Pengaruh Konsumsi Daging Terhadap Karakter Manusia, Kisah Kera Dan Pemburu Pada Relief Borobudur

Borobudur pemburu dan Kera Besar sumber ignca nic in

Ilustrasi Kera Besar dan Pemburu Culas sumber: ignca nic in

Pemburu Yang Terperangkap Dalam Lubang

“Dari segi spiritual, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi sifat dan watak manusia. la akan mewarisi watak binatang yang dimakan dagingnya itu.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tersebutlah seorang pemburu hewan, yang pekerjaannya memburu hewan di hutan sebagai konsumsi makanan sehari-hari dan sisanya dijual di pasar. Pada suatu hari sang pemburu tersesat jalan. Dia beristirahat di bawah pohon dalam keadaan kelaparan, kehausan dan kecapekan. Tiba-tiba dia melihat di depannya ada pohon buah-buahan. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya dia memanjat pohon tersebut berusaha memetik buah-buahan. Saat akan mengambil buah-buahan, dahan tersebut tak kuat menahan tubuhnya. Sang Pemburu jatuh ke dalam lubang yang berada di bawahnya. Sang Pemburu sudah putus asa, rasanya dia akan mati di sana. Beberapa kali dia berteriak, akan tetapi yang menjawab hanya gaung teriakannya saja. Sang pemburu putus asa dan tiba-tiba terlintas dalam ingatannya, ratusan ekor hewan yang dijebaknya dalam perangkap dan kemudian dibunuhnya. Kini dia merasa seperti masuk perangkap dan menunggu hewan buas memangsanya. Selama ini sang pemburu tidak merasa bersalah membunuh hewan. Akan tetapi, kini dia takut dimakan hewan buas.

“Dari sudut pandang mistik, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi pernafasan kita, dan selanjutnya memblokir sentra sentra psikis dalam diri kita, yang sebenarnya berfungsi sebagai ‘jaringan tanpa kabel’. Sentra sentra psikis atau chakra inilah yang membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri kita, dan menghubungkan kita dengan alam semesta. Untuk itu dianjurkan tidak makan daging. Dari sudut pandang moral, hati seorang pemakan daging akan menjadi keras. Hati yang seharusnya lembut dan diberikan oleh Allah untuk mengasihi sesama makhluk bukan hanya sesama manusia akan kehilangan kelembutan atau rasa kasihnya.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Ditolong Kera Besar

Seekor kera besar datang dan bertanya mengapa Sang Pemburu sampai jatuh ke dalam lubang. Mendengar penjelasan Sang Pemburu, Sang Kera Besar tersentuh hatinya. Ditolongnya Sang Pemburu keluar dari lubang dan dibawa keluar hutan dengan cara dipanggulnya. Sang Pemburu berterima kasih telah diselamatkan nyawanya bahkan untuk sampai jalan keluar, dia pun dipanggul Sang Kera Besar. Tinggal sedikit saja keluar hutan, Sang Kera Besar kecapekan. Dia ingin tidur sebentar memulihkan kekuatan, setelah memanggul Sang Pemburu setengah harian.

Sang Pemburu berpikir, tepi hutan sudah di depan mata. Rasa lapar tidak terkira. Pikiran memang maunya menang sendiri saja. Kepentingan pribadi menjadi panglima. Orang lain? Emangnya gua pikirin? Melihat kera besar ketiduran, seakan dia melihat sebuah binatang buruan. Mengapa Sang Kera tidak dibunuh saat ketiduran? Bila sudah bangun tak mungkin dia sanggup melawan. Sang Pemburu membawa batu api dan daging kera dapat dipanggang sebagai obat laparnya. Dagingnya dapat dibawa pulang untuk persediaan makanannya, dan sisanya dijual di pasar di dekat rumahnya. Sang Pemburu ingat Kera tersebut telah menolongnya lepas dari kematian, tidak seharusnya dia membunuhnya. Akan tetapi dia tidak dapat mengendalikan nafsunya. Bila seseorang sering tidak dapat mengendalikan nafsunya, perlulah dia mencoba tidak makan daging. Daging yang dia makan akan menjadi darah, tubuh dan otaknya dan membuatnya lebih sulit untuk mengenadlikan nafsunya.

Pikirannya mencari alasan, tadi selama terperangkap dalam lubang, dia berpikir menyesal telah banyak menangkap dan membunuh hewan bernyawa. Akan tetapi bukankah tanaman pun hidup juga? Tanpa mengkonsumsi hewan, dia pun makan tanaman yang hidup juga?

“Kelemahan kita dalam hal pengendalian hawa nafsu, obsesi kita terhadap daging, membuat kita licik Kita menjadi cendekiawan. Kita mulai berdalil bukankah tumbuh tumbuhan itu pun memiliki kehidupan? Betul, kehidupan mengalir lewat tumbuh tumbuhan pula. Namun tumbuh-tumbuhan tidak memiliki mind. Dan oleh karena itu, mengkonsumsi sayur sayuran, buah buahan tidak akan mempengaruhi watak kita, mind kita. Tidak demikian dengan mengkonsumsi daging. Masih ada lagi yang berdalil hewan yang disembelih dan dimakan itu, sesungguhnya mengalami peningkatan dalam evolusi mereka. Dengan mengkonsumsi daging hewan, sebenarnya kita membantu terjadinya peningkatan evolusi mereka. Anda boleh memberikan seribu satu macam dalil. Dalil tinggal dalil. Yang jelas, mengkonsumsi daging tidak akan membantu manusia dalam hal peningkatan kesadaran. Terjadi evolusi dalam diri hewan hewan itu atau tidak, yang jelas mengkonsumsi daging tidak membantu evolusi spiritual manusia. Walaupun demikian, hendaknya seorang vegetarian tidak menganggap rendah mereka yang masih mengkonsumsi daging. Keangkuhan Anda, arogansi Anda justru akan menjatuhkan Anda lagi, dan akan menjadi rintangan bagi perkembangan spiritual.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Air Susu Dibalas dengan Air Tuba

Diambilnya sebuah batu besar dan dilemparkannya kepada Sang Kera Penolongnya. Entah apa yang terjadi Sang Kera Besar dalam tidurnya memalingkan wajahnya. Sehingga batu besar hanya melukai telinganya. Sang Kera Besar terbangun dan segera sadar apa telah yang terjadi. Rasa luka di telinganya dia tidak ambil peduli, tetapi ada rasa sesal mengapa ada orang yang tidak tahu membalas budi. Mengapa Sang Pemburu yang hampir mati dan baru saja ditolongnya sudah menjadi serakah tak terkendali. Dia segera memanggul sang gembala ke luar hutan, meletakkan di jalan dan kemudian masuk kembali ke hutan…….

Sang Kera Besar bertindak selaras dengan alam, dia bekerja menolong semua makhluk yang berada dalam kesulitan tanpa mengharapkan imbalan.

“Alam ini bekerja tanpa mengharapkan suatu imbalan. Demikian juga para bijak. Segala sesuatu dalam alam ini, termasuk hewan, bertindak, membawakan peran mereka masing-masing, tanpa mengharapkan imbalan. Setiap pagi matahari terbit. Apakah la mengharapkan imbalan dari Anda? Apakah la mengharapkan bahwa setiap hari Anda harus berterima-kasih kepadanya? Tidak. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang membutuhkan motivasi untuk bekerja.” (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hukum Sebab-Akibat Akhirnya Datang Juga

Setahun kemudian, seorang raja berburu ke hutan. Di tengah hutan bertemu manusia yang dalam keadaan sekarat dengan tubuh tidak terawat dalam keadaan sangat mengenaskan. Sang manusia menceritakan kisahnya bahwa dia pernah ditolong kera tetapi kera tersebut hampir saja dibunuhnya. Sang kera selamat hanya terluka telinganya. Sang Kera tetap menolongnya ke luar hutan dan kemudian menghilang dengan segera. Selanjutnya dia bercerita, tak lama kemudian di mendapat sakit kusta dan dia diusir dari masyarakat. Dia menyesal telah berbuat jahat. Kemudian dia hidup terlunta-lunta. Dia diberitahu orang bahwa Sang Kera Besar adalah seorang Bodhisattva. Dengan terbata-bata sang penderita kusta memberi nasehat pada sang raja, jangan sampai keserakahan menutupi nurani manusia. Setelah berkata demikian dia menghembuskan nafasnya.

Pesan terakhir seorang pemburu yang menderita penyakit kusta menyadarkan sang raja. Kisah Bodhisattva yang mewujud sebagai Kera Besar telah mengubah hidupnya. Kala didepan meja makan dengan berbagai makanan lezat, sang raja merenung, “Hanya untuk memberi makan pada satu tubuh ini saja, manusia membunuh begitu banyak mahluk. Sudah ribuan ekor ayam masuk lewat kerongkongan saya, sudah ratusan ekor sapi yang masuk dalam perut saya, sudah puluhan kg ikan dan udang lewat mengalir dalam pembuluh darah saya. Sudah sewajarnya, virus mereka menyerang tubuh saya. Sudah sewajarnya kebencian, kemarahan dan frustasi mereka mempengaruhi tabiat saya yang siap meledak ketika berada dalam keadaan tak terkendalikan.”

 

Hutang manusia

Sang Raja menjadi lebih bijaksana dan menghormati alam semesta.

“Interaksi atau hubungan dengan dunia tidak dapat dihindari. Para bijak jaman dulu mengaitkan interaksi atau hubungan tersebut dengan ‘utan’ yang harus dibayar. Jika tidak, kita dikenakan bunga. Kita harus membayar lebih baik lagi.”

“Adalah 5 macam hutang atau Rina yang disebut:”

“Pertama: Deva Rina, yaitu utang terhadap Dewa. Yang dimaksud dengan Dewa adalah Kemuliaan, Kesadaran, Pencerahan, karena kata ‘dewa’ sendiri berasal dari ‘divya’, yang berarti ‘yang mulia, yang terang, yang berasal dari cahaya’. Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api bersifat membakar. Ia membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin sangat ringan dan dapat menyusup kemana-mana. Ia juga memberi kehidupan. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis. Kekosongan, kehampaan, kesendirian, space atau apa pun sebutannya, menciptakan peluang untuk diisi. Deva Rina juga berarti utang terhadap kemuliaan di dalam diri dan di luar diri.”

“Kedua: Pitra Rina, utang terhadap leluhur, atau barangkali lebih cepat ‘utang terhadap keluarga’. Saya mengartikannya demikian, karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur, dan leluhur adalah keluarga. Banyak orang meninggalkan keluarga dan menjadi petapa. Mereka mengaku tidak terikat lagi dengan keluarga, tetapi menciptakan keterikatan baru pada institusi yang mereka pimpin, pada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya sebagai ‘Murid’.

“Ketiga: Rishi Rina, utang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu sendiri. Cara kita melunasi setiap utang haruslah bijak. Cara kita menangani setiap persoalan harus bijak. Cara ktia melayani hidup harus bijak. Dan nilai kebijakan tertinggi adalah : ‘Aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun mesiti bahagia. Berarti, aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.’ Komitmen kita terhadap non violence atau non injury, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti dengan sengaja adalah kebijaksanaan.”

“Keempat: Nara Rina, utang terhadap sesama manusia. Kita tidak dapat berdiri sendiri. Apa yang saya lakukan berdampak terhadap Anda, dan sebaliknya. Semacam ripple effect, efek riak, satu kerikil yang saya lemparkan ke sungai berdampak hingga tepi sungai itu, Walau kita tidak melihatnya. Karena itu, melayani sesama manusia menjadi suatu keharusan. Adalah tugas, kewajiban serta tanggungjawab kita untuk memperhatikan sesama manusia. Jika Tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita.”

“Kelima: Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya. Sekedar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Advertisements

One Response to “Pengaruh Konsumsi Daging Terhadap Karakter Manusia, Kisah Kera Dan Pemburu Pada Relief Borobudur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: