Kisah Sempati: Blueprint, Skenario Kehidupan dalam Kisah Ramayana

Sempati dan pasukan kera sumber appmithistories blogspot com

Ilustrasi Sempati menemui Pasukan Kera sumber: appmithistories blogspot com

Hubungan Darah, Hubungan Air dan Hubungan Roh

“Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. Bagaimana pun juga, kata orang, ‘hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri’. Atau, ada juga pepatah, ‘bagaimanapun juga darah lebih kental dari air’. Tetapi Yesus justru mengatakan, ‘kau harus lahir kembali dari roh dan air’. Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga- ‘ku’ menjadi lebih penting dari keluarga-‘mu’. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-‘ku’. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa. Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi kesadaran murni yang luar biasa.” Kutipan dari materi Neo Interfaith Studies oleh Anand Krishna pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Ada beberapa contoh hubungan antar saudara dalam kisah Ramayana. Pertama antara Rama-Bharata-Lakshmana-Satrughna, Kedua antara Rahvana-Kumbhakarna-Sarpakenaka-Vibhisana, Ketiga antara Sugriva dan Subali, Keempat antara Sempati dan Jatayu. Di dalam pelaksanaan sebuah bangunan, selalu ada blueprint sebagai pola dan pegangan membangun agar bangunan terlaksana dengan baik. Di dalam sebuah pertunjukan di atas panggung selalu ada skenario yang diikuti dan menjadi pegangan para pelaku drama.Sempati menyadari adanya blueprint dalam kehidupannya sehingga dia selalu melakukan peran yang diberikan kepadanya sebaik-baiknya.

 

Peran Melindungi Saudara Kandung

“Menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi, dan impian pribadi dengan kehendak Allah membuat kita sadar, membuat kita ‘tahu’ jatidiri kita.” (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sempati dan Jatayu adalah putra Aruna, Kusir Kereta Sang Surya yang juga personifikasi dari sinar awal waktu fajar. Aruna dan Garuda adalah putra Resi Kasyapha Putra Brahma yang kawin dengan Dewi Vinata putri Daksha. Garuda menjadi kendaraan Sri Vishnu. Sejak kecil Sempati dan Jatayu memahami peran mereka untuk menegakkan dharma seperti orang tua dan pamannya.

Di kala remaja Jatayu mengajak kakaknya terbang menuju Matahari tempat kerja ayahandanya. Sempati sudah mengingatkan bahwa mendekati matahari itu berbahaya. Akan tetapi Jatayu nekat dan Sempati mendampinginya. Sampai suatu saat sinar matahari begitu panasnya dan bulu sayap Jatayu mulai terbakar. Menyadari perannya untuk melindungi adiknya, Sempati segera melindungi Jatayu dan meminta Jatayu segera turun. Sebagai akibatnya sayap Sempati terbakar dan jatuh dan terpisah dengan Jatayu karena datangnya badai di permukaan bumi. Jatayu menjadi devoti Sri Rama, setiap hari membaca japa tentang Rama, dan selalu berdoa agar kakaknya yang hilang tak tentu rimbanya dilindungi oleh Sri Rama.

Sempati jatuh di sebuah pegunungan di India Selatan dan ditemukan oleh Resi Nishakara. Luka Sempati disembuhkan sang resi, akan tetapi Sempati tidak bisa terbang lagi, berjalan pun dengan tertatih-tatih. Sang Resi berpesan agar Sempati tinggal di sekitar tempat tersebut, mempertahankan hidup dengan makan buah-buahan di tempat tersebut. Walaupun mempunyai genetik bawaan burung pemakan daging, sang resi meminta dia tidak makan hewan yang masih hidup, hanya makan hewan yang sudah mati saja. Sang resi mengatakan bahwa di masa depan akan ada pasukan kera yang sedang mengemban tugas khusus dari Sri Rama, avatara Vishnu yang turun ke dunia. Adalah sebuah peran yang mulia, untuk membantu tugas Sri Rama, setiap makhluk mempunyai peran untuk mendukung dharma. Sekecil apa pun, peran tersebut pantas ditunggu walau untuk itu harus menunggu ribuan tahun. Ratusan tahun kemudian sang resi wafat, akan tetapi Sempati tetap menunggu hari yang diramalkan tersebut.

 

Bertemu Pasukan Kera Pencari Jejak Ibu Sita

Sugriva menugaskan empat grup pasukan khusus untuk mencari jejak keberadaan Sita. Tiga grup sudah pulang dengan tangan hampa dan tinggal satu grup yang mencari jejak ke Selatan yang belum menyelesaikan tugasnya. Di antara mereka adalah Hanuman, Anggada putra Subali, Gaja, Gunaksa, dan Jambavan.

Sudah ribuan kilometer mereka survey dan belum memperoleh jejak yang dimaksud. Dalam keadaan kelelahan dan kelaparan sampailah mereka di sebuah pegunungan di India Selatan dan mereka beristirahat di kaki bukit. Anggada mengeluh kepada rekan-rekannya, “Tiga grup lain telah pulang dengan tangan hampa, Raja Sugriva hanya berharap pada kita semua. Bagiku lebih baik mati daripada pulang membawa malu. Malunya kita adalah malunya Raja kita yang tidak berhasil mengemban tugas Sang Avatara. Hanuman telah berkata kepadaku bahwa Rama sendirian mampu membebaskan Sita dari Alengka. Dan aku yakin hal itu. Akan tetapi Rama telah memberikan kesempatan kepada semua makhluk untuk membantu-Nya menegakkan dharma. Jujur aku sudah putus asa dan rasanya akau akan berpuasa tidak makan di tempat ini untuk menghabiskan sisa hidupku!”

 

Menunggu Peran Menegakkan Dharma sesuai Kemampuan Diri

Seekor makhluk besar mendengarkan semua pembicaraan mereka. Anggada kemudian melanjutkan pembicaraan, “Sri Rama telah kehilangan Ibu Sita, Jatayu dan kini mungkin akan kehilangan kita semua!” Begitu makhluk besar itu mendengar kata Jatayu, dia kaget dan dengan tertatih-tatih berdiri mengangkat tubuhnya yang sebesar gajah. Para kera kaget melihat burung raksasa yang kemudian meminta mereka mendekatinya. Mereka bersiap-siap dan menambah kewaspadaan.

Sang Burung berkata, “Aku mendengar kalian menyebut kata Jatayu, itu adalah saudaraku, aku adalah Sempati, datanglah ke sini!” Selanjutnya Sempati menanyakan keadaan Jatayu dan kemudian menitikkan air mata mendengar kematian Jatayu. Sempati menceritakan kisahnya kepada para kera. “Kalian telah kutunggu selama ribuan tahun sesuai pesan Resi Nishakara. Hampir saja aku putus asa seperti kalian yang putus asa mencari jejak Ibu Sita. Bagaimana pun aku adalah putra Aruna yang merupakan proyeksi sinar pertama di waktu fajar. Aku dapat melihat sangat jauh. Aku melihat sendiri kereta Rahvana melintas di dekat tempat tinggalku dengan seorang perempuan yang berteriak menyebut Rama, Rama. Aku memperhatikan arah kereta tersebut yang melesat lurus dari sini sampai hanya menjadi titik di kejauhan! Aku juga telah mendengar ocehan sekelompok burung yang menceritakan tentang Ibu Sita yang ditawan di negeri Alengka jauh di Timur sana.”

Sambil berbicara memberikan arah Negeri Alengka, tiba-tiba bulu-bulu Sempati tumbuh dan sayapnya sehat kembali. Para kera menjadi saksi keajaiban tersebut dan bulu kuduk mereka merinding seakan melihat Sri Rama memberi blessing kepada Sempati. Sempati berterima kasih dan kemudian terbang untuk melanjutkan dharma di tempat lain. “Om Sri Sai Rama, Om Sri Sai Rama”, suara Sempati sayup-sayup menghilang.

Sambil terbang Sempati merenung, dia pernah melindungi Jatayu yang ternyata adalah jalan agar adiknya bisa membantu Rama dan mati dipangkuan Rama. Dia jatuh di pegunungan India Selatan hanya untuk menunggu peran menunjukkan negeri Alengka terhadap pasukan Rama. Dia mengalami keajaiban sembuh dan bisa terbang kembali untuk menyuntik semangat Hanuman dan teman-temannya bahwa Sri Rama selalu membimbing dan menyuntik mereka dengan semangat baru. “Mengapa hidup ini seakan-akan terlaksana sesuai skenario, sesuai  blueprint yang sudah dibuat sebelumnya?”

 

Beberapa Macam Hubungan Kakak Adik Dalam Kisah Ramayana

“Kita semua ‘terbuat’ dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika ‘keluar’ dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan inteligensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan ke sadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi. Yesus menemukan dunia dalam keadaan sakit parah karena merosotnya kesadaran manusia. Kemerosotan itu pula yang menyebabkan manusia mengejar kenikmatan indra secara berlebihan; menimbulkan rasa takut dan khawatir; kemudian, tenggelam dalam lautan penuh derita.” (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sugriva dan Subali adalah dua saudara kandung, akan tetapi Subali sakit hati karena merasa dikhianati Sugriva. Menurut Subali seharusnya dialah yang menjadi raja dan mempunyai permaisuri Tara. Kenikmatan dunia menjadi faktor pemicu pertarungan sengit antar saudara.

Hubungan pertalian darah antara Rahvana, Sarpakenaka, Kumbhakarna dan Vibhisana pun tidak begitu erat. Sarpakenaka adalah saudari kandung paling erat dengan Rahvana, akan tetapi setelah jatuh cinta dengan Rama dan ditolak karena Rama bersumpah Eka Patni Vrata, kawin hanya dengan satu wanita saja, maka dia kemudian mengembara dan bertapa. Kumbhakarna juga berperang melawan serbuan pasukan kera bukan karena saudara kandung Rahvana, akan tetapi sebagai saudara setanah air yang sedang diserang musuh bersama. Vibhisana apalagi, baginya hubungan roh dengan Dia Hyang Berada di Mana-Mana lebih penting daripada hubungan darah.

Sempati dan Jatayu adalah saudara kandung yang terpisah karena musibah. Akan tetapi keduanya saling mendoakan masing-masing. Kejauhan fisik tidak merenggangkan hubungan batin. Yang mengikat keduanya adalah Sri Rama, mereka berdua adalah devoti Sri Rama.

Rama dan saudara-saudaranya adalah hasil pemujaan lewat persembahan agnihotra sehingga hubungan antara mereka bukan hanya hubungan darah dari ayah yang sama. Bahkan hubungan darah Bharata dengan ibu kandungnya, Keikayi pun sudah terlampaui, Bharata memilih hubungan roh. Bagi mereka empat bersaudara, hubungan mereka adalah hubungan roh, mereka memang mempunyai karakter berbeda, mempunyai peran berbeda, akan tetapi sejatinya roh mereka satu. Apabila peran mereka sudah terlampaui mereka semua adalah satu. Nampaknya berbeda-beda, esensinya mereka satu jua.

Ada perkembangan diri dari ego yang sempit kepada ego yang meluas, dari hubungan darah, hubungan saudara setanah air sampai hubungan sesama makhluk. Nampaknya ada skenario untuk menonjolkan beberapa macam hubungan antar saudara dalam kisah Ramayana.

“Tuhan adalah Roh Hyang Tunggal, Roh Agung, Roh Kudus. Lalu, bagaimana dengan roh yang konon ada juga dalam diri kita? Semua itu ibarat sinar matahari yang tak terhitung jumlahnya, bagaimana bisa menghitung sinar? Tapi, semuanya dari matahari yang satu dan sama. Atau, seperti gelombang di laut. Adakah kita bisa menghitung gelombang-gelombang itu? Adakah kita bisa memisahkan gelombang-gelombang itu dari laut? Jelas, tidak. Adanya gelombang karena laut dan bukanlah sebaliknya. Adanya roh manusia karena Roh Kudus Hyang Agung. Ia matahari, kita sinar-Nya. Ia bulan, kita rembulan. Ia samudra, kita ombak.” (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

One Response to “Kisah Sempati: Blueprint, Skenario Kehidupan dalam Kisah Ramayana”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: