Rama untuk Sita, Sita untuk Rama, Eka Patni Vrata, Nikah Seorang Saja, Belajar dari Kisah Ramayana

Sita Rama_placed_a_flower_crown_on_head_of_sita sumber en wikipedia org

Ilustrasi Rama meletakkan mahkota bunga di atas kepala Sita sumber en wikipedia org

Apakah Rama dan Sita Menjalani Pengasingan karena Kehidupan Masa Lalu Mereka?

Sebuah pertanyaan mengusik diri. Dikatakan bahwa takdir setiap orang adalah akibat dari perbuatan orang tersebut di kehidupan sebelumnya yang harus dihadapi saat ini. Apakah Rama mengalami pengasingan selama 13 tahun karena karma masa lalu? Apakah Gusti Yesus disalib karena karma masa lalu? Sangat menarik penjelasan dalam buku Bodhidharma, (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta). Pada umumnya kita hidup dalam Kalachakra, sedangkan para bijak hidup dalam dharmachakra.

“Umumnya, kita berputar bersama Kalachakra Roda Sang Kala, Waktu. Dialah pengendali hidup kita. Keberadaan kita tergantung padanya, pada waktu dan ruang. Karena itu, apa yang kita sebut dan pahami sebagai Tuhan, jangan-jangan Sang Kala. Para bijak, mereka yang sudah memperoleh pencerahan dan melampaui Kalachakra, berputar bersama Dharmachakra, Yang Melampaui Waktu, Wujud, Ruang, Pikiran, Perasaan dan segala bentuk kegiatan. Seperti apa putaran mereka tak dapat dijelaskan, karena penjelasan hanya dapat diberikan dalam konteks waktu dan ruang. Pun mereka bebas dari segala macam dosa, tak tercemarkan, karena sampah waktu (Kalachakra)tak dapat menyentuh mereka. Berada dalam Kalachakra, setiap orang berputar demi dirinya. Hukum Karma, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi masih mengikat dirinya. Berada dalam Dharmachakra, manusia tidak lagi berputar demi dirinya. Hukum Karma sudah tidak mengikat dirinya. Ia berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Bumi kita berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Matahari terbit dan terbenam demi Dharma. Hukum gravitasi bekerja sesuai dengan Dharma. Hukum alam hanya berlaku dalam Kalachakra, dalam Roda Sang Kala, Waktu Agung. Dalam  Dharmachakra, hukum-hukum alam ada tapi tidak berlaku.” (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Rama, sang avatara Vishnu dan Sita, sang putri Dewi Bumi hidup di bumi sesuai kehendak-Nya, bukan karena karma masa lalu. Kisah Rama dan Sita dimaksudkan untuk pelajaran bagi manusia. Dan Ramayana mengajari cara berkeluarga yang baik, dengan menunjukkan contoh keluarga yang kurang baik seperti Dasaratha, Ayahanda Rama yang beristri tiga dan bermasalah. Kemudian kisah Ahalya yang selingkuh sehingga harus menebus dosa selama 1.000 tahun. Bukan suatu kebetulan bahwa Rama kawin dengan Sita setelah mendengar kisah tentang Ahalya dari Resi Vishvamitra.

Kelahiran Sita

Janaka, raja Mithila tidak punya anak selama bertahun-tahun. Ia berdoa kepada Vishnu mohon seorang anak. Vishnu memberkatinya dan mengatakan bahwa keinginannya akan segera terpenuhi oleh Bunda Bumi. Pada suatu hari dalam acara ritual membajak sawah, bajaknya terantuk sesuatu yang ternyata kotak permata. Ternyata setelah peti terbuka nampaklah bayi perempuan yang elok. Janaka mengambil bayi tersebut sebagai anak perempuannya dan diberi nama Sita yang juga bermakna tanah, bumi, siti dalam bahasa Jawa.

Dikisahkan dalam Kitab Srimad Bhagavatam, bahwa penghuni dunia pada awal mula adalah para dewa dan bidadari. Setelah beberapa masa mulailah lahir raksasa, binatang dan manusia di bumi. Sehingga di zaman Satya Yuga sampai Treta Yuga sewaktu zaman Sri Rama, sesekali masih terjadi perkawinan antara dewa atau bidadari dengan manusia, juga ada beberapa putri dewa atau bidadari yang lahir sebagai manusia.

Perkawinan Sita dengan Rama

Ketika Sita menginjak dewasa, Raja Janaka menyelenggarakan sayembara untuk memperoleh suami bagi Sita. Ksatria yang berhasil menarik tali busur Shiva berhak menjadi istri Sita. Banyak ksatria telah mencobanya akan tetapi bahkan untuk mengangkat busur saja mereka tidak mampu. Setelah menceritakan kisah tentang Ahalya, Resi Vishvamitra mengajak Rama dan Lakshmana melanjutkan perjalanan ke Mithila.  Resi Vishvamitra minta Rama mengikuti sayembara yang diadakan Raja Janaka. Rama dengan mudah mengangkat busur Shiva dan kala menarik tali busurnya, busur Shiva patah dengan suara menggetarkan alam semesta. Raja Janaka kemudian mengundang Raja Dasharatha untuk menghadiri perkawinan Rama dengan Sita.

Eka Patni Vrata

Kita pernah membaca berita musisi ternama yang keluarganya berpisah karena ingin kawin lagi. Mungkin musisi tersebut mengira bahwa dia sanggup membesarkan putranya dengan keberlimpahan hartanya. Akan tetapi, kasih sayang seorang ibu memegang peranan yang nyata. Kita kemudian dikagetkan media massa,  bahwa putranya yang belum dewasa menyetir mobil dan menghilangkan enam nyawa dan melukai sembilan orang lainnya.

Eka Patni Vrata adalah janji nikah dengan seorang perempuan saja. Eka Pati Vrata adalah janji nikah dengan seorang pria saja. Rama adalah suami yang ideal dan Sita adalah istri yang ideal dan mereka membentuk kehidupan keluarga yang sangat bahagia. Sita penurut, setia, pemalu dan suci, selalu memahami sikap suaminya. Dengan karakter, cinta dan pelayanan Sita benar-benar membuat Rama bahagia. Rama untuk Sita, Sita untuk Rama. Hanya satu istri adalah teladan Sri Rama bagi seluruh rakyatnya. Itulah sebabnya, kala Sarpakenaka mengubah wujud menjadi wanita cantik jelita, Rama menolaknya dengan mengatakan bahwa dia telah bersumpah Eka Patni Vrata. Demikian pula kala Rahvana meminta Sita menjadi istrinya, Sita menolak dan memilih bunuh diri bila dipaksa.

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan banyak contoh keluarga yang bermasalah karena seseorang mempunyai banyak istri, termasuk Dasaratha, ayahanda Sri Rama.

Berikut beberapa kutipan pesan Bapak Anand Krishna dalam buku “Sapta Padi” bagaimana menuju Keluarga Bahagia. (Krishna, Anand. (2006). Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Hidup bersama berarti pertemuan antara dua pribadi. Masing-masing beda dan sadar akan perbedaaan itu, namun saling menghormati dan menghargai perbedaan diantara mereka.”

“Jadikan perkawinan sebagai lahan untuk menanam benih cinta kasih.”

“Perkawinan adalah perjalanan dari ‘aku’ menuju ‘kita’. Bila milik-mu tetap milik-mu dan milik-ku tetap milik-ku, tujuan perkawinan itu sendiri tidak terecapai. Dianggap gagal atau tidak oleh masyarakat, berakhir dengan perceraian atau tidak, perkawinan semacam itu sesungguhnya sudah berakhir.”

“Dari warisan budaya yang kaya ini kita memperoleh ‘landasan kuat’ bagi perkawinan. Landasan yang kukuh. Landasan berdasarkan saling percaya, saling hormat, dan diatas segalanya, kasih ! Tidak ada unsur tindas menindas; tidak ada dasar subordinasi. Suami dan istri berdiri di atas landasan yang sama. Sama tinggi sama rendah. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih penting. Keduanya sama-sama penting.”

“Kedudukan pria dalam rumah tangga bukanlah majikan atau master, tetapi anggota rumah tangga dengan tugas dan kewajiban yang sama dengan anggota lain. Seorang lelaki yang hanya mengenal bahasa perintah tidak mungkin menjadi seorang suami yang baik. Setidaknya menurut dasar-dasar yang sedang kita pelajari ini.”

“Seorang pria yang belum mandiri, belum bisa membiayai diri dan keluarganya, tidak berhak untuk kawin, tidak berhak untuk berkeluarga. Janganlah menjadi parasit. Janganlah mengharapkan lebih dari apa yang telah diperoleh dari orang tua. Bebaskan orang tua dari tanggung jawab yang tak berguna, supaya mereka dapat melakukansesuatu yang berguna menjelang senja hidup mereka. Sesuatu untuk mempersiapkan jiwa mereka bagi perjalanan terakhir menuju kesempurnaan hidup.”

“Loving, caring, dan sharing adalah produk 3 in 1. Yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain.Ketiganya berada dalam satu paket. Cinta, kepedulian dan kerelaan untuk berbagi adalah tritunggal yang disebut compassion, kasih yang melampaui segala batas; kasih yang tidak mengenal syarat. Dan, ‘saling menghargai’ adalah hasil dari kasih, hasil kasih.”

“Pasangan kita bukanlah milik kita, karena hanya Dialah Pemilik Tunggal Alam Semesta – Al Malik Syukurilah keberadaannya disamping Anda, karena Ia telah menitipkannya kepada Anda.”

“Mencintai pasangan yang sehati itu sangat mudah. Mencintai pasangan yang tidak sehati jelas sulit. Mencintai pasangan yang berseberangan sungguh sangat sulit. Bila kita dapat melakukan hal itu, Perkawinan itu sudah berhasil kita ubah menjadi persembahan. Selamat untukmu.”

Kepuasan Dalam Diri

Ramayana mengajarkan kita untuk belajar bahwa setiap hubungan yang dibangun di atas dua pilar. Pertama adalah Trust, keyakinan dan yang kedua adalah Fidelity, kesetiaan. ini adalah dua elemen yang kita gunakan dalam membangun hubungan, setiap hubungan, bukan hanya hubungan perkawinan. Mengapa Trust hancur? Karena Fidelity, kesetiaan telah rusak. Mengapa kesetiaan rusak? Karena keserakahan dan ketidakpuasan. Kepuasan bukan karena sesuatu yang ada di luar, tetapi terjadi karena adanya pengendalian dan kepuasan yang sudah ada di dalam diri.

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam, Resi Vyasa memberikan banyak contoh kehidupan keluarga yang bermasalah karena ketiadaan trust dan fidelity. Dan, sumbernya adalah karena tidak adanya Kepuasan dalam Diri.

“Kita mengajarkan moralitas kepada anak-anak kita. Di sekolah mereka sudah diberi pelajaran agama sesuai dengan kolom agama yang tertera pada tanda kartu penduduk orangtua mereka. Kendati demikian, kebejatan tidak dapat dihadang juga. Kebejatan sudah menyusup kemana-mana. Kebatilan dan ketidakadilan merajalela. Di mana letak kesalahan sistem kita? Sekolah kita, pelajaran-pelajaran yang diberikan dengan menggunakan bungkus kepercayaan mana pun juga, tidak berasal dari Pohon Kepuasan atau Pohon Pencerahan. Tidak ada Pohon Kesadaran. Karena itu, kebatilan, kekurangajaran, ketidakadilan, dan kebejatan merajalela. Pohon bejat pasti berbuah kebejatan. Jika pohonnya adalah Pohon Kepuasan, maka, bunganya sudah pasti dharam atau dharma—bukan agama, sebagaimana kata ini sering disalahterjemahkan. Dharma adalah kebajikan. Dan giaan, gyaan atau bukan sekedar pengetahuan, tetapi pengetahuan yang berguna, yaitu kebijaksanaan. Anda tidak cukup memetik bunga dan buah saja. Adalah kewajiban Anda untuk memupuki Pohon Kepuasan Diri.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

3 Responses to “Rama untuk Sita, Sita untuk Rama, Eka Patni Vrata, Nikah Seorang Saja, Belajar dari Kisah Ramayana”

  1. madeadnyani Says:

    Reblogged this on TAMAN DHARMA.

  2. Ijin share ke fb ya,makasih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: