Vibhisana Berseberangan Dengan Kepala Negara Demi Menegakkan Dharma

Vibhishana pasrah terhadap Sri Rama sumber www namadwaar org

Gambar Vibhisana pasrah terhadap Sri Rama sumber www namadwaar org

Perjalanan Karakter dari Rahwana lewat Kumbhakarna menuju Vibhisana

Perjalanan spiritual, menurut Swami, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari “kita” menuju “Dia” Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati. Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas. (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Rahwana mewakili ego yang hanya memikirkan diri pribadi, termasuk menculik Sita dengan menggunakan segala cara dan mempertahankannya dengan kekuasaan. Kumbhakarna mewakili ego yang sudah meluas memikirkan negara yang menghidupinya, sehingga walaupun tahu kepala negara sekaligus kakak kandungnya nya salah, dia berperang membela negaranya yang sedang diserang. Vibhisana mewakili diri yang sudah sadar, bahwa kakak-kakaknya Rahwana dan Kumbhakarna adalah saudara dalam kehidupan kini. Vibhisana mengasihi kakak-kakaknya, akan tetapi dia lebih mengasihi Dharma, Kebenaran yang Nyata dan Abadi. Wujud kakak-kakaknya hanya sementara di dunia, yang belum tentu dikenalnya dikehidupan sebelumnya maupun yang kehidupan yang akan datang. Akan tetapi Dharma, Kebenaran adalah kerabat yang terdekat sepanjang masa kehidupan. Kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berharga untuk ditegakkan.

 

Vibhisana Bertemu dengan Hanuman

Setelah menyempaikan pesan Rama kepada Sita, Hanuman sempat bertemu dengan Vibhisana. Vibhisana adalah devoti Vishnu dan yakin bahwa Sri Rama adalah Vishnu yang mewujud untuk menegakkan dharma. Setiap pagi dan senja Vibhisana selalu berdoa untuk keselamatan Sri Rama. Doa/chanting/meditasi yang rutin tersebut menyebabkan Vibhisana tidak terpengaruh oleh lingkungan raksasa di Alengka. Vibhisana berkata kepada Hanuman: “Wahai Hanuman, engkau sungguh beruntung telah dipilih sebagai Duta Sri Rama. Tahukah wahai Hanuman, mengapa saya yang berdoa setiap hari terhadap Sri Rama belum dapat bertemu Sri Rama?” Hanuman menjawab: “Pangeran Vibhisana, karena senantiasa doa  maka Pangeran akanmemperoleh kesempatan dharsan, bertemu muka dengan Sri Rama. Akan tetapi sekedar berdoa kurang bermakna, doa harus diikuti perbuatan nyata. Paling tidak Pangeran harus menyuarakan Kebenaran. Karena yang paham diam maka negeri Alengka mengalami carut-marut dalam penegakan dharma.”

“Janganlah engkau menyerah sebelum mencoba. Cobalah bersuara… kumpulkan seluruh tenagamu dan bersuaralah dengan jelas. Suaramu akan terdengar, pasti. Kau menjadi pemimpin karena keyakinanmu, semangatmu, suaramu. Percayalah pada dirimu. Sukarno, Gandhi, bahkan para nabi seperti Isa dan Muhammad pun seorang diri. Para bijak seperti Lao Tze dan Siddhartha juga seorang diri. Merekalah yang mengubah dan membuat sejarah. ‘Barangkali banyak diantara kita takut bersuara.’ Ya, itulah, sebab kita tidak bersuara. Kita takut. Bukan takut tidak didengar, tapi takut ribut. Takut mengundang persoalan. Kelompok lain dianiaya, aku bungkam. Kemudian kelompokku dianiaya. Namun, sebelum kusadari, penganiayaan pun terjadi pada diriku… dan tidak seorang pun membantuku, karena semua beranggapan sama, yang dianiaya bukanlah mereka! (Krishna, Anand. (2006).” Indonesia Under Attack Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Vibhisana menjalankan nasehat Hanuman, menyampaikan kesalahan Rahwana yang menculik Sita dan agar mengembalikannya. Rahwana tersinggung dan mengusir Vibhisana dari Alengka, yang kemudian menemui Sri Rama di hutan.

 

Vibhisana Dalam Diri

Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/) menyampaikan: “Para budak napsu selalu menempatkan diri sebagai pemimpin, persis seperti Rahwana. Ia diperbudak oleh dosomuko, sepuluh muka indra sensori dan persepsi; mata, telinga, hidung, mulut, kulit, penglihatan, pendengaran, penciuman, pececapan, dan perabaan. Itulah sebab kebinasaannya. Dan, bersama dia ikut binasalah seluruh kaumnya. Apa salah kaumnya? Hanya satu, mereka mengikuti Rahwana dan tidak menggunakan akal-sehat mereka. Wibisono yang menggunakan akal sehatnya terselamatkan. Saat ini kita semua tinggal dalam kerajaan dunia dimana budak napsu dosomuko Rahwana menjadi pemimpin.”

“Apa yang mesti kita lakukan? Mencari Wibisono, karena dalam setiap kerajaan Alengka, niscayalah ada seorang Wibisono. Berpihaklah padanya. Berdirilah bersamanya. Dalam unit terkecil, diri kita adalah Alengka. Saat ini dosomuko mental/emosional berkuasa. Tapi kesadaran Wibisono pun ada berupa suara hati. Berpihaklah pada dia, dan bebaskan dirimu dari kuasa dosomuko. Maka, niscayalah Wibisono mengantarmu ke Sri Rama, ke Allah. Maha Besar Allah! Salam Pembebasan dari napsu rendahan!”

 

Vibhisana Bertemu dengan Kumbhakarna

Sebelum pergi dari Alengka, Vibhisana menyempatkan diri menemui Kumbhakarna.  Kumbhakarna memeluk adiknya denganpenuh kasih. Vibhisana berkata: “Kakanda Rahwana telah menghina saya di sidang terbuka dan menendang saya keluar pendopo. Saya telah memberitahu dia dengan segala cara, tetapi dia tetap mempertahankan pendiriannya untuk tidak mengembalikan Sita. Sebentar lagi saya akan dikejar-kejar para pengawal Raja. Sri Rama akan melindungi saya dari kejaran para pengawal Raja.”

Mendengar hal demikian, Kumbhakarna berkata: “Adikku yang paling kukasihi, Kanda Rahwana sudah di ambang kematian. Bagaimana dia akan memperhatikan nasehat yang baik. Adinda telah melakukan hal yang benar. Adinda tidak lagi Vibhisana, sekarang telah menjadi Vibhusana (ornamen yang paling indah seperti permata). Adinda telah memahami bahwa negara pun hanya merupakan Maya yang tidak abadi yang berguna bagi peningkatan kesadaran kita. Sedangkan Dharma, Kebenaran adalah yang benar-benar Nyata. Adinda telah memuliakan dan mensucikan klan Rakshasa. Saya harus bertempur demi negara, saya juga mendekati kematian. Permohonan saya demi negara, apabila Alengka di kalahkan pasukan Rama, bangunlah negeri yang baru berdasar dharma.”

 

Vibhisana tidak Terbawa oleh Ketidaksadaran Massal Para Rakshasa di Alengka

Vibhisana selalu rutin berdoa/chanting/meditasi sehingga tidak terpengaruh oleh mob-consciousness di Alengka. Saat berdoa, bukan hanya tubuh Vibhisana yang menghadap Tuhan. Pikiran dia pun tidak seperti pikiran kita yang  berkiblat pada harta benda. Perasaan Vibhisana tidak seperti perasaan kita yang berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri.

“Dharma adalah kesatuan, persatuan, keutuhan, kebersamaan, sekaligus kebajikan, Dan intisari dari segala kemuliaan. Dharma adalah kemanusiaan Manusia dan ketuhanan Tuhan. Dharma adalah penopang jagad raya. Sebab itu, Dharma menjadi keseimbangan dalam segala hal. Bagaimana menerapkan Dharma dalam keseharian hidup? Buddha menjelaskannya sebagai “jalan tengah”. Jangan berlebihan dalam hal apa pun juga. Dengan menjaga dan mempertahankan keseimbangan diri, Anda menjadi selaras dengan semesta yang selalu berada dalam keseimbangan sempurna. Tanpa nilai dasar dharma, Anda tidak bisa bersikap adil. Keadilan adalah hasil dharma.”

“Kita terbawa oleh mob consciousness—kesadaran gerombolan. Kita terbiasa mengungkapkan pendapat “umum” dan bahkan menerima pendapat “mayoritas”. Itulah sebab segerombolan orang jahat—orang yang berniat jahat—selalu menggunakan media untuk mempengaruhi Anda. Ketika Anda melihat sekian banyak orang menonton pertunjukkan tertentu, Anda ikut menontonnya. Ketika Anda mendengar sekian banyak orang membicarakan sesuatu, Anda ikut membicarakannya.”

“Kesadaran gerombolan ini membuat Anda semakin malas untuk memutar otak. Lama-lama otak Anda melemah dan mempercayai apa saja yang disuguhkan padanya. Inilah yang sedang terjadi saat ini. Para Sadguru dan para sikh, para murid, yang sudah “selaras” dengan Sang Guru, dalam pengertian mereka sudah sepenuhnya “memahami, menerima, menghayati, dan berkomitmen untuk ikut mewujudkan visi dan misi Sadguru”, tidak pernah terpengaruh oleh kesadaran gerombolan. Jika kita masih terpengaruh oleh kesadaran gerombolan, kita belum siap menjadi sikh atau murid. Kita belum selaras dengan visi dan misi Sang Guru.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: