Bhisma: Sumpah Mengerikan, Kehidupan Masa Lalu, dan Pesan Terakhir Menjelang Ajal

Santanu melihat Gangga membunuh bayinya sendiri sumber media radiosai org

Santanu memperhatikan Gangga membunuh bayinya sendiri sumber: media radiosai org

Sumpah Devavrata

Setelah Devavrata menginjak remaja, Prabu Santanu sering menyerahkan kerajaan kepadanya untuk berburu ke hutan menghilangkan kesedihan ditinggal Gangga. Dalam kesedihan itu dia bertemu dengan Satyavati dan jatuh cinta lagi. Permintaan Satyavati agar anaknya menjadi raja Hastina, menambah kepusingan sang raja. Walaupun Devavrata bersedia mengalah, akan tetapi anak keturunannya pasti tetap akan menuntut haknya, dan perang saudara pada Dinasti Kuru, sudah terbayang-bayang di benak sang raja.

Demi  kecintaan Devavrata terhadap negara Hastina, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari, Devavrata bersumpah tidak akan kawin dan tidak akan mewarisi tahta raja. Oleh karena sumpah yang dahsyat tersebut dia dikenal sebagai Bhisma, dia yang bersumpah sangat dahsyat. Pengorbanan Bhisma yang begitu besar bagi Persatuan Hastina, membuat dia menerima anugerah untuk menentukan kapan saatnya untuk meninggalkan jasadnya di dunia. Bhisma selalu berupaya menegakkan dharma atau kebajikan.

“Kebajikan adalah ketepatan bertindak. Kebajikan juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Meraih pendidikan yang baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan membunuh. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu memutarkan roda ekonomi, bukan hanya mencari uang untuk diri sendiri. Dan, bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk menjalankan dharmanya sendiri, atau swadharma melaksanakan tugas kewajibannya seusai dengan kemampuannya.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Melakukan Segala Tindakan demi Persatuan Negeri

Dua putra Satyavati dengan Santanu ternyata mengecewakan ibunya. Citragada mati muda, sedangkan Vichitravirya adalah seorang yang lemah dan diperkirakan akan kalah dalam sayembara memperoleh permaisuri putri seorang raja. Bhisma demi anak keturunan raja yang baik, bersedia ikut memperebutkan tiga putri Raja Kasi bagi Vichitravirya. Bhisma berhasil memboyong ketiga putri untuk diberikan kepada Putra Mahkota Vichitravirya. Akan tetapi berlainan dengan Ambika dan Ambalika yang bersedia dinikahi Vichitravirya, Amba menolak kawin dengan Vichitravirya, dia hanya mau kawin dengan pemenang sayembara yaitu Bhisma. Bhisma menolak dan menakut-nakuti Amba dengan anak panah, akan tetapi anak panah tersebut terlepas dan membunuh Amba.  Demi Persatuan Hastina dia membunuh seorang putri dan di akhir hayatnya nanti dia pun akan dipanah oleh seorang wanita.

 

Kehidupan Masa Lalu Bhisma

Ada seorang raja agung di bumi bernama Mahabhishaka. Sang raja pernah ke istana Indra untuk mendapat penghargaan. Kala itu Bidadari Gangga datang ke istana dan terpesona oleh ketampanan sang raja. Indra berkata, “Sesungguhnya kamu seorang penghuni kahyangan, akan tetapi kamu menyenangi wajah manusia. Oleh karena itu kamu harus lahir ke dunia dan menjadi pasangan raja ini dalam kelahiran berikutnya.” Dalam kegalauan hatinya, Gangga berjumpa dengan delapan Vasu, delapan dewa yang mewakili unsur-unsur alam. Mereka adalah Agni-api, Prithvi-bumi, Vayu-angin, Antariksha-atmosfir, Aditya-Surya, Dyaus-langit (kadang disebut Prabhasa-fajar), Chandra-Bulan, Nakstrani-bintang-bintang (kadang disebut Dhruva-bintang kutub). Mereka berkata bahwa mereka dikutuk Rsi Vasistha sehingga mereka harus lahir di bumi.

Para Vasu sedang menikmati perjalanan di hutan, kala istri Dyaus melihat seekor sapi yang sangat elok. Sang istri membujuk Dyaus suaminya untuk mencurinya. Ketujuh Vasu yang lain tidak mengingatkan dan membiarkan saja terjadinya pencurian tersebut. Akan tetapi, sapi tersebut ternyata milik Rsi Vasistha, dan sang rsi tahu bahwa para Vasu telah mencuri sapinya. Kedelapan Vasu kemudian dikutuk harus lahir ke dunia. Para Vasu kemudian memohon maaf dan Rsi Vasistha meringankan kutukannya. Tujuh dari Vasu akan bebas dari kelahiran di bumi dalam tahun kelahirannya, sedangkan Vasu Dyaus harus menerima hukuman penuh di bumi sampai meninggalnya.

 

Minta Tolong kepada Gangga

Para Vasu meminta tolong kepada Gangga, “Bunda Mandakini, mohon melakukan tindakan kebaikan kepada kami. Kami mohon dilahirkan sebagai putramu, tetapi kami takut memikirkan untuk hidup di dalam dunia. Oleh karena itu, buang kami ke Sungai Gangga, setelah Bunda melahirkan kami. Tindakan tersebut akan membuat kami memenuhi kutukan yang telah diberikan kepada kami.” Gangga menyetujui permintaan para Vasu.

Dyaus di bumi dikenal sebagai Devavrata, bhakti atau janji seorang dewa. Devavrata demi persatuan istana berjanji tidak akan kawin seumur hidup, sebuah janji yang mengerikan sehingga dia dikenal sebagai Bhisma. Silakan Baca: Pengorbanan Bhisma demi Persatuan Hastina di http://sosbud.kompasiana.com/2013/08/06/permaisuri-yang-ambisius-pemantik-kisah-perang-bharatayudha-582469.html

Dikisahkan, Raja Mahabhishaka lahir lagi sebagai Prabu Santanu, salah seorang raja generasi ke sembilan belas dari dinasti Bharata. Prabu Santanu kawin dengan Gangga dengan perjanjian bahwa sang raja tidak akan mempertanyakan apa yang dilakukan Gangga terhadap putra-putranya. Sebanyak tujuh putra lahir dari Gangga yang kemudian dilemparkan ke sungai. Pada waktu Gangga melahirkan anak kedelapan, Prabu Santanu tidak kuat menahan diri melihat kekejaman istrinya dan bertanya mengapa hal tersebut dilakukan. Gangga kemudian menyampaikan kisah para Vasu yang meminta tolong kepada dirinya agar mereka tidak usah berlama-lama hidup di dunia. Bayi kedelapan tidak dibuang ke sungai dan harus hidup di dunia dan diberi nama Devavrata. Kemudian, karena Prabu Santanu telah ingkar janji, maka Gangga kembali ke kahyangan meninggalkan sang raja beserta putranya.

 

Mempertahankan Negeri Hastina

Bhisma tetap setia melindungi Kerajaan Hastina. Apabila penguasanya bijaksana, Bhisma akan mendukung penuh, akan tetapi bila penguasanya lalim, Bhisma akan berusaha sekuat tenaga untuk mengingatkannya. Baginya yang penting negara Hastina aman sentosa dan sedapat mungkin berjalan di jalan yang benar. Dalam intrik-intrik perebutan kekuasaan, antara kelompok pro-Destarastra yang buta, ataupun kelompok pro-Pandu yang sakit-sakitan, Bhisma melindungi negara agar negara tetap utuh. Ketika kebijakan Hastina mulai dibelokkan oleh Patih Shakuni, Bhisma tidak mau mengundurkan diri. Apabila ditinggalkannya, negara Hastina akan semakin kacau. Kalau Bhisma mengundurkan diri karena kecewa terhadap Shakuni, keberadaannya tidak ada manfaatnya bagi Hastina. Usaha diplomasi Sri Krishna untuk menggagalkan perang Bharatayuda didukung Bhisma, tetapi hasilnya sia-sia juga. Bhisma juga paham bahwa tekadnya mempersatukan Hastina bagi dinasti Kuru adalah perbuatan mulia, tetapi Kehendak Hyang Widhi lah yang terjadi, bukan kehendaknya pribadi. Bagaimana pun dia tetap berjuang demi negeri Hastina yang akan berperang melawan Pandawa.

 

Menghembuskan Nafas Terakhir di Perang Bharatayudha

Bhisma harus menjalankan peran yang dianugerahkan Hyang Widhi untuk dirinya. Selama 8 hari sejak perang bharatayuda dimulai, Bhisma didaulat menjadi Senapati dan pasukan Pandawa tidak dapat membunuhnya. Di hari ke-9 Arjuna mengajak Srikandi naik di keretanya, dan Bhisma sadar Dewi Amba yang dulu terbunuh olehnya dalam usahanya mempersatukan Hastina telah menitis pada Srikandi untuk menyelesaikan tugasnya di dunia. Panah Srikandi mengenai dadanya dan kemudian ratusan anak panah Arjuna menancap pada tubuhnya. Kedua belah pihak sementara menghentikan perang dan menempatkan Bhisma, “Pitamaha”, Kakek Besar kedua belah pihak di tepi medan pertempuran berbantalkan anak-anak panah. Bhisma menunggu kematian di tempat tersebut hingga perang bharatayuda usai dan menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan jasadnya.

Setiap saat dia hanya mengingat Sri Krishna, fokus pada Sri Krishna. Kedatangan Sri Krishna bersama Pandawa membesarkan hatinya. Bhisma pasrah dengan keadaannya, menunggu saat yang amat mulia untuk meninggalkan jasad sambil terus memperhatikan Sri Krishna. Ketika posisi matahari dan bulan harmonis dan matahari mulai bergerak ke utara yaitu pada tanggal 14 Januari 3.000 SM Bhisma meninggalkan jasadnya dengan menyebut, “Om, Sri Krishna ya namaha.”

Sebelum kematiannya Bhisma sempat memberi nasehat kepada Yudisthira tentang dharma.

“Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik, itulah Adharma. Bhishma terlebih dahulu menjelaskan apa yang ‘bukan dharma’, Disharmony, Disunity and Conflict. Ketiganya inilah sifat adharma. Siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecahbelah bangsa adalah adharma. Ia tidak mengetahui arti dharma. Dan, segala apa yang dapat mengakhirinya, adalah Dharma. Dharma mengakhiri ketakserasian, perpecahan dan konflik atau ketegangan. Makanya tidak bisa diselewengkan. Tidak bisa diputarbalikkan. Dharma, Walau dapat diterjemahkan sebagai syariat, tidak bisa dikaitkan dengan akidah salah satu agama. Ia tidak tergantung pada pemahaman para alim ulama yang lebih sering menyelewengkan makna ayat-ayat suci demi kepentingan diri, kelompok, dan tidak kurang dari itu. ‘Dharma strengthens, develops unity and harmony’. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian demikian menurut Bhishma. Unity, persatuan, bukan kesatuan. Unity bukanlah keseragaman. Itu uniformity. Perbedaan sekitar kita, antara kita, dapat dipertemukan, dipersatukan.” (Krishna, Anand. (2006). Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: