Kisah Bodhisattva: Gajah yang Merelakan Tubuhnya pada Relief Borobudur

borobudur gajah membantu masyarakat kelaparan sumber www borobudur tv

Ilustrasi Gajah membantu masyarakat yang kelaparan sumber www borobudur tv

Cinta Maitreya

“Cinta akan mengajak anda untuk berbagi, untuk memberi. Seorang Bhakta, seorang pencinta Allah, selalu dalam keadaan meluap-luap. Cinta, Kasih senantiasa meluap keluar dari dalam dirinya. Dia tidak perlu berkeinginan untuk membagi. Dia tidak usah melakukan sesuatu untuk berbagi. Bila anda pernah bertemu dengan seorang pencinta Allah, anda akan memahami maksud saya. Dalam bahasa Sansekerta, Maitri berarti “persahabatan”. Bahkan mungkin lebih dari sekadar persahabatan; tetapi sense of friendship. Dan bila persahabatan” menjadi sifat seseorang, orang itu disebut Maitreya. Seorang Bhakta adalah seorang Maitreya. Dia bersahabat dengan setiap orang, dengan setiap makhluk. Dengan pepohonan dan bebatuan. Dengan sungai dan angin. Dengan bumi dan langit. Dengan dunia dan akhirat. Itu sebabnya dia tidak akan pernah mencemari lingkungan, tidak akan merampas hak orang. Tidak percaya pada aksi teror, intimidasi, dan anarki. Seorang Maitreya siap berkorban demi keselamatan orang lain, karena baginya yang lain itu tidak ada. Dia melihat Tuhan di mana-mana.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Sang Gajah Perkasa

Seekor gajah perkasa tinggal di hutan dengan lingkungan sesuai dengan kehidupannya. Dia hidup dari makan rumput dan tanaman teratai di sebuah telaga. Untuk mencapai hutan tersebut harus melintasi padang gurun yang luas, sehingga tempat tersebut tidak pernah dilewati manusia. Sang gajah perkasa hidup sendirian layaknya seorang pertapa.

Pada suatu hari sang gajah mendengar teriakan banyak orang di tepi hutan. Nampaknya seperti suara segerombolan orang yang pada putus harapan. Sang gajah mendekati mereka yang nampak kelaparan, kehausan dan diliputi kesedihan. Melihat sebuah gajah besar mendekat mereka ketakutan dan ada yang berteriak, kali ini habislah kita semua. Sang gajah rupanya mengerti bahasa manusia dan berkata, “Kalian tenanglah, jangan takut kepada saya, apa yang terjadi pada kalian semua!” Semua orang tertegun melihat gajah putih yang indah yang dapat berkata-kata layaknya manusia dan nampak sebagai makhluk yang bijaksana. Mereka berkata, “Sebuah kemarahan raja meledak dan kami diusir dari kerajaan, tak satu pun dari keluarga kami yang memberikan pertolongannya.” Sang gajah bertanya, ada berapa jumlah kalian semua. Mereka menjawab, “Sebetulnya kami ada seribu orang, akan tetapi dalam perjalanan banyak yang mati karena kesedihan, kehausan dan kelaparan. Saat kami mencapai hutan ini jumlah kami tinggal tujuh ratusan. Wahai Gajah Perkasa, tolonglah kami semua, tunjukkanlah kami di mana ada air dan makanan. Kami sangat kelaparan dan kehausan.”

Keputusan Sang Gajah

Bhakti berarti, ‘devosi penuh kasih’ atau panembahan. Ia bukanlah kepasrahan yang dipaksakan, atau keikhlasan tanpa hati. Bhakti adalah dedikasi total – dengan segenap raga, hati dan jiwa – terhadap suatu karya besar. Bhakti menuntut jiwa altruisme dan kesukarelaan yang tinggi. Dan, seva berarti ‘pelayanan’. Seva adalah ungkapan atau ekspresi dari Bhakti. Seva adalah jiwa altruisme dalam laku. Ia adalah kesukarelaan berdarah dan berdaging. Seva adalah pelayanan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan suatu imbalan. Pelayanan yang diadakan dengan semangat devosi penuh kasih atau panembahan, itulah seva.” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Gajah merenung dalam-dalam, tersentuh hatinya melihat makhluk yang nampak sedang putus asa. Sang Gajah menimbang-nimbang makanan apa yang bisa mengenyangkan tujuh ratus manusia. Dia tahu hutan tersebut hanya cocok bagi kehidupan gajah, tak ada makanan yang cocok bagi manusia. Haruskah tujuh ratus nyawa mengalami kematian sia-sia. Harapan mereka hanya pada dia. Yang mengetahui seluk beluk hutan di wilayahnya. Masalah air tak mengapa, ada sebuah telaga kecil yang airnya cukup menghilangkan haus mereka. Akan tetapi berapa lama mereka bisa mempertahankan hidup mereka. Mereka adalah tamu saya. Mereka datang ke wilayah kedaulatan saya. Haruskah saya membiarkan mereka mati kelaparan di sini? Tubuh saya ini tidak abadi. Sudah ratusan penyakit datang dan pergi. Beberapa tahun lagi saya juga akan mati. Di antara tujuh ratus manusia sebagian besar masih muda usia. Kehidupan mereka sangat berguna bagi dunia. Bila mereka selamat, mereka akan berkesempatan menurunkan generasi berikutnya. Demikian terjadi seterusnya. Apakah nilai satu tubuh hewannya yang sudah tua dibandingkan mereka dan keturunannya?

Sang Gajah kemudian berkata, “Saya akan menunjukkan jalan keluar, tetapi tolong direnungkan lebih dahulu. Manusia bebas untuk melakukan apa saja, menciptakan apa saja namun tidak bebas dari konsekuensi tindakannya. Bertindak dan berpikirlah selaras dengan alam semesta. Baiklah sekarang usahakan menempuh arah yang saya tunjukkan. Dari tempat ini ada jalan menurun dan di kaki bukit sebuah telaga akan kalian temukan. Beristirahatlah di sana dan hilangkan haus kalian dengan air telaga. Setelah itu teruskan perjalanan sesuai arah yang kutunjukkan. Bangkai gajah yang terjatuh dari tebing akan kalian temukan. Makanlah daging gajah tersebut untuk  menghilangkan lapar kalian. Simpanlah beberapa dagingnya untuk bekal di jalan. Kemudian untuk menyimpan air kulitnya dapat kau gunakan. Dan teruslah berjalan seperti arah yang kutunjukkan. Kalian akan melewati gurun kecil dan akan sampai di daerah pertanian. Ada beberapa orang di sana yang hidup sederhana. Mereka akan suka menerima kalian tinggal di sana. Semoga kalian semua selamat tidak kurang suatu apa.”

Cinta Kasih Sang Gajah Terhadap Manusia

“Ada juga yang mencapai keadan itu dalam hidup ini. Kemudia ia menjadi Jeevan Mukta. Ia hidup di dalam dunia ini, tetapi tidak terikat dengan dunia dan keduniawian. Ialah seorang Bodhisattwa. Seorang Jeevan Mukta atau Bodhisattwa juga tidak terpengaruh oleh pendapat siapa pun tentang dirinya. Ia selalu berusaha untuk berbuat baik. Kebaikan adalah sifatnya. Seorang Jeevan Mukta atau Bodhisattwa tidak berbuat baik untuk dipuji, atau untuk memperoleh penghargaan. Karena itu, jika sebagian masyarakat  tidak memahaminya, atau malah menghujatnya, ia pun tidak terpengaruh oleh hujatan itu.” (Krishna, Anand. (2007). Sandi Sutasoma Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Setelah rombongan pergi Sang Gajah Perkasa mengambil rute berbeda dan berlari cepat sekali. Bersuka-citalah rombongan mendapatkan telaga. Mereka minum sepuas-puasnya dan mandi memulihkan tenaga. Tiba-tiba terdengar suara jatuhnya barang besar, dan tanah yang diinjak terasa bergetar.  Mereka berlarian seakan-akan telah terjadi gempa. Setelah kondisi tenang, mereka melanjutkan perjalanan dengan segera. Mereka bertemu bangkai gajah seperti yang disebutkan Sang Gajah Perkasa. Mereka mengira bangkai gajah ini pasti saudara Sang Gajah Perkasa. Tiba-tiba ada yang berteriak, “Lihat kakinya yang kuning keemasan dan lihat pula gadingnya yang lengkungannya persis sama dengan Sang Gajah Perkasa. Dia telah mengorbankan hidupnya demi kita semua. Lihat tebing di atas sana, suara benda jatuh dan gempa tadi nampaknya disebabkan dia menjatuhkan dirinya.”

Tujuh ratus orang tersebut menangis sedih dan menjatuhkan dirinya. Mereka berdoa bersama, “Kami semua sedang menghadapi kematian dan seekor Gajah Perkasa menolong kami dengan mengorbankan nyawanya. Kami semua sepakat menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga. Sang Gajah Perkasa adalah Guru Kehidupan kami semua. Mulai saat ini kami akan berusaha sekuat tenaga, tidak akan melakukan kejahatan apa saja. Akan kami sebarkan peristiwa ini agar manusia bisa meneladani Sang Gajah Perkasa.”

Setelah beberapa lama, di antara mereka ada yang mendengar dari beberapa orang bijak yang berkata, bahwa Sang Gajah Perkasa adalah seorang Bodhisattva.

Tindakan altruistis selaras dengan alam semesta. Sang Bodhisattva selalu ingin memberi dan berbagi kepada makhluk lainnya. Dia tidak menunggu orang datang padanya, dan minta pertolongannya. Dia keluar untuk bertemu orang-orang yang memerlukan bantuannya. Mereka memberi tanpa diminta. Bahkan Sang Bodhisattva rela mengorbankan nyawanya.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: