Relief Candi Mendut: Kisah Kura-Kura dan Angsa Terbang, Dunia Menghambat Perjalanan Batin

Mendhut-Tantri01 kura2 angsa wikipedia

Relief Kura-Kura dan Angsa Terbang di Candi Mendut sumber Wikipedia

Pasang-Surut Ego yang Rawan Masalah

“Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kura-Kura menggigit kayu yang dicengkeram dua angsa. Ada ketakjuban dalam diri Kura-Kura merasakan bagaimana terbang di angkasa. Ada serigala yang menghina, dan egonya tersinggung. Anak-anak kampung memuji dan egonya bertambah. Dan ketika para putri istana minta penjelasannya, Kura-Kura menjadi lengah karena egonya ingin menjelaskan dan terjadilah musibah.

 

Kisah Kura-Kura dan Angsa dalam Perjalanan Menuju Telaga Kebahagiaan

Di sebuah kolam kecil seekor kura-kura berteman dengan dua ekor angsa. Terpengaruh pergantian musim, kolam tersebut kadang menyusut, kadang melimpah airnya. Kala air melimpah mereka bersuka ria. Kala air menyusut mereka menderita, bahkan cemas bila mengering kolamnya. Kedua angsa berkata bahwa mereka sudah bosan mengalami suka dan duka yang tak ada habisnya. Yang mungkin akan dialami mereka sepanjang hidupnya, sampai ajal menjemput mereka. Kedua angsa baru saja mendengar berita gembira. Seekor burung bijaksana berkata bahwa di puncak gunung ada sebuah telaga. “Telaga Kebahagiaan” dengan mata air yang tak ada habisnya. Kedua angsa bertekad bulat akan terbang menuju “Telaga Kebahagiaan” yang dapat membahagiakan mereka selamanya. Kura-kura tertarik dengan tekad  angsa dan berniat ingin mengikutinya.

Mereka berupaya mencari jalan keluarnya, dan sebuah ide cerdas diajukan Kura-Kura. Kedua angsa menyetujuinya. Walau mereka berpesan agar kura-kura selalu waspada, karena lengah sedikit saja, bahaya besar menimpa. Kedua angsa mencengkeram sepotong kayu pada ujung-ujungnya, dan Kura-Kura menggigit di tengahnya. Sebelum terbang mereka berpesan agar kura-kura fokus menggigit kayunya dan tidak berbicara sepanjang perjalanannya.

Di atas ladang sepasang serigala berkata, yang menggigit kayu itu bukan kura-kura tetapi kotoran kerbau, oleh-oleh buat anak angsa. Di atas desa anak-anak kecil ternganga, melihat kura-kura menggigit kayu yang dibawa terbang angsa di kanan dan kirinya. Anak-anak desa melambaikan tangannya dan berteriak, betapa berbahagianya Kura-Kura. Seumur hidup belum pernah terjadi peristiwa yang demikian langka. Di atas taman istana para putri terpesona. Mereka ingin mengetahui bagaimana awal cerita Kura-Kura mendapat karunia yang luar biasa. Kura-Kura lengah ingin menjelaskannya. Gigitannya lepas dan jatuh, badannya terbelah dua.

 

Nasehat Buat Sang Raja

Sang Raja datang dengan penasehatnya. Penasehatnya menjelaskan mengapa Kura-Kura jatuh di istana. Kebiasaan terlalu banyak bicara membuat lengah dan mengundang bencana. Sang Raja sadar bahwa sudah lama Penasehat menasehatinya agar pembicaraannya dikurangi. Ada waktunya bicara dan ada waktunya berdiam diri. Selama ini Sang Raja selalu mendominasi pembicaraan dengan para menteri. Peristiwa kura-kura membuat dia memahami kekurangannya selama ini….. Konon setelah beberapa kehidupan, Sang Penasehat berinkarnasi menjadi Sang Buddha. Sedangkan Sang Raja menjadi salah satu muridnya. Kisah Kura-Kura dan Angsa dapat mengubah pandangan hidupnya.

Anand Krishna memberikan contoh Hanuman yang menyimpan cincin Sri Rama pada mulutnya dan tidak membuka sebelum bertemu Ibu Sita. “Dengan menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya, Hanuman menutup rapat mulutnya. Ia tidak membuka mulut sampai ia tiba di Lanka dan bertemu Sita. Hal ini penting sekali untuk diingat, yakni pelajaran untuk menyimpan rahasia. Ketika Anda menjalani sebuah misi penting, janganlah membicarakan mengenai pro dan kontra serta tetek bengek mengenai misi yang Anda emban dengan siapa pun.  Pembicaraan semacam itu hanya membuktikan ketidak-siapan dan ketidak-percayaan diri Anda. Dan kegagalan Anda sudah hampir bisa dipastikan. Apa gunanya menjalankan misi Anda kalau demikian? Dengan menutup rapat mulutnya, Hanuman membuktikan kesiap-sediaan, kepercayaan diri, serta kebulatan tekadnya untuk menjalankan misinya. Hanuman, oh Manusia Ideal, kemenanganmu adalah sesuatu yang pasti! Terjemahan Bebas dari Kutipan buku The Hanuman Factor (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kura-Kura yang Mengabaikan Pesan Angsa untuk Selalu Waspada

Sang Kura-Kura sudah dalam perjalanan menuju “Telaga Kebahagiaan”. Ibarat seseorang yang mengikuti Instruksi Guru menuju Kebahagiaan Abadi, akan tetapi dunia di bawahnya selalu merayu Kura-Kura untuk membatalkan perjalanan.

“Dunia tidak pernah berhenti merayu kita. Dunia tidak rela melepaskan diri kita. Ia selalu berupaya agar kita menjadi bagian darinya. Bila rayuannya tidak berhasil, ia akan mengecam, mengancam, mendesak dan memaksa dengan menggunakan segala daya upaya. Pokoknya, kita tidak boleh keluar dari lingkarannya. Lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan, tak ada habis-habisnya. Dunia ingin memiliki kita. Keluarga, kerabat dan orang-orang yang mengaku seumat dan seiman ingin memiliki kita. Lembaga-lembaga keagamaan dan politik berebutan untuk memiliki kita. Kadang mereka bergabung untuk menyatakan kepemilikan mereka atas diri kita. Kita perlu berhati-hati, perlu waspada. Sebenarnya dunia tidak dapat memperbudak kita untuk selamanya, kecuali bila kita membiarkannya. Kecuali bila kita mau diperbudaknya.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Masih Memikirkan Pendapat Orang dan Pandangan Dunia

Kura-Kura tidak fokus sepenuhnya kepada tujuannya. Dia masih memperhatikan apa kata orang di bawah sana. Dia merasa marah pada mereka yang menghinanya, dia menepuk dada pada mereka yang menyanjungnya. Kura-kura masih ragu, masih bimbang dia masih memperhatikan keduniawian. Masih ada keterikatan.

“Ah, kita masih ragu, masih bimbang, masih takut, masih memikirkan pendapat orang, dan pandangan dunia. Kita masih mengharapkan masyarakat merestui hubungan kita. Sesungguhnya, harapan kita tidak pada tempatnya. Kita tidak membutuhkan fatwa untuk berhubungan dengan Tuhan, kita tidak membutuhkan izin dari siapa pun jua. Pertama, dunia akan memastikan bahwa keluargamu menghalang-halangimu. Keluarga yang menginginkan keterikatanmu, karena ingin memperbudak jiwamu, ingin menguasaimu, selalu menjadi penghalang utamamu. Jarang sekali kita temukan misalnya di mana keluarga justru menunjang atau membantu. Kedua, kawan dan kerabat akan meninggalkanmu. Ketiga, kau akan difitnah oleh dunia, berbagai hujatan akan dilontarkan kepadamu.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Yakin dan Sabar sebagai Teman Seperjalanan

“Keyakinan dan kesabaran adalah perahu yang dapat mengantarmu ke tepi seberang. Keyakinan dan kesabaran membersihkan jiwa dan menyucikan hati. Keyakinan dan kesabaran melenyapkan rasa takut, dan membebaskan kita dari segala macam penderitaan, keculitan, serta keraguan. Keyakinan dan kesabaran ibarat saudara kembar yang senantiasa melindungi kita dari segala macam marabahaya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: