Kisah Jelita Ahalya, Pendidikan Seks Resi Vishvamitra kepada Remaja Rama

ahalya dibebaskan dari kutukan oleh Rama sumber www indianetzone com

Ilustrasi Ahalya dibebaskan dari kutukan oleh Rama sumber: www indianetzone com

Pendidikan Seks bagi remaja Rama oleh Resi Vishvamitra

“Seks adalah insting dasar kedua setelah pertahanan diri. Sebab itu, sekali-kali jika merasa tergoda, tidak perlu menyalahkan diri. Tidak perlu menghakimi atau menghukum diri. Sifat dari godaan itu mesti dipahami dan tidak ditindaklanjuti menjadi suatu kegiatan, itu saja. Intinya: Sadarilah godaan itu sebagai godaan, dan biarkanlah lewat dengan sendirinya. Jangan diteruskan menjadi suatu kegiatan. Saat merasa tergoda, Anda mesti bersikap tenang, pindahkan fokus Anda pada Tuhan, pada tujuan Anda menjadi seorang sanyasi. Maka, tidak lama kemudian, energi yang menggoda itu, energi yang hendak menyeret kesadaran Anda ke bawah itu, akan berpindah haluan dan mengalir ke atas lagi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Resi Vishvamitra menceritakan kisah tentang perselingkuhan Ahalya dengan Dewa Indra yang sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja. Resi Vishvamitra juga mengingatkan bahwa Rama adalah Avatara Vishnu yang dapat membebaskan kutukan pada seseorang termasuk pada Ahalya.

 

Perjalanan Spiritual Bersama Resi Vishvamitra

Saat Rama usia 16 tahun, Rama diajak Resi Vishvamitra untuk menaklukkan para raksasa yang mengganggu upacara ritualnya. Sebenarnya Resi Vishvamitra dapat menyelesaikan sendiri dengan memusnahkan para raksasa, akan tetapi itu berarti membuang tapabrata sang resi (Silakan baca Kisah Resi Vishvamitra pada artikel selanjutnya). Walau dengan berat hati, atas nasehat Resi Vasishtha, Dasaratha mengizinkannya dan minta Lakshmana menemani Rama mengikuti Resi Vishvamitra. Rama dan Lakhmana perlu belajar di luar istana dari Resi Vishvamitra yang akan berguna bagi kehidupan mereka selanjutnya.

Resi Vishvamitra mulai mengajarkan mantra Bala dan Atibala untuk menambah semangat dan perlindungan dari segala marabahaya. Mereka melewati Kamaasrama, tempat Shiva bertapa dan mengutuk Kamadeva menjadi abu karena memanahkan panah asmara kepada Shiva. Mereka akhirnya sampai Hutan Dandaka, tempat Indra membunuh Vritra. (Silakan baca Kisah-kisah Srimad Bhagavatam)

Pada waktu di hutan Dandaka, raksasa perempuan Tataka, ibu dari Maricha menyerang mereka. pertempuran antara Rama dan Tataka berjalan sengit dan akhirnya Tataka terbunuh oleh panah Rama. Selanjutnya sebagai hadiah kemenangan, Resi Vishvamitra mengajari Rama  mantra penggunaan senjata astra.

Kemudian mereka berjalan menuju Sidhaasraama, tempat kelahiran Vamana Avatara. Di tempat itulah Resi Vishvamitra tinggal dan diganggu para Raksasa. Resi Vishvamitra sedang melakukan ritual persembahan kala raksasa Subahu dan Maricha dan pasukannya melemparkan api dan kotoran binatang ke tempat acara ritual. Rama segera melepaskan senjata Manwaastra dan Maricha terlempar jauh sekali. Sedangkan Subahu mati dibunuh senjata Agnayastra, dan para raksasa kocar-kacir melarikan diri.

Keesokan harinya mereka bersiap melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Mithila dimana Raja Janaka mengadakan sayembara mengangkat busur sakti Shiva untuk memperoleh suami bagi Sita. Mereka melewati Sungai Gangga dan Resi Vishvamitra menceritakan kisah Sungai Gangga tempat mereka menyeberang. (Silakan baca Hikayat Sungai Gangga dalam Srimad Bhagavatam)

Perjalanan bersama seorang Guru bukan untuk berlibur, Guru tidak pernah berlibur, mereka adalah pekerja keras. Mereka membuat holiday menjadi “holyday. Ibarat organ tubuh, Seorang Guru adalah seperti jantung yang tidak pernah berlibur, dia nampaknya hanya mengambil kesempatan beristirahat diantara 2 denyutan. Alam adalah pekerja keras, matahari, bumi dan bulan tak pernah berlibur. Rama dan Lakshmana banyak memperoleh pengalaman berharga pergi bersama Resi Vishvamitra.

 

Kisah Jelita Ahalya

Dalam perjalanan menuju Mithila untuk mengikuti sayembara memperebutkan Sita putri Raja Janaka, Rama, Lakshmana dan Resi Vishvamitra melewati sebuah bekas peninggalan gubuk tua yang tidak terawat dan sebuah batu besar  yang  tertutup oleh semak belukar. Tak ada manusia yang mau beristirahat  sejenak pun di tempat tersebut.  Mereka berhenti sebentar dan Resi Vishvamitra menceritakan tentang Kisah Ahalya dan Resi Gautama yang hidup satu abad sebelumya di gubuk tersebut.

Konon adalah seorang bidadari sangat cantik bernama Ahalya, dia adalah saudari dari para Kartika, putri-putri Bintang. Ahalya disebutkan sebagai bidadari paling cantik di dunia dan disamakan dengan bintang Pleiades. Indra sangat tergila-gila dengan Ahalya dan ingin bercinta dengan Ahalya. Akan tetapi Ahalya selalu berada dekat dengan suaminya Resi Gautama.

Indra berusaha mendekati Dewa Matahari agar membantu keinginannya, akan tetapi dengan diplomatis sang dewa matahari menolak. Dewa Bulan tidak seberuntung Dewa Matahari, dia ditekan dan terpaksa membantu Indra. Dewa Bulan memberitahu Indra bahwa setiap subuh, Resi Gautama selalu melakukan puja di Sungai Gangga. Dan pada suatu ketika, Dewa Bulan meniru suara ayam jantan berkokok, sehingga sang resi segera bergegas ke sungai Gangga. Begitu sang resi pergi, Indra menyaru sebagai Resi Gautama dan masuk ke gubuk dimana Ahalya berada.

Ahalya sebetulnya tahu bahwa yang datang kembali itu bukan Resi Gautama, tetapi dia merasa bangga sekali ada Raja Dewa yang terpikat kecantikannya. “Apa yang membuat kekasihku pulang kembali?” Indra yang menyaru sebagai Resi Gautama menjawab, “Aku butuh bersamamu, kekasihku”. Bagaimana seorang Ahalya dapat menolak keinginan Raja Dewa yang tampan? Maka mereka pun melakukan permainan asmara. Dalam diri Ahalya masih tersimpan insting hewani, dan potensi tersebut muncul terpicu oleh kebanggaan bahwa sang raja para dewa pun tergila-gila kepadanya. Ahalya ingin menikmati sesuatu yang bukan miliknya.

“Jangan lama-lama berpandangan dengan lawan jenis. Setiap orang memiliki daya magnet, ada yang kekuatannya melebihi kekuatan Anda, ada yang kurang. Tetapi, tanpa kecuali, setiap orang memilikinya. Selain itu ada juga ketertarikan alami antara lawan jenis. Dengan saling memandang untuk beberapa lama saja sudah terjadi interaksi energi, walau tidak sekata pun terucap.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hukuman bagi Orang yang Berselingkuh

Alkisah setelah sang resi sampai di sungai, Dewi Gangga memberitahukan perselingkuhan yang terjadi di gubuknya, dan sang resi bergegas kembali ke gubuknya. Sang resi merasa ditipu oleh Dewa Bulan yang menyaru sebagai ayam jantan, maka ayam jantan tersebut dipukul dengan handuknya dan meninggalkan bekas lubang hitam pada bulan yang tetap terlihat sampai kini. Setelah sampai di gubuknya, sang resi  mengutuk Indra menjadi kehilangan testis, impoten dan ribuan kemaluan wanita akan memenuhi tubuhnya. Kutukan tersebut dapat dimaknai bahwa Indra harus mengalami kekalahan yang memalukan dari manusia dalam ribuan kehidupan. Ini adalah hukuman yang sangat memalukan bagi seorang raja dewa.

Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan tentang hukuman di neraka bagi seorang yang suka berselingkuh. Bahkan di Kertagosa, Klungkung, Bali gambaran tentang neraka tersebut dilukis di plafon rumah pengadilan adat. Sebetulnya lukisan tentang neraka tersebut sebagai pendidikan agar seseorang sadar akan semua perbuatannya. Seseorang yang berselingkuh harus lahir ribuan kali lewat kemaluan wanita untuk menyelesaikan akibat perbuatannya, digambarkan dengan air dari ribuan kemaluan wanita yang mendidih.

Kebiasaan yang sudah mendarah daging  dalam perselingkuhan sudah menjadi bagian bawah sadarnya dan terbawa dalam banyak kehidupan berikutnya. Membebaskan diri dari keterikatan akibat pola yang sudah menjadi bagian bawah sadar tersebut sangat berat. Seorang yang suka melakukan perbuatan yang tidak selaras dengan alam, hanya memuaskan indera cenderung mengulangi perbuatan tersebut.  Dalam hal demikian manusia telah menjadi budak dari inderanya.

Manusia mendambakan kebebasan, tetapi yang dikejarnya justru perbudakan. Keterikatan dan keinginan berlebihan sesungguhnya menjerat manusia, memperbudak dirinya, membelenggu jiwanya. Sungguh tragis bila ia tidak menyadari hal itu. Padahal, kebebasan yang ia dambakan. (Krishna, Anand. (2003). Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)

Dikutuk Resi Gautama

Sang resi kemudian mengutuk Ahalya untuk tetap tinggal digubuknya, tidak makan kecuali udara, berbaring menderita dan tak ada makhluk hidup yang memperhatikannya bagaikan sebuah batu. Demikian hukuman bagi seseorang yang karena kejelitaannya melakukan kesalahan sehingga dihukum tidak ada seorang pun yang mempedulikannya.  Ahalya memohon dengan penuh iba pada sang resi, “ Berbuat salah adalah tindakan manusia, tetapi memaafkan adalah tindakan Ilahi. Mohon kami diampuni.”  Sang resi mengurangi hukumannya, “Setelah mengalami kutukan selama seabad, akan datang avatara Vishnu yang memijak dirimu yang telah menjadi batu, dan kesalahanmu akan diampuni serta akan kembali menjadi istriku.” Setelah kejadian tersebut sang resi pergi ke Himalaya untuk bertapa.

Mendengar cerita Resi Vishvamitra, Sri Rama paham bahwa Ahalya telah bertapa selama 1 abad sebagai permohonan ampun atas kesalahan yang telah dilakukannya. Rama menginjak batu tersebut dengan kakinya, dan selesailah hukuman Ahalya untuk kembali hidup berbahagia dengan Resi Gautama kembali. Saat ini mereka dapat dilihat sebagai konstelasi rasi bintang Ursa Mayor, tempat Resi Gautama dan bintang Pleiades tempat Ahalya.

Sebelum pergi, Ahalya mengucapkan terima kasih kepada Sri Rama, “Wahai Paduka Sri Rama, hamba berterima kasih atas kemuliaan paduka yang telah menganugerahi kaki teratai paduka ke badan hamba. Hamba telah lepas dari kutukan. Hamba berdoa, semoga Paduka mendapatkan seorang istri yang setia, yang tak tergoda oleh pria lain. Kami akan kembali hidup bersama dengan suami hamba. Semoga kisah kasih Paduka dengan isteri Paduka akan abadi.”

Pembicaraan tentang Seks

“Para pemuka agama cenderung memisahkan yang duniawi dan rohani. Walaupun kadang-kadang tidak secara eksplisit, hal-hal yang bersifat duniawi dipisahkan dari hal-hal yang dianggap bersifat rohani. Selama bertahun-tahun, pembicaraan tentang seks saja dianggap tabu. Para ahli agama yang seharusnya juga berfungsi sebagai pendidik dalam bidang seks, tidak pernah bicara tentang seks. Pendirian Tantra lain. Menurut ajaran-ajaran Tantra, Anda tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Yang duniawi dan rohani bisa jalan bersama. Dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar Anda ke puncak kesadaran Rohani. Bagaimana Anda dapat meninggalkan dunia ini? Seseorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seseorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, Anda tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran Anda. Kesadaran Anda akan tetap berada pada tingkat bawah. Hampir tidak ada kemungkinan untuk meningkatkannya. Akan terjadi penarikan-penarikan diri alam bawah sadar anda sendiri. Berbagai keinginan dan obsesi yang tidak terpenuhi akan menghantui Anda. Perjalanan rohani hampir tidak mungkin. Karena itu, kepuasan badaniah sangat penting, kepuasan duniawi sangat penting, bahkan sangat menentukan keberhasilan Anda dalam bidang spiritual. (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: