Vishvamitra, Perjuangan Gigih Manusia untuk Menjadi Guru Avatara Sri Rama

Vishvamitra Guru Sri Rama dan Lakshmana sumber www krishnamercy org

Ilustrasi Vishvamitra mengajari Rama dan Lakshmana cara memanah sumber www krishnamercy org

Perjuangan Gigih

“Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu. Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas. Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta.” (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Resi Vasishtha adalah putra Brahma yang ditugaskan ke dunia untuk menyebarkan pengetahuan tentang jatidiri yang telah dialaminya. Pada waktu dirinya diminta menjadi Resi Istana dari Dinasti Raghu, dia menolaknya. Akan tetapi kala Brahma menjelaskan bahwa Vishnu akan mewujud sebagai salah satu keturunan Dinasti Raghu, Resi Vasishtha menerima pekerjaan tersebut. Sejak awal Resi Vasishtha sudah tahu bahwa Sri Rama adalah Avatara yang merupakan perwujudan Sri Vishnu yang lahir untuk menegakkan dharma. Vasishtha mengajarkan Kitab Yoga Vasishtha kepada Sri Rama yang akan disinggung sedikit-sedikit dalam category Ramayana pada Blog: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

Salah satu Guru Sri Rama lainnya adalah Resi Vishvamitra yang sebelumnya adalah seorang raja bernama Kaushika. Raja Kaushika selalu berjuang memperhatikan rakyat dan para prajuritnya. Dalam perjalanan kehidupan ada beberapa kesalahan yang dilakukannya. Seorang Raja biasanya meninggalkan tahtanya kala merasa sudah cukup berbakti kepada negara dan melanjutkan menjadi Vanaprashta. Saat Vanaprastha laku spiritual menjadi full time. Dia tidak lagi mengurusi dunia dan kebendaan, tetapi mengurusi diri, mengurusi jiwa. Raja Kaushika menjalani Vanaprashta karena sebagai raja merasa malu kalah dengan Resi Vasishtha. Baik Resi Vasishtha maupun Resi Vishvamitra adalah guru-guru dari Sri Rama sewaktu remaja. Bila Vasishta mengajari tentang spiritual yang tercatat dalam kitab Vasishtha Yoga, maka Vishvamitra mengajari Sri Rama dengan terjun langsung di lapangan.

 

Bertemu Resi Vasishtha

Alkisah pada suatu hari, putra mendiang Raja Gadhi bernama Raja Kaushika dari dinasti Brighu, yang masih terhitung kakek dari Avatar Parasurama, beserta pasukannya mengunjungi Resi Vasishtha. Mereka dijamu Resi Vasishtha dengan hidangan berlimpah. Raja Kaushika heran bagaimana caranya Resi Vasishtha dapat menyiapkan hidangan begitu nikmat yang mencukupi kebutuhan pasukannya. Resi Vasishtha kemudian memanggil Lembu Ilahi Sabala yang merupakan sumber segala kebutuhan yang tak ada habisnya, dan menjelaskan ke Raja Kaushika bahwa Sabala lah yang menyediakan hidangan tersebut.

Raja Kaushika berkata, “Wahai Resi, lembu ini lebih bermanfaat bagi kerajaan daripada berada di ashram pedesaan, biarlah lembu ini saya bawa ke istana.” Selanjutnya, Raja Kausika memerintahkan para prajuritnya menyeret Sabala. Demi kepentingan kerajaan, demi keadilan bagi seluruh rakyat yang seharusnya merasakan berkah Lembu Sabala, Raja Kausika melupakan aturan kepemilikan. Resi Vasishtha tidak hanya memperhatikan kepentingan umum, akan tetapi paham bahwa yang ada di dunia ini hanyalah ilusi, maya, yang sementara ada. Bagi sang resi Kehendak Hyang Widhi lebih penting daripada kepentingan umum semata. Ia mengasihi Raja tetapi ia juga mengasihi lembu Sabala, dan ia mengikuti Kehendak-Nya.

“Ia yang penuh dengan belas kasih dapat menyelesaikan segalanya dengan baik. la yang adil tidak selalu demikian. la akan gusar, apabila rakyat tidak mengindahkan perintahnya. Kasih dan Adil merupakan dua sifat yang berbeda. Kasih dapat memuaskan semua pihak. Dengan kasih, Anda dapat menyelesaikan semua masalah, tanpa harus memaksakan kehendak Anda, ataupun memberlakukan peraturan-peraturan yang baku. Di pihak lain, keadilan tidak dapat memuaskan semua pihak. Peradilan harus mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ditentukan. Dan apabila ada yang tidak mengindahkannya harus dihukum. Renungkan sejenak: Apabila kasih dijadikan dasar untuk penyelesaian masalah-masalah kita, pengadilan sudah tidak akan dibutuhkan lagi. Sibuknya pengadilan, bertumpuknya kasus-kasus yang belum terselesaikan, membuktikan bahwa landasan kasih kita belum kuat.” (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Ditaklukkan Resi Vasishtha

Lembu Ilahi Sabala meneteskan air mata, dia sangat sedih, mengapa Resi Vasihtha yang sudah dianggap sebagai orang tuanya melepaskan dia begitu saja mengikuti sang raja. Tergerak oleh rasa kasih, Resi Vasihtha berkata, “Sabala keluarkan pasukan untuk mengalahkan pasukan Raja Kaushika.” Singkat cerita pasukan Raja Kausika mengalami kekalahan telak dari pasukan ciptaan Sabala.

Raja Kaushika merasa malu, ternyata kekuatan seorang raja tidak dapat mengalahkan kekuatan seorang resi. Raja Kaushika pulang ke istana, menyerahkan kekuasaan kepada putranya dan bertapa mohon senjata kepada Shiva. Dengan panah Bramastra anugerah senjata dari Shiva, Raja Kausika kembali mendatangi padepokan Resi Vasishtha. Dengan panahnya padepokan tersebut dihancurkan menjadi abu dan akhirnya berhadapanlah Raja Kaushika dengan Resi Vasishtha.

Akan tetapi panah Bramastra pun terserap ke dalam gada Brahmadanda dari Resi Vasishtha. Kembali Raja Kausika menderita kekalahan dan dia kembali bertapa ribuan tahun agar dapat menjadi seorang resi menandingi Resi Vasishtha.

 

Membantu Raja Trisanku

Raja Trisanku dari dinasti Surya, leluhur Sri Rama tidak ingin mati berpisah dari raganya, dan ingin ke surga bersama raganya. Dia meminta Resi Vasishtha mengabulkan permohonannya, tetapi dia ditolak. Ketika sang raja mohon kepada para putra Vasishta, mereka bahkan mengutuknya menjadi seorang chandala dan tak ada seorang pun yang mengenalinya, sehingga dia pergi mengembara dan tidak kembali ke istana.

Dalam pengembaraannya, sang chandala bertemu dengan Resi Kaushika yang sedang bertapa. Kaushika mengenali bahwa sang chandala adalah Raja Trisanku. Raja Trisanku berkata, “Sewaktu menjadi raja, aku selalu berbuat baik dan tak pernah menyimpang dharma, saya hanya punya keinginan bisa ke surga bersama tubuh saya, tetapi putra-putra Vashishtha telah mengutukku, mohon pertolongan Bapa Resi.”

Resi Kaushika membantu Raja Trisanku, bahkan mengusahakan Raja Trisanku dapat naik ke surga bersama tubuhnya. Ketika Raja Trisanku sampai surga dan dan ditolak Indra, Resi Kaushika membuatkan surga khusus bagi Trisanku, pada konstelasi bintang antara bumi dan surga, dan para dewa terpaksa menyetujuinya takut kepada kesaktian Resi Kaushika. Konsekuensinya adalah bahwa hasil tapa Resi Kaushika habis untuk membantu Raja Trisanku dan harus mulai bertapa ulang.

Begitu banyak galaksi di alam semesta dan sampai saat ini jumlahnya milyaran dan masih berkembang terus. Dalam sebuah galaksi pun ada milyaran matahari. Bhagavan Vyasa mengingatkan bahwa alam semesta ini sangat luas. Bahkan bumi pun hanya setitik debu dalam kebesaran alam semesta. Oleh karena itu, jangan sekali-kali merasa angkuh terhadap kekuasaan Yang Maha Kuasa.

Pengorbanan Nyawa Putra Resi Ajigarta Mengetuk Nurani Resi Kaushika

Resi Kaushika telah mengorbankan tahta dan keduniawian, akan tetapi ternyata ada orang yang berani mengorbankan nyawa demi keselamatan orang banyak. Hal ini mengetuk nuraninya.

Pada suatu saat Resi Kaushika terketuk oleh pengorbanan Resi Ajigarta yang merelakan putranya Sunahsepa menjadi persembahan Varuna agar Harischandra, cucu Raja Trisanku yang menjadi putra mahkota selamat. Resi Kaushika memanggil seratus putranya agar ada salah satu yang sanggup berkorban menggantikan putra Resi Ajigarta. Separuh putranya menolak dan beralasan mengapa putra seorang raja menggantikan putra resi sebagai korban persembahan. Kemudian kelimapuluh putranya dikutuk menjadi pengikut suku liar pemakan anjing Nisada selama 1000 tahun.

Kutukan tersebut bisa dimaknai, seorang putra yang tidak patuh dan berbakti kepada orang tuanya, akan lahir kembali selama beberapa kehidupan sebagai penjaga setia yang patuh kepada majikan, layaknya anjing yang patuh pada tuannya. Hutangnya adalah setia mengabdi, sehingga karena tidak mengabdi orang tua, dia harus mengabdi pada seorang majikan dalam beberapa generasi.

Resi Kaushika memberikan mantra kepada Sunahsepa agar Varuna tidak mengambil nyawanya. Akhirnya Varuna mengampuni Harischandra. Sunahsepa kemudian diangkat anak oleh Resi  Kaushika.

 

Godaan Yang Menggairahkan dan Yang Menyilaukan

Raja Kaushika telah melepaskan keduniawian dan hidup untuk membantu orang lain, akan tetapi belum mengalami godaan wanita. Untuk menjadi Resi seseorang harus bisa mengendalikan apa saja yang menyilaukan diri dan apa saja yang menggairahkan diri.

“Sri Ramakrishna Paramhansa selalu mengingatkan kita supaya berhati-hati dengan kamini dan kanchan. Ini adalah sebuah pepatah kuno. Kamini berarti ‘apa saja yang menggairahkan’, sekarang sering diterjemahkan sebagai wanita. Dan kanchan berarti ‘sesuatu yang menyilaukan’. Persis seperti kamini, kanchan pun sekarang sering disalahartikan sebagai ‘uang’ dan ‘emas’. Padahal maksudnya bukan uang atau emas saja. Gairah Bersumber dari diri kita sendiri. Seperti halnya semangat, kehendak, keinginan, kemauan, keberanian; gairah pun tidak datang dari luar. Ia berasal dari dalam diri kita sendiri. Segala sesuatu di luar—entah itu apel, wanita, pria, kedudukan, kekayaan, atau apa saja—menjadi ‘pemicu’ ketika kita membuka diri untuk ‘terpicu’. Jika kita menolak dan tak mau terpicu, maka apel tidak berubah menjadi apa pun. Nasihat Sri Ramakrishna Paramhansa, berhati-hatilah terhadap segala sesuatu yang ‘menggairahkan’ dan ‘menyilaukan’, mesti dipahami secara bijak. Segala sesuatu yang memicu kegairahan di dalam diri saya adalah kamini bagi saya. Dan segala sesuatu yang membuat saya menjadi angkuh, arogan, sombong adalah kanchan bagi saya.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bagaimana Resi Kaushika menghadapi godaan biidadari? Benarkah Pandawa dari Dinasti Bharata adalah anak keturunan dari Resi Kaushika? Silakan ikuti artikel selanjutnya.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: