Devayani Kacha, Kisah Cinta Putri Guru Asura dengan Putra Guru Dewa

Kacha Devayani dan Shukra sumber www indolink com

Ilustrasi Kacha, Devayani dan Shukracharya sumber: www indolink com

Keyakinan Shukracharya

“Keyakinan merupakan modal utama manusia. Tanpa keyakinan, hidup kita akan selalu terombang ambing. Untuk mengembalikan keselarasan tubuh, keseimbangan diri, kejernihan pikiran dan ketenteraman jiwa sangat dibutuhkan keyakinan.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Shukracharya bertapa dengan keras untuk memperoleh mantra Sanjivani dari Shiva. Sebagaimana biasa Indra mengganggu tapa, atau lebihnya tepat menguji kesungguhan tekad Shukracharya. Indra mengirim putrinya bernama Jayanti untuk berpura-pura sebagai brahmana wanita yang melemparkan cabai merah kering ke dalam api agar asapnya mengganggu Shukracharya. Air mata Shukracharya sampai berdarah-darah akan tetapi dia tetap bertahan, Shukracharya yakin bahwa dia bisa mengendalikan kesakitan pada matanya. Shiva berkenan dengan tapa Shukracharya dan memberikan mantra Sanjivani. Bahkan kemudian Jayanti menyesali tindakannya dan akhirnya bersedia menjadi istri Shukra selama 10 tahun.

Bila kita menganggap tapa Shukracharya sebagai upaya yang keras untuk mencapai tujuan,  maka godaan Indra lewat putrinya adalah ujian apakah Shukra meneruskan tekadnya walaupun mata atau fisiknya terganggu dalam perjuangannya. Akhirnya tujuan Shukracharya tercapai dan shakti/energi putri Indra menyatu dalam diri Shukracharya.

Resi Shukracharya kawin dengan Urjasvati putri Priyavartha dan mempunyai 4 putra Chanda, Amarka,Tvasthra dan Dharatra serta seorang putri bernama Devayani. Keempat putra Shukra menjadi guru Prahlada putra Hiranyakasiphu. Sedangkan Devayani tetap hidup bersama Shukracharya setelah ibunya meninggal dunia.

Kacha adalah putra Resi Bhrihaspati, guru para dewa dan dia mohon kepada Shukracharya agar diterima sebagai muridnya yang notabene adalah guru para asura. Dewa selalu berperang melawan asura, akan tetapi Shukracharya selalu melihat dengan pikiran jernih tidak terpengaruh oleh perang yang terjadi antara dewa dan asura. Shukracharya yakin dengan melihat kejernihan hati dan potensi dalam diri Kacha, dan menerima sebagai muridnya.

 

Kisah Dewayani – Kacha

Aachaarya sering diterjemahkan sebagai Guru. Yang dimaksud bukan guru biasa, bukan guru sekolah. Aachaarya adalah seorang Guru-Praktisi. Dari suku kata Aachar atau perilaku, perbuatan, aachaarya berarti seorang yang mempraktekkan apa yang diajarkannya. Seorang guru sekolah ‘tidak perlu’ mempraktekkan apa yang diajarkannya. Sesuka dia. Mau dipraktekkan, oke. Tidak mau pun oke.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Oleh karena itu seorang murid hidup bersama keluarga sang acharya, bukan hanya belajar pengetahuan yang diberikan sang acharya, akan tetapi juga melihat praktek nyata dan keteladanan sang acharya. Gurukula, keluarga guru adalah sistem pengajaran zaman dahulu. Demikian Kacha berguru selama bertahun-tahun dan hidup bersama keluarga Shukracharya. Tugas Kacha adalah mempersiapkan kayu bakar untuk ritual agnihotra, menggembalakan sapi dan mencari bunga untuk persembahan. Devayani mulai tertarik kepada remaja Kacha, demikian pula sebaliknya Kacha juga tertarik terhadap Devayani. Akan tetapi sebagai murid Kacha melakukan Brahmachari.

Pada masa itu para remaja melakukan Brahmacari dan setelah selesai berguru baru memilih melanjutkan sebagai grahasthya, perumahtangga  atau meneruskan sebagai Sanyasi, melepaskan diri dari segala keterikatan duniawi.

“Seorang anak, remaja, atau mahasiswa yang sudah dewasa tetap disebut Brahmachari jika ia menggunakan waktunya untuk mengolah diri dan menjadi kreatif. Celibacy atau menghindari kegiatan seksual semasa itu, semata-mata supaya energi di dalam seorang Brahmachari tidak tersia-siakan untuk kegiatan seksual, karena sesungguhnya energi yang sama itu yang membuat kita menjadi kreatif. Jika energi tersebut mengalir ke bawah, terpakailah ia untuk kegiatan seksual. Dan ketika energi tersebut mengalir ke atas, hasilnya adalah kreativitas.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kacha sudah paham bahwa seluruh kesadarannya harus terfokus untuk belajar pada sang guru, sehingga energinya untuk belajar selalu penuh dan fisiknya selalu prima.

“Sperma dalam diri seorang pria dan sel telur dalam diri seorang wanita adalah liquid energy. Inilah energi yang paling murni dan paling dahsyat. Energi ini pula yang membuat manusia menjadi kreatif.”  (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Upaya Para Asura Membunuh Kacha

“Bila kita masih terkendali oleh fightor flight mechanism, dan Lymbic pun masih sangat hewani, maka kita akan merasa terancam, terganggu, bila ada yang memasuki Wilayah Kepekaan kita. Kemudian, kita bereaksi. Keadaan ini menimbulkan banyak persoalan. Seseorang yang terkendali oleh fight or flight mechanism, sungguh sangat individualistik. Sesungguhnya, la hanya memikirkan dirinya saja. Bila la tidak terpelajar, tidak berpendidikan, sifat individualistiknya itu akan terlihat, terasa jelas sekali. Manifestasi dari sifatnya itu sudah pasti vulgar, dapat dibaca oleh siapa saja. Celakanya, bila ia berpendidikan, seperti para aktor intelektual di balik aksi teror di negeri kita, la dapat mengemas individualitasnya, egonya dengan rapi sekali. la dapat menutupinya dan malah memberi kesan sebaliknya, seolah la memikirkan kepentingan orang banyak, rakyat, dan sebagainya. la bisa menipu sejumlah orang, dapat membodohi beberapa orang. Ia tidak dapat menipu dan membodohi semua orang.” (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Adalah para asura yang curiga kepada Kacha, apalagi setelah nampak bahwa pasangan remaja Kacha dan Devayani nampak saling menaruh perhatian. Mereka curiga Kacha akan belajar mantra Sanjivani yang bisa menghidupkan dewa yang telah mati. Di depan Shukracharya mereka nampak menghormati Kacha, akan tetapi di belakangnya mereka berencana untuk membunuh Kacha. Bagi para asura, Kacha itu golongan dewa yang datang berguru pasti untuk memperoleh mantra Sanjivani guna menghidupkan dewa yang mati setelah dibunuh para asura.

“la tak mampu berbicara dari sudut pandang manusia sebagai manusia. Baginya, manusia adalah orang yang sepaham, seiman, ‘seini’ dan ‘seitu’ dengan dirinya. Baginya, manusia adalah orang yang menjadi anggota kelompoknya. Baginya manusia adalah orang yang menerima pandangannya dan siap bertindak untuk mempertahankannya. Seorang pemimpin dengan sifat seperti itu akan merampas kebebasan mereka yang dipimpinnya. Lihat saja wajah para pelaku teror yang sudah tertangkap. Mereka bisa tetap senyum, ketawa-ketiwi, karena kemanusiaan di dalam diri mereka sudah mati. Melihat para korbannya, mereka justru gembira. Mereka sudah tidak manusiawi. Dan, mereka pun sesungguhnya merupakan korban. Otak mereka sudah sepenuhnya dikuasai oleh Si Aktor Intelektual yang masih bebas berkeliaran. (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Pada suatu hari kala Kacha pergi menggembalakan ternak, dia dikeroyok dan dibunuh oleh para asura. Dan, agar Kacha tidak bisa dihidupkan kembali, maka tubuhnya dicincang dan diberikan kepada sekelompok serigala hutan. Pada waktu senja Shukracharya menunggu Kacha yang terbiasa mempersiapkan agnihotra. Saat Devayani muncul dan menangis bahwa dia mencari Kacha dan tidak bertemu, Shukra tahu bahwa Kacha dibunuh dan Shukra kemudian membaca mantra Sanjivani dan Kacha hidup kembali dan para serigala yang makan dagingnya sobek perutnya.

Pada saat lainnya kala Kacha diminta Devayani pergi mencari bunga di hutan, kembali dia dibunuh dan mayatnya dicincang dan diaduk dengan air laut. Kembali pada waktu akan dilakukan agnihotra, Kacha tidak muncul dan Devayani menangis bahwa dia menyuruh Kacha mengambil bunga di hutan dan tidak kembali. Shukracharya kembali paham bahwa Kacha telah dibunuh dan dengan membaca mantra Sanjivani, Kacha hidup kembali. Hati Kacha dan Devayani semakin bertaut dan Shukracharya membiarkannya.

 

Memperoleh Mantra Sanjivani

Untuk ketiga kalinya para asura membunuh Kacha dan membuatnya menjadi bubuk dan dimasukkan ke dalam minuman anggur Shukracharya. Shukracharya minum dan dapat merasakan bahwa Kacha sudah berada dalam perutnya dan sebentar lagi akan mulai mengalir ke dalam darahnya. Ketika Devayani datang dan menangis, Shukracharya merenung dan mencari solusi bagaimana menghidupkan kembali Kacha. Shukracharya minta Devayani memilih apakah Kacha yang mati atau dirinya yang mati. Devayani minta kedua-duanya harus hidup, bila salah seorang mati dia memilih mati juga.

Shukracharya kemudian berbicara dengan Kacha yang berada dalam tubuhnya dan memberikan solusi agar Kacha belajar mantra Sanjivani. Shukra akan membaca Sanjivani dan Kacha akan sembuh kembali, akan tetapi perut Shukra akan koyak dan mati. Kemudian Kacha diminta membaca mantra Sanjivani agar Shukra bisa hidup kembali. Demikianlah yang terjadi, saat Shukracharya membaca mantra, Kacha hidup kembali dan Shukracharya mati dengan perut terkoyak. Kemudian gantian Kacha membaca mantra Sanjivani sehingga Shukracharya hidup kembali. Demikian ketulusan Shukracharya terhadap muridnya yang notabene adalah putra saingannya. Shukracharya marah terhadap para asura yang bahkan telah membahayakan nyawanya. Akan tetapi Shukracharya juga paham bahwa membina asura itu perlu waktu dan upaya yang luar biasa. Hanya Raja Asura Bali yang berhasil dibinanya menjadi asura teladan.

Saat Kacha telah selesai berguru, Devayani minta Kacha untuk menikahinya, akan tetapi Kacha menolak karena dirinya telah masuk ke dalam perut dan bahkan bercampur dengan darah Shukracharya. Menurut Kacha, Shukracharya pada saat ini adalah ayahandanya dan dengan Devayani memiliki pertalian darah sebagai saudara. Devayani berkata bahwa dia telah minta ayahnya untuk menghidupkannya tiga kali, sudah seharusnya Kacha bersedia menyuntingnya. Oleh karena itu Devayani mengutuk Kacha tidak akan bisa mempraktekkan ilmu yang dimilikinya.

Kacha berkata kepada Devayani bahwa dia berterima kasih kepada Shukracharya yang telah memberikan ilmu dan menghidupkannya kembali. Juga berterima kasih kepada Devayani yang telah membantunya selama belajar dan bahkan meminta Shukracharya menghidupkan dirinya. Dia berkata bahwa dia jujur dengan memberikan identitasnya saat berguru sebagai putra Brihaspati. Dia hanya menolak nikah karena mereka telah menjadi saudara. Dia menerima kutukan Devayani tidak akan bisa mempraktekkan ilmunya, akan tetapi dia tetap akan bisa memberikan ilmunya kepada orang yang membutuhkannya. Kacha kemudian berkata sebagai akibat mengutuk dirinya, maka Devayani tidak akan punya suami putra seorang Resi atau Brahmana. Kisah Cinta yang gagal antara Devayani dan Kacha justru merupakan berkah bagi alam semesta, karena dari kegagalan tersebut akan lahir Dinasti Yadu dari Sri Krishna, Dinasti Bharata dari Pandawa dan Dinasti yang mendiami bumi lainnya. Silakan ikuti kisah selanjutnya.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: