Mewakafkan Nyawa: Pengabdian Terakhir Sang Raja Kera, Kisah pada Relief Borobudur

borobudur pengorbanan raja kera

Gambar Relief Raja Kera menjadi jembatan penyelamat rakyatnya sumber www borobudur tv

Mewakafkan Nyawa

“Perjuangan ini bukan untuk mereka yang menghitung laba rugi. Perjuangan ini adalah untuk mereka yang berani mewakafkan nyawa mereka bagi bangsa. Bila pengorbanan itu kau artikan sebagai kerugian, maka perjuangan ini bukanlah untukmu.” (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seekor pemimpin kelompok kera mengguncang hati manusia dengan tindakannya yang penuh kasih mengambil resiko berbahaya demi menyelamatkan kelompoknya.

 

Kisah Sang Raja Kera

Adalah sebuah pohon mangga raksasa yang sangat rimbun daunnya. Dari kejauhan pohon tersebut seperti bukit hijau nampaknya. Dekat tebing sebuah gunung, pohon tersebut berada, dan sebuah sungai melintas di bawah salah satu dahannya. Pohon tersebut mempunyai ribuan buah mangga yang rasanya luar biasa enaknya. Baunya harum dan tahan tidak membusuk dalam waktu yang lama. Mangga yang penuh khasiat, sehingga membuat sehat siapa pun yang memakannya. Ratusan kera hidup di pohon tersebut dibawah pimpinan seekor kera yang paling besar dan paling bijaksana. Pemimpin kera tersebut layak disebut Sang Raja Kera. Komunitas kera tersebut hidup sejahtera berkat pohon mangga raksasa yang berbuah sepanjang tahun tanpa ada habisnya. Sang Raja Kera berpesan agar seluruh buah yang ada di dahan yang berada di atas sungai harus dihabiskan jangan ada yang tersisa. Sang Raja Kera berpesan kepada rakyatnya untuk selalu waspada. Walau bertahun-tahun mereka hidup sejahtera karena pohon mangga raksasa, sesaat saja mereka tidak waspada dan ada buah mangga yang jatuh dan hanyut, kesejahteraan mereka bisa berakhir segera.

 

Kurang Waspada Datang Bencana

Ibarat seorang pengemudi yang sedang bepergian jauh, walau telah selamat dan hampir sampai kota yang dituju, sekali saja lengah dan hilang kewaspadaan, nyawa penumpang menjadi taruhannya. Demikian pula kita harus waspada dalam menjalani kehidupan kita.

“Kasih sayang, kemampuan untuk memaafkan, dan sebagainya, berasal dari Kesadaran Tinggi, Kesadaran Ilahi yang membebaskan jiwa manusia. Rumi menasihati kita untuk senantiasa waspada. Kendati sudah berada pada Kesadaran Kasih, Kesadaran Tinggi, kaki kita bisa saja terpeleset. Kita bisa jatuh lagi. Karena: Kesadaran rendah bagaikan seorang maling. Setiap saat dia bisa keluar dari tempat persembunyiannya.” (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Konon ada satu buah mangga di atas dahan tersebut, yang luput dari perhatian. Buah tersebut jatuh ke sungai dan dibawa aliran. Seorang raja dan pasukannya kebetulan sedang menyeberang. Mendapatkan buah mangga istimewa tersebut sang raja sangatlah riang. Pasukannya diajak menyusuri sungai ke hulu mencari pohon asalnya. Sampailah mereka ke pohon mangga raksasa dan pasukannya melihat pohon tersebut dihuni ratusan kera. Mereka berteriak-teriak mengusir para kera dengan batu dan sebagian mulai membidikkan anak panahnya. Kera-kera pada ketakutan karena mulai terancam nyawa mereka. Sang Raja Kera naik ke puncak pohon dan meloncat ke tebing gunung di dekatnya. Dia merangkak ke atas gunung mendapatkan pohon rotan dan mengikatnya pada kakinya. Kemudian dia meloncat kembali ke pohon, tetapi hanya tangannya yang dapat menggapai salah satu dahannya. Sang Raja Kera bermaksud membuat jembatan rotan dari pohon ke tebing gunung di dekatnya. Akan tetapi yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya. Jembatan telah tersedia, tetapi terbuat dari tubuh Sang Raja Kera dengan rotan yang diikat di kakinya yang terhubung dengan tebing gunung di seberangnya.

 

Pengabdian Sang Raja Kera

Dengan sigap, Sang Raja Kera memerintahkan para kera segera meniti jembatan yang telah tersedia. Ratusan kera tersebut melewati jembatan yang terbuat dari raga Sang Raja Kera. Betapa sakitnya Sang Raja Kera, tubuhnya dibebani para kera yang lewat di atas tubuhnya. Tangannya yang memegang dahan berdarah-darah dan masih mencengkeram walaupun dia sangat kelelahan. Kakinya sudah merah, mungkin tulangnya retak karena terikat erat dengan rotan. Dia masih bertahan, sampai kera terakhir diselamatkan. Sang Raja Kera telah mengorbankan dirinya sebagai jembatan agar pengikutnya mendapatkan kebebasan .

“Kita tidak lembut, kita belum lembut, dan jiwa yang belum lembut, tidak lembut, tidak bisa berbahasa lembut. Kelembutan belum menjadi sifat kita. Apa pun agama kita, sebenarnya kita masih berelemen non-Allah, bukan Allah. Jiwa yang lemah lembut, jiwa yang kenal cinta, akan selalu setiap berkorban. Pengorbanan menjadi sifatnya. Ia akan terluka, tetapi tidak akan pernah melukai orang lain. Berada di atas salib, seorang Nabi Isa bisa memaafkan para pembunuhnya. Kasih membuat Anda berani. Kasih adalah kekuatan. Namun Kasih juga lembut. Kuat tetapi lembut, itulah ciri khas seorang pencinta Allah. Ia kuat, ia berani menghadapi tantangan apapun. Namun ia juga tetap lembut. Ia tidak alot, tidak keras. Melihat penderitaan orang lain, ia akan meleleh, ia akan menangis. Kasih akan selalu siap berkorban demi kepentingan orang lain. Kasih akan mengesampingkan kepentingan-kepentingan pribadi. Demikianlah kasih.” (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pesan bagi Sang Raja

Sang Raja dan pasukannya terkesima melihat pengorbanan Sang Raja Kera. Trenyuh hati mereka melihat penderitaan Sang Raja Kera.  Mereka melihat Sang Raja Kera luka parah, tetapi tetap bertahan demi seluruh kera komunitasnya. Tanpa terasa mata Sang Raja dan pasukannya berkaca-kaca. Sang Raja memerintahkan pasukannya mempersiapkan jaring-jaring di bawah tubuh Sang Raja Kera. Pasukannya diminta memanah secara bersama, dahan pegangan Sang Raja Kera dan rotan yang mengikat kakinya. Sang Raja Kera jatuh ke jaring-jaring dalam keadaan pingsan. Pasukan raja berusaha sebisa-bisanya memberikan pertolongan. Tiba-tiba Sang Raja Kera siuman. Dia berterima kasih bahwa jiwanya telah diusahakan untuk diselamatkan. Melihat kera besar yang dapat berbicara seperti manusia, Sang Raja keheranan. Di wajah Sang Raja Kera tidak menunjukkan tanda bahwa dia menyesalkan tindakan raja dan pasukannya yang telah mengakibatkan keadaannya menjadi demikian.

Sang Raja mohon maaf telah mengganggu kehidupan para kera dan menyebabkan peristiwa tragis yang terjadi. Sang Raja Kera berkata, “Raga ini bisa luka tetapi pikiran jernih masih ada di dalam diri. Kasihku kepada para kera tak akan terpengaruh oleh keadaan ragaku ini. Ragaku ini sebentar lagi akan kutinggalkan, tetapi rasa kasih dalam diri ini tetap abadi. Sejak kecil sampai dewasa dan sampai meninggal sesaat lagi….., diriku telah mengalami berbagai pengalaman, akan tetapi rasa kasih ini selalu ada setiap saat, karena telah mengisi seluruh diri…..” Dan, kemudian Sang Raja Kera tidak bernapas lagi. Sang Raja bersabda, bukan suatu kebetulan dia menyaksikan peristiwa luar biasa. Sang Raja Kera telah memberi pelajaran bagaimana cara melayani dengan penuh kasih sepanjang hayatnya. Setelah kejadian itu Sang Raja mulai memimpin kerajaan dengan lebih bijaksana. Sang Raja bersikap penuh kasih melayani rakyatnya…..Konon setelah beberapa kehidupan Sang Raja Kera lahir kembali menjadi Sang Buddha.

 

Melayani Sesama

“Melayani Sesama Manusia berarti Melayani Tuhan. Ungkapan ini benar bagi mereka yang melihat Wajah Allah dimana-mana; bagi mereka yang merasakan kehadiranNya setiap saat; bagi mereka yang sadar bila kita semua berada di dalamNya. Bagi mereka yang menempatkan Tuhan jauh diatas, entah dimana, tentunya ungkapan ini kehilangan makna, tidak berbunyi sama sekali. Kemudian hubungan kita dengan Tuhan menjadi hubungan vertikal, dari bawah ketas. Sementara hubungan dengan sesama menjadi horizontal, setara. Maka, berhamba atau mengabdi pada Tuhan tidak sama lagi dengan melayani sesama. “Melayani sesama manusia berarti melayani Tuhan” adalah ungkapan manusia spiritual yang tidak lagi terpengaruh oleh peta-peta yang serba membatasi dan membingungkan. Ungkapan ini adalah pegangan bagi mereka yang telah mengubah setiap pekerjaannya – sekecil atau sebesar apapun – menjadi ibadah. Ungkapan ini adalah pedoman hidup mereka yang beribadah dengan melayani sesama. Mereka-mereka inilah para jivan-mukta – jiwa bebas merdeka – yang sudah tidak terperangkap oleh batas-batas buatan manusia. Mereka berkarya demi kebaikan semua, kebahagiaan semua. Sebab itu, mereka selalu bahagia, selalu ceria. Kesulitan tidak pernah mematahkan semangat mereka. Guncangan sebesar apapun tidak mampu meluluhkan mereka. Bagaimana bisa? Walau tetap berbadan, jiwa mereka sudah manunggal dengan semesta – maka kekuatan mereka adalah kekuatan semesta.” (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

One Response to “Mewakafkan Nyawa: Pengabdian Terakhir Sang Raja Kera, Kisah pada Relief Borobudur”

  1. madeadnyani Says:

    Reblogged this on TAMAN DHARMA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: