Menaklukkan Rasa Angkuh Dalam Diri, Kisah Chanda Munda dalam Devi Mahatmyam

mahatmyam chanda munda sumber www mantraonline com

Ilustrasi Devi Mahatmyam sumber: www mantraonline com

Kemerosotan Kesadaran Karena Rasa Angkuh

“Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke-‘aku’-an. Kesadaran dan ke-‘aku’-an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke-‘aku’-an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke-‘aku’-an, keangkuhan. (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

“Chanda” dan “Munda”. Chanda berarti kepala yang berlawanan. Chanda akan menentang apa pun yang orang katakan. Chanda adalah orang yang tidak setuju dengan pendapat pihak lain. “Munda” berarti tidak memiliki kepala sama sekali. Apa pun yang dikatakan pada Munda, itu semua akan dianggap angin lalu. Chanda dan Munda adalah 2 asura yang berpikir bahwa mereka berdua sempurna dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.  Mereka adalah orang-orang yang angkuh.

Sedangkan teman Chanda dan Munda adalah “Dhumralochana”, “Dhumra” berarti asap dan “lochana” berarti mata yang berasap. Pandangan mereka kabur.

Nafsu Hewani Dalam Diri

Cerita-cerita menarik dari Kisah Devi Mahatmyam sebenarnya menggambarkan nafsu hewani dalam diri manusia yang digambarkan sebagai para pemimpin asura sakti yang mengalahkan para dewa, elemen alami dalam diri manusia. Dan, asura sakti tersebut bisa menguasai tiga dunia, nafsu hewani tersebut dapat menguasai diri manusia pada masa kini, masa lalu dan masa yang akan datang. Akan tetapi kesadaran tidak pernah kalah, pada waktu sang manusia sadar bahwa ada kekuatan yang tak terbatas, dan manusia mohon pertolonganNya, maka Dia akan membantu manusia menaklukkan nafsu-nafsu hewani tersebut.

“Kembali pada insting dasar…. Institusinya ada di otak. Lembaga yang mengendalikannya adalah bagian otak yang disebut Lymbic. Bagian ini yang menciptakan gairah atau drive. Dorongan nafsu serta keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, insting-insting hewani kita, berasal dari Lymbic. Saat ini, hidup kita masih didominasi oleh insting-insting hewani. Seolah kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Berarti kita baru beda penampilan dari binatang. Insting kita masih sama. Mereka memiliki insting hewani dan berpenampilan seperti hewan. Kita memiliki insting hewani, tapi berpenampilan seperti manusia. Boleh dibilang kita adalah binatang, hewan berkedok manusia. Kita baru berpura-pura menjadi manusia. Sungguh munafik ya! (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Mohon Pertolongan Kepada Bunda Ilahi

Adalah Raja Asura Shumbha yang dengan saudara kembarnya Nishumbha yang sangat sakti. Dengan kesaktian Shumbha dan Nishumbha beserta para panglimanya, para asura dapat mengalahkan Indra, Surya, Chandra, Kubhera dan Yama. Mereka kemudian minta para resi untuk melakukan persembahan kepada mereka. Para dewa kemudian datang kepada Trimurti, Brahma, Vishnu dan Shiva melaporkan kekalahan mereka menghadapi Shumbha, Nishumbha dan anak-anak buahnya. Para dewa kemudian diminta menemui Parvati yang sedang bertapa di Pegunungan Himalaya.

Para dewa kemudian datang kepada Parvati sebagai salah satu wujud Bunda Ilahi. Parvati tengah melakukan tapa dan menghilangkan kulit tubuhnya yang hitam sehingga menjadi putih sehingga disebut Gauri. Karena Gauri keluar dari lapisan fisik Parvati maka juga sering disebut Koushiki (Kousha – lapisan/kulit). Para dewa menyampaikan bahwa mereka telah dikalahkan oleh Raja Asura Shumba dan Nishumba yang kini menguasai tiga dunia dengan sewenang-wenang. Sang Dewi menyanggupi untuk menaklukkan Shumba dan Nishumbha dan meminta para dewa sabar menunggu…….

Chanda dan Munda

Chanda dan Munda adalah bekas panglima Mahishasura yang kala Mahishasura ditaklukkan Durga, mereka melarikan diri dan mengabdi kepada Shumba dan Nishumbha. Pada suatu hari Chanda dan Munda bersantai dengan pergi berburu, karena tidak ada pihak yang berani mengganggu kekuasaan kerajaan para asura. Pada suatu ketika mereka mengintip para dewa sedang menghadap seorang wanita yang sangat cantik. Menurut Chanda dan Munda, wanita tersebut pantas sebagai permaisuri raja Shumbha. Mereka kemudian melapor kepada sang raja dan kemudian sang raja mengirim duta Asura Sugriva untuk melamar wanita tersebut.

Wanita tersebut berkata kepada Asura Sugriva bahwa dia telah bersumpah hanya pria yang bisa mengalahkannya dalam pertarungan yang akan dipilihnya sebagai suami. Apabila Raja Shumbha ingin menyuntingnya, silakan datang dan bertarung dengannya. Sugriva berkata bahwa semua dewa takluk kepada sang raja yang sekarang menjadi penguasa tiga dunia. Mengapa seorang wanita berani menantangnya bertarung? Wanita tersebut berkata bahwa demikianlah sumpahnya dan silakan Shumbha datang bertarung dengannya.

Dhumralochana

Tersinggung atas ucapan wanita tersebut, Sugriva melaporkan hal yang dialminya kepada sang raja. Raja Shumbha menjadi murka dan memerintahkan panglima Dhumralochana mmembawa 60.000 tentara asura untuk menangkap wanita tersebut dengan paksa. Bila ada dewa atau ksatria yang melindunginya agar dibunuh saja.

Dhumralochana menemui wanita tersebut dan memintanya menuruti perintahnya untuk ikut dengannya menghadap sang raja. Wanita tersebut tetap pada pendirianya  dan menolak perintah sang panglima. Sang Panglima berusahaa meringkus wanita tersebut, namun hanya dengan suara “hum” sang panglima sudah berubah menjadi abu. Pasukan sang panglima segera menyerang wanita tersebut, akan tetapi Singa kendaraan wanita tersebut menghadangnya dan hancurlah seluruh pasukan sang panglima.

Mendengar Panglima Dhumralochana beserta pasukannya dihancurkan sang dewi, maka sang raja memerintahkan  Chanda dan Munda untuk membawa pasukan yang jauh lebih besar untuk menangkap wanita tersebut dan membunuh singanya.

Chamunda

Wanita tersebut sangat marah mendengar kedatangan Chanda dan Munda dengan pasukan yang jauh lebih besar. Wajahnya yang cantik menjadi menghitam dan dari dahinya keluar Dewi Kali yang bersenjatakan pedang dan tali. Dewi Kali mengenakan kalung tengkorak manusia dan berbaju kulit harimau. Sang Kali kemudian menelan para gajah beserta pengendaranya. Selanjutnya kereta beserta kusirnya pun dilahapnya. Dan gegerlah seluruh pasukan Chanda dan Munda. Chanda maju menyerang dan Sang Kali mengeluarkan suara “ham” dan terpenggallah kepala Chanda. Munda yang membantu maju juga dengan gampang dibunuhnya. Seluruh pasukan asura menjadi kocar kacir dan melarikan diri. Kali kemudian membawa kepala Chanda dan Munda kehadapan Wanita yang juga sering disebut sebagai Chandika. Kali melambangkan Kala, waktu yang menelan siapa saja. Chandika berkata, “Wahai Kali karena kau telah membunuh Chanda dan Munda maka kau akan dikenal sebagai Chamunda.”

Sebelum Menguasai Sifat Hewani Dalam Diri, Kita Hanyalah Animal Plus

Menaklukkan Dhumralochana dan Chanda serta Munda, adalah simbol dari menaklukkan pandangan diri yang masih kabur, masih terpengaruh maya dan menaklukkan keangkuhan dalam diri. Pandangan yang masih kabur dan angkuh adalah bagian dari sifat hewani dalam diri.

“Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita. Manusia juga merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi ini dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu, sekarang pun sama. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus. Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya.” (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Bagaimana cara menghadapi Panglima Rakthabeeja yang setiap tetes darah jatuh ke tanah menjadi kloning Rakthabeeja yang baru? Dan bagaimana kala menghadapi Raja Asura Shumbha dan saudara kembarnya Nishumbha? Apa maknanya? Silakan ikuti kisah selanjutnya.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

One Response to “Menaklukkan Rasa Angkuh Dalam Diri, Kisah Chanda Munda dalam Devi Mahatmyam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: