Perang Batin Tak Kunjung Usai, Kisah Shumbha Nishumbha dalam Devi Mahatmyam

shakti para dewa menyerang pasukan sumbha nishumbha sumber shaktisadhana 50megs com

Ilustrasi Shakti para dewa menyerang pasukan Shumba Nishumbha sumber shaktisahana 50megs com

Asura dan Dewa Dalam Diri Pribadi Manusia

Tidak ada hal baru di dunia ini, semuanya hampir merupakan pengulangan dengan setting panggung yang berbeda. Dari dahulu selalu terjadi peperangan antara dharma melawan adharma. Pada zaman Satya Yuga, para asura, para raksasa, para pelaku kejahatan berada dalam kelompok yang berbeda dengan kelompok para dewa, para pelaku kebajikan. Pada masa kini baik sifat asura yang melakukan adharma, maupun sifat dewa yang melakukan dharma berada dalam diri pribadi setiap manusia. Perang batin dalam diri manusia berjalan sangat seru dan saling bergantian pemenangnya. Bila seseorang sudah sadar, dia akan melihat bahwa kebaikan dalam diri perlu diperkuat, sedangkan kejahatan dalam diri perlu diperlemah dan ditaklukkan. Oleh karena itu, kisah-kisah pada zaman dahulu perlu dimaknai dengan setting panggung berbeda, panggung yang berada dalam diri pribadi kita.

 

Shumbha dan Nishumbha serta Panglima Rakthabija

Shumbha dan Nishumbha adalah Raja Kembar Asura putra Resi Kasyapa dan Dhanu. Mereka sangat kuat bertapa sehingga memperoleh anugerah dari Brahma. Mereka mohon agar tidak bisa dibunuh oleh pria atau hewan. Menurut pikiran mereka tidak mungkin ada wanita yang lebih sakti daripada pria. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Brahma. Sukses dengan perjuangan memperoleh kesaktian mereka mulai mengganggu para suci dan meminta mereka menyembah mereka dan bertindak lalim di tiga dunia.

Rakthabija adalah salah seorang panglima dari Raja Kembar Shumbha Nishumba yang berkat tapanya yang luar biasa mendapatkan anugerah kesaktian dari Brahma, sehingga setiap tetes darahnya yang jatuh di bumi akan menjadi kloning dari wujudnya. Semua makhluk takut kepadanya, karena setiap dia dilukai musuhnya, tetesan-tetesan darahnya akan menjadi wujud-wujud Rakthabija yang banyak, sehingga musuh-musuhnya dibuat kewalahahan dan takluk.

 

Melawan Panglima Rakthabija

Mendengar Chanda dan Munda dibunuh Sang Dewi, raja Shumba sangat murka dan mengajak seluruh pasukannya untuk melawan Sang Dewi. Sang Dewi bersiap-siap lengkap dengan seluruh shaktinya para dewa, Indriyani adalah shaktinya Indra, Vaishnavi adalah shaktinya Vishnu, Varahi adalah shaktinya Varaha. Mahesvari adalah saktinya Mahesvara, Kumari adalah shaktinya Kumara, Brahmani adalah shaktinya Brahma. Shakti para dewa datang bersama pasukan mereka bersiap-siap melawan pasukan Shumbha Nishumbha.

Panglima Rakthabija maju ke depan dan mengamuk menghancurkan pasukan para shakti. Beberapa kali Rakthabija terluka parah oleh serangan pimpinan para shakti. Akan tetapi, setiap tetes darah yang keluar dari tubuhnya begitu menyentuh bumi langsung berubah menjadi kloning Rakthabija dan menyerang lebih ganas. Indriyani memukulnya dengan vajra tetapi darah yang menetes berubah menjadi Rakthabija baru. Vaishnavi memotong tubuhnya dengan chakra, tetapi justru muncul ribuan Rakthabija dari darahnya. Kumari dengan tombaknya, Varahi dengan tombaknya dan Mahesvari dengan trisulanya membantu tetapi Rakthabija menjadi semakin banyak. Para asura yang jumlahnya ribuan mulai mengisi alam semesta dan para dewa sangat khawatir.

Dewi Chandika segera berkata kepada Kali, “Wahai Chamunda, buatlah mulut yang sangat luas!” Sang Dewi kemudian memukul Rakthabija dengan gada dan darah yang tetes ditelan oleh mulut Kali yang sangat luas. Kemudian bahkan seluruh kloning Rakthabija juga ditelan oleh Kali termasuk Rakthabija sendiri. Dan, tamatlah riwayat Rakthabija.

Seluruh dewa dan dewi kemudian berkata, “Wahai dewi yang bersemayam pada diri semua orang, sebagai intelegensia yang memberikan keselamatan dan kebahagiaan. Salam dari kami wahai Narayani (kekuatan bawaan di belakang para dewa, atau kekuatan dibalik Narayana).”

“Sarva mangala mangalye, Shive sarvartha sadhake, Saranye triambike Gauri, Narayani namosthuthe.” Oh Dewi yang memberi semua kebaikan, yang damai, yang memberi semua kekayaan, yang handal, yang memiliki tiga mata, dan yang berwarna keemasan, kami memberi hormat kepada Anda, Narayani!”

 

Melawan Shumbha dan Nishumbha

Shumbha dan Nishumbha sangat murka dan menyerang Sang Dewi dengan ribuan anak panah yang semuanya dijatuhkan Sang Dewi. Nishumbha kemudian memukul Singa Sang Dewi dengan perisainya. Sang Dewi kemudian memecahkan perisainya dan memukul Nishumbha dengan tombaknya. Melihat Nishumbha jatuh Shumbha sangat marah dan tangannya berubah menjadi delapan tangan raksasa yang semuanya memegang senjata mengurung Sang Dewi. Sang Dewi menggerakkan tubuhnya dan seluruh perhiasannya bersuara bergemuruh dan tertawa sangat mengerikan. Kemudian Shumbha dipukul dengan tombak sehingga jatuh. Saat Shumba jatuh, Nishumba siuman dan membuat dirinya mempunyai sepuluh ribu tangan yang semuanya memegang roda. Sang Dewi menghancurkan sepuluh ribu roda dan kemudian melemparkan tombaknya merobek dada Nishumbha. Saat jiwa Nishumbha berteriak minta berhenti Sang Dewi tertawa dan memenggal kepala Nishumbha dan Shumbha. Seluruh pasukan Shumbha dan Nishumbha dihancurkan oleh  shaktinya para dewa.

 

Makna Melawan Panglima Rakthabija

“Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya. Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orangtua. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam peperangan terakhir melawan kejahatan di dalam diri dengan berkumpulnya seluruh sifat-sifat jahat di dalam diri, kesadaran perlu mengumpulkan juga energi (shakti) dari semua sifat-sifat baik dalam diri.

Rakthabija berarti biji darah. Panglima Rakthabija sulit ditaklukkan karena dia tidak pernah mati. Kadang-kadang kita ingin melakukan kebaikan, akan tetapi selalu saja kalah dengan kejahatan di dalam diri. Sifat jahat yang merupakan genetik bawaan terbawa dalam aliran darah dan sulit dikalahkan. Bahkan sifat jahat tersebut bila tidak segera dimusnahkan akan kita wariskan kepada anak-cucu generasi penerus kita. Menghadapi hal demikian, kesadaran kita perlu memukul kejahatan tersebut dengan senjata pikiran yang jernih, yang diperoleh lewat sadhana seperti meditasi , pembacaan mantra dan lain-lainnya. Selanjutnya kita perlu mohon pertolongan Kali (waktu) untuk melahap semua kejahatan dalam diri. Genetik jahat harus ditaklukkan terus menerus, sehingga kita terbiasa menaklukkannya. Karena terbiasa akhirnya kita mempunyai karakter penakluk kejahatan dalam diri. Bila itu dilakukan terus menerus dan mohon bantuan Bunda Ilahi, maka genetik jahat dalam darah bisa dimusnahkan.

 

Makna Melawan Shumbha dan Nishumbha

Shambhu adalah istilah bagi orang yang mengungkapkan kebaikan. Shumbha berarti penyimpangan halus dari shambhu, penyimpangan halus dari ungkapan kebaikan. Shumbha juga berarti orang yang membuat diri sendiri bersinar atau mengagungkan diri sendiri. Nishumbha adalah orang yang melestarikan Shumbha. Shumba dan Nishumbha juga mewakili arogansi, termasuk keangkuhan gender, merasa bahwa pria tidak bisa dikalahkan oleh wanita. Shumbha dan Nishumba juga bermakna merasa diri paling benar yang menunjukkan adanya ego.

Dalam kisah Devi Mahatmyam, semua asura yang dikalahkan Sang Dewi adalah asura-asura perkasa yang mewakili sisi gelap dari diri kita.

“Jangan kira sekali terjinakkan hewan di dalam diri menjadi jinak untuk selamanya. Tidak demikian. Hewan-hewan buas nafsu, keserakahan, kebencian, kemunafikan, dan lain sebagainya—termasuk majikan mereka yaitu gugusan pikiran yang kita sebut mind—membutuhkan pengawasan ketat sepanjang hari, sepanjang malam… sepanjang tahun..sepanjang hidup…” (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dari Madhu-Kaithaba, Mahishasura, sampai Shumbha-Nishumbha (termasuk Panglima Chanda Munda, Dhomralocana dan Rakthabija)

Penaklukan tiga aspek Madhu-Kaithaba, Mahishasura dan Shumbha-Nishumbha melambangkan tahapan dalam sadhana.

Madhu-Kaitabha merupakan wujud kasar dari karakter rendah (asura) manusia, ego palsu yang membuat orang lupa akan jatidirinya. Mempercayai ego palsu termasuk kemalasan untuk berupaya menemukan jatidiri (Sifat Tamas). Madhu Kaithaba muncul kala Kesadaran Vishnu di dalam diri sedang tidur.

Mahishasura adalah simbol dari obsesi (kama, nafsu) asura dalam diri yang bertindak penuh kemarahan (krodha) bila obsesinya tidak tercapai. Apabila obsesi tersebut tercapai justru membuatnya menjadi semakin serakah (lobha). Mahishasura merupakan kejahatan yang bersifat dinamis (Sifat Rajas).

Shumbha dan Nishumbha adalah asura dengan jenis jauh lebih halus, dia adalah raja, sangat kaya, sangat berbudaya, tetapi sangat angkuh. Dia memiliki dominasi atas semua  kebaikan dan ia memiliki seluruh kekayaan dunia. Segala sesuatu yang diinginkan, semua yang terbaik dimiliki oleh dia yang tak terkalahkan dan dia memerintah sejumlah besar panglima. Salah satu panglimanya adalah kejahatan yang disebut Rakthabija yang disamakan dengan karakter jahat yang disebabkan genetik bawaan manusia. Setelah terjadi transformasi dengan mengubah karakter maka kehancuran terakhir dari Shumbha dan Nishumbha baru mungkin terlaksana. Ego yang halus adalah penghalang terakhir hubungan antara manusia dengan Tuhan. Selama masih ada ego masih terjadi dualitas daalam diri.

“Bila sudah memasuki Alam Meditasi, kita akan berada di atas alam pikiran dan perasaan. Rasa jenuh atau rasa apa pun tidak akan muncul lagi, atau tidak terasakan lagi. Meditasi membebaskan diri kita dari dualitas, dari segala macam dualitas. Tidak ada lagi duka, namun suka pun tidak ada, karena keberadaan suka akan menghadirkan pula duka dalam hidup kita. Ada mawar, ada duri. Ada positif, ada negatif. Karena itu, saya selalu mengatakan “berpikir positif” bukanlah solusi, karena untuk “berpikir positif” pun kita harus terlebih dahulu mengenal “negatif”. Bagaimana bisa berpikir positif tanpa mengenal apa itu negatif?! Meditasi tidak sinonim dengan `positive thinking. Kesadaran tidak sama dengan “pikiran positif”. Kesadaran melampaui pikiran. Rasa jenuh muncul karena keberadaan kita antara dua kutub positif dan negatif, suka dan duka, panas dan dingin. Bagaimana melepaskan yang satu tanpa melepaskan yang lain inilah dilema kita selama ini. Kita harus belajar untuk “mengangkat” kesadaran kita dari alam dualitas. Ini pula yang dilakukan oleh para leluhur kita, sehingga terciptalah kedamaian sejati. Kedamaian yang tidak perlu dituangkan lewat sebuah Memorandum of Understanding, sebuah nota kesepahaman bersama, tetapi kedamaian sejati yang mewarnai pemahaman itu sendiri.” (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

One Response to “Perang Batin Tak Kunjung Usai, Kisah Shumbha Nishumbha dalam Devi Mahatmyam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: