Jatayu: Mati dengan Menyebut Nama Tuhan

jatayu rama llakshmana 2 sumber www mallstuffs com

Ilustrasi Jatayu menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Rama sumber: www mallstuffs com

Mencintai Tuhan dan bukan Bayangan-Nya

“Mengapa selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri. Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayanganNya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini. Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis. Hyang Mahamenawan adalah raja segala raja. Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar denganNya. Sungguh sangat tidak masuk akal. Silakan melayani keluarga. Silakan mencintai kawan dan kerabat. Tapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri. Kekuasaan apa, kekayaan apa, kedudukan apa, dan ketenaran apa pula yang menjadi ambisimu? Jika kau menyadari hubunganmu dengan Ia Hyang Mahakuasa, dan Mahatenar adanya, saat itu pula derajadmu terangkat dengan sendirinya dari seorang fakir miskin, hina, dan dina menjadi seorang putra raja, seorang raja!” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Jatayu bukan burung biasa, tapi burung yang bijak yang sepenuhnya menjalankan dharma. Vinata, istri Resi Kashyapa memiliki 2 anak, Garuda dan Arun. Garuda menjadi kendaraan Vishnu, sedangkan Arun menjadi kusir dari kereta Dewa Surya. Arun memiliki 2 anak: Sampati dan Jatayu. Jatayu adalah devoti Rama yang setia, setiap saat dia selalu memikirkan Rama, yang bermakna Dia Hyang Berada di Timur, di Barat dan di mana-mana.

Membantu Dasaratha menemukan Kausalya

Dikisahkan bahwa Ravana diberitahu bahwa dia nantinya akan terbunuh oleh anak Kausalya. Kemudian Rahvana ingin segera membunuh Kausalya, akan tetapi sang istri mengingatkan adalah tabu membunuh wanita yang tidak bersalah. Akhirnya Rahvana menangkap gadis Kausalya, untuk dimasukkan peti dan dibuang ke sungai Sarayu. Dasaratha sedang menyeberangi sungai Sarayu melihat peti hanyut dan tahu di dalamnya ada manusia. Dasaratha berenang mencoba menggapai peti tersebut, akan tetapi diganggu para pengawal Rahvana. Dasaratha kecapaian dan peti sudah mulai masuk ke induk sungai Gangga. Jatayu melihat hal tersebut dan menyelamatkan Dasaratha. Dasaratha diminta naik di punggungnya dan mengejar peti tersebut. Peti yang sudah sampai di muara samudera tersebut kemudian diambil oleh Dasaratha dan dibuka. Resi Narada kemudian datang dan berkata bahwa sesuai suratan Dasaratha kawin dengan Kausalya dan nantinya akan melahirkan putra yang merupakan wujud Vishnu di dunia. Jatayu sangat bahagia, pamannya Garuda adalah kendaraan Vishnu, dan dia juga ingin mengabdi kepada Vishnu. Jatayu kemudian membawa Dasaratha dan Kausalya ke Ayodhya.

Bertarung Melawan Rahvana

Jatayu mengikuti perkembangan kehidupan Rama. Jatayu sedih kala menyaksikan Dasaratha, sahabatnya meninggal dalam kesedihan, karena Rama menjalani pengasingan. Jatayu juga sekali-sekali memperhatikan Rama, Sita dan Lakshmana yang sedang berada di hutan. Pada suatu kali dia dikejutkan oleh suara Sita yang sedang dilarikan pesawat Rahvana berteriak minta tolong sambil menyebut Rama, Rama. Jatayu mendekat dan kemudian diminta Sita melaporkan penculikannya kepada Rama. Walaupun sudah tua, akan tetapi Jatayu tidak bisa melihat perbuatan adharma dilakukan di depan matanya. Jatayu minta Rahvana mengembalikan Sita, akan tetapi Rahvana menolak sehingga terjadilah pertarungan sengit. Akhirnya Jatayu kalah dengan sayapnya patah dan jatuh ke tanah.

Bagi Jatayu, bertarung melawan rahvana adalah peluang memberikan sisa hidupnya bagi Rama. Jatayu adalah pemuja Vishnu dan paham bahwa Rama adalah Vishnu yang mewujud di dunia. Setiap hari Jatayu selalu berdoa kepada Rama.

“Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, Anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kuhendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai. Seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan KasihMu yang. Tulus nan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam Setiap masa kehidupanku.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Meninggal di Pangkuan Rama

Dalam perjalanan mencari jejak Sita, Rama dan Lakshmana menemukan jejak pertarungan dan kemudian menemukan Jatayu yang terluka parah dan mengucap terus, “Rama, Rama, Rama.” Jatayu tidak mengeluh dan mengatakan bahwa Sita diculik Rahvana dan dibawa ke Alengka. Rama sedih melihat sahabat ayahandanya terluka parah karena berupaya menyelamatkan istrinya. Rama hidup bukan hanya mengejar Sita yang diculik Rahvana, akan tetapi Rama turun ke dunia untuk menemui para devotinya, para bhaktanya dan memberkatinya.

“Valmiki adalah seorang resi yang dibebani dengan tanggung-jawab untuk melaporkan kejadian-kejadian seakurat dan seobyektif yang ia bisa. Ia hidup sejaman dengan pahlawannya (Sri Rama). Tulasi tidak memiliki beban semacam itu. Ia adalah seorang resi yang tengah berupaya menemukan makna hidup. Dan semestinya karya beliau mesti dilihat sebagai catatan tentang pencariannya tentang makna hidup tersebut. Kisah Rama adalah kanvas di mana ia dengan bebas memproyeksikan dan menggambarkan upaya serta temuan-temuannya. Valmiki tetaplah menjadi inspirasi, bahkan merupakan inspirasi yang paling penting, bagi siapa saja yang ingin menulis tentang Rama. Tidak terkecuali bagi Tulasi. Rama-nya Tulasi, saya sadari, berbeda dari Rama-nya Valmiki. Perbedaannya terletak pada penekanan. Rama-nya Valmiki adalah Tuhan yang manusiawi sedangkan Rama-nya Tulasi adalah manusia yang ilahi. Rama-nya Valmiki adalah manusia yang tengah berupaya mencapai keilahian; Rama-nya Tulasi adalah Tuhan yang turun menjadi manusia.” Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Rama meletakkan kepala Jatayu di pangkuannya dan memberikan seteguk air yang dibawakan Lakshmana kepada Jatayu. Jatayu menangis bahagia, “Wahai Paduka junjungan manusia, hamba tidak pernah membayangkan akhir hidup hamba seperti ini. Dalam diri Paduka terdapat kasih Bunda yang memberikan air minum terakhir kepada kami. Bahkan ayahanda paduka pun tidak memperoleh kematian di pangkuan wujud Sang Pemelihara Alam Semesta. Setiap hari hamba selalu menyebut nama Paduka dengan penuh kasih, akan tetapi hamba tidak menyangka di penghujung kehidupan hamba di pangku Paduka. Adakah kebahagiaan melebihi ini? Apakah hidup di dunia yang selalu terancam nafsu yang akan menurunkan kesadaran lebih baik dari “akhir yang baik” ini? Orang bisa bangga telah melakukan ribuan dharma, akan tetapi bila dia masih bernafas, dia masih harus waspada sepanjang hidupnya sampai maut menjemput. Bukankah hamba lebih beruntung dengan meninggal dalam kasih Paduka?”

Rama berkata pelan, “Pamanda Jatayu semuanya terjadi karena sepanjang hidup paman telah melakukan pengabdian tanpa pamrih! Paman tidak pernah mengharapkan pahala kebaikan di dunia.” Dan, Jatayu menghembuskan nafas terakhir dan tidak akan lahir lagi di dunia. Beruntunglah Jatayu yang meninggal dengan menyebut Nama Tuhan. Seseorang yang di waktu ajalnya ingat bisnisnya, ingat keluarganya, ataupun ingat musuhnya dia akan lahir kembali untuk menyelesaikan obsesi yang belum diselesaikannya.

“Bila kita belum menyadariNya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiranNya dengan keinginan-keinginan lain. Dan, itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para Penziarah Hanya Mampir di Dunia

“Manusia ditakdirkan menjadi peziarah, sayang sekali ia menjadi pengelana tak bertujuan.” (SMS Wisdom, Anand Krishna)

Sayidina Umar sang panglima perang berkata bahwa “Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman”. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Sayidina Umar berbicara tentang hukum aksi reaksi, hukum sebab akibat, yang pinjam akan mengembalikan. Para leluhur mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Bagi para sufi yang penting adalah perjalanan. Hidup mereka seakan sebagai seorang musafir, tamu yang terus berjalan menuju Tuhan, tidak terikat oleh dunia.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: