Menaklukkan Kejahatan dalam Diri, Kisah Madhu dan Kaitabha dalam Kitab Devi Mahatmyam

Mahatmyam membangkitkan Vishnu dari tidur sumber vimokhananda com

Ilustrasi Dewi Mahatmyam membangkitkan Vishnu dari tidurnya sumber vimokshananda com

Dorongan Kegelapan dalam Diri

“Arjuna bertanya kepada Sang Murshid, Krishna, ‘Kenapa aku masih saja berbuat yang tidak baik, tidak tepat? Seolah ada dorongan kuat untuk berbuat yang tidak baik, tidak tepat. Kenapa?’ Krishna menjawab, ‘Dorongan itu bukanlah karena Dewa Setan Mara, atau Iblis, atau Jin. Dorongan itu disebabkan oleh keinginanmu sendiri. Keinginan untuk apa? Untuk meraih keuntungan. Kemudian, kita menghalalkan segala  macam cara untuk meraihnya. Keinginan untuk menjadi kaya, untuk hidup mewah – dan, kita pun membenarkan segala macam usaha walau ilegal.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Madhu mempunyai makna ego palsu yang mempunyai sifat seperti manisnya madu dan membuat orang lupa diri siapa jatidiri sebenarnya. Kaitabha mempunyai makna menipu, Madhu dan Kaitabha adalah ego seseorang yang menipu manusia sehingga lupa jatidirinya.

 

Ego yang Menipu

Dikisahkan bahwa sebelum penciptaan, Vishnu sedang tidur. Tidurnya Vishnu, adalah tidur dengan tidak memperhatikan dunia. Brahma, Sang Pencipta lahir dengan melompat keluar dari pusar Vishnu. Kemudian, dari kotoran telinga Vishnu yang sedang tidur lahir Asura Madhu dan Kaitabha.

Madhu dan Kaitabha senang bermain air di samudera dan tiba-tiba ingin mengetahui siapakah sejatinya mereka dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa Adi Shakti, Energi Agung adalah sumber mereka. Mereka membaca mantra dengan penuh dedikasi dan akhirnya Bunda Ilahi, Sang Energi Agung memberi anugerah dengan memenuhi permintaan mereka bahwa mereka tidak bisa mati kecuali dengan keinginan mereka sendiri. Merasa punya power yang luar biasa Madhu dan Kaitabha memutuskan untuk menumpas Brahma, Sang Pencipta yang mewakili sifat kreatif di dunia. Seseorang disebut Brahmachari bila dia berperilaku seperti Brahma. Madhu dan Kaitabha, ego yang menipu yang selalu ingin menghancurkan para Brahmachari.

Brahmachari berarti ‘Ia yang Berperilaku seperti Brahma atau Pencipta’. Perhatikan ciptaannya, tidak ada sesuatu yang terulang. Dua helai daun dari satu pohon yang sama pun tidak persis sama. Penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendakNya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendakNya. Remaja yang mengolah dirinya disebut Brahmachari berperilaku seperti Brahma atau sang pencipta. Kemudian gelar yang diperolehnya juga sudah tepat: Srajanahaar, sang pencipta—ia ibarat cahaya atau sinar matahari yang tengah berbagi kehidupan dengan sesama makhluk hidup.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Madhu dan Kaitabha Mengganggu Brahma

Brahma yangselalu  berkarya mencipta, kemudian mulai diganggu oleh Madhu dan Kaitabha. Brahma berdoa kepada Dewi Mahatmyam dengan memuja sang dewi dan kemudian mohon pertolongan untuk membunuh Asura Madhu dan Kaitabha. Sang dewi kemudian membangunkan Vishnu yang sedang tertidur. Dan kemudian Vishnu berperang melawan Madhu dan Kaitabha. Mereka berkelahi selama 5.000 tahun dan tidak ada yang kalah.

Vishnu minta istirahat sebentar, karena dia belum pernah istirahat, sedangkan Madhu dan Kaitabha bisa beristirahat bergantian. Kedua asura mengijinkannya dengan angkuh karena mereka yakin tidak bisa dikalahkan kecuali dengan keinginan mereka sendiri. Vishnu berdoa kepada Dewi Mahatmyam yang kemudian muncul dengan segala keindahan yang mempesona kedua asura. Dalam keadaan kena pukau, Vishnu menawarkan anugerah apa yang diminta kepada dirinya. Dalam keadaan lengah, mereka menjawab dengan angkuh silakan Vishnu saja yang memohon anugerah kepada mereka dan mereka akan mengabulkannya.  Vishnu kemudian minta anugerah untuk dapat membunuh mereka berdua. Dengan pemahaman mereka bahwa air samudera pralaya memenuhi alam semesta, maka mereka bilang bahwa mereka bisa dibunuh bila mereka tidak bisa melihat samudera. Kemudian Vishnu membesarkan dirinya dan meletakkan mereka diatas kedua pahanya dan mereka tidak dapat melihat samudera. Selanjutnya kedua asura tersebut dibunuh dengan senjata chakra oleh Vishnu.

 

Belajar dari Kisah Madhu dan Kaitabha

Kisah ini adalah simbol konflik internal dalam diri. Kejahatan bersumber dari keinginan pikiran yang mengikuti ego palsu di dalam diri. Baik kekuatan kreatif Brahma di dalam diri maupun ego palsu, baik dan jahat, penciptaan dan kehancuran, berkarya tanpa pamrih dan memuaskan kenyamanan duniawi bersumber di dalam diri.

Kala seseorang lupa jatidirinya (tidurnya Vishnu), maka kegelapan dalam diri (ego palsu, Madhu Kaitabha) ingin menguasai diri dan menaklukkan sifat kreatif dalam diri (Brahma).  Kekuatan kreatif dalam diri mengikuti intuisi untuk berdoa kepada Bunda Ilahi, Energi Agung yang merupakan sumber dari semua makhluk.

Bunda Ilahi membangunkan kesadaran seseorang yang kemudian berperang melawan ego palsu di dalam diri. Perang selama 5.000 tahun antara Vishnu melawan Madhu Kaitabha adalah simbol dari perkelahian antara kesadaran melawan ego palsu di dalam diri yang selalu berkecamuk selama hayat masih di kandung badan. Kesadaran bisa menang setelah mohon berkah dan anugerah dari Bunda Ilahi yang selalu bersedia menolong mereka yang berperang melawan kejahatan dalam diri, apalagi bagi mereka yang mohon pertolongan kepada diri-Nya. Bila kita sering mendengar Krishna dipanggil dengan gelar Madhusudhana, baberapa pakar berpendapat Sri Krishna adalah Vishnu yang menumpas asura Madhu, gelar tersebut juga diberikan kepada seorang yang telah menundukkan ego palsunya dan mengenali jatidirinya.

 

Upaya Menaklukkan Ego Yang Palsu, Ego yang Berasal dari Pikiran yang Penuh Keinginan

Dalam diri seseorang ada Brahma yang kreatif mencipta dan ada Pikiran Penuh Keinginan yang menghasilkan Ego Palsu. Dengan menaklukkan Pikiran, seseorang bisa berkarya tanpa pamrih dan berkarya sesuai kehendak-Nya.

“Manusia berada antara hewan dan malaikat : Manusia adalah titik tengah. Manas + isha = manushya = manusia. Tambahkan manas atau mind, pikiran pada Isha atau keilahian, maka terjadilah manushya atau manusia. Manushya atau manusia dikurangi manas atau mind (pikiran) tinggal ishya, keilahian. Pikiran menjauhkan kita dari Allah. Pikiran itulah hijab, maya, ilusi yang sebenarnya juga merupakan ciptaan-Nya. la menciptakannya terlebih dahulu, supaya manusia tercipta. Peleburan pikiran mempertemukan diri kita dengan Sang Maha Cipta, bukan Pencipta, tetapi Cipta. Ia bukanlah ‘sosok’ pencipta. Ciptaan terjadi karena Keberadaan-Nya, Kehadiran-Nya. la tidak membutuhkan peralatan dan bantuan untuk menjadikan sesuatu. Kejadian terjadi atas Kehendak-Nya. Sang Maha Hendak, The Suprememost Will-itulah Dia. Kesadaran manusia harus meningkat, mengalami lompatan kuantum untuk menggapai Isha, Yang Esa. Itulah masa depannya destiny. Namun proses peningkatan kesadaran atas lompatan kuantum itu sendiri harus terjadi sekarang dan saat ini juga, here and now! (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Penjelasan Lambang Lingga Yoni di Candi Sukuh

“Manusia tidak dilahirkan sebagai makhluk yang paling sempurna. Ya, dia memiliki potensi untuk meraih kesempurnaan, untuk menjadi sempurna. Untuk itu, Ia harus bekerja keras. la harus membanting tulang. la harus berupaya.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Leluhur kita menggambarkan upaya manusia sebagai “lingga” yang mengarah ke atas, seperti sifat api yang mengarah ke atas melawan gravitasi dan ada juga yang menggambarkan sebagai segitiga yang mengarah ke atas. Setelah ada upaya maka akan datang anugerah yang digambarkan dengan “yoni” yang mengarah ke bawah, sifat air yang memberkati sesuai gravitasi dunia, dan ada juga yang menggambarkan sebagai segitiga dengan arah ke bawah. Gambaran Lingga Yoni, Bintang Segi Enam (dua segitiga yang mengarah ke atas dan ke bawah) yang sering disebut sebagai Bintang Daud adalah gambaran bahwa kita harus selalu berupaya dengan keras dan anugerah akan turun sebagai konsekuensinya.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

2 Responses to “Menaklukkan Kejahatan dalam Diri, Kisah Madhu dan Kaitabha dalam Kitab Devi Mahatmyam”

  1. madeadnyani Says:

    Reblogged this on TAMAN DHARMA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: