Kisah Bodhisattva: Rusa Sarabha dan Raja yang Berhenti Berburu dan Menyembelih Hewan

borobudur saraba 2 sumber borobudur tv Jataka_25

Ilustrasi Rusa sarabha pada relief Candi Borobudur sumber borobudur tv

Jika Tak Mau Dilukai, Jangan Melukai Orang Lain

“Kemanusiaan adalah percikan kasih Gusti Pangeran yang ada di dalam diri setiap manusia. Apakah kau sudah bertindak sesuai dengan kodratmu sebagai manusia? Jika kita sudah bertindak sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia, maka kita sudah menjalani kehendakNya. Apa arti kemanusiaan bagi kita? Kemanusiaan adalah kesadaran bahwa apa yang kau inginkan bagi dirimu juga diinginkan oleh orang lain bagi dirinya. Jika kau ingin bahagia, maka orang lain pun ingin bahagia. Jika kau ingin sehat, maka orang lain pun ingin sehat. Jika kau ingin aman, maka orang lain pun ingin aman. Jika kau tidak mau dilukai, maka orang lain pun demikian. Jika kau tidak mau ditipu, maka orang lain pun tidak mau ditipu. Jika kau tidak mau disembelih, dimasak, dan disajikan di atas piring; jika kau tidak mau dagingmu dijual dengan harga kiloan; jika kau tidak mau jeroanmu dipanggang atau digoreng; maka janganlah engkau menyembelih sesama makhlukNya. Menyembelih sesama makhluk hidup bukanlah tindakan yang memuliakan. Bagaimana kau bisa mengagungkan Hyang Maha Agung dengan mengorbankan ciptaanNya?” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Rusa Sarabha

Adalah seekor rusa besar yang disebut Sarabha yang diyakini sebagai wujud dari Bodhisattva. Badannya sebesar gajah dewasa, tanduknya yang indah lebih besar daripada tanduk banteng, sehingga tidak ada satupun margasatwa yang berani mengganggunya. Larinya sangat cepat sehingga kuda liar pun tak bisa menyamainya. Kulitnya sangat indah seperti emas, dan tindakannya sangat bijaksana sehingga semua hewan menghormati dan selalu mendengarkan nasehatnya. Di hutan yang belum pernah terjamah manusia dia tinggal dengan penuh kebahagiaan bersama hewan lainnya. Dia hanya makan rumput dan dedaunan dan tidak pernah membunuh hewan lain.

Pada suatu hari seorang raja berburu dengan didampingi beberapa pengawalnya ke hutan tersebut. Melihat rusa yang besar, timbul semangat sang raja untuk memburu rusa tersebut. Rusa tersebut lari dengan sangat kencang dan sang raja mengejarnya dengan naik kuda sambil mempersiapkan anak panahnya. Begitu kencangnya lari sang kuda, sehingga para pengawalnya tidak dapat mengejarnya. Sang raja terus mengejar rusa yang sedang lari cepat dan para pengawalnya kehilangan jejak.

Sang Raja Terperosok ke Dalam Lubang

Rusa tersebut sebenarnya dapat melawan sang raja, akan tetapi dia tidak suka menggunakan kekerasan, kalau bisa selamat tanpa melukai makhluk lain mengapa harus melakukan kekerasan? Dengan lincahnya sang rusa lari sambil mengubah-ubah arah sehingga sang raja kewalahan dalam mengendalikan kudanya. Pada suatu saat sang rusa melompati sebuah lubang besar dan kabur dengan mudah. Kuda sang raja kaget melihat lubang di depannya, merasa tidak sanggup melompati lubang tersebut, dia berusaha mengerem dan sang raja terpelanting jatuh ke dalam lubang. Sang kuda kebingungan dan sang raja memberi isyarat agar kuda tersebut menunggunya di dekat tempat tersebut.

Luka sang raja tidak begitu parah, akan tetapi dia tidak bisa keluar dari lubang tersebut. Pakaiannya lusuh, rompi bajanya kotor dan rasa putus asa menyelinapi sang raja. Sang raja berupaya berteriak akan tetapi suaranya terserap hutan yang rimbun dan tidak ada seorang pengawal yang mendengarnya. Sang raja teringat bahwa dia dan para pengawalnya sering menemukan hewan buruan terperosok ke dalam lubang kala diburu dan sambil ketawa-ketawa para pengawalnya membunuh hewan tersebut. Kini kondisinya kebalikannya terjadi.

Pertolongan Sang Rusa

Sang rusa merasa bahwa sang raja tidak mengejarnya lagi dan bisa beristirahat dengan tenang. Akan tetapi , kemudian dia teringat bahwa dia baru saja melompati jurang dan tidak mungkin kuda dapat melompati lubang tersebut. Sang rusa merasa bahwa sang raja telah terperangkap masuk jurang, mungkin dengan kudanya. Sang rusa kemudian kembali ke tempat tersebut dan melihat sang kuda sedang makan rumput di dekat tempat tersebut. Kemudian sang rusa melongok ke dalam lubang tersebut.

Sang rusa bertanya kepada sang raja, “Apakah Tuanku terluka, atau ada tulang yang patah? Tuanku tidak perlu khawatir, hamba bisa membantu Tuanku keluar dari lubang ini. Kuda Tuanku setia menunggu di dekat sini!”

Sang raja terkejut mendengar ada rusa besar yang dapat berbicara layaknya manusia, “Wahai Rusa, aku memang bingung dan putus asa karena tidak bisa keluar dari lubang yang dalam ini. Luka tubuhku tidak begitu parah, akan tetapi nuraniku sangat terluka, kala mendengar Engkau akan menolongku. Aku tadi mengejarmu untuk membunuh dirimu, akan tetapi Engkau bahkan bersedia menolongku. Aku tidak bisa mempercayai kenyataan ini. Aku kehabisan kata-kata, ternyata aku telah membuat kesalahan besar. Aku tidak pernah merasa kasihan terhadap hewan buruan yang kupanah, yang disembelih para pengawalku untuk dipanggang dan dimakan bersama dengan penuh kesenangan. Tapi kata-katamu membuat aku berpikir ulang. Sudah benarkah tindakanku selama ini?”

Sang rusa kemudian turun ke dalam lubang dan meminta sang raja memegang punggung sang rusa dengan erat dan kemudian sang rusa tersebut melompat keluar dari lubang. Sang rusa tampak bahagia dapat menolong sang raja dan pamit akan masuk hutan lagi. Melihat rona kebahagiaan pada wajah sang raja, sang rusa ikut berbahagia.

Pelajaran bagi Sang Raja

Sang raja berkata, “Wahai Rusa yang bijaksana di hutan ini ada kemungkinan Engkau akan dikejar oleh para pemburu, mengapa tidak ikut kami ke istana? Adalah tidak bijak membiarkan rusa yang telah menolongku dalam ancaman bahaya oleh pemburu. Kuminta Engkau akan tinggal di taman yang indah dan segala keperluanmu akan aku cukupi!”

Sang rusa menjawab, “Wahai raja setiap makhluk mempunyai lingkungan yang selaras dengan dirinya. Adalah lebih bijaksana bila paduka raja melarang  masyarakat untuk berburu. Jangan menyenangkan diri dengan melukai dan membuat tidak senang makhluk lain.”

“Berpikirlah sejenak: Anda mempunyai binatang-binatang piaraaan di rumah. Anda mempunyai burung yang di sangkar. Anda mempunyai anjing yang dirantai. Anda mempunyai kucing yang kelebihan makan, sehingga nampak dungu. Anda menyebut ini Cinta Kasih? Tidak. Anda terikat pada tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan, kekerasan. Merebut kebebasan bergerak, berpikir, berkata adalah tindakan kekerasan.” (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengkonsumsi Daging Hewan

Sang raja tersentuh dan kemudian bertanya, “Apakah hewan suka diburu dan disembelih manusia? Apakah dia suka dagingnya dikonsumsi manusia? Selama ini aku selalu ragu akan hal tersebut, tetapi aku selalu mencari pembenaran dan mengabaikan perasaan hewan. Engkau telah menyadarkan diriku!”

Sang rusa menjawab, “Wahai Raja, semuanya tergantung pada tingkat kesadaran seseorang. Bila seseorang merasa benar sendiri dan memuaskan diri sendiri dengan berbagai alasan, maka dia masih berada dalam lapisan kesadaran nafsu atau seks yang hanya ingin memuaskan diri sendiri.”

“Nafsu dan kasih, keduanya ialah manifestasi kama. Ketika kamu terobsesi dengan kemakmuran personal, kemakmuran keluarga, komunitasmu, lembagamu, ini mu dan itu mu – maka kamu menjadi penuh nafsu. Nafsu selalu egois dan mementingkan diri sendiri. Ia tak tahu bahasa tanpa pamrih. Kasih, di sisi lain, tahu bahasa tanpa pamrih. Ia dapat berkarya untuk keuntungan semua, untuk kemakmuran semua, untuk kebaikan semua, untuk kemajuan dan pertumbuhan semua. Kasih adalah ketika kita sungguh memahami semangat di balik kata-kata, ‘Satu untuk Semua, Semua untuk Satu.’ Di antara nafsu dan kasih ialah tangga cinta. Dalam nafsu, kamu adalah kamu, dan aku adalah aku. Nafsu itu individualistik. Cinta ialah persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan. Cinta ialah persatuan kamu dan aku. Cinta ialah perjumpaan individualitas kita yang tadinya berjarak. Cinta adalah di mana kita bertemu. Cinta adalah di mana aku untuk kamu, dan kamu untuk aku. Mari kita ringkas: Nafsu adalah Kamu adalah Kamu, dan Aku adalah Aku, Nafsu adalah mengambil, mengambil, dan mengambil; Cinta adalah Kamu dan Aku. Saling memberi dan menerima; Kasih adalah Semua, Semua, Semua. Ini adalah memberi, memberi, memberi. (Krishna, Anand. (2009). Dari Nafsu Menjadi Kasih. Sumber Aumkar.org) Silakan baca: http://triwidodo.wordpress.com/2009/09/08/dari-nafsu-menuju-kasih/

Sang rusa melanjutkan, “Apabila Tuanku sudah jenuh mengalami suka-duka dunia dan ingin lepas dari sistem dunia, maka janganlah mengkonsumsi daging hewan kecuali dalam keadaan darurat, tidak ada yang lain untuk mempertahankan kehidupan. Bagaimana pun, bagi keluarga paduka yang biasa mengkonsumsi daging hewan, paduka tetap akan sulit menjelaskan.  Manusia tidak senang jika dagingnya disayat, diberi bumbu dan dimakan makhluk lain, akan tetapi dia menganggap biasa menyayat daging hewan dan memanggangnya setelah dilumuri bumbu. Masing-masing pilihan mempunyai konsekuensi masing-masing…..” Setelah berkata demikian sang Bodhisattva kemudian kembali masuk ke dalam hutan.

Dua Upaya Sang Raja

Sang raja termenung lama, “Sanggupkah aku menyampaikan kepada keluarga dan rakyatku untuk tidak makan daging? Yang jelas aku akan melarang masyarakat berburu hewan! Aku mulai tidak makan daging, semoga demikian pula keluargaku! Aku akan sampaikan pesan Rusa Yang Bijak tentang kepedulian dan kasih sayang tak bersyarat dan tak terbatas kepada semua makhluk hidup. Aku tidak akan memikirkan kepentingan dan keuntungan diri sendiri, tetapi juga memikirkan kebaikan masyarakat luas, kepentingan sesama makhluk hidup.”

Bagi sang raja, kepedulian dan kasih sayang tak bersyarat dan tak terbatas kepada semua makhluk hidup berarti tidak makan daging hewan. Kemudian sang raja juga belajar dari tindakan Rusa Yang Bijak untuk selalu bahagia melihat orang lain bahagia, tidak cemburu bila diri menderita dan orang lain berbahagia.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

One Response to “Kisah Bodhisattva: Rusa Sarabha dan Raja yang Berhenti Berburu dan Menyembelih Hewan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: