewujud sebagai Hayagreeva dan menemui sang resi. Agastya bertanya, “Wahai Penguasa Alam, adakah jalan keselamatan bagi mereka yang berada dalam  “ignorance”, ketidaktahuan, yang tidak mengetahui Kebenaran, tidak mengenal siapa jatidirinya pada zaman Kali Yuga ini?”

Hayagreeva menjawab, “Ada dua buah cara:

Cara pertama adalah renounce, menyangkal, menafikan segala sesuatu – Ini bukan Kebenaran, itu bukan Kebenaran. Dengan Gyaana Yoga mereka dapat mencapai Kebenaran tentang “Attributeless”, sifat Keberadaan yang tanpa sifat. Ini adalah sebuah cara yang sangat sulit.

Kemudian, cara kedua adalah tunduk dan menjadi devoti dari Bunda Ilahi, Bunda Alam Semesta. Bahkan orang yang melakukan kesalahan pun dapat mengambil jalan ini. Banyak yang mendapatkan keselamatan lewat jalan ini!”

Resi Agastya kemudian minta Hayagreeva menceritakan tentang Bunda Ilahi, Dewi Yang Paling Mulia, Dewi yang melampaui dualitas, melampaui hukum sebab-akibat, melampaui Maya. Bahkan ShIva pun tanpa I (shakti) menjadi Shava (jasad) yang tidak bisa bergerak. Bunda Ilahi adalah Para Shakti (mahashakti). Demikianlah asal usul kitab Lalitopakhyana, Kisah Dewi Lalitha, Sang Bunda Ilahi.

Silakan mengikuti Kisah-Kisah Lalitha, Sang Bunda Ilahi.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

One Response to “Pengantar Kisah Bunda Ilahi, Dewi Paling Mulia dalam Kitab Lalitopakyana”

  1. […] Bunda Ilahi selalu ada dan kadang mewujud seperti kala menjadi Mohini. Agar Bunda Ilahi berpihak kepada kita, kita perlu membiasakan berkarya tanpa pamrih. Para leluhur kita pun memberi pesan; “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe”. Dunia ini bersifat fana, maya, dan penuh ilusi yang memabokkan. Bunda Ilahi adalah Dewi Yang Paling Mulia, Dewi yang melampaui dualitas, melampaui hukum sebab-akibat, melampaui Maya. Bahkan ShIva pun tanpa I (shakti, energi) dari Bunda Ilahi akan menjadi Shava (jasad) yang tidak bisa bergerak. Resi Agastya meminta manusia menjadi devoti Bunda Ilahi agar memperoleh keselamatan di Zaman Kaliyuga (Silakan baca: Pengantar Kisah Bunda Ilahi, Dewi Paling Mulia dalam Kitab Lalitopakyana https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/08/06/pengantar-kisah-bunda-ilahi-dewi-paling… ) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: