Mengetahui Peristiwa di Masa Depan, Kisah Astrolog Sadewa dalam Mahabharata

Sahadeva sumber en wikipedia org

Ilustrasi Sadewa sumber: en wikipedia org

Sadewa Ahli Astrologi

“Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup. Lewat buku ini, saya hendak menyampaikan bahwa pengetahuan tentang sifat dasar membantu kita untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan dan menghindari apa yang tidak menguntungkan. Silakan mempelajari pengaruh konstelasi perbintangan terhadap rasi Anda. Pelajari pula kekuatan-kekuatan alam yang siap mendukung Anda, dan membantu dalam hal pengembangan diri. Gunakan kekuatan-kekuatan itu untuk meraih keberhasilan. Di saat yang sama, pelajari pula kelemahan-kelemahan, dan kekurangan-kekurangan diri. Janganlah berpikir bila kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan itu tidak dapat diatasi. Semuanya dapat diatasi dan diperbaiki. Adalah kehendak yang kuat dan karya nyata untuk mengubah diri, dan mengubah keadaan. Itu saja yang dibutuhkan.” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sadewa adalah salah satu putra kembar Pandu dan Madri. Dengan mantra Kunti, Madri mengundang Dewa Ashwin Kembar dan lahirlah Nakula dan Sadewa. Dewa Ashwin Kembar adalah dokter para dewa, ahli Ayurveda dan penghilang nasib buruk. Mereka yang dipengaruhi konstelasi planet Ashwini (Aries) biasanya mempunyai pemahaman yang baik dan cerdas. Pintar berbicara. Mempunyai fisik yang menarik dan ahli ilmu pengetahuan. Sadewa adalah yang termuda dari Pandawa. Sadewa terkenal karena tanggap dan cerdas. Dikisahkan bahwa Sadewa adalah ahli astrologi karena potensi Dewa Ashwin Kembar dalam dirinya.

 

Penasehat Pribadi Yudhisthira

Karena kecerdasannya, Yudhisthira menunjuknya sebagai penasehat pribadi dalam perang Bharatayudha. Yudihistira menganggap Sadewa lebih cerdas dibanding Brihaspati, guru para dewa. Sadewa juga komandan perang yang cakap, sebelum upacara Rajasuya yang menetapkan Yudhisthira sebagai Maharaja, Sadewa menaklukkan Wilayah Selatan India. Sadewa paham bahwa penyebab penderitaan Pandawa dalam pengasingan adalah Shakuni, oleh karena itu dua hari menjelang Perang Bharatayudha berakhir, dalam perang tersebut dia membunuh Shakuni. Demikianlah kisah Sadewa versi India.

Tim Pandawa adalah Tim yang solid. Yudhisthira adalah putra Dewa Dharma, Dewa Kebenaran; Bhima adalah putra Dewa Vayu, Dewa Angin yang perkasa; Arjuna adalah putra Dewa Indra, rajanya para dewa; Nakula dan Sadewa adalah Putra Dewa Ashwin Kembar penghilang penyakit dan nasib buruk. Dan, mereka dipandu oleh Sri Krishna Sang Avatar Pemelihara Dunia.

Legenda tentang Sadewa yang Patuh Terhadap Ayahandanya

Semasa Pandawa masih anak-anak, Pandu, ayah mereka mengajak ibu mereka Kunti dan Madri tinggal di hutan. Pandu mengajari anak-anaknya agar nanti mereka menjadi orang-orang yang terhormat. Suatu kali Pandu memangku Sadewa, anaknya terkecil di pahanya dan berkata, bahwa Sadewa harus “makan” otak ayahandanya, agar dia dapat mengetahui segala sesuatu tentang dunia. Sadewa memandang mata ayahnya dengan serius dan berjanji akan “melahap” otak ayahnya.

Tidak beberapa lama kemudian Pandu meninggal dan Madri Ibu Nakula dan Sadewa akan ikut masuk api pembakaran. Jasad Pandu dibaringkan di atas tumpukan kayu yang dinyalakan. Sadewa merasa sedih melihat ayah dan ibunya dalam api pembakaran, akan tetapi dia tetap teringat pesan ayahandanya agar dia “makan” otak ayahandanya. Kala Sadewa melihat beberapa kali ledakan dari mayat, Sadewa nekat masuk kedalam api dan mengambil otak ayahandanya dan lari ke hutan. Para orang tua menjerit, tetapi Krishna yang baru saja datang berkata agar upacara ritual diteruskan saja, dia akan mengurus Sadewa.

Dikisahkan bahwa gigitan pertama Sadewa membuatnya memahami semua yang telah terjadi di seluruh dunia. Gigitan kedua membuat Sadewa memahami apa yang sedang terjadi di seluruh dunia. Gigitan ketiga membuat Sadewa memahami apa yang akan terjadi pada masa depan. Krishna berkata kepada Sadewa, “Kamu tidak harus mengungkapkan apa yang kamu ketahui!” Sadewa, sang anak kecil bertanya, “Bagaimana jika seseorang minta kepada saya? Saya tidak bisa berbohong!” Krishna menjawab, “Jika seseorang minta silakan menjawabnya, tetapi jangan pernah memberitahu lebih dari apa yang mereka minta. Juga kamu tidak pernah memberitahu siapa pun bahwa kamu tahu segalanya, sehingga mereka dapat memintamu!” Sadewa mengangguk dan gantian meminta kepada Krishna, “Mohon Kamu melindungi kami lima bersaudara!” Sebagai anak kecil Sadewa sangat polos dan kemudian berkata, “Jika salah satu dari kami berlima mati, Kamu harus mati juga!” Krishna mengangguk dan tersenyum, “Kamu sudah tahu bahwa saya mati lebih dahulu daripada kalian!”

Kisah dalam legenda sering menggunakan simbol-simbol . Pandu meminta Sadewa “makan” otaknya, dapat dimaknai agar Sadewa menggunakan otaknya untuk mengetahui hakikat dunia. Pandu paham bahwa Sadewa mempunyai otak yang sangat cerdas. Guru Drona menguasai Veda sejak lama dan kemudian memperoleh ilmu ketangkasan perang dari Parashurama. Sadewa belajar pada Drona fokus pada ilmu astrology. Krishna melarang Sadewa membuka rahasia tentang apa yang diketahuinya, agar dunia berjalan alami. Sadewa hanya boleh menjawab orang yang bertanya kepadanya. Memahami ilmu tentang kejadian yang akan datang membuat Sadewa menjadi pendiam. Dalam kehidupannya Sadewa bertindak bijak untuk tidak bicara meskipun dia mengetahui sesuatu. Sadewa tidak ingin terkenal dengan memamerkan pengetahuanya, karena paham semuanya hanyalah ilusi, bersifat sementara. Hanyalah Dia Hyang Tunggal yang nyata, “real”, yang meliputi semua alam semesta, yang lain bersifat sementara, awalnya tidak nampak, kemudian nampak wujudnya dan akhirnya tidak nampak lagi.

 

Mencintai Krishna

Sadewa mengetahui akan terjadinya perang Bharatayudha jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Sadewa tahu tentang rencana Kurawa membakar hutan, akan tetapi dia juga tahu bahwa Pandawa akan selamat. Sadewa tahu perbuatan curang Kurawa dalam perjudian, dan tahu bahwa Draupadi akan dipermalukan, akan tetapi dia juga tahu bahwa Krishna akan menolong Draupadi. Sadewa tahu segala hal akan tetapi dia tidak pernah memberitahu kepada siapa pun, kecuali Krishna.

Sadewa patuh pada Krishna, dan tidak pernah mengungkapkan bahwa dirinya tahu segala sesuatu yang akan terjadi dia masa depan. Sadewa paham bahwa  apabila dia membuka rahasia, dia akan mati dan akibatnya sesuai kesepakatan dengan Krishna, Krishna pun akan mati juga. Sadewa sangat mencintai Krishna. Dia paham bahwa Krishna adalah Sang Pemelihara Alam Semesta yang mewujud untuk menghancurkan adharma yang tengah merajalela.

Ketika Sisupala keberatan dengan penunjukan Krishna sebagai orang yang paling dihormati, yang akan dicuci kakinya oleh Maharaja Yudhisthira pada ritual Rajasuya, Sadewa marah. “Seseorang yang tidak menerima Krishna sebagai orang yang paling dihormati adalah musuhku!”

Krishna pernah menguji Sadewa dan bertanya bagaimana caranya agar perang Bharatayudha tidak terjadi. Sadewa menjawab bahwa Pandawa dan Kurawa harus dikirim ke hutan, Karna menjadi raja dan Krishna harus membelenggu dirinya sendiri. Krishna tersenyum, karena paham bahwa Sadewa tahu siapa jatidiri Krishna.

 

Pencipta Lebih Berkuasa Daripada Ciptaannya yang Berupa Konstelasi Bintang

Bagaimana pun Shakuni bisa mendengar selentingan kabar bahwa Sadewa paham mengenai waktu yang tepat untuk berdoa memohon sesuatu. Atas nasehat Shakuni, Duryodhana kemudian bertanya kepada Sadewa kapan saat yang tepat berdoa kepada Dewi Durga agar menang perang Bharatayudha. Sebagai astrolog dan selalu ingat kesepakatan dengan Krishna, Sadewa mengatakan dengan jujur bahwa Duryodhana harus melakukan persembahan pada saat bulan baru muncul. Ketika saudara-saudaranya bertanya mengapa Sadewa jujur, dia menyampaikan jawaban bahwa konstelasi bintang memang akan mempengaruhi sebuah ritual seperti yang akan dilakukan oleh Kurawa. Akan tetapi bila seseorang memusatkan diri pada Dia Hyang Menguasai Alam Semesta, maka alam pun tunduk kepada-Nya. Sri Krishna tersenyum mendengarnya. Sri Krishna kemudian menggeser posisi bulan dan matahari sehingga maju satu hari dan Kurawa melakukan persembahan pada bulan mati. Sedangkan Pandawa melakukan pada bulan baru muncul.

“Segala sesuatu dalam alam ini saling berkaitan. Dalam hidup sehari-hari, manusia berhadapan dengan dua macam kekuatan. Kekuatan pertama adalah kekuatan gabungan elemen-elemen alami, seperti tanah, air, api , angin dan ruang angkasa, yang ada dalam dirinya. Kekuatan kedua adalah kekuatan alam di luar dirinya. Selama kesadaran manusia masih berada pada lapisan fisik yang bersifat sementara, ia akan selalu dipengaruhi oleh  perubahan-perubahan yang terjadi di bumi dan di langit. Astrologi merupakan ilmu untuk mempelajari respons manusia terhadap berbagai rangsangan yang diperolehnya dari planet-planet lain. Bintang-bintang dan planet-planet tidak pilih kasih, mereka tidak bisa membantu, atau mencelakakan manusia. Mereka hanya menjadi sarana bagi terlaksananya hukum sebab-akibat. Seorang anak lahir pada hari dan jam tertentu, dan dipengaruhi oleh bintang tertentu, karena karma dia pada masa yang lalu. Ilmu astrologi dapat menjelaskan pengaruh dari masa lalu, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada masa mendatang. Namun yang menguasai betul ilmu itu, hanyalah segelintir manusia. Apabila kita menyadari sepenuhnya bahwa perbuatan kita pada masa lalu telah menentukan masa kini, maka dengan perbuatan kita pada masa kini, kita dapat merancang masa depan, sesuai dengan keinginan kita. Apalagi seorang manusia juga memiliki akses terhadap kekuatan-kekuatan spiritual, yang tidak terpengaruh oleh bintang dan planet. Mereka yang bertakhayul dan tanpa pengetahuan yang benar, mempercayai ilmu perbintangan menjadi budak para peramal. Seorang bijak akan berhasil menaklukkan bintang-bintang yang mempengaruhi hidupnya. Caranya mudah, ia harus mengalihkan kesadarannya dari ciptaan, ke Sang Pencipta. Pengalihan kesadaran semacam itu – peningkatan kesadaran seperti itu – akan membebaskan dia dari pengaruh-pengaruh duniawi (Pengaruhbintang, ramalan dan lain sebagainya masih bersifat sangat duniawi, bukan spiritual sama sekali).” (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

One Response to “Mengetahui Peristiwa di Masa Depan, Kisah Astrolog Sadewa dalam Mahabharata”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: