Menaka: Bidadari Jelita Penggoda Vishvamitra

vishvamitra digoda menaka sumber bharatabharati wordpress com

Ilustrasi Resi Kaushika digoda Bidadari Menaka sumber bharatabharati wordpress com

Seorang Bhakta Perlu Berhati-hati dalam Pergaulan

Kaushika bertapa ribuan tahun dan Indra cemas Kaushika akan mengalahkan dirinya. Indra kemudian mengirim Bidadari Jelita Menaka. Menaka menari dengan gemulai dan menyanyi dengan suara merdu serta kemudian mengalungkan karangan bunga ke leher Kaushika yang sedang memejamkan matanya. Kaushika terganggu dan membuka matanya. Resi Kaushika telah bertapa ribuan tahun untuk menyamai kesaktian Resi Vasihtha, akan tetapi masih tergoda juga dengan bidadari Jelita Menaka. Mungkin itu sudah bagian dari rencana alam semesta. Kaushika hidup bersama Menaka selama 5 tahun dan lahirlah Shakuntala yang nantinya menjadi ibu dari Bharata, nenek moyang Pandawa dan Kurawa. Genetika pilihan Kaushika dan Menaka menurun ke Dinasti Bharata. Seandainya Resi Kaushika tahan godaan, mungkin saja Shakuntala akan mempunyai bapak yang lain, bukan Resi Kaushika.

“Ketika berpapasan dengan lawan jenis di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, ‘Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!’ Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi. Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, ‘Subhanallah! Maha Suci Allah’.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Antara Anugerah dan Kutukan

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dan lain-lainnya kita mengenal adanya anugerah, boon dan kutukan, curse. Anugerah adalah memberikan ganjaran kepada seseorang yang telah melakukan upaya kebaikan atau bertapa dengan tujuan agar keinginannya dikabulkan. Kebanyakan mereka yang bertapamohon Anugerah kepada Shiva adalah raja para asura untuk kepentingan keduniawian misalnya untuk memperoleh kesaktian atau senjata handal untuk dipakai diri mereka sendiri. Biasanya setelah permohonannya dikabulkan mereka berhasil, akan tetapi kesaktian atau senjata tersebut, setelah membuatnya semakin sakti juga membuat dia terbunuh oleh kesaktian atau senjata tersebut. Shiva adalah Pendaur Ulang alam. Pakaian para bhakta Shiva biasanya mewah, gemerlapan, pakaian raja atau ksatria sedangkan Shiva sendiri bertelanjang dada. Sebaliknya mereka yang memohon kepada Vishnu adalah para suci yang mohon berkah untuk kebaikan masyarakat. Kebanyakan bhakta Vishnu berpakaian sederhana sedang Vishnu sendiri berpakaian gemerlapan. Dikisahkan hanya ada 2 asura bhakta Vishnu yaitu Prahlada dan Vibhisana.

Kutukan, curse diberikan kepada seseorang yang membuat seorang Resi menjadi marah. Kutukan ini digambarkan seperti kekuatan supranatural atau mantra. Pada zaman dahulu kutukan ini sering dikisahkan dalam legenda-legenda setempat di seluruh berbagai daerah di dunia. Dikisahkan bahwa sebuah kutukan akan mengurangi jumlah masa tapa yang pernah dilakukannya. Kutukan juga dapat diberikan oleh orang yang teraniaya. Dalam beberapa daerah dikenal bahwa: kutukan orang teraniaya itu dikabulkan; air mata yang menetes dari penyiksaan yang luar biasa merupakan senjata ampuh untuk permohonan keadilan kepada Hyang Maha Kuasa;

Baik Anugerah maupun Kutukan ada kaitannya dengan hukum sebab-akibat. Sebuah Anugerah adalah sebuah upaya gigih yang akan menghasilkan anugerah yang sebanding. Sebuah kutukan perlu di-“decoding” dan dimaknai yang tidak jauh dari buah yang harus dipanen akibat menanam benih ketidakbaikan.

 

Mengutuk Para Putra Resi Vasishtha

Kala Kaushika sedang mengadakan upacara persembahan agar Trisanku bisa naik ke surga, datanglah para putra Vasishta melecehkannya, “Bagaimana bisa bekas raja dapat menaikkan seorang chandala ke surga.” Para putra Vasishtha tadinya mengutuk Raja Trisanku menjadi seorang chandala yang tiada seorang pun yang mengenalinya, kecuali Resi Kaushika. Kini kala Resi Kaushika sedang melakukan persembahan diganggu mereka. Para putra Vasishtha kemudian dikutuk menjadi pengikut suku liar Nishada selama 1000 tahun. Kutukan ini dimaknai mereka yang mengutuk raja yang tak bersalah harus mengalami menjadi warga suku liar tanpa raja selama beberapa generasi. Juga mereka yang tidak tahu etika mengganggu resi yang melakukan upacara persembahan akan menjadi warga suku yang tidak mempunyai etika selama beberapa generasi.

Resi Vasishtha adalah Resi bijaksana dan tidak mempunyai keterikatan terhadap keluarga. Resi Vasishtha, tidak marah putra-putranya dikutuk, karena berpendapat sebuah kutukan hanya dapat terjadi karena terjadinya hukum sebab akibat. Kesalahan masa lalu bisa saja memberikan akibat pada saat ini. Putra-putra kandungnya adalah para putranya pada kehidupan saat ini. Sudah ribuan putra dalam ribuan kehidupan dimiliki dalam kehidupan sebelumnya. Putra sejatinya adalah para muridnya, yang ingin meningkatkan kesadaran melalui dirinya sebagai seorang Guru. Resi Vasishtha paham masalah hakim-menghakimi adalah urusan pikiran. Seorang yang sudah sepenuhnya tidak terikat duniawi disebut seorang sanyasi.

“Apa yang membedakan seorang sanyasi dari seorang yang masih sepenuhnya terikat dengan kebendaan, dengan dunia benda? Seorang ‘duniawi’—entah sudah berkeluarga atau masih membujang—hidup bagi dirinya, bagi keluarganya. Ia masih terkendali oleh aku palsu, oleh ego. Ada kalanya seorang yang membujang, dan baru tahu sedikit tentang sanyas, langsung menganggap dirinya seorang sanyasi. Seolah ‘membujang’ itu sama dengan sanyas. Tidak, tidak demikian. Banyak orang yang membujang, mereka semua bukanlah sanyasi. Pengendalian diri Anda, ketidakterikatan Anda dengan dunia benda, kesederhanaan dan kesahajaan Anda, pengertian Anda, semua itu menentukan apakah Anda sudah menjadi atau layak untuk menjadi sanyasi. Jika Anda masih mementingkan makanan, masih mementingkan kenyamanan, maka Anda belum layak untuk sanyas. Tidak berarti Anda berhenti makan, atau menolak kenyamanan esensial. Tidak. Bukan itu maksudnya. (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bidadari Menaka dan Indra

Indra yang takut pada kesaktian Resi Kaushika yang semakin keras bertapa, mengutus bidadari jelita Menaka, untuk menggoda. Indra yang sering dikaitkan dengan penguasa panca indra sering menguji apakah seseorang benar-benar telah dapat mengendalikan semua panca inderanya. Itulah sebabnya Indra menyuruh bidadari yang cantik jelita, harum baunya, halus kulitnya dengan suara yang merdu untuk menguji seseorang yang sedang berjuang gigih menuju cita-citanya. Kita perlu memahami kinerja Indra atau Indraa dalam bahasa Sansekerta.

lndraa, Prajaapati, Brahmaa—semuanya ini berwujud… Wujud mereka tidak sepadat wujud kita, mereka mengenal ruang dan waktu, tapi ukurannya Iain. lndraa, Prajaapati, dan Brahmaa — adalah Sekaala, dalam pengertian yang sedikit beda dari pengertian kita. Pengertian kita tentang sekaala saat ini adalah ‘materi’ — sesuatu yang dapat dilihat oleh mata, disentuh oleh tangan, dicicipi, didengarkan, dan sebagainya, dan seterusnya. lndraa, Prajaapati, dan Brahmaa tidak dapat dilihat sebagaimana Anda melihat buku di tangan Anda saat ini. Mereka dapat dilihat dengan menggunakan mata batin, dengan memanfaatkan sinar suci di dalam diri kita sendiri. Suara mereka terdengar oleh jiwa kita. Dan, kita dapat berdialog pula dengan mereka. Kinerja lndraa mudah dipahami. Atas perintahnya bahwa tangan saya bekerja, kaki berjalan, hidung mencium, mulut mencicipi, dan telinga mendengar. lndraa tidaklah hanya menggerakkan panca indera di dalam diri kita, tetapi menggerakkan seluruh planet bumi. la adalah Motor di balik setiap gerakan. la adalah Sebab setiap gerakan. Ia adalah Gerakan itu sendiri. Oleh sebab itu, jangkauannya sangat Iuas. Dimana terjadi gerakan, di sana ada lndraa.” (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

 

Brahmarsi Vishvamitra

Hasil pertapaan Vishvamitra berkurang karena mengutuk para putra Vasishta dan tidak bertambah karena menjalani hidup berkeluarga. Tetapi Kaushika pantang menyerah, dia kemudian meninggalkan Shakuntala dan Menaka dan kembali meneruskan bertapa selama 1.000 tahun. Silakan baca kisah tentang Shakuntala di Srimad Bhagavatam. Takut tersaingi Kaushika, Indra kembali mengutus bidadari Rambha untuk menggoda, tetapi kali ini Kaushika tidak tergoda, bahkan mengutuk Rambha untuk hidup sebagai manusia selama 1.000 tahun di dunia, kutukan yang lebih ringan dari kebiasaannya.

Dengan perenungan selama 1.000 tahun, Kaushika sudah tidak tergoda bidadari lagi. Dan, tiba-tiba kesadaran Kaushika muncul, dia telah menguasai ilmu yoga, tetapi belum bisa mengendalikan diri dan masih sering mengutuk. Padahal dia sudah belajar kelembutan dari Menaka sebelumnya. Potensi kekerasan masih ada dalam dirinya. Selanjutnya Kaushika segera meneruskan tapanya dengan membisu. Tak mau bicara dengan siapa pun. Para dewa menghormati semangat tak kenal lelah Kaushika dan memberinya sebutan Brahmarsi, Brahma Resi. Tetapi hal tersebut belum memuaskannya, dia hanya mau menyudahi tapanya bila Resi Vasishtha mengakui dirinya adalah seorang resi.

Dengan sabar Resi Vasishta mendatangi Kaushika dan mengakui Kaushika sebagai resi dan bergelar Resi Vishvamitra, Sahabat Universal, Sahabat Alam Semesta. Resi Vasishtha berkata, “Saat ini sudah kutunggu lama, akhirnya Resi Vishvamitra menjadi mitraku sebagai Guru Sri Rama selagi remaja. Semoga kita diberkahi Sri Rama, Dia Yang Berada di Mana-Mana.”

Demikian perjalanan hidup seorang resi yang menjadi guru dari seorang avatar. Resi Vishvamitra sudah menjadi Guru dari dinasti Surya, sejak Raja Trisanku, Hariscandra putra Trisanku, Rohita putra Harischandra dan setelah beberapa generasi akhirnya menjadi guru Sri Rama, sang avatar. Dan setelah perkawinan Sri Rama dengan Sita, tugasnya selesai dan pergi ke pegunungan Himalaya.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

One Response to “Menaka: Bidadari Jelita Penggoda Vishvamitra”

  1. […] Vishvamitra adalah Raja yang tak kenal lelah meningkatkan kesadarannya. Untuk menghambat pengingkatan kesadarannya, dewa Indra mengirim bidadari Menaka untuk menggodanya. Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/09/22/menaka-bidadari-jelita-penggoda-vishvam… […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: