Menyaksikan Perselingkuhan, Kisah Dua Burung Beo pada Relief Candi Mendut

Mendhut-Tantri-2_parrots wikipedia

Gambar dua burung Beo pada Relief Candi Mendut sumber Wikipedia

Pengolahan Otak Harus Diimbangi Penghalusan Rasa

“Tidak berarti bahwa otak tidak perlu diasah. Tidak berarti bahwa ilmu tak berguna. Otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus. Kemampuan untuk “mengenal fakta” datang dari ilmu. Kepekaan untuk “melihat kebenaran” berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membuka bagi saya semua pintu ilmu.” (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah dua burung beo yang menyaksikan perselingkuhan istri seorang brahmana, membuat kita merenung apakah kita cukup dengan mengembangkan otak saja ataukah juga perlu mengembangkan intuisi kita.

 

Menyaksikan Perselingkuhan Istri Brahmana

Dua bersaudara burung beo ditangkap pemburu dan diserahkan kepada seorang brahmana. Mereka dipelihara dengan sangat baiknya, sehingga walau tidak diikat mereka tidak pergi juga, karena ingin membalas budi pada Sang Brahmana. Pada suatu hari Sang Brahmana pergi keluar kota untuk beberapa lama dan berpesan kepada kedua beo bersaudara. Agar mereka dapat menjaga istrinya. Bila istrinya berbuat tidak baik tolong diingatkan oleh mereka.

Ternyata istri Sang Brahmana tidak setia, setelah Sang Brahmana pergi dia bermain cinta dengan kekasih selingkuhannya. Baik di dalam maupun di luar rumahnya. Beo muda yang masih remaja berkata pada kakaknya yang sudah dewasa: “Kakak, kita diminta menjaga istri Sang Brahmana. Dia berpesan agar kalau istrinya berbuat tidak baik kita diminta mengingatkannya. Mengapa kita tidak mengingatkan istrinya?” Sang kakak berkata dengan bijaksana: “Adikku, kita harus tetap waspada, istri Sang Brahmana terlalu keji. Kita harus hati-hati dan melihat dengan jeli. Mari kita tunggu Sang Brahmana datang, kita laporkan dan segera pergi. Mungkin Sang Brahmana sudah mencurigai sang istri. Dan, kita diminta memberikan konfirmasi. Istri sang brahmana masih dipengaruhi oleh naluri hewani, hanya wujudnya manusia, akan tetapi tindakannya masih seperti hewan.”

“Setelah berhasil memahami sebagian rahasia DNA manusia dan berhasil memetakannya, para saintis pun bingung. Ternyata DNA manusia, blue print dasar manusia itu, menyimpan rahasia alam semesta. Setiap orang memiliki ‘memori’ yang bisa ditarik ke belakang sampai asal-usulnya alam semesta. Sungguh misterius! Jadi setiap manusia juga memiliki naluri hewani. Dituntun olehnya, tindakan anda akan menjadi hewani. Dipengaruhi olehnya, pikiran anda akan menjadi hewani. Dikuasai olehnya, ucapan-ucapan anda akan menjadi hewani.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Beo Remaja yang Kurang Waspada

Sang Beo Remaja tak bisa menahan diri. Pada suatu hari dia menemui istri Sang Brahmana dan menasehati, “Mengapa Nyonya melakukan tindakan tidak setia? Mohon jangan diulangi lagi, tidak baik seorang isteri melakukan ini!” Istri Sang Brahmana berkata, “Beo remaja yang bijaksana kau benar dalam berkata. Mari ke sini kuelus lehermu. Sebagai rasa terima kasihku. Aku tidak akan selingkuh lagi karena nasehatmu.” Istri Sang Brahmana memegang leher beo remaja. Dipuntir lehernya sampai kehilangan nyawa dan badannya dimasukkan api di dapur yang tengah membara.

Burung beo remaja belum paham, bahwa sang istri brahmana  adalah manusia, akan tetapi masih mengikuti naluri kebinatangan. Sehingga dia kurang waspada.

“Binatang harus mengikuti nalurinya. Ketika lapar, ia akan makan. la tidak bisa menahan diri. Ketika haus, la akan minum. Ketika harus melampiaskan napsu birahi, la akan melakukannya. Tidak perlu suasana, tidak perlu basa-basi. Lihat saja anjing-anjing di tengah jalan. Hanya manusia yang dapat melakukan sesuatu dengan ‘kesadaran’. la sudah tidak ‘perlu’ mengikuti nalurinya. la bisa ‘mengurus’ dirinya sendiri. Mereka yang ‘merasa’ digoda oleh Setan, lalu bertindak sesuai dengan apa yang mereka sebut ‘bisikan Setan’, sesungguhnya sedang mengikuti nalurinya. Dan manusia memang memiliki ‘naluri hewan’ the basic instincts.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kematangan Beo Dewasa Menghadapi Orang Berbahaya

Beo Dewasa sadar bahwa menghadapi manusia berbahaya yang tidak bisa dinasehati, perlu kehati-hatian.

“Orang yang dengki menjadi kalap; matanya tertutup. la tidak bisa memilah lagi, tindakan mana yang tepat dan yang mana tidak tepat. la seperti seorang pengemudi yang mabuk. la dikuasai oleh ‘alkohol’, oleh ‘anggur’. la akan mencelakakan dirinya dan orang lain. Dalam perjalanan, jika anda bertemu dengan seorang pengemudi seperti itu, apa yang akan anda lakukan? Menyadarkan dia? Percuma. la tidak akan menghentikan kendaraannya. la tidak akan mendengarkan nasihat anda. Satu-satunya jalan adalah ‘menyingkir’, melindungi diri. Jangan sampai jadi korban ketololannya.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Beo Dewasa pura-pura tidak mengetahui kejadian yang menimpa adiknya. Istri Sang Brahmana masih tetap berselingkuh. Saat Sang Brahmana pulang dia bertanya kepada Sang Beo bagaimana kabar istrinya. Sang Beo menceritakan tentang perselingkuhan istrinya. Setelah dia bercerita, dia bilang sekarang tak ada tempat yang aman baginya di rumah Sang Brahmana.  Sang Beo pamit terbang ke rimba. Konon Sang Beo Dewasa pada suatu ketika menitis menjadi Sang Buddha dan adiknya menjadi adalah salah seorang muridnya.

 

Melatih Intuisi

Beo Dewasa adalah lambang seorang yang telah memiliki intelijen, sedangkan beo remaja melambangkan orang yang masih dalam taraf intelektual.

“Saya selalu membedakan antara ‘intelljen’ dan ‘intelektual’. Seorang ‘intelijen’ menjadi demikian karena membuka diri terhadap semesta. la belajar dari alam. la belajar dari setiap peristiwa, setiap kejadian dalam hidupnya. la belajar dari pengalaman pribadi. Pengetahuan dia sepenuhnya berdasarkan pengalaman bahkan melampaui pengalaman pribadi. la memperolehnya lewat mekanisme alam yang mulai bekerja, apabila ia menjadi lebih peka, lebih reseptif terhadap alam itu sendiri. Itu yang disebut intuisi, ilham.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Kebenaran dihasilkan oleh intuisi dan intuisi berkembang dalam keheningan. Intuisi melampaui instink-instink hewani Anda, melampaui pikiran dan logika, melampaui filsafat, dan hanya intuisilah yang dapat bertatap muka dengan Kebenaran. Biarkan dunia, menentang Anda – pikiran Anda mungkin mengatakan satu hal dan hati Anda mengatakan hal yang lain. Jangan ikuti mereka. Ikutilah intuisi Anda. Pada saat-saat awal, memang sulit, bahkan sangat sulit untuk mendengar suara halus intuisi Anda. Tetapi, jangan menyerah. Suatu saat mungkin Anda salah menangkap suara pikiran ataupun suara hati Anda sebagai intuisi. Lewat kesalahan-kesalahan Anda sendiri, Anda akan belajar. (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: