Pengantar Kisah Devi Mahatmyam dalam Markandeya Purana

mahatmyam 5694792226547752151_Org sumber www globalmarathi com

Ilustrasi Devi Mahatmyam sumber www globalmarathi com

Kesalahan Manusia yang Selalu Diulangi dan Diulangi Lagi

“Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan, ya Panca-Provokator-itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah.” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Devi Mahatmyam adalah kisah Bunda Ilahi yang mewujud sebagai Vishnu Maya menghancurkan Asura Madu dan Kaitabha, sebagai Durga menaklukkan Mahishasura dan dalam wujud Parvati membunuh Shumbha dan Nishumbha. Bunda Ilahi dikenal sebagai Devi Mahatmyam di India Selatan, Chandi di Bengal Barat dan Durga Sapthasathi di India Utara. Kisah ini merupakan bagian dari Markandeya Purana dan ditulis oleh Veda Vyasa.

 

Perjalanan Jiwa Mengatasi Berbagai Rintangan Saat Menuju Tujuan Kebebasan

Kisah Devi Mahatmyam menggambarkan perjalanan jiwa mengatasi berbagai rintangan menuju Kebebasan. Rintangan pertama adalah Ego Palsu yang menipu, sifat yang diwakili oleh Asura Madhu dan Kaitabha. Musuh Selanjutnya adalah Asura Rakthabija, Keinginan yang tak pernah habis dan selalu meningkat. Kemudian musuh tangguh berikutnya adalah Asura Mahishasura yang mewakili Keinginan dan Kemarahan yang berubah-ubah wujud sehingga sukar ditaklukkan. Musuh terakhir adalah Asura Shumbha dan Nishumbha yang mewakili Keserakahan, Keterikatan dan Arogansi.

Dalam kisah Devi Mahatmyam, semua asura yang dikalahkan Sang Dewi adalah asura-asura perkasa yang mewakili sisi gelap dari diri kita. Ego, keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan adalah sisi gelap kita. Gelap karena kesadaran telah tertutup oleh nafsu pancaindra dan pikiran kita.

 

Kisah Raja Suradha dan Pedagang Samadhi

Dikisahkan Raja Suradha yang hidup pada zaman pemerintahan Manu kedelapan, memperlakukan warga seperti putra-putranya sendiri. Kemudian pada suatu saaat, pasukannya dikalahkan oleh raja asing, sehingga dia hanya menjadi orang yang dituakan di kerajaannya. Kemudian seluruh harta bendanya diambil oleh para menterinya dan dia pergi ke hutan dengan rasa penuh penderitaan. Akhirnya dia sampai ke ashram Resi Sumedha. Sang raja tinggal beberapa lama di ashram sang resi dan bepergian ke beberapa daerah. Dalam perjalanan dia mulai merenung, “Bagaimana kerajaanku pada saat ini, dibawah pimpinan para menteri yang mempunyai karakter buruk dan bagaimana pula kabarnya pasukan gajahku yang perkasa dibawah penguasaan raja asing? Mereka semua mendapat penghidupan, kekayaan dan makanan dariku tetapi mereka mengabdi pada raja asing.”

 

Pada suatu hari sang raja bertemu dengan Samadhi, seorang pedagang yang hanya memikirkan uang belaka. Pada suatu ketika harta kekayaannya dirampok, dan karena sudah tidak berharta, kemudian dia diusir dari rumah oleh istri dan anak-anaknya sehingga dia pergi ke hutan meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Sang pedagang berkata kepada sang raja, “Saya  sedih tidak mengetahui kabar keluargaku dan tak mengetahui anak-anakku menjadi jahat atau tidak?”

Raja Suradha bertanya, “Kamu kehilangan keluarga karena obsesimu terhadap uang, mengapa kamu bersedih memikirkan mereka? Bukankah mereka yang mengusirmu?” Sang pedagang menjawab, “Saya tidak tahu mengapa, tetapi saya tetap mencintai mereka. Saya menderita tapi saya mencintai mereka.”

 

Berkarya dengan Keterikatan dan Berkarya Tanpa Pamrih

Mereka berdua kemudian pergi kepada Resi Sumedha dan sang raja bertanya, “Wahai resi yang suci, mengapa kami tak dapat mengendalikan pikiran dan merasa menderita? Kami kehilangan kerajaan tapi kami masih memikirkan kerajaan. Saudaraku diusir oleh keluarganya, tetapi tetap memikirkan mereka. Mengapa demikian resi?”

Sang resi berkata, “Semua hewan mempunyai pengetahuan tentang apa yang akan dihadapinya. Tetapi jiwa-jiwa besar mempunyai pengetahuannya yang berbeda. Ada hewan yang tak dapat melihat di waktu siang, ada yang tak dapat melihat di waktu malam dan ada yang dapat melihat keduanya. Manusia adalah bijak, tapi demikian pula sapi, burung dan hewan liar lainnya. Pengetahuan mereka untuk memperoleh makanan, minuman seks dan kenyamanan mirip. Wahai raja, singa di antara manusia, manusia menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak mereka dengan harapan bahwa mereka akan memberikan timbal balik terhadapnya. Tetapi apakah raja melihat burung-burung ini? Burung melakukan tindakan apa pun tanpa mengharapkan apa pun! Manusia jatuh kedalam kolam keterikatan yang amat mempesona. Sedangkan burung-burung melakukan tindakan tanpa pamrih.”

“Sebagian orang berpendapat bila berkarya tanpa pamrih pribadi adalah khayalan utopian, mimpi yang tidak pernah menjadi kenyataan. Sebagian lagi berpendapat bila jiwa kerelawanan, atau semangat “going the extra mile”-ala-Napoleon Hill sekedar teori yang enak untuk didengar dan dibahas, tapi tidak mungkin dilakoni. Anggapan-anggapan miring seperti itu muncul karena kesalahpahaman kita tentang peran kita di dunia ini. Kita tidak memiliki dunia ini. Dunia ini bukan milik kita. Kita datang ke dunia ini dengan tangan kosong, dan akan meninggalkannya dengan tangan kosong. Sebatang ranting kering pun tak terbawa. Itulah sebab para Sufi menasihati kita untuk menjadi wali yang bertanggungjawab. Peran wali inilah peran kita, bukan peran pemilik. Karena, Hyang Memiliki hanyalah Gusti Allah.’ (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kisah Devi Pemesona Agung

Resi Sumedha nelanjutkan, “Kekuatan mempesona adalah tidur yoganya Vishnu. Tidurnya Vishnu mempesona dunia sehingga kalian tidak sadar tentang apa yang kalian lakukan. Dewi yang terkenal sebagai Mahamaya (Yang Maha Mempesona) adalah personifikasi dari semua kepemilikan. Orang-orang ada yang menjadi terikat dengan kepemilikan dan ada yang memperoleh pengetahuan khusus sehingga dapat melepaskan diri dari kepemilikan. Sang Dewi menciptakan tiga dunia dengan segala sesuatu yang bergerak dan tidak bergerak. Dan, meskipun dia penyebab keterikatan, dia juga akan menganugerahkan kebebasan. Dia adalah penyebab knowingness, kesadaran, pengetahuan terbesar, yang merupakan penyebab keselamatan, namun dia juga adalah penyebab ignorance, ketidaktahuan yang menyebabkan keterikatan dengan dunia fana. Dia adalah juga ibu dari semua dewa.”

Sang raja bertanya, “Wahai resi yang saleh, siapakah dewi suci yang disebut sebagai Pemesona Agung? Dari mana yang dia lahir? Apa pula tugasnya? Ceritakanlah kepada kami!”

Sang resi berkata, “Dewi suci tersebut telah menciptakan alam semesta. Tapi dia mengambil wujud dalam beberapa kasus, setiap kali dia muncul di dunia untuk membantu dewa, ia dikatakan dilahirkan pada waktu itu juga!” Demikian pembukaan dalam kisah Devi Mahatmyam.

 

Menguasai Panca Provokator

“Yang kita sebut nabi, atau avatar, atau mesias, atau buddha telah menguasai kelima-limanya (keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan). Kita belum. Lalu, setelah menguasai kelima-limanya tidak berarti mereka tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan-setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer. Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena ‘tali persaudaraan’, karena ‘ikatan-persahabatan’ yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah ‘Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi’, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-‘Aku’-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna.” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Selanjutnya, silakan menikmati beberapa kisah Devi Mahatmyam.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: