Karma Dhristarastra: Menjadi Buta dan Semua Putranya Terbunuh

Dhritarasthra_Gandhari sumber uthkarshspeak bogspot com

Ilustrasi Dhristarastra dan Gandhari sumber uthkarshspeak blogspot com

Kisah Kebutaan Dhristarastra

“Hubungan-hubungan kita dalam hidup ini sangat erat kaitannya dengan hubungan-hubungan kita di masa lalu. Suka dan duka yang kualami dalam hidup ini adalah akibat dari perbuatanku di masa lalu. Karena itu, aku tidak perlu menyalahkan siapa-siapa atas penderitaanku. Kesadaran seperti ini muncul ketika kita memahami Hukum Alam yang paling penting, yaitu Hukum Sebab-Akibat, Hukum Aksi-Reaksi – Hukum Karma.” (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setelah perang Mahabharata usai, Dhristarastra merasa kecewa karena dia buta maka dia memanjakan putra-putranya, dan akhirnya seratus putranya meninggal dalam perang bharatayuda. Dhristarastra bertanya kepada Krishna, mengapa nasibnya demikian buruk? Krishna meminta Dhristarastra mengheningkan cipta, dan Krishna membantu Dhristarastra melihat gambaran masa lalunya. Dhristarastra melihat seorang pangeran tampan yang angkuh, dan dia merasa bahwa itulah dia pada kehidupan masa lalunya. Dia melihat sang pangeran memperhatikan sepasang burung dan menjerat keduanya dan kemudian membutakan mata sepasang burung tersebut. Bukan hanya itu, diapun membakar sarang burung yang berisi ratusan anak-anak burung tersebut. Dhristarastra merasa menyesal karena telengas telah membutakan sepasang burung dan membunuh semua anaknya dalam sarang. Kini dia memperoleh pandangan jernih, tidak ada nasib buruk, yang ada hanyalah datangnya akibat dari perbuatan jahat pada masa lalu. Krishna menyampaikan peristiwa tersebut terjadi di masa lalu, dan karena kebaikan-kebaikannya dalam kehidupan berikutnya dia menjadi raja. Seandainya sejak awal sudah sadar, dan mohon ampun, mungkin penderitaannya akan memperoleh keringanan.  Dhristarastra sadar dan membangun sebuah ketetapan hati untuk menghabiskan sisa hidupnya hanya memikirkan Gusti, Hyang Maha Suci.

Sepasang Burung Tua Terhormat di Istana Hastina

Dhristarastra merasa sangat bersyukur, bahwa dia masih dikaruniai kehidupan sehingga dia bisa melangkah ke jalan yang benar, setelah sekian lama melenceng dari jalan dharma. Seperti sepasang burung tua yang dihormati di istana, dia dan istrinya dihormati, diperhatikan dan dicukupi kebutuhannya oleh Pandawa, para keponakannya. Keponakannya jauh lebih baik daripada 100 putra-putranya yang selalu mengedepankan nafsu dalam segala tindakan mereka.

“Perempuan lebih bisa merasa, dia lebih bisa mengerti, dia lebih bisa mengasihi dan itulah yang sekarang dibutuhkan dunia. lnilah yang benar-benar dibutuhkan. Perempuan bisa memenuhi kebutuhan ini. Kromosom perempuan adalah X-X, 23-23 – dia sempurna. Kromosom laki-Iaki adalah X-Y, 23-22, dia kehilangan satu poin. Sudah diketahui bersama bahwa kromosom ‘X’ pada laki-laki diturunkan dari ibunya. X adalah energi Feminin, yang menggerakkan kita. Seorang laki-laki tidak akan tercipta tanpa X, dia tidak bisa hidup hanya dengan kombinasi Y-Y. Sedangkan perempuan bisa hidup tanpa Y, dia bisa  hidup hanya dengan kombinasi X-X. Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan yang berperan. Dan pernyataan ini pun memang benar karena perempuan merupakan personifikasi dari Sumber Kekuatan. Dalam tradisi Veda, ini disebut Shakti. Dan, Shakti bermakna Energi, Sumber Kekuatan. Kekuatan perempuan terletak pada kelembutan dan kehalusan budinya, yang membuatnya penuh kasih dan empati. Kaum perempuan oleh, karena itu bisa menjadi perawat yang hebat. Mereka lebih perhatian. Sebagai ibu, dia merawat. Sebagai saudari, dia mendukung. Sebagai istri atau kekasih, dia memperkuat.” (Krishna, Anand. (2009). The Gospel Of Obama. Koperasi Global Anand Krishna bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram)

Dhristarastra bersyukur dikarunia istri Dewi Gandhari. Sejak kelahiran putra-putranya, sang isteri selalu menutup matanya dengan kain. Sehabis mandi kain penutup matanya selalu diganti oleh dayang-dayang akan tetapi dia tak mempunyai secercah keinginan untuk membuka mata. Dhristarastra pernah dibaritahu dayang-dayang Gandhari, bahwa kedua mata istrinya telah lengket. Syaraf-syaraf matanya telah mengalami penurunan fungsi karena kedua matanya tak pernah digunakan lagi. Gandhari adalah isteri yang sangat setia, pikirannya hanya terfokus pada Dhristarastra. Bila suaminya sedih dia pun merasa sedih juga. Sepasang insan tua langka ini menjadi perbincangan di seluruh istana. Bhima yang kasar pun selalu menundukkan kepala dan menyapa dengan hormat sepasang orang tua bila berpapasan dengannya saat dipandu pelayan mereka berjalan. Seluruh istana mengasihi mereka berdua.

Merenungkan Kehidupan

“Dosa berarti kesalahan, kekhilafan. Biasanya jiwa yang ragu dan khilaf adalah jiwa yang kehilangan arah, maka tindakannya sudah pasti salah. Kekacauan pikiran menyebabkan tindakan yang salah, keliru dan tidak pada tempatnya. Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa. Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain. Membersihkan diri dari segala macam dosa berarti membebaskan diri dari segala yang membebani jiwa; beban pahala, maupun beban dosa itu sendiri.” (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sehabis menemui Krishna, Dhristarastra merenung di kamarnya, dan sang istri dirasakannya menunggu dia berbicara. Dhristarastra membayangkan gurat-gurat ketuaan di wajah isterinya, dan rambut ikalnya mesti sudah memutih. Dhristarastra mendekati sang istri dan mendekapnya dengan hangat dan mengatakan dengan jujur kehidupan masa lalunya. Krishna telah membantunya melihat kesalahannya di masa lalunya.

“Isteriku, aku tak sanggup menanggung penderitaan ini tanpa dekapan jiwamu! Kini aku sadar, kita masih mempunyai sisa waktu sebelum maut menjemput kita berdua. Hidup berkecukupan dalam istana ini sudah tidak membahagiakanku lagi. Krishna memintaku merenungkan ulang semua kehidupan yang telah kujalani dan kemudian mengambil pilihan yang dapat membahagiakan diriku, di sisa hidup yang masih tersisa. Mari kita merenungkan hidup kita dan berdoa apa yang terbaik bagi kita!”

Bertemu dengan Vidura

Beberapa bulan berlalu, Krishna sudah balik ke Dvaraka, akan tetapi sepasang orang tua tersebut masih berdiskusi tentang kehidupan di sela-sela meditasi mereka. Pada suatu hari Gandhari berbisik lirih, “Suamiku, kudengar beberapa hari lagi adik kita Vidura akan datang. Selama ini dia telah melakukan ziarah ke tempat-tempat suci dan kudengar dia telah mendengar kisah tentang Keilahian, Srimad Bhagavatam. Semoga dia bisa membantu kita. Saya masih malu dengan ucapan anak kita Duryodhana yang melecehkan Vidura yang menyuruhnya memberikan hak Pandawa dengan mengatakan bahwa setiap garam dalam makanan Vidura adalah berasal dari raja, dan sudah seharusnya Vidura mendukung keputusan Kurawa.”

“Iya istriku, hati ini terasa luka kembali kala ingat Vidura kemudian meletakkan busur panahnya dan pergi meninggalkan istana tanpa sepatah kata pun terucap.”

Beberapa hari setelah Vidura menginap di Hastina dan saling melepaskan kerinduan dengan seluruh kerabat, malam itu Vidura mengajak bicara empat mata dengan Dhristarastra.

“Adinda telah pergi ke tempat-tempat suci sampai  suatu saat adinda mendengar tentang musnahnya keluarga kakanda. Di Yamuna adinda bertemu Udhava yang mengirim adinda ke ashram Maitreya dan belajar di sana. Adinda masih mempunyai tugas Ilahi. Bertemu kakanda adalah tugas adinda sebelum melepaskan tubuh tua ini. Kakanda, tinggalkan semua kenyamanan semu di istana ini dan pergilah menjadi sanyasi di hutan. Sang Kala berjalan cepat ke arah kita. Tidak ada kata yang yang dapat membujuk Sang Kala untuk memperlambat pertemuan terakhir dengan dunia. Kenyamanan istana ini bagaimana pun akan ditinggalkan kakanda juga. Waktu kita sangat pendek, jangan mengikuti mereka yang masih muda usia!’

Akhir Kehidupan Dhristarastra dan Gandhari

Dhristarastra tertunduk dalam-dalam, semangatnya muncul kembali, wajahnya bersinar-sinar mendapat pencerahan Ilahi. Dhristarastra minta ijin untuk berbicara pada istrinya dan tidak lama kemudian, malam itu juga mereka bertiga meninggalkan Hastina. Keesokan harinya Istana Hastina geger, mereka kehilangan sepasang orang tua yang sudah menyatu dalam kehidupan mereka. Pamanda Vidura pun seperti lenyap di telan bumi. Resi Narada datang dan berkata pada Yudhistira, “Mereka akan berada di asrama para resi di tempat pertemuan tujuh sungai. Beberapa bulan lagi, Dhristarastra akan  melepaskan jasadnya dan Dewi Gandhari akan membakar diri di asrama menyusul suaminya. Setelah kejadian tersebut, Vidura akan melanjutkan perjalanan menuju Badarikasrama dan melepaskan jasadnya di sana! Benih kegundahan Dhristarastra akibat kematian semua putranya telah tumbuh dan berkembang sehingga dia dapat melepaskan diri dari keterikatan dunia.”

“Sri Sathya Sai Baba: Bhagavad Gita dimulai dengan Vishada Yoga (kemurungan/patahnya semangat, dan berakhir dengan Sanyas Yoga (kebebasan diri dari keterikatan). Kemurungan/patahnya semangat adalah landasan bagi kebebasan dari segala macam keterikatan. Kemurungan/patahnya semangat adalah benih, dan kebebasan diri dari keterikatan adalah buahnya.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

One Response to “Karma Dhristarastra: Menjadi Buta dan Semua Putranya Terbunuh”

  1. Bagus ayu suparno Says:

    Terima kasih gan,kini aku jadi mengerti tentang hukum di dunia wayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: