Kematian Subali: Memilih Mati Terbunuh Rama daripada Disembuhkan Kembali

Subali Sugriva dan Rama sumber solusipse edublogs org

Ilustrasi Subali terpanah oleh Rama sumber solusipse edublogs org

Makna Kehidupan

“Tujuan hidup ini apa? Lahir, dibesarkan oleh orang tua, meraih pendidikan, bekerja, bekerluarga, banting tulang bagi orang lain, lantas pada suatu hari ajal tiba dan Malaikat Maut datang menjemput kita. Apakah hidup ini bertujuan? Anda boleh-boleh saja menetapkan tujuan-tujuan ilusif. Anda boleh-boleh saja membayangkan suatu tujuan. Setiap tujuan yang Anda bayangkan, tanpa kecuali, pada akhirnya toh akan mengantar Anda ke liang kubur. Rabiah tidak berbicara tentang tujuan. Ia sedang memberikan “makna” pada kehidupannya. Pada saat kita lahir, Keberadaan Allah Yang Maha Kuasa memberikan selembar kertas kehidupan yang masih kosong. Apa yang akan Anda tulis di atas kertas ini sepenuhnya menjadi pilihan Anda. Anda bisa saja memilih untuk tidak menulis sesuatu apa pun. Anda bisa saja membiarkan lembaran itu tetap kosong. Anda bisa juga mengisinya dengan coretan-coretan yang tidak berguna. Ramai, tetapi tidak berarti sama sekali. Anda bisa mengisi kehidupan Anda dengan selusin mobil, setengah lusin rumah, sekian banyak deposito, beberapa anak dan sebaiknya dan sebagainya. Anda bisa pula mengisinya dengan beberapa ijazah, beberapa penghargaan, jabatan-jabatan tinggi dan sebagainya dan sebagainya. Rabiah sedang mengisi lembaran kehidupannya dengan Cinta, dengan Kasih Allah. Ia memenuhi lembaran kehidupannya dengan kasih Allah. Ia tidak menyisihkan sedikitpun tempat untuk sesuatu yang lain, di luar Allah.” (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Saat Rama dan Laksmana mencari jejak Sita, Hanuman menemui mereka. Dari perkenalan tersebut, Hanuman tahu bahwa Rama adalah Maharaja yang wilayahnya termasuk Kiskindha. Hanuman menceritakan tentang pamannya Sugriva yang karena salah paham dizalimi oleh Subali kakak Sugriva sendiri. Hanuman mengungkpakan bahwa pasukan kera di hutan Kiskindha dapat membantu Rama menemukan jejak Sita. Dengan dipanggul Hanuman, Rama dan Laksmana dibawa menuju puncak gunung di mana Sugriva berada.

Agnihotra

Seperti air, udara dan matahari, api juga diciptakan api untuk kepentingan kita semua. Kita tidak bisa hidup tanpa api yang memberi kita panas. Karena api menghancurkan kotoran dari segala sesuatu, maka api melambangkan kesucian. Dikisahkan bahwa Sri Rama dan Sri Krishna melakukan persembahan agni hotra setiap hari. Api adalah materi dan spirit. Api mengintegrasikan sumber daya manusia dengan spiritual.

Sugriva menceritakan permasalahannya yang membuat Rama tersentuh dan mereka mengadakan ritual persahabatan dengan saksi api suci agnihotra. Rama akan membantu Sugriva, sedangkan Sugriva akan membantu Rama menemukan Sita. Api suci adalah cahaya dalam diri setiap makhluk. Api agnihotra dalam diri akan membakar keragu-raguan. Rama tidak ragu-ragu membantu Sugriva dan demikian pula Sugriva tidak ragu-ragu membantu Rama.

Menurut Sai Baba, agni adalah cahaya suci yang merupakan inti kisah Ramayana. Rama dan saudara-saudaranya lahir karena ritual agnihotra yang dilakukan Dasaratha. Rama dan Sita nikah dengan saksi agnihotra, sehingga tidak ada keragu-raguan di antara mereka. Sita memilih mati daripada dipaksa kawin dengan Rahvana. Rahvana sendiri tidak berani memperkosa Sita, karena dia pernah memperkosa istri Nalakubara yang kemudian mengutuk bahwa kepala Rahvana akan hancur berkeping-keping bila memperkosa wanita lagi. Agnihotra telah menyelamatkan kesucian Sita. Hanuman sebagai duta Rama juga mengingatkan Rahvana agar mengembalikan Sita dengan membakar sebagian istana Alengka. Untuk membuktikan kesucian Sita selama disandera Rahvana, Sita juga selamat dari api pembakaran. Hati Rama selalu dimurnikan setiap kontak dengan api. Rama adalah symbol “jnana”, api kebijaksanaan dalam diri. Sugriva menceritakan pada suatu ketika di atas gunung dia melihat pesawat Puspaka terbang ke timur dengan teriakan seorang wanita yang menyebut, “Rama, Rama!” dan kemudian wanita tersebut melemparkan bungkusan kain ke bawah. Sugriva kemudian menyerahkan bungkusan tersebut kepada Rama. Rama mengenali bahwa kain tersebut adalah kain pemberian Ibu Kaikeyi ketika Sita ikut menjalani pengasingan dan isinya adalah perhiasan Sita.

“Ritual ini dimaksudkan untuk sadhaka – pencari spiritual, aspiran asli, dan praktisi setia. Ini bukan latihan mental atau intelektual untuk memuaskan rasa ingin tahu Anda. Agnihotra merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dari Jalan “Yoga of Life”, yang berakar dalam Nilai Hindu. Hal ini, memang, sangat disayangkan bahwa tradisi suci ini tidak dipahami dengan benar. Selain itu, hari ini, kita hidup di dunia yang dipenuhi para Pembelajar Profesional. Saya telah melihat dan bertemu dengan orang-orang yang menghabiskan seluruh energi mereka, waktu, dan uang untuk belajar ‘sesuatu yang baru’. Dengan demikian, mereka tidak lagi memiliki waktu untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari.” (Krishna, Anand. Kutipan Terjemahan dari Program Agnihotra. Anand Ashram Ubud)

Kisah Sugriva dan Subali

Pada suatu saat Brahma menciptakan wujud kera yang perkasa agar beranak-pinak di dunia. Kera tersebut dinamai Ruksharaja karena mempunyai kekuatan luar biasa akan tetapi belum seimbang antara pikiran dan tindakannya. Kera tersebut diminta bertapa di sebuah telaga dan diminta membunuh raksasa dan menyelamatkan suatu wilayah dari kejahatan para raksasa. Saat kera tersebut melihat bayangan wajahnya di permukaan telaga, dia menganggap itu adalah wujud raksasa karena dia belum menyadari wajahnya sendiri. Kera tersebut segera menceburkan diri ke air untuk membunuh “musuhnya”. Akan tetapi ternyata dia berubah wujudnya menjadi kera betina. Sang kera kemudian mohon kepada Indra mohon karunia dan lahirlah Subali. Dia juga melihat Sang Surya dan memohon karunia sehingga lahirlah Sugriva. Setelah melahirkan, dia kembali berubah wujud menjadi Ruksharaja dan membawa putra-putranya kepada Brahma. Brahma berkata kepada Subali dan Sugriva agar menetap di Kishkinda. Akan datang saatnya kalian menemui Sang Pemelihara Alam yang mewujud sebagai putra Raja Dasaratha. Dengarkan Dia berbicara dan kalian akan terberkati!”

Pada suatu hari Raksasa Mayavi menantang bertarung untuk membalaskan dendam kematian adiknya oleh Subali. Setelah bertarung beberapa lama Mayavi lari masuk ke dalam gua dan Subali serta Sugriva mengejarnya.  Subali berkata agar Sugriva menjaga di luar gua, agar Mayavi tidak bias melarikan diri dan bila sudah 2 minggu dia tidak keluar agar gua ditutup batu besar, mungkin dia sudah terbunuh oleh Mayavi. Sugriva menunggu sampai 30 hari dan membaui darah anyir yang menyengat, menganggap kakaknya mati dia menutup gua dengan batu besar dan kembali ke Kiskindha. Para petinggi kera minta dia menjadi raja kera menggantikan Subali dan akhirnya dia menerimanya.

Ternyata Subali tidak mati dan menganggap Sugriva berkhianat. Subali tidak mau mendengarkan alasan Sugriva. Terjadilah pertarungan dan Sugriva kalah dan melarikan diri. Para kera yang tidak mau di bawah perintahnya ikut diusir, sedangkan istri Sugriva tidak boleh pergi dan dipaksa menjadi istrinya.

Perkelahian Ulang Sugriva dan Subali

Sugriva melihat kemampuan Rama dan ingat pesan Brahma untuk mendengarkan Rama. “Paduka Rama, tadinya hamba begitu membenci Subali, akan tetapi justru karena hamba tinggal di puncak gunung hamba bisa bertemu dan berbicara dengan Paduka yang merupakan Wujud Ilahi untuk membimbing makhluk dan membinasakan adharma. Bersujud pada kaki Paduka, hamba merasa bahwa istri dan istana tidak ada artinya dibanding kesempatan melayani Paduka!” Rama tetap meminta Sugriva menegakkan dharma dengan mengajak bertarung dengan Subali.

Sugriva bertarung dengan Subali dan Sugriva kalah dengan luka parah sehingga melarikan diri. Sugriva protes dengan Rama mengapa tidak membantu, seorang avatar pasti bisa membedakan mana Subali dan mana Sugriva, walau mereka kembar. Rama tersenyum dan mengusap luka-luka Sugriva yang langsung sembuh. Sekarang pakailah karangan bunga dan mengajak berkelahi lagi. Tadi Aku berbuat demikian agar kau tidak hanya bertarung dan menggantungkan diri sepenuhnya padaKu. Sugriva patuh pada kata Rama dan kembali bertarung dengan Subali. Rama kemudian memanah Subali dan Subali luka parah terkena panah Rama di dadanya.

Pertanyaan Subali kepada Rama

Subali bertanya, “Wahai Paduka Rama, mengapa paduka memanah hamba tanpa berkata lebih dahulu kepada hamba. Sesuai pesan Brahma, kami tahu bahwa apa yang paduka lakukan adalah kebenaran. Kami hanya mohon petunjuk apakah salah hamba sehingga hamba paduka panah tanpa memberitahu hamba terlebih dahulu, padahal hamba tidak punya permasalahan dengan paduka?”

Rama menjawab, “Sugriva kau suruh menutup gua setelah lima belas hari dan dia bahkan menutup setelah tiga puluh hari. Sugriva menjadi raja atas desakan para petinggi kera agar Kishkinda mempunyai pemimpin. Kemudian istri Sugriva tidak boleh ikut Sugriva dan kau ambil sebagai istri. Subali engkau adalah seorang kera yang sakti, Rahvana pun takut padamu, akan tetapi kau membiarkan pesawat Rahwana lewat di tempatmu padahal Sita berteriak minta tolong. Mengapa kau tidak meneladani Jatayu yang mencoba menghentikan penculikan Rahvana sampai mengorbankan nyawa?”

Subali sadar akan kesalahannya. Saat Rama bertanya apakah Subali mau Rama menyembuhkan luka akibat anak panahnya dan mengembalikan hidupnya, serta Subali tidak akan mengalami uzur dan ketuaan. Subali menangis penuh haru. Subali minta Sugriva memanggil Tara, istrinya dan Angada, putranya. Subali minta Sugriva merawat Tara dan Anggada dan menjadi Raja Kishkinda. Kepada Rama, Subali berkata, “Paduka Rama, kumpulan karma yang telah hamba lakukan telah terselesaikan, untuk apa hamba hidup lebih panjang dengan resiko jatuh kesadaran setiap saat. Untuk apa tidak mengalami uzur dan menjadi raja bila dihadapkan ancaman jatuh ke kesadaran lebih rendah. Mati di tangan Paduka, seorang avatara akan membuat tugas kami di dunia yang penuh perangkap maya ini selesai. Apakah ada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada hal ini. Aku siap mati. Om Sri Sai Rama, Om Sri Sai Rama….” Subali menutup mata, hanya ingat dan menyebut nama Sri Rama sampai menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia.

“Hidup dalam rahim ibu selama lebih dari sembilan bulan, hidup dalam kegelapan itu, merupakan pengalaman yang tidak pernah pernah terlupakan oleh manusia. Setelah dilahirkan sampai ajal tiba, hidup manusia sebenarnya merupakan proses pencarian yang panjang. Apa pula yang dicarinya, kalau bukan kegelapan itu? Kenapa demikian? Karena, dalam kegelapan itu, ia pernah merasa begitu aman, begitu nyaman. Dalam kegelapan itu, ia merasakan kehangatan kasih ibu. Dalam kegelapan dan keheningan itu, ia pernah merasa begitu tenang, begitu tenteram, begitu damai, begitu bahagia. Sepanjang umur, ia mencari kebahagiaan seperti yang pernah dialaminya dulu. Apabila, sampai saat ini pun ia belum berhasil memperolehnya, itu karena pencarian dia selama ini salah. Ia menerangi kehidupannya dan ingin mendapatkan kebahagiaan lewat cahaya. Ia tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan lewat cahaya. Ia tidak akan pernah bisa mendapatkannya, karena kebahagiaan berasal dari kegelapan. Kegelapan berarti keheningan. Kegelapan berarti kasunyatan. Kegelapan berarti kesadaran akan jati diri Anda. Selama Anda mencarinya di luar, Anda tidak akan pernah mendapatkannya. Memang cahaya dapat membuat hidup Anda sedikit lebih nyaman, tetapi hanya itu saja. Tidak lebih dari itu. Carilah kebahagiaan dalam kegelapan dan keheningan jiwa Anda sendiri. Sesekali waktu, pejamkan mata Anda dan rasakan betapa indahnya kegelapan itu. Apa yang terjadi, sewaktu Anda berada dalam keadaan tidur? Anda diselimuti oleh kegelapan dan esoknya Anda begitu segar. Kegelapan akan menyegarkan jiwa Anda. Kegelapan akan menyegarkan batin Anda.” (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: