Archive for October, 2013

Kekuatan Gaib Metafisik Dalam Diri, Kisah Hanuman dalam Ramayana

Posted in Ramayana with tags , , on October 31, 2013 by triwidodo

Hanuman terbang menuju Alengka sumber www indianetzone com

Ilustrasi  Hanuman terbang menuju Alengka sumber www indianetzone com

Guru Mengetahui Potensi yang Dimiliki Muridnya

“Ia mengetahui persis potensi diri kita, potensi diri setiap manusia. Ya, potensi diri setiap manusia. Dan, potensi itu sama, tanpa kecuali. Setiap manusia, bahkan setiap makhluk hidup memiliki potensi yang sama untuk mencapai kesadaran tertinggi sesuai dengan wahana badan, pikiran, dan perasaan yang dimilikinya. Seorang anak manusia memiliki potensi untuk menjadi manusia sempurna, sebagaimana seekor anak anjing memiliki potensi untuk menjadi seekor anjing yang sempurna. Bila kita tidak meraih kesempurnaan dalam hidup, maka letak kesalahannya adalah pada diri kita sendiri. Kita tidak merindukan kesempurnaan. Kita puas dengan kondisi lumayan asal aman. Kita sudah terbiasa mencari rasa aman; itulah yang kita kejar selama ini. Kita tidak berani mengambil resiko. Kita tidak berani terbang tinggi, karena takut jatuh. Kita tidak berani menyelam lebih dalam, karena takut tenggelam. Inilah kelemahan kita. Dan, hal ini pula yang membuat hidup kita sengsara. Hidup kita adalah kendaraan atau jembatan yang dapat mengantar kita ke pantai seberang. Kita takut menggunakan kendaraan itu. Kita ragu melewati jembatan kehidupan.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sri Rama mengetahui potensi luar biasa yang ada dalam diri Hanuman, karena itu dia memberikan tugas khusus agar Hanuman menyadari potensi tersebut dan dapat mengembangkan diri ke arah kesempurnaan.

 

Jambavan Mengingatkan Hanuman tentang Potensi yang Dimilikinya

Sempati telah menunjukkan lokasi Negeri Alengka kepada pasukan khusus Anggada, Hanuman, Jambavan dan lain-lainnya. Silakan lihat note: http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/26/kisah-sempati-blueprint-skenario-kehidupan-dalam-kisah-ramayana-604934.html . Persoalan berikutnya adalah siapa yang sanggup terbang menuju negeri Alengka. Anggada dan anggota pasukan lainnya tidak sanggup.

Jambavan, sang tetua pasukan berkata kepada Hanuman, “Hanuman, kau baru saja mendengar kisah Sampati dan Jatayu yang sayapnya terbakar kala nekat terbang menuju matahari. Apakah kau lupa sewaktu kecil, kau bukan hanya terbang ke matahari, kau bahkan pernah menelan matahari? Kemudian karena kau terlalu usil dan kekuatanmu mengganggu para brahmana, kau ‘dikutuk’ Brahma sehingga lupa akan kekuatanmu. Brahma mengatakan kekuatanmu akan kembali ketika kau mengabdi kepada Sri Rama. Tutup mataamu, atur napasmu, heningkan pikiranmu!” Hanuman menenangkan diri dan pelan-pelan mengingat kekuatan masa kecilnya.

 

Kelahiran Hanuman

Masih ingat mengenai ritual agnihotra Raja Dasaratha agar memperoleh putra? Silakan lihat: http://sosbud.kompasiana.com/2013/08/30/beda-anak-yang-lahir-akibat-kecelakaan-dan-hasil-pemujaan-kisah-kelahiran-sri-rama-588196.html

Bubur payas untuk Sumitra diambil oleh burung, sehingga Sumitra diberi sebagian oleh Kausalya dan sebagian oleh Kaikeyi. Sumitra melahirkan putra kembar Lakshmana dan Satrughna. Kausalya melahirkan Rama dan Kaikeyi melahirkan Bharata. Bubur Sumitra tersebut dibawa burung dan jatuh di pangkuan Anjani yang sedang meditasi. Bubur yang dianggapnya karunia tersebut dimakan dengan penuh kebahagiaan oleh Anjani. Dan tidak lama kemudian lahirlah Hanuman.

Sewaktu kecil Hanuman pernah lapar, sedangkan ibunya tidak ada. Ia melihat matahari yang dikiranya buah, maka ia terbang dan menelan langsung buah tersebut. Beberapa planet langsung gelap dan semua makhluk ketakutan. Dewa Indra marah dan memukul Hanuman dengan Vajra dan nampaklah kilat menyambar Hanuman dengan bunyi halilintar. Hanuman kecil pingsan dan Vayu, sang ayahanda marah dan tidak mau bekerja, dan berhentilah angin di seluruh alam semesta. Dewa semakin ketakutan dan Indra menyadari kesalahannya dan menyembuhkan Hanuman dan memberikan anugerah Hanuman sebagai Chiranjivin, makhluk yang dikaruniai usia yang sangat panjang. Amarah Vayu mereda dan menjelaskan kepada Hanuman bahwa beberapa planet kehidupannya tergantung dari matahari. Hanuman kemudian memuntahkan kembali matahari dan semua dewa memuji dan menghormati Hanuman.

 

Masa Remaja Hanuman Penuh Perjuangan

“Salah satu penyebab utama kematian potensi adalah kenyamanan yang berlebihan. Ini melumpuhkan semangat juang kita. Tak ada lagi gairah untuk menghadapi tantangan. Seorang anak atau remaja yang sejak kecil dimanjakan; seorang pejabat yang terlalu lama berkuasa; orang kaya yang lebih percaya pada kekayaannya daripada kemampuan dirinya; seorang miskin yang menjadi minder dan menerima kemiskinannya sebagai takdir atau nasib adalah “kenyaman” yang mematikan potensi kita.” (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hanuman kecil memang usil karena melimpahnya energi dalam dirinya, dia suka mengganggu para brahmana, lewat mulutnya dia meniup angin puting beliung, menyedot air persembahan, mematikan api agnihotra dan lain sebagainya. Agar tidak mengganggu para brahmana, Brahma kemudian membuat Hanuman lupa akan kekuatannya, dan  kekuatannya akan pulih kembali kala dia bertemu Rama.

Hanuman akan memegang peran penting di dunia, oleh karena itu Brahma sengaja membuat Hanuman lupa akan segala kekuatan dirinya. Hanuman hidup dengan Sugriva dan Subali dan menghadapi persoalan kehidupan sebagai manusia biasa. Belajar dari kehidupan manusia membuat Hanuman cepat dewasa dan tidak angkuh. Apalagi setelah bertemu Sri Rama. Hanuman sadar bahwa inilah Guru Pembimbing yang ditunggu-tunggunya selama ini. Waktunya telah tiba bagi Hanuman untuk menyadari kekuatannya yang akan dipersembahkannya bagi Sri Rama.

 

Hanuman Memperoleh Kembali Kekuatannya

Kata-kata Jambavan telah mengingatkan kembali kepada kekuatannya. Hanuman berterima kasih kepada Sri Rama yang telah mengembalikan kekuatannya, dan juga berterima kasih kepada Jambavan yang telah mengingatkan kembali tentang kekuatannya. Hanuman telah sadar hanya dengan pikiran sendiri, dia tidak akan mencapai kesempurnaan. Dia perlu bimbingan dari Tuhan. Dan Hanuman yakin bahwa Sri Rama adalah Tuhan yang mewujud untuk membimbingnya. Sehingga untuk mencapai kesempurnaan dia akan patuh terhadap Sri Rama.

“Hanyalah ada dua aspek Brahman atau Tuhan yang dapat dipahami manusia. Pertama, aspek Nirguna, atau abstrak, gaib, tidak bermanifestasi, tanpa wujud. Dan, dua adalah aspek Saguna, nyata, bermanifestasi, berwujud. Kedua-duanya adalah aspek Brahman atau Tuhan yang sama. Kemudian, ada yang merasa lebih dekat dengan aspek Nirguna, ada pula yang merasa lebih mudah menyadari kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Memang, sebagaimana dijelaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta, adalah lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Karena, manusia sendiri memiliki aspek yang sama, Saguna. Manusia pun nyata, bermanifestasi, atau berwujud. Ada pula yang menggunakan aspek Saguna sebagai batu loncatan. Setelah mencapai tahap tertentu, ia beralih ke aspek Nirguna lewat meditasi dan latihan-latihan lain sebagainya. Bagi para panembah yang yakin, seorang Sadguru adalah aspek Saguna dari Brahman. Mereka menggunakan wujud Sadguru untuk mencapai Nirguna Brahman, Tuhan yang Tak Berwujud. Pun demikian dengan kita yang percaya kepada Sai sebagai Sadguru. Adalah sangat mudah untuk mengembangkan kasih tanpa syarat lewat bakti kepada Sadguru.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Jambavan, Anggada dan para pasukan lainnya kemudian melihat Hanuman membesar sampai sebesar gunung dan pamit kepada teman-temannya terbang ke Alengka. Mereka paham bahwa Hanuman telah mencapai keselarasan setiap elemen di dalam dirinya dengan elemen di luar dirinya. Hanuman telah mencapai keadaan Siddha.

 

Siddhi, kekuatan-kekuatan metafisik atau suprasensorik

Dalam buku “Hanuman Factor” (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan penjelasan tentang Siddhi atau kekuatan-kekuatan metafisik/suprasensorik yang dimiliki Hanuman. Terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut:

Siddhi bisa diperoleh dengan menjalankan disiplin tertentu. Kekuatan-kekuatan yang dimaksud adalah:

  1. Anima: Kekuatan untuk memperkecil tubuh sampai seukuran atom
  2. Mahima: Kekuatan untuk memperbesar tubuh sampai ukuran yang tak terbatas
  3. Garima: Kekuatan untuk menjadi berat tanpa batas
  4. Laghima: Kekuatan untuk menjadi ringan tanpa batas
  5. Prapti: Kekuatan untuk mengakses semua tempat
  6. Prakamya: Kekuatan untuk menyadari semua keinginan
  7. Istiva: Kekuatan untuk memiliki apa saja
  8. Vasitva: Kemampuan untuk menaklukkan segalanya

Akan tetapi Hanuman bukan hanya memperoleh kekuatan-kekuatan metafisik akan tetapi juga puncak pencapaian kehidupan manusia.

  1. Anima adalah kemampuan untuk merelakan
  2. Mahima adalah kemampuan untuk memperluas kesadaran
  3. Garima adalah kemampuan untuk membulatkan tekad
  4. Laghima adalah kemampuan beradaptasi
  5. Prapti adalah kemampuan untuk memahami ilmu-ilmu duniawi
  6. Prakamya adalah kemampuan untuk mengetahui sifat keinginan
  7. Isitva adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang baik bagi Anda
  8. Vasitva adalah kemampuan untuk mengendalikan indera-indera Anda

Sumber: Terjemahan Bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengan kekuatannya pula Hanuman di Alengka bisa memperkecil dirinya menjadi monyet kecil yang tidak menarik perhatian.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Kejahatan dan Kebaikan, Asura dan Dewa dalam Diri: Kisah Shukracarya Guru Para Asura

Posted in Mahabharata with tags , , on October 29, 2013 by triwidodo

shukracharya dewayani dan yayati sumber en wikipedia org

Ilustrasi Shukracharya, Devayani dan Raja Yayati sumber: en wikipedia org

Dewa dan Asura

“Dewa, mereka adalah elemen-elemen alami yang tercipta sebelum manusia. Api, angin, air, tanah dan ruang atau space adalah Dewa Utama. Elemen-elemen dasar. Dengan menolak keberadaan elemen-elemen dasar ini, Anda tidak bisa mengurangi peran mereka. Tanpa mereka, kehidupan tidak ‘mungkin’ – life is not possible! Dapatkah Anda membayangkan kehidupan tanpa api? Atau tanpa angin? Dan, tanpa air? Tanpa tanah? Tanpa ruang? Kasih terhadap para ‘Dewa’ berarti kepedulian terhadap lingkungan. Upaya nyata untuk melestarikan alam.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raksasa disebut Asura dalam bahasa Sansekerta. Mereka tidak sura, tidak selaras dengan kehidupan. Mereka tidak seirama dengan keberadaan. Dalam Srimad Bhagavatam disampaikan bahwa pada awal mulanya para asura adalah para putra Diti sedangkan para dewa yang mempunyai sifat sura adalah para putra Aditi. Keduanya adalah istri dari Resi Kasyapa. Sejak saat itu selalu terjadi konflik antara kelompok asura dan sura. Para dewa mempunyai Guru bernama Brihaspati sedangkan para asura mempunyai Guru bernama Shukracharya.

 

Guru Para Asura

Pada suatu ketika kelompok asura kalah melawan para dewa dan berlindung di ashram Resi Bhrigu. Kala itu Bhrigu dan Shukra, putranya sedang bertapa dan Ushana, ibu Shukra mengizinkan para asura berlindung di ashram. ketika Bhrigu menengok ashram dan mendengar penjelasan istrinya, dia membenarkan sikap istrinya untuk memberikan perlindungan terhadap mereka dan Bhrigu pergi lagi melanjutkan tapanya. Indra, raja dewa tidak dapat menyerang para asura yang terlindung dalam ashram Bhrigu dan kemudian mengeluh terhadap Vishnu. Vishnu datang ke ashram dan menyampaikan kepada Ushana agar tidak mengizinkan para asura berlindung dalam ashram atau dia akan menggunakan Sudarsana Chakra untuk menghancurleburkan ashram. Ushana merasa suaminya sudah mengizinkan tindakannya dan dia tahu bahwa mati di tangan Vishnu berarti mencapai pembebasan dari kelahiran berulang-ulang sehingga dia tetap mengizinkan para asura tinggal. Akhirnya Vishnu menghancurkan ashram dan semua asura di dalam ashram mati termasuk Ushana.

Bhrigu dan Shukra selesai bertapa dan melihat ashram telah hancur dan istrinya telah meninggal dunia. Bhrigu kemudian mengutuk Vishnu untuk lahir beberapa kali di bumi agar mengalami suka duka sebagai manusia. Shukra juga marah dengan kematian ibunya.

Shukra belajar Veda dari Resi Angirasa, akan tetapi kemudian merasa bahwa sang resi pilih kasih terhadap Bhrihaspati, putranya sendiri. Shukra kemudian belajar pada Maharishi Gautama. Tampaknya kemudian ada persaingan antara Bhrihaspati dan Shukra. Ketika para dewa memilih Bhrihaspati sebagai guru mereka, maka Shukracharya kemudian menjadi  guru para asura.

Kisah Sukracharya ini ada kaitan dengan Kisah Mahabharata, karena Dinasti Yadu termasuk Krishna adalah keturunan Devayani putri Shukra, sedangkan Dinasti Bharata adalah keturunan Sarmistha putri raja asura Vrsaparva. Keduanya adalah istri Raja Yayati dari Dinasti Chandra.

 

Perang Antara Dewa dan Asura dalam Diri

Pada saat ini baik sifat asura maupun sifat dewa ada dalam diri manusia, sehingga pertarungan antara kejahatan dan kebaikan sampai saat ini masih terjadi dalam diri kita. Apabila kita ingin memusnahkan asura seperti zaman dahulu, maka semua manusia harus musnah. Walaupun demikian, sifat asura dalam diri dapat ditaklukkan dan orang bisa mencapai kesadaran tertinggi.

Anand Krishna dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan”, menyampaikan:

“BG 16:6 Memang ada dua jenis manusia dalam dunia. Mereka yang bersifat mulia telah kujelaskan dengan panjang lebar. Sekarang dengarkan tentang mereka yang memiliki sifat yang tak terpuji.

“BG 16:7-12 : Mereka yang memiliki sifat tak terpuji tidak dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mereka menganggap alam ini tanpa basis Ketuhanan dan mengira kehidupan berasal dari nafsu birahi. Demikian mereka tidak meyakini keberadaan ‘Sang Aku’. Dengan pemahaman yang salah seperti itu, tindakan-tindakan mereka akan merugikan seluruh umat manusia. Penuh dengan segala macam keinginan, kemunafikan, keangkuhan, dan kesombongan, mereka berperilaku tanpa rasa peduli terhadap lingkungan, makhluk hidup, dan lain sebagainya. Mereka menganggap pencapaian keinginan-keinginan duniawi sebagai tujuan hidup dan selalu mengharapkan sesuatu. Demikian, dengan cara apa pun mereka akan mengumpulkan harta-benda, guna memuaskan nafsu mereka.

“BG 16:13-17 : Mereka ingin memiliki semuanya, untuk selama-lamanya. Mereka gila akan kekuasaan dan selalu terlibat dalam aksi penindasan kalangan di bawah mereka. Kekayaan dan harta -benda duniawi membuat mereka lupa daratan. Mereka menyombongkan diri mereka sebagai penolong, pemberi sedekah, dan penyumbang. Mereka sebenarnya tidak sadar, tersesat, dan pada akhirnya selalu menderita. Apabila mereka melakukan persembahan, itu pun dengan tujuan dan untuk memamerkan kekuasaan mereka.

“BG 16:18-19 : Mereka tidak peduli akan “Sang Aku” yang bersemayam dalam diri mereka dan dalam diri setiap makhluk. Karena perilaku dan keinginan mereka sendiri, berulang kali mereka lahir dalam keluarga-keluarga yang sama sifatnya.

“BG 16:20-22 : Wahai putera Kunti, demikian mereka mengalami kemerosotan setiap saat. Kemerosotan disebabkan oleh tiga sifat yang tak terpuji: nafsu birahi, amarah, dan ketamakan. Ia yang terbebaskan dari ketiga sifat tak terpuji tersebut mencapai “Kesadaran Tertinggi”.

(Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dewa Indra dalam Diri

“Kata ‘dewa’ sendiri berasal dari ‘divya’, yang berarti ‘yang mulia, yang terang, yang berasal dari cahaya’. Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api bersifat membakar. Ia membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin sangat ringan dan dapat menyusup kemana-mana. Ia juga memberi kehidupan. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis. Kekosongan, kehampaan, kesendirian, space atau apa pun sebutannya, menciptakan peluang untuk diisi.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Elemen alami ada di dalam diri dan di luar diri. Bila kita membicarakan elemen alami dalam diri, maka Dewa Indra pun ada dalam diri. Dewa Indra adalah Raja Dewa, pemimpin elemen alami tanah dan bukan Maha Dewa, elemen agung.

“Indraa berada di dalam diri kita. Ia berada di Chakra Pertama – Moolaadhaara – yang mengurusi makan, minum, dan kebutuhan-kebutuhan pokok setiap manusia. Urusan bumi adalah urusan Indraa. Jika diibaratkan sebagai penguasa, dia termasuk penguasa kecil, minor. Hal-hal yang diurusinya adalah urusan-urusan kecil; urusan perut, urusan cuaca, urusan hujan. Tubuh kita adalah urusan Indraa. Kendati demikian, urusan-urusan kecil ini pun sesungguhnya tidak kalah penting dari urusan-urusan besar. Sekecil-kecilnya urusan perut, tetap penting juga. Demikian pula dengan urusan cuaca, kapan turunnya hujan, kapan tidak; kapan musim gugur, dan kapan musim semi; kapan menanam, dan kapan panen.” (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Untuk elemen air, api, udara dan ruang silakan baca buku “Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern” tersebut.

 

Svarga Loka dalam Diri

Dewa Indra adalah putra Sulung Resi Kasyapa dan cucu Brahma. Kota tempat Indra memerintah disebut Amarawati, istananya disebut Indra Sabha. Lokasi tempat para dewa tersebut sering disebut Svarga Loka karena sangat indahnya. Karena kita berbicara para dewa dalam diri, maka Svarga Loka pun berada dalam diri. Bila semua dewa dalam keadaan harmonis, elemen alami dalam diri dalam keadaan selaras, maka kita memang serasa berada di Svarga Loka.

Akan tetapi para Asura selalu menunggu saat terbaik kala para dewa lengah untuk mengambil alih Svarga Loka dalam diri tersebut.

“Apa yang terjadi bila kita mengalami ketidakseimbangan elemen-elemen alami, atau bila salah satu elemen menonjol sekali? Bila elemen api melebihi kebutuhan kita dan kebutuhan setiap orang berbeda, kita menderita penyakit kama, hawa nafsu yang membara. Kita harus berhati-hati dengan makanan yang mengandung elemen api. Daging, bawang-bawangan dan segala sesuatu yang sangat pedas, manis, asin dan asam. Minumlah air putih sebanyak satu setengah hingga dua liter setiap hari. Bila elemen angin melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit kedua yaitu krodha atau amarah. Latihan Pavanamuktasana dapat membantu kita. Bila elemen tanah melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit yang ketiga lobha, keserakahan. Lantai di rumah dilapisi karpet atau diganti dengan kayu. Cairan dalam diri anda, darah, sperma, sumsum menyebabkan keterikatan. Bahkan air liur dapat menyebabkan keterikatan. Berjemur di bawah matahari pagi akan membantu terjadinya keseimbangan elemen air dalam diri. Bila elemen ruang melebihi kebutuhan kita muncullah penyakit ahamkara atau ego, keakuan. Bukan hanya para ilmuwan, para rohaniwan pun bisa kelebihan unsur ini. Karena itu mereka harus lebih banyak berbuat dari pada berbicara. Dalam hal ini perbuatan yang dimaksud adalah pelayanan, belajar untuk melayani sesama.  Hal tersebut dapat membantu terjadinya keseimbangan elemen ruang dalam diri.” (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menempatkan Krishna sebagai Sais Kereta Kehidupan

“Apabila Anda menjadikan Krishna sais Kereta Kehidupan Anda, Anda tidak akan pernah mengalami kegagalan. Saat ini, kita menempatkan Nafsu Berahi, Keserakahan, Keangkuhan, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan. Apabila Anda menempatkan Akal Sehat dan Pikiran Jernih pada posisi sais, hidup Anda akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Anda akan menikmatinyadan mereka yang mendengar pun akan ikut menikmatinya. Hidup Anda dapat menjadi suatu Perayaan.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Masih ada beberapa kisah leluhur Pandawa dalam kategori Mahabharata, semoga berkenan.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Kisah Bodhisattva: Menghibahkan Kedua Mata, Menjadi Buta Selama Sisa Hidupnya

Posted in Relief Candi with tags , on October 27, 2013 by triwidodo

raja sibi sumber borobudur tv

Ilustrasi Raja Sibi memberikan matanya disaksikan oleh permaisurinya sumber www borobudur tv

Persembahan kepada Tuhan

“Apa yang dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa yang kumiliki sehingga dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa pun yang ada di sekitarku, apa pun yang melekat pada diriku, termasuk  ragaku, pikiran serta perasaanku diriku ini sendiri – semuanya milik-Mu. Badanku, pikiranku, harta kekayaanku – sesungguhnya semuanya milikMu. Ya Gusti, semuanya milik-Mu. Apa yang menjadi milik-Mu, kupersembahkan kembali kepadaMu ….. Ya Gusti, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang menjadi milikku.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Adalah seorang raja yang mempersembahkan apa yang dipunyainya kepada rakyatnya. Dia hanya merasa sebagai perantara, hartanya adalah milik Tuhan yang diamanahkan kepadanya, sedangkan rakyatnya adalah juga manifestasi dari Tuhan. Dalam dirinyapun juga ada Tuhan yang bersemayam dan dia perlu menjaga agar Tuhan ridha dengan tindakannya.  Dan harta sang raja tak pernah habis. Kita telah membaca para Bodhisattva yang telah mempersembahkan nyawanya bagi kepentingan kehidupan orang banyak, akan tetapi setelah mempersembahkan nyawanya mereka meninggal dunia. Kini kita akan diharapkan pada seseorang yang memberikan persembahan kedua matanya, dan dia rela cacat tidak dapat melihat sampai meninggal dunia. Apakah persembahan ini lebih kecil dibanding persembahan nyawa?

Brahmana Buta yang Mohon Sebuah Mata

Dikisahkan Bodhisattva yang lahir sebagai Raja Sibi yang sangat mengasihi rakyatnya. Sang raja menganggap rakyatnya sebagai para putra sendiri. Sang raja merasa berbahagia dengan memberikan hujan karunia kepada rakyatnya, mereka yang minta kepadanya akan diberi. Sang raja menjadi terkenal dan banyak orang dari luar kerajaannya menemuinya dan menemukan kebahagiaan sepulang dari sang raja. Kebaikan sang raja membuat bumi bergetar bahagia dan Sakra, Dewa Indra melihat bahwa penyebabnya adalah kebaikan Raja Sibi.

Pada suatu hari sang raja berada di singgasana didampingi permaisuri, para menteri dan para penasehatnya. Mereka dikelilingi berbagai perhiasan, baju, makanan dan lain-lainnya yang siap diberikan kepada orang-orang yang datang meminta kepada kepada sang raja. Beberapa orang pergi setelah menerima hadiah dan kemudian datanglah Sakra dengan mengambil wujud brahmana tua yang buta dan mohon sang raja memberikan sebuah matanya. Menurut sang brahmana sebuah mata cukup memadai bagi seorang bijak seperti sang raja.

Sang raja bertanya siapa yang memberitahu sang brahmana untuk meminta matanya dan sang brahmana menjawab bahwa dia bermimpi Sakra telah menyuruhnya. Mendengar bahwa permohonan tersebut mendapat perkenan dari Sakra atau Dewa Indra, sang raja sadar bahwa segala keperluan rakyatnya di bumi, termasuk hujan, musim tanam dan sebagainya adalah urusan Sakra. Sakra telah memberi kekayaan pada kerajaannya, maka dia pun rela memberikan matanya dan dia yakin proses pemberian mata tersebut dapat dilaksanakan dengan kekuatan Sakra. Sang raja kemudian berkata bahwa karena menghormati Sakra bukan hanya sebuah mata, kedua matanya akan diberikannya kepada sang brahmana.

Para menteri dan penasehat raja mohon kepada sang raja agar waspada terhadap permintaan yang tidak masuk akal. Janganlah sang raja memberikan sesuatu yang membuat sang raja cacat sepanjang hidupnya. Mereka minta kepada sang raja untuk memberikan harta berlimpah kepada sang brahmana, agar dia tidak kekurangan walaupun matanya buta.

Menerima Pemberian Tanpa Mengembalikan Adalah Pencuri

“Bhagavad Gita 3:9-13 Kecuali sebagai persembahan, segala macam perbuatan di dunia ini terikat (dengan Hukum Sebab dan Akibat). Maka berkaryalah sebagai persembahan. Kerjakan tanpa keterikatan, Wahai putra Kunti. Umat manusia ini diciptakan sebagai Persembahan, dan Sang Pencipta mengatakan pada awal penciptaan, bahwa dengan Persembahan segala kebutuhan manusia akan terpenuhi. Persembahanmu akan menjaga kelestarian alam. Alam pada gilirannya akan menjaga kelestarianmu. Dengan saling membantu akan membuatmu bahagia yang tak terhingga. Alam ini akan memberi apa yang kau inginkan sebagai pengganti persembahanmu. Tetapi bagi yang menikmati pemberian alam tanpa mengembalikan sesuatu dipertimbangkan sebagi seorang pencuri. Ia yang berkarya dengan semangat persembahan dan menikmati hasilnya, dengan cara demikian ia terbebaskan dari semua kejahatan.  Mereka yang mementingkan diri sendiri, dengan cara demikian mereka memperoleh ketakmurnian.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para Menteri, para Penasehat dan seluruh rakyat dalam kerajaan Raja Sibi sudah lama sadar, bahwa siapa pun yang telah memperoleh sesuatu tanpa memberikan pengembalian, bagi alam semesta akan dianggap sebagai pencuri. Di bawah pemerintahan Raja Sibi mereka semua adalah warga negara yang baik yang suka berbagi, mereka tidak akan menebang hutan tanpa menanamnya kembali. Mereka berpegang pada motto sang raja adalah: “menerima pemberian tanpa pengembalian adalah pencuri!”

Sang raja berkata, “Selama ini aku merasa bahwa karunia Alam Semesta yang diamanahkan lewat diriku sangat besar dan sudah seharusnya aku mengembalikannya kepada rakyat yang meminta kepadaku. Akan tetapi, semua itu hanya karunia di luar diriku. Tubuhku, seluruh organ-organ tubuhku sendiri adalah karunia yang tak ternilai, sudah seharusnya aku menggunakan seluruh organ, panca indera, tangan dan kaki serta pikiranku untuk melayani sesama sebagai pengembalian bagi karunia yang telah kuterima. Seseorang yang hanya menerima tanpa mengembalikan sesuatu adalah pencuri. Oleh karena itu aku rela memberikan kedua mataku sebagai persembahan kepada Sakra!”

Sang raja meminta tabib istana mengambil sebuah matanya dan memindahkan ke lobang mata sang brahmana. Dan semua yang hadir menjadi saksi keajaiban yang terjadi, sang brahmana bisa melihat kembali dengan penuh kebahagiaan dan sang raja dengan satu matanya bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar pada wajah sang brahmana. Akhirnya kedua mata sang raja dipindahkan kelobang mata sang brahmana dan sang raja hanya dapat mendengar desahan kebahagiaan sang brahmana.

Kedatangan Sakra Kembali

“Engkau Hyang Maha Membebaskan, bebaskanlah diriku dari rasa kepemilikan, keangkuhan, keserakahan, kebodohan, ketaksadaran, kebencian. Bebaskan diriku dari perbudakan pada panca indera. Bebaskan diriku dari keinginan akan kenyamanan dan kenikmatan jasmani. Bebaskan diriku dari segala macam belenggu yang telah menjatuhkan derajatku, menjadi hamba dunia.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Beberapa hari kemudian, takala sang raja sedang berada di taman, Sakra datang menemui dan berkata, “Wahai Raja mintalah karunia kepadaku, akan kukabulkan!”

Sang raja menjawab, “Wahai Sakra, pemberi rejeki kepada seluruh kehidupan di bumi, aku mempunyai kekayaan dan pasukan yang kuat, akan tetapi aku sudah tidak dapat melihat orang yang berbahagia karena memperoleh apa yang dimintanya. Aku cemas dengan kondisi cacat yang kualami sehingga pada suatu kali aku akan menyesal telah mempersembahkan kedua mata, dan aku akan kembali terbelenggu oleh keinginan dunia. Oleh karena itu aku ingin kematian datang kepadaku segera!”

Karena Sakra mengulangi dengan pertanyaan yang sama, maka sang raja menjawab pelan, “aku tidak ingin membanggakan apa yang telah aku berikan, karena itu semua adalah pemberian alam semesta kepadaku. Akan tetapi kini aku hanya dapat mendengar suara orang yang berbahagia karena keinginannya dipenuhi alam semesta. Seandainya aku mempunyai satu mata, cukuplah sudah itu bagiku! Pemberian satu butir mata ternyata nilainya jauh melampaui seluruh harta yang telah kubagikan!”

Sakra dengan kekuatan ilahinya mengembalikan kedua mata sang raja dan berkata, “Pandanganmu akan menjadi sangat tajam, kau akan dapat melihat sesuatu dalam jarak ratusan kilometer dan bahkan bisa melihat apa yang ada di balik gunung!” dan, kemudian Sakra menghilang…. seluruh istana dan bumi bergetar penuh kebahagiaan.

Berkarya Bagi Seluruh Umat Manusia

Tidak semua orang bisa memberikan harta yang dimilikinya, akan tetapi dia bisa berkarya untuk kepentingan seluruh umat manusia.

“la berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi seluruh umat manusia. Ia berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Bagi seorang Karma Yogi, Maanava Sevaa atau Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalah Maadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena ‘senang’ melakukannya.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Kisah Sempati: Blueprint, Skenario Kehidupan dalam Kisah Ramayana

Posted in Ramayana with tags , , on October 25, 2013 by triwidodo

Sempati dan pasukan kera sumber appmithistories blogspot com

Ilustrasi Sempati menemui Pasukan Kera sumber: appmithistories blogspot com

Hubungan Darah, Hubungan Air dan Hubungan Roh

“Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. Bagaimana pun juga, kata orang, ‘hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri’. Atau, ada juga pepatah, ‘bagaimanapun juga darah lebih kental dari air’. Tetapi Yesus justru mengatakan, ‘kau harus lahir kembali dari roh dan air’. Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga- ‘ku’ menjadi lebih penting dari keluarga-‘mu’. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-‘ku’. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa. Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi kesadaran murni yang luar biasa.” Kutipan dari materi Neo Interfaith Studies oleh Anand Krishna pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Ada beberapa contoh hubungan antar saudara dalam kisah Ramayana. Pertama antara Rama-Bharata-Lakshmana-Satrughna, Kedua antara Rahvana-Kumbhakarna-Sarpakenaka-Vibhisana, Ketiga antara Sugriva dan Subali, Keempat antara Sempati dan Jatayu. Di dalam pelaksanaan sebuah bangunan, selalu ada blueprint sebagai pola dan pegangan membangun agar bangunan terlaksana dengan baik. Di dalam sebuah pertunjukan di atas panggung selalu ada skenario yang diikuti dan menjadi pegangan para pelaku drama.Sempati menyadari adanya blueprint dalam kehidupannya sehingga dia selalu melakukan peran yang diberikan kepadanya sebaik-baiknya.

 

Peran Melindungi Saudara Kandung

“Menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi, dan impian pribadi dengan kehendak Allah membuat kita sadar, membuat kita ‘tahu’ jatidiri kita.” (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sempati dan Jatayu adalah putra Aruna, Kusir Kereta Sang Surya yang juga personifikasi dari sinar awal waktu fajar. Aruna dan Garuda adalah putra Resi Kasyapha Putra Brahma yang kawin dengan Dewi Vinata putri Daksha. Garuda menjadi kendaraan Sri Vishnu. Sejak kecil Sempati dan Jatayu memahami peran mereka untuk menegakkan dharma seperti orang tua dan pamannya.

Di kala remaja Jatayu mengajak kakaknya terbang menuju Matahari tempat kerja ayahandanya. Sempati sudah mengingatkan bahwa mendekati matahari itu berbahaya. Akan tetapi Jatayu nekat dan Sempati mendampinginya. Sampai suatu saat sinar matahari begitu panasnya dan bulu sayap Jatayu mulai terbakar. Menyadari perannya untuk melindungi adiknya, Sempati segera melindungi Jatayu dan meminta Jatayu segera turun. Sebagai akibatnya sayap Sempati terbakar dan jatuh dan terpisah dengan Jatayu karena datangnya badai di permukaan bumi. Jatayu menjadi devoti Sri Rama, setiap hari membaca japa tentang Rama, dan selalu berdoa agar kakaknya yang hilang tak tentu rimbanya dilindungi oleh Sri Rama.

Sempati jatuh di sebuah pegunungan di India Selatan dan ditemukan oleh Resi Nishakara. Luka Sempati disembuhkan sang resi, akan tetapi Sempati tidak bisa terbang lagi, berjalan pun dengan tertatih-tatih. Sang Resi berpesan agar Sempati tinggal di sekitar tempat tersebut, mempertahankan hidup dengan makan buah-buahan di tempat tersebut. Walaupun mempunyai genetik bawaan burung pemakan daging, sang resi meminta dia tidak makan hewan yang masih hidup, hanya makan hewan yang sudah mati saja. Sang resi mengatakan bahwa di masa depan akan ada pasukan kera yang sedang mengemban tugas khusus dari Sri Rama, avatara Vishnu yang turun ke dunia. Adalah sebuah peran yang mulia, untuk membantu tugas Sri Rama, setiap makhluk mempunyai peran untuk mendukung dharma. Sekecil apa pun, peran tersebut pantas ditunggu walau untuk itu harus menunggu ribuan tahun. Ratusan tahun kemudian sang resi wafat, akan tetapi Sempati tetap menunggu hari yang diramalkan tersebut.

 

Bertemu Pasukan Kera Pencari Jejak Ibu Sita

Sugriva menugaskan empat grup pasukan khusus untuk mencari jejak keberadaan Sita. Tiga grup sudah pulang dengan tangan hampa dan tinggal satu grup yang mencari jejak ke Selatan yang belum menyelesaikan tugasnya. Di antara mereka adalah Hanuman, Anggada putra Subali, Gaja, Gunaksa, dan Jambavan.

Sudah ribuan kilometer mereka survey dan belum memperoleh jejak yang dimaksud. Dalam keadaan kelelahan dan kelaparan sampailah mereka di sebuah pegunungan di India Selatan dan mereka beristirahat di kaki bukit. Anggada mengeluh kepada rekan-rekannya, “Tiga grup lain telah pulang dengan tangan hampa, Raja Sugriva hanya berharap pada kita semua. Bagiku lebih baik mati daripada pulang membawa malu. Malunya kita adalah malunya Raja kita yang tidak berhasil mengemban tugas Sang Avatara. Hanuman telah berkata kepadaku bahwa Rama sendirian mampu membebaskan Sita dari Alengka. Dan aku yakin hal itu. Akan tetapi Rama telah memberikan kesempatan kepada semua makhluk untuk membantu-Nya menegakkan dharma. Jujur aku sudah putus asa dan rasanya akau akan berpuasa tidak makan di tempat ini untuk menghabiskan sisa hidupku!”

 

Menunggu Peran Menegakkan Dharma sesuai Kemampuan Diri

Seekor makhluk besar mendengarkan semua pembicaraan mereka. Anggada kemudian melanjutkan pembicaraan, “Sri Rama telah kehilangan Ibu Sita, Jatayu dan kini mungkin akan kehilangan kita semua!” Begitu makhluk besar itu mendengar kata Jatayu, dia kaget dan dengan tertatih-tatih berdiri mengangkat tubuhnya yang sebesar gajah. Para kera kaget melihat burung raksasa yang kemudian meminta mereka mendekatinya. Mereka bersiap-siap dan menambah kewaspadaan.

Sang Burung berkata, “Aku mendengar kalian menyebut kata Jatayu, itu adalah saudaraku, aku adalah Sempati, datanglah ke sini!” Selanjutnya Sempati menanyakan keadaan Jatayu dan kemudian menitikkan air mata mendengar kematian Jatayu. Sempati menceritakan kisahnya kepada para kera. “Kalian telah kutunggu selama ribuan tahun sesuai pesan Resi Nishakara. Hampir saja aku putus asa seperti kalian yang putus asa mencari jejak Ibu Sita. Bagaimana pun aku adalah putra Aruna yang merupakan proyeksi sinar pertama di waktu fajar. Aku dapat melihat sangat jauh. Aku melihat sendiri kereta Rahvana melintas di dekat tempat tinggalku dengan seorang perempuan yang berteriak menyebut Rama, Rama. Aku memperhatikan arah kereta tersebut yang melesat lurus dari sini sampai hanya menjadi titik di kejauhan! Aku juga telah mendengar ocehan sekelompok burung yang menceritakan tentang Ibu Sita yang ditawan di negeri Alengka jauh di Timur sana.”

Sambil berbicara memberikan arah Negeri Alengka, tiba-tiba bulu-bulu Sempati tumbuh dan sayapnya sehat kembali. Para kera menjadi saksi keajaiban tersebut dan bulu kuduk mereka merinding seakan melihat Sri Rama memberi blessing kepada Sempati. Sempati berterima kasih dan kemudian terbang untuk melanjutkan dharma di tempat lain. “Om Sri Sai Rama, Om Sri Sai Rama”, suara Sempati sayup-sayup menghilang.

Sambil terbang Sempati merenung, dia pernah melindungi Jatayu yang ternyata adalah jalan agar adiknya bisa membantu Rama dan mati dipangkuan Rama. Dia jatuh di pegunungan India Selatan hanya untuk menunggu peran menunjukkan negeri Alengka terhadap pasukan Rama. Dia mengalami keajaiban sembuh dan bisa terbang kembali untuk menyuntik semangat Hanuman dan teman-temannya bahwa Sri Rama selalu membimbing dan menyuntik mereka dengan semangat baru. “Mengapa hidup ini seakan-akan terlaksana sesuai skenario, sesuai  blueprint yang sudah dibuat sebelumnya?”

 

Beberapa Macam Hubungan Kakak Adik Dalam Kisah Ramayana

“Kita semua ‘terbuat’ dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika ‘keluar’ dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan inteligensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan ke sadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi. Yesus menemukan dunia dalam keadaan sakit parah karena merosotnya kesadaran manusia. Kemerosotan itu pula yang menyebabkan manusia mengejar kenikmatan indra secara berlebihan; menimbulkan rasa takut dan khawatir; kemudian, tenggelam dalam lautan penuh derita.” (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sugriva dan Subali adalah dua saudara kandung, akan tetapi Subali sakit hati karena merasa dikhianati Sugriva. Menurut Subali seharusnya dialah yang menjadi raja dan mempunyai permaisuri Tara. Kenikmatan dunia menjadi faktor pemicu pertarungan sengit antar saudara.

Hubungan pertalian darah antara Rahvana, Sarpakenaka, Kumbhakarna dan Vibhisana pun tidak begitu erat. Sarpakenaka adalah saudari kandung paling erat dengan Rahvana, akan tetapi setelah jatuh cinta dengan Rama dan ditolak karena Rama bersumpah Eka Patni Vrata, kawin hanya dengan satu wanita saja, maka dia kemudian mengembara dan bertapa. Kumbhakarna juga berperang melawan serbuan pasukan kera bukan karena saudara kandung Rahvana, akan tetapi sebagai saudara setanah air yang sedang diserang musuh bersama. Vibhisana apalagi, baginya hubungan roh dengan Dia Hyang Berada di Mana-Mana lebih penting daripada hubungan darah.

Sempati dan Jatayu adalah saudara kandung yang terpisah karena musibah. Akan tetapi keduanya saling mendoakan masing-masing. Kejauhan fisik tidak merenggangkan hubungan batin. Yang mengikat keduanya adalah Sri Rama, mereka berdua adalah devoti Sri Rama.

Rama dan saudara-saudaranya adalah hasil pemujaan lewat persembahan agnihotra sehingga hubungan antara mereka bukan hanya hubungan darah dari ayah yang sama. Bahkan hubungan darah Bharata dengan ibu kandungnya, Keikayi pun sudah terlampaui, Bharata memilih hubungan roh. Bagi mereka empat bersaudara, hubungan mereka adalah hubungan roh, mereka memang mempunyai karakter berbeda, mempunyai peran berbeda, akan tetapi sejatinya roh mereka satu. Apabila peran mereka sudah terlampaui mereka semua adalah satu. Nampaknya berbeda-beda, esensinya mereka satu jua.

Ada perkembangan diri dari ego yang sempit kepada ego yang meluas, dari hubungan darah, hubungan saudara setanah air sampai hubungan sesama makhluk. Nampaknya ada skenario untuk menonjolkan beberapa macam hubungan antar saudara dalam kisah Ramayana.

“Tuhan adalah Roh Hyang Tunggal, Roh Agung, Roh Kudus. Lalu, bagaimana dengan roh yang konon ada juga dalam diri kita? Semua itu ibarat sinar matahari yang tak terhitung jumlahnya, bagaimana bisa menghitung sinar? Tapi, semuanya dari matahari yang satu dan sama. Atau, seperti gelombang di laut. Adakah kita bisa menghitung gelombang-gelombang itu? Adakah kita bisa memisahkan gelombang-gelombang itu dari laut? Jelas, tidak. Adanya gelombang karena laut dan bukanlah sebaliknya. Adanya roh manusia karena Roh Kudus Hyang Agung. Ia matahari, kita sinar-Nya. Ia bulan, kita rembulan. Ia samudra, kita ombak.” (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Mengalahkan Takdir Kematian, Kisah Savitri dan Satyavan dalam Mahabharata

Posted in Mahabharata with tags , on October 23, 2013 by triwidodo

savitri_satyavan sumber my yoga vidya org

Ilustrasi Savitri, Satyavan dan Yama sumber my yoga vidya org

Memberi Makna Kehidupan

“Tinggalkan dunia ini dalam keadaan sedikit lebih indah daripada saat kau-‘datang’ ke sini. Tidak perlu berbicara banyak tentang kedamaian dunia, pelucutan senjata, dan macam-macam. Biarlah orang-orang yang ‘lebih besar’ bicara tentang hal-hal besar. Kita mengurusi yang kecil-kecil saja. Meninggalkan dunia ini dalam keadaan sedikit lebih indah daripada saat kita datang ke sini. Itu saja. Itu dulu.” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Ashvapati adalah seorang raja bijak yang dicintai rakyatnya. Usianya sudah mulai menua, akan tetapi belum juga dikaruniai seorang anak. Sang raja kemudian melakukan ritual agni hotra, membaca Gayatri Mantra, melakukan persembahan kepada Bunda Ilahi Savitri, sumber sinar dari sang surya. Tidak berapa lama lahirlah seorang seorang putri yang dinamakan Savitri sebagai penghormatan kepada Bunda Ilahi.

Demikian Resi Markandeya bercerita kepada Yudisthira tentang wanita yang mempunyai devosi terhadap suami layaknya Draupadi terhadap Pandava.

Savitri menjadi seorang putri yang cantik jelita dan sang raja berkeinginan memiliki menantu dan menimang cucu. Savitri menolak dijodohkan dan merasa sudah bahagia, dapat berbakti terhadap orang tua, selalu berbuat kebaikan dan tidak pernah lupa berdoa terhadap Bunda Ilahi. Karena desakan sang ayahanda, akhirnya dia mencari sendiri jodohnya dan dikawal beberapa pengawal raja dia berkeliling negeri. Masyarakat sangat mencintai sang putri yang bersedia menengok mereka ke desa-desa.

Satyavan Putra Tunggal Dyumatsena

“Pada suatu ketika Brahma bertanya Kepada Resi Narada, hal apa yang paling menakjubkan yang ia lihat di bumi. Narada menjawab, hal yang paling menakjubkan yang aku lihat adalah: orang yang sekarat sedang menangisi yang sudah mati. Mereka yang setiap saat sedang mendekati kematian, sedang menangisi mereka yang sudah mati. Seakan-akan tangisan mereka akan menghidupkan kembali yang sudah mati ataupun mencegah kematian mereka sendiri. Sri Sathya Sai Baba: Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian? Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Alkisah tersebutlah Mantan Raja Dyumatsena yang karena menderita kebutaan mendadak, maka dia bersama sang istri meninggalkan kerajaannya, agar Sang Menteri Kerajaan yang bijak dapat memerintah lebih leluasa, tidak terganggu kebutaannya. Satyavan, putra remaja tunggal sang raja menolak tinggal di istana, adalah menjadi kewajibannya melindungi orang tuanya, apalagi ayahandanya menderita kebutaan. Mereka bertiga tinggal di sebuah hutan, Satyavan bertugas memotong kayu dan menanam ubi dan berbagai buah-buahan untuk menyambung kehidupan mereka.

Savitri menemui mereka dan merasa cocok dengan Satyavan dan memilihnya sebagai calon pasangannya.

Hidup Tinggal satu Tahun Lagi

Para resi memberitahu sang raja agar Savitri membatalkan keinginannya, karena walaupun Satyavan, tampan dan berbudi luhur, akan tetapi usianya hanya tinggal satu tahun lagi.

Savitri bertanya kepada sang raja, “Ayahanda, sudah berapa kali ayahanda melihat akhir kehidupan keluarga kita? Bukankah hampir semua keluarga kita takut mati? Ada yang takut anak-anak yang ditinggalkannya sengsara, ada yang takut harta yang ditinggalkannya diperebutkan saudara-saudaranya, dan lain-lain kecemasan, padahal jelas mati tidak membawa sesuatu apa pun juga? Ayahanda, bukankah hanya sedikit sekali di antara keluarga kita yang menghadapi maut dengan anggun? Apakah bila calon suami ananda berusia panjang menjamin ananda mati dalam keadaan anggun?”

“Tujuan hidup ini apa? Lahir, dibesarkan oleh orang tua, meraih pendidikan, bekerja, berkeluarga, banting tulang bagi orang lain, lantas pada suatu hari ajal tiba dan Malaikat Maut datang menjemput kita. Apakah hidup ini bertujuan? Anda boleh-boleh saja menetapkan tujuan-tujuan ilusif. Anda boleh-boleh saja membayangkan suatu tujuan. Setiap tujuan yang Anda bayangkan, tanpa kecuali, pada akhirnya toh akan mengantar Anda ke liang kubur.” (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pertanyaan Savitri yang sarat makna membuat sang raja diam, dia merasa bahwa putrinya yang merupakan putri hasil pemujaan mempunyai kebijakan yang jauh melampaui dirinya. “Ayahanda apa yang ananda lakukan setiap hari adalah selalu berbuat kebaikan bagi semua makhluk, karena ananda ingin memberi makna bagi kehidupan ananda!”

Bertemu Dewa Yama

Savitri akhirnya hidup sederhana di hutan bersama Satyavan mendampingi keluarga sang mertua. Waktu setahun terasa begitu cepat, pada hari perjanjian tersebut, Satyavan merasa kecapekan setelah membelah kayu bakar dan ingin beristirahat di pangkuan Savitri. Yama, Sang Dewa pencabut nyawa datang untuk mengambil nyawa Satyavan.

Savitri berkata pelan, “Wahai Dewa Yama, bila kau mengambil nyawa suamiku, mohon ambil nyawaku sekalian!’” Yama kaget, ada seorang perempuan yang dapat merasakan kedatangannya. Hanya seorang suci yang dapat mendeteksi kedatangannya. Yama memperhatikan Savitri dan paham bahwa Savitri adalah seorang istri yang tulus mengabdi suami dan selalu berbuat kebaikan terhadap semua makhluk.

“Tidak anakku, engkau belum masuk daftar untuk kucabut nyawamu! Aku memang mendapat tugas untuk mencabut nyawa, akan tetapi aku menghormati tumpukan kebaikan yang telah engkau lakukan tanpa pamrih pribadi. Mintalah 3 karunia padaku akan kukabulkan!”

“Wahai Dewa Yama, terima kasih, pertama hamba mohon sembuhkan mertuaku Dyumatsena dari kebutaan dan kembalikanlah kerajaan kepadanya. Kedua mohon anugrahilah mertuaku dengan seratus putra. Ketiga berkahilah perkawinan kami dengan seratus putra!”

Yama berkata, “Permintaanmu yang pertama dan kedua kukabulkan, akan tetapi permintaanmu ketiga berarti Satyavan harus hidup lagi untuk memberikan seratus putra kepadamu, mintalah permintaan yang lain, akan kukabulkan!”

“Baiklah Dewa Yama, hamba mohon kembalikan hidup suamiku!”

Yama tercenung sejenak, dia pun hanyalah seorang petugas, bila Sang Penguasa Alam ini berkehendak dia pun akan patuh juga.

Dan Satyavan hidup lagi. Tidak lama kemudian Menteri Kerajaan Dyumatsena datang menjemput sang raja yang telah sembuh dari kebutaannya dan membawa sang raja dan keluarganya kembali ke istananya. Satyavan dan Savitri hidup berbahagia dan mengabdikan kehidupannya bagi kebaikan semua makhluk.

Hidup Penuh Cinta Kasih

Raja Dyumatsena adalah karakter raja yang bijaksana yang tahu kapan saatnya dia harus meninggalkan tahta. Demi cinta kasihnya terhadap rakyatnya, saat kemampuannya memimpin berkurang karena mengalami kebutaan, maka dia rela meninggalkan istana untuk hidup menjadi orang biasa dengan berdoa sepanjang waktu sampai maut datang menjemputnya nanti.

Satyavan adalah karakter seorang remaja yang berbakti terhadap orang tua dan rela meninggalkan kemewahan istana demi melindungi orangtuanya. Sebagai seorang remaja, dia pasti ingin menikmati kehidupan yang penuh pesona. Akan tetapi dia ingat, keberadaan dia di dunia adalah lewat kedua orang tuanya. Rasa Cinta dan Kasihnya terhadap orang tua, membuatnya hidup penuh kebahagiaan secara sederhana bersama kedua orang tuanya.

Savitri ingin memberi makna bagi kehidupan yang telah dianugrahkan kepadanya, sehingga bisa anggun menatap Yama saat dia datang menjemputnya. Yang mati itu raganya, jiwanya tidak pernah mati, dalam kehidupan hanyalah cinta kasih yang bersifat abadi, lainnya hanya bersifat sementara.

“Cinta-kasih abadi adanya. Dan, setiap orang yang hidup dalam kasih tidak pernah mati… Kematian hanya membuat mereka tidak terlihat oleh kita, jiwa kasih mereka hidup terus. Semangat mereka untuk mengasihi dan berbagi kasih tidak pernah mati. Cinta kasih adalah ramuan yang mengabadikan. Cobalah ramuan ini, dan Anda menjadi abadi, sekarang, dan saat ini juga. Para pujangga yang pernah mencicipi ramuan ini telah menjadi abadi. Nama mereka tetap dikenang, ajaran mereka tetap memandu kita. Cahaya mereka, sinar suci mereka tetap menerangi hidup kita.  Kisah kehidupan mereka tetap menjadi inspirasi bagi kita, tetap mengilhami kita. Kelembutan, keharuman, keindahan mereka kekal. Mereka tidak pernah mati, tidak mati dan tidak akan mati. Mereka hidup abadi karena Kasih, dan dalam Kasih.” (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Kisah Bodhisattva: Burung Pelatuk, Singa dan Naluri Egois Dalam Diri

Posted in Relief Candi with tags , on October 21, 2013 by triwidodo

borobudur pelatuk dan singa sumber borobudur tv

Ilustrasi Burung Pelatuk menolong Singa pada Relief Borobudur Sumber: www borobudur tv

Pikiran yang Terbelenggu Pola Lama

“Selama conditioned mind, pikiran yang terkondisi, menguasai pancaindra, kita tidak mampu melihat-Nya. Telinga kita tidak mampu mendengar-Nya. Tangan kita tidak mampu meraba-Nya. Tetapi bila conditioned mind tersebut sudah dilampaui, tidak ada yang bisa menghalangi penglihatan kita. Mata kita melihat-Nya dengan jelas. Telinga kita pun akan mendengar-Nya dengan jelas. Tangan kita akan meraba-Nya dengan mudah.” (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan ada Bodhisattva yang hidup sebagai burung pelatuk yang indah, yang hidup bersama dengan lingkungan margasatwa di hutan. Walau hidup bersama margasatwa lainnya, akan tetapi dia tidak terpengaruh oleh karakter margasatwa lainnya. Dia juga tidak terbelenggu oleh karakter hewan di dalam dirinya. Nasehatnya adalah agar semua makhluk melakukan hidup berdasar kasih, peduli dengan makhluk lainnya dan agar selalu berbagi dengan sesama. Semua hewan di hutan tersebut berterima kasih terhadap sang burung pelatuk. Adalah sosok dewa hutan yang selalu ikut mendengarkan nasehat sang burung pelatuk dan sangat tertarik dengan kebijakan sang burung pelatuk.

Menolong Singa yang Sedang Menderita

“Melayani sesama adalah sama dengan melayani Tuhan”. Ibadah dan Pelayanan Tak Terpisahkan. Dan, pelayanan berarti kepedulian terhadap sesama makhluk hidup, bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi terhadap setiap bentuk dan wujud kehidupan. Terhadap flora, fauna, terhadap lingkungan hidup.” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Pada suatu hari sang burung pelatuk terbang ke tepi hutan dan melihat seekor singa yang sedang menderita kesakitan. Tubuhnya nampak kurus dan terasa menahan rasa sakit di lehernya. Sang burung pelatih mendekat dan bertanya apakah singa tersebut sakit karena bertarung dengan gajah, atau terluka karena dipanah pemburu. Singa tersebut menyampaikan bahwa bukan bertarung dengan gajah atau dipanah pemburu, sakit yang dialaminya adalah kesalahan dia sendiri, akan tetapi akibatnya sangat fatal. Ada serpihan tulang yang tersangkut di kerongkongannya dan dia tidak sanggup mengeluarkannya, sehingga sudah beberapa hari dia kelaparan tidak bisa makan. Dia merasa sangat malu dan galau karena dia bisa mati karena serpihan tulang yang ada dikerongkongannya.

Sang burung pelatuk minta singa membuka mulutnya lebar-lebar dan kemudian memasang kayu sebagai penyangga rongga mulutnya. Setelah itu sang burung masuk ke rongga mulut singa dan mengambil serpihan tulang yang tersangkut di kerongkongannya. Akhirnya kayu penahan rongga mulut dijatuhkan dan terselesaikanlah masalah singa. Sang dewa hutan memperhatikan tindakan burung pelatuk dengan penuh kekaguman.

Naluri Hewani Sang Singa

“Sifat bawaan hewani dalam diri membuat kita hanya memikirkan diri, keluarga dan kelompoknya sendiri, kikir terhadap pihak lain. Pengembangan sifat manusiawi membuat kita berubah dari sifat tamak memikirkan kepentingan diri sendiri, menuju sifat rahim, pengasih, memikirkan kepentingan orang lain. Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap ‘cuwek’ terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut ‘manusia’, ‘insan’ bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia.” (Krishna, Anand. (1999). Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari sang dewa hutan melihat sang burung pelatuk terbang kelelahan mencari makanan dan tidak memperoleh apa pun. Sang burung kemudian melihat singa yang pernah ditolongnya sedang makan daging rusa buruan. Burung pelatuk mendekat, akan tetapi singa tersebut asyik makan dan seakan-akan tidak mengenali burung yang telah menyelamatkan dirinya. tidak ada sepatah kata ajakan untuk berbagi makanan. Sang burung pelatuk menyampaikan bahwa dia kelaparan dan minta diberikan makanan barang secuil. Ada kesempatan singa untuk berbuat kebaikan, berapa sih jumlah makanan burung pelatuk? Hanya kecil sekali dibanding porsi makanan singa. Apalagi ada kesempatan bagi singa untuk membalas budi kebaikan burung pelatuk. Seandainya singa tahu bahwa menolong seorang suci, seorang Buddha adalah jenis kebaikan yang beribu kali lipat kebaikan biasa, maka kejadian akan lain. Singa tersebut malah berkata, “Hai burung pelatuk, tidakkah kau bersyukur? Kau pernah masuk ke dalam rongga mulutku dan dapat keluar dengan selamat! Tidak ada satu makhluk pun yang seberuntung kamu. Sudahlah jangan meminta makanan kepadaku atau kau akan kusantap sekalian!”

Tahan terhadap Provokasi untuk Membalas Kejahatan

Sang burung pelatuk kemudian pamit dan terbang ke tempat lain. Sang dewa hutan menemui burung pelatuk dan bertanya, “Mengapa Anda tidak membalas kejahatan singa? Dia pernah Anda tolong, dan tanpa pertolongan Anda dia mungkin sudah binasa. Anda bisa menyerang tiba-tiba dengan membutakan matanya dan kemudian mengambil sebagian makanannya!”

Meskipun diprovokasi sang dewa, dengan lembut burung pelatuk berkata, “Untuk apa memperoleh makanan dengan menggunakan kemarahan. Kemarahan hanya akan menimbulkan kemarahan baru dan tidak akan menyelesaikan masalah. Aku menolong dia bukan untuk mencari balasan. Kalau memang yang aku lakukan adalah kebaikan, mengapa aku harus mengotori kebaikan yang pernah aku lakukan dengan kejahatan? Aku yakin pada kebijaksanaan alam semesta, walaupun aku kelaparan, akan datang saatnya aku akan memperolaeh makanan kecuali memang akau harus mati karena kelaparan. Yang lapar adalah fisikku, akan tetapi nuraniku tidak lapar, akau tidak akan mengotori nuraniku dengan kejahatan.”

Love Is the Only Solution…. Ya, ‘Kasih adalah satu-satunya solusi’. Apa pun persoalan, solusinya hanyalah satu, ‘Kasih’. Tiada solusi lain. Yang lain hanyalah menambah persoalan. Dapatkah kita membersihkan lantai kotor dengan air kotor? Tidak. Lantai sekotor apa pun, tetaplah mesti dibersihkan dengan air bersih. Air kotor malah menambah kekotoran. ‘Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu….’ (Matius 5:39). Sadarkan orang itu, gunakan segala daya upaya untuk menasihatinya supaya ia tidak mengulangi perbuatan jahat, tapi janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; kebohongan dengan kebohongan; kekerasan dengan kekerasan. Yesus tidak mengatakan orang jahat itu dibiarkan begitu saja sehingga ia merajalela dan menjahati setiap orang yang dijumpainya. Tidak. Orang itu mesti diberi pelajaran. Lantai kotor mesti dibersihkan, tidak bisa dibiarkan tetap kotor. Tetapi, ada caranya, dengan cara kita, bukan dengan cara dia. (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pelajaran tentang Babi yang Suka Hidup di Tempat Kotoran

“Dalam setiap tradisi, dalam agama mana pun, kita selalu diingatkan supaya tidak melemparkan mutiara kepada kawanan babi. Bhagavad Gita pun mengatakan, janganlah menyebarluaskan ajaran ini di tengah masyarakat yang belum siap. Babi diberi mutiara, apa yang terjadi? la tidak tahu nilai mutiara, ia memakannya, keselek, dan ia tidak dapat benapas. la gusar dan akan menyerangmu kembali. Berikan mutiara kepada mereka yang mengerti nilai mutiara. Kepada mereka yang mengapresiasinya. Kepada mereka yang akan menghargainya.” (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Burung Pelatuk berkata, “Wahai Dewa Hutan, coba perhatikan babi yang suka tinggal di tempat kotoran, asal ada makanan dan betina untuk melampiaskan seks. Babi telah terkondisi oleh naluri dan menuruti panca inderanya bahwa asal ada makanan dan betina, tempat kotor tidak mengapa. Lihatlah pula singa tadi, dia telah terkondisi bahwa apa pun yang sudah masuk rongga mulutnya seharusnya dikonsumsinya. Dia juga telah terkondisi, bahwa dia memperoleh makanannya sendiri, untuk apa pula berbagi dengan yang lain. Demikian pula makhluk/manusia yang sudah terkondisi, terbelenggu oleh pola pikiran tertentu dan menuruti panca inderanya untuk menghalalkan merebut makanan/harta orang lain dengan segala cara. Ada kesamaan antara makhluk/manusia, singa dan babi yaitu sama-sama pikiran mereka terkondisi dan mengikuti naluri panca inderanya. Makhluk/manusia yang telah melampaui pikiran, yang tidak terkondisi lagi oleh pikiran dan panca indera, yang sadar bahwa pikiran dan panca indera hanyalah alatnya, tidak akan memilih tempat kotor dan melakukan tindakan kotor!”

Sang dewa hutan bersujud, menyentuhkan dahinya dengan bumi dan berkata, “Sudah lama aku mendengarkan nasehat-nasehat Anda, akan tetapi hari ini aku belajar dari tindakan Anda, dan latar belakang tindakan Anda.”

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Jatayu: Mati dengan Menyebut Nama Tuhan

Posted in Ramayana with tags , on October 19, 2013 by triwidodo

jatayu rama llakshmana 2 sumber www mallstuffs com

Ilustrasi Jatayu menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Rama sumber: www mallstuffs com

Mencintai Tuhan dan bukan Bayangan-Nya

“Mengapa selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri. Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayanganNya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini. Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis. Hyang Mahamenawan adalah raja segala raja. Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar denganNya. Sungguh sangat tidak masuk akal. Silakan melayani keluarga. Silakan mencintai kawan dan kerabat. Tapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri. Kekuasaan apa, kekayaan apa, kedudukan apa, dan ketenaran apa pula yang menjadi ambisimu? Jika kau menyadari hubunganmu dengan Ia Hyang Mahakuasa, dan Mahatenar adanya, saat itu pula derajadmu terangkat dengan sendirinya dari seorang fakir miskin, hina, dan dina menjadi seorang putra raja, seorang raja!” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Jatayu bukan burung biasa, tapi burung yang bijak yang sepenuhnya menjalankan dharma. Vinata, istri Resi Kashyapa memiliki 2 anak, Garuda dan Arun. Garuda menjadi kendaraan Vishnu, sedangkan Arun menjadi kusir dari kereta Dewa Surya. Arun memiliki 2 anak: Sampati dan Jatayu. Jatayu adalah devoti Rama yang setia, setiap saat dia selalu memikirkan Rama, yang bermakna Dia Hyang Berada di Timur, di Barat dan di mana-mana.

Membantu Dasaratha menemukan Kausalya

Dikisahkan bahwa Ravana diberitahu bahwa dia nantinya akan terbunuh oleh anak Kausalya. Kemudian Rahvana ingin segera membunuh Kausalya, akan tetapi sang istri mengingatkan adalah tabu membunuh wanita yang tidak bersalah. Akhirnya Rahvana menangkap gadis Kausalya, untuk dimasukkan peti dan dibuang ke sungai Sarayu. Dasaratha sedang menyeberangi sungai Sarayu melihat peti hanyut dan tahu di dalamnya ada manusia. Dasaratha berenang mencoba menggapai peti tersebut, akan tetapi diganggu para pengawal Rahvana. Dasaratha kecapaian dan peti sudah mulai masuk ke induk sungai Gangga. Jatayu melihat hal tersebut dan menyelamatkan Dasaratha. Dasaratha diminta naik di punggungnya dan mengejar peti tersebut. Peti yang sudah sampai di muara samudera tersebut kemudian diambil oleh Dasaratha dan dibuka. Resi Narada kemudian datang dan berkata bahwa sesuai suratan Dasaratha kawin dengan Kausalya dan nantinya akan melahirkan putra yang merupakan wujud Vishnu di dunia. Jatayu sangat bahagia, pamannya Garuda adalah kendaraan Vishnu, dan dia juga ingin mengabdi kepada Vishnu. Jatayu kemudian membawa Dasaratha dan Kausalya ke Ayodhya.

Bertarung Melawan Rahvana

Jatayu mengikuti perkembangan kehidupan Rama. Jatayu sedih kala menyaksikan Dasaratha, sahabatnya meninggal dalam kesedihan, karena Rama menjalani pengasingan. Jatayu juga sekali-sekali memperhatikan Rama, Sita dan Lakshmana yang sedang berada di hutan. Pada suatu kali dia dikejutkan oleh suara Sita yang sedang dilarikan pesawat Rahvana berteriak minta tolong sambil menyebut Rama, Rama. Jatayu mendekat dan kemudian diminta Sita melaporkan penculikannya kepada Rama. Walaupun sudah tua, akan tetapi Jatayu tidak bisa melihat perbuatan adharma dilakukan di depan matanya. Jatayu minta Rahvana mengembalikan Sita, akan tetapi Rahvana menolak sehingga terjadilah pertarungan sengit. Akhirnya Jatayu kalah dengan sayapnya patah dan jatuh ke tanah.

Bagi Jatayu, bertarung melawan rahvana adalah peluang memberikan sisa hidupnya bagi Rama. Jatayu adalah pemuja Vishnu dan paham bahwa Rama adalah Vishnu yang mewujud di dunia. Setiap hari Jatayu selalu berdoa kepada Rama.

“Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, Anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kuhendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai. Seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan KasihMu yang. Tulus nan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam Setiap masa kehidupanku.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Meninggal di Pangkuan Rama

Dalam perjalanan mencari jejak Sita, Rama dan Lakshmana menemukan jejak pertarungan dan kemudian menemukan Jatayu yang terluka parah dan mengucap terus, “Rama, Rama, Rama.” Jatayu tidak mengeluh dan mengatakan bahwa Sita diculik Rahvana dan dibawa ke Alengka. Rama sedih melihat sahabat ayahandanya terluka parah karena berupaya menyelamatkan istrinya. Rama hidup bukan hanya mengejar Sita yang diculik Rahvana, akan tetapi Rama turun ke dunia untuk menemui para devotinya, para bhaktanya dan memberkatinya.

“Valmiki adalah seorang resi yang dibebani dengan tanggung-jawab untuk melaporkan kejadian-kejadian seakurat dan seobyektif yang ia bisa. Ia hidup sejaman dengan pahlawannya (Sri Rama). Tulasi tidak memiliki beban semacam itu. Ia adalah seorang resi yang tengah berupaya menemukan makna hidup. Dan semestinya karya beliau mesti dilihat sebagai catatan tentang pencariannya tentang makna hidup tersebut. Kisah Rama adalah kanvas di mana ia dengan bebas memproyeksikan dan menggambarkan upaya serta temuan-temuannya. Valmiki tetaplah menjadi inspirasi, bahkan merupakan inspirasi yang paling penting, bagi siapa saja yang ingin menulis tentang Rama. Tidak terkecuali bagi Tulasi. Rama-nya Tulasi, saya sadari, berbeda dari Rama-nya Valmiki. Perbedaannya terletak pada penekanan. Rama-nya Valmiki adalah Tuhan yang manusiawi sedangkan Rama-nya Tulasi adalah manusia yang ilahi. Rama-nya Valmiki adalah manusia yang tengah berupaya mencapai keilahian; Rama-nya Tulasi adalah Tuhan yang turun menjadi manusia.” Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Rama meletakkan kepala Jatayu di pangkuannya dan memberikan seteguk air yang dibawakan Lakshmana kepada Jatayu. Jatayu menangis bahagia, “Wahai Paduka junjungan manusia, hamba tidak pernah membayangkan akhir hidup hamba seperti ini. Dalam diri Paduka terdapat kasih Bunda yang memberikan air minum terakhir kepada kami. Bahkan ayahanda paduka pun tidak memperoleh kematian di pangkuan wujud Sang Pemelihara Alam Semesta. Setiap hari hamba selalu menyebut nama Paduka dengan penuh kasih, akan tetapi hamba tidak menyangka di penghujung kehidupan hamba di pangku Paduka. Adakah kebahagiaan melebihi ini? Apakah hidup di dunia yang selalu terancam nafsu yang akan menurunkan kesadaran lebih baik dari “akhir yang baik” ini? Orang bisa bangga telah melakukan ribuan dharma, akan tetapi bila dia masih bernafas, dia masih harus waspada sepanjang hidupnya sampai maut menjemput. Bukankah hamba lebih beruntung dengan meninggal dalam kasih Paduka?”

Rama berkata pelan, “Pamanda Jatayu semuanya terjadi karena sepanjang hidup paman telah melakukan pengabdian tanpa pamrih! Paman tidak pernah mengharapkan pahala kebaikan di dunia.” Dan, Jatayu menghembuskan nafas terakhir dan tidak akan lahir lagi di dunia. Beruntunglah Jatayu yang meninggal dengan menyebut Nama Tuhan. Seseorang yang di waktu ajalnya ingat bisnisnya, ingat keluarganya, ataupun ingat musuhnya dia akan lahir kembali untuk menyelesaikan obsesi yang belum diselesaikannya.

“Bila kita belum menyadariNya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiranNya dengan keinginan-keinginan lain. Dan, itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para Penziarah Hanya Mampir di Dunia

“Manusia ditakdirkan menjadi peziarah, sayang sekali ia menjadi pengelana tak bertujuan.” (SMS Wisdom, Anand Krishna)

Sayidina Umar sang panglima perang berkata bahwa “Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman”. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Sayidina Umar berbicara tentang hukum aksi reaksi, hukum sebab akibat, yang pinjam akan mengembalikan. Para leluhur mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Bagi para sufi yang penting adalah perjalanan. Hidup mereka seakan sebagai seorang musafir, tamu yang terus berjalan menuju Tuhan, tidak terikat oleh dunia.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013