Mengalahkan Takdir Kematian, Kisah Savitri dan Satyavan dalam Mahabharata

savitri_satyavan sumber my yoga vidya org

Ilustrasi Savitri, Satyavan dan Yama sumber my yoga vidya org

Memberi Makna Kehidupan

“Tinggalkan dunia ini dalam keadaan sedikit lebih indah daripada saat kau-‘datang’ ke sini. Tidak perlu berbicara banyak tentang kedamaian dunia, pelucutan senjata, dan macam-macam. Biarlah orang-orang yang ‘lebih besar’ bicara tentang hal-hal besar. Kita mengurusi yang kecil-kecil saja. Meninggalkan dunia ini dalam keadaan sedikit lebih indah daripada saat kita datang ke sini. Itu saja. Itu dulu.” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Ashvapati adalah seorang raja bijak yang dicintai rakyatnya. Usianya sudah mulai menua, akan tetapi belum juga dikaruniai seorang anak. Sang raja kemudian melakukan ritual agni hotra, membaca Gayatri Mantra, melakukan persembahan kepada Bunda Ilahi Savitri, sumber sinar dari sang surya. Tidak berapa lama lahirlah seorang seorang putri yang dinamakan Savitri sebagai penghormatan kepada Bunda Ilahi.

Demikian Resi Markandeya bercerita kepada Yudisthira tentang wanita yang mempunyai devosi terhadap suami layaknya Draupadi terhadap Pandava.

Savitri menjadi seorang putri yang cantik jelita dan sang raja berkeinginan memiliki menantu dan menimang cucu. Savitri menolak dijodohkan dan merasa sudah bahagia, dapat berbakti terhadap orang tua, selalu berbuat kebaikan dan tidak pernah lupa berdoa terhadap Bunda Ilahi. Karena desakan sang ayahanda, akhirnya dia mencari sendiri jodohnya dan dikawal beberapa pengawal raja dia berkeliling negeri. Masyarakat sangat mencintai sang putri yang bersedia menengok mereka ke desa-desa.

Satyavan Putra Tunggal Dyumatsena

“Pada suatu ketika Brahma bertanya Kepada Resi Narada, hal apa yang paling menakjubkan yang ia lihat di bumi. Narada menjawab, hal yang paling menakjubkan yang aku lihat adalah: orang yang sekarat sedang menangisi yang sudah mati. Mereka yang setiap saat sedang mendekati kematian, sedang menangisi mereka yang sudah mati. Seakan-akan tangisan mereka akan menghidupkan kembali yang sudah mati ataupun mencegah kematian mereka sendiri. Sri Sathya Sai Baba: Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian? Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Alkisah tersebutlah Mantan Raja Dyumatsena yang karena menderita kebutaan mendadak, maka dia bersama sang istri meninggalkan kerajaannya, agar Sang Menteri Kerajaan yang bijak dapat memerintah lebih leluasa, tidak terganggu kebutaannya. Satyavan, putra remaja tunggal sang raja menolak tinggal di istana, adalah menjadi kewajibannya melindungi orang tuanya, apalagi ayahandanya menderita kebutaan. Mereka bertiga tinggal di sebuah hutan, Satyavan bertugas memotong kayu dan menanam ubi dan berbagai buah-buahan untuk menyambung kehidupan mereka.

Savitri menemui mereka dan merasa cocok dengan Satyavan dan memilihnya sebagai calon pasangannya.

Hidup Tinggal satu Tahun Lagi

Para resi memberitahu sang raja agar Savitri membatalkan keinginannya, karena walaupun Satyavan, tampan dan berbudi luhur, akan tetapi usianya hanya tinggal satu tahun lagi.

Savitri bertanya kepada sang raja, “Ayahanda, sudah berapa kali ayahanda melihat akhir kehidupan keluarga kita? Bukankah hampir semua keluarga kita takut mati? Ada yang takut anak-anak yang ditinggalkannya sengsara, ada yang takut harta yang ditinggalkannya diperebutkan saudara-saudaranya, dan lain-lain kecemasan, padahal jelas mati tidak membawa sesuatu apa pun juga? Ayahanda, bukankah hanya sedikit sekali di antara keluarga kita yang menghadapi maut dengan anggun? Apakah bila calon suami ananda berusia panjang menjamin ananda mati dalam keadaan anggun?”

“Tujuan hidup ini apa? Lahir, dibesarkan oleh orang tua, meraih pendidikan, bekerja, berkeluarga, banting tulang bagi orang lain, lantas pada suatu hari ajal tiba dan Malaikat Maut datang menjemput kita. Apakah hidup ini bertujuan? Anda boleh-boleh saja menetapkan tujuan-tujuan ilusif. Anda boleh-boleh saja membayangkan suatu tujuan. Setiap tujuan yang Anda bayangkan, tanpa kecuali, pada akhirnya toh akan mengantar Anda ke liang kubur.” (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pertanyaan Savitri yang sarat makna membuat sang raja diam, dia merasa bahwa putrinya yang merupakan putri hasil pemujaan mempunyai kebijakan yang jauh melampaui dirinya. “Ayahanda apa yang ananda lakukan setiap hari adalah selalu berbuat kebaikan bagi semua makhluk, karena ananda ingin memberi makna bagi kehidupan ananda!”

Bertemu Dewa Yama

Savitri akhirnya hidup sederhana di hutan bersama Satyavan mendampingi keluarga sang mertua. Waktu setahun terasa begitu cepat, pada hari perjanjian tersebut, Satyavan merasa kecapekan setelah membelah kayu bakar dan ingin beristirahat di pangkuan Savitri. Yama, Sang Dewa pencabut nyawa datang untuk mengambil nyawa Satyavan.

Savitri berkata pelan, “Wahai Dewa Yama, bila kau mengambil nyawa suamiku, mohon ambil nyawaku sekalian!’” Yama kaget, ada seorang perempuan yang dapat merasakan kedatangannya. Hanya seorang suci yang dapat mendeteksi kedatangannya. Yama memperhatikan Savitri dan paham bahwa Savitri adalah seorang istri yang tulus mengabdi suami dan selalu berbuat kebaikan terhadap semua makhluk.

“Tidak anakku, engkau belum masuk daftar untuk kucabut nyawamu! Aku memang mendapat tugas untuk mencabut nyawa, akan tetapi aku menghormati tumpukan kebaikan yang telah engkau lakukan tanpa pamrih pribadi. Mintalah 3 karunia padaku akan kukabulkan!”

“Wahai Dewa Yama, terima kasih, pertama hamba mohon sembuhkan mertuaku Dyumatsena dari kebutaan dan kembalikanlah kerajaan kepadanya. Kedua mohon anugrahilah mertuaku dengan seratus putra. Ketiga berkahilah perkawinan kami dengan seratus putra!”

Yama berkata, “Permintaanmu yang pertama dan kedua kukabulkan, akan tetapi permintaanmu ketiga berarti Satyavan harus hidup lagi untuk memberikan seratus putra kepadamu, mintalah permintaan yang lain, akan kukabulkan!”

“Baiklah Dewa Yama, hamba mohon kembalikan hidup suamiku!”

Yama tercenung sejenak, dia pun hanyalah seorang petugas, bila Sang Penguasa Alam ini berkehendak dia pun akan patuh juga.

Dan Satyavan hidup lagi. Tidak lama kemudian Menteri Kerajaan Dyumatsena datang menjemput sang raja yang telah sembuh dari kebutaannya dan membawa sang raja dan keluarganya kembali ke istananya. Satyavan dan Savitri hidup berbahagia dan mengabdikan kehidupannya bagi kebaikan semua makhluk.

Hidup Penuh Cinta Kasih

Raja Dyumatsena adalah karakter raja yang bijaksana yang tahu kapan saatnya dia harus meninggalkan tahta. Demi cinta kasihnya terhadap rakyatnya, saat kemampuannya memimpin berkurang karena mengalami kebutaan, maka dia rela meninggalkan istana untuk hidup menjadi orang biasa dengan berdoa sepanjang waktu sampai maut datang menjemputnya nanti.

Satyavan adalah karakter seorang remaja yang berbakti terhadap orang tua dan rela meninggalkan kemewahan istana demi melindungi orangtuanya. Sebagai seorang remaja, dia pasti ingin menikmati kehidupan yang penuh pesona. Akan tetapi dia ingat, keberadaan dia di dunia adalah lewat kedua orang tuanya. Rasa Cinta dan Kasihnya terhadap orang tua, membuatnya hidup penuh kebahagiaan secara sederhana bersama kedua orang tuanya.

Savitri ingin memberi makna bagi kehidupan yang telah dianugrahkan kepadanya, sehingga bisa anggun menatap Yama saat dia datang menjemputnya. Yang mati itu raganya, jiwanya tidak pernah mati, dalam kehidupan hanyalah cinta kasih yang bersifat abadi, lainnya hanya bersifat sementara.

“Cinta-kasih abadi adanya. Dan, setiap orang yang hidup dalam kasih tidak pernah mati… Kematian hanya membuat mereka tidak terlihat oleh kita, jiwa kasih mereka hidup terus. Semangat mereka untuk mengasihi dan berbagi kasih tidak pernah mati. Cinta kasih adalah ramuan yang mengabadikan. Cobalah ramuan ini, dan Anda menjadi abadi, sekarang, dan saat ini juga. Para pujangga yang pernah mencicipi ramuan ini telah menjadi abadi. Nama mereka tetap dikenang, ajaran mereka tetap memandu kita. Cahaya mereka, sinar suci mereka tetap menerangi hidup kita.  Kisah kehidupan mereka tetap menjadi inspirasi bagi kita, tetap mengilhami kita. Kelembutan, keharuman, keindahan mereka kekal. Mereka tidak pernah mati, tidak mati dan tidak akan mati. Mereka hidup abadi karena Kasih, dan dalam Kasih.” (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: