Archive for September, 2013

Pengaruh Konsumsi Daging Terhadap Karakter Manusia, Kisah Kera Dan Pemburu Pada Relief Borobudur

Posted in Relief Candi with tags , on September 29, 2013 by triwidodo

Borobudur pemburu dan Kera Besar sumber ignca nic in

Ilustrasi Kera Besar dan Pemburu Culas sumber: ignca nic in

Pemburu Yang Terperangkap Dalam Lubang

“Dari segi spiritual, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi sifat dan watak manusia. la akan mewarisi watak binatang yang dimakan dagingnya itu.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tersebutlah seorang pemburu hewan, yang pekerjaannya memburu hewan di hutan sebagai konsumsi makanan sehari-hari dan sisanya dijual di pasar. Pada suatu hari sang pemburu tersesat jalan. Dia beristirahat di bawah pohon dalam keadaan kelaparan, kehausan dan kecapekan. Tiba-tiba dia melihat di depannya ada pohon buah-buahan. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya dia memanjat pohon tersebut berusaha memetik buah-buahan. Saat akan mengambil buah-buahan, dahan tersebut tak kuat menahan tubuhnya. Sang Pemburu jatuh ke dalam lubang yang berada di bawahnya. Sang Pemburu sudah putus asa, rasanya dia akan mati di sana. Beberapa kali dia berteriak, akan tetapi yang menjawab hanya gaung teriakannya saja. Sang pemburu putus asa dan tiba-tiba terlintas dalam ingatannya, ratusan ekor hewan yang dijebaknya dalam perangkap dan kemudian dibunuhnya. Kini dia merasa seperti masuk perangkap dan menunggu hewan buas memangsanya. Selama ini sang pemburu tidak merasa bersalah membunuh hewan. Akan tetapi, kini dia takut dimakan hewan buas.

“Dari sudut pandang mistik, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi pernafasan kita, dan selanjutnya memblokir sentra sentra psikis dalam diri kita, yang sebenarnya berfungsi sebagai ‘jaringan tanpa kabel’. Sentra sentra psikis atau chakra inilah yang membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri kita, dan menghubungkan kita dengan alam semesta. Untuk itu dianjurkan tidak makan daging. Dari sudut pandang moral, hati seorang pemakan daging akan menjadi keras. Hati yang seharusnya lembut dan diberikan oleh Allah untuk mengasihi sesama makhluk bukan hanya sesama manusia akan kehilangan kelembutan atau rasa kasihnya.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Ditolong Kera Besar

Seekor kera besar datang dan bertanya mengapa Sang Pemburu sampai jatuh ke dalam lubang. Mendengar penjelasan Sang Pemburu, Sang Kera Besar tersentuh hatinya. Ditolongnya Sang Pemburu keluar dari lubang dan dibawa keluar hutan dengan cara dipanggulnya. Sang Pemburu berterima kasih telah diselamatkan nyawanya bahkan untuk sampai jalan keluar, dia pun dipanggul Sang Kera Besar. Tinggal sedikit saja keluar hutan, Sang Kera Besar kecapekan. Dia ingin tidur sebentar memulihkan kekuatan, setelah memanggul Sang Pemburu setengah harian.

Sang Pemburu berpikir, tepi hutan sudah di depan mata. Rasa lapar tidak terkira. Pikiran memang maunya menang sendiri saja. Kepentingan pribadi menjadi panglima. Orang lain? Emangnya gua pikirin? Melihat kera besar ketiduran, seakan dia melihat sebuah binatang buruan. Mengapa Sang Kera tidak dibunuh saat ketiduran? Bila sudah bangun tak mungkin dia sanggup melawan. Sang Pemburu membawa batu api dan daging kera dapat dipanggang sebagai obat laparnya. Dagingnya dapat dibawa pulang untuk persediaan makanannya, dan sisanya dijual di pasar di dekat rumahnya. Sang Pemburu ingat Kera tersebut telah menolongnya lepas dari kematian, tidak seharusnya dia membunuhnya. Akan tetapi dia tidak dapat mengendalikan nafsunya. Bila seseorang sering tidak dapat mengendalikan nafsunya, perlulah dia mencoba tidak makan daging. Daging yang dia makan akan menjadi darah, tubuh dan otaknya dan membuatnya lebih sulit untuk mengenadlikan nafsunya.

Pikirannya mencari alasan, tadi selama terperangkap dalam lubang, dia berpikir menyesal telah banyak menangkap dan membunuh hewan bernyawa. Akan tetapi bukankah tanaman pun hidup juga? Tanpa mengkonsumsi hewan, dia pun makan tanaman yang hidup juga?

“Kelemahan kita dalam hal pengendalian hawa nafsu, obsesi kita terhadap daging, membuat kita licik Kita menjadi cendekiawan. Kita mulai berdalil bukankah tumbuh tumbuhan itu pun memiliki kehidupan? Betul, kehidupan mengalir lewat tumbuh tumbuhan pula. Namun tumbuh-tumbuhan tidak memiliki mind. Dan oleh karena itu, mengkonsumsi sayur sayuran, buah buahan tidak akan mempengaruhi watak kita, mind kita. Tidak demikian dengan mengkonsumsi daging. Masih ada lagi yang berdalil hewan yang disembelih dan dimakan itu, sesungguhnya mengalami peningkatan dalam evolusi mereka. Dengan mengkonsumsi daging hewan, sebenarnya kita membantu terjadinya peningkatan evolusi mereka. Anda boleh memberikan seribu satu macam dalil. Dalil tinggal dalil. Yang jelas, mengkonsumsi daging tidak akan membantu manusia dalam hal peningkatan kesadaran. Terjadi evolusi dalam diri hewan hewan itu atau tidak, yang jelas mengkonsumsi daging tidak membantu evolusi spiritual manusia. Walaupun demikian, hendaknya seorang vegetarian tidak menganggap rendah mereka yang masih mengkonsumsi daging. Keangkuhan Anda, arogansi Anda justru akan menjatuhkan Anda lagi, dan akan menjadi rintangan bagi perkembangan spiritual.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Air Susu Dibalas dengan Air Tuba

Diambilnya sebuah batu besar dan dilemparkannya kepada Sang Kera Penolongnya. Entah apa yang terjadi Sang Kera Besar dalam tidurnya memalingkan wajahnya. Sehingga batu besar hanya melukai telinganya. Sang Kera Besar terbangun dan segera sadar apa telah yang terjadi. Rasa luka di telinganya dia tidak ambil peduli, tetapi ada rasa sesal mengapa ada orang yang tidak tahu membalas budi. Mengapa Sang Pemburu yang hampir mati dan baru saja ditolongnya sudah menjadi serakah tak terkendali. Dia segera memanggul sang gembala ke luar hutan, meletakkan di jalan dan kemudian masuk kembali ke hutan…….

Sang Kera Besar bertindak selaras dengan alam, dia bekerja menolong semua makhluk yang berada dalam kesulitan tanpa mengharapkan imbalan.

“Alam ini bekerja tanpa mengharapkan suatu imbalan. Demikian juga para bijak. Segala sesuatu dalam alam ini, termasuk hewan, bertindak, membawakan peran mereka masing-masing, tanpa mengharapkan imbalan. Setiap pagi matahari terbit. Apakah la mengharapkan imbalan dari Anda? Apakah la mengharapkan bahwa setiap hari Anda harus berterima-kasih kepadanya? Tidak. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang membutuhkan motivasi untuk bekerja.” (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hukum Sebab-Akibat Akhirnya Datang Juga

Setahun kemudian, seorang raja berburu ke hutan. Di tengah hutan bertemu manusia yang dalam keadaan sekarat dengan tubuh tidak terawat dalam keadaan sangat mengenaskan. Sang manusia menceritakan kisahnya bahwa dia pernah ditolong kera tetapi kera tersebut hampir saja dibunuhnya. Sang kera selamat hanya terluka telinganya. Sang Kera tetap menolongnya ke luar hutan dan kemudian menghilang dengan segera. Selanjutnya dia bercerita, tak lama kemudian di mendapat sakit kusta dan dia diusir dari masyarakat. Dia menyesal telah berbuat jahat. Kemudian dia hidup terlunta-lunta. Dia diberitahu orang bahwa Sang Kera Besar adalah seorang Bodhisattva. Dengan terbata-bata sang penderita kusta memberi nasehat pada sang raja, jangan sampai keserakahan menutupi nurani manusia. Setelah berkata demikian dia menghembuskan nafasnya.

Pesan terakhir seorang pemburu yang menderita penyakit kusta menyadarkan sang raja. Kisah Bodhisattva yang mewujud sebagai Kera Besar telah mengubah hidupnya. Kala didepan meja makan dengan berbagai makanan lezat, sang raja merenung, “Hanya untuk memberi makan pada satu tubuh ini saja, manusia membunuh begitu banyak mahluk. Sudah ribuan ekor ayam masuk lewat kerongkongan saya, sudah ratusan ekor sapi yang masuk dalam perut saya, sudah puluhan kg ikan dan udang lewat mengalir dalam pembuluh darah saya. Sudah sewajarnya, virus mereka menyerang tubuh saya. Sudah sewajarnya kebencian, kemarahan dan frustasi mereka mempengaruhi tabiat saya yang siap meledak ketika berada dalam keadaan tak terkendalikan.”

 

Hutang manusia

Sang Raja menjadi lebih bijaksana dan menghormati alam semesta.

“Interaksi atau hubungan dengan dunia tidak dapat dihindari. Para bijak jaman dulu mengaitkan interaksi atau hubungan tersebut dengan ‘utan’ yang harus dibayar. Jika tidak, kita dikenakan bunga. Kita harus membayar lebih baik lagi.”

“Adalah 5 macam hutang atau Rina yang disebut:”

“Pertama: Deva Rina, yaitu utang terhadap Dewa. Yang dimaksud dengan Dewa adalah Kemuliaan, Kesadaran, Pencerahan, karena kata ‘dewa’ sendiri berasal dari ‘divya’, yang berarti ‘yang mulia, yang terang, yang berasal dari cahaya’. Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api bersifat membakar. Ia membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin sangat ringan dan dapat menyusup kemana-mana. Ia juga memberi kehidupan. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis. Kekosongan, kehampaan, kesendirian, space atau apa pun sebutannya, menciptakan peluang untuk diisi. Deva Rina juga berarti utang terhadap kemuliaan di dalam diri dan di luar diri.”

“Kedua: Pitra Rina, utang terhadap leluhur, atau barangkali lebih cepat ‘utang terhadap keluarga’. Saya mengartikannya demikian, karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur, dan leluhur adalah keluarga. Banyak orang meninggalkan keluarga dan menjadi petapa. Mereka mengaku tidak terikat lagi dengan keluarga, tetapi menciptakan keterikatan baru pada institusi yang mereka pimpin, pada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya sebagai ‘Murid’.

“Ketiga: Rishi Rina, utang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu sendiri. Cara kita melunasi setiap utang haruslah bijak. Cara kita menangani setiap persoalan harus bijak. Cara ktia melayani hidup harus bijak. Dan nilai kebijakan tertinggi adalah : ‘Aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun mesiti bahagia. Berarti, aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.’ Komitmen kita terhadap non violence atau non injury, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti dengan sengaja adalah kebijaksanaan.”

“Keempat: Nara Rina, utang terhadap sesama manusia. Kita tidak dapat berdiri sendiri. Apa yang saya lakukan berdampak terhadap Anda, dan sebaliknya. Semacam ripple effect, efek riak, satu kerikil yang saya lemparkan ke sungai berdampak hingga tepi sungai itu, Walau kita tidak melihatnya. Karena itu, melayani sesama manusia menjadi suatu keharusan. Adalah tugas, kewajiban serta tanggungjawab kita untuk memperhatikan sesama manusia. Jika Tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita.”

“Kelima: Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya. Sekedar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Pengaruh Pengasuh terhadap Perkembangan Jiwa Anak, Kisah Kaikeyi Pemantik Kisah Ramayana

Posted in Ramayana with tags , on September 27, 2013 by triwidodo

Keikayi dipengaruhi Manthara sumber www indianetzone com

Ilustrasi Kaikeyi dipengaruhi oleh Pengasuh Manthara sumber: www indianetzone com

“Bagi siapa pun sebenarnya rayuan datang dari luar dan dari dalam. Dari luar: segala sesuatu yang melencengkan kita dari jalur kesadaran. Dari dalam: segala sesuatu yang membesarkan ego dan akhirnya juga melencengkan kita dari jalur kesadaran. Banyak di antara kita yang bertahan terhadap godaan dari luar. Tetapi, tidak mampu bertahan terhadap godaan dari dalam. Karena itu, kita sangat membutuhkan support-group.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kaikeyi dan para permaisuri yang lain hidup harmonis dengan Raja Dasaratha. Akan tetapi Kaikeyi tidak hanya bergaul dengan kedua permaisuri lainnya, dia juga sangat dekat dengan pengasuhnya yang memeliharanya sejak kecil. Dan akhirnya Kaikeyi terpengaruh keburukan pengasuhnya.

 

Putri Raja yang Trauma Terhadap Tindakan Ayahandanya

Kaikeyi adalah putri Ashvapati, Raja Kerajaan Kekaya salah satu negara sekutu Kosala. Kaikeyi menikah sebagai istri ketiga Raja Dasaratha setelah sang raja berjanji pada Raja Ashvapati bahwa anak yang lahir dari rahim Keikayi akan menjadi pengganti Dasaratha sebagai Raja Kosala. Sebagai putri satu-satunya dari tujuh bersaudara, Kaikeyi dibesarkan tanpa ibu sejak kecil.

Ashvapati mampu memahami bahasa burung, akan tetapi dia tidak boleh bercerita kepada siapa pun tentang percakapan burung yang didengarkannya, karena bila dia menceritakannya dia akan meninggal saat itu juga. Pada suatu hari Ashvapati bersama sang permaisuri melihat sepasang angsa baru kawin dan sang raja tertawa terbahak-bahak. Sang permaisuri merajuk dan minta diberitahu apa yang diucapkan oleh sepasang angsa tersebut. Tentu saja sang raja menolaknya. Karena sang permaisuri, ibu Kaikeyi bersikeras ingin mengetahui ucapan angsa, maka Ashvapati menganggap bahwa permaisurinya tidak peduli dengan keselamatan jiwanya dan oleh karena itu sang permaisuri dikembalikan ke rumah orang tuanya. Sejak saat itu Kaikeyi tidak pernah melihat ibunya lagi. Dalam darah Kaikeyi ada genetik keras kepala dari sang ibu. Sejak saat itu dia dibesarkan oleh pengasuh istana bernama Manthara yang selalu mengikuti dan memeliharanya. Sebagai seorang pengasuh maka Manthara memanjakan Kaikeyi yang dianggapnya sebagai putrinya sendiri. Bahkan Manthara ikut mendampingi Kaikeyi setelah dia menjadi permaisuri ketiga Raja Dasaratha. Manthara sendiri selalu menginginkan Kaikeyi berbahagia, akan tetapi kecintaannya pada anak yang diasuhnya membuatnya melakukan segala cara agar Kaikeyi bahagia. Pengembalian ibunya ke rumah orang tuanya membuat trauma pada diri Kaikeyi, sehingga dia tidak percaya kepada laki-laki. Bahkan dia pun kurang mempercayai Dasaratha, karena trauma melihat ibunya dibuang oleh ayahandanya.

 

Pengaruh Pengasuh pada Anak Kecil Masa Kini

Pada masa kini sudah sangat sulit mencari pengasuh bayi yang setia seperti Manthara yang merawat anak asuhnya sampai menjadi dewasa. Kebanyakan ikatan masa kini berdasar profesi dan dengan imbalan upah.

“Kita merasa tidak aman. Kita takut akan apa yang dapat menimpa diri kita besok, sehingga kita mengejar harta tanpa hentinya. Generasi mendatang akan semakin merasakankehampaan semacam ini. Penyakit ini akan semakin menyebar. Apa yang terjadi? Sewaktu masih bayi, kita begitu tak berdaya. Hidup-mati kita sangat tergantung pada belas-kasihan orang lain, termasuk orangtua kita. Sekarang, di mana kedua orangtua biasanya bekerja, seorang bayi akan sangat tergantung pada baby-sitter atau pembantu. Apabila ia lapar, ia hanya dapat menangis dan mungkin sang pembantu sibuk mengerjakan sesuatu atau sedang nonton TV. la harus tahan lapar dan menangis be berapa lama, sebelum mendapatkan makanan. Begitu diberi susu, ia akan minum sebanyak mungkin. la menjadi rakus. Sejak bayi ia mulai belajar menjadi takut, nanti kalau lapar, akan mendapatkan susu lagi atau tidak. Begitu tiba saat diberi susu, la minum sebanyak-banyaknya, sehingga perutnya sering kembung. Rasa takut ini masih terbawa sampai dewasa. Sampai tua pun, la masih mengejar sesuatu, terlibat dalam perlombaan, sibuk menghimpun harta benda. Kenapa? Karena rasa takut yang menyertainya sejak masa bayi.” (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menyelamatkan Dasaratha dan Menerima Dua Anugerah

Kaikeyi merasa tidak aman posisinya sebagai permaisuri ketiga Dasaratha. Dia paham dia dinikahi hanya karena Raja mengharapkan putranya apabila Kausalya dan Sumitra tidak punya putra. Manthara tentu saja ingin Kaikeyi melahirkan putra yang menggantikan Raja Dasaratha sebagai raja. Pada suatu saat Raja Dasartha berhasil diyakinkan Kaikeyi agar dia bisa mendampingi sang raja  berperang melawan Sambarsura, asura musuh Indra dan Dasaratha. Perang tanding antara Raja Dasaratha melawan Sambarasura sangat seru. Pada suatu saat roda kereta Dasaratha pecah dan dadanya luka karena panah Sambarasura menembus baju besi Dasaratha. Dengan sigap Kaikeyi yang terbiasa dilatih perang oleh ayahanda dan saudara-saudaranya menyelamatkan Dasaratha dan melarikannya keluar dari medan peperangan. Kaikeyi merawat luka raja sampai sembuh dan Dasaratha menawarkan dua anugerah kepada Keikayi. Kaikeyi memilih untuk meminta dua anugerah tersebut di kemudian hari saja.

 

Dihasut Pengasuh Manthara

Tahun demi tahun berlalu dan rumah tangga Dasaraatha dengan ketiga permaisurinya berada dalam keadaan yang harmonis.  Rama sebagai putra tertua sangat baik terhadap ketiga ibunya dan Kaikeyi merasa sangat dekat dengan Rama. Bahkan ketika Rama berusia 16 tahun dan akan diangkat sebagai putra mahkota, Kaikeyi merasa bahagia.

Akan tetapi tidak demikian dengan Manthara, dia ingin Kaikeyi dan anak keturunannya menjadi raja Kosala. Manthara menghasut Kaikeyi, bahwa apaabila Rama menjadi Raja, Bharata akan diasingkan dan anak keturunannya tidak akan dapat menjadi raja. Manthara juga mengingatkan bahwa Raja tak bisa dipercaya dan mengingatkan bahwa ayahandanya, Ashvapati pernah mengsingkan ibunya tanpa rasa iba. Manthara mengingatkan janji Dasaratha kepada Ashvapati agar putra Kaikeyi akan menjadi pengganti Dasaratha. Manthara juga mengingatkan bahwa Kaikeyi mempunyai dua anugerah yang harus dipenuhi Dasaratha. Manthara berhasil meyakinkan Kaikeyi agar minta dua anugerah yang dijanjikan Dasaratha yaitu pertama Rama harus diasingkan selama 14 tahun dan selama 14 tahun tersebut Bharata akan menjadi putra mahkota. Menurut perhitungan Manthara waktu 14 tahun adalah masa yang cukup bagi Bharata untuk mengkonsolidasikan posisinya sebagai Raja Kosala. Pada waktu Bharata sedang bepergian, terjadilah peristiwa Kaikeyi meminta anugerah kepada Dasaratha yang menjadi pemantik kisah Ramayana. Pergaulan Kaikeyi dengan Manthara memerosotkan kesadaran Kaikeyi ke titik terendah.

“Jangankan satu malam, sedetik pun cukup untuk memerosotkan kesadaran. Apalagi bila pergaulan kita tidak menunjang kesadaran kita. ‘Pergaulan apa? Begitu rentankah kesadaran kita hingga dapat merosot dalam satu malam saja, karena pergaulan sesaat saja?’ Ya, kesadaran memang rentan, very very fragile! Berapa lama yang kita butuhkan untuk menciptakan sesuatu yang indah? Dan berapa lama yang kita butuhkan untuk merusaknya?” (Krishna, Anand. (2005). Ishq Mohabbat Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kematian Dasaratha

Sri Rama sangat menghormati ayahandanya dan demi dharma rela diasingkan selama 14 tahun. Karena kesedihannya, Raja Dasaratha enam hari kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mengapa Raja Dasaratha harus menerima tragedi tersebut? Silakan ikuti kisah selanjutnya tentang karma Raja Dasaratha.

Bharata pulang ke istana setelah mendengar kematian ayahandanya, dan merasa kecewa dengan tindakan Kaikeyi, ibundanya yang membuat geger kerajaan Kosala. Bharata bersumpah tidak akan menduduki tahta kerajaan dan kemudian bersama pasukan istana menemui Sri Rama, Sita dan Lakshmana agar Sri Rama kembali ke istana dan menjadi raja. Rama menolak dengan mengatakan bahwa dia harus menghormati pesan ayahandanya. Bharata kemudia minta sendal Rama untuk ditempatkan pada tahta raja, sebagai simbol bahwa Ramalah yang berhak menjadi raja dan Bharata menjalankan pemerintahan sementara tanpa menduduki tahta raja sampai Sri Rama kembali dari pengasingan.

Saudara-saudara Sri Rama adalah manusia-manusia pilihan yang berpegang teguh pada Kebenaran, sehingga Bharata berani melawan Keikayi, ibundanya yang telah berbuat salah. Tidak demikian dalam kehidupan nyata saat ini, salah seorang istri bisa merusakkan keharmonisan rumah tangga sampai ke anak cucunya.

 

Karakter Para Tokoh Ramayana

Menurut Sai Baba Permaisuri Kaushalya mewakili sifat Satvik yang tenang, Sumitra mewakili sifat Rajas yang dinamis, sedangkan Kaikeyi mewakili sifat Tamas yang angkuh. Apabila kita jeli membaca Ramayana terasa sekali tiga permaisuri tersebut dijiwai oleh karakter-karakter tersebut. Dasaratha adalah diri kita yang merasakan 5 panca indera (jnanendriya) dan juga yang menjalankan 5 panca indera (karmendriya). Dalam menjalankan pekerjaannya kita dipengaruhi oleh tiga guna, Satvik, rajas dan tamas.

Rama merupakan Yajur Weda. The Yajur Weda berbicara tentang dua aspek penting: Sathya dan Dharma, Truth and Right Conduct, Kebenaran dan Kebajikan. Rama memimpin hidupnya sesuai dengan dua prinsip, sesuai dengan jalur dari Sathya dan Dharma. Keduanya adalah prinsip-prinsip dari Yajur Weda.

Lakshmana, putra kedua, merupakan Rig Veda. Lakshmana melayani saudaranya, Rama, dan istrinya, Sita sebagai yajna, persembahan bukan kewajiban. Rig Veda berfokus pada aspek ritual, mantra, yajna. Oleh karena itu Lakshmana, saudara kedua, merupakan Rig Veda.

Bharatha, menghabiskan seluruh waktunya mengidungkan kemuliaan Rama. Menjaga sendal-Nya di atas takhta, ia memerintah seluruh kerajaan atas nama saudaranya. Sama berarti ‘lagu’. Bharatha menyanyikan kemuliaan Rama, dia memerintah kerajaan bagi-Nya. Jadi Bharatha mewujudkan pelajaran dari Sama Veda.

Sathrughna mewakili Atharvana Veda. Sathrughna tidak punya musuh. Tak ada yang berani menyerang Sathrughna. Dia terus menjaga saudara-saudaranya dan kerajaan-Nya bebas dari serangan semua musuh. Sathrughna bisa menghadapi musuh setiap saat. Dia adalah pengancam bagi setiap musuh potensial. Sathrughna berdiri sebagai simbol untuk pelajaran dari Atharvana Veda.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Menaklukkan Rasa Angkuh Dalam Diri, Kisah Chanda Munda dalam Devi Mahatmyam

Posted in Lalitha with tags on September 26, 2013 by triwidodo

mahatmyam chanda munda sumber www mantraonline com

Ilustrasi Devi Mahatmyam sumber: www mantraonline com

Kemerosotan Kesadaran Karena Rasa Angkuh

“Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke-‘aku’-an. Kesadaran dan ke-‘aku’-an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke-‘aku’-an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke-‘aku’-an, keangkuhan. (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

“Chanda” dan “Munda”. Chanda berarti kepala yang berlawanan. Chanda akan menentang apa pun yang orang katakan. Chanda adalah orang yang tidak setuju dengan pendapat pihak lain. “Munda” berarti tidak memiliki kepala sama sekali. Apa pun yang dikatakan pada Munda, itu semua akan dianggap angin lalu. Chanda dan Munda adalah 2 asura yang berpikir bahwa mereka berdua sempurna dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.  Mereka adalah orang-orang yang angkuh.

Sedangkan teman Chanda dan Munda adalah “Dhumralochana”, “Dhumra” berarti asap dan “lochana” berarti mata yang berasap. Pandangan mereka kabur.

Nafsu Hewani Dalam Diri

Cerita-cerita menarik dari Kisah Devi Mahatmyam sebenarnya menggambarkan nafsu hewani dalam diri manusia yang digambarkan sebagai para pemimpin asura sakti yang mengalahkan para dewa, elemen alami dalam diri manusia. Dan, asura sakti tersebut bisa menguasai tiga dunia, nafsu hewani tersebut dapat menguasai diri manusia pada masa kini, masa lalu dan masa yang akan datang. Akan tetapi kesadaran tidak pernah kalah, pada waktu sang manusia sadar bahwa ada kekuatan yang tak terbatas, dan manusia mohon pertolonganNya, maka Dia akan membantu manusia menaklukkan nafsu-nafsu hewani tersebut.

“Kembali pada insting dasar…. Institusinya ada di otak. Lembaga yang mengendalikannya adalah bagian otak yang disebut Lymbic. Bagian ini yang menciptakan gairah atau drive. Dorongan nafsu serta keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, insting-insting hewani kita, berasal dari Lymbic. Saat ini, hidup kita masih didominasi oleh insting-insting hewani. Seolah kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Berarti kita baru beda penampilan dari binatang. Insting kita masih sama. Mereka memiliki insting hewani dan berpenampilan seperti hewan. Kita memiliki insting hewani, tapi berpenampilan seperti manusia. Boleh dibilang kita adalah binatang, hewan berkedok manusia. Kita baru berpura-pura menjadi manusia. Sungguh munafik ya! (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Mohon Pertolongan Kepada Bunda Ilahi

Adalah Raja Asura Shumbha yang dengan saudara kembarnya Nishumbha yang sangat sakti. Dengan kesaktian Shumbha dan Nishumbha beserta para panglimanya, para asura dapat mengalahkan Indra, Surya, Chandra, Kubhera dan Yama. Mereka kemudian minta para resi untuk melakukan persembahan kepada mereka. Para dewa kemudian datang kepada Trimurti, Brahma, Vishnu dan Shiva melaporkan kekalahan mereka menghadapi Shumbha, Nishumbha dan anak-anak buahnya. Para dewa kemudian diminta menemui Parvati yang sedang bertapa di Pegunungan Himalaya.

Para dewa kemudian datang kepada Parvati sebagai salah satu wujud Bunda Ilahi. Parvati tengah melakukan tapa dan menghilangkan kulit tubuhnya yang hitam sehingga menjadi putih sehingga disebut Gauri. Karena Gauri keluar dari lapisan fisik Parvati maka juga sering disebut Koushiki (Kousha – lapisan/kulit). Para dewa menyampaikan bahwa mereka telah dikalahkan oleh Raja Asura Shumba dan Nishumba yang kini menguasai tiga dunia dengan sewenang-wenang. Sang Dewi menyanggupi untuk menaklukkan Shumba dan Nishumbha dan meminta para dewa sabar menunggu…….

Chanda dan Munda

Chanda dan Munda adalah bekas panglima Mahishasura yang kala Mahishasura ditaklukkan Durga, mereka melarikan diri dan mengabdi kepada Shumba dan Nishumbha. Pada suatu hari Chanda dan Munda bersantai dengan pergi berburu, karena tidak ada pihak yang berani mengganggu kekuasaan kerajaan para asura. Pada suatu ketika mereka mengintip para dewa sedang menghadap seorang wanita yang sangat cantik. Menurut Chanda dan Munda, wanita tersebut pantas sebagai permaisuri raja Shumbha. Mereka kemudian melapor kepada sang raja dan kemudian sang raja mengirim duta Asura Sugriva untuk melamar wanita tersebut.

Wanita tersebut berkata kepada Asura Sugriva bahwa dia telah bersumpah hanya pria yang bisa mengalahkannya dalam pertarungan yang akan dipilihnya sebagai suami. Apabila Raja Shumbha ingin menyuntingnya, silakan datang dan bertarung dengannya. Sugriva berkata bahwa semua dewa takluk kepada sang raja yang sekarang menjadi penguasa tiga dunia. Mengapa seorang wanita berani menantangnya bertarung? Wanita tersebut berkata bahwa demikianlah sumpahnya dan silakan Shumbha datang bertarung dengannya.

Dhumralochana

Tersinggung atas ucapan wanita tersebut, Sugriva melaporkan hal yang dialminya kepada sang raja. Raja Shumbha menjadi murka dan memerintahkan panglima Dhumralochana mmembawa 60.000 tentara asura untuk menangkap wanita tersebut dengan paksa. Bila ada dewa atau ksatria yang melindunginya agar dibunuh saja.

Dhumralochana menemui wanita tersebut dan memintanya menuruti perintahnya untuk ikut dengannya menghadap sang raja. Wanita tersebut tetap pada pendirianya  dan menolak perintah sang panglima. Sang Panglima berusahaa meringkus wanita tersebut, namun hanya dengan suara “hum” sang panglima sudah berubah menjadi abu. Pasukan sang panglima segera menyerang wanita tersebut, akan tetapi Singa kendaraan wanita tersebut menghadangnya dan hancurlah seluruh pasukan sang panglima.

Mendengar Panglima Dhumralochana beserta pasukannya dihancurkan sang dewi, maka sang raja memerintahkan  Chanda dan Munda untuk membawa pasukan yang jauh lebih besar untuk menangkap wanita tersebut dan membunuh singanya.

Chamunda

Wanita tersebut sangat marah mendengar kedatangan Chanda dan Munda dengan pasukan yang jauh lebih besar. Wajahnya yang cantik menjadi menghitam dan dari dahinya keluar Dewi Kali yang bersenjatakan pedang dan tali. Dewi Kali mengenakan kalung tengkorak manusia dan berbaju kulit harimau. Sang Kali kemudian menelan para gajah beserta pengendaranya. Selanjutnya kereta beserta kusirnya pun dilahapnya. Dan gegerlah seluruh pasukan Chanda dan Munda. Chanda maju menyerang dan Sang Kali mengeluarkan suara “ham” dan terpenggallah kepala Chanda. Munda yang membantu maju juga dengan gampang dibunuhnya. Seluruh pasukan asura menjadi kocar kacir dan melarikan diri. Kali kemudian membawa kepala Chanda dan Munda kehadapan Wanita yang juga sering disebut sebagai Chandika. Kali melambangkan Kala, waktu yang menelan siapa saja. Chandika berkata, “Wahai Kali karena kau telah membunuh Chanda dan Munda maka kau akan dikenal sebagai Chamunda.”

Sebelum Menguasai Sifat Hewani Dalam Diri, Kita Hanyalah Animal Plus

Menaklukkan Dhumralochana dan Chanda serta Munda, adalah simbol dari menaklukkan pandangan diri yang masih kabur, masih terpengaruh maya dan menaklukkan keangkuhan dalam diri. Pandangan yang masih kabur dan angkuh adalah bagian dari sifat hewani dalam diri.

“Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita. Manusia juga merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi ini dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu, sekarang pun sama. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus. Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya.” (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Bagaimana cara menghadapi Panglima Rakthabeeja yang setiap tetes darah jatuh ke tanah menjadi kloning Rakthabeeja yang baru? Dan bagaimana kala menghadapi Raja Asura Shumbha dan saudara kembarnya Nishumbha? Apa maknanya? Silakan ikuti kisah selanjutnya.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Karna: Ksatria dalam Naungan Takdir Buruk, Karena Kehidupan Masa Lalu?

Posted in Mahabharata with tags , on September 24, 2013 by triwidodo

Karna keretanya terperosok an dipanah Arjuna

Ilustrasi Karna turun dari kereta karena rodanya terjebak dan dipanah oleh Arjuna sumber: www craftycristian com

Hukum Aksi-Reaksi atau Sebab-Akibat

“Hukum alam adalah bahasa dunia. Bila lahir dalam dunia dan hidup di dunia ini, kita harus memahami bahasanya. Apa pula hukum alam yang dimaksud? Hukum aksi-reaksi. Hukum evolusi atau perkembangan, kemajuan. Itulah dua hukum utama. Landasannya adalah keterkaitan interdependency. Bila kita menebang pohon seenaknya, banjirlah akibatnya. Itu salah satu contoh dari hukum aksi-reaksi atau sebab-akibat. Dan, ingat itu baru menebang pohon. Bila kita menjadi pembunuh manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya, jangan kira kita akan lolos dari hukuman. Jangan pula mencari pembenaran, bahwa kita membunuh demi … atau untuk … dan atas nama … Mau mencari pembenaran sih boleh-boleh saja, asal tahu bahwa itu tidak akan meringankan hukuman kita. Kemudian, hukum perkembangan, kemajuan, evolusi, ekspansi. Segala sesuatu dalam hidup ini mengalami perkembangan. Semuanya sedang berevolusi. Tidak ada yang mengalami regresi dan kembali pada kehidupan di masa lalu. Bila tidak berkembang bersama hidup, kita akan hidup setengah-setengah. Hidup tidak matipun tidak. Bila kita tidak melangkah bersama waktu, waktu akan melewati kita.” (Krishna, Anand. (2003). Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)

Mengapa nasib buruk selalu menaungi Karna? Apakah hal tersebut tidak terlepas dari hukum sebab-akibat? Apakah Karna sering membunuh dan menyusahkan orang di masa lalunya?

 

Nasib Buruk Selalu Menaungi Karna

Karna adalah tokoh kontroversial, terlunta-lunta sejak bayi dibuang ibunya, putra Dewa Surya ini selalu memperoleh takdir buruk, dimusuhi Gurunya, direndahkan status kastanya, bahkan diperdaya para dewa dan bahkan oleh Sri Krishna. Hanya Duryodhana, Raja Hastina yang mengangkat derajatnya sebagai Raja Angga, sehingga demi membalas budi kebaikan ia rela mengorbankan nyawa. Sebagai putra Sang Surya, jelas dia adalah ksatria hebat, akan tetapi dalam dirinya juga ada karakter asura masa lalu yang membuatnya menerima nasib buruk.

Adalah  Remaja Kunti yang mencoba mantra pemberian Resi Durvasa memanggil Dewa Surya sehingga dia hamil tanpa berhubungan suami istri. Malu akibatnya, sang bayi yang lahir dengan baju lapis baja dan anting-anting tersebut diletakkan dalam keranjang dan dihanyutkan dalam kali. Ditemu dan dibesarkan oleh sais istana Adhiratha dan istrinya Radha, Karna disebut Radheya Putra.

Sebagai remaja berdarah ksatria ia mendekati Drona agar diterima menjadi murid, akan tetapi ditolak karena statusnya sebagai putra angkat sais istana. Menyaru sebagai brahmana remaja, Karna memperoleh pengetahuan senjata dari Parashurama. Pada suatu saat Parashurama tiduran di pahanya, dan seekor kalajengking menggigit pahanya. Agar gurunya tidak bangun, Karna menahan sakit. Sewaktu Parashurama bangun dan mengetahui peristiwa tersebut, sang guru tahu bahwa seseorang yang kuat menahan sakit dari gigitan kalajengking pastilah bukan keturunan Brahmana dan Karna dikutuk, ilmu senjata yang diberikan sang guru akan tidak diingatnya ketika menghadapi saat kritis hidup-matinya.

 

Meningkat Derajatnya oleh Duryodhana

Pulang dari berguru pada Parashurama, dia bertemu dengan anak perempuan kecil yang menangis karena susu dalam periuk jatuh ke tanah dan takut dimarahi ibu tirinya. Karna kasihan terhadap anak tersebut, dengan kesaktiannya dia meremas tanah basah dan mengembalikan susu ke periuknya. Mungkin Karna tidak sadar, bila sang anak tidak ditolong, dia akan menjadi lebih berhati-hati di kemudian hari. Seorang anak perlu mengalami berbuat salah sehingga bisa memperbaikinya di kemudian. Dewi Bumi murka karena tindakannya dan mengutuk akan memperangkapnya yang akan menjadi penyebab kematiannya.

Dalam suatu turnamen para Kurawa kalah unggul dibanding Pandawa dan Karna akan ikut membantu Kurawa. Bhisma menolak karena status kastanya, akan tetapi Duryodhana mengatakan bahwa Karna sudah diangkatnya sebagai Raja Angga, dan sebagai saudaranya yang pantas ikut turnamen. Sejak saat itu kehidupan Karna berubah dan menjadi pendukung setia Duryodhana. Pada waktu sayembara memperebutkan Draupadi, Karna ikut tetapi masih ditolak karena status kastanya.

Bhisma dan Drona juga menyalahkan Karna yang selalu mendukung keinginan Duryodhana sehingga sifat Duryodhana semakin jahat.

 

Kehidupan Masa Lalu Karna

Pada zaman Treta Yuga adalah seorang Raja Asura bernama Dhambodbhava yang kuat bertapa. Dia memohon kepada Dewa Surya agar diberikan hidup keabadian. Surya berkata bahwa hal tersebut berada di luar kemampuannya dan oleh karena itu sang asura minta dia dilindungi oleh seribu baju baja yang hanya apat dirusak oleh manusia yang bertapa selama 1.000 tahun. Surya paham bahwa kesaktian tersebut bisa digunakan sang asura untuk kejahatan, akan tetapi dia mengabulkan juga permintaanya. Dengan kesaktiannya, Dhambodbhava menguasai tiga dunia an dikenal sebagai Sahasrakavacha, dia yang memiliki seribu baju baja.

Dewi Murti putri Daksha kawin dengan Dewa Dharma  dan melahirkan putra kembar Nara dan Narayana. Mereka berdua dibesarkan di hutan dan mereka dapat saling merasakan apa yang dihadapi salah satunya. Narayana bertapa lebih dari 1.000 tahun sedangkan Nara suka membantu penduduk dari  gangguan perampok. Pada suatu ketika Sahasrakavacha menyerang penduduk sekitar hutan tersebut dan berkelahi dengan Nara. Nara ternyata sangat kuat. Sebuah baju bajanya pecah dan beberapa saat kemudian Nara dapat dibunuhnya. Akan tetapi Narayana yang telah ribuan tahun bertapa dan memperoleh mantra Maha Mritunjaya dapat menghidupkan Nara kembali. Nara kemudian bermeditasi dan Narayana bertarung melawan Sahasrakavacha. Demikian berulang-ulang bila salah seorang mati yang lain menghidupkan sehingga baju baja Sahasrakavacha sudah pecah sejumlah 999 buah. Sahasrakavacha yang hanya mempunyai satu baju baja minta perlindungan Dewa Surya. Dewa Surya melindungi sehingga dikutuk akan lahir ke dunia untuk menyelesaikan karma melindungi Sahasrakavacha.

Pada zaman Dvapara Yuga, Sahasrakavacha bersama Dewa Surya lahir sebagai Karna, sedangkan Nara dan Narayana lahir sebagai Arjuna dan Krishna. Arjuna adalah Putra Kunti yang menggunakan mantra untuk memanggil Indra sehingga Arjuna adalah putra Indra. Jauh sebelum perang Bharatayudha, Indra menyaru sebagai pengemis tua yang minta baju baja Karna. Karna yang tersentuh oleh sang pengemis memberikan baju bajanya yang dipakainya sejak lahir.

 

Kunti Menemui Karna Menjelang Perang Bharatayudha

Kala Karna melakukan puja di suatu senja menjelang matahari tenggelam, Kunti datang dan menceritakan siapa sebenarnya Karna. Karna bangga bahwa dia bersaudara dengan Pandawa, akan tetapi Karna tidak mau dikatakan sebagai pencuri yang tidak mau membalas budi kebaikan Duryodhana yang telah mengangkat derajatnya. Karna berjanji tiak akan membunuh Pandawa kecuali Arjuna yang merupakan ksatria saingannya sejak remaja.

Kunti mengatakan bahwa dia telah melihat dalam impiannya bahwa Karna akan bertarung dengan Arjuna. Dan peristiwa itu adalah buah karma karena dia telah membuang Karna, malu sebagai putri raja melahirkan putra pada waktu masih perawan. Akan tetapi Kunti telah memasrahkan kehidupannya kepada Sri Krishna. Dan dia akan menghadapi segala peristiwa yang akan menimpanya. Kunti meneteskan air mata dan berpesan agar Karna memperbaiki segala kesalahan yang telah diperbuatnya karena mendukung kejahatan Duryodhana dan Kurawa. Karna mengangguk pelan dan meneteskan air mata. Senja itu Karna mohon maaf kepada Dewa Surya, dan hanya ingin berperang membalas budi kebaikan sampai mati.

 

Perang Bharatayudha

Karna dilarang Bhisma ikut perang Bharatayudha, karena tahu bahwa Karna sebenarnya adalah putra Kunti dan bersaudara dengan Pandawa. Setelah kematian Bhisma dan Drona diangkat sebagai Panglima baru, Karna baru ikut perang. Karna mempersiapkan senjata khusus yang dapat mengejar musuh yang berlari sampai mana pun untuk berperang melawan Arjuna. Akan tetapi Gatotkaca disuruh Krishna memporak-porandakan pasukan Kurawa. Duryodhana segera minta tolong Karna agar pasukan Kurawa tidak hancur. Karna terpaksa menggunakan senjata pamungkasnya untuk membunuh Gatotkaca dan tidak punya senjata pamungkas lagi saat berhadapan dengan Arjuna.

Saat berhadapan dengan Arjuna, pertempuran berjalan dengan sengit, keduanya ahli memainkan senjata. Pada suatu saat roda keretanya terperosok, karena dipegang Dewi Bumi, Karna ingin membaca mantra dari Parashurama, akan tetapi dia lupa semuanya. Dan, kemudian Karna turun memeriksa roda kereta. Arjuna ragu memanah, akan tetapi Sri Krishna berkata tidak ada gunanya kasihan kepada orang yang tak punya kasih, Arjuna diingatkan bahwa Draupadi pernah dipermalukan Kurawa karena mau ditarik kain sarinya dan Karna hanya tertawa-tawa. Diingatkan juga bahwa Karna selalu mendukung Duryodhana yang sering berbuat curang terhadap Pandawa. Tiba-tiba Karna ingat Kunti, ibunya dan Dewa Surya, ayahandanya dan saat itu juga Karna mati karena dadanya ditembus panah Arjuna.

 

Ketidakadilan Krishna alam Perang Bharatayudha

Bukan hanya Krishna, Bunda Ilahi yang mewujud sebagai Mohini juga berpihak terhadap para dewa an tiak adil terhadap para asura. Silakan baca http://sosbud.kompasiana.com/2013/08/10/keangkuhan-indra-dan-anugerah-bagi-mereka-yang-berkarya-tanpa-pamrih-583159.html

Kita melihat tindakan Sri Krishna yang berpihak pada Pandawa dan tidak adil terhadap Kurawa. Krishna mengajarkan beberapa muslihat kepada Pandawa untuk memenangkan perang melawan Korawa. Krishna mempertimbangkan para Pandawa yang berperang untuk menegakkan dharma, sedangkan Korawa berperang untuk mempertahankan status quo Kerajaan Hastina bagi kepentingan pribadi/kelompok mereka.

Agar Krishna dan Bunda Ilahi berpihak kepada kita, kita perlu melakukan pekerjaan tanpa pamrih pribadi. Resi Agastya mengajarkan agar kita berupaya menjadi devoti Bunda Illahi dengan selalu berbuat “Good Karma”, Nishkama Karma, selfless service, berkarya demi kepentingan alam semesta an jauh dari kepentingan pribadi. Semangat selfless service atau berkarya tanpa pamrih pribadi, dan volunteerism atau jiwa kerelawanan bukanlah sesuatu yang baru bagi kita. Semangat gotong-royong adalah bagian dari budaya kita.

“Bhagavad Gita 3:12: Berkarya dengan semangat Pelayanan dan Kerelawanan itulah yang disebut semangat manembah atau ‘sembahyang’ oleh Bhagavad Gita. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan semangat itu menjadi persembahan kepada Hyang Maha Kuasa. Jadi, kita tidak lagi berkarya demi kepentingan diri, keluarga, kelompok, negara, dunia, atau apa saja – tetapi berkarya dengan semangat persembahan. Ketika itu yang terjadi, maka, puas dengan apa yang kau lakukan, alam semesta akan memenuhi segala kebutuhanmu.” (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Kesetiaan Ananda terhadap Buddha, Kisah Dua Angsa pada Relief Borobudur

Posted in Relief Candi with tags , , , on September 23, 2013 by triwidodo

borobudur 2 angsa suci sumber www borobudur tv

Ilustrasi Angsa Suci dan komunitasnya pada Relief Candi Borobudur sumber: www borobudur tv

“Setiap agama, setiap kepercayaan memiliki kasih-sayang sebagai landasannya. Tanpa kasih sayang tidak ada kepercayaan, tidak ada agama yang manusiawi, yang bisa memikirkan dan peduli terhadap sesama makhluk. God is in you, within you, above you, around you, and behind you…  Tuhan berada di dalam dirimu, di atasmu, di sekelilingmu, di belakangmu. Dia berada di mana-mana. Demikian pula dengan kasih. Maka, sesungguhnya tidak perlu mencari pemahaman di luar diri tentang Tuhan, tentang kasih. Carilah di dalam diri. Di dalam diri itu ada Tuhan, dan ada kasih. Sesungguhnya Tuhan berada dalam wujud kasih di dalam diri setiap orang. Kasih di dalam diriku adalah Tuhan, sebagaimana kasih di dalam dirimu. Kasih di dalam diriku, sebab itu, mempersatukan ‘aku’ dan ‘kamu’.” (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

 

Dua Angsa Suci Pemimpin Ratusan Angsa

Tersebutlah tentang ratusan angsa yang tinggal di atas telaga yang berada di gunung yang sulit didatangi manusia. Angsa-angsa tersebut putih bersih bulunya dengan kuning keemasan warna kakinya. Kala mereka terbang bersama, seperti kapas yang sedang terbawa angin saja nampaknya. Kelompok angsa tersebut dipimpin oleh raja angsa yang dibantu wakilnya. Kedua pemimpin angsa tersebut luar biasa indah penampilannya. Mereka mempunyai bulu emas bercahaya di seluruh tubuhnya. Mereka bisa berkomunikasi dengan berbagai bahasa hewan, sehingga di mana pun mereka berada semua hewan menunjukkan penghormatannya. Hanya beberapa orang yang tersesat jalan, kaang menemukan telaga dan berkesempatan melihat keindahan kedua pemimpin angsa.

 

Upaya Luar Biasa Menangkap Dua Angsa Suci

Bagaimana pun berita tentang keindahan dan kebijaksanaan kedua angsa menyebar ke seluruh pelosok negeri dan terdengar sampai di istana. Sang Raja berhasrat menangkapnya dengan segala cara. Perjuangan Sang Raja sangatlah luar biasa, dia sengaja membangun sebuah telaga besar yang sangat indah di pinggir kota. Berbagai ikan dikembang-biakkan di sana. Berbagai macam bunga teratai menambah kecantikan telaga. Pada malam hari telaga tersebut nampak bagai cermin raksasa, tempat memandang bulan dan bintang pada permukaan airnya. Para hewan mulai berdatangan ke  telaga baru bikinan Sang Raja. Beberapa gajah sering datang untuk mandi dan bermain air di sana. Sedangkan para rusa sering merumput di dekatnya. Sebuah telaga baru yang keindahannya sulit diungkapkan kata-kata.

Pada suatu hari, sekelompok angsa terbang di atas telaga dan melihat telaga baru yang mempesona. Mereka turun, bermain air dan bersantai melepaskan lelahnya. Kemudian mereka kembali ke atas gunung dan menceritakan kepada teman-temannya tentang telaga baru di pinggir kota.

 

Nasehat Dua Angsa Kepada Komunitasnya

Masyarakat angsa mohon kepada Sang Raja Angsa dan wakilnya untuk bersama-sama pindah ke telaga baru di pinggir kota. Konon telaga baru tersebut lebih hangat dan lebih nyaman daripada tempat tinggal mereka. Kedua pemimpin angsa menolak permintaan untuk tinggal di dekat pemukiman manusia. Burung-burung dan hewan mempunyai kebiasaan  hidup bebas dan bisa mengekpresikan perasaannya selaras dengan alam semesta. Tetapi manusia ingin memelihara burung dalam sangkar demi kesenangan mereka. Manusia merasa burung berbahagia dalam kurungan yang indah asal telah dicukupi makan dan minumnya. Manusia belum halus rasanya, belum pernah merasakan kebebasan dari pola pikiran lama yang telah membelenggunya. Hal tersebut membuat manusia tidak peka akan belenggu sangkar yang membuat burung kehilangan kebebasannya. Manusia sendiri tidak suka dikekang dalam rumah indah mereka. Dia sering keluar bepergian juga, namun mereka memelihara burung dalam sangkar di rumah mereka. Betapa tidak pekanya manusia. Manusia tidak peka karena manusia sendiri telah terjebak dalam sangkar dunia.

“Identitas palsu dan status sosial kita, demikian juga dengan afiliasi profesional, politik maupun religius yang kita miliki, secara bersama-sama membentuk zona aman yang kita tinggali. Inilah sangkar di mana kita terjebak. Dan, kita sudah terjebak dalam waktu yang begitu lama yang membuat kita jadi terbiasa. Burung yang ada di dalam sangkar tidak perlu bersusah-payah mencari makan dan minum setiap hari. Awalnya ia akan berusaha membebaskan diri, kemudian ia mulai menerima takdirnya dan malah menikmatinya. Sang burung tidak menyadari bahwa kenyamanan superficial tersebut dibayar dengan kebebasannya. Situasi yang kita hadapi kurang lebih sama. Meskipun sangkar yang mengurung kita jauh lebih besar ukurannya, dengan bergerak kesana-kemari memberi kesan seolah-olah kita bebas. Kita ini seperti hewan yang ditawan di taman safari buatan manusia, dengan secara salah menganggap taman tersebut sebagai hutan alami. Delusi semacam ini bisa sangat fatal. Ketika sangkar yang mengurung kita kecil, maka kita akan segera merasa sesak dan berusaha membebaskan diri. Namun, ketika sangkarnya sangat besar dan luas, maka sangat kecil kemungkinan bagi kita untuk merasa perlu membebaskan diri. Kita menjadi terbiasa hidup dan mati di dalamnya.” Terjemahan bebas dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bagaimana pun para angsa tetap memohon, sehingga Sang Raja Angsa dan wakilnya akhirnya mengabulkan. Sang Raja berpesan agar selama berada di telaga baru di pinggir kota tetap menjaga kewaspadaan……

 

Sang Raja Angsa Terjebak Pemburu dari Istana

Mendengar kedatangan kedua angsa emas di telaga, Sang raja meminta seorang pemburu ulung untuk memasang jebakan. Saat Sang Raja Angsa sadar bahwa dia baru saja terperangkap dalam jebakan, Sang Raja Angsa memberitahu kepada seluruh angsa, agar telaga baru tersebut segera ditinggalkan. Seluruh angsa segera mematuhinya dan meninggalkan telaga yang dipenuhi jebakan. Akan tetapi Sang Wakil Raja Angsa yang tidak terperangkap, tetap tinggal di sana menemani Sang Raja. Sang Raja memerintahkan wakilnya untuk segera pergi, menemani para angsa untuk terbang menjauhinya. Tetapi Sang Wakil Raja Angsa tidak mematuhinya, dia tetap setia menemaninya.

Kala Sang Pemburu Ulung datang, Sang Wakil Raja Angsa berkata bahwa para manusia sulit membedakan antara Sang Raja Angsa dengan dia. Sang Wakil mohon agar Sang Raja Angsa dibebaskan dan dia ditangkap sebagai penggantinya. Sang Pemburu terkesima mendengar pernyataan Sang Wakil Raja Angsa. Dia mendapatkan pelajaran berharga, bahwa ada karakter angsa yang patut diteladani manusia karena kesetiaannya. Sang Pemburu Ulung lama merenung, dia belum pernah menemukan manusia yang kesetiaannya seperti Sang Wakil Raja Angsa. Kemudian, Sang Pemburu bahkan melepas Sang Raja Angsa menghormati kebijakan mereka. Akan tetapi kedua angsa tidak mau pergi juga, mereka tahu Sang Pemburu akan dihukum berat oleh Sang Raja karena telah melepaskan angsa buruan Sang Raja. Mereka segera hinggap di kedua pundaknya dan menemani Sang Pemburu menghadap Sang Raja.

“Sebaik-baiknya tindakan kita, masih belum ‘tepat” jika semangat dibaliknya adalah kepentingan diri, dan bukanlah kepentingan bersama. Dan, setepat-tepatnya tindakan kita, masih belum ‘mulia’ jika semangat dibaliknya sekedar kepentingan saja.  Entah kepentingan diri, atau kepentingan bersama.” (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bangkitnya Kesadaran Sang Raja

Mendengar laporan Sang Pemburu, Sang Raja membungkukkan kepala kepada kedua angsa yang bijaksana. Belum ada satu pun penasehat raja yang membabarkan dharma kebenaran begitu jelasnya. Kemudian Sang Raja Angsa diminta menyampaikan dharma tentang kesetiaan, tanggung jawab dan kebebasan. Setelah selesai bila ingin pergi dipersilakan. Sang Raja tidak lagi akan memasang jebakan hewan. Bila ada waktu diharap Sang Raja Angsa datang ke istana dan menyampaikan dharma kebenaran…… Konon setelah beberapa kali kehidupan, Sang Raja Angsa lahir sebagai Sang Buddha dan Sang Wakil Raja Angsa lahir sebagai murid Sang Buddha yang bernama Ananda.

Sang Raja mendengarkan dengan cermat laporan Sang Pemburu dan tidak ada sedikit pun rasa keangkuhan dalam dirinya, bahwa dia lebih bijak daripada Sang Pemburu bawahannya. Sang Raja juga ingin dekat dengan Sang Raja Angsa untuk belajar kepadanya. Sang Raja ingin bersahabat engan Raja Angsa yang bijak.

“Bersahabatlah dengan Para Bijak, kalimat ini dimaksudkan bagi para Saadhaka, yaitu mereka yang ‘sedang menjalani’ pelatihan rohani, bukan bagi mereka yang merasa ‘sudah selesai menjalani’nya. Bukan bagi mereka yang menganggap dirinya sudah cukup bijak, sehingga tidak lagi membutuhkan nasehat para bijak bagi dirinya. Kalimat ini dimaksudkan bagi mereka yang tidak angkuh, yang mau belajar dan siap menundukkan kepala. Kita akan terpengaruh oleh orang-orang yang berinteraksi dalam pergaulan kita. Karena itu mudah dimengerti: Bergaullah dengan para bijak, bersahabatlah dengan mereka, supaya kita sendiri nanti bisa menjadi bijak juga. Berbahagialah bila bertemu dengan seorang bijak yang sudi memberi nasehat, janganlah kita membantahnya. Bagaimana kita tahu bahwa dia seorang bijak?, tanya seorang teman. Gampang. Pertama : Nasihatnya selalu membebaskan, meluaskan, tidak membelenggu, tidak menyempitkan. Kedua : dia selalu bertindak tanpa pamrih, tanpa ‘memikirkan’ keuntungan bagi diri pribadinya. Seorang bijak tidak pernah membuat peraturan untuk membatasi gerak-gerak kita. Ia berupaya untuk menyadarkan diri kita supaya kita membatasi sendiri gerak-gerik kita, bahkan meninggalkan segala kebebasan yang tidak menunjang kesadaran kita.” (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Menaka: Bidadari Jelita Penggoda Vishvamitra

Posted in Ramayana with tags , on September 22, 2013 by triwidodo

vishvamitra digoda menaka sumber bharatabharati wordpress com

Ilustrasi Resi Kaushika digoda Bidadari Menaka sumber bharatabharati wordpress com

Seorang Bhakta Perlu Berhati-hati dalam Pergaulan

Kaushika bertapa ribuan tahun dan Indra cemas Kaushika akan mengalahkan dirinya. Indra kemudian mengirim Bidadari Jelita Menaka. Menaka menari dengan gemulai dan menyanyi dengan suara merdu serta kemudian mengalungkan karangan bunga ke leher Kaushika yang sedang memejamkan matanya. Kaushika terganggu dan membuka matanya. Resi Kaushika telah bertapa ribuan tahun untuk menyamai kesaktian Resi Vasihtha, akan tetapi masih tergoda juga dengan bidadari Jelita Menaka. Mungkin itu sudah bagian dari rencana alam semesta. Kaushika hidup bersama Menaka selama 5 tahun dan lahirlah Shakuntala yang nantinya menjadi ibu dari Bharata, nenek moyang Pandawa dan Kurawa. Genetika pilihan Kaushika dan Menaka menurun ke Dinasti Bharata. Seandainya Resi Kaushika tahan godaan, mungkin saja Shakuntala akan mempunyai bapak yang lain, bukan Resi Kaushika.

“Ketika berpapasan dengan lawan jenis di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, ‘Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!’ Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi. Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, ‘Subhanallah! Maha Suci Allah’.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Antara Anugerah dan Kutukan

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dan lain-lainnya kita mengenal adanya anugerah, boon dan kutukan, curse. Anugerah adalah memberikan ganjaran kepada seseorang yang telah melakukan upaya kebaikan atau bertapa dengan tujuan agar keinginannya dikabulkan. Kebanyakan mereka yang bertapamohon Anugerah kepada Shiva adalah raja para asura untuk kepentingan keduniawian misalnya untuk memperoleh kesaktian atau senjata handal untuk dipakai diri mereka sendiri. Biasanya setelah permohonannya dikabulkan mereka berhasil, akan tetapi kesaktian atau senjata tersebut, setelah membuatnya semakin sakti juga membuat dia terbunuh oleh kesaktian atau senjata tersebut. Shiva adalah Pendaur Ulang alam. Pakaian para bhakta Shiva biasanya mewah, gemerlapan, pakaian raja atau ksatria sedangkan Shiva sendiri bertelanjang dada. Sebaliknya mereka yang memohon kepada Vishnu adalah para suci yang mohon berkah untuk kebaikan masyarakat. Kebanyakan bhakta Vishnu berpakaian sederhana sedang Vishnu sendiri berpakaian gemerlapan. Dikisahkan hanya ada 2 asura bhakta Vishnu yaitu Prahlada dan Vibhisana.

Kutukan, curse diberikan kepada seseorang yang membuat seorang Resi menjadi marah. Kutukan ini digambarkan seperti kekuatan supranatural atau mantra. Pada zaman dahulu kutukan ini sering dikisahkan dalam legenda-legenda setempat di seluruh berbagai daerah di dunia. Dikisahkan bahwa sebuah kutukan akan mengurangi jumlah masa tapa yang pernah dilakukannya. Kutukan juga dapat diberikan oleh orang yang teraniaya. Dalam beberapa daerah dikenal bahwa: kutukan orang teraniaya itu dikabulkan; air mata yang menetes dari penyiksaan yang luar biasa merupakan senjata ampuh untuk permohonan keadilan kepada Hyang Maha Kuasa;

Baik Anugerah maupun Kutukan ada kaitannya dengan hukum sebab-akibat. Sebuah Anugerah adalah sebuah upaya gigih yang akan menghasilkan anugerah yang sebanding. Sebuah kutukan perlu di-“decoding” dan dimaknai yang tidak jauh dari buah yang harus dipanen akibat menanam benih ketidakbaikan.

 

Mengutuk Para Putra Resi Vasishtha

Kala Kaushika sedang mengadakan upacara persembahan agar Trisanku bisa naik ke surga, datanglah para putra Vasishta melecehkannya, “Bagaimana bisa bekas raja dapat menaikkan seorang chandala ke surga.” Para putra Vasishtha tadinya mengutuk Raja Trisanku menjadi seorang chandala yang tiada seorang pun yang mengenalinya, kecuali Resi Kaushika. Kini kala Resi Kaushika sedang melakukan persembahan diganggu mereka. Para putra Vasishtha kemudian dikutuk menjadi pengikut suku liar Nishada selama 1000 tahun. Kutukan ini dimaknai mereka yang mengutuk raja yang tak bersalah harus mengalami menjadi warga suku liar tanpa raja selama beberapa generasi. Juga mereka yang tidak tahu etika mengganggu resi yang melakukan upacara persembahan akan menjadi warga suku yang tidak mempunyai etika selama beberapa generasi.

Resi Vasishtha adalah Resi bijaksana dan tidak mempunyai keterikatan terhadap keluarga. Resi Vasishtha, tidak marah putra-putranya dikutuk, karena berpendapat sebuah kutukan hanya dapat terjadi karena terjadinya hukum sebab akibat. Kesalahan masa lalu bisa saja memberikan akibat pada saat ini. Putra-putra kandungnya adalah para putranya pada kehidupan saat ini. Sudah ribuan putra dalam ribuan kehidupan dimiliki dalam kehidupan sebelumnya. Putra sejatinya adalah para muridnya, yang ingin meningkatkan kesadaran melalui dirinya sebagai seorang Guru. Resi Vasishtha paham masalah hakim-menghakimi adalah urusan pikiran. Seorang yang sudah sepenuhnya tidak terikat duniawi disebut seorang sanyasi.

“Apa yang membedakan seorang sanyasi dari seorang yang masih sepenuhnya terikat dengan kebendaan, dengan dunia benda? Seorang ‘duniawi’—entah sudah berkeluarga atau masih membujang—hidup bagi dirinya, bagi keluarganya. Ia masih terkendali oleh aku palsu, oleh ego. Ada kalanya seorang yang membujang, dan baru tahu sedikit tentang sanyas, langsung menganggap dirinya seorang sanyasi. Seolah ‘membujang’ itu sama dengan sanyas. Tidak, tidak demikian. Banyak orang yang membujang, mereka semua bukanlah sanyasi. Pengendalian diri Anda, ketidakterikatan Anda dengan dunia benda, kesederhanaan dan kesahajaan Anda, pengertian Anda, semua itu menentukan apakah Anda sudah menjadi atau layak untuk menjadi sanyasi. Jika Anda masih mementingkan makanan, masih mementingkan kenyamanan, maka Anda belum layak untuk sanyas. Tidak berarti Anda berhenti makan, atau menolak kenyamanan esensial. Tidak. Bukan itu maksudnya. (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bidadari Menaka dan Indra

Indra yang takut pada kesaktian Resi Kaushika yang semakin keras bertapa, mengutus bidadari jelita Menaka, untuk menggoda. Indra yang sering dikaitkan dengan penguasa panca indra sering menguji apakah seseorang benar-benar telah dapat mengendalikan semua panca inderanya. Itulah sebabnya Indra menyuruh bidadari yang cantik jelita, harum baunya, halus kulitnya dengan suara yang merdu untuk menguji seseorang yang sedang berjuang gigih menuju cita-citanya. Kita perlu memahami kinerja Indra atau Indraa dalam bahasa Sansekerta.

lndraa, Prajaapati, Brahmaa—semuanya ini berwujud… Wujud mereka tidak sepadat wujud kita, mereka mengenal ruang dan waktu, tapi ukurannya Iain. lndraa, Prajaapati, dan Brahmaa — adalah Sekaala, dalam pengertian yang sedikit beda dari pengertian kita. Pengertian kita tentang sekaala saat ini adalah ‘materi’ — sesuatu yang dapat dilihat oleh mata, disentuh oleh tangan, dicicipi, didengarkan, dan sebagainya, dan seterusnya. lndraa, Prajaapati, dan Brahmaa tidak dapat dilihat sebagaimana Anda melihat buku di tangan Anda saat ini. Mereka dapat dilihat dengan menggunakan mata batin, dengan memanfaatkan sinar suci di dalam diri kita sendiri. Suara mereka terdengar oleh jiwa kita. Dan, kita dapat berdialog pula dengan mereka. Kinerja lndraa mudah dipahami. Atas perintahnya bahwa tangan saya bekerja, kaki berjalan, hidung mencium, mulut mencicipi, dan telinga mendengar. lndraa tidaklah hanya menggerakkan panca indera di dalam diri kita, tetapi menggerakkan seluruh planet bumi. la adalah Motor di balik setiap gerakan. la adalah Sebab setiap gerakan. Ia adalah Gerakan itu sendiri. Oleh sebab itu, jangkauannya sangat Iuas. Dimana terjadi gerakan, di sana ada lndraa.” (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

 

Brahmarsi Vishvamitra

Hasil pertapaan Vishvamitra berkurang karena mengutuk para putra Vasishta dan tidak bertambah karena menjalani hidup berkeluarga. Tetapi Kaushika pantang menyerah, dia kemudian meninggalkan Shakuntala dan Menaka dan kembali meneruskan bertapa selama 1.000 tahun. Silakan baca kisah tentang Shakuntala di Srimad Bhagavatam. Takut tersaingi Kaushika, Indra kembali mengutus bidadari Rambha untuk menggoda, tetapi kali ini Kaushika tidak tergoda, bahkan mengutuk Rambha untuk hidup sebagai manusia selama 1.000 tahun di dunia, kutukan yang lebih ringan dari kebiasaannya.

Dengan perenungan selama 1.000 tahun, Kaushika sudah tidak tergoda bidadari lagi. Dan, tiba-tiba kesadaran Kaushika muncul, dia telah menguasai ilmu yoga, tetapi belum bisa mengendalikan diri dan masih sering mengutuk. Padahal dia sudah belajar kelembutan dari Menaka sebelumnya. Potensi kekerasan masih ada dalam dirinya. Selanjutnya Kaushika segera meneruskan tapanya dengan membisu. Tak mau bicara dengan siapa pun. Para dewa menghormati semangat tak kenal lelah Kaushika dan memberinya sebutan Brahmarsi, Brahma Resi. Tetapi hal tersebut belum memuaskannya, dia hanya mau menyudahi tapanya bila Resi Vasishtha mengakui dirinya adalah seorang resi.

Dengan sabar Resi Vasishta mendatangi Kaushika dan mengakui Kaushika sebagai resi dan bergelar Resi Vishvamitra, Sahabat Universal, Sahabat Alam Semesta. Resi Vasishtha berkata, “Saat ini sudah kutunggu lama, akhirnya Resi Vishvamitra menjadi mitraku sebagai Guru Sri Rama selagi remaja. Semoga kita diberkahi Sri Rama, Dia Yang Berada di Mana-Mana.”

Demikian perjalanan hidup seorang resi yang menjadi guru dari seorang avatar. Resi Vishvamitra sudah menjadi Guru dari dinasti Surya, sejak Raja Trisanku, Hariscandra putra Trisanku, Rohita putra Harischandra dan setelah beberapa generasi akhirnya menjadi guru Sri Rama, sang avatar. Dan setelah perkawinan Sri Rama dengan Sita, tugasnya selesai dan pergi ke pegunungan Himalaya.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Menaklukkan Nafsu Agresif dengan Seribu Wujud, Kisah Mahishasura dalam Devi Mahatmyam

Posted in Lalitha with tags , on September 20, 2013 by triwidodo

Durga Mahishasura mardini sumber wikipedia

Relief Durga Mahishasuramardini pada Candi Prambanan sumber Wikipedia

Ego Memiliki Seribu Wujud

“Api keinginan, api keterikatan, api keserakahan, api ketidaktahuan, api ketidaksadaran entah berapa ‘jenis’ api yang tersimpan di dalam diri manusia. Atau mungkin semuanya itu hanyalah ekspresi dari satu jenis api yaitu api ke-‘aku’-an. Ego manusia. Nabi Ibrahim membiarkan ke-‘aku’-annya terbakar habis oleh api itu sendiri. Dia berhasil menaklukkan egonya, sehingga atas perintah Allah dia bersedia mengorbankan anaknya. Dalam kisah ini, anak mewakili ‘keterikatan’. Dan ketika Ibrahim berhasil membebaskan diri dari keterikatan itu, dia menjadi manusia api. Siapa pun yang mendekatinya akan terbakar. Demikianlah para nabi, para wali, para pir, para mursyid, para avatar, para buddha, para mesias, para guru, para master. Bersahabatlah dengan mereka, sehingga anda pun terbebaskan dari keterikatan. (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mahishasura Yang Tak Terkalahkan oleh Manusia maupun Dewa

Mahishmati adalah istri Asura Vipra Chithi. Dia meneror Resi Sindhu Dipa dengan mengambil wujud seekor kerbau. Sang Resi mengutuk dia menjadi kerbau sungguhan. Melihat kesaktian Sang Resi, dia  minum bekas sperma Resi Sindhu Dipa yang tercecer dan melahirkan Mahishasura. Tempat Mahishasura memerintah di masa lalu disebut Mahishur sekarang disebut Kota Mysore yang berada di negara bagian Karnataka, India.

Asura Mahisha adalah seorang raja yang kuat dalam bertapa, dia memiliki power of the will (niat yang kuat), power of action (kerja keras), power of knowlege (ilmu yang dalam), tetapi tidak mempunyai power of wisdom, atau kesadaran). Karena tapanya yang kuat, Brahma menemuinya dan menanyakan apa keinginan sang asura. Mahishasura memohon Brahma agar dia dapat hidup abadi dan Brahma menyampaikan bahwa itu berada di luar kewenangannya. Kemudian Mahishasura meminta bahwa dia tidak bisa dikalahkan oleh seluruh manusia dan dewa, dan dia hanya dapat dikalahkan oleh seorang perempuan. Brahma mengabulkan permohonannya, dan Mahishasura bergembira karena Trimurti yaitu Brahma, Shiva dan Vishnu pun termasuk dewa sehingga Trimurti tidak dapat mengalahkannya. Kalau mereka saja tidak bisa mengalahkannya, apalagi makhluk ciptaan mereka yang berjenis perempuan, maka menurut pikirannya dia tidak akan dapat dikalahkan.

 

Bunda Ilahi Mewujud Sebagai Dewi Durga

Mahishasura kemudian dengan para panglima dan pasukannya mengalahkan para dewa dan menguasai tiga dunia. Di bawah penguasaan Mahishasura yang lalim kondisi masyarakat tiga dunia semakin menderita. Di kala Trimurti kewalahan menghadapi permasalahan, maka Bunda Alam Semesta akan datang membantu.

Mendengar laporan kezaliman Mahishasura dari para dewa, Trimurti murka. Mereka tahu bahwa mereka tidak dapat mengalahkan Mahishasura, akan tetapi Dharma harus tetap ditegakkan. Kemudian dari muka Vishnu, Shiva dan Brahma keluar bola api yang segera menyatu membentuk bola api yang besar. Dari muka para dewa juga muncul api yang memperbesar bola api. Bola api tersebut berubah menjadi gumpalan sinar yang sangat berkilau dan muncullah seorang dewi naik seekor singa dari gumpalan sinar tersebut disertai suara gemuruh. Bumi berguncang, gunung gemetar dan laut menggelegak.

Mahishasura dan para asura anak buahnya berlari menuju sumber suara. Melihat dewi bersinar naik seekor singa dikelilingi para dewa, Mahishasura dan pasukannya menyerang Sang Dewi.

Panglima Chiksura, Chamara dengan pasukan infanteri, kavaleri berkuda, kereta perang dan pasukan gajah menyerang sang dewi. Sang dewi menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskan nafas yang menjadi jutaan Chandika mengimbangi pasukan asura. Dengan cepat pasukan Sang Dewi mengalahkan pasukan para asura.

Akhirnya Sang Dewi berhadapan dengan Mahishasura. Dewi Durga melemparkan Tali “Pasa” yang menjerat Mahishasura yang mewujud sebagai kerbau. Mahishasura yang terdesak lalu mengubah wujud sebagai singa. Sang Dewi segera menebas kepala Mahishasura, yang segera mengubah wujud sebagai Asura berpedang. Sang Dewi segera memanah Asura tersebut, dan Mahishasura segera mengubah wujud sebagai gajah raksasa dan menyerang Singa yang ditunggangi Sang Dewi. Sang Dewi segera memotong belalai sang gajah.

Menurut Vishnu Purana, dalam pengadukan samudera susu, para daitya menolak Dewi Sura, atau anggur sehingga kemudian dikenal sebagai asura, sedangkan para dewa menerimanya dan kemudian dikenal sebagai sura. Wine, anggur adalah simbol dari kasih spiritual.

Mahishasura kemudian kembali mewujud sebagai kerbau. Sang Dewi sangat marah dan kemudian minum wine, anggur merah dan tertawa. Dan kemudian Sang Dewi menduduki kerbau dan menjerat lehernya serta memegang kakinya. Mahishasura berupaya bergerak tetapi tak bisa. Selanjutnya kepala Mahishasura dipukul dengan pedang dan matilah Mahishasura. Seluruh asura kemudian melarikan diri.

 

Doa Kepada Bunda Alam Semesta

Para dewa kemudian berdoa, “Bunda adalah penyebab dan akar segala sesuatu di dunia. Meskipun Bunda memiliki tiga sifat Sathva (tenang), Rajas (agresif) dan Thamas (lembam), Bunda tidak terpengaruh oleh tiga guna tersebut. Bunda adalah sosok yang bahkan tidak sepenuhnya diketahui oleh Vishnu, Brahma dan Shiva. Bunda adalah tempat semua makhluk bergantung. Seluruh dunia adalah bagian dari Bunda. Energi Bunda menghidupi para dewa.”

“Wahai Dewi, Bunda adalah ‘Svaha’ yang diucapkan yang dalam api pengorbanan. Bunda menerima persembahan, yang dimasukkan ke dalam api yajna dengan kata ‘Svaha’.

“Wahai Dewi, Bunda adalah pembawa pengetahuan yang merupakan penyebab keselamatan. Pengetahuan yang dibutuhkan seseorang yang sedang mencari kebenaran. Bunda dicari oleh orang-orang bijak yang telah melepaskan semua keinginan dan perilaku buruk. Bunda didambakan mereka yang berpikir bahwa mencari Tuhan adalah esensi dari kehidupan mereka.”

 

“Wahai Dewi, Bunda adalah kebijaksanaan yang membuat orang mampu mengetahui semua pengetahuan sejauh yang ingin diketahuinya, Bunda adalah Durga tidak tertandingi yang merupakan perahu yang membantu seseorang untuk menyeberangi lautan kehidupan. Bunda adalah Dewi Lakshmi yang tinggal di dada Vishnu dan Bunda adalah Dewi Gauri yang bersemayam di  Parameshwara yang memakai bulan sabit.”

 

Durga Mahishamardini di Candi Prambanan

Kita bisa melihat bahwa pada Candi Prambanan terdapat relief kisah mulia Ramayana dan di dunia ini hanya di Candi Prambananlah kisah Ramayana dipahat pada dinding candi sebagai relief. Kita perlu mengetahui bahwa Sri Rama yang sering disebut titisan Sri Vishnu pun pada saat perang melawan Rahwana berdoa kepada Bunda Alam Semesta yang berwujud sebagai Durga. Patung yang disebut Roro Jonggrang di Prambanan adalah patung Durga Mahishasuramardini, Durga yang mengalahkan asura Mahisha. Patung yang menggambarkan Dewi bertangan delapan dan menginjak kerbau, mahisha. Kata Prambanan sendiri berasal dari Param Brahman, Kebenaran Mutlak Tertinggi. Silakan baca http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/04/tanpa-seks-dunia-cepat-berakhir-kisah-kama-pralaya-dalam-lalitopakyana-589503.html

 

Kama Krodha dan Lobha

Mahishasura adalah simbol dari obsesi (kama, nafsu) dalam diri yang bertindak penuh kemarahan (krodha) bila obsesinya tidak tercapai. Apabila obsesi tersebut tercapai justru membuatnya menjadi semakin serakah (lobha). Ketiga sifat itu seharusnya dilepaskan karena ketiganya menutupi cermin kesadaran sehingga cerminnya tidak nampak lagi. Kama, krodha dan lobha lebih tangguh daripada musuh yang terlihat mata. Mahishasura selalu berubah wujud, seperti keinginan yang berubah wujud dan berkembang biak sangat cepat. Jika kita memukulnya sebagai kerbau dia akan mewujud sebagai gajah. Bila kita membunuh sebagai gajah dia akan mengambil bentuk yang lain, sehingga manusia sulit mengalahkannya. Energi kita akan habis untuk melawannya. Keinginan satu dipotong akan berubah wujud menjadi keinginan lainnya. Kecuali kita dapat memotong sampai ke akar-akarnya, ke sumbernya, atau menaklukkan esensinya. Dengan bantuan Bunda Alam semesta, keinginan dapat ditaklukkan.

“Bebaskan diri Anda dari perbudakan yang mengecoh ini. Pahamilah, perbudakan ini adalah kreasi Anda sendiri. Itu suatu ilusi, suatu imajinasi. Keterikatan Anda, obsesi Anda – semuanya ini telah menciptakan sangkar, tempat Anda tinggal. Bebaskan Anda dari keterikatan ini. Ini bukan cinta kasih. Lepaskan diri Anda. Selama Anda terikat, Anda terikat dalam sangkar, kebebasan hanya merupakan suatu impian. Jika Anda senang dengan situasi seperti ini, jangan mengeluh lagi. Jangan mengharapkan kebebasan. Lalu, nikmatilah keterikatan Anda. Lalu, jadikan sangkar Anda dunia Anda. Jangan mimpikan dunia luar. Lalu jangan berpikir tentang kebebasan. Lalu cintailah keterikatan. Tetapi ingat, ini bertentangan dengan keadaan alami Anda. Perbudakan tidak ada hubungannya dengan sifat sejati Anda. Setelah beberapa waktu Anda akan mulai mengadu lagi. Suatu hari nanti akan mulai bermimpi tentang kebebasan lagi. Lalu, mengapa menunda kebebasan Anda sendiri? Mengapa Anda tangguhkan? Mulailah perjalanan Anda menuju sesuatu yang baru yang belum Anda ketahui. Bebaskan diri Anda, karena hanya lewat kebebasan Anda dapat mengubah hidup Anda menjadi perayaan. Sekali lagi, saya ulangi, perbudakan, penjajahan hanya merupakan imajinasi Anda. Bebaskan diri Anda. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Tidak, jangan membiarkan kebebasan hanya menjadi sebagai suatu kemungkinan Nyatakan kebebasan Anda sekarang juga pada kesempatan ini.” (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013