Pendidik Putra Single Parent, Teladan Kunti Sang Panembah Sejati

kunti draupadi krishna-and-pandavas sumber theindianmythology wordpress com

Ilustrasi Kunti dan Draupadi bersama Pandawa serta Krishna sumber the indianmythology wordpress com

Mengembangkan Potensi Anak

“Setiap anak lahir dengan genggaman tangan tertutup. Ia membawa takdirnya sendiri. Sebagai orangtua, hendaknya kita hanya membantu anak kita untuk mewujudkan apa yang sudah menjadi takdirnya. Dan, tidak memaksakan kehendak kita. Biarlah ia tumbuh sesuai dengan takdinya, dengan potensi dirinya.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kunti membesarkan Pandawa, putra-putranya sejak kecil sebagai single parent. Bhisma, kakek Pandawa dan Drona, Guru Pandawa memberikan pengetahuannya terhadap Pandawa. Adalah Sri Krishna keponakannya yang menjadi sumber kebijakannya dalam mengarungi kehidupan bersama Pandawa, melewati segala penderitaan dan kebahagiaan.

 

Kasih Seorang Ibu

Seorang ibu mempersiapkan jiwa dan raganya agar indung telurnya dibuahi benih yang perkasa. Selanjutnya sel telur yang telah dibuahi difasilitasi untuk berkembang dalam rahim yang kokoh tapi lembut. Janin yang berkembang dalam rahim dibawa kemanapun juga selama sembilan bulan sepuluh hari. Sang janin mulai belajar dalam rahim sang ibu bagaimana menyesuaikan diri dari benih potensi menjadi bayi manusia. Setelah sang bayi lahir, diberinya sang anak makanan dari air susunya, diajarinya bicara dengan penuh kesabaran, bahkan terus menerus didoakannya sampai akhir hayat dirinya. Demikianlah kasih seorang ibu.

Seorang penulis, pematung, penggubah lagu, bahkan setiap pekerja juga mempunyai sifat kasih seorang ibu untuk melahirkan “putra-putri” karyanya. Mereka merenung lama, memproses dalam dirinya untuk melahirkan karya-karyanya dan memolesnya agar menjadi karya yang indah, bermanfaat dan dinikmati masyarakat luas. Kasih Ibu berada dalam diri setiap manusia, setiap hewan, setiap tumbuhan, dan pada seluruh alam semesta. Melahirkan, mengungkapkan pikiran dengan tindakan, menghasilkan karya, melindungi dan memeliharanya dengan tulus, dengan penuh kasih adalah sifat kasih ibu dalam diri setiap manusia.

 

Masa Remaja Kunti

Kunti lahir bernama Pritha dan bersaudara dengan Vasudewa (ayah Krishna dan Baladewa) serta Ugrasena. Sejak kecil adianak angkat oleh Raja Kuntibhoja yang tidak punya anak. Kunti seorang putri berbudi luhur dan penuh kasih terhadap sesama. Resi Durvasa yang bertamu ke Raja Kuntibhoja berkenan dengan pelayanan Kunti dan memberinya mantra karena paham bahwa tanpa mantra tersebut Kunti akan kesulitan mempunyai putra. Remaja Kunti paham bahwa sang Surya adalah sumberkehidupan bagi dunia, tanpa sang surya tidak ada kehidupan di dunia. Kunti mencoba membaca mantra mengakses kekuatan sang Surya, dan diapun menjadi hamil. Demi menjaga nama baik ayahandanya, maka bayi tersebut dilahirkan dan diletakkan dalam keranjang dan dihanyutkan pada Sungai Gangga. Kunti paham akan hukum sebab-akibat sehingga dia lebih dekat dengan ilahi untuk mempersiapkan karma yang akan menimpanya.

Dalam sebuah sayembara Kunti menjadi istri Pandu, Raja Hastina. Shakuni melihat Pandu sakit-sakitan dan agar keluarganya berantakan minta Bhisma menjodohkan Pandu dengan Madri dengan alasan Kunti belum berputra. Menyadari konspirasi Shakuni, Kunti menyampaikan kepada Pandu pentingnya mempunyai putra dan adanya mantra Resi Durvasa yang dapat membantu mereka. Akhirnya lahirlah Yudhisthira, Bhima dan Arjuna. Kunti juga memberikan mantra kepada Madri dan lahirlah Nakula dan Sadewa. Ketika Pandu meninggal, para resi minta Kunti membesarkan 5 putra Pandu karena Madri ikut Pandu dalam pembakaran jenazah.

Kunti mendidik Pandawa dengan baik, dan melihat nuansa iri Kurawa dan Shakuni terhadap Pandawa. Mengalami banyak penderitaan kala mendampingi Pandawa, Kunti sempat merasa bahwa akibat dari tindakan membuang putra sudah mulai datang. Kunti semakin dekat dengan Ilahi dan akhirnya yakin bahwa Sri Krishna, keponakannya, putra Vasudeva adalah Sang Ilahi yang mewujud. Kunti pasrah segalanya terhadap Sri Krishna.

 

Menjelang Perang Bharatayudha

Sebelum perang Bharatayudha, Kunti menemui Karna yang sedang melakukan puja kepada Sang Surya yang mulai tenggelam. Kunti menjelaskan siapa sejatinya Karna dan mohon maaf telah membuang Karna sejak masih bayi yang menyebabkan hidup Karna terlunta-lunta.

Karna menyampaikan bahwa dia telah paham dan merasa bahwa apa yang dialaminya adalah buah karma yang telah diperbuatnya di kehidupan masa lalu. Karna menyampaikan apa yang belum pernah disampaikan kepada orang lain, bahwa dia telah berupaya berbuat baik akan tetapi ada kecenderungan jahat dalam dirinya yang sering mengganggunya. Kecenderungan jahat tersebut mengalahkan niat baik dan membuat dia menjadi jahat.

“Beda orang, beda isting hewani yang tersisa, dan beda pula stimulus yang dapat membangkitkan keliaran dalam dirinya. Kelemahan adalah kelemahan. Apakah itu kecanduan, ketergantungan pada obat-obatan, seks, makanan, rokok atau apa saja. Yang satu terpeleset karena kulit pisang. Yang satu lagi terpeleset karena kulit mangga, atau hanya karena lantainya licin. Mereka semua sama-sama jatuh. Tidak perlu membeda-bedakan antara kulit pisang, kulit mangga, dan lantai yang licin. Seseorang yang kelemahannya makan berlebihan tidak perlu mengkritik orang lain yang kelemahannya menelan pil ekstase. Dua-duanya sama lemah. Untuk itu, dengan penuh kesadaran, keadaan, tempat, atau individu yang dapat menjadi umpan dan memancing insting hewani dalam diri perlu dihindari.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Karna berkata, “Ibunda tidak usah menyesal membuang ananda sewaktu bayi, ibunda hanya alat-Nya untuk menyelesaikan karma-karma masa lalu ananda. Justru ananda bangga punya ibu seorang putri raja dan ayah Dewa Surya serta bersaudara kandung dengan para ksatria Pandawa. Ananda hanya mohon berkah ibunda bahwa ananda akan melakukan kebaikan terakhir membalas budi Duryodhana yang telah mengangkat derajat ananda. Ananda tidak akan membunuh para Pandawa, kecuali Arjuna yang memang setara dengan kesaktian ananda.”

Ketika kedua putranya, Arjuna dan Karna berperang tanding mewakili dua belah pihak dalam perang Bharatayuda, Dewi Kunti masuk ke dalam tenda perang dan mengheningkan cipta, “Aku telah serahkan semuanya kepada Sri Krishna. Kalau ini merupakan pembayaran karmaku, aku terima Krishna. Aku pasrah terhadap-Mu!”

Walaupun demikian air matanya meleleh sedih saat mendengar Karna mati terpanah Arjuna. Dan kesedihan tersebut masih membekas saat Perang Bharatayudha berakhir. Peristiwa Ashvattama membunuh cucu-cunya menambah kesedihan hatinya. Akan tetapi justru setiap badai kesedihan menerpa, Kunti semakin mendekatkan diri pada Ilahi.

 

Kepergian Krishna ke Dvaraka

Beberapa bulan setelah kelahiran Parikesit, Sri Krishna akan kembali ke Dvaraka. Malam hari menjelang berangkat, Kunti menemui Krishna dan bersujud pada kaki Krishna. Krishna segera mengangkat kedua bahu bibinya dan tampaklah kedua mata Kunti mengalirkan air mata.

“Wahai Janardhana, putra Kanda Vasudeva, bibi ini adalah wanita yang bodoh, tidak mengerti Veda, akan tetapi bibi memahami Kebenaran bahwa Engku adalah Ishvara, Ilahi yang mewujud. Engkau telah menyelamatkan Pandawa berkali-kali. Engkau tahu Karna adalah ksatria unggulan tetapi belum selaras dengan dharma yang menjadi karakter Pandawa. Engkau biarkan Karna mati untuk menjunjung kekesatriaanya. Aku tahu bahwa Draupadi yang dipermalukan Kurawa di arena judi telah diselamatkan karena menyebut namaMu. Engkau lahir untuk meringankan beban bunda bumi yang berat karena adharma merajalela. Krishna ijinkan bibi minta anugerah kesulitan, karena dalam kesulitan bibi selalu ingat padaMu!”

Nampaknya sudah begitu lama, genangan air bah kegelisahan yang ingin disampaikan kepada Sri Krishna terbendung oleh perasaan sungkan, dan kini saluran pengelak telah terbuka lebar dan tumpahlah banjir perasaan ke hadapan Sri Krishna. Kunti tidak sadar bahwa Pandawa memperhatikan dirinya dari jauh.

“Wahai Madhusudhana, seperti Gangga yang senantiasa mengalir ke samudera tanpa hambatan, biarkan hati bibi ditarik olehMu tanpa dibelokkan ke yang lain. Bantulah bibi memutuskan keterikatan bibi terhadap anak-anak dan keluarga. Anggapan bahwa ini adalah anak-anak bibi, keluarga bibi, dinasti bibi, bahwa bibi telah melakukan semua kebajikan, ini semua adalah gelombang ilusi agar bibi tidak bisa mencintaiMu. Biarkan bibi mencintai mereka hanya karena mereka adalah bagian dari KasihMu!”

“Semoga demikian, Bibi!”

 

Akhir Kisah Kunti

Beberapa bulan setelah kepergian Krishna, Kunti memanggil Pandawa dan Draupadi. “Wahai putra-putra dan menantuku, kalian telah berhasil menegakkan dharma. Parikesit, penerus Dinasti Bharata juga sudah lahir dengan selamat. Aku telah menjalankan peran mendampingi kalian saat-saat kalian menderita, disaat seorang ibu diperlukan untuk membangkitkan semangat putra-putranya yang sedang ditimpa kemalangan. Swadharmaku sebagai seorang ibu telah terselesaikan berkat kasih dan anugerah Sri Krishna. Aku juga seorang manusia yang mempunyai tujuan pribadi untuk bersatu dengan Keilahian. Apabila nanti aku pergi jangan dicari, doakan aku dapat menyatu dengan Diri Sejati!”

Beberapa hari kemudian Kunti menghilang dan sesuai pesannya dia tidak dicari lagi. Kunti menghabiskan sisa hidupnya untuk selalu mengingat Hyang Widhi di hutan dekat Gendari dan Dhristarastra menyepi.

“Masa Sanyas merupakan masa terakhir, masa akhir hidup manusia. Dalam masa ini, seorang sanyas — ia yang telah memasuki masa sanyas — melepaskan segala macam “keterikatan” duniawi. Ia tidak lagi membedakan antara anak kandung, anak saudara, anak orang lain, bahkan antara manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya. Lepas dari keterikatan tidak berarti ia bersikap tidak peduli terhadap dunia. Tidak. Ia justru menjadi sangat peduli terhadap dunia, dan menggunakan sisa hidupnya untuk melayani semua……. Seorang sanyasi atau sadhu boleh tetap berada di dalam lingkungan ashram, boleh juga mengembara dan memutuskan untuk tidak tinggal di satu tempat. Ia membiasakan diri untuk hldup sendiri tanpa keterikatan dan ketergantungan apa pun, sehingga ketika saatnya tiba untuk meninggalkan dunia ini ia tidak mcngaduh. Ia tidak menyesali sesuatu. Ia sudah menjalankan hidupnya dengan baik dan utuh, dan tidak ada lagi keinginan untuk bertahan hidup jika memang saatnya untuk berpulang sudah tiba.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: