Tanpa Seks Dunia Cepat Berakhir, Kisah Kama Pralaya dalam Lalitopakyana

lalitha menghidupkan para dewa sumber srilalithatripurasundari wordpress com

Ilustrasi Bunda Lalitha membangkitkan kembali para dewa sumber srilalithasundari wordpress com

Hubungan Seks bukan hanya Hubungan Biologis tetapi Melibatkan Mental-Emosional

“Hewan melakukan hubungan seks karena instink hewani mereka, karena dorongan fisik, karena kebutuhan biologis. Yang terjadi, sepenuhnya interaksi fisik. Lain dengan manusia. Serendah-rendahnya kesadaran manusia, keinginan dia untuk bersenggama tidak semata-mata karena kebutuhan biologis. Selain fisik, terjadi pula interaksi mental-emosional. Bila seseorang bisa melakukan hubungan seks tanpa keterlibatan mental-emosional, dia tidak lebih baik dari hewan. Dia masih bersifat hewani. Bahkan, kendati suka-sama-suka, senang-sama senang, bila sepasang anak manusia naik ranjang dan langsung melakukan hubungan seks. Mereka tidak lebih baik dari sepasang ayam atau sepasang anjing. Interaksi yang terjadi, hanyalah antara badan dan badan. Pertama-tama, kita harus memperbaiki kehidupan seks kita. Senggama antara suami-isteri, antara sepasang anak manusia, harus melibatkan seluruh kesadaran mereka. Interaksi fisik saja tidak cukup. Belum cukup. Harus terjadi interaksi mental-emosional. Harus ada cinta antara mereka. Harus ada rasa tanggung jawab. Tidak bisa berhubungan seks dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Terlepas dari hukum agama dan negara, seks semacam itu hanya membuktikan bahwa anda masih dikuasai oleh instink-instink hewani. Anda belum cukup manusiawi.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Bhandasura dan Pasukannya Mengeringkan Cairan Tubuh Manusia

Ketika kerajaan sudah mapan, Bhandasura mengadakan pertemuan dengan kedua saudara dan para menterinya. Bhandasura berkata: “Dewa adalah musuh kita, selama Kamadeva masih hidup, mereka meneruskan garis keturunan dengan baik. Mereka juga telah menikmati banyak kesenangan karena adanya kama (nafsu). Kini keberuntungan ada di pihak kita. Kita lahir dari abu Kamadeva. Para dewa kini tengah berupaya untuk melahirkan Kamadeva dan peristiwa itu jangan sampai terjadi. Mari kita membunuh para dewa. Akan tetapi jika kita masih dalam bentuk seperti ini, kita sulit untuk menang. Mari kita mewujud sebagai angin/udara dan memasuki tubuh mereka. Setelah masuk ke dalam tubuh mereka, kita keringkan cairan tubuh mereka terutama air maninya. Jika air mani tersebut mengering, maka mereka tidak bisa meneruskan  keturunan, mental-emosional mereka tidak berkembang, dan juga kekuatan mereka berkurang secara otomatis!” Seluruh komandan balatentara asura bersorak dengan penuh sukacita atas ajakan Bhandasura.

“Sperma dalam diri seorang pria dan sel telur dalam diri seorang wanita adalah liquid energy. Inilah energi yang paling murni dan paling dahsyat. Energi ini pula yang membuat manusia menjadi kreatif. Seni adalah ungkapannya yang paling sempurna.”  (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semua Makhluk Kehilangan Gairah

Bhandasura dan pasukannya kemudian mulai memasuki kepala para dewa dan mengeringkan otak mereka. Mereka juga merasuk ke dalam wajah dan merampok kecantikan dan ketampanan para dewi dan dewa. Semua pria dan wanita di surga menjadi mandul dan menjemukan. Selain itu para dewa-dewi juga kehilangan rasa kasih sayang.  Bahkan tanaman dan hewan pun mulai mengalami nasib yang sama. Vishukra bersama rombongannya masuk bumi dan orang-orang di bumi berhenti tersenyum. Penduduk bumi kehilangan rasa kebahagiaan dan rasa hormat, menjadi seperti batu yang tidak memiliki kehidupan dan perasaan. Vishanga bersama rombongannya memasuki Rasaatala dan menciptakan keadaan serupa.

Dari 5 elemen alami, tanah adalah kombinasi dari semua elemen, sedangkan ruang adalah tempatnya kehidupan, sehingga elemen yang pengaruhnya sangat besar adalah air, api dan angin. Ketiga elemen tersebut membentuk “rasa”, cairan kehidupan. Rasa adalah awal keberadaan kehidupan. Rasa membentuk darah. Darah membentuk daging. Daging membentuk tulang. Tulang membentuk sumsum. Sumsum membentuk veerya (sperma/ovum). Dari veerya datang Kanti (cahaya), Utsaaha (antusiasme), Ullasa (kebahagiaan), Dharma (kebenaran), Daya (kasih-sayang), Preeti (cinta), Buddhi (kemapuan intelegensia), Vikasa (pembangun), Parakrama (keberanian), Shastra Vijnana (pengetahuan), Kala Asakti (seni), Soundarya Drishti (ketepatan kecantikan) dan lain-lain. Pada tumbuhan, rasa meningkatkan energi api yang berupa potensi di dalam tumbuhan. Energi api menghasilkan bunga dan buah-buahan. Karena berpotensi api, maka kayu kering akan cepat terbakar. Veda mengatakan bahwa makhluk mengalami kebahagiaan jika “rasa” hadir.

Bhandasura memahami hal ini. Para asura di bawah pimpinan Bhandasura masuk ke dalam semua makhluk dan mengeringkan “rasa”. Bahkan matahari, bulan dan bintang telah kehilangan kecemerlangannya. Demikian Vasanta menyampaikan penjelasan kepada Dewi Rati dan kemudian mengatakan bahwa sudah semakin dekat waktu Kamadeva hidup kembali.  Dewi Rati segera bertapa dengan tekun.

Yang Menghuni Penciptaan tetap Kena Pengaruh

Mengalami bencana tidak punya gairah diri, Brahma dan semua dewa menghadap Sri Vishnu. Kata Viṣhṇu berasal dari Bahasa Sanskerta, akar katanya vish, (yang berarti “menempati”, “memasuki”, juga berarti “mengisi”), dan mendapat akhiran nu. Kata Vishnu kira-kira diartikan: “Sesuatu yang menempati segalanya”. Adi Shankara dalam Vishnu Sahasranama, mengambil kesimpulan dari akar kata tersebut, dan mengartikannya sebagai “yang hadir dimana pun”. Mereka menemui Sri Vishnu yang berada dalam keadaan “sushupti”, “deep sleep”. Vishnu berkata kepada para dewa: “Ini semua adalah permainan jahat Bhandasura. Kita semua adalah “causal body”, dan walaupun Saya, Brahma dan Shiva mewujudkan penciptaan, kami  masih terpengaruh oleh Bhandasura, karena kami masih menghuni penciptaan. Akan tetapi ada yang berada di luar manifestasi penciptaan, dia disebut Maha Shambhu dimana Parashakti terus-menerus mendampinginya. Dia tanpa bentuk, tidak tergantung dan tidak berubah. Dia tidak akan dapat dipengaruhi oleh Bhandasura. Mari kita semua menghadapnya!”

Lalitha Parameshwari, Sang Bunda Ilahi

Para dewa memasuki Chinmaya Akasha yang bebas, murni dan bebas dari 5 elemen alami. Dan mereka melihat Maha Shambhu dan Parashakti.

Maha Shambhu atau dikenal sebagai Adi Shiva adalah perwujudan dari kesadaran tertinggi. Para dewa melihat wujudnya menyerupai Shiva, memiliki tiga mata, kapala (tengkorak) di satu tangan dan trisula di tangan yang lain. Mereka melihat Maha Shambhu tersenyum dan mengatakan, “Walaupun tak berwujud, aku sengaja mewujud menyerupai Shiva agar dikenali kalian semua.”

Maha Shambhu berkata, “Aku paham mengapa kalian ke sini. Ada 3 macam pralaya: Avaantara Pralaya, MahaPralaya dan Kama Pralaya. Aku bertanggung jawab menyelamatkan dunia dari Maha Pralaya. Vishnu bertanggungjawab menyelamatkan dari Aavantara Pralaya. Dan, Lalita Parameshvari yang akan menyelamatkan dunia dari Kama Pralaya. Ketiga macam Pralaya berlangsung dalam pola siklus dalam setiap Kalpa. Kama Pralaya atau Kaamika Pralaya telah terjadi karena matinya ‘Kama’ dan tindakan Bhandasura mengeringkan rasa. Hanya Lalitha Devi yang dapat menyelamatkan situasi saat ini. Oleh karena itu, berlindunglah dalam dirinya. Mohon Dia untuk membantu kalian!” Mendengar ini, para dewa tidak tahu harus berbuat apa dan mohon Maha Shambhu untuk mengajari mereka bagaimana meminta bantuan Parashakti. Maha Shambhu menjelaskan bahwa mereka harus mengadakan acara ritual Maha Yaga, sebuah ritual pengorbanan lewat api. Pada saat api tersebut menyala, mereka semua harus meloncat ke dalam api. Mereka harus memiliki pengabdian mutlak.

Para dewa, selanjutnya melakukan acara Maha Yaga, dan mereka semuanya meloncat ke dalam api persembahan. Selanjutnya Parashakti Lalita Parameshvari mencipta Parambrahma (Brahma Yang Besar) dengan nama Kameshvara. Lalita Parameshvari atau sering disebut sebagai Bunda Ilahi atau Bunda Tripurasundari adalah “aku”-nya Kameshvara yang adalah nama lain dari Paramashiva (Shiva Yang Besar). Bunda Ilahi menciptakan kembali seluruh alam semesta dan membuat Kamadeva hidup kembali. Lalitha Parameshvari memiliki 4 senjata yaitu Ikshu Dhanus, busur dari batang tebu; Pushpa Banas, anak panah dari 5 macam bunga; Paasha, tali pengikat kasih sayang; dan Ankusha, alat pengait gajah. Bila dewa lain hanya memberikan blessings dengan lambang satu telapak memberi anugerah, maka Bunda Lalitha langsung bertindak dengan senjata di semua tangan untuk membantu devotinya.

Bhandasura dan Pasukannya dikalahkan Bunda Lalitha Devi beserta Pasukannya

Demikianlah yang terjadi, Bunda Lalitha Devi (Dia yang bangkit dari api pengetahuan dan kebenaran sejati) mengalahkan “Bhandasura” (sifat “keterikatan” dalam diri). Balatentara Bunda Ilahi membunuh Vishanga, saudara Bhanda yang merupakan keinginan untuk hal-hal yang bersifat fisik. BalatentaraNya juga membunuh Vishuka, saudara Bhanda yang merupakan personifikasi dari “ignorance”, ketidaktahuan. Bunda Tripurasundari atau Parashakti adalah yang mencipta Ganesha, penghancur rintangan untuk memusnahkan hambatan “penundaan” yang dibuat oleh Vishuka.

Melakukan Segala Sesuatu Sebagai Persembahan

Bunda Ilahi akan menolong mereka yang berkarya tanpa pamrih, yang melakukan segala sesuatu sebagai persembahan. “Bukan aku, bukan aku!” Yang mempersembahkan, yang dipersembahi, dan persembahan itu sendiri adalah Dia.

“Dari pagi hingga malam, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, sejak membuka mata, hingga memejamnya, menyangkut hal-hal kecil dan sepele, hingga kegiatan-kegiatan besar dan penting, lakukan itu sebagai persembahan. Bukan saja makanan dan minuman, tetapi bacaan, pikiran, perasaan… persembahkan semuanya kepada Dia… namun, sebelumnya bertanyalah kepada diri sendiri, ‘Patutkah kupersembahkan semua itu kepada-Nya?’ Bila kita belum memiliki kasih, janganlah berpura-pura… Persembahkan apa yang Anda miliki, termasuk segala kebencian yang selama ini bersarang di dalam hati dan kalbu Anda, lalu dengan jujur berucap, ‘Ya Allah, hanyalah ini yang kumiliki. Tak ada sesuatu lain yang berharga.  Tak sesuatu apa pun lagi yang kumiliki berkenanlah untuk menerima apa yang kumiliki ini.’ Dan, Anda pun akan kaget sendiri bahwa dalam kejujuran itu kebencian Anda seketika berubah menjadi cinta.” (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

2 Responses to “Tanpa Seks Dunia Cepat Berakhir, Kisah Kama Pralaya dalam Lalitopakyana”

  1. Pencari kebenaran Says:

    Siapakah maha shambu diatas?? Apakah dia sumber tujuan tertinggi?? Apakah Kedudukannya lebih tinggi dr kesadaran kresna sebagai garbokasyi visno

    • triwidodo Says:

      Terima kasih Brother Dewawira, ini adalah kisah. Setiap orang menyebut istilah kesadaran tertinggi dengan berbagai sebutan, misalnya Brahman, Sri Krishna, Paramashiva dan sebagainya. Dalam Bhagavad Gita pun Sri Krishna menyebut tentang Brahman. Dalam kisah ini Bunda Ilahi, Sri Lalitadevi penguasa tiga alam masih berada di bawah Maha Shambu, yang menurut kami posisinya pada titik tengah dari ShriYantra. Shriyantra sendiri dikatakan sebagai Rumah Bunda Ilahi. Terus terang, saya sendiri tidak tahu banyak tentang Maha Shambu. Terima kasih. Salam __/\__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: