Gatotkaca, Satria Nusantara: Kesadaran Menjelang Kematian

Gatotkaca lawan Karna sumber www santaisejenak com

Gambar  Gatotkaca melawan Karna sumber www santai sejenak com

Gatotkaca Putra Harimbi dengan Bhima

Gatotkaca adalah putra Bhima dengan Harimbi, seorang raksasa wanita yang berubah cantik setelah di“sulap” oleh Kunti ibunda Bhima. Dalam pewayangan Jawa dikisahkan bahwa Pandawa dalam pengembaraan bertemu dengan Raja Raksasa Harimba. Harimba sedang bepergian dengan adiknya Harimbi untuk menemui Raja Jarasandha yang berniat mempersatukan kerajaan-kerajaan di dunia. Harimba dapat dikalahkan oleh Bhima, akan tetapi adiknya Harimbi jatuh hati kepada Bhima. Harimbi adalah seorang yang jujur, setia, tegas akan tetapi memiliki kelembutan yang cocok sebagai pasangan Bhima. Kunti tahu persis karakter Bhima dan paham bahwa Harimbi adalah putri yang tepat untuk mendampingi Bhima. Akan tetapi Bhima sulit menerima Harimbi yang berwajah raksasa. Dengan kesaktian Kunti, Harimbi diberi mantra sehingga hasilnya seperti operasi plastik zaman kini, dan berubahlah Harimbi menjadi putri yang cantik. Dari rahim Harimbilah nantinya lahir cucu Kunti, Gatotkaca yang akan menjadi pahlawan Nusantara yang mendukung Pandawa dalam peperangan Bharatayuda.

 

Kematian Jayadrata Perwira Astina Penyebab Kematian Abhimanyu

Gatotkaca mendengar Abhimanyu, saudara misan sekaligus sahabat dekatnya tewas dikeroyok para panglima Korawa dengan sangat keji. Dia juga mendengar bahwa Arjuna, sang paman yang dihormatinya marah melihat kekejian yang dilakukan para Korawa. Arjuna, sang paman bersumpah bahwa sebelum matahari tenggelam dia akan membunuh Jayadrata, yang membendung pasukan Pandawa yang datang membantu Abimanyu yang telah masuk perangkap dalam formasi Charavyuha. Gatotkaca mendengar bahwa Jayadrata sedang dilindungi dengan pasukan yang berlapis-lapis melalui formasi Chakravyuha.

Arjuna terus merangsek maju dan tetap fokus kepada posisi Jayadrata. Tujuh adik Duryudana yang menahan gerak laju Arjuna dibunuh oleh Bhima. Satyaki yang kelelahan membuka jalan bagi Arjuna, ditantang duel satu per satu oleh Burisrawa. Dengan dibantu Arjuna Burisrawa dapat dibunuh Satyaki. Lihat blog: http://sosbud.kompasiana.com/2013/07/30/karakter-korawa-dalam-diri-manusia-burisrawa-580812.html

Matahari semakin condong ke arah Barat dan Duryudana memberikan instruksi untuk melindungi Jayadrata semakin rapat. Bila matahari telah tenggelam dan Arjuna tidak berhasil membunuh Jayadrata, maka Arjuna akan malu dan mungkin akan bunuh diri karena frustrasi menahan malu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba matahari sudah tidak terlihat dan Jayadrata yang merasa selamat segera menampakkan diri sambil memandang ke langit yang gelap. Pada saat itulah Sri Krishna meminta Arjuna memanah Jayadrata yang nampak lengah dan matilah Jayadrata. Dan, tiba-tiba matahari bersinar lagi karena awan gelap yang menutupinya mulai berlalu. Alam bergerak sesuai skenario-Nya.

 

Membantu Arjuna Perang di Malam Hari

Duryudana semakin marah, atas masukan Shakuni, dia mengerahkan seluruh pasukannya mengepung Arjuna walau hari sudah benar-benar gelap. Dalam keadaan gelap mata, semua etika dan tata krama diabaikan, yang penting dendam segera terbalas. Aturan Perang Bharatayudha adalah dimulai setelah matahari terbit dan usai kala matahari tenggelam. Bagi Duryudana inilah kesempatan emas membunuh Arjuna yang tidak menduga Korawa meneruskan peperangan di malam hari. Arjuna di tengah-tengah Formasi Chakravyuha Pasukan Korawa segera diserang dari berbagai penjuru.

“Dalam Kisah Mahabharata versi Sanskerta, kejahatan para Kurawa yang paling dicela adalah persahabatan mereka dengan Shakuni, paman mereka. Shakuni adalah seorang cendekiawan, pintar, pandai, cerdik, licik. Dia yang selalu mempengaruhi Duryodhana untuk berbuat jahat. Duryodhana beserta saudara-saudaranya bagaikan tangan dan kaki manusia. ia Shakuni adalah ‘Sang Otak’.” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Gatotkaca segera sadar, ini adalah saat yang tepat baginya untuk memberikan pengorbanan guna membantu paman yang paling dihormatinya. Gatotkaca menyerang Korawa dengan seluruh pasukannya yang dibawa dari Pringgodani, sebuah daerah di Nusantara. Dia memberi semangat kepada pasukannya, “Kita semua akan mati, dan kini terbuka kesempatan mulia, apabila mati, kita akan dikenang sebagai pahlawan pembela kebenaran yang tak akan dilupakan sampai puluhan abad kemudian”. Semakin malam pasukan raksasa Gatotkaca semakin kuat dan semakin tajam penglihatan mereka, sehingga Korawa dibuat kocar-kacir. Ribuan pasukan Korawa dibunuh pasukan Gatotkaca.

 

Membalas Budi Kebaikan Pamanda Arjuna

Gatotkaca pernah diberitahu sejarah peristiwa kelahiran dirinya. Seluruh keluarganya berada dalam kerepotan, tali pusar dirinya tidak dapat diputus dengan berbagai macam senjata keris dan panah. Alkisah Arjuna dan Karna sedang bertapa di tempat berbeda untuk mendapatkan senjata sakti. Konon, Bathara Narada yang membawa karunia senjata panah Kuntawijayadanu sulit membedakan kedua satria putra Dewi Kunti tersebut. Bathara Surya sengaja memberi penerangan pada tempat Karna bertapa, sehingga lebih mudah dicapai dan Bathara Narada memberikan senjata tersebut kepada Karna. Akan tetapi karena tersirat semacam ketidak baikan dalam diri Karna, maka Narada hanya memberikan “panah”-nya, sedangkan “sarung”, wadah pusakanya diberikan kepada Arjuna yang bertapa di tempat lain. Dengan berbekal sarung senjata Kuntawijayadanu tersebut, Arjuna dapat memotong tali pusar bayi Gatotkaca, dan sarung tersebut hilang masuk ke dalam dirinya, sehingga dirinya menjadi sakti.

Menjelang turun ke medan perang, Gatotkaca ingat bahwa dia pernah melakukan dosa/kekhilafan membunuh pamannya yang bernama Kalabendana. Maksudnya hanya sekedar menempeleng akan tetapi karena kesaktiannya pamannya malah mati. Bagaimana pun Gatotkaca yakin bahwa apa pun yang terjadi adalah skenario alam bagi perjalanan spiritualnya menuju ke kesempurnaan.

“Dosa berarti kesalahan, kekhilafan. Biasanya jiwa yang ragu dan khilaf adalah jiwa yang kehilangan arah, maka tindakannya sudah pasti salah. Kekacauan pikiran menyebabkan tindakan yang salah, keliru dan tidak pada tempatnya. Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa. Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain. Membersihkan diri dari segala macam dosa berarti membebaskan diri dari segala yang membebani jiwa; beban pahala, maupun beban dosa itu sendiri.” (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kematian Gatotkaca

Gatotkaca meyakinkan dirinya, “Kemenangan perang Bharatayuda nampaknya akan ditentukan oleh perang tanding kedua pamandaku, Arjuna dan Karna putra-putra Eyang Putri Kunti. Senjata Kuntawijayadanu milik pamanda Karna sangat berbahaya bagi pamanda Arjuna. Gatotkaca sadar bahwa sarung Kuntawijayadanu berada di pusarnya. Pemandu Agung Sri Krishna telah memintanya untuk menghancurkan pasukan Korawa agar Duryudana putus asa dan menyuruh Karna mengeluarkan senjata andalan Kuntawijayadanu.

Gatotkaca tidak merasa berkorban. Berkorban berarti  dia punya ego dan egonya merasa memberikan sesuatu. Ego Gatotkaca menjelang kematiannya sudah meluas, dia merasa dirinya adalah dharma, pamanda Arjuna adalah dharma. Kemenangan Arjuna adalah kemenangan baginya juga. Dharma harus ditegakkan dengan tindakan apa pun juga, karena mereka yang tidak menegakkan dharma akan dihancurkan.

Saat berhadapan dengan Adipati Karna sebenarnya Gatotkaca sudah tahu datangnya kematian yang menjemputnya. Di angkasa tubuh Gatotkaca telah dikunci. Senjata Kunta Wijayadanu itu mengejar Gatotkaca bak peluru kendali. Akhirnya senjata itu menembus perut Gatotkaca melalui pusarnya dan masuk ke dalam sarungnya yang menyatu di perut Gatotkaca. Gatotkaca di akhir hayatnya tetap berupaya memusnahkan musuhnya sebanyak mungkin. Ketika jatuh ke bumi, Gatotkaca berusaha agar jatuh tepat pada tubuh Adipati Karna, tetapi senapati Korawa itu waspada dan cepat melompat menghindar sehingga kereta perangnya hancur berkeping-keping dan semua senjata yang berada di dalam keretanya meledak dan membunuh ratusan pasukan Korawa.

 

Perjuangan Gatotkaca Masa Kini

Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu. Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas. Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: