Membangkitkan Asmara Shiva, Kisah Kamadeva dalam Kitab Lalitopakyana

Kamadeva membidik Shiva dengan anak panah asmara sumber www ebay com

Gambar Kamadeva membidik Shiva dengan anak panah asmara sumber www ebay com

Kamadeva Sang Dewa Asmara

“Seks, napsu birahi, bukanlah sesuatu untuk dihindari. Anda tidak bisa menghindari. Seks, napsu birahi sesungguhnya sangat alami. Satu-satunya yang ‘masih’ alami. Makanan bisa diganti dengan ‘pil’. Tidur pun bisa direkayasa dengan ‘pil’. Kecerdasan otak pun bisa ditingkatkan dengan ‘pil’. Tetapi seks ‘belum’ bisa dinganti denga pil. Pelampiasan napsu birahi harus lewat seks. Entah dengan cara masturbasi atau senggama, lalu untuk senggama anda mencari lawan jenis atau sejenis atau bahkan vibrator dan boneka yang terbuat dari plastik, tetapi ‘masih’ harus dilakukan sendiri. Belum ada pil yang jika ditelan akan membuat anda lupa seks. Mereka yang sakit dan tidak bisa melakukan hubungan seks juga masih berpikir tentang seks. Tadinya ‘badan’ mereka yang make love, sekarang ‘pikiran’ mereka. Seks, napsu birahi muncul dari kesadaran rendah, kesadaran badaniah. Yang harus kita lakukan bukanlah mengharamkan sentuhan dan duduk kesebelahan, tetapi meningkatkan kesadaran diri. Peningkatan kesadaran diri inilah yang disebut ‘Pembangkitan Kundalini’ dalam tradisi Yoga dan Tantra.” (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Asmara sering dihubungkan dengan hubungan seks. Senjata Cinta Kamadeva akan mempersatukan sepasang manusia untuk melahirkan keturunan mereka. Senjata Cinta membantu Penciptaan Manusia. Ketertarikan terhadap lawan jenis adalah hal yang alami. Nafsu Birahi adalah hal yang alami. Yang penting dilengkapi dengan caring dan sharing. Loving, caring, dan sharing adalah produk 3 in 1. Cinta, kepedulian dan kerelaan untuk berbagi adalah tritunggal yang disebut compassion, kasih.

 

Senjata Kamadeva

Kamadeva adalah dewa tampan berkulit hijau bersenjatakan busur dari tebu dan tali busur dari madu lebah dengan anak panah terdiri dari 5 macam bunga. Dia ditemani burung kakatua, lebah, musim semi dan angin yang lembut. Busur berupa batang tebu bermakna bahwa sari tebu sangat lezat dan bisa menghapuskan dahaga kama atau nafsu. Tali busur dari madu lebah merupakan persembahan yang sangat berharga, madu adalah simbol dari sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan. Lebah hanya mengkonsumsi sepersepuluh madunya bagi keperluan dirinya dan bagian terbesar dipersembahkan kepada alam semesta.

Anak panah dari lima macam bunga yang terdiri dari: bunga Asoka yang yang bebas dari rasa sedih; bunga Teratai yang indah dan suci walau dikelilingi lumpur, yang terdiri bunga Teratai putih yang mekar diwaktu siang,  bunga Teratai biru yang mekar di waktu malam; bunga Melati yang melambangkan kesederhanaan, kesucian dan keelokan budi; bunga Mangga, bunga majemuk yang jumlahnya bisa mencapai 1000-6000 dalam setiap tangkai bunga.

Senjata Kamadeva adalah sarinya tanaman yang dikaitkan dengan tebu, sari yang dihasilkan hewan yang disampaikan lewat madu, serta keindahan dan keharuman sepanjang waktu yang diungkapkan dengan bunga.

Semua Makhluk Dipengaruhi oleh Senjata Kamadeva

Senjata Kamadewa efektif untuk segala keadaan dan segala waktu. Brahma berkata pada Kamadeva bahwa dengan panah keindahan yang menawan, dan busur batang tebu dengan harum bunga, dia akan melakukan pekerjaan membantu penciptaan. Dan, pekerjaan Kamadewa selamanya akan membingungkan pria dan wanita. Tidak dewa, tidak gandharva, tidak kinara, tidak ular, tidak asura, tidak daitya, tidak vanavidya, tidak raksasa, tidak yaksa, tidak pisaca, tidak bhuta, tidak vinayaka, tidak guhyasa, tidak vasiddha, tidak manusia. tidak burung, sapi, rusa, cacing, serangga, tak satu pun dari semua ini akan dibebaskan dari panah Kamadeva.

 

Terpenggalnya Ego Panglima Prajapati Daksha

Dalam lalitopakyana dikisahkan bahwa Sati istri Shiva membakar diri dengan yoganya, karena tindakan Daksha, sang ayah yang mengucilkan dirinya dan menghina suaminya dengan tidak mengundang mereka dalam upacara yajna. Daksha akhirnya mati dibunuh Virabadra, makhluk ciptaan Shiva. Selanjutnya Daksha dihidupkan lagi oleh Shiva dengan mengganti kepalanya dengan kepala kambing.

Kisah ini bermakna bahwa seseorang yang sudah dekat dengan Tuhan (Sati), masih berkeinginan duniawi dengan datang ke acara ayah duniawinya yang merupakan panglima prajapati para dewa. Tindakan tersebut akan mengakibatkan kekecewaan dan penderitaan.  Daksha adalah contoh orang yang sukses, bangga akan kemampuan dan kekuasaannya sehingga egonya mengembang serta lupa menundukkan kepala kepada Tuhan. Daksha sangat terpukul dengan kematian putri tercintanya. Daksha yang berkepala kambing adalah seorang yang sudah terpenggal egonya, dia akan selalu patuh kepada Tuhan. Daksha baru sudah menerima anugerah untuk menghacurkan egonya. Daksha Baru adalah seorang yang hanya mendengarkan hati nuraninya dalam bertindak, “Biarlah kehendak-Nya yang terjadi, bukan kehendak pikiranku.”

Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/) menyampaikan:

“Dalam Lukas 23:46 kita diberikan inti dari doa. Inilah akhir dari segala doa. Inilah Islam, atau submission to the will of the Lord. Inilah ‘nrimo’ yang sesungguhnya. Inilah surrender, sharanaagati, atau bhakti, ‘Ya Bapa, Gusti, Allah, Widhi, Buddha, apa pun sebutan kita, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku.’ Berarti menyerahkan hidup ini. Tidak perlu menunggu untuk disalibkan seperti Yesus, jangan tunggu sampai ajal tiba – serahkan dirimu, egomu, pribadi-palsumu kepada Dia, sekarang dan saat ini juga… Ini adalah milikku, ini terjadi karena aku, aku berjasa, aku yang bisa meluruskan apa yang sudah bengkok lama, aku tahu cara menyelesaikan konflik, orang lain hanya bisa memulai konflik, aku lebih pintar, dan lebih berpengalaman – aku, aku, aku – aku inilah sumber dari segala macam persoalan. Aku inilah yang mesti dipenggal kepala-egonya, aku ini mesti mati, supaya Sang Aku, Jiwa Sejati bangkit dalam segala kemegahan dan kemuliaannya. Saksikan kebangkitan dirimu sendiri, jadilah saksi bagi kehidupan abadi dimana maut tidak dikenal lagi, rahayu.”

Lukas 23:46:  Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

 

Parvati Sang Putri Gunung

Dikisahkan Himavanta (Himalaya) dan bidadari Menaka berhasrat agar apabila Sati lahir kembali bisa menjadi anak mereka. Mereka bertapa selama 150 juta tahun. Akhirnya mereka punya anak yang diberi nama Parvati (putri Parvata, putri Gunung). Setelah Parvati remaja, Rishi Narada datang dan berkata kepada Himavanta dan Menaka bahwa Shiva sedang bertapa disekitar wilayah tersebut dan minta agar Parvati melayani Shiva. Himavanta menemui Shiva, dan Shiva setuju Parvati untuk melayani dan menyiapkan keperluannya bertapa, dan Shiva kembali kepada meditasinya.

 

Bangkitnya Rasa Asmara Shiva

Pada suatu saat Kamadeva, dewa kama yang  juga disebut Manmatha, sang pengaduk hati menuju ke tempat Shiva. Kamadeva memasuki tempat tinggal Siwa secara diam-diam, bersembunyi di balik batu dan melihat Shiva yang sedang melakukan  meditasi. Pada saat yang sama, Parvati datang ke sana sedang bangkit setelah membungkuk rendah bersujud kepada Shiva, pakaian atas nya terselip sedikit. Tepat pada saat itu, Manmatha memanah Shiva, dan  pikiran Shiva terpengaruh sedikit. Mencermati hal ini, Parvati merasakan sukacita dalam hati.

Tetapi Shiva kemudian sadar, mengapa musim semi datang bukan pada saatnya dan dia melihat Kamadeva sedang bersembunyi. Shiva kemudian mengarahkan mata ketiganya kepadanya dan terbakarlah Kamadeva. Parvati pingsan melihat hal tersebut dan ketika bangun Shiva sudah pergi dari tempat tersebut. Parvati kemudian bertapa sampai akhirnya Shiva terketuk hatinya dan menikahi Parvati.

 

Musim Semi atau Keremajaan Shiva diperlukan oleh Dunia

Dunia sedang membutuhkan keturunan Shiva, musim semi yang datang pada Shiva adalah untuk keperluan keberlangsungan dunia.

“Kita memisahkan masa kecil dari masa remaja dan masa remaja dari masa tua. Kita membedakan kelahiran dari kematian seolah keduanya adalah dua kubu yang terpisah, yang tidak pernah bertemu. Padahal, seorang anak kecil pun menyimpan di dalam sanubarinya, bukan saja ‘keceriaan seorang remaja’ tetapi juga ‘kematangan seorang dewasa’ dan ‘kebijakan seorang tua’. Seorang remaja pun demikian, masih ada ‘seorang anak’ di dalam dirinya yang ingin bermain, bercanda. Dan, seorang tua pun masih memiliki ‘semangat remaja’ yang sesungguhnya tidak pernah padam di dalam dirinya. Karena tidak memahami hal ini, kita sengsara. Kita hidup setengah-setengah. Kita tidak pernah hidup sepenuhnya. Kempat sifat eksis dalam setiap masa. Seorang remaja tengah membunuh ‘anak kecil’ di dalam dirinya. Seorang dewasa berupaya untuk melupakan keremajaannya. Dan, seorang tua tenggelam dalam ketuaannya. ‘Pertumbuhan’ adalah esensi masa kecil. ‘Semangat yang membara’ adalah hakikat masa remaja. ‘Kematangan’ adalah ciri seorang dewasa, dan ‘kebijakan’ adalah pertanda seorang tua. Namun demikian, keempatnya juga eksis dalam setiap masa. Kadarnya boleh beda. Kebijakan dalam diri seorang anak kecil barangkali tidak sama seperti dalam diri seorang tua. ‘Barangkali’, karena ‘tidak selalu’ demikian. Kadang, seorang anak kecil pun terbukti lebih matang daripada seorang dewasa, dan lebih bijak daripada orang tua. (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hutang-Piutang Masa Lalu Kamadeva?

Dewi Rati, istri Kamadeva datang ke tempat tersebut dan menangis melihat keadaan suaminya. Vasanta,dewa musim semi  saudara Kamadeva menghiburnya dan berkata bahwa semuanya memang harus terjadi. Kamadeva harus menyelesaikan hutang-piutang perbuatannya di masa lalu. Karena niat Kamadeva yang mulia, bukan untuk kepentingan pribadi tetapi demi keselamatan umat tiga dunia yang pada saat ini di bawah cengkeraman Tarakasura. Tarakasura hanya dapat dikalahkan oleh putra Shiva dan Parvati, maka Kamadeva  telah menempuh resiko yang sangat besar. Vasanta minta agar Dewi Rati bersabar, karena akan datang saatnya Kamadeva hidup kembali.

 

Kisah Bunda Ilahi

Bunda Ilahi selalu mengasihi devotinya, yaitu mereka yang berkarya demi kepentingan makhluk lain tanpa pamrih pribadi. Mengapa Kamadeva harus mengalami kematian? Apa yang akan terjadi bila dunia kehilangan gelora nafsu? Masihkan dunia berkembang bila sudah tidak ada lagi kasih sayang antara pria dan wanita, antara hewan jantan dan betina, antara putik sari dengan bunga?

Ternyata ada kisah lain di balik kematian Kamadeva. Melihat sebuah kehidupan itu tidak bisa sepotong-sepotong, harus secara holistik, karena masa kini adalah kelanjutan dari masa lalu, dan masa depan adalah kelanjutan dari masa kini. Ternyata Dunia kerepotan tanpa pengaruh Kamadeva. Apakah dunia akan menuju pralaya? Ikuti kisah selanjutnya!

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: