Gendari Bunda Para Korawa: Pencerahan di Ujung Kehidupan

Gandhari dan Drestarashtra sumber www uiovn com

Gambar Gendari dan Drestarastra sumber www uiovn com

Persiapan Gendari Menjelang Kematian

“Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian? Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Awalnya bisa dikatakan Gendari hidup dengan sangat egois. Kemudian sadar dan menutup kedua matanya dengan kain yang tak pernah dibuka untuk merenungkan makna kehidupan. Di akhir perjalanan hidupnya mengajak Drestarastra, sang suami menjalani Wanaprasta sampai kematian menjemputnya. Perjalanan rasa Gendari adalah dari “passion” menuju “love” dan berakhir pada “joy”.

Kekecewaan Gendari

Gendari  (Gandhari) adalah putri dari Prabu Gandhara dari negari Gandharadesa, atau Khandahar, di daerah Afghanistan. Dia mempunyai tiga orang saudara dan salah satunya bernama Shakuni yang mengikutinya pergi ke daerah Bharat, India.

Sebagai putri raja Gandhara dia berharap dipersunting oleh Pandu, Sang Maharaja Hastina, akan tetapi oleh Pandu dia dihadiahkan kepada saudaranya Drestarastra yang buta. Pandu memilih permaisuri Kunti putri Prabu Basudewa yang telah diambil anak angkat oleh Prabu Kuntiboja. Ada rasa sakit hati dalam hati Gendari yang tadinya berharap menjadi permaisuri seorang maharaja, kemudian menjadi istri dari seorang buta saudara sang raja. Dia makin sakit hati kala Pandu menurut saja disuruh Bhisma mengambil Madri, putri raja Mandrapati sebagai istri kedua. Mengapa dia tidak dijadikan istri kedua, karena pada saat itu seorang raja jamak beristri dua atau tiga untuk menjamin kelanggengan sebuah dinasti.

 

Ibu Para Korawa

Pada saat Gendari hamil, Kunti pun sedang hamil juga. Akan tetapi Kunti dengan mudah melahirkan Yudistira, Bhima dan Arjuna, sedangkan dirinya belum melahirkan juga. Dalam kegelisahan yang memuncak, dari rahimnya lahirlah segumpal daging yang belum berbentuk janin. Atas Bantuan Bhagawan Abhyasa yang menguasai ilmu kloning, maka daging tersebut diubah menjadi 100 orang bayi Korawa.

Pengaruh kejiwaan seorang ibu hamil sangat berpengaruh kepada calon putra yang dikandungnya. Kegelisahan seorang ibu dapat mempengaruhi janin yang dikandungnya, bahkan dapat membuat sang ibu melahirkan secara prematur. Demikian pula rasa emosi kebencian sang ibu terhadap seseorang membuat sang bayi terpengaruh olehnya. Oleh karena itu sejak dalam kandungan para Korawa sudah membawa bibit kebencian terhadap keluarga Pandawa. Hal tersebut ditambah lagi karena mereka sejak kecil diasuh oleh adik Gendari, Shakuni yang memang mempunyai rasa dendam terhadap Pandu dan Kunti. Shakuni pernah mengharapkan Kunti sebagi istrinya tetapi kalah saingan dengan Pandu. Gendari sendiri lebih sering merawat dan memperhatikan suaminya yang buta.

 

Isteri Raja Drestarastra

Saat Pandu meninggal, dan Drestarastra diangkat sebagai maharaja pengganti sampai Pandawa dewasa, jalan Shakuni menuju kekuasaan semakin lempang. Patih Hastina, Gandamana dianjurkannya pergi inspeksi ke daerah perbatasan, akan tetapi dijebak masuk perangkap dan terjatuh ke dalam sumur yang dalam. Shakuni kemudian diangkat sebagai patih Hastina. Karena Prabu Drestarastra buta, maka praktis kekuasaan berada padanya, hanya Kakek Agung Bhisma dan Widura, adik tiri Prabu Drestarastra yang menjadi ganjalan baginya. Pandita Drona yang masih perlu harta untuk menyenangkan putranya mudah dikendalikannya. Demikianlah para Korawa dididik Shakuni menjadi pemuda-pemuda yang ambisius dan menggunakan segala cara untuk mencapai keinginannya. Kurang perhatian dari sang ibu menyebabkan para Korawa tidak dapat mengembangkan potensi kelembutan di dalam diri mereka.

Gendari mulai sadar bahwa memang demikianlah suratan kehidupan yang harus dijalaninya. Gendari tidak ikut campur masalah pemerintahan, dia lebih memperhatikan Raja Drestarastra yang buta dan mengalami banyak masalah. Dia menjadi tempat tumpuan keluh kesah suaminya. Pada akhirnya Gendari menutup kedua matanya dan tidak lagi mau melihat keindahan dunia. Dirinya hanya memperhatikan suaminya dan menyediakan diri sebagai tempat curhat suaminya. Para pelayannya pernah berkata kepada Raja Drestarastra bahwa kedua mata Gendari telah lengket. Syaraf-syaraf matanya yang tidak digunakan sudah mengalami penurunan fungsi. Sudah menjadi buta sungguhan. Setiap habis mandi penutup matanya selalu diganti. Dan tak ada secercah keinginan pun untuk melihat barang sesuatu. Seorang istri yang amat setia. Yang telah menyatu dengan diri suaminya. Pikirannya hanya pada Destarastra. Bila sang suami sedih, dia pun ikut sedih.

 

Menjalani Nasehat Bhagawan Abhyasa

Gendari sangat percaya kepada Bhagawan Abyasa yang telah menyelesaikan permasalahan kelahiran putra-putranya. Apa pun nasehat Sang Bhagawan diingat-ingat dan dilaksanakannya. Sang Bhagawan menasehati agar dia selalu setia dan penuh kasih kepada suaminya. Sang Bhagawan berkata bahwa nanti akan terjadi peristiwa besar yang mengubah kehidupan Drestarastra, dan hanya dia yang dapat mengobatinya.

Pada saat Widura tersinggung dengan ucapan dan tindakan Duryudana yang tidak mau berdamai dengan Pandawa, Widura pergi melakukan tirtayatra, perjalanan ke tempat-tempat suci. Akan tetapi dia meminta putranya Sanjaya yang juga merupakan cucu kesayangan Bhagawan Abhyasa untuk menjadi kepala rumah tangga Drestarastra. Dari Sanjaya, Gendari mendapat butir-butir kebijaksanaan Sang Bhagawan. Pada saat perang Bharatayuda berlangsung, Sanjaya diberkati ilmu oleh Sang Bhagawan  Abhyasa untuk melaporkan progres peperangan kepada Drestarastra. Sang Bhagawan menguasi Veda dan mengumpulkan kitab-kitab Veda sehingga dia menguasi banyak pengetahuan. Sepertinya, bila zaman sekarang Sang Bhagawan sudah memasang CCTV di langit Kurukshetra, sehingga pergerakan apa pun dapat dipantau oleh Sanjaya dan dilaporkan kepada Drestarastra.

 

Setelah Perang Bharatayudha Berakhir

Selesai perang Bharatayuda, para Pandawa tetap menghormati Drestarastra dan Gendari layaknya orang tua mereka. Para pelayan begitu menghormati bekas raja yang buta dan istrinya yang selalu menutup matanya dengan kain hitam. Sepasang orang tua aneh yang menjadi bahan perbincangan seluruh kraton. Bhima yang kasar pun selalu tunduk begitu melihat mereka berdua berjalan dipandu pelayan mereka, dan menyapa dengan lembut. Tidak ada satu pun warga istana yang cemburu pada mereka dan semuanya melihat sepasang insan tua tersebut dengan penuh kasih sayang.

Pada suatu hari, Gendari berkata, “Suamiku, aku sudah mengabdikan diri padamu, apa pun yang kau rasakan dapat kurasakan. Ingatkah suamiku akan nasehat Ayahanda Abhiyasa sebelum perang Bharatayuda? Semuanya pada hakikatnya adalah manifestasi dari Hyang Widhi. Hanya ada satu tempat yang bisa menyangkal keberadaan-Nya dan itu ada di pikiran kita.” Dengan lirih Gendari meneruskan, “Dulu kita belum paham, akan tetapi segala penderitaan yang kita alami ini, membuat kita dapat memahami ucapan Ayahanda Abhyasa. Aku telah beberapa kali bertemu dengan Adinda Kunti. Dia berkata dengan tegas bahwa tugasnya di dunia telah selesai. Tugas dia adalah mendampingi para putranya kala memperjuangkan kebenaran, tetapi dia tak ingin menikmati kemenangan duniawi. Menikmati kemenangan bukan dharma dia, dia bertekad akan menyerahkan sisa hidupnya kepada Hyang Widhi dan meninggalkan kemewahan istana. Apakah kita tidak malu, bahwa dia yang putranya menang perang tidak mau menikmati kenyamanan hidup, sedangkan kita yang putranya kalah perang malah menikmati kenyamanan istana? Dalam darahmu ada warisan genetik dari Ayahanda Abhyasa yang bijak dan Kakek Resi Parasara yang suci. Kesucian ada dalam dirimu, suamiku! Mari kita lampaui penderitaan akibat pola pikiran kita yang salah!”

Drestarastra mengangguk pelan, “Benar isteriku, aku tak sanggup menanggung penderitaan ini tanpa dirimu, pikiran itu berlari kesana-kemari, dan kini aku sadar bahwa aku harus berpegang pada Hyang Widhi agar dapat tenang.”

Banyak jalan untuk menuju rumahNya, dan kita dapat memilih jalan yang mana saja, seperti tertulis dalam Bhagavad Gita, ‘Jalan mana pun yang kau tempuh, kau akan bertemu denganKu!’ Semua jalan benar adanya, sama-sama benar. Tidak ada satu pun jalan yang salah. Kesalahan adalah ketika kita bermalas-malasan dan tidak berjalan. Bila Hyang Maha Menawan hendak dituju, maka jalan kasihlah yang mesti ditempuh. Ini adalah jalan lembut, jalan yang penuh rasa. Inilah Bhakti, pengabdian purna waktu yang sepenuh hati. Mencintai Gusti Pangeran sebagaimana Rabi’ah al Adawiyya mencintai Tuhan. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Gendari berbisik lirih, “Beberapa hari lagi saudaramu Widura akan datang. Ajak dia bicara empat mata. Sampaikan permasalahan kejiwaan kita. Dia telah lama melakukan tirtayatra, perjalanan ke tempat-tempat suci dan dia tak mau melihat pertempuran di antara keponakan-keponakannya.”

 

Meninggalkan Istana

Tiga hari setelah Widura menginap di Hastina dan saling melepaskan kerinduan dengan seluruh kerabat, malam itu Widura mengajak bicara empat mata dengan Destarastra, “Adinda masih mempunyai tugas Ilahi. Bertemu kakanda adalah misi hidup adinda sebelum melepaskan tubuh tua ini. Adinda sudah tidak mempunyai keinginan yang lain lagi. Kakanda, tinggalkan semua kenyamanan semu ini dan pergilah ke hutan. Sang Kala berjalan cepat ke arah kita. Tidak ada kata yang yang dapat membujuk Sang Kala untuk membatalkan tugasnya. Kenyamanan istana ini bagaimana pun akan ditinggalkan kakanda juga. Waktu kita sangat pendek, jangan mengikuti mereka yang masih muda usia. Tidak ada gunanya menyesali kesalahan besar kita di masa lalu atau membanggakan diri rencana kebaikan besar kita di masa depan. Kita sudah jenuh dengan kenikmatan maupun penderitaan duniawi. Sebagai orang lanjut usia, kita harus memilih jalan tercepat, jalan bhakti, semua pikiran, ucapan dan tindakan hanya bagi Dia. Sisa hidup ini hanya bagi Dia semata

Destarastra minta ijin Widura untuk berbicara pada istrinya, dan malam itu juga mereka bertiga meninggalkan Hastina. Keesokan harinya Istana Hastina geger, mereka kehilangan sepasang orang tua, Drestarastra dan Gendari yang sudah menyatu dalam kehidupan mereka. Pamanda Widura di kamar tamu pun telah raib. Bhagawan Abhyasa datang dan berkata pada Yudistira, “Jangan dicari! Mereka akan berada di asrama para resi di tempat pertemuan tujuh sungai. Beberapa bulan lagi, Drestarastra akan  melepaskan jasadnya berbarengan dengan kebakaran hutan tempat mereka bertapa yang akan membakar Gendari . Widura pada saat ini sedang menuju Badarikasrama dan melepaskan jasadnya di sana!”

“Perjalanan spiritual, dimulai dari ‘aku’ yang terbatas menuju ‘kita’ yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari ‘kita’ menuju ‘Dia’ Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati. Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas.” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: