Kejahatan dan Kebaikan, Asura dan Dewa dalam Diri: Kisah Shukracarya Guru Para Asura

shukracharya dewayani dan yayati sumber en wikipedia org

Ilustrasi Shukracharya, Devayani dan Raja Yayati sumber: en wikipedia org

Dewa dan Asura

“Dewa, mereka adalah elemen-elemen alami yang tercipta sebelum manusia. Api, angin, air, tanah dan ruang atau space adalah Dewa Utama. Elemen-elemen dasar. Dengan menolak keberadaan elemen-elemen dasar ini, Anda tidak bisa mengurangi peran mereka. Tanpa mereka, kehidupan tidak ‘mungkin’ – life is not possible! Dapatkah Anda membayangkan kehidupan tanpa api? Atau tanpa angin? Dan, tanpa air? Tanpa tanah? Tanpa ruang? Kasih terhadap para ‘Dewa’ berarti kepedulian terhadap lingkungan. Upaya nyata untuk melestarikan alam.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raksasa disebut Asura dalam bahasa Sansekerta. Mereka tidak sura, tidak selaras dengan kehidupan. Mereka tidak seirama dengan keberadaan. Dalam Srimad Bhagavatam disampaikan bahwa pada awal mulanya para asura adalah para putra Diti sedangkan para dewa yang mempunyai sifat sura adalah para putra Aditi. Keduanya adalah istri dari Resi Kasyapa. Sejak saat itu selalu terjadi konflik antara kelompok asura dan sura. Para dewa mempunyai Guru bernama Brihaspati sedangkan para asura mempunyai Guru bernama Shukracharya.

 

Guru Para Asura

Pada suatu ketika kelompok asura kalah melawan para dewa dan berlindung di ashram Resi Bhrigu. Kala itu Bhrigu dan Shukra, putranya sedang bertapa dan Ushana, ibu Shukra mengizinkan para asura berlindung di ashram. ketika Bhrigu menengok ashram dan mendengar penjelasan istrinya, dia membenarkan sikap istrinya untuk memberikan perlindungan terhadap mereka dan Bhrigu pergi lagi melanjutkan tapanya. Indra, raja dewa tidak dapat menyerang para asura yang terlindung dalam ashram Bhrigu dan kemudian mengeluh terhadap Vishnu. Vishnu datang ke ashram dan menyampaikan kepada Ushana agar tidak mengizinkan para asura berlindung dalam ashram atau dia akan menggunakan Sudarsana Chakra untuk menghancurleburkan ashram. Ushana merasa suaminya sudah mengizinkan tindakannya dan dia tahu bahwa mati di tangan Vishnu berarti mencapai pembebasan dari kelahiran berulang-ulang sehingga dia tetap mengizinkan para asura tinggal. Akhirnya Vishnu menghancurkan ashram dan semua asura di dalam ashram mati termasuk Ushana.

Bhrigu dan Shukra selesai bertapa dan melihat ashram telah hancur dan istrinya telah meninggal dunia. Bhrigu kemudian mengutuk Vishnu untuk lahir beberapa kali di bumi agar mengalami suka duka sebagai manusia. Shukra juga marah dengan kematian ibunya.

Shukra belajar Veda dari Resi Angirasa, akan tetapi kemudian merasa bahwa sang resi pilih kasih terhadap Bhrihaspati, putranya sendiri. Shukra kemudian belajar pada Maharishi Gautama. Tampaknya kemudian ada persaingan antara Bhrihaspati dan Shukra. Ketika para dewa memilih Bhrihaspati sebagai guru mereka, maka Shukracharya kemudian menjadi  guru para asura.

Kisah Sukracharya ini ada kaitan dengan Kisah Mahabharata, karena Dinasti Yadu termasuk Krishna adalah keturunan Devayani putri Shukra, sedangkan Dinasti Bharata adalah keturunan Sarmistha putri raja asura Vrsaparva. Keduanya adalah istri Raja Yayati dari Dinasti Chandra.

 

Perang Antara Dewa dan Asura dalam Diri

Pada saat ini baik sifat asura maupun sifat dewa ada dalam diri manusia, sehingga pertarungan antara kejahatan dan kebaikan sampai saat ini masih terjadi dalam diri kita. Apabila kita ingin memusnahkan asura seperti zaman dahulu, maka semua manusia harus musnah. Walaupun demikian, sifat asura dalam diri dapat ditaklukkan dan orang bisa mencapai kesadaran tertinggi.

Anand Krishna dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan”, menyampaikan:

“BG 16:6 Memang ada dua jenis manusia dalam dunia. Mereka yang bersifat mulia telah kujelaskan dengan panjang lebar. Sekarang dengarkan tentang mereka yang memiliki sifat yang tak terpuji.

“BG 16:7-12 : Mereka yang memiliki sifat tak terpuji tidak dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mereka menganggap alam ini tanpa basis Ketuhanan dan mengira kehidupan berasal dari nafsu birahi. Demikian mereka tidak meyakini keberadaan ‘Sang Aku’. Dengan pemahaman yang salah seperti itu, tindakan-tindakan mereka akan merugikan seluruh umat manusia. Penuh dengan segala macam keinginan, kemunafikan, keangkuhan, dan kesombongan, mereka berperilaku tanpa rasa peduli terhadap lingkungan, makhluk hidup, dan lain sebagainya. Mereka menganggap pencapaian keinginan-keinginan duniawi sebagai tujuan hidup dan selalu mengharapkan sesuatu. Demikian, dengan cara apa pun mereka akan mengumpulkan harta-benda, guna memuaskan nafsu mereka.

“BG 16:13-17 : Mereka ingin memiliki semuanya, untuk selama-lamanya. Mereka gila akan kekuasaan dan selalu terlibat dalam aksi penindasan kalangan di bawah mereka. Kekayaan dan harta -benda duniawi membuat mereka lupa daratan. Mereka menyombongkan diri mereka sebagai penolong, pemberi sedekah, dan penyumbang. Mereka sebenarnya tidak sadar, tersesat, dan pada akhirnya selalu menderita. Apabila mereka melakukan persembahan, itu pun dengan tujuan dan untuk memamerkan kekuasaan mereka.

“BG 16:18-19 : Mereka tidak peduli akan “Sang Aku” yang bersemayam dalam diri mereka dan dalam diri setiap makhluk. Karena perilaku dan keinginan mereka sendiri, berulang kali mereka lahir dalam keluarga-keluarga yang sama sifatnya.

“BG 16:20-22 : Wahai putera Kunti, demikian mereka mengalami kemerosotan setiap saat. Kemerosotan disebabkan oleh tiga sifat yang tak terpuji: nafsu birahi, amarah, dan ketamakan. Ia yang terbebaskan dari ketiga sifat tak terpuji tersebut mencapai “Kesadaran Tertinggi”.

(Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dewa Indra dalam Diri

“Kata ‘dewa’ sendiri berasal dari ‘divya’, yang berarti ‘yang mulia, yang terang, yang berasal dari cahaya’. Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api bersifat membakar. Ia membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin sangat ringan dan dapat menyusup kemana-mana. Ia juga memberi kehidupan. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis. Kekosongan, kehampaan, kesendirian, space atau apa pun sebutannya, menciptakan peluang untuk diisi.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Elemen alami ada di dalam diri dan di luar diri. Bila kita membicarakan elemen alami dalam diri, maka Dewa Indra pun ada dalam diri. Dewa Indra adalah Raja Dewa, pemimpin elemen alami tanah dan bukan Maha Dewa, elemen agung.

“Indraa berada di dalam diri kita. Ia berada di Chakra Pertama – Moolaadhaara – yang mengurusi makan, minum, dan kebutuhan-kebutuhan pokok setiap manusia. Urusan bumi adalah urusan Indraa. Jika diibaratkan sebagai penguasa, dia termasuk penguasa kecil, minor. Hal-hal yang diurusinya adalah urusan-urusan kecil; urusan perut, urusan cuaca, urusan hujan. Tubuh kita adalah urusan Indraa. Kendati demikian, urusan-urusan kecil ini pun sesungguhnya tidak kalah penting dari urusan-urusan besar. Sekecil-kecilnya urusan perut, tetap penting juga. Demikian pula dengan urusan cuaca, kapan turunnya hujan, kapan tidak; kapan musim gugur, dan kapan musim semi; kapan menanam, dan kapan panen.” (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Untuk elemen air, api, udara dan ruang silakan baca buku “Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern” tersebut.

 

Svarga Loka dalam Diri

Dewa Indra adalah putra Sulung Resi Kasyapa dan cucu Brahma. Kota tempat Indra memerintah disebut Amarawati, istananya disebut Indra Sabha. Lokasi tempat para dewa tersebut sering disebut Svarga Loka karena sangat indahnya. Karena kita berbicara para dewa dalam diri, maka Svarga Loka pun berada dalam diri. Bila semua dewa dalam keadaan harmonis, elemen alami dalam diri dalam keadaan selaras, maka kita memang serasa berada di Svarga Loka.

Akan tetapi para Asura selalu menunggu saat terbaik kala para dewa lengah untuk mengambil alih Svarga Loka dalam diri tersebut.

“Apa yang terjadi bila kita mengalami ketidakseimbangan elemen-elemen alami, atau bila salah satu elemen menonjol sekali? Bila elemen api melebihi kebutuhan kita dan kebutuhan setiap orang berbeda, kita menderita penyakit kama, hawa nafsu yang membara. Kita harus berhati-hati dengan makanan yang mengandung elemen api. Daging, bawang-bawangan dan segala sesuatu yang sangat pedas, manis, asin dan asam. Minumlah air putih sebanyak satu setengah hingga dua liter setiap hari. Bila elemen angin melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit kedua yaitu krodha atau amarah. Latihan Pavanamuktasana dapat membantu kita. Bila elemen tanah melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit yang ketiga lobha, keserakahan. Lantai di rumah dilapisi karpet atau diganti dengan kayu. Cairan dalam diri anda, darah, sperma, sumsum menyebabkan keterikatan. Bahkan air liur dapat menyebabkan keterikatan. Berjemur di bawah matahari pagi akan membantu terjadinya keseimbangan elemen air dalam diri. Bila elemen ruang melebihi kebutuhan kita muncullah penyakit ahamkara atau ego, keakuan. Bukan hanya para ilmuwan, para rohaniwan pun bisa kelebihan unsur ini. Karena itu mereka harus lebih banyak berbuat dari pada berbicara. Dalam hal ini perbuatan yang dimaksud adalah pelayanan, belajar untuk melayani sesama.  Hal tersebut dapat membantu terjadinya keseimbangan elemen ruang dalam diri.” (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menempatkan Krishna sebagai Sais Kereta Kehidupan

“Apabila Anda menjadikan Krishna sais Kereta Kehidupan Anda, Anda tidak akan pernah mengalami kegagalan. Saat ini, kita menempatkan Nafsu Berahi, Keserakahan, Keangkuhan, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan. Apabila Anda menempatkan Akal Sehat dan Pikiran Jernih pada posisi sais, hidup Anda akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Anda akan menikmatinyadan mereka yang mendengar pun akan ikut menikmatinya. Hidup Anda dapat menjadi suatu Perayaan.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Masih ada beberapa kisah leluhur Pandawa dalam kategori Mahabharata, semoga berkenan.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: