Keangkuhan Indra dan Anugerah Bagi Mereka yang Berkarya Tanpa Pamrih

indra sumber ancientindians wordpress com

Gambar Indra sumber ancientindians wordpress com

Duka Adalah Sarana Pengingat

“Bersyukur dalam keadaan suka. Senantiasa mengingat-ingatkan diri bahwa Ialah Hyang Maha Kuasa, tiada kekuasaan diluarNya. Duka/kesulitan adalah “polisi tidur” supaya kita tidak terlena, tidak lengah, dan mengingatNya selalu. Tiada polisi tidur sepanjang jalan, ada kalanya beberapa sekaligus, satu setelah yang lain, tetapi ya sebatas itu saja, perjalanan ke depan mulus lagi. Kabir mengatakan ‘Dalam duka semua mengingatNya, dalam suka selalu lupa;  jika kau mengingatNya dalam suka, maka untuk apa mengalami duka?’ Berarti apa? Pengalaman duka hanyalah sarana untuk mengingatkan kembali kita yang sudah lupa. Jika sudah ingat terus, tidak ada lagi peringatan.” Dikutip dari Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Indra beberapa kali bertindak salah dengan merasa angkuh akan kebesarannya, sehingga mengalami penderitaan sebagai akibat dari kesalahannya. Akan tetapi pada dasarnya semua dewa berkarya tanpa pamrih demi kebaikan, sehingga Indra pun selalu memperoleh pertolongan. Kesalahan Indra justru menjadi pelajaran berharga bagi semua manusia.

Kesalahan Indra Membunuh Brahmana

Dalam kitab Lalitopakhyana dikisahkan bahwa Brihaspati, Guru para dewa mengingatkan bahwa di masa lalu, Diti, istri kedua Kashyapa melahirkan seorang putra dengan nama Danu dan seorang anak perempuan bernama Rupavati. Danu adalah pendahulu dari ras Danava (Asura). Rupavati menikah dengan Tvasta dan mempunyai anak Vishvarupa. Visvhvarupa melakukan tapa yang berat dan memiliki banyak sifat keilahian, akan tetapi dia adalah keponakan seorang asura, sehingga dia dekat dengan dewa maupun asura. Dikisahkan, beberapa waktu setelah menjadi raja para dewa, Indra berubah menjadi angkuh.

Karena kesalahan Indra, maka Indra ditinggalkan Gurunya dan kesempatan tersebut digunakan para asura untuk menyerang istana para dewa. Indra beserta para dewa dikalahkan. Para dewa kemudian berlindung kepada Sri Vishnu yang menyarankan agar Indra minta bantuan kepada Brahmana Vishvarupa, putra Tvasta. Indra dan para dewa kemudian mendatangi Vishvarupa yang lebih muda dibanding dengan Indra untuk membantu mereka. Dengan bantuan Vishvarupa para asura dapat dikalahkan para dewa. Bagaimana pun Vishvarupa adalah seorang yang mempunyai sifat dewa maupun asura, sehingga dalam suatu upacara persembahan dia mendahulukan kepentingan asura daripada para dewa. Indra yang emosional langsung membunuh Vishvarupa.

Tidak lama kemudian Indra sadar dan menyesal telah membunuh seorang brahmana (dikenal sebagai kesalahan brahmahatya) bahkan membunuh brahmana yang telah membantu dirinya dan para dewa. Dikisahkan, Indra berbagi akibat kesalahan tersebut kepada tanah, air, pohon, dan wanita. Karena itu sebagian tanah menjadi gurun, sebagian pohon mengeluarkan getah yang dilarang diminum, sebagian air saat menjadi gelembung tidak dapat dimanfaatkan, dan wanita tak tersentuh saat periode datang bulannya. Sri Vishnu kemudian memberikan kompensasi bahwa lubang-lubang bumi dapat terisi, pepohonan yang telah terpotong bisa hidupkan kembali, air kotor yang menguap setelah mengembun bisa diminum kembali dan perempuan dapat melahirkan anak-anak.

Kesalahan Indra Melecehkan Pemberian Bunda Ilahi

Sekali lagi Indra menjadi makmur. Namun, egonya segera meningkat lagi, bahkan hormatnya kepada Shiva mulai berkurang. Shiva kemudian minta Resi Durvasa menemui Indra. Sang Resi mengambil wujud seorang pengemis yang buruk rupa. Dalam perjalanan sang pengemis bertemu seorang bidadari yang memegang karangan bunga yang indah dan bertanya, “Darimana Anda memperoleh karangan bunga yang indah tersebut?” Sang bidadari menyadari bahwa di depannya adalah seorang suci dan dia langsung bersujud dan menjawab, “Kami baru saja melakukan persembahan kepada Bunda Ilahi dan kami diberi karangan bunga ini sebagai prasadam!” Sang pengemis minta karangan bunga tersebut dan sang bidadari memberikannya dengan penuh kerelaan. Sang pengemis kemudian bertemu Indra yang sedang naik Gajah Airavata. Indra yang egonya sedang naik, tidak peka dengan siapa yang ada di hadapannya. Saat sang pengemis berkata, “Indra ini adalah karangan bunga dari Bunda Ilahi, silakan ambil!” Indra menerima dan kemudian melemparnya ke kaki Gajah Airavata yang segera menginjaknya. Resi Durvasa kemudian mengutuk Indra, “Engkau terlalu angkuh, engkau tidak dapat mengenali prasadam dari Bunda Ilahi, karena itu kemakmuran Anda segera lenyap!” Indra kemudian sadar, tetapi sang resi telah menghilang. Tidak berapa lama para asura mengalahkan dewa dan Indra melarikan diri.

Bekerjasama dengan Para Asura Mencari Tirta Amritha

Kemudian Indra meminta bantuan Sri Vishnu. Sri Vishnu memberi petunjuk kepada para dewa, agar mereka mengadakan  gencatan senjata dahulu dengan para asura.  Mereka perlu mendapatkan Amritha, obat yang melindungi diri dari kematian. Sebelum ditemukannya Amritha yang membuat para dewa hidup abadi, kapan pun terjadi pertempuran antara para dewa dan para asura, maka para asura selalu berhasil membasmi dan mengalahkan para dewa. Dan kebenaran pun mulai memudar. Sri Vishnu berkata: “Lemparkanlah tanaman-tanaman terbaik kedalam samudera susu. Gunakan gunung Mandara sebagai tongkat pengaduk. Belitkan Raja Ular Vasuki kesekeliling tongkat pengaduk tersebut. Para asura dan kalian semua mesti mengaduk samudera tersebut secara bersama-sama. Pada akhirnya Amritha akan keluar dari samudera tersebut” Untuk kisah pengadukan samudera susu, silakan membaca blog: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/ category : Srimad Bhagavatam.

Akhirnya muncullah Dhavantari membawa wadah berisi Amrita di tangannya. Para asura langsung merampas wadah tersebut dan langsung melarikan diri. Kemudian terciptalah pertikaian di antara para asura memperebutkan Amritha. Tidak hanya dengan para dewa, dengan para asura lainnya saja mereka berkelahi untuk memperoleh keunggulan. Kebiasaan para asura adalah berlomba untuk mencari nomer satu.

“Orang yang gila akan kekuasaan akan selalu berlomba. Ia ingin menjadi nomer satu dan demi tercapainya keinginan itu, ia akan selalu melibatkan dirinya dalam perlombaan. Ia lebih mirip kuda-kuda yang digunakan di pacuan kuda. Jangan jadi binatang, jadilah manusia. Perlombaan, persaingan – semuanya itu sifat-sifat hewani. Manusia memiliki harga diri; ia cukup mempercayai dirinya sendiri. Ia tidak usah terlibat dalam perlombaan. Setiap manusia unik, tidak ada satu pun manusia yang persis sama seperti orang lain. Ia tidak perlu melibatkan dirinya dalam perlombaan untuk membuktikan keunggulannya.” (Krishna, Anand. (2002). Dalam buku Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kemunculan Mohini

Ketika para asura tersebut berdebat sengit muncullah sesosok bidadari yang sangat cantik yang tidak lain adalah Bunda Ilahi yang mewujud sebagai Mohini. Para asura yang sudah begitu takjub dengan kecantikan sang bidadari, berkata: “Ini adalah wadah yang berisi Amritha. Kami, para asura dan dewa adalah sama-sama keturunan Kasyapa. Kami telah sama-sama bekerja keras untuk memperoleh Amritha. Kami tidak tahu bagaimana membaginya. Berilah keputusanmu. Kami akan menerima apapun keputusanmu karena apapun yang kau putuskan pasti adil!”

Mohini yang cantik jelita tersebut mengambil wadah tersebut. Kemudian Mohini menitahkan para dewa dan para asura untuk duduk dalam barisan yang terpisah, kemudian ia pun muncul di tengah-tengah dua barisan para dewa dan asura tersebut dengan wadah berisi Amritha tersebut di tangannya. Dengan senyum dan tatapan matanya yang mempesona, sang bidadari berjalan di tengah kedua barisan tersebut; dan ketika para asura terkagum-kagum dengan kecantikannya, sang bidadari pun membagikan Amritha yang ada di tangannya kepada para dewa. Ketika para asura sadar, mereka marah akan tetapi Mohini telah lenyap. Para asura berperang melawan para dewa, akan tetapi para dewa sudah tidak bisa mati dan para asura melarikan diri.

Mengapa Mohini Memihak Para Dewa?

Para asura berkarya demi nafsu kepentingan pribadi mereka, sedangkan para dewa berkarya tanpa pamrih. Mereka tidak berkarya karena ingin memperoleh sesuatu bahkan mereka tidak menginginkan Surga. Kita juga melihat tindakan Sri Krishna yang berpihak pada Pandawa dengan mengajarkan beberapa muslihat kepada Pandawa untuk memenangkan perang melawan Korawa. Para Pandawa berperang untuk menegakkan dharma, sedangkan Korawa untuk mempertahankan status quo Kerajaan Hastina bagi kepentingan pribadi/kelompoknya.

Di masa kini, Uskup Desmond Tutu pun memberi pernyataan senada yang berpihak terhadap kebenaran: “Jika Anda netral dalam situasi ketidakadilan, Anda sudah memihak pada sang penindas. Jika seekor gajah menginjak ekor seekor tikus dan Anda mengatakan  bahwa Anda netral, sang tikus tidak akan bersimpati pada kenetralan Anda.”

Bunda Ilahi selalu ada dan kadang mewujud seperti kala menjadi Mohini. Agar Bunda Ilahi berpihak kepada kita, kita perlu membiasakan berkarya tanpa pamrih. Para leluhur kita pun memberi pesan; “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe”. Dunia ini bersifat fana, maya, dan penuh ilusi yang memabokkan. Bunda Ilahi adalah Dewi Yang Paling Mulia, Dewi yang melampaui dualitas, melampaui hukum sebab-akibat, melampaui Maya. Bahkan ShIva pun tanpa I (shakti, energi) dari Bunda Ilahi akan menjadi Shava (jasad) yang tidak bisa bergerak. Resi Agastya meminta manusia menjadi devoti Bunda Ilahi agar memperoleh keselamatan di Zaman Kaliyuga (Silakan baca: Pengantar Kisah Bunda Ilahi, Dewi Paling Mulia dalam Kitab Lalitopakyana https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/08/06/pengantar-kisah-bunda-ilahi-dewi-paling-mulia-dalam-kitab-lalitopakyana/ )

.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

One Response to “Keangkuhan Indra dan Anugerah Bagi Mereka yang Berkarya Tanpa Pamrih”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: