Tilottama: Bidadari Cantik Penakluk Sunda Upasunda, Kisah Kamadeva dalam Lalitopakyana

Tilottama sumber apsaramagic blogspot com

Tilottama akumulasi kecantikan dunia sumber apsaramagic blogspot com

Brahma pun Terpedaya oleh Ciptaannya

“Penciptaan, Pemeliharaan dan Pemusnahan ….. Tiga hal ini yang berada di balik kelahiran, kematian, dan sepotong kehidupan yang tengah kulakoni saat ini …. Tiga hal ini menentukan segala aspek kehidupan dan kebendaan. Tiga hal inilah Tri Tunggal Keberadaan. Ketiga hal ini terjadi dalam Kolam Energi dimana aku berada. Ketiga hal ini sedang terjadi di Iuar dan di dalam diriku. Kesimpulan para resi ini dijelaskan oleh para seniman Iewat karya seni mereka: Sebagai Pencipta, Ia adalah Brahma. Sebagai Pemelihara, Ia adalah Vishnu. Dan, sebagai Pemusnah, Ia adalah Maheshwara. Tri Murti, Tiga Wujud, Tiga Fungsi, tetapi tetap Satu. Trimurti, tapi Tunggal. Tri Tunggal.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam sering dikisahkan bahwa Brahma memberi anugerah kekuatan kepada makhluk ciptaannya, yang justru membuat Brahma  dan para dewa kewalahan, sehingga Kekuatan Pemeliharan, Vishnu harus turun tangan.

Sunda, Upasunda dan Tilottama

Pada suatu ketika ada dua asura bersaudara bernama Sunda dan Upasunda yang saling menyayangi satu sama lain. Mereka mempunyai hasrat yang kuat sebagai penguasa tiga dunia. Mereka melakukan tapa yoga yang keras. Brahma akhirnya datang dan mengabulkan permintaan mereka. Mereka ingin menjadi yang paling kuat di tiga dunia dan tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh diri mereka sendiri. “Power tends to corrupts”, sifat keserakahan asura telah mendarah daging bagi mereka, sehingga mereka berperang untuk menguasai tiga dunia yang membuat kekacauan tak habis-habisnya.

Perang disebabkan oleh keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Anda boleh saja bicara tentang kedamaian. Anda boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan akan selalu ada. Selama itu pula perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari. (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Brahma berpikir bagaimana caranya agar mereka saling berkelahi satu sama lain, sehingga akhirnya Brahma menciptakan bidadari Tilottamma yang sangat cantik yang merupakan akumulasi dari semua kecantikan di seluruh dunia. Kemudian Brahma berencana memanggil Kamadeva dan memberikan instruksi bagaimana caranya memanahkan anak panah asmaranya kepada Sunda dan Upasunda agar mereka berkelahi memperebutkan Tilottama.

Kamadeva Memperdaya Brahma

Kamadeva, dewa muda tampan dengan senjata andalan panah asmara, mempunyai keinginan untuk mencoba keampuhan senjatanya. Pada saat datang ke tempat Brahma dia melihat Brahma sedang berdua dengan Tilottama. Kamadeva kemudian memanahkan anak panah dengan lima bunganya kepada Brahma. Brahma terpengaruh panah asmara dan mengejar Tilottama. Tilottama lari dan mengubah dirinya sebagai rusa dan Brahma tetap mengejarnya dengan mengubah wujudnya sebagai rusa jantan. Para dewa geger melihat kejadian itu.

Shiva kemudian mendatangi Brahma dalam wujud pemburu. Dan Brahma dalam wujud rusa jantan sangat takut kepada Shiva dan tidak lagi mengejar Tilottama. Cinta sang rusa jantan kepada hidupnya melebihi cinta terhadap lawan jenis impiannya. Dan masalah pun terselesaikan, Brahma minta maaf dan para dewa tenang kembali. Tilottama kemudian diminta mendatangi asura Sunda dan Upasunda serta Kamadeva  mendampinginya. Dengan panah asmara akhirnya Sunda dan Upasunda berkelahi memperebutkan Tilottama sampai kedua-duanya mati. Tilottama kemudia diangkat menjadi bidadari di Surga.

Kutukan Brahma kepada Kamadeva

Brahma selanjutnya mengutuk Kamadeva, karena tanpa sadar, demi kepuasan pribadi ingin mencoba kekuatan yang membahayakan dunia. Tanpa adanya Shiva, maka Sunda dan Upasunda tidak dapat dikalahkan dan bahkan dunia geger karena kekacauan yang ditimbulkan akibat jatuh cintanya Brahma terhadap ciptaannya, Tilottama.

Brahma berkata, “Suatu kali kau akan terbakar oleh mata ketiga Shiva!” Mendengar kutukan tersebut Rati dan Kamadeva mohon pengampunan. Brahma berkata bahwa sebuah kutukan itu bukan tanpa dasar. Kutukan itu memang harus terjadi, agar hutang perbuatan seseorang di masa lalu bisa lunas. Brahma menasehati agar Kamadeva selalu menjalankan dharma, karena bila kutukan terjadi pada saat seseorang menjalankan dharma tanpa pamrih pribadi, maka Bunda Ilahi akan menolongnya. “Setelah kau terbakar nanti akan datang Bunda Alam Semesta yang mewujud sebagai Lalithadevi, shaktinya Paramashiva. Dia akan menghidupkan kamu lagi! ” Sejak saat itu Rati dan Kamadeva selalu memuja Bunda Ilahi, Lalithadevi.

Kekuasaan yang Besar Sering Membuat Lupa Diri

Sewaktu seseorang mempunyai kekuasaan yang besar dia sering lupa diri, itulah yang terjadi pada asura Sunda dan Upasunda. Mereka hanya mementingkan kenikmatan duniawi, dan kenikmatan duniawi itu bersifat sementara, ada batas waktunya. Dengan pikiran manusia mereka menganggap bahwa mereka saling sayang-menyayangi dengan saudaranya dan tidak mungkin mereka saling berkelahi, tetapi pikiran manusia ada batasnya dan mereka saling bunuh dalam memperebutkan bidadari jelita Tilottama.

Kamadeva yang mempunyai kekuasaan yang sangat besar, juga lupa diri, dia menjadi angkuh dan “cengengesan”, bercanda yang keterlaluan yang dapat berakibat merusak dunia. Hanya demi kepuasan pribadi yang bersifat sementara dia mempermainkan Brahma. Kutukan Brahma membuat Kamadeva sadar bahwa setiap orang selalu diberi kesempatan untuk memilih. Memilih “Preya” yang hanya menyenangkan pikiran dan pancaindra yang bersifat sementara atau memilih “Shreya” yang perupakan tindakan mulia. Saat menghadapi Tilottama, Kamadeva telah memilih “Preya” untuk sekedar mengetahui apakah Brahma tergoda atau tidak oleh ciptaannya. Sedangkan saat menghadapi Tarakasura yang mengancam dunia, Kamadeva memilih “Shreya”,  memanahkan anak panahnya kepada Shiva agar segera kawin dengan Parvati dan akhirnya lahir putra yang dapat mengalahkan Tarakasura. Resiko yang besar telah dialaminya dan akhirnya dia mati terbakar oleh mata ketiga Shiva.

“Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih ‘yang memuliakan’. Mereka yang tidak bijak memilih ‘yang menyenangkan’ karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kelahiran Bhandasura

Pada suatu ketika Chitrakarma, salah satu komandan pasukan Shiva mengambil sebagian abu Kamadeva dan membentuk sebuah boneka dan membawanya ke hadapan Shiva. Secara tak terduga Shiva menghidupkan boneka yang kemudian bersujud pada Shiva dan Chitrakarma. Chitrakarma sangat senang dan meminta anak tersebut bertapa. Setelah bertapa ribuan tahun datanglah Shiva kepada anak tersebut. Sang anak mohon kepada Shiva untuk diberi karunia, agar siapa pun yang bertarung dengannya akan kehilangan separuh kekuatannya yang akan berakumulasi menjadi tambahan kekuatan dirinya. Sang anak juga meminta bahwa tak ada senjata apa pun yang dapat mengalahkannya.

Shiva mengabulkan permohonannya dan memberi anugerah tambahan untuk memerintah kerajaan selama enam puluh ribu tahun. Brahma menamakan anak tersebut Bhanda, karena sifatnya sebagai asura yang sangat terikat pada keduniawian, dan oleh karena itu ia sering disebut Bhandasura. Dari sisa abu Kamadewa kemudian lahir asura Vishukra dan asura Vishanga yang menjadi saudara Bandhasura dan lahir juga ribuan raksasa. Mereka membentuk pasukan yang sangat kuat yang terdiri dari 300 Akshouhini ( 1 akshouhini terdiri dari 21.870 gajah, 65.610 kuda dan 109.350 prajurit). Guru mereka adalah Shukracharya. Mereka kemudian membuat kota baru bernama Shoonyaka Pattana. Mereka selalu mengadakan upacara ritual dengan teratur.

Apakah Bhandasura akan merepotkan manusia dan dewa? Dapatkah Shiva menanggulanginya? Silakan baca kelanjutan Kisah Kamadeva: Dunia Tanpa Nafsu: Bhandasura Merajalela, Kisah Kamadeva dalam Lalitopakyana.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: