Harimau dan Pengorbanan Nyawa Boddhisattva, Kisah pada Relief Candi Borobudur

borobudur harimau dan bodhisattva

Ilustrasi Harimau dan Bodhisattva sumber: Gernot katzer spice pages com

Selalu Membayar dengan Kasih, karena di Dompetnya Hanya berisi Mata Uang Kasih

“Master Sufi, Attar dari Nishapur pernah bercerita tentang Yesus: Para ahli kitab, ahli Taurat para cendikiawan tidak bisa menerima Yesus. Ajarannya yang mengutamakan kasih dan rasa di anggap berbahaya dan dapat meruntuhkan ‘apa yang mereka anggap’ Lembaga Keagamaan. Mereka menertawakan Yesus, mencemoohnya, namun tidak berhasil mengundang reaksi apa pun. Malah, Yesus mendoakan mereka. Para Murid mengeluh, ‘Rabbi, Master, Guru, mereka menghina, menertawakan Guru. Kok Guru tidak mencela mereka, malah mendoakan mereka? Aneh!’ Yesus menjawab, ‘Tidak aneh, sahabatku, Aku hanya dapat memberikan apa yang aku miliki. Yang kumiliki hanyalah kasih, doa, dan itu pula yang dapat kuberikan kepada mereka. Mata uang yang ada dalam kantongku adalah mata uang kasih. Aku tidak memiliki mata uang lain’.”  (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seseorang yang mengutamakan rasa dan penuh kasih, yang di dalam dirinya hanya ada kasih, maka tindakannya akan selalu penuh rasa kasih. Egonya sudah lumer menjadi kasih. Bahkan nyawa pun diberikan sebagai wujud rasa kasih. Kisah ini sulit dinalar dengan pikiran, karena pikiran memikirkan logika untung rugi, dan menganggap aku ini lebih penting daripada lainnya, aku jangan sampai dirugikan dengan memberikan berbagai alasan yang rasional. Kisah ini berkaitan dengan rasa yang melampaui pikiran. Rasa bahagia justru datang saat memberi tanpa pamrih pribadi. Tanpa pertimbangan logika untung-rugi, hanya memberi, memberi dan memberi tanpa mengharap balasan kembali.

Dilema Harimau Betina dan Anak yang Disusuinya

Pada suatu ketika seorang Bodhisattva berjalan-jalan di pegunungan bersama muridnya bernama Agita. Mereka melihat dari atas tebing seekor harimau betina yang sedang galau, resah kebingungan. Sang Harimau betina sedang menderita kelaparan. Bagaimana pun kehidupannya harus dipertahankan. Seekor anaknya nampak sedang menyusu kepadanya. Ada sebuah dilema yang luar biasa sulitnya. Dia harus mempertahankan kehidupannya sendiri. Kehidupan itu pemberian Ilahi. Kalau dia mati, sang anak pun akan mati, karena sang anak akan kelaparan, tidak punya induk yang dapat menyusui. Untuk mempertahankan hidup hanya ada satu jalan yaitu memakan sang anak, si buah hati. Di kemudian hari sang harimau dapat melahirkan anak yang lain sebagai pengganti. Berdasar pikirannya, itulah yang harus dilakukannya. Akan tetapi, rasa nuraninya berkata lain, air matanya meleleh, dia menangis melihat anaknya yang sedang menyusui, yang sebentar lagi akan mati sebagai makanan penyelamat diri. Tegakah memakan anak sendiri? Dalam diri harimau ada pertempuran sengit antara pikiran dan hati nurani. Dia hanya bisa menangis tak punya solusi.

Seandainya Harimau itu seorang manusia, maka untuk menghilangkan rasa bimbang dia akan berupaya mendengarkan suara nuraninya.

“Pikiran itulah Setan yang menggoda. Ketika suara pikiran muncul, ketika bisikan setan terdengar, tercipta pula keraguan di dalam diri. Saat itu, nurani menciptakan keraguan itu. Sebaliknya jika kita mendengar suara hati, bisikan nurani, tidak ada keraguan lagi. Kita sudah pasti bertindak sesuai dengan tuntunannya. Selama kita masih ragu, masih bimbang, selama itu suara hati belum terdengar. Saat itu, lebih baik duduk tenang, lakukan pernapasan perut sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Biarlah pikiran mengendap. Setelah beberapa menit, suara hati pun pasti terdengar jelas.” (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Emphaty Sang Bodhisattva

Sang Boddhisatwa menyuruh Agita mencari makanan pengganti bagi Sang Harimau, tetapi sudah berjam-jam dia belum kembali. Melihat harimau sekarat karena kelaparan, Sang Bodhisattva menggigil karena kasih, seperti menggigilnya Mahameru karena gempa. Sang Bodhisattva berpikir bahwa dia akan melihat seekor harimau betina memakan anaknya, melawan hukum kasih alam semesta. Sang Bodhisattva merenung dalam, mengapa saya menyuruh Agita mencari tubuh makhluk lainnya. Tubuh saya cukup untuk mengobati kelaparannya. Ragaku sudah tua, beberapa saat lagi juga sudah tidak berguna. Ragaku sudah tak mudah untuk melakukan dharma. Sang Bodhisattva melihat kesempatan untuk membahagiakan makhluk yang sedang menderita. Kini diperhatikannya bahwa sang harimau akan memilih mati daripada memakan anaknya. Dan, dua kehidupan akan segera meninggalkan dunia fana.

Hubungan seseorang dengan lainnya bisa berupa “apathy”, “sympathy” dan “empathy”. Seorang yang “apathy”, tidak peduli urusan orang lain, dia berkutat pada urusan pribadinya. Cuek dengan penderitaan orang lain. Tidak mengakui eksistensi yang lain. Emangnya Gue Pikirin? Bukankah takdir seseorang memang lain-lain? Seorang yang mempunyai “sympathy”, merasa kasihan dengan orang yang sedang menderita, tetapi dia sendiri dia sendiri tidak merasakan penderitaannya. Lugasnya, yang menderita itu kamu, saya ikut bela sungkawa, tetapi saya tidak mengalaminya. Seorang yang mempunyai rasa “empathy”, ikut merasakan apa yang diderita orang lainnya. Seorang ibu merasa stress  kala anaknya tidak tidur mengerjakan tugas dari dosennya. Seseorang ikut merasakan kerepotan seorang  ibu tua yang berdesakan dalam bis kota, sehingga memberikan tempat duduknya. Dalam empathy atau “tepo saliro” seseorang merasa ada “connectedness” dengan yang lainnya.

“Simpati berarti aku menaruh rasa kasihan terhadapmu. Empati berarti aku merasakan penderitaanmu. Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing dan menjawab sendiri pertanyaan itu?” (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pasrah kepada Alam

Harimau betina akhirnya dapat mendengarkan suara nuraninya, untuk apa dia bertahaan hidup bila dia akan selalu sedih mengenang perbuatannya memakan anaknya. Mengapa harus takut mati? Paling tidak di akhir hayatnya dia telah berbuat kebaikan menyelamatkan sementara kehidupan anaknya dengan susunya. Setelah dia mati? Itu sudah bukan urusannya lagi, itu urusan alam yang akan mengurus anaknya yang masih hidup. Bisa saja sang anak mati kelaparan, tapi bisa saja hidup dan ada pertolongan. Harimau betina menjadi tenang dan memasrahkan segalanya kepada alam.

Suara kejatuhan benda dari atas tebing di dekatnya membuat sang harimau waspada. Dan dia melihat tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa. Dia menyembah tubuh yang tidak bernyawa sebagai karunia dari Yang Maha Kuasa. Dan dia mulai memakannya setelah berdoa. Telah terselamatkan kehidupan dia dan anaknya.

Kemenangan Bodhisattva menaklukkan Mara

Tidak dapat menemukan hewan buruan di hutan, sang murid Agita kembali menemui Gurunya. Akan tetapi dia dapat melihat jasad gurunya yang berada di bawah tebing, sedang dimakan harimau betina. Dia menangis, melihat pengorbanan nyata seorang Bodhisattva. Sang Bodhisattva seperti bumi yang menyerahkan apa pun yang ada pada dirinya demi kehidupan makhluk yang mendiaminya. Semua makhluk, termasuk para gandarwa, dewa, binatang, tanaman menghormati tindakan yang begitu mulia. Sang Mara kecewa, dia dikalahkan Sang Bodhisattva. Setelah beberapa kehidupan konon Sang Bodhisattva  lahir sebagai Sang Buddha, yang dihormati semua makhluk di alam semesta. Inilah kisah Dia yang pernah mengorbankan nyawanya kepada harimau betina yang hampir makan anaknya.

“Bagi seorang Bodhisattva semangat melayani adalah sangat alami. Dalam pandangan kita seorang Bodhisattva telah melakukan pengorbanan yang tertinggi. Tidak ada lagi pengorbanan lain yang sebanding dengan pengorbanannya. Tetapi, bertanyalah kepada seorang Bodhisattva. Ia akan tersenyum, “Pengorbanan apa?” Bagi dia, apa yang kita sebut pengorbanan itu hanyalah bagian dari sifatnya. Bagi dia pengorbanan seperti itu bersifat sangat alami. Semangat untuk melayani sangat alami. Kerelawanan sangat alami. Kesadaran seorang Bodhisattva tidaklah sama dengan kesadaran kita, dimana kita masih membedakan antara napsu yang senantiasa menutut; cinta yang mulai memberi dan menerima; dan kasih yang selalu memberi, dan memberi, dan memberi. Seorang Bodhisattva telah melampaui napsu hewani – ia sudah tidak menuntut lagi. Apa yang kita sebut kasih adalah napsu dia. Dia bernapsu untuk membantu, untuk melayani sesama makhluk hidup. Pembagian napsu, cinta, dan kasih sudah tidak berlaku baginya. Seorang Bodhisattva hanyalah mengenal cinta-kasih yang tidak bersyarat dan tidak terbatas.”  (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: