Akhir Dendam Draupadi di Penutup Perang Bharatayudha

Draupadi mengikuti Pandawa meninggalkan keduniawian sumber www otago ac nz

Ilustrasi Draupadi ikut Pandawa naik ke Meru mempersiapkan kematian sumber www otago ac nz

Setia terhadap Pandawa

“Perkawinan adalah perjalanan dari ‘aku’ menuju ‘kita’. Bila milik-mu tetap milik-mu dan milik-ku tetap milik-ku, tujuan perkawinan itu sendiri tidak terecapai. Dianggap gagal atau tidak oleh masyarakat, berakhir dengan perceraian atau tidak, perkawinan semacam itu sesungguhnya sudah berakhir.” (Krishna, Anand. (2006). Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Draupadi sudah meleburkan dirinya ke dalam suaminya, kepentingan suaminya adalah kepentingan bersama. Draupadi sang putri raja bersedia mengikuti pengembaraan Pandawa, suaminya selama 13 tahun masa pengasingan dan bersedia ikut menyamar sebagai pelayan istana di Kerajaan Virata pada tahun terakhir pengembaraannya. Saat menyamar sebagai penata rambut di Kerajaan Wirata, adalah seorang Panglima yang bernama Kichaka ingin mempersuntingnya. Draupadi tidak bisa membuka penyamaran Pandawa dan kemudian mengatakan bahwa dia telah menjadi istri para Gandharva. Ketika Kichaka tidak mempercayainya, Draupadi memintanya bertemu sendirian dengannya di tengah malam dan kemudian Kichaka dibunuh oleh Bhima.

Kala dalam pengembaraan di hutan, saat sendirian dia juga pernah dilamar oleh Jayadhrata, putra adik perempuan Duryudana. Draupadi menolak dan ketika dipaksa naik kereta dia bertahan sampai Pandawa datang dan Jayadhrata lari terbirit-birit.

 

Dendam Draupadi

Nampaknya Draupadi sangat dendam pada Kaurawa, akan tetapi sebenarnya yang terjadi tidak demikian. Draupadi paham bahwa dharma harus ditegakkan dengan jalan memusnahkan Korawa. Berdamai dengan Korawa tidak akan memberikan ketenangan, Korawa akan selalu berkhianat menghalalkan segala cara.

Setelah 13 tahun masa pengasingan, Sri Krishna diminta sebagai duta perdamaian agar Pandawa diberikan sebagian kerajaan Hastina. Draupadi menyempatkan diri menemui Krishna, dan berkata bahwa bila terjadi perdamaian dengan Korawa, dan Pandawa melupakan penghinaan Korawa terhadap dirinya, dia tetap masih punya 5 putra untuk membalaskan dendamnya.

Sri Krishna berkata dengan bijak, “Siapa yang menanam benih akan memetik buahnya. Apabila Korawa yang melecehkan kamu belum menerima akibat perbuatannya, itu adalah karena buah karma mereka belum masak. Walaupun kamu telah bisa memaafkan mereka, tetap ada orang lain yang membalas perbuatannya, tidak perlu kamu sendiri yang membalasnya. Aku akan datang ke Korawa sebagai Duta, sebagai pembawa peringatan agar mereka sadar dan mengembalikan hak Pandawa. Apabila peringatan sudah datang dan mereka mengabaikannya, Alam akan menyelesaikannya dengan caranya.”

“Perasaan Sri Krishna lain, karena baginya perang itu bukanlah antara dua belah pihak berseteru. Perang itu bukanlah antara Pandava dan Kaurava. Perang itu antara Dharma dan Adharma, antara Kebijakan dan Kebatilan. Dan, perang antara Kebajikan dan Kebatilan tidak pernah selesai. Perang ini adalah perang sepanjang jaman, sepanjang masa. Tidak pernah berakhir. Terjadi di medan perang dan terjadi pula dalam diri manusia, dalam diri setiap manusia. Perang Bharatayudha masih terjadi. Perang Bharatayudha masih berlangsung. Di dalam dirimu dan di dalam diriku. Kaurava dan Pandava ada di dalam diri kita semua. Kesadaran kita akan memenangkan pihak yang mana, sepenuhnya tergantung pada diri kita. Sepenuhnya kembali kepada diri kita.” (Krishna, Anand. (2006). Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)

 

Lima Putranya dibunuh oleh Asvattama

Perang Bharatayudha telah mengubah Draupadi menjadi lebih bijaksana. Dia mulai memahami permainan Hyang Widhi. Perang Bharatayudha selesai dan saat pesta kemenangan Asvathama mengendap-endap masuk tenda putra-putranya dan membunuh semua putranya. Kesedihan yang mendalam membawa dia masuk ke dalam kamar, mengheningkan cipta.

Darupadi ingat bahwa saat Bhisma menjelang kematiannya, dia pernah protes dengan menangis terisak-isak: “Mengapa kakek Bhisma bisa memberikan penjelasan tentang dharma dan adharma kepada Yudhistira sedemikian bagusnya, sedangkan sewaktu hamba dipermalukan oleh Dursasana, Kakek diam seribu bahasa?” Bhisma yang dalam keadaan terluka parah dengan puluhan anak panah yang menancap di tubuhnya serta sedang menunggu hari yang baik untuk meninggalkan jasadnya berucap pelan…..  “Cucuku Draupadi, aku tahu apa yang menjadi ganjalan hatimu. Pada waktu itu aku dijamu makan oleh Duryudana, pengaruh makanan tersebut sangat besar. Nuraniku memberontak melihat engkau dipermalukan Dursasana, tetapi pengaruh makanan membuat aku tak berdaya. Itu adalah bagian dari Skenario Sang Sutradara Alam agar Perang Bharatayudha terjadi. Maafkan aku Draupadi”. Draupadi merasakan kebenaran kata kakek Bhisma, apa yang kita makan akan menjadi darah, tubuh dan otak kita. Makanan yang diperoleh dengan menyakiti makhluk lain akan membuat kita sulit mengendalikan diri. Ibarat kita mau ngerem kendaraan akan tetapi remnya blong.

Draupadi menjadi malu sendiri. Dalam perang Bharatayuda, Kakek Bhisma tidak mau membunuh Pandawa, para suaminya. Kakek Bhisma juga tidak mau melawan wanita, akan tetapi Srikandi, adiknya justru memanahnya, sehingga dia terluka dan kemudian beliau bisa dipanah oleh Arjuna. Draupadi menjadi semakin malu, sang kakek tidak protes kepadanya, bahkan menjawabnya dengan tulus. Darupadi merenung dalam. Pandita Drona merasa dipermalukan oleh Prabu Drupada, ayahnya. Kemudian Pandita Drona ganti mempermalukan ayahnya dan mengambil separuh wilayah kerajaannya. Pandita Drona kalah bertempur karena ditipu Yudistira yang mengatakan Asvattama mati dan dalam keadaan shock dibunuh oleh Drestadyumna, adiknya. Kini Aswattama membunuh Drestadyumna dan semua putranya. Para Korawa yang diam saja saat dia dipermalukan sudah mati semua. Duryudana dan Dursasana yang mempermalukan dirinya pun sudah terbunuh. Kini semua anak-anaknya terbunuh.

 

Pelajaran dari Mahabharata

“Membaca cerita Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, namun panggungnya tetap sama. Perang disebabkan oleh keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Anda boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan akan selalu ada. Selama itu pula perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari. Para Kaurawa takut akan popularitas Pandava. Pandava harus diasingkan. Para Kaurava beranggapan bahwa masa pengasingan selama belasan tahun akan membuat para Pandava terlupakan oleh rakyat. Cara-cara klasik ini sampai saat kini pun masih digunakan. Kita selalu takut akan persaingan, karena kita tidak percaya pada diri sendiri. Untuk menghilangkan persaingan, kita akan melakukan apa saja; kita akan menghalalkan apa saja.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Memaafkan Asvattama

Setelah Asvattama tertangkap, Drupadi berubah pikiran, “Arjuna, semuanya terjadi karena Kehendak Hyang Widhi. Aku dapat merasakan kesedihan seorang ibu yang putranya meninggal. Bunda Gendari telah kehilangan seluruh putranya, Bunda Kunti telah kehilangan putranya, Karna. Para ibu banyak yang telah kehilangan putra-putranya dalam perang Bharatayuda ini termasuk diriku. Aku tidak mau menambah kesedihan Ibu Asvattama. Lepaskanlah Asvattama!”.

Pandawa menunggu keputusan Sri Krishna kala mendengar permintaan Drupadi. Sri Krishna mengangguk. Dan, batu permata di dahi Asvattama dilepas dan dia diusir ke derah padang pasir Arvashtan. Bagi Asvattama ini adalah penghinaan yang sangat berat, dia merasa lebih baik dibunuh daripada diperlakukan demikian. Tetapi demikianlah Kehendak Hyang Widhi.

 

Kematian Draupadi

Setelah mendengar dari Arjuna bahwa Sri Krishna telah meninggal, maka Yudhistira segera menobatkan Parikesit sebagai Raja Hastina. Kemudia kelima Pandawa beserta Draupadi dan seekor anjing melakukan perjalanan ke Himalaya mempersiapkan kematian mereka. Draupadi adalah yang pertama kali jatuh dan meninggal, dilanjutkan dengan saudara-saudara Yudistira. Dan Terakhir Yudisthira meninggal.

Saat Yudhistira dibawa ke surga dia melihat Draupadi yang cantik jelita duduk di singgasana mengenakan karangan bunga teratai. Dewa Indra berkata bahwa wanita itu adalah “Shree” yang berkenan mewujud sebagai Putri Draupada. Dialah yang merencanakan semua drama di dunia.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

One Response to “Akhir Dendam Draupadi di Penutup Perang Bharatayudha”

  1. Nice and sweet and also make me sad and mad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: