Tragedi Dasaratha, Buah Karma yang Sudah Matang akan Jatuh dengan Sendirinya

dasharatha sumber www indianetzone com

Ilustrasi Raja Dasaratha memperhatikan Rama putra kesayangannya sumber: www indianetzone com

Tidak ada Peristiwa yang Merupakan Kebetulan

“Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada. Pertemuan kita, perpisahan kita, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak. Yang namanya takdir itu apa? Memang yang tengah kita alami sekarang ini merupakan takdir kita, sudah ditentukan oleh masa lalu kita. Tetapi yang menentukannya siapa? Kita, kita juga. Apa yang kita buat pada masa lalu menentukan masa kini kita. Nah, Sekarang, apa yang kita buat sekarang, dapat menentukan masa depan kita. Takdir sepenuhnya berada di tangan Anda. Bagi mereka yang mengetahui mekanisme alam ini, hidup menjadi sangat indah. Ia tidak akan menangisi takdirnya. Ia tahu persis bahwa ia pula yang menentukan takdirnya sendiri. Ini yang disebut Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat. Karma berarti tindakan, karya. Karma bukan berarti tindakan baik, ataupun tindakan buruk, sebagaimana anda tafsirkan selama ini. Anda yang menderita, anda katakan itu Hukum Karma. Hubungan-hubungan Anda pada masa lalu, menghubungkan Anda kembali dengan mereka yang menjadi kawan Anda, keluarga Anda pada masa kini.” (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Melampaui Kelahiran Dan Kematian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengapa Raja Dasaratha meninggal dalam penderitaan, betulkah hal tersebut bukan merupakan peristiwa yang terjadi secara Kebetulan? Atau Takdir?

 

Kutukan yang Bisa Diperingan

Raja Rahwana iri tentang keperkasaan Raja Dasaratha dan mengirim utusan yang mengancam akan melakukan perang bila dia tidak diberi penghormatan oleh Dasaratha. Dasaratha kemudian melepaskan ribuan anak panah yang melesat menuju Alengka , dan dengan bangga mengatakan bahwa ketika rombongan utusan Rahwana kembali ke Alengka mereka akan menemukan bahwa gerbang utama Alengka tertutup oleh anak-anak panahnya. Rahwana merasa kalah dan merasa dipermalukan atas tindakan Dasaratha tersebut. Rahwana kemudian melakukan tapa berat dan ketika Brahma muncul di hadapannya, dia meminta agar Dasaratha tidak dikaruniai keturunan.

Dasaratha memang kesulitan mempunyai putra, bahkan setelah mempunyi 3 orang permaisuri. Akan tetapi dengan perjuangan yang tak kenal lelah setelah melakukan Ritual Yagya akhirnya Dasaratha bisa mempunyai 4 putra.

Praarabdha Karma yang harus terjadi pada kehidupan ini tidak dapat dihindari. Doa/chanting/japa mengurangi pengaruh negatif, sedangkan kerendahan hati menambah pengaruh positif. Sanchita Karma tumpukan karma yang telah kita lakukan, yang dapat terjadi kapan saja, membentuk kecenderungan-kecenderungan. Untuk ini diperlukan tindakan pengendalian diri lewat Latihan Yoga dan melakoni kehidupan para yogi: yama serta niyama (sikap disiplin dalam hubungan dengan luar, dengan masyarakat dan lingkungan serta hubungan disiplin dengan diri sendiri);  makan saatvic (bersifat menenangkan, vegetarian); makan yang bersifat rajasic (agresif) hanya dalam keadaan memang benar butuh; dan menghindari makanan tamasic (makanan basi yang membuat malas). Aagami Karma yang baru akan kita tanam perlu melakukan Nishkama Karma (pelayanan tanpa pamrih); satsang (pergaulan baik); pilihan profesi; pilihan bacaan dan aktivitas/hobby dan lain-lain.

 

Karma yang Tak Bisa Diperingan

Kepergian Sri Rama bersama Sita dan Lakshmana ke hutan membuat keharmonisan keluarga Raja Dasaratha hancur. Kedua permaisuri Kausalya dan Sumitra menjadi benci dengan Kaikeyi dan menyalahkan Raja Dasaratha yang mengikuti keinginan Kaikeyi mengasingkan Sri Rama selama 14 tahun. Dasaratha tak kuat menahan penderitaan dan dalam keadaan sakit dipanggilah Kausalya mendekatinya.

“Kausalya, nampaknya aku tidak akan lama hidup di dunia, aku tidak kuat menahan penderitaan ini!” Kausalya menjadi iba melihat kondisi Raja Dasaratha yang semakin parah dan berbaring di tempat tidurnya. Kausalya duduk di samping tempat tidur sambil terisak-isak. Dasaratha melanjutkan, “Aku akan mengatakan sebuah rahasia yang selama ini aku simpan. Tidak ada yang tahu bahwa  setiap saat aku selalu berdoa agar kesalahanku diampuni, akau hanya dapat berharap, akan tetapi nasib tidak selalu mengabulkan keinginanku. Akan kuceritakan kisah ini sebagai pelajaran agar kita jangan sampai angkuh, merasa kuasa dan sakti serta memandang rendah makhluk lain!” dan Dasaratha memulai kisahnya….

 

Kesalahan Raja Dasaratha di Masa Muda

“Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih ‘yang memuliakan’. Mereka yang tidak bijak memilih ‘yang menyenangkan’ karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Dasaratha adalah seorang ahli memanah, untuk membidik sebuah hewan buruan di belakangnya, dia tidak perlu melihat buruannya, dengan mendengar suaranya saja dia bisa memanah dengan tepat. Pada suatu hari dia pergi ke hutan dan mendengar suara binatang di tepi sebuah sungai, dan tanpa melihat binatang apa Dasaratha segera melepaskan anak panahnya. Hanya untuk membuktikan keahliannya memanah, hanya demi kesenangan pribadi Dasaratha biasa memanah binatang tanpa melihat buruannya tersebut.

Tidak berapa lama dia mendengar suara seorang remaja yang mengeluh: “Ibu… ibu saya sakit sekali!” Dasaratha datang menghampiri dan melihat anak yang berangkat remaja yang sedang mengambil air, terbaring dengan luka di dadanya karena anak panah. Dasaratha gugup dan menyesal, rupanya dia salah memanah, seorang anak remaja yang sedang mengambil air disangkanya hewan yang sedang minum. Sang anak berkata kepada Dasaratha bahwa dia sangat mencintai kedua orang tuanya dan kini kedua orang tuanya sedang kehausan, sehingga dia mengambilkan air di sungai. Remaja tersebut minta Dasaratha memberikan ember berisi air kepada kedua orang tuanya, dan kemudian meninggal dalam keadaan menangis.

 

Kutukan Orang Tua Korban

Ketika Dasaratha membawa ember berisi air sampai di pondok dekat tempat tersebut, dia mendengar seorang tua renta yang berkata, “Sindhu, kau telah datang dari mengambil air? Aku dan ibumu sangat haus!” Dasaratha mendekati sambil terisak-isak dan melihat sepasang orang tua buta yang berbaring di atas dipan. Sang orang tua melanjutkan, “Sindhu hanya kaulah satu-satunya putra tempat kami bergantung untuk menjalani hidup ini. Aku dan ibumu sudah tua dan buta, betapa malangnya nasib kamu harus mencari makan agar kami dapat hidup.”

Dasaratha menjelaskan bahwa ia adalah Dasaratha yang bersalah telah memanah putranya dan akan membawa kedua orang tua tersebut ke istana untuk memeliharanya. Kedua orang tua tersebut sangat sedih dan minta mereka di bawa ke tempat anaknya meninggal. Mereka meraba-raba jasad sang anak dan keduanya jatuh pingsan.

Setelah siuman, mereka minta Dasaratha membuat api pembakaran untuk membakar jasad putra mereka. Dasaratha menyiapkan tumpukan kayu untuk pembakaran dan mulai menyalakan api. Dasaratha mohon maaf dan berjanji untuk membawa mereka ke istana. Sang ibu tua berkata, “Aku memaafkan kamu seperti anakku yang juga telah memaafkanmu, memang itu adalah takdirku, akan tetapi aku tidak bisa ikut ke istana, nilai anakku tidak bisa diganti dengan perbuatan baik apa pun juga!” Ayahanda anak tersebut berkata, “Anakku dan istriku memaafkanmu, akan tetapi demi keadilan aku tidak memaafkanmu. Dasaratha, kau bertanggung jawab atas kematian anakku. Suatu hari kau akan merasakan kehilangan anak yang kausayangi, karena harus pergi ke hutan. Dan saat itu kau akan merasakan betapa hidup di dunia ini tidak berharga lagi!” Setelah itu kedua orang tua buta itu melompat ke dalam api pembakaran.

 

Kesadaran Menjelang Kematian

Dengan kisahnya, Dasaratha mengungkapkan beberapa butir kesalahannya. Dasaratha sama sekali tidak peka akan sakitnya hewan yang dipanahnya sampai mati. Beberapa kali Dasaratha membunuh binatang dan ditinggalkan begitu saja dan tidak untuk dikonsumsinya, membunuh hewan hanya untuk kesenangan. Hanya untuk membuktikan keahlian dia memanah tanpa membidik, hanya mendengar suara hewan di belakangnya, hewan itu langsung dipanahnya  tanpa melihat hanya demi kesenangan diri. Banyaknya hewan yang dibunuhnya, membuat suatu kali datang keteledoran sehingga dia salah memanah manusia. Akibatnya Kaikeyi demi kesenangan dirinya juga tega melukai perasaan Dasaratha dengan mengasingkan Rama ke hutan. Kedua orang tua remaja yang dipanahnya mati karena kesedihan putranya mati. Dan Dasaratha pun sedih sekali dengan perginya Rama menjalani pengasingan di hutan.

 

Tidak ada Hal yang Abadi

Di akhir hayatnya Raja Dasaratha, bahwa di dunia ini tidak ada hal yang bersifat abadi. Rama yang disayanginya harus pergi meninggalkan istana, Kaikeyi yang disayanginya tidak selalu berbuat seperti yang diharapkannya. Tiga permaisuri dan empat putranya tidak bisa memberikan kebahagiaan abadi. Dia juga tidak bisa menjadi raja abadi di kerajaan yang dipimpinnya. Dasaratha menceritakan kisah kesalahannya membunuh seorang remaja yang menyebakan kedua orang tuanya ikut membakar diri. Kausalya mendengarkan dengan penuh perhatian dan air matanya meleleh di pipinya. Kala dia mengusap air matanya, dia baru sadar bahwa Raja Dasaratha sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

“Dunia Benda tidak abadi. Apa yang kumiliki saat ini, pernah dimiliki orang lain sebelumnya. Dan, dapat berpindah tangan kapan saja. Sesuatu yang bersifat tidak abadi tidak dapat memberi kebahagiaan yang kekal dan abadi.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Dasaratha mengungkapkan kisahnya, agar kita berhati-hati dalam setiap tindakan kita, terutama pada saat kita sedang di atas, sedang sukses. Dasaratha juga mengingatkan kita semua bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Mengikatkan kebahagiaan diri dengan hal-hal duniawi akan membuat kecewa di kemudian hari.

“Alam tidak banyak berbicara. Angin kencang tidak selalu ada, hujan tidak turun terus-menerus. Bumi dan langit pun tidak abadi. Bagaimana kau mengharapkan keabadian, kelanggengan? Sebenarnya hanya manusia yang mendambakan keabadian. Bumi dan langit pun sedang mengalami perubahan setiap saat. Bagaimana saya dan Anda bisa memperoleh kelanggengan? Hal ini perlu kita camkan bersama.” (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: