Abhimanyu Penerobos Formasi Chakravyuha Dalam Perang Bharatayudha

chakravyuha formasi sumber my mind space blogspot com

Gambar Formasi Chakravyuha sumber: my mind space blogspot com

Putra Super dilahirkan oleh Ibu Istimewa

Belajar dari Mahabharata menunjukkan bahwa pengaruh terbesar terhadap seorang anak adalah dari Sang Ibu. Ibaratnya seorang Ayah hanya mengirim data lewat sperma dan setelah terjadi pembuahan, sel telur lah yang berkembang dalam rahim seorang Ibu selama 9 bulan. Di masa-masa awal kehidupan sang anak juga bergantung dari air susu sang ibu dan pendidikan awal adalah oleh sang ibu. Bahkan selama 9 bulan dalam kandungan sang janin telah belajar banyak dari sang ibu.

Super Pandawa adalah contoh nyata putra-putra dari Kunti yang istimewa. Sebaliknya Gendari yang tidak bahagia menurunkan para Korawa. Meskipun Krishna dan Baladewa sangat unggul akan tetapi para putra-putrinya lebih banyak dipengaruhi oleh istrinya masing-masing. Justru adik perempuan Krishna dan Baladewa, Subadra lah yang kawin dengan Arjuna dan melahirkan putra super Abhimanyu. Abhimanyu kawin dengan Utari, Putri Raja Matsyapati dari Kerajaan Wirata. Utari adalah perempuan istimewa, dia adalah murid dari Arjuna kala Arjuna dan saudara-saudaranya menyamar mencari kerja di Wirata. Dari rahim Utarilah lahir Raja Parikesit yang agung dan bijaksana menggantikan Yudistira sebagai raja Hastina.

“Wanita jauh lebih intuitif daripada kaum pria, lebih disiplin, lembut tapi tegas. Di wilayah peradaban Hindia, kaum perempuan tidak pernah dianggap sebagai warga masyakarat yang lemah dan oleh karenanya mesti selalu berada di bawah kaum pria. Bagi setiap pria yang ingin meraih keberhasilan: Hendaknya kau menghormati para wanita dalam hidupmu. Seorang wanita adalah personifikasi Bunda Alam Semesta. la adalah wujud kasih dan kekuatan, kelembutan dan ketegasan. Janganlah menyalahtafsirkan kelembutannya sebagai kelemahan. Tiada seorang pun yang menjadi besar, tanpa peran wanita dalam hidupnya. Oleh karena itu berterimakasihlah kepada kaum perempuan, bersyukurlah kepada Keberadaan atas kehadiran mereka dalam hidupmu.” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Wahyu Penguasa Negeri

Abhimanyu adalah seorang tokoh dalam perang Bharatayuda. Abhimanyu berasal dari dua kata Sanskerta, yaitu abhi, berani dan man’yu, karakter. Abimanyu berarti “Ia yang memiliki karakter tak kenal takut” atau “Sang Pemberani”.

Untuk memperoleh putra yang memperoleh Wahyu Penguasa Negeri dibutuhkan genetika dan pendidikan yang unggul. Kisah Wahyu Cakraningrat, yang seakan-akan Abhimanyu menerima wahyu setelah mengalahkan Lesmana putra Duryudana dan Samba putra Krishna perlu dimaknai lebih dalam. Leluhur kita sering memakai lambang yang tersirat dalam mendongeng bukan sekedar kata-kata yang tersurat. Untuk memperoleh putra super bukan dengan kisah tersurat sang ayah bertapa di hutan yang mengerikan. Apalagi disebutkan mereka bertapa di hutan Krendawahana yang mengerikan yang dijaga Bathari Durga. Kita juga perlu berhati-hati sebab Durga adalah Dewi Ilahi yang cantik dan sangat bijaksana walaupun sangat tegas terhadap kejahatan. Raja Erlangga adalah pemuja Dewi Feminin Durga. Hanya nampaknya setelah keruntuhan Majapahit, Durga mulai dijelek-jelekkan karakternya lewat kisah-kisah baru. Silakan baca blog: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/ category Lalitha.

Abhimanyu adalah generasi kedua yang paling terkenal dari Pandawa. Dengan kebajikan dan kemampuannya, ia dianggap sebagai ahli waris yang paling berhak dan memenuhi syarat untuk tahta Hastina. Putra Abhimanyu itu, Parikesit menjadi pewaris tunggal kerajaan Pandawa menggantikan Yudistira.

 

Formasi Chakravyuha

chakravyuh_pm60 sumber www exoticindiaart com

Gambar Chakravyuha sumber: exoticindiaart com

Dalam perang Bharatayudha 3 kali formasi cakravyuha digunakan, pertama saat Bhisma melawan Arjuna. Kedua saat Korawa melawan Abhimanyu. Abhimanyu bisa menerobos formasi akan tetapi paman-pamannya yang ada dibelakangnya ditahan Jayadrata sehingga terpisah dengan Abhimanyu. Formasi ketiga dimainkan Korawa untuk melindungi Jayadrata, akan tetapi dapat ditembus dan diporakporandakan oleh Arjuna apalagi setelah dibantu Gatotkaca dan pasukannya dari Nusantara.

Formasi Chakravyuha selalu berputar, sehingga setiap prajurit hanya barhadap-hadapan dengan musuh yang sama dalam waktu singkat. Prajurit lawan dibuat bingung dan tidak bisa menembus formasi tersebut. Pandawa selalu melawan musuh yang seimbang, akan tetapi melawan Formasi Chakravyuha mereka hanya bertarung dengan musuh sepadan sebentar kemudian sudah berganti musuh para prajurit sebelah musuh utamanya.

 

Belajar Ilmu Formasi Chakravyuha

Pendidikan Abhimanyu dimulai ketika ia masih dalam rahim Subadra itu. Dikisahkan sang janin mendengar Arjuna menguraikan Ilmu Formasi Chakravyuha kepada Subadra bagaimana rahasia untuk menerobos Formasi Chakravyuha. Akan tetapi kala Arjuna mulai menjelaskan tentang bagaimana keluar dan menghancurkan Formasi Chakravyuha, Subadra tertidur. Dan sesaat kemudian Arjuna dipanggil oleh Sri Krishna. Nampaknya sudah ada blueprint bahwa Abhimanyu belum paham cara keluar dari Formasi Chakravyuha. Sri Krishna paham bila Abhimanyu menguasai seluruh strategi maka Korawa akan digulung oleh Abhimanyu dan bukan oleh Pandawa. Dikisahkan bahwa Abimanyu adalah inkarnasi dari putera Soma, Dewa Bulan. Sang Dewa Bulan membuat perjanjian bahwa puteranya tinggal di bumi hanya selama 16 tahun. Abimanyu menjelang usia 16 tahun saat perang Bharatayuda.

Chakravyuha / Padmavyuha adalah formasi khusus dan hanya beberapa Petinggi Pandawa, yaitu, Arjuna, Abhimanyu, Krishna dan Pradyumna yang tahu cara menembus formasi ini. Namun Pradyumna, putra Krishna tidak berpartisipasi dalam perang Mahabharata, sedangkan Krishna secara resmi tidak ikut perang kecuali sebagai penasehat . Drona dan Bhisma dari Korawa dan Aniruddha, putra Pradyumna juga paham tentang formasi Chakravyuha.

 

Formasi Chakravyuha Dunia Memerangkap Diri Kita

Ibarat Abhimanyu, kita semua sudah masuk perangkap Chakravyuha Dunia. Hanya Abhimanyu mati untuk kembali ke Soma, ayahandanya sedangkan kita lahir berkali-kali untuk mempelajari Chakravyuha dan masih saja terperangkap dalam formasi yang sama. Sebagaimana Chakravyuha yang selalu berputar, kita pun menghadapi musuh yang selalu berganti-ganti.

“Dunia tidak pernah berhenti merayu kita. Dunia tidak rela melepaskan diri kita. Ia selalu berupaya agar kita menjadi bagian darinya. Bila rayuannya tidak berhasil, ia akan mengecam, mengancam, mendesak dan memaksa dengan menggunakan segala daya upaya. Pokoknya, kita tidak boleh keluar dari lingkarannya. Lingkaran setan kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dunia sangat licik, bisa selicik Korawa yang mengeroyok Abhimanyu.

“Dunia ingin memiliki kita. Keluarga, kerabat dan orang-orang yang mengaku seumat dan seiman ingin memiliki kita. Lembaga-lembaga keagamaan dan politik berebutan untuk memiliki kita. Kadang mereka bergabung untuk menyatakan kepemilikan mereka atas diri kita. Berhati-hatilah, kapal kita berada di tengah laut, wilayah kekuasaan para pembajak laut. Barangkali kita tidak melihat mereka, karena mereka selalu bersembunyi di balik ombak. Mereka pintar, licik. Kapan saja mereka dapat berlaga untuk membajak jiwa kita, untuk menumpas kesadaran kita.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sri Krishna Penunjuk Jalan bagi Arjuna

Arjuna beruntung mempuyai Sri Krishna dalam menghadapi Dunia. Sri Krishna adalah Guru bagi Arjuna.

“Seorang Guru datang dalam hidup kita bukan karena kehendaknya, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan seorang murshid atau seorang guru dalam hidup kita terjadi karena dikehendaki oleh-Nya. Itulah kenapa kita sujud kepadanya, karena sesungguhnya dengan sujud kepadanya kita sedang sujud kepada-Nya. Ciri-ciri seorang manusia sejati: Suci; Berani; Jernih pikirannya; Luas pandangannya; Menyebarkan keharuman dan kedamaian; Berkarya demi kebaikan sesama; Sehat sehingga dapat melayani sesama dengan baik; Melangkah dengan pasti, dan; Tidak sombong. (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Mereka menunjukkan jalan supaya kita jalan sendiri. Mereka membakar semangat kita. Mereka membangkitkan kembali jiwa yang sudah sekarat. Bila kita cukup beruntung dan telah menemukan komunitas spiritual yang dapat berperan sebagai support group, pemberangkatan kita menjadi pasti. Tapi, ya cuma sebatas itulah bantuan yang dapat kita harapkan dari mereka. Kenapa? Karena, bila kita tidak berjalan juga, mereka akan mendorong kita untuk terjun ke dalam diri. Saling dorong inilah pekerjaan support group.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Terbunuhnya Abhimanyu

Pada hari ke-13 perang Bharatayudha, pihak Korawa menantang Pandawa untuk mematahkan formasi perang melingkar yang dikenal sebagai chakravyuha. Pandawa menerima tantangan tersebut karena Sri Krishna dan Arjuna tahu bagaimana cara mematahkan formasi tersebut. Namun, pada hari itu, Sri Krishna dan Arjuna sibuk bertarung dengan laskar Samsaptaka. Oleh karenanya Pandawa memilih Abhimanyu yang memiliki pengetahuan tentang formasi chakravyuha. Abhimanyu tidak menyerang musuh di depannya tetapi musuh di kanan dan kirinya sehingga dia dapat menerobos formasi. Akan tetapi formasi di belakangnya segera menutup kembali. Abhimanyu selalu bisa menerobos ke tengah akan tetapi musuh di belakangnya selalu menutup kembali. Karena paman-pamannya tidak dapat menerobos masuk maka Abhimanyu masuk sendirian. Sudah banyak komandan prajurut yang dibunuhnya termasuk Lesmana putra kesayangan Duryudana, akan tetapi akhirnya Abhimanyu kelelahan. Atas nasihat Drona, Karna menghancurkan busur Abhimanyu dari belakang. Kemudian keretanya dihancurkan, kusir dan kudanya dibunuh. Tanpa menghiraukan aturan perang, pihak Korawa menyerang Abhimanyu secara serentak. Abhimanyu mampu bertahan sampai pedangnya patah dan roda kereta yang ia pakai sebagai perisai hancur berkeping-keping. Tak berapa lama kemudian, Abhimanyu terbunuh.

“Dunia ini sungguh membutuhkan beberapa manusia baik yang rela berkorban demi kebaikan umat manusia, untuk mencegah terjadinya kehancuran total – manusia-manusia baik yang rela mengorbankan kenyamanannya demi kebaikan dunia, manusia-manusia baik yang siap berkarya tanpa pamrih, demi kesatuan dan persatuan dunia. (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

3 Responses to “Abhimanyu Penerobos Formasi Chakravyuha Dalam Perang Bharatayudha”

  1. Wira carita yg menginspirasi dan sarat pelajaran kehidupan. Senantiasa menarik, meski karya ini telah 3000 tahun lebih.

  2. abhimanyu sangat hebat dan ganteng datang dong ke indonesia yah jangan lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: