Kisah Bodhisattva: Burung Pelatuk, Singa dan Naluri Egois Dalam Diri

borobudur pelatuk dan singa sumber borobudur tv

Ilustrasi Burung Pelatuk menolong Singa pada Relief Borobudur Sumber: www borobudur tv

Pikiran yang Terbelenggu Pola Lama

“Selama conditioned mind, pikiran yang terkondisi, menguasai pancaindra, kita tidak mampu melihat-Nya. Telinga kita tidak mampu mendengar-Nya. Tangan kita tidak mampu meraba-Nya. Tetapi bila conditioned mind tersebut sudah dilampaui, tidak ada yang bisa menghalangi penglihatan kita. Mata kita melihat-Nya dengan jelas. Telinga kita pun akan mendengar-Nya dengan jelas. Tangan kita akan meraba-Nya dengan mudah.” (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan ada Bodhisattva yang hidup sebagai burung pelatuk yang indah, yang hidup bersama dengan lingkungan margasatwa di hutan. Walau hidup bersama margasatwa lainnya, akan tetapi dia tidak terpengaruh oleh karakter margasatwa lainnya. Dia juga tidak terbelenggu oleh karakter hewan di dalam dirinya. Nasehatnya adalah agar semua makhluk melakukan hidup berdasar kasih, peduli dengan makhluk lainnya dan agar selalu berbagi dengan sesama. Semua hewan di hutan tersebut berterima kasih terhadap sang burung pelatuk. Adalah sosok dewa hutan yang selalu ikut mendengarkan nasehat sang burung pelatuk dan sangat tertarik dengan kebijakan sang burung pelatuk.

Menolong Singa yang Sedang Menderita

“Melayani sesama adalah sama dengan melayani Tuhan”. Ibadah dan Pelayanan Tak Terpisahkan. Dan, pelayanan berarti kepedulian terhadap sesama makhluk hidup, bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi terhadap setiap bentuk dan wujud kehidupan. Terhadap flora, fauna, terhadap lingkungan hidup.” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Pada suatu hari sang burung pelatuk terbang ke tepi hutan dan melihat seekor singa yang sedang menderita kesakitan. Tubuhnya nampak kurus dan terasa menahan rasa sakit di lehernya. Sang burung pelatih mendekat dan bertanya apakah singa tersebut sakit karena bertarung dengan gajah, atau terluka karena dipanah pemburu. Singa tersebut menyampaikan bahwa bukan bertarung dengan gajah atau dipanah pemburu, sakit yang dialaminya adalah kesalahan dia sendiri, akan tetapi akibatnya sangat fatal. Ada serpihan tulang yang tersangkut di kerongkongannya dan dia tidak sanggup mengeluarkannya, sehingga sudah beberapa hari dia kelaparan tidak bisa makan. Dia merasa sangat malu dan galau karena dia bisa mati karena serpihan tulang yang ada dikerongkongannya.

Sang burung pelatuk minta singa membuka mulutnya lebar-lebar dan kemudian memasang kayu sebagai penyangga rongga mulutnya. Setelah itu sang burung masuk ke rongga mulut singa dan mengambil serpihan tulang yang tersangkut di kerongkongannya. Akhirnya kayu penahan rongga mulut dijatuhkan dan terselesaikanlah masalah singa. Sang dewa hutan memperhatikan tindakan burung pelatuk dengan penuh kekaguman.

Naluri Hewani Sang Singa

“Sifat bawaan hewani dalam diri membuat kita hanya memikirkan diri, keluarga dan kelompoknya sendiri, kikir terhadap pihak lain. Pengembangan sifat manusiawi membuat kita berubah dari sifat tamak memikirkan kepentingan diri sendiri, menuju sifat rahim, pengasih, memikirkan kepentingan orang lain. Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap ‘cuwek’ terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut ‘manusia’, ‘insan’ bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia.” (Krishna, Anand. (1999). Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari sang dewa hutan melihat sang burung pelatuk terbang kelelahan mencari makanan dan tidak memperoleh apa pun. Sang burung kemudian melihat singa yang pernah ditolongnya sedang makan daging rusa buruan. Burung pelatuk mendekat, akan tetapi singa tersebut asyik makan dan seakan-akan tidak mengenali burung yang telah menyelamatkan dirinya. tidak ada sepatah kata ajakan untuk berbagi makanan. Sang burung pelatuk menyampaikan bahwa dia kelaparan dan minta diberikan makanan barang secuil. Ada kesempatan singa untuk berbuat kebaikan, berapa sih jumlah makanan burung pelatuk? Hanya kecil sekali dibanding porsi makanan singa. Apalagi ada kesempatan bagi singa untuk membalas budi kebaikan burung pelatuk. Seandainya singa tahu bahwa menolong seorang suci, seorang Buddha adalah jenis kebaikan yang beribu kali lipat kebaikan biasa, maka kejadian akan lain. Singa tersebut malah berkata, “Hai burung pelatuk, tidakkah kau bersyukur? Kau pernah masuk ke dalam rongga mulutku dan dapat keluar dengan selamat! Tidak ada satu makhluk pun yang seberuntung kamu. Sudahlah jangan meminta makanan kepadaku atau kau akan kusantap sekalian!”

Tahan terhadap Provokasi untuk Membalas Kejahatan

Sang burung pelatuk kemudian pamit dan terbang ke tempat lain. Sang dewa hutan menemui burung pelatuk dan bertanya, “Mengapa Anda tidak membalas kejahatan singa? Dia pernah Anda tolong, dan tanpa pertolongan Anda dia mungkin sudah binasa. Anda bisa menyerang tiba-tiba dengan membutakan matanya dan kemudian mengambil sebagian makanannya!”

Meskipun diprovokasi sang dewa, dengan lembut burung pelatuk berkata, “Untuk apa memperoleh makanan dengan menggunakan kemarahan. Kemarahan hanya akan menimbulkan kemarahan baru dan tidak akan menyelesaikan masalah. Aku menolong dia bukan untuk mencari balasan. Kalau memang yang aku lakukan adalah kebaikan, mengapa aku harus mengotori kebaikan yang pernah aku lakukan dengan kejahatan? Aku yakin pada kebijaksanaan alam semesta, walaupun aku kelaparan, akan datang saatnya aku akan memperolaeh makanan kecuali memang akau harus mati karena kelaparan. Yang lapar adalah fisikku, akan tetapi nuraniku tidak lapar, akau tidak akan mengotori nuraniku dengan kejahatan.”

Love Is the Only Solution…. Ya, ‘Kasih adalah satu-satunya solusi’. Apa pun persoalan, solusinya hanyalah satu, ‘Kasih’. Tiada solusi lain. Yang lain hanyalah menambah persoalan. Dapatkah kita membersihkan lantai kotor dengan air kotor? Tidak. Lantai sekotor apa pun, tetaplah mesti dibersihkan dengan air bersih. Air kotor malah menambah kekotoran. ‘Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu….’ (Matius 5:39). Sadarkan orang itu, gunakan segala daya upaya untuk menasihatinya supaya ia tidak mengulangi perbuatan jahat, tapi janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; kebohongan dengan kebohongan; kekerasan dengan kekerasan. Yesus tidak mengatakan orang jahat itu dibiarkan begitu saja sehingga ia merajalela dan menjahati setiap orang yang dijumpainya. Tidak. Orang itu mesti diberi pelajaran. Lantai kotor mesti dibersihkan, tidak bisa dibiarkan tetap kotor. Tetapi, ada caranya, dengan cara kita, bukan dengan cara dia. (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pelajaran tentang Babi yang Suka Hidup di Tempat Kotoran

“Dalam setiap tradisi, dalam agama mana pun, kita selalu diingatkan supaya tidak melemparkan mutiara kepada kawanan babi. Bhagavad Gita pun mengatakan, janganlah menyebarluaskan ajaran ini di tengah masyarakat yang belum siap. Babi diberi mutiara, apa yang terjadi? la tidak tahu nilai mutiara, ia memakannya, keselek, dan ia tidak dapat benapas. la gusar dan akan menyerangmu kembali. Berikan mutiara kepada mereka yang mengerti nilai mutiara. Kepada mereka yang mengapresiasinya. Kepada mereka yang akan menghargainya.” (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Burung Pelatuk berkata, “Wahai Dewa Hutan, coba perhatikan babi yang suka tinggal di tempat kotoran, asal ada makanan dan betina untuk melampiaskan seks. Babi telah terkondisi oleh naluri dan menuruti panca inderanya bahwa asal ada makanan dan betina, tempat kotor tidak mengapa. Lihatlah pula singa tadi, dia telah terkondisi bahwa apa pun yang sudah masuk rongga mulutnya seharusnya dikonsumsinya. Dia juga telah terkondisi, bahwa dia memperoleh makanannya sendiri, untuk apa pula berbagi dengan yang lain. Demikian pula makhluk/manusia yang sudah terkondisi, terbelenggu oleh pola pikiran tertentu dan menuruti panca inderanya untuk menghalalkan merebut makanan/harta orang lain dengan segala cara. Ada kesamaan antara makhluk/manusia, singa dan babi yaitu sama-sama pikiran mereka terkondisi dan mengikuti naluri panca inderanya. Makhluk/manusia yang telah melampaui pikiran, yang tidak terkondisi lagi oleh pikiran dan panca indera, yang sadar bahwa pikiran dan panca indera hanyalah alatnya, tidak akan memilih tempat kotor dan melakukan tindakan kotor!”

Sang dewa hutan bersujud, menyentuhkan dahinya dengan bumi dan berkata, “Sudah lama aku mendengarkan nasehat-nasehat Anda, akan tetapi hari ini aku belajar dari tindakan Anda, dan latar belakang tindakan Anda.”

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: