Kisah Boddhisatva: Menundukkan Dewa Indra, Penguasa Bumi

borobudur Bodhisattva memberikan wacana sumber ignca nic in

Ilustrasi Bodhisattva memberikan wacana, monyet dan gajah ikut mendengarkan sumber ignca nic in

Kebersamaan Melipatgandakan Energi

“Angsa Terbang dengan Formasi Huruf ‘V’. Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan ‘daya dukung’ bagi burung yang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi ‘V’, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian. Kalau seekor angsa terbang ke luar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya. Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan Bodhisattva lahir pada sebuah keluarga brahmana. Dia memiliki enam adik laki-laki dan satu adik perempuan. Sang Bodhisattva menguasai Veda dan Upaveda, menghormati kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia dan juga mengajarkannya kepada adik-adiknya. Saat kedua orang tuanya meninggal Sang Bodhisattva berkata akan menjalani sanyas, meninggalkan kehidupan duniawi. Seluruh adik-adiknya menyatakan bergabung dengannya, demikian pula pembantu setia mereka, seorang lelaki dan seorang perempuan. Mereka semua menyerahkan semua kepemilikan mereka dan pergi ke hutan. Mereka melilih tinggal di tepi sebuah danau besar yang indah. Mereka tinggal di sana membuat pondok-pondok masing-masing terpisah. Mereka larut dalam meditasi dan hanya bertemu lima hari sekali untuk mendengarkan wacana dari Sang Bodhisattva. Seorang Yaksha, seekor monyet dan seekor gajah di hutan tersebut juga bergabung menjadi pendengar wacana Sang Bodhisattva.

Bergerak ke arah Tujuan yang Sama

“Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling berbagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain……… Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada melakukannya bersama-sama……….. adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama, bergantian. Seperti halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta atau sumber daya lainnya…….. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama saling menguatkan) adalah kualitas suara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan……. Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama (atau bahkan lebih) seperti ketika segalanya baik!” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kedua pembantu mereka melayani mereka, dengan mengumpulkan tangkai teratai dan membaginya menjadi delapan bagian sama besar dan mempersiapkannya berjajar urut bagi Bodhisattva dan ketujuh adik-adiknya. Bila sudah siap mereka memukulkan kedua potong kayu dan dan pergi diam-diam. Bodhisattva mengambil bagiannya, kemudian balik ke pondoknya dan kemudian berturut-turut adik-adiknya mengambil makanan tersebut. Mereka tidak bertemu sehingga tidak bicara. Hanya pada hari kelima mereka bertemu mendengarkan wacana dari Bodhisattva. Demikian dilakukan mereka dan kesadaran mereka meningkat dengan tajam.

Sakra, Dewa Indra penguasa bumi mendengar reputasi Bodhisattva dan ketujuh adiknya dan mencoba keseriusan tapa mereka. Dia kemudian mengambil bagian makanan Sang Boddhisattva. Saat waktunya sang pembantu memukulkan kedua potong kayu, Boddhisattva datang akan mengambil jatahnya dan melihat jatahnya telah tidak ada dan kemudian dia kembali ke pondoknya. Adik-adiknya tidak tahu apa yang terjadi dan melakukan kegiatan rutin seperti biasa. Hal demikian berjalan lima hari dan Bodhisattva selalu melihat jatahnya sudah tidak ada dan kembali ke pondoknya.

Pengaruh Sang Boddisattva

“Manusia sadar bagaikan bibit yogurt. Satu sendok teh sudah cukup untuk membuat semangkuk yogurt. Satu orang sudah cukup untuk memancing kesadaran sekelompok manusia. Itu sebabnya setiap agama menganjurkan doa bersama. Itu sebabnya ada tempat-tempat ibadah. Satu orang sadar bisa membantu sekian banyak orang di sekitarnya, kendati orang sadar itu sendiri tidak akan menganggapnya ‘bantuan’. Dia tidak merasa membantu siapa-siapa. Dia hanya ‘hadir’, dan ‘kehadiran’-nya, ikut tersadarkan, ikut merasakan “KEHADIRAN” yang dirasakan oleh Sang sadar.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada hari kelima semua adik-adiknya, kedua pembantunya serta Yaksha, Monyet dan Gajah berkumpul ke tempat Boddhisattva untuk mendengarkan wacana. Mereka melihat Sang Bodhisattva sangat kurus dan lemah. Akhirnya semua tahu bahwa sudah lima hari Bodhisattva tidak makan karena jatahnya sudah tidak ada.

Adik pertama berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai memperoleh apa yang dinginkannya!”

Adik kedua berkata, “Semoga pengambil tangkai terarti menjadi bersih dari noda keterikatan duniawi!”

Adik ketiga berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai diberkati putra yang memperhatikan kehidupannya, sehingga bisa menjalankan kebaikan tanpa diributkan keperluan keluarga!”

Adik keempat berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi orang yang  dihormati semua manusia!”

Adik kelima berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi kepala rumah tangga yang bijak!”

Adik keenam berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi penyebar Veda yang berhasil emnjadikan para pendengarnya menjadi orang yang saleh!”

Adik ketujuh berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi saleh seperti Bodhisattva. Andaikata dia perempuan agar menjadi permaisuri raja yang saleh!”

Pelayan laki-laki berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi kepala desa yang saleh yang dihormati seluruh warganya!”

Pelayan perempuan berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai selalu dalam kebahagiaan terpenuhi segala kebutuhannya sehingga menjadi orang yang saleh!”

Yaksha berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai memperoleh berkah memperoleh biara besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitarnya!”

Monyet berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai memperoleh kemuliaan terpenuhi segala kebutuhannya sehingga dapat membantu orang-orang yang sedang kesusahan!”

Gajah Berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi brahmana yang suci!”

Sang Bodhisattva berkata, “Semoga kita semua memperoleh berkah penerangan untuk dapat membedakan antara kenyamanan dan kebahagiaan. Yang bisa membahagiakan kita semua hanya satu yaitu kasih. Kasih tak terbatas  dan tak bersyarat yang menjadi berkah kita semua, adalah kasih yang menjadi penyebab dan juga akibat dari Kebahagiaan Abadi!”

Komunitas Sekitar Master

“Sekitar seorang master, seorang guru, biasanya tumbuh sebuah komunitas. Komunitas ini bukanlah sebuah lembaga, bukan organisasi, tetapi kelompok orang yang tengah ‘terbang bersama’. Persis seperti angsa-angsa tadi. Bila sebuah commune atau komunitas seperti itu berubah menjadi lembaga atau organisasi dengan peraturan-peraturan ketat, ia sudah tidak lagi disebut commune. Sebuah tempat bisa disebut commune, asal tempat itu digunakan untuk latihan terbang bersama, karena bila ingin terbang sendiri-sendiri kita tidak membutuhkan commune. And there is wrong with it. Bila kita yakin betul akan kemampuan diri dan berani terbang sendiri – no problem. Itu sebab, di dalam sebuah commune, kebersamaan, togetherness merupakan kata kunci. Badan kita boleh berada dalam suatu commune. Tanpa kebersamaan, jiwa kita akan tetap berada di luar commune. (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Doa-doa Bodhisattva dan komunitas sekitarnya membuat Sakra merasa bersalah. Sakra kemudian muncul di depan mereka, menghormat Bodhisattva, mengakui kesalahannya, mengembalikan tangkai lotus serta berterima kasih kepada Boddhisattva dan komunitasnya yang kesalehannya mempunyai pengaruhi besar terhadap bumi dan memberikan inspirasi kebaikan bagi semua makhluk.

Mengakhiri Konflik dalam Diri

“Ketika kita berhasil memilah antara yang langgeng abadi, dan yang tidak langgeng, tidak abadi, tercapailah ‘Dehasanyas’. Berarti kita sudah berhasil memahami sifat kebendaan yang senantiasa berubah, tidak permanen. Ketika kau berhasil menguasai kekacauan pikiran, indera, dan ucapanmu, tercapailah ‘Manosanyas’. Mengapa terjadi kekacauan, sala persepsi? Pertama, karena kita lebih senang mendengar suara kita sendiri, tidak suka mendengar suara orang lain. Kedua, kita menerjemahkan, menginterpretasikan ucapan orang lain sesuai dengan kemauan kita, kepentingan kita, bahkan sesuai dengan segala macam kecurigaan dan persepsi-persepsi salah yang ada di dalam otak kita. ‘Atmasanyas’ terjadi ketika pikiranmu, perasaanmu, tindakanmu, semuanya berlandaskan prinsip-prinsip Vedanta. Prinsip-prinsip Vedanta adalah prinsip Non-Duality atau Advaita, bahwa esensi dari segala sesuatu adalah satu dan sama. Tidak ada dua esensi. Tidak ada dua kebenaran. Tidak ada dua zat. Bahwa sesungguhnya, Atma, dan Paramatma, adalah satu dan sama.  Atma adalah ombak, dan Paramatma adalah laut. Ombak tidak pernah terpisahkan dari laut. Kesadaran inilah yang dapat mengakhiri segala macam ‘konflik di dalam diri mereka yang menyadarinya’. Ya, mengakhiri konflik di dalam diri mereka yang menyadarinya. Jika anda tidak menyadarinya, silakan berkonflik hingga akhir usia. Tidak ada yang dapat memaksa Anda untuk menyadari hal ini. Dalam hal ini kita juga mesti sadar bahwa berakhirnya konflik di dalam diri kita tidak menjamin berakhirnya konflik di luar diri. Tidak pula menjamin bahwa mereka yang suka berkonflik, mereka yang belum mencapai kesadaran Vedanta, advaita, nondual, atau apa pun sebutannya, tidak akan mencari gara-gara dan menyerang kita, bahkan membuat alasan untuk berkonflik dengan kita.” Sumber:  (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: