Archive for November, 2013

Mengapa Harus Vegetarian? Kisah Agastya Sang Pertapa sebagai Boddhisattva

Posted in Relief Candi with tags , , on November 29, 2013 by triwidodo

 

Agastya relief kisah jataka candi borobudur sumber see about indonesia blogspot com

Ilustrasi Relief Kisah-Kisah Boddhisattva di Borobudur sumber: see about indonesia blogspot com

Kebahagiaan bersifat Rohani

“Uang, materi, dan pikiran menurut Buddha, yang terbangkitkan, adalah ‘benda’. Dan, seperti benda lainnya, memiliki awal dan akhir. Semua itu hanya temporer, sementara. Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kenikmatan pun tidaklah abadi. Lalu, kita pun kecewa. Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan indrawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stres dan depresi. Kita senantiasa mencari kebahagiaan, namun hanya segelintir yang menemukan kebahagiaan itu. Kenapa? karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam roh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar. Kebahagiaan bukanlah benda. Bukan pula materi. Kebahagiaan itu energi 100% dan 24 karat. Ups, tetapi energi dan materi itu relatif, keduanya dikaitkan oleh hukum relativitas yang diteorikan oleh Eistein.” (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Pada suatu ketika Boddhisattva lahir sebagai anak saleh yang bernama Agastya. Sejak kecil ia sudah mempelajari Veda. Setelah seseorang menjadi dewasa, dia harus menentukan pilihan, untuk menjadi Grahasthya, perumah tangga atau menjadi Sanyasi, yang terfokus pada Kesadaran Murni. Bagaimana pun setelah menjadi perumahtangga, akan tiba saatnya untuk melakukan Vanaprastha, meninggalkan keterikatan terhadap keluarga keterikatan terhadap duniawi lainnya dan akhirnya akan menempuh jalan Sanyasi seperti yang dijelaskan dengan kitab-kitab suci. Agastya paham bahwa berumah tangga mempunyai potensi halangan yang lebih besar daripada menjadi sanyasi. Keterikatan terhadap istri dan anak, kemudian mencari kesejahteraan keluarga, bisa melupakan diri dari tujuan utama hidup menuju Kesadaran Murni. Kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai dengan mencari keluarga, harta dan kekuasaan yang bersifat sementara. Agastya memilih menjadi Sanyasi, hidup terfokus pada Kesadaran Murni. Dan, sesuai dengan kondisi zaman itu maka dia melakukan tapa untuk mencapai tujuan hidupnya.

Bertapa dengan Mengkonsumsi Makanan dari Tumbuh-Tumbuhan

“Pedoman Pertama bagi pembangkitan energi di dalam diri bagi perwujudan Kundalini, adalah makanlah untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan saja. Sifat kehidupan yang memasuki tubuh anda lewat mulut, mempengaruhi sifat diri anda. Sesuai dengan istilah  yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki satu sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila-tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri  kita pun ikut bertumbuh.  Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri.” (Krishna, Anand. (2006). SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Agastya menyendiri bertapa di Pulau Kara di Laut Selatan. Pulau tersebut penuh dengan pohon buah-buahan dan terdapat sebuah danau dengan air yang jernih. Binatang liar dan burung-burung hutan mengenali Agastya sebagai seorang pertapa yang saleh. Meskipun tinggal sendirian akan tetapi Agastya menghormati setiap orang yang kebetulan datang ke tempatnya. Para tamu selalu dijamu dengan buah-buahan dan dia hanya makan dari sisa yang tidak dimakan tamunya. Agastya makan hanya untuk mempertahankan hidupnya.

Kemuliaan tapa Agastya menyebar ke mana-mana, bahkan mencapai telinga Shakra, pemimpin para dewa yang sangat berbahagia mendengar kesalehan Agastya. Shakra kemudian ingin menguji keteguhan Agastya. Shakra yang juga dikenal sebagai Dewa Indra bertugas mengurus bumi termasuk tubuh manusia. Shakra kemudian membuat sebagian besar umbi-umbian dan buah-buahan menghilang di hutan tersebut. Agastya, sang boddhisattva karena terserap ke dalam meditasi , maka dia tidak peka terhadap rasa lapar. Karena segala umbi dan buah-buahan menghilang, maka dia kemudian merebus beberapa lembar daun, dan kebutuhannya sudah memadai. Shakra kemudian merontokkan setiap daun dari semua pohon dan semak. Dan, Agastya hanya memilih daun yang jatuh di tanah  dan kemudian merebusnya sebagai makanannya. Dan sang boddhisattva tetap terserap ke dalam meditasi.

Melayani Tamu dengan Sepenuh Hati

“Pedoman Kedua pembangkitan energi Kundalini. Jangan lupa berdoa sebelum, sambil, dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, Doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. … Tidak cukup berdoa pada hari-hari tertentu, pada jam-jam tertentu. Seluruh hidupmu harus berubah menjadi sebuah Doa.”

“Pengendalian Diri – inilah Pedoman Ketiga. Rasa bahagia yang diperoleh dari penundaan ejakulasi dan orgasme, bisa bertahan hingga berhari-hari, kadang berbulan-bulan. … Karena kenikmatan yang Anda peroleh dari semua itu, tidak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang Anda peroleh dari pengendalian diri.”

“Keceriaanmu membebaskan dirimu dari belenggu-belenggu yang mengikat jiwamu. Jiwa ceria adalah jiwa bebas. … Kemurunganmu membebani jiwamu. Keceriaan meringankan jiwamu. Inilah Pedoman Keempat: Keceriaan, Rayakan Hidupmu! Berada pada lapisan ini, sesungguhnya kau sudah  memasuki wilayah ruh… wilayah kesadaran…” (Krishna, Anand. (2006). SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Agastya selalu berdoa sebelum makan, mensyukuri apa yang telah dikaruniakan, walaupun hanya beberapa daun rebus. Agastya juga selalu berlatih pengendalian diri, selalu mendahulukan tetamu daripada dirinya sendiri. Dan Agastya selalu ceria dalam kondisi apa pun juga.

Keteguhan Agastya menakjubkan Shakra. Dia mewujud sebagai brahmana yang kelaparan dan kehausan. Sang brahmana selalu muncul pada saat doa sebelum makan yang dilakukan oleh Agastya. Sang boddhisattva gembira menyambut tamunya dan dengan kata-kata lembut yang menenangkan pikiran. Dan kemudian menawarkan makanan kepada tamunya. Dia rela memberikan makanan yang diperolehnya dengan susah payah, dengan cara mengumpulkan daun-daun yang belum kering. Dan ia merasa bersukacita dapat menjamu tamunya. Kemudian dia masuk ke dalam pondok dan melanjutkan meditasinya.

Meditasi Dan Melakukan Japa Mantra

“Bahasa Sansekerta itu bukan bahasa lisan tetapi bahasa program. Bahasa yang dibuat untuk berhubungan dengan dewa. Dalam hal ini dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semuanya frekuensi lebih tinggi disebut dewa. Dan masing-masing frekuensi ada namanya. Kadang kita menyebutnya sebagai makhluk surgawi, tetapi ini adalah nama-nama dari frekuensi yang lebih tinggi. Ketika berbicara dengan bahasa Sansekerta, setiap huruf dalam bahasa Sansekerta terhubung dengan ke beberapa bagian dari otak kita. Setiap huruf tertentu merangsang bagian tertentu dari otak kita. Setiap kata yang diucapkan dalam mulut kita dengan totalitas, otak kita dirangsang dan saat otak dirangsang maka seluruh tubuh juga dirangsang. Untuk membaca mantra tidak perlu belajar Sansekerta, cukup membaca mantra dasar seperti Gayatri Mantra.” Sumber: terjemahan bebas dari conversation Anand Krishna and Kali Ma in meditation, Spreaker. Bapak Anand Krishna tidak memiliki kesempatan mendalami mantra dalam bahasa lain. Kembali semuanya terserah kita.

Sang brahmana melakukan hal yang sama dalam beberapa hari, dan Boddhisatva merasa bahagia dapat melayani tamu dan kemudian kembali terserap dalam meditasi. Shakra tahu dengan cara demikian frekuensi kesadaran Agastya bisa meningkat dengan cepat bahkan bisa mengalahkan para dewa, mereka yang memiliki frekuensi tinggi.

Shakra kemudian mewujud dalam bentuk makhluk surgawi  dan bertanya, “Apa yang Anda harapkan dengan melakukan hal ini! Mengapa meninggalkan kebahagiaan berumah tangga, menjauhkan diri dari harta dan keluarga?

Agastya menjawab, “Kelahiran yang berulang kali menyebabkan kesengsaraan yang berulang kali. Takut usia tua adalah wabah yang mengerikan bagi manusia. Kepastian kematian mencemaskan manusia. Saya melakukan hal ini agar pada suatu kali dapat menjadi tempat perlindungan bagi semua makhluk!”

Shakra berbahagia mendengar jawaban Agastya dan berkata, “Untuk pernyataan Anda saya akan memberikan anugrah apa pun yang anda minta!”

Boddhisattva berkata, “Saya betul-betul tidak meminta, karena meminta berarti tidak puas dengan keadaan yang ada. Akan tetapi jika Tuan ingin memberikan apa yang menyenangkan saya, maka saya minta agar api ketidakpuasan yang telah membakar seluruh orang di dunia, walaupun mereka telah memperoleh pasangan, anak-anak dan kekuasaan serta kekayaan, agar api ketidakpuasan tersebut tidak pernah masuk ke pada diri saya.”

Shakra kemudina mendesak Agastya untuk menerima anugrah berikutnya. Agastya berkata, “Semoga kebencian  yang seperti tentara menaklukkan musuh, menghancurkan kekayaan, kedudukan dan reputasi selalu jauh dari saya.”

Shakra semakin gembira dan mendesak Agastya menerima satu anugerah lagi darinya. Agastya berkata, “Semoga saya tidak pernah mendengar orang yang bodoh, melihat orang yang bodoh, berbicara dengan orang yang bodoh atau menanggung rasa sakit berada dalam teman-teman yang bodoh.”

Shakra bertanya, “Siapa pun yang berada dalam kesulita pasti layak memperoleh bantuan dari dia yang berbudi luhur. Kebodohan adalah akar segala penderitaan. Bagaimana Anda yang penuh kasih tidak suka melihat orang yang bodoh. Yang membutuhkan kasih sayang?” Agastya menjawab, “Karena tidak ada bantuan bagi orang yang bodoh. Jika orang bodoh bisa dibantu, apakah saya akan menahan sesuatu yang baik untuknya? Si bodoh tidak bisa  menerima keuntungan apa pun dari saya. Dia yang bodoh menyalakan api kesombongan. Berpikir bahwa dia bijaksana. Berperilaku seolah-olah dia itu benar. Dan mendesak orang lain untuk bertindak seperti dia. Dia yang bodoh tidak terbiasa berperilaku lurus, bermoral yang rendah. Ia bahkan marah saat diperingatkan untuk kepentingan dia sendiri. Aku berharap tidak pernah ketemu orang bodoh. Dia adalah obyek bantuan yang tidak layak bagi saya.”

Semakin banyak jawaban dari Agastya yang mencerahkan jiwa semakin pula Shakra menawarkan tambahan anugrah terhadapnya.

Akhirnya saaat Shakra menawarkan anugrah, Agastya minta agar Shakra tidak lagi mengunjungi dia dalam segala kemegahannya. Shakra bingung dan bertanya, setiap ritual, setiap tapa, setiap agnihotra, orang selalu mencari Shakra, mengapa Agastya menolaknya? Agastya menjawab, “Kedatangan Tuan dalam wujud makhluk surgawi dengan segala kecemerlangannya bisa membuat saya melupakantugas-tugas spiritual yang harus saya lakukan!”

Shakra membungkuk hormat kepada sang boddhisattva melakukan pradaksina, mengelilingi sang pertapa dan menghilang. Di saat fajar Agastya menerima jamuan makanan ilahi dari Shakra yang kemudian mengundang ratusan Pratyekabuddha dan ribuan Dewa pesta bersama.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Mengorbanan Harta dan Jabatan demi Kebenaran, Kisah Vibhisana Menyeberang ke Pihak Rama

Posted in Ramayana with tags , on November 26, 2013 by triwidodo

Vibhisana menghadap Rama sumber oppanna com

Ilustrasi Vibhisana menghadap Sri Rama sumber oppanna com

“Seorang pedagang yang sedang berkunjung ke kota lain boleh menikmati segala kenyamanan dan kemewahan hotel dimana ia sedang bermalam. Tapi, dia selalu ingat tujuannya berada di kota asing itu. Ia tidak larut dalam kenyamanan dan kenikmatan itu. Pagi-pagi ia sudah bangun. Meninggalkan kamar hotel, dan pergi ke pasar untuk berdagang. Ia tidak memiliki keterikatan dengan hotel itu, dengan segala kenyamanan kamarnya. Itulah sebab ketika urusannya selesai ia pun langsung checkout, tidak menunggu diusir, dan pulang ke ‘negeri asalnya’. Kiranya inilah arti ayat 11 dalam surat al-Fath, ‘harta dan keluarga kami merintangi’. Qur’an Karim mengingatkan para mukmin untuk tidak terikat dengan kenyamanan dan kenikmatan duniawi, dan untuk senantiasa mengingat tujuan hidup. Yaitu ‘berjuang’ dalam, dan dengan kesadaran ilahi. Ayat ini adalah pelajaran bagi mukmin, bereka yang beriman. Ayat ini dimaksudkan bagi hamba Allah, dan bukan bagi budak dunia. Jika kita puas dengan perbudakan, maka itu adalah pilihan kita. Dan, konsekuensinya adalah resiko kita sendiri.” Kutipan dari Bapak Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Tindakan Vibhisana tidak masuk akal dalam dunia materi seperti yang kita lihat setiap hari di negeri kita saat ini. Vibhisana mempunyai harta berlimpah, mempunyai wewenang sangat besar sebagai adik seorang raja yang sangat berkuasa. Vibhisana mempunyai keluarga yang hidup sejahtera di negeri Alengka. Akan tetapi demi kebenaran dia rela menukar itu semua dengan menyeberang ke pihak Sri Rama yang kekuatannya belum diketahui apakah bisa mengalahkan pasukan Alengka. Sebuah pilihan yang penuh resiko terhadap diri dan keluarganya, terutama apabila pasukan Sri Rama kalah perang melawan pasukan Rahwana.

 

Genetik Keraksasaan dalam Diri

“Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orang tua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya. Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orangtua. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para raksasa Alengka sudah memperoleh warisan gen raksasa yang mau menang sendiri, tidak peduli bila tindakannya merugikan pihak lain, dan melakukan tindakan kekerasan terhadap orang yang tidak sama pandangan dengan mereka, asalkan mereka memperoleh imbalan yang besar. Hanya Vibhisana dan beberapa raksasa sepuh di Alengka yang mulai sadar dan mau memperbaiki karakter lama mereka. Hanuman sebagai Rama Duta yang membakar Alengka memicu mereka yang sadar agar memperbaiki kesalahan mereka, akan tetapi jumlah mereka kalah banyak dan menjadi tersisihkan di negeri Alengka.

Kesaktian Hanuman memberi pengaruh besar kepada para raksasa. Terbersit rasa keraguan di hati mereka apabila Rahwana tidak mengembalikan Sita, maka akan terjadi perang dengan pasukan Sri Rama. Apakah kesaktian para panglima Sri Rama seperti Hanuman? Sanggupkah para panglima Alengka bertempur melawan mereka. Rahwana segera mengumpulkan para panglima untuk membahas kemungkinan perang melawan pasukan Sri Rama yang akan menyerang Alengka.

Para panglima tidak ada yang berani bicara, dan Kumbakarna yang baru saja bangun tidur selama berbulan-bulan yang tidak menyaksikan Hanuman membakar Alengka berkata bahwa apabila menghadapi seekor wanara saja Alengka dibuat kacau-balau, sebaiknya tidak usah melakukan perang melawan Rama. Demi kesejahteraan rakyat Alengka sebaiknya dikembalikan saja Sita dan Alengka akan damai. Bagaimana pun para panglima raksasa mempunyai genetik mau menang sendiri. Jenderal Atikaya berkata bahwa dia  patuh terhadap perintah Rahwana dan bila harus terjadi perang dia bersama pasukannya siap menghancurkan pasukan wanara. Meganandha putra Rahwana yang juga dikenal sebagai Indrajit berkata bahwa Rahwana dapat menaklukkan para dewa, mengapa takut melawan pasukan Rama? Kumbha dan Nikumbha putra Kumbhakarna juga berpendapat seperti Megananda. Demikian pula para panglima yang lain.

 

Kebiasaan Buruk Merugikan Orang Lain

“Kebiasaan-kebiasaan buruk dalam diri kita bagaikan semak berduri. Sekali tertanam, akan tumbuh pesat. Satu kebiasaan akan mengundang kebiasaan lain. Sering kali, Si Penanam pun terluka oleh karenanya, tetapi dia tetap tidak sadar. Dia masih mempertahankan ‘semak berduri kebiasaan-kebiasaan buruk’ di dalam dirinya. Karena tidak sadar, kita juga tidak dapat merasakan penderitaan orang lain. Mungkin, tahu pun tidak kalau banyak orang ikut menderita karena kebiasaan-kebiasaan buruk kita. Misalnya: Kebiasaan merokok di tempat umum. Merusak toilet umum. Mencuri perlengkapan dari kendaraan umum. Menyalip orang seenaknya di jalan raya. Masih banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang bisa mencelakakan diri, sekaligus mencelakakan orang lain. Selagi masih bertenaga, masih muda, bebaskan dirimu dari kebiasaan-kebiasaan buruk. Semakin tua, semakin tidak bertenaga, semakin sulit membebaskan diri dari kebiasaan, karena untuk membebaskan diri dari satu kebiasaan dibutuhkan tenaga yang luar biasa. Dibutuhkan nyali yang terbuat dari baja pilihan. Dibutuhkan keberanian seribu ekor singa untuk membebaskan diri dari kebiasaan.” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Adalah Vibhisana yang bukan hanya berpikiran tentang negeri Alengka tetapi berpikir tentang kebenaran, tentang dharma, tentang mengubah kebiasaan buruk para raksasa. Vibhisana yang baru saja masuk persidangan berkata bahwa hidup mereka hanya sementara, Rahwana harus berhenti mengagumi wanita yang menjadi milik orang lain. Nafsu keserakahan adalah gerbang kehancuran. Sebuah kesalahan akan dibersihkan dengan tobat dan tidak mengulangi kesalahan. Vibhisana meminta Rahwana mengembalikan Sita kepada Sri Rama. Malyavanta, seorang menteri sepuh yang dihormati para panglima menambahkan bahwa apa yang dikatakan Vibhisana adalah besar. Banyak sekali wanita cantik yang mau dijadikan istri sang raja, mengapa harus memilih istri orang lain?

Nuansa keangkuhan para raksasa memang satu frekuensi dengan Rahwana. Para raksasa tidak biasa menoleh ke dalam diri, mereka tidak seperti Vibhisana yang terbiasa meditasi. Mereka bertindak sesuai karakter bawaan mereka yang tidak mereka ubah.

Rahwana itu sangat marah atas saran yang diberikan oleh mereka berdua. Dia menegur mereka dengan keras. Rahwana berkata, “Kamu berdua bodoh! Apakah kalian tahu apa yang telah kalian lakukan? Kalian membenarkan musuhku. Kalian seharusnya tidak hadir di persidangan ini!”

Malyavanta turun dari kursinya dan bergegas pulang, Vibhishana segera membungkuk hormat kepada Rahwana yang sedang marah. Rahwana berkata bahwa Vibhisana makan dari pemberiannya, tinggal di daerahnya tetapi membenarkan sikap musuh. Rahwana berkata bahwa mereka masih hidup hanya karena karunia dia. Rahwana berkata demikian sambil menendang Vibhisana. Malam itu juga Vibhisana menyeberang lautan menuju perkemahan Rama.

 

Melepaskan Harta dan Kekuasaan demi Kebenaran, tapi diberi tugas Mengelola Kekuasaan?

“Arjuna: Bila Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri merupakan tujuan hidup, maka untuk apa melibatkan diri dengan dunia? Aku sungguh tambah bingung.”

“Krishna: Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri memang merupakan tujuan tertinggi. Namun, kau harus berkarya untuk mencapainya. Dan, berkarya sesuai dengan kodratmu. Bila kau seorang Pemikir, kau dapat menggapai Kesempurnaan Diri dengan cara mengasah kesadaranmu saja. Bila kau seorang Pekerja, kau harus menggapainya lewat Karya Nyata, dengan menunaikan kewajibanmu, serta melaksanakan tugasmu. Dan, kau seorang Pekerja, kau hanya dapat mencapai Kesempurnaan Hidup lewat Kerja Nyata. Itulah sifat-dasarmu, kodratmu. Sesungguhnya tak seorang pun dapat menghindari pekerjaan. Seorang Pemikir pun sesungguhnya bekerja. Pengendalian Pikiran – itulah pekerjaannya. Bila pikiran masih melayang ke segala arah, apa gunanya duduk diam dan menipu diri? Lebih baik berkarya dengan pikiran terkendali. Bekerjalah tanpa pamrih! Hukum Sebab Akibat menentukan hasil perbuatan setiap makhluk hidup. Tak seorang pun luput darinya, kecuali ia berkarya dengan semangat menyembah.” Dikutip dari Artikel Bapak  Anand Krishna di http://www.aumkar.org/ind/?p=19

Vibhisana disuruh menunggu oleh para pengawal Sri Rama dan Sugriwa lapor ke Sri Rama. Sugriwa mengatakan bahwa Vibhisana adik Rahwana ingin darshan, bertemu dengan Sri Rama. Sugriva meminta Sri Rama tidak percaya terhadap Vibhisana karena jangan-jangan dia adalah mata-mata Alengka. Akan tetapi Sri Rama berkenan menemui Vibhisana dan mendengarkan penuturannya.

Vibhisana berkata, “Hamba lahir sebagai ras raksasa atas dosa-dosa masa lalu akibat ketidakpedulian dan kebodohan dalam tindakan hamba. Sekarang hamba pasrah kepada Paduka.”

Sri Rama berkata, “Darshan yang kau temui telah menghapuskan keraksasaan dalam dirimu. Yang penting adalah memelihara apa yang sudah berubah pada dirimu! Kamu segera mandi air suci samudera dan kembali kemari!”

Rama kemudian mengutus Hanuman mengambil air suci. Dan ketika Vibhisana selesai mandi air samudera serta duduk kembali di perkemahan, Sri Rama memercikkan air suci dan berkata, “Dengan ritual ini kau diangkat sebagai penguasa Alengka!”

Vibhisana berkata, “Hamba tidak butuh kerajaan, hamba hanya ingin mengabdi kepada Paduka!

Sri Rama berkata, “Ingin mengabdi kepada-Ku? Kau harus berkarya sesuai kodratmu.  Ini adalah tugasmu. Jangan melarikan diri dari tugasmu!”

Vibhisana berkata, “Hamba mengikut perintah Paduka!”

Dan Hanuman beserta semua wanara merasakan nuansa kemuliaan memenuhi perkemahan tersebut.

Bagaimana cara pasukan Sri Rama menyeberangi samudera menuju Alengka? Silakan ikuti kisah selanjutnya.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Dia yang Menginginkan Permaisuri Indra, Kisah Nahusha Leluhur Pandawa

Posted in Mahabharata with tags , on November 22, 2013 by triwidodo

Nahusa jatuh dari Tandu sumber id.wikipedia

Ilustrasi Nahusha jatuh dari tandu sumber id.wikipedia

Menginginkan Saci Permaisuri Dewa Indra

“Manusia sudah terbiasa melihat ‘ke luar’. Dia lupa melihat ke dalam diri. Padahal apa yang dilihatnya itu, apa yang ada di luar itu, tidak pernah memuaskan dirinya. Selalu mengecewakan. Walau demikian, kesadarannya masih tetap mengalir ke luar terus. Dia berharap pada suatu ketika akan menemukan sesuatu yang tidak mengecewakannya. Yang memuaskannya. Kita lahir dan mati, lahir kembali dan mati lagi, dengan kesadaran kita mengalir ke luar terus. Bahkan kita tidak menyadari hal itu. Kita tidak sadar bahwa kesadaran kita sedang mengalir ke luar terus. Seorang Narada menyadari kesalahan diri. Dia sadar bahwa kesadarannya mengalir ke luar terus. Dan dengan penuh kesadaran, dia mengalihkan alirannya ke dalam diri. ‘Kesadaran untuk mengalihkan aliran kesadaran ke dalam diri’ inilah langkah awal dalam meditasi. (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kala Indra bertapa di danau Mamasa selama 1000 tahun karena membunuh brahmana Vritra, pemimpin dewa dipegang oleh Nahusha, seorang raja yang banyak melakukan persembahan yajna dan sudah melakukan upacara Asvamedha, persembahan 100 ekor kuda serta sudah dianggap setara dengan Indra. Nahusha adalah seorang raja yang baik dan bijaksana dan kaya raya. Bagaimana pun wewenang yang sangat besar sering membuat lupa diri. Power tends to corrupts, absolute power corrupts absolutely. Harta berlimpah, kesaktian luar biasa, wewenang sangat besar, apalagi yang masih kurang? Wanita jelita yang berbeda dengan wanita di kerajaannya yang selalu memimpikan dia, itu yang menjadi obsesi Sang Raja yang telah memperoleh segalanya. Nahusha menginginkan Saci yang berada dalam kemurungan karena kehilangan Indra. Saci minta tolong kepada Bhrihaspati agar dilindungi dari Nahusha, akan tetapi Bhrihaspati telah diancam oleh Sang Raja. Saci kemudian minta waktu kepada Nahusha untuk mencari keberadaan Indra terlebih dahulu, untuk meyakinkan bahwa Indra sudah tidak balik lagi. Saci menemukan Indra di danau Manasa akan tetapi tidak bisa ke luar dari sana. Indra kemudian memberi jalan keluar kepada Saci.

 

Dikutuk Resi Agastya

“Keterikatan dengan dunia benda dan keserakahan, dwitunggal inilah penghalang utama. Seorang pencari tak akan pernah menemukan apa yang dicarinya, selama belum bebas dari keduanya. Keserakahan dan kesadaran tidak pernah bertemu. Keterikatan dengan dunia benda berarti kesadaran mengalir keluar. Pencarian jatidiri berarti kesadaran mengalir ke dalam. Beda aliran. Seorang ilmuwan, sepintar, dan secerdas apa pun dia, jika masih serakah tetap tidak mengenal dirinya. Jika kau masih terikat dengan hasil perbuatanmu, masih mengharapkan imbalan, pujian dan penghargaan, maka pencapaian jatidiri bukanlah untukmu. Sia-sia pula bertemu dengan seorang guru, bila kau masih angkuh dan belum mampu mengendalikan kelima indera. Maka janganlah mencari sesuatu yang belum waktunya kau cari, Ikutilah tahapan-tahapan yang mesti kau lalui. Biarlah pikiranmu tenang dulu, biarlah hatimu bersih dan suci dulu setelah itu baru Brahma-Gyaan, barulah mencari pengetahuan sejati tentang jatidiri, tentang Tuhan.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Saci kemudian berkata kepada Nahusha bahwa seorang perempuan itu sangat terhormat bila dipinang oleh raja yang naik tandu yang dipanggul oleh para resi. Salah seorang resi yang diminta menjadi pemikul tandu adalah Resi Agastya, salah seorang dari Saptarishi yang di Nusantara dikenal sebagai Semar. Pada suatu hari Nahusha minta para resi untuk memanggul tandu menuju tempat tinggal Saci. Nahusha tak sabar dengan jalannya para resi dan berkata. “Lebih cepat, lebih cepat, sarpa, sarpa!”

Sebagai seorang resi, Agastya sudah bisa membaca pikiran Nahusha. Pikiran Nahusha sudah tidak benar, tindakannya menyuruh para resi memanggul tandu menuju tempat tinggal Saci sudah tidak benar, kini kata-katanya menyakiti hati para resi. Seseorang yang kesadarannya mengalir ke luar dengan keserakahan berlebih-lebihan perlu melakukan meditasi, mengubah fokus kesadaran yang terbiasa ke luar menjadi ke dalam diri. Resi Agastya kemudian menghentikan tandu dan berkata, “Wahai Raja, Anda mengatakan kepada para resi sarpa, sarpa maka Anda akan menjadi mahasarpa (ular sangat besar) dan jatuh ke dunia. Bukan sarpa yang dapat bergerak untuk memperoleh makanannya. Akan tetapi, Anda akan menjadi ular sanca raksasa yang harus menunggu makanannya datang kepada Anda. Anda akan berada di Hutan Dwaitavana, hutan dualitas selama ribuan tahun sebagai yaksha penunggu hutan!”

Kesadaran Nahusha datang terlambat. Ketika dikutuk Resi Agastya, Nahusha dibersihkan dari keangkuhannya dan kemudian dengan kerendahan hati Nahusha berkata, “Saya layak mendapat hukuman yang lebih buruk. Mohon berkahi diri saya!” Resi Agastya sadar bahwa semuanya harus terjadi, dia hanyalah “alat” dari Dia Yang Maha Kuasa. Resi Agastya berkata, “Kutukan tidak dapat ditarik. Anda akan lepas dari kutukan pada zaman Dwapara Yuga. Dalam garis keturunan Anda akan ada ksatria agung bernama Yudisthira. Ia merupakan “amsa”, salah satu perwujudan dari Dharma. Ia akan melepaskanmu dari kutukan dan pikiranmu menjadi jernih kembali. Dan, kamu akan kembali ke surga.

 

Pertemuan Yudisthira dengan Yaksha Penunggu Hutan di Himalaya

Nahusha mempunyai putra Yayati, salah satu putra Yayati adalah Puru dan berturut-turut silsilahnya adalah Raibya, Dusyanta yang kawin dengan Shakuntala, Bharata, Bharatvaja, Bharmyasa, Divodasa, Pratipa, kemudian Santanu yang merupakan kakek buyut Yudisthira.

Berada dalam pengasingan, pada suatu hari Pandawa merasa sangat haus. Sadewa diminta mencari air di telaga di hutan tersebut. Ketika Sadewa tidak kembali, Nakula diminta mencari air sambil mencari jejak Sadewa. Kemudian karena Nakula tidak kembali juga, maka berturut-turut Arjuna dan kemudian Bhima pun pergi juga. Akhirnya Yudisthira mengikuti jejak keempat saudaranya dan menemukan keempat-empatnya tergeletak tewas ditepi telaga. Yudisthira segera akan mengambil air tatkala mendengar suara Yaksha penunggu hutan memperingatkan agar tidak mengambil air sebelum menjawab pertanyaannya. Keempat saudaranya tewas karena tidak mau menjawab pertanyaan Sang Yaksha.

Dan, Yudisthira setuju menjawab pertanyaan Sang Yaksha. Yudisthira paham bahwa pertanyaan Sang Yaksha adalah pertanyaan mendasar tentang kehidupan yang hanya dipahami oleh seseorang yang hidup meditatif. Yudisthira menduga Sang Yaksha telah bermeditasi sangat lama sehingga mengerti rahasia kehidupan.

Di antara beberapa pertanyaan tersebut adalah apa yang membuat matahari bersinar setiap hari yang dijawab Yudisthira kekuatan Brahman. Apakah mempelajari ilmu pengetahuan membuat manusia menjadi bijak? Dijawab bahwa seorang manusia tidak memperoleh kebijaksanaan hanya dari mempelajari ilmu kebijaksanaan, akan tetapi harus bergaul dengan orang bijak. Jawaban Yudisthira lainnya adalah para ibu yang melahirkan dan merawat anak-anaknya lebih mulia dari bumi. Ayah lebih tinggi dari langit. Pikiran lebih cepat dari angin. Hati yang sedih lebih menderita dibanding jerami kering. Belajar adalah teman perjalanan. Yang menyertai seseorang setelah kematian adalah dharma. Kebahagiaan adalah buah perilaku yang baik. Yang setelah dibuang membuat manusia dicintai oleh semua orang adalah kebanggaan pada diri. Yang membuat seseorang bersukacita kala kehilangan adalah kemarahan. Kehilangan yang membuat seseorang menjadi kaya adalah kehilangan keinginan. Baik kelahiran maupun pembelajaran tidak membuat seseorang menjadi brahmana, hanya perilaku yang baik yang membuatnya menjadi brahmana. Keajaiban terbesar di dunia adalah bahwa meskipun manusia setiap saat melihat makhluk hidup mati, mereka masih memiliki anggapan untuk hidup selamanya.

Sang Yaksha mengakui ketepatan jawaban Yudisthira, namun ia hanya sanggup menghidupkan salah seorang saudara Yudisthira saja dan Yudisthira diminta memilih siapa yang akan dihidupkan kembali. Sang Yaksha heran kala Yudisthira memilih agar Nakula dihidupkan kembali. Yudisthira menjelaskan bahwa Pandu, ayahnya memiliki dua istri, karena Yudisthira lahir dari Kunti, maka dia meminta Nakula putra Madri untuk dihidupkan kembali. Sang Yaksha terkesan dengan jawaban Yudisthira, maka dia menghidupkan semua keempat saudara Yudisthira. Pada saat itu terjadi keajaiban, Sang Yaksha berubah kembali menjadi Nahusha, leluhur Yudisthira sendiri. Nahusha puas, tidak menyesal atas tapanya ribuan tahun menjadi Yaksha, karena melihat dengan mata kepala sendiri kebijaksaan anak keturunannya.

 

Insting Hewani Nahusha Dalam Diri

“Beda orang, beda isting hewani yang tersisa, dan beda pula stimulus yang dapat membangkitkan keliaran dalam dirinya. Kelemahan adalah kelemahan. Apakah itu kecanduan, ketergantungan pada obat-obatan, seks, makanan, rokok atau apa saja. Yang satu terpeleset karena kulit pisang. Yang satu lagi terpeleset karena kulit mangga, atau hanya karena lantainya licin. Mereka semua sama-sama jatuh. Tidak perlu membeda-bedakan antara kulit pisang, kulit mangga, dan lantai yang licin. Seseorang yang kelemahannya makan berlebihan tidak perlu mengkritik orang lain yang kelemahannya menelan pil ekstase. Dua-duanya sama lemah. Untuk itu, dengan penuh kesadaran, keadaan, tempat, atau individu yang dapat menjadi umpan dan memancing insting hewani dalam diri perlu dihindari.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Nahusha mengingatkan kita bahwa masih ada “insting hewani Nahusha” dalam diri kita semua. Jangan sampai “insting hewani Nahusha” dalam diri kita bangkit karena keberlimpahan materi.

 

“Film-film tayangan teve tetap juga menyajikan adegan-adegan seks. Banyak orang masih beranggapan bahwa seks merupakan kebutuhan biologis yang tak terelakkan. Mereka masih belum bisa menerima kalau energi seks dapat diubah sifatnya menjadi energi Kasih. Interaksi dengan mereka ini rupanya menjadi stimulus bagi ‘insting hewani’ yang bagaimana pun masih tetap ada dalam dirinya dan diri setiap orang. Insting hewani itu memang sudah sekarat, tetapi tidak pernah mati sepenuhnya. Lalu, karena memperoleh makanan berupa stimulus dari luar, kendati dalam porsi yang amat sangat minim, dia bertahan hidup terus.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Dia yang Membuat Semua Pria Tergila-gila, Sebuah Kisah Boddhisattva

Posted in Relief Candi with tags , , on November 20, 2013 by triwidodo

jelita 5 sumber nhstella blogspot com

Ilustrasi Lukisan Gadis India Jelita sumber: nhstella blogspot com

Daya Tarik Si Jelita

“Jangan lama-lama berpandangan dengan lawan jenis. Setiap orang memiliki daya magnet, ada yang kekuatannya melebihi kekuatan Anda, ada yang kurang. Tetapi, tanpa kecuali, setiap orang memilikinya. Selain itu ada juga ketertarikan alami antara lawan jenis. Dengan saling memandang untuk beberapa lama saja sudah terjadi interaksi energy, walau tidak sekata pun terucap. Sebab itu ada juga ashram yang mengharuskan setiap sanyasi untuk memandang ke bawah ketika berhadapan dengan lawan jenis, walau sama-sama sanyasi. Swami Kriyananda berkesimpulan bahwa cara ini tidak efektif. Saya setuju.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita telah membaca Kisah Raja Sibi yang menghibahkan kedua matanya, silakan baca  http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/28/kisah-bodhisattva-menghibahkan-kedua-mata-menjadi-buta-sampai-akhir-hayatnya-605422.html

Dan jauh sebelum peristiwa tersebut, semasa masih lajang, sang raja bertemu dengan wanita yang dikenal dengan sebutan “dia yang membuat semua pria tergila-gila”. Daya tariknya melebihi kemampuan bertahan setiap pria terhadap godaan dunia. Magnetnya begitu kuat dan pria yang memandangnya lupa status dirinya.

Tawaran untuk Meminang Si Jelita

“Janganlah menganggap remeh, Ketika Anda melihat sebuah gadget baru, kemudian timbul ketertarikan, padahal Anda tidak membutuhkannya. Ketertarikan seperti itu sering diremehkan, karena dianggap harmless, tidak menyusahkan atau menyakiti orang lain, ‘kan cuma gadget, bukan seks.’ Hari ini gadget, besok musik, lusa teater, kemudian seks lagi. Berhati-hatilah wahai Sadhu! ‘Internalize it!’ Ketika melihat sesuatu yang indah, seseorang yang tampan, cantik, atau apa saja yang menimbulkan ketertarikan, pindahkan fokus Anda dari luar ke dalam diri.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Salah seorang warga kota memiliki seorang putri dengan kecantikan yang luar biasa. Begitu kuat daya tariknya, sehingga setiap orang yang berpapasan selalu berpaling kepadanya. Tidak mungkin tidak. Masyarakat menjulukinya Unmadayanti yang bermakna ‘dia yang membuat semua pria tergila-gila’. Sang ayah kemudian menghadap sang raja dan bertanya apakah sang raja bersedia menerima putrinya sebagai istri raja?

Sang raja segera memerintahkan sekelompok brahmana untuk mengunjungi sang gadis dan melihat apakah sang gadis mempunyai tanda keberuntungan sehingga bisa dipilih sebagai istri sang raja. Ayah Unmadayanti kemudian mengajak para brahmana datang ke rumahnya. Para brahmana dijamu makanan oleh si jelita. Beberapa brahmana sudah terbiasa diundang ke rumah yang sangat indah, dan kadang melihat lukisan wanita yang sangat elok dan mereka tidak menyadari bahwa ketertarikan itu bersumber di dalam diri. Di dalam diri beberapa brahmana tersebut masih ada potensi ketertarikan terhadap keindahan di luar diri. Memperhatikan Unmadayanti, tak membutuhkan waktu lama, para brahmana kehilangan kontrol atas diri mereka, seluruh mata dan pikiran para brahmana terfokus pada diri si jelita.

Setelah selesai acara makan malam para brahmana berdiskusi bahwa pesona sang jelita seperti sihir yang sangat kuat. Sang raja sebaiknya tidak mengawininya, karena akan membuatnya tergila-gila dan lupa melakukan tugasnya sebagai seorang raja. Pada akhirnya nanti rakyatnya yang akan menderita. Para brahmana kemudian melapor kepada sang raja bahwa si jelita memang sangat cantik, akan tetapi tidak memiliki tanda keberuntungan. Sang raja tidak perlu melihat si jelita, apalagi mengawininya. Sang raja percaya pada para brahmana dan kehilangan selera untuk melihat Unmadayanti.

Sang Raja Bertemu Mata dengan Si Jelita

“Ketika berpapasan dengan lawan jenis di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, ‘Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!’ Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi. Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, Subhanallah! Maha Suci Allah.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Segera setelah itu ayah Unmadayanti menikahkan putrinya dengan Abhiparaga, seorang pejabat dari kantor pengadilan kerajaan. Beberapa waktu kemudian sang raja naik kereta sepulang menghadiri upacara keagamaan. Sewaktu mendekati rumah Abhiparaga, Unmadayanti yang ditolak oleh sang raja berdiri di atas atap rumah yang dikelilingi dengan pagar putih dan bertanya-tanya di dalam hati, apakah sang raja tetap berteguh hati kala melihat dirinya. Sang raja punya rasa malu untuk melihat wanita, apalagi bila dia istri dari orang lain. Sang raja biasa berlatih menundukkan panca indera. Akan tetapi sang raja akhirnya memperhatikan Unmadayanti. Memperhatikan sangat lama. Sang raja berpikir, apakah dia seorang bidadari? Sang raja kembali ke istana seperti linglung, keteguhan pikirannya mulai rusak. Setelah beberapa hari sang raja bertanya kepada kusir kereta, rumah siapakah yang dikelilingi oleh pagar putih? Dan siapakah wanita cantik yang tinggal di rumah tersebut? Sang kusir menjawab bahwa rumah itu adalah milik Abhiparaga dan wanita itu adalah istrinya yang disebut Unmadayanti, ‘dia yang membuat semua pria tergila-gila.

Sang raja nampak menghela napas setelah mendengar bahwa dia adalah istri orang lain. Sang raja berupaya menghilangkan si jelita dari pikirannya, akan tetapi nampaknya tidak bisa. Setiap saat yang terpikir hanyalah si jelita.

Tawaran Abhiparaga, Suami Unmadayanti

“Pikiran tentang seks bisa muncul kapan saja, di mana saja, setiap saat. Ada interaksi dengan lawan jenis atau tidak, tak jadi soal. Saat Anda sedang sendirian pun, tetap bisa terganggu oleh seks. Janganlah sekali-kali melayani pikiran seperti itu. Sekarang masih berupa pikiran, sesaat lagi berubah menjadi fantasi. Saat itu gangguan yang Anda hadapi jauh lebih berat lagi. Sebab itu, seperti yang selalu dikatakan oleh Paramhansa Yogananda, setiap kali Anda mendeteksi seks dalam pikiran Anda, cepat alihkan pikiran Anda pada sesuatu yang lain. Dalam hal ini eksperimen yang dilakukan oleh leluhur kita adalah sangat tepat. Yaitu dengan menciptakan candi-candi yang indah penuh dengan patung para dewa dan dewi yang tidak hanya cantik, tetapi juga mewakili nilai-nilai spiritual yang sangat tinggi. Misalnya, ketika kita melihat patung Dewi Sri yang cantik, kita juga terinspirasi oleh keberlimpahannya, dengan kesiap-sediaannya untuk berbagi. Lingga dan Yoni mewakili kebersamaan, kesetaraan, nilai kekuatan sekaligus kelembutan. Durga Mahishasumardini mengingatkan kita betapa pentingnya ketegasan ketika menghadapi ketidakadilan, kekejaman, dan kezaliman.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Abhiparaga segera melihat perubahan yang dialami sang raja dan akhirnya menemukan penyebabnya. Apabila sang raja tidak disembuhkan maka hal-hal buruk akan menimpa kerajaan. Karena mencintai sang raja, Abhiparaga memberanikan diri menghadap sang raja secara pribadi. Abhiparaga berkata, “Paduka apakah kami boleh membawa Unmadayanti kepada Paduka?”

Sang raja bingung karena malu berkata, “Tidak, itu tidak bisa! Pertama, kebaikan saya akan musnah. Kedua tindakan jahat saya akan diketahui semua orang. Ketiga, apakah kau tidak akan sedih dan menyesal seumur hidup?”

Abhiparaga meyakinkan sang raja, “Paduka jangan takut! Paduka tidak melanggar dharma. Bukankah dharma memperbolehkan kita untuk menerima pemberian? Dengan menolak pemberian hamba berarti paduka menghalangi kebaikan hati hamba. Hal ini tidak akan merusak reputasi paduka, ini murni pengaturan kita berdua. Tidak ada yang tahu kami membawa Unmadayanti kepada paduka. Kepuasan terbesar saya adalah melayani raja, kesedihan karena kehilangan istri masih kalah jauh dibanding kebahagiaan menyenangkan paduka.”

Sang raja berkata, “Stop Abhiparaga, itu penalaran yang jahat, yang membuat keterikatan saya pada hal yang tidak benar. Setiap hadiah tidak perlu diterima. Orang yang memberikan hal yang berharga kepada saya adalah sahabat sejati saya. Demikian pula istrinya. Saya harus menghormati istri sahabat saya. Jika Anda berupaya agar saya bercinta dengan istri Anda secara rahasia dan menganggap saya menemukan kebahagiaan, itu adalah seperti minum racun yang tidak terlihat tapi berharap hidup sehat. Siapa yang percaya bahwa Anda tidak mencintai istri Anda dan tidak putus asa setelah Anda memberikan tubuhnya kepada saya.”

Abhiparaga terus berupaya, “Paduka adalah Master hamba, bersama istri dan anak-anak, hamba adalah budak paduka. Sesama budak bisa saling berhubungan, akan tetapi hubungan utama adalah dengan majikan. Sebagai budak dia juga akan memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk diterima. Bila paduka tetap menolak, hamba akan minta istri saya untuk menjadi pelacur. Yang tersedia bagi siapa saja yang haus dan paduka bisa menikmatinya. Apa pun demi kebahagiaan paduka!”

Sang raja berkata, “Anda gila, meninggalkan istri adalah kesalahan dan akan memulai rantai kehidupan penuh duka bagi banyak orang. Adalah kasih sayang Anda untuk membahagiakan saya tanpa memperhatikan benar atau salah. Tapi cinta kasih mendorong saya untuk mencegah semua keinginan Anda. Saya bertanggung jawab atas tindakan saya sendiri. Saya berharap tidak menyusahkan orang lain. Wahai Abhiparaga saya sudah merenungkan bagaimana kecantikan istri Anda 60 tahun yang akan datang! Tujuan hidup itu apa? Kalau tujuan hidup itu adalah memperoleh kebahagiaan, mungkinkah memperoleh kebahagiaan abadi dari hal yang tidak abadi?”

Abhiparaga menangis dan bersujud di depan sang raja, “Semoga Bunda Alam Semesta selalu memberkati paduka.”

Mengatasi Ketertarikan terhadap Keindahan

Seks itu tampaknya menjanjikan, akan tetapi kita sudah melihat bukti nyata di semua media bahwa para pejabat yang mempunyai istri kedua karena ketertarikan seks banyak menimbulkan permasalahan. Hoki/keberuntungan seorang pria juga dipengaruhi oleh kombinasi keselarasan hoki/keberuntungan sang istri, intervensi dari orang ketiga akan mengacaukan hoki/keberuntungan yang sudah selaras. Kita bisa belajar dari hidup nyata apa yang terjadi di sekeliling kita. Bagaimana cara melampaui ketertarikan alami terhadap “si jelita”?

“Ketertarikan, rasa senang, bahagia, semuanya berasal dari dalam diri Anda sendiri. Sesuatu yang indah telah membuat Anda senang, baik. Sekarang persembahkanlah rasa senang itu kepada Tuhan. Dan energi Anda akan langsung mengalir ke atas. Bagaimana caranya? Bagaimana mempersembahkan rasa senang itu kepada Tuhan? Salah satu cara adalah dengan menyanyikan pujian, dari tradisi mana pun juga. Adalah sangat baik jika setiap ashram menjadwalkan setengah atau satu jam setiap hari untuk menyanyi bersama, menyanyikan lagu-lagu pujian yang biasa disebut bhajan atau kirtan. Dengan cara itu setiap penggiat ashram bisa menginternalisasikan pengalamannya.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Mengapa Masyarakat Ikut Dihukum Akibat Kesalahan Kepala Negara? Kisah Hanuman Membakar Alengka

Posted in Ramayana with tags , , on November 18, 2013 by triwidodo

Vishnu dengan 4 tangan sumber www exoticindiaart com

Ilustrasi Vishnu dengan empat tangan sumber: exoticindiaart com

Mengapa Menghukum Orang-Orang yang Tidak Bersalah

“Kepada para penduduk dan penguasa Negara Lanka, Hanuman muncul dalam wujud raksasanya yang menakutkan. Hal tersebut merupakan peringatan bagi mereka, ‘Kembalikanlah Sita kepada Sri Rama. Rahwana, sadarilah kesalahanmu. Kamu tidak berhak atas Sita.’ Mereka tidak mengindahkan peringatan ini, maka ketika meninggalkan Lanka, Hanuman pun membakar seluruh kota. Orang sering bertanya, ‘Mengapa Hanuman melakukan itu? Mengapa menghukum orang-orang yang tidak bersalah, penduduk Lanka, atas kesalahan yang dilakukan oleh penguasa mereka?’ Hal ini adalah sesuatu yang sangat sulit dihindari. Kita memilih pemimpin kita, kita memilih penguasa kita, kita memilih presiden dan perdana menteri kita, kita memilih anggota parlemen kita, dan kita bahkan memilih para diktator kita. Mereka berada di posisi mereka karena kita juga.Bagaimana kita memilih diktator kita? Mereka tetap berkuasa selama kita terang-terangan takut kepada mereka, atau takut kehilangan sesuatu.” Terjemahan bebas dari kutipan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seandainya Kepala Negara dan para Pejabat melakukan kesalahan, maka masyarakat turut bersalah. Karena yang memilih Kepala Negara dan Dewan Perwakilan Rakyat adalah masyarakat. Yang melakukan fit and proper test bagi para pejabat adalah para wakil yang dipilih oleh masyarakat. Ingin mengubah keadaan? Masyarakat harus cerdas dan kritis dalam melakukan pilihannya. Kesalahan pilihan akan mengakibatkan kesengsaraan paling tidak selama 5 tahun ke depan. Bahkan dampak kesalahan memilih dapat berdampak dalam masa yang sangat panjang. Masyarakat harus cerdas dan kritis itulah salah satu nasehat dalam kisah Ramayana.

 

Masyarakat Alengka Melupakan Dharma Karena Terlalu Nyaman

“Bersyukur dalam keadaan suka. Senantiasa mengingat-ingatkan diri bahwa Ialah Hyang Maha Kuasa, tiada kekuasaan diluarNya. Duka/kesulitan adalah ‘polisi tidur’ supaya kita tidak terlena, tidak lengah, dan mengingatNya selalu. Tiada polisi tidur sepanjang jalan, ada kalanya beberapa sekaligus, satu setelah yang lain, tetapi ya sebatas itu saja, perjalanan ke depan mulus lagi. Kabir mengatakan ‘Dalam duka semua mengingatNya, dalam suka selalu lupa;  jika kau mengingatNya dalam suka, maka untuk apa mengalami duka?’ Berarti apa? Pengalaman duka hanyalah sarana untuk mengingatkan kembali kita yang sudah lupa. Jika sudah ingat terus, tidak ada lagi peringatan. Sungguh dengan definisi ini kita semua tergolong kafir, karena masih membutuhkan pembawa peringatan. Kita semua masih berjihad untuk menjadi mukmin. Kita semua mujahid, belum layak menjadi khalifa.” *)Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Bila di negara lain masyarakat takut kepada penguasa walau mereka ditindas, di Alengka masyarakat hidup sangat sejahtera. Masyarakat Alengka berada dalam keadaan nyaman sehingga melalaikan dharma. Pemerintah Alengka mempunyai sumber pendapatan hasil bumi dan hasil tambang yang cukup untuk menjalankan pemerintahan. Tidak ada pajak bagi masyarakat Alengka. Para penduduk Alengka begitu nyaman sampai-sampai mereka tidak peduli bahwa Rahwana melakukan sebuah kejahatan dengan menyekap istri seseorang dan menjadikannya tawanan di istananya. Dengan demikian, mereka pun juga turut andil atas kejahatan yang dilakukan oleh penguasa mereka.

Sebagaimana para Utusan adalah pembawa peringatan bagi umat yang zalim, demikian pula Hanuman memberi peringatan kepada masyarakat Alengka agar sadar dan segera mengingatkan rajanya untuk tidak melakukan tindakan adharma menyekap ibu Sita.

 

Hanuman Mengganggu Para Raksasa

Hanuman mengambil wujud sebagai monyet kecil yang makan buah-buahan di taman dengan sepuas-puasnya. Seorang pengawal raksasa melihatnya dan melemparinya dengan batu agar sang monyet lari. Sang monyet justru meniup sang raksasa sehingga dia terjatuh. Raksasa tersebut segera memanggil kawan-kawannya, akan tetapi Hanuman mengubah ke wujud aslinya dan mempermainkan mereka. Berita tersebut cepat menyebar dan sampai ke telinga Rahwana. Rahwana mengirim putranya bernama Indrajit yang memiliki senjata Brahmaastra. Hanuman membiarkan dirinya terikat, padahal dia hanya terikat sesaat saja dan dengan mudah dapat melepaskannya.

Hanuman berpikir, dengan membiarkannya dirinya terikat, dia akan bisa melihat istana raja dan bertemu dengan Rahwana. Hanuman selanjutnya dibawa ke sidang pengadilan. Hanuman mengatakan bahwa dia merasa lapar dan sebagaimana kebiasaan monyet dia makan buah-buahan. Karena diganggu raksasa maka dia membalas. Para raksasa justru ingin membunuhnya dan dia melindungi dirinya. Selanjutnya, Hanuman berkata bahwa dia mengetahui bahwa Ayahanda Rahwana adalah Resi Visrava. Visrava adalah putra Pulasthya. Sedangkan Pulasthya adalah putra Brahma. Sudah seharusnya sebagai anak keturunan Brahma, Rahwana tidak melakukan tindakan adharma. Hanuman juga mengatakan bahwa dia mengetahui kekuatan Rahwana yang pernah bertarung melawan Subali. Dia ke Alengka untuk melaksanakan perintah Sri Rama agar Rahwana cucu buyut Brahma mengembalikan Sita kepada Sri Rama.

Rahwana menolak mengembalikan Sita, bahkan ingin membunuh Hanuman yang telah membunuh beberapa raksasa. Vibhisana menyampaikan usul kepada Rahwana, karena Hanuman adalah seorang Utusan Kerajaan maka Kerajaan tersebut harus dihormati dan Utusan Kerajaan tersebut jangan dibunuh. Rahwana tetap berpendapat Hanuman mesti dibunuh. Dari berbagai masukan diketahui bahwa monyet itu bangga dengan ekor mereka dan selalu menjaga agar ekor mereka panjang dan kuat. Oleh karena itu maka ekor Hanuman akan dibakar, agar raja pengutusnya marah dan menuntut balas ke Alengka dan dihabisi di Alengka.

Mereka membalut ekor Hanuman dengan kain dan mulai membakarnya. Hanuman segera mengecilkan tubuhnya dan melepaskan diri dari belenggu Brahmaastra. Selanjutnya Hanuman mengambil wujud raksasa yang sangat besar dan menakutan dan mulai menggerak-gerakkan ekornya yang terbakar ke atap istana dan penduduk Alengka. Dan mulailah Alengka terbakar dan masyarakat tercekam ketakutan. Hanya rumah Vibhisana yang selamat sebagai tanda bahwa pemuja Vishnu yang taat akan selamat. Hanuman segera mendatangi Ibu Sita di Ashokavanam yang juga tidak terbakar. Ibu Sita memberikan permata Chudamani untuk disampaikan kepada Sri Rama. Hanuman kemudian meloncat ke laut untuk memadamkan api di ekornya dan kembali terbang menuju Sri Rama.

 

Tahapan Simbolik Tangan Vishnu, Kisah Hanuman Membakar Alengka

Alam tidak bertindak gegabah, untuk melakukan suatu tindakan ada tahapan-tahapan yang perlu dilalui. Seseorang yang sadar telah berbuat salah bisa segera membelokkan tindakannya kembali ke jalan yang benar.

Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan tahapan simbolik empat tangan Vishnu sebelum menggunakan gadanya untuk menghancurkan adharma. Tangan pertama menghadap ke depan memberi blessings dapat dimaknai kesalahan bisa dimaafkan bila kita segera sadar dan bertobat. Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, dapat dimaknai bahwa bila kita tetap melakukan kesalahan akan datang peringatan agar kita segera sadar dan cepat bertobat. Tangan ketiga memegang chakra, dapat dimaknai bahwa apabila kita tetap melakukan kesalahan sambil berjalannya cakra waktu yang berputar kita tetap masih memperoleh kesempatan untuk tobat. Tangan keempat memegang gada, bila sampai waktu tertentu kita masih nekat bertahan melakukan kesalahan, maka gada alam semesta akan berbicara untuk meremukkan kita.

Hanuman adalah pemberi peringatan, dan telah memberikan peringatan simbolik dengan api yang membakar istana dan rumah-rumah di Alengka. Akan tetapi Rahwana dan penduduk Alengka tidak mengambil hikmah dari terbakarnya Alengka. Dan kehancuran hanya menunggu berputarnya cakra sang kala saja. Apakah negeri kita tidak mendapat peringatan dari para UtusanNya? Apakah dunia tidak memperoleh peringatan dari UtusanNya? UtusanNya tidak hanya berupa para suci akan tetapi bencana pun bisa menjadi utusanNya sebelum gadaNya berbicara.

 

Peringatan, Firman kepada Kita Semua

“Alam telah bersabda. Keberadaan telah menyampaikan firman-Nya. Ia telah menurunkan fatwa-Nya. Apakah kita mendengar sabda-Nya? Apakah kita memahami firman-Nya? Apakah kita menghormati fatwa-Nya? Dengan seribu satu macam cara, dalam seribu satu macam bahasa, dari seribu satu sudut dunia – la menyapa kita. la berusaha untuk membangunkan kita. Kita tetap tertidur lelap. Maka, ‘terpaksa’ la pun harus meneriaki kita: ‘Bangun, bangunlah!’ Adakah seseorang di antara kita yang mendengar teriakan itu? Ada, dan sesungguhnya banyak. Namun, kita masih saja bermalas-malasan di atas ranjang. Kita masih enggan untuk meninggalkan tempat tidur. Bahkan, ada yang malah menyangsikan bila teriakan itu berasal dari-Nya, ‘Ah, mana mungkin? Tidak. la tidak pernah berteriak. Titik.’ Kita menempatkan fatwa kita di atas fatwa-Nya. la tidak pernah berteriak. Titik. Kenapa tidak? Siapa yang dapat melarang-Nya? Kau? Aku? Memangnya kita ini siapa? Dalam kebodohanmu, kau menentukan kode etik bagi-Nya. Dalam ketaksadaranku, aku mengatur gerak-gerik-Nya. Sungguh ajaib! Sungguh lucu dan tidak masuk akal. Kita siapa? Tsunami adalah teriakan-Nya. Gempa bumi, banjir, dan bencana alam lainnya adalah teguran keras yang telah disampaikan-Nya. Itulah Sabda Alam. Bagaimana kita mengartikan Sabda itu? Bagaimana kita memahami Sabda-Nya?” (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Dua Istri Membawa Masalah, Kisah Raja Yayati Leluhur Pandawa

Posted in Mahabharata with tags , , on November 16, 2013 by triwidodo

yayati dikutuk Shukracharya sumber ajitvadakayil blogspot com

Ilustrasi Raja Yayati dikutuk Shukracharya menjadi orang tua sumber ajitvadakayil blogspot com

“Jangan seperti pembantu di rumah, yang ikatannya dengan sesama pembantu, bukan dengan majikannya. Sehingga jika satu keluar, yang lain pun ikut keluar dengan dalih solidaritas. Solidaritas seperti itu lazim bagi para pembantu, tetapi tidak lazim bagi hamba Pangeran. Jadilah seorang hamba yang berhamba pada Gusti Pangeran. Hubungan Anda dengan sesama hamba Pangeran adalah karena cinta, bakti, pengabdian, dan penghambaan Anda pada Dia, bukan karena keterikatan Anda dengan sesama hamba. Ketika seorang sudah tidak berhamba lagi, Anda tidak berurusan dengannya. Apa yang menjadi tujuan Anda berhamba? Cinta Anda, kasih Anda, bakti Anda terhadap Gusti Pangeran. Anda ingin dekat denganNya, inilah yang disebut peningkatan kesadaran. Inilah kemajuan rohani, dan inilah pengembangan jiwa.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Devayani, dan Sharmistha merasa sebagai hamba-hamba Gusti Pangeran. Akan tetapi perlu waktu untuk mengalami kehidupan yang berliku-liku guna memahami hubungan utama adalah dengan “Sang Majikan”. Selama ini hidup mereka terfokus pada rasa iri sesama pelayan. Ingin pelayan lain tunduk terhadap mereka. Shukracharya memahami hal tersebut dan mengarahkan mereka kepada tujuan hidup sejati.

 

Perkawinan Raja Yayati dengan Devayani

Raja Vrishaparva, sangat tersentuh dengan pengorbanan sang putri yang bersedia menjadi pelayan Devayani. Dengan membawa 100 dayang-dayangnya, Sharmishta memakai pakaian sederhana dan hidup di padepokan Shukracharya sebagai pelayan Devayani. Raja Vrishaparva yakin bahwa Devayani adalah putri seorang Master dan dengan berjalannya waktu hatinya pasti luluh. Devayani sendiri mulai malu dengan keputusannya, dan rasa sakit hatinya akan penghinaan Sharmistha mulai mencair.

Beberapa waktu kemudian, Raja Yayati pergi ke hutan dan bertemu lagi dengan Devayani dengan Sharmistha dan 100 dayang-dayangnya. Devayani kemudian mengajak sang raja menemui ayahandanya. Shukracharya tahu bahwa Raja Yayati adalah raja yang baik dan bijaksana, sehingga kemudian dia berkata, bahwa walaupun pernikahan antara ksatria dengan putri brahmana belum diterima masyarakat, menurut Sastra Suci hal tersebut diperbolehkan. Shukracharya berpesan, bahwa dia menyetujui perkawinan putrinya dengan Raja Yayati akan tetapi mengingatkan bahwa sudah menjadi kebiasaan seorang raja mempunyai beberapa istri, akan tetapi janganlah Yayati menyakiti hati Devayani. Sang raja juga dingatkannya agar tidak menikahi Sharmistha yang sekarang menjadi pelayan Devayani. Devayani akhirnya diboyong di istana dan Sharmistha dengan 100 dayang-dayangnya pun pindah ke istana Raja Yayati.

 

Perkawina Raja Yayati dengan Sharmistha

Di halaman istana yang luas Sharmistha dan 100 dayangnya melayani Devayani yang telah menjadi istri Raja Yayati. Pada suatu hari kebetulan sang raja bertemu dengan  Sharmistha di halaman belakang istana. Dan, Sharmistha pun piawai dalam menarik perhatian sang raja dengan menceritakan kejadian yang menimpanya. Raja Yayati terpesona oleh gaya cerita Sharmistha. Terketuk oleh kebesaran jiwa Sharmistha, sang raja mengajak Sharmistha kawin secara gandarwa. Pernikahan gandarwa adalah tradisi pernikahan para kesatria zaman dahulu yang berdasarkan suka sama suka antara seorang pria dan seorang wanita, tanpa ritual dan tanpa saksi. Akhirnya terjadilah perkawinan gandarwa antara Raja Yayati dengan Sharmistha, putri raja Vrishaparva. Dari Devayani lahirlah dua putra Yadu dan Turvasu. Dan dari Sharmistha lahirlah tiga putra Druhyu, Anu dan Puru.

Devayani tidak pernah mengira bahwa tindakannya menjadikan Sharmistha sebagai pelayannya justru berakibat menyakiti dirinya sendiri. Pada suatu hari, kala Devayani sedang beristirahat di taman istana dia melihat dua anak remaja tampan sedang bermain. Setelah ditanya mereka mengaku bahwa ayahnya adalah Raja Yayati sedangkan ibunya adalah Sharmistha. Devayani shocked, dan ingat kata-kata Kacha bahwa dia bukan hanya tidak akan memperoleh suami seorang brahmana, bahkan dia akan dimadu dengan pelayannya. Devayani segera meminta ayahandanya datang ke istana.

“Keinginan berlebihan akan selalu mengecewakan, karena tidak setiap keinginan akan terpenuhi. Matematika alam tidak bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan dan pikirkan. Hukum Alam bekerja sesuai dengan Kehendak-Nya. Janganlah kita diperbudak oleh keterikatan serta keinginan kita.” (Krishna, Anand. (2002). Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Shukracharya paham bahwa kejadian ini harus dilalui dan akan membuat Devayani, Sharmistha dan Yayati mengalami peningkatan kesadaran. Shukracharya menemui sang raja dan mengatakan bahwa sang raja masih terikat dengan pola bawaan seorang raja yang terbiasa kawin lebih dari seorang dan bahkan telah melanggar pesannya untuk tidak menikahi Sharmistha. Shukracharya kemudian mengutuk sang raja untuk menjadi tua, penglihatannya menjadi lemah, pendengarannya hampir tuli serta ketampanan sang raja berubah menjadi keriput. Raja Yayati, Devayani dan Sharmistha kaget melihat kondisi sang raja. Sang raja kemudian mohon ampun atas kesalahan dirinya dan mohon agar kutukannya dicabut. Shukracharya berkata bahwa apabila salah seorang putranya bersedia mengambil ketuaan sang raja, maka kutukannya segera hilang.

 

Pesan Shukracharya kepada sang Putri

“Pertemuan antara pria dan wanita, umumnya hanyalah pertemuan antara dua ego. Dan pertemuan antara dua ego tidak pernah bertahan lama. Selalu terjadi tarik-menarik, masing-masing ingin menguasai yang lain. Dari hubungan seperti itulah lahir ego baru dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Namun jika terjadi pertemuan agung di dalam Tuhan, maka hasilnya adalah kreativitas yang tertinggi, kesempurnaan abadi, kebahagiaan sejati.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sebelum Shukracharya pergi meninggalkan istana, beliau memanggil Devayani dan berkata bahwa dulu Devayani memintanya agar Raja Yayati mengawini dirinya, kemudian kini Devayani memintanya agar Raja Yayati dikutuk. Devayani belum mencintai sang raja, Devayani hanya mencintai dirinya sendiri. Devayani diminta Shukracharya untuk merenungkan kehidupan.

Devayani dan Sharmistha sangat sedih melihat kondisi Raja Yayati. Devayani semakin sedih kala kedua putranya Yadu dan Turvasu menolak memberikan kemudaaannya kepada ayahandanya. Demikian pula Sharmistha merasa sedih kala dua putranya, Anu dan Druhyu juga menolak memberikan kemudaannya. Kedua wanita tersebut merasa bahwa mereka belum bisa membina putra-putra mereka untuk berani berkorban demi kemakmuran rakyat banyak yang akan berkurang dengan Raja yang uzur.

Adalah Puru putra ketiga Sharmistha yang bersedia mengorbankan keremajaannya dan memberikannya kepada sang ayah. Raja Yayati kemudian mengumumkan bahwa putra mahkota yang akan menggantikan dirinya nanti adalah Puru.

Raja Yayati menjadi muda kembali dan memerintah kerajaan dengan adil dan bijaksana. Kemarahan Devayani terhadap Sharmistha sudah berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Bahkan kini Devayani telah dikaruniai seorang Putri bernama Madavi. Dewayani bahkan memberikan penghormatan kepada Puru atas pengorbanannya. Sharmistha sedih melihat putranya yang kelihatan tua, tetapi sekaligus bangga mempunyai putra yang berjiwa agung.

 

Akhir Kisah Raja Yayati, Devayani dan Sharmistha

“Umumnya keterikatan kita pada dunia benda, harta kekayaan, keluarga dan kerabat yang menjadi penyebab ‘susah mati’. Kita tidak rela meninggalkan segala apa yang kita miliki. Kita tahu bila segalanya mesti di sini, tetapi tidak menyadarinya, baru sekedar tahu. Maka kita tidak rela meninggalkannya. Sanyas Ashram adalah suatu masa di mana sesungguhnya kita mencicipi kebebasan mutlak. Sayang sekali, seperti burung-burung yang sudah terbiasa hidup di dalam sangkar, kita pun tidak rela meninggalkan sangkar dunia ini. Masa transisi dari Vanaprashta menuju Sanyas tidak bisa ditentukan. Bisa satu tahun, dua tahun, atau sepuluh tahun. Bisa juga sehari, seminggu, sebulan. Semuanya kembali kepada diri kita sendiri, kepada persiapan diri masing-masing.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setelah mempunyai beberapa putra, sesungguhnya ikatan antara suami istri telah mulai mengendor, ikatan suami dan istri terhadap anak-anak mereka menguat. Bila anak-anak sudah berkeluarga ikatan dengan anak-anak pun mengendor. Hal yang alami tersebut penting agar saat meninggal dunia keterikatan terhadap keluarga berkurang sehingga seseorang bisa meninggal dengan rasa ikhlas.

Pada suatu ketika Raja Yayati, Devayani dan Sharmistha bisa memahami nasehat Shukracharya untuk mengubah cinta kasih suami-istri menjadi kasih sayang kepada mitra hidup dalam menjalani peningkatan spiritual. Akhirnya pada suatu hari Raja Yayati memanggil Puru untuk mengembalikan kemudaannya. Puru setelah menjadi muda kembali, kemudian dinobatkan sebagai raja pengganti Yayati. Raja Yayati juga sudah memaafkan para putra yang lain, Yadu diminta menjadi raja di Daerah Selatan, Druhyu menjadi raja di Barat Daya, Turvasu dan Anu di daerah Utara. Yayati kemudian menjalani Vanaprastha, meninggalkan istana bersama Devayani dan Sharmistha mendekatkan diri kepada Hyang Widhi agar pada suatu ketika dapat mengalami kebebasan sejati.

Keturunan Yadu disebut Yadava dan Sri Krishna terlahir sebagai seorang Yadava. Korawa dan Pandawa adalah keturunan Puru. Dinasti Puru disebut Pauravas disebutkan dalam Rgveda dan mereka berkembang di tepi Sungai Sarasvati.

 

Note Tambahan

Seorang penulis dari Kerala, India mempunyai keyakinan Raja Yayati telah mengembangkan wilayah meliputi Sapta Sindhu. Lima anak nya Yadu, Druhyu, Puru, Anu dan Turvashu berkaitan dengan suku-suku utama Rgveda dari 5000 SM. Keturunan Druhyus, juga disebutkan dalam Rgveda. Mereka tinggal di wilayah sungai Sarasvati dan kemudian bermigrasi Utara saat sungai mengering pada tahun 4000 SM akibat perubahan tektonik di mulut sungai di Himalaya. Mereka membangun Stonehenge dan disebut Druid. Bagi sang penulis masih ada kaitan antara Suara Pranava Om dengan Amen, Shalom dan Omkar. Aristoleles menulis Yahudi berasal dari Kalani, menurut penulis tersebut yang dimaksud adalah Kerala.

Sindhu, Shin, Chin, Shintu, Hindu, Hindia, Indo mempunyai kaitan. Ramayana terjadi sekitar tahun 8000 Sebelum Masehi kala Peradaban Sindhu dari India sampai Australia masih merupakan satu benua.

“Peradaban Sindhu terhampar dari Sungai Sindhu di India sampai Astraleya, Australia yang pada zaman dahulu masih merupakan satu Continent. (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Kisah Bodhisattva: Kekuatan Dahsyat Rasa Bersahabat

Posted in Relief Candi with tags , , on November 14, 2013 by triwidodo

borobudur maitribala jpg sumber www himalayanart org

Ilustrasi Raja Maitribala dan 5 Yaksha sumber www himalayanart org

Rasa Bersahabat

“Dalam bahasa Sanskerta, Maitri berarti ‘persahabatan’. Bahkan mungkin lebih dari sekadar persahabatan, tetapi sense of frienship. Dan bila ‘persahabatan’ menjadi sifat seseorang, orang itu disebut Maitreya. Seorang Bhakta adalah seorang Maitreya. Dia bersahabat dengan setiap orang dengan setiap makhluk. Dengan pepohonan dan bebatuan. Dengan sungai dan angin. Dengan  bumi dan langit. Dengan dunia dan akhirat. Itu sebabnya dia tidak pernah mencemari lingkungan, tidak akan merampas hak orang. Tidak percaya pada aksi teror, intimidasi, dan anarki. Seorang Maitreya siap berkorban demi keselamatan orang lain, karena baginya yang lain itu tidak ada. Dia melihat Tuhan di mana-mana.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan Bodhisattva lahir sebagai Maitribala, yang mempunyai kekuatan berdasar rasa persahabatan. Sang raja merasakan penderitaan semua rakyatnya dan memahami keinginan rakyatnya. Negara lain juga menghormatinya karena sang raja bersikap sebagai sahabat. Para pelaku kejahatan ditahan agar tidak mengganggu masyarakat dan dibina agar mempunyai karakter yang baik dan bisa kembali bermasyarakat.

Lima Yaksha Bertemu Penggembala

“Karma berarti ‘karya, tindakan’, dan setiap tindakan akan membawa hasil. Setiap aksi ada reaksinya. Itulah Hukum Karma. Hukum Karma ini yang menentukan pola hidup kita. Kita menanam biji buah asem, jangan harapkan pohon apel. Apa yang Anda tanam, itu pula yang Anda peroleh sebagai hasil akhirnya. Oleh karena itu, bertindaklah dengan bijak.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu ketika, lima yaksha jahat, makhluk yang suka mengganggu manusia, diusir oleh Dewa Kubera dan masuk ke kerajaan yang dipimpin oleh Raja Maitribala. Mereka bertekad mengganggu masyarakat, akan tetapi mereka heran karena kekuatan mereka pudar di negeri tersebut. Dengan menyamar sebagai brahmana, mereka menanyakan kepada seorang penggembala mengapa dia sendirian berani menggembala hewan. Apakah dia tidak takut terhadap raksasa dan yaksha yang suka makan daging manusia? Sang penggembala dengan bangga menyampaikan bahwa negeri tersebut dilindungi oleh kekuatan pelindung yang memancar dari raja yang saleh yang bersahabat dengan semua makhluk.

Sang penggembala berkata bahwa dia hanya mendengar kisah yaksha atau raksasa yang membunuh dan makan manusia, karena dia belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri. Sang pengembala balik bertanya kepada para brahmana, apakah para yaksha dan raksasa belum tahu hukum karma bahwa yang membunuh akan dibunuh? Sang penggembala berkata bahwa dia makan daging dalam kondisi tak ada pilihan makanan lainnya, karena apa yang dimakan akan menjadi tubuh, darah dan otak? Kalau hewan atau manusia yang dibunuh yaksha merasakan cemas sebelum mati dibunuh, maka kecemasan itu juga akan masuk ke dalam diri bersama daging yang dimakannya.

Penasaran dengan Pemahaman Sang Penggembala,

Para brahmana tersebut mendebat, bukankah banyak orang makan daging? Apakah orang tersebut akan dibunuh berkali-kali oleh hewan-hewan yang dimakannya? Kalau orang tersebut tidak dibunuh berkali-kali bukankah alam ini tidak adil? Sang penggembala menjawab, karena orang tersebut makan daging atau membunuh secara tidak langsung, maka orang itu pun akan dibunuh secara tidak langsung melalui penyakit.

“Sia-sialah harapanmu, bila kau mendambakan keadilan bagi setiap kasus dalam hidup. Kau harus melihat hidup secara utuh, sebagai satu kesatuan dan kalau begitu sungguh adil hidup ini. Karena kita telah membunuh 6000 ekor ayam semasa hidup kita, ditambah lagi dengan sekian kerbau, sapi, kambing, udang, kepiting, dan ikan, tidak berarti setiap hewan akan menyerang kita kembali, dan kita harus mati sekian kali. Tidak demikian. Yang menjadi persoalan adalah ‘pembunuhan’ itu sendiri. Hewan-hewan yang kita sembelih itu tak akan membunuh kita satu persatu. Mereka menyerang kita lewat sekian banyak virus, kuman yang kemudian menyebabkan kematian kita. Alam sungguh adil. Kita membunuh, kita terbunuh. Kematian yang kita anggap alami sesungguhnya tidak alami. Kita mendapatkan hukuman atas serangkaian pembunuhan yang kita lakukan semasa hidup. Ini baru ‘satu’ contoh. Masih banyak contoh-contoh lain.” (Krishna, Anand. (2003). Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)

Para brahmana bertanya apakah pengetahuan yang disampaikan sang penggembala tersebut juga berasal dari sang raja? Dan sang penggembala mengiyakan, sang penggembala mengatakan bahwa sang raja sering berbicara di depan umum dan dia ikut mendengarkan.

Lima Yaksha Menuju Istana Raja

“Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih ‘yang memuliakan’. Mereka yang tidak bijak memilih ‘yang menyenangkan’ karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kelima yaksha jahat tersebut semakin penasaran dan segera berangkat ke istana untuk membuat masalah. Mereka memilih membuat masalah demi kesenangan diri mereka sendiri, dan ingin menjatuhkan kewibawaan sang raja. Mereka semua menyamar sebagai brahmana lagi dan datang ke istana mendekati sang raja yang tengah menemui pemuka masyarakat. Mereka bilang pada sang raja bahwa mereka sangat lapar dan haus serta mohon disediakan makanan dan minuman. Sang raja segera menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi kelima brahmana tersebut.

Ketika hidangan telah disajikan, para yaksha tersebut berseru bahwa mereka tidak bisa makan hidangan yang disajikan. Ketika sang raja menanyakan hidangan apa yang mereka inginkan. Para yaksha tersebut segera mengubah kembali ke wujud aslinya dan berkata bahwa mereka perlu makan daging mentah manusia dan darah segar. Mereka berkata bahwa mereka telah memegang kata-kata sang raja yang akan melayani makanan dan minuman mereka.

Sang raja berpikir keras, dia mempunyai rasa bersahabat dengan semua makhluk. Dia tidak dapat menolak permintaan para tamu yang kelaparan, tidak elok menarik kata-kata yang telah diucapkan kepada para sahabat. Akan tetapi dia juga tidak dapat mengorbankan rakyatnya menjadi santapan para yaksha, dia tidak mungkin pula mengorbankan para sahabatnya sebagai makanan para yaksha.

Sang raja sampai pada kesimpulan untuk memberikan darah dan daging dari tubuhnya sediri. Para tabib dipanggil dan para tabib mohon kepada sang raja untuk tidak mengabulkan permohonan para yaksha karena akan membahayakan nyawa sang raja sendiri. Bumi mulai bergetar karena kesedihan menyaksikan raja yang rela mengorbankan dirinya.

Memberikan Darah dan Dagingnya Sendiri kepada Para Yaksha

“Dharma selalu mempersatukan. Sesuatu yang menjadi alasan bagi perpecahan, sesuatu yang memisahkan manusia dari sesama manusia – bukanlah Dharma. Dharma, sekali lagi, bukanlah sesuatu yang ‘baik’ dalam pengertian sederhana kita. Dharma tidak selalu ‘menyenangkan’ sebagaimana kita mengartikan kata ‘kesenangan’. Ia adalah ketepatan. Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, ‘Ada yang menyenangkan atau Preya, dan ada yang memuliakan atau ‘Shreya’. Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit – akhirnya manis. Dharma adalah sesuatu yang memuliakan.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Sang raja berkata kepada para tabibnya, “Mereka telah datang kepadaku dalam keadaan lapar dan haus, dan sebagai sahabat aku telah berjanji mempersiapkan makanan dan minuman bagi mereka. Ternyata mereka minta minum darah segar dan makanan daging segar manusia. Tidak mungkin aku mengorbankan warga masyarakat karena mereka semua adalah sahabatku juga. Darah dan daging pada tubuhku pun adalah sahabatku juga. Akan tetapi aku dapat mengambil sebagian daging dari pahaku yang cukup besar, demikian pula sebagian darahku akan kusajikan kepada mereka. Jika aku mengingkari janji karena cinta pada diriku sendiri, maka aku tidak akan punya kekuatan lagi untuk melindungi rakyatku. Aku tidak bisa membiarkan tamuku sebagai sahabatku meninggal karena kelaparan dan kehausan di rumahku. Pengemis dan orang yang memohon bantuan dapat ditemukan setiap hari, akan tetapi yang seperti mereka tidak dapat ditemukan setiap hari. Aku perintahkan untuk memotong beberapa urat darahku untuk disajikan sebagai minuman para tamuku!”

Para yaksha kaget mendengar titah sang raja kepada tabib istana. Tiba-tiba rasa haus dan lapar mereka lenyap. Nafsu makan daging dan minum darah manusia yang telah menjadi kebiasaan mereka, luntur. Rasa terdalam yang ada di dalam diri mereka muncul, rasa kemanusiaan dalam diri mereka berkembang begitu cepat mendengar titah sang raja.

Dan mereka berkata, “Sudah cukup raja, kami mohon maaf atas tingkah laku kami!”

Tabib istana telah memotong beberapa urat darah dan mulai mengerat paha sang raja. Dan para yaksha sudah tidak tahan lagi dan berkata, “Kami berlima sangat menyesal, mohon Paduka Raja berkenan menghentikan tindakan ini, kami semua berjanji untuk melaksanakan dharma dan tidak akan makan daging manusia lagi!”

Sakra, Sang penguasa dewa memperhatikan kesedihan bumi dan seluruh alam semesta yang menangis melihat luka sang raja. Sakra kemudian mengumpulkan rempah-rempah dari langit dan mengusapkannya pada luka sang raja. Dalam waktu singkat luka sang raja sembuh dan kembali sehat.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013