Kisah Boddhisattva, Lepaskan Otak Gunakan Hati, Berdermalah Tanpa Pamrih!

borobudur kelinci sumber thedaoofdragonball com

Ilustrasi Kelinci meloncat ke dalam api sumber: thedaoofdragonball com

Melepaskan Otak Masuk ke Alam Rasa

“Demikian, wahai Sariputra, seorang Boddhisatva yang telah melampaui segala macam pengalaman dan tidak berkeinginan untuk mencapai sesuatu apa pun lagi, ‘hidup’ tanpa gangguan (yang disebabkan oleh pikiran). Dan karena ‘hidup’ tanpa gangguan, ia tidak akan pernah takut; ia telah melampaui segala macam pengalaman yang bisa menakutkan, sehingga akhirnya ia mencapai Nirvana, Kasunyatan Sejati. Dengan cara itulah, para Buddha dari tiga jaman telah mencapainya. Lewat ayat ini, Siddhartha Gautama memberikan ciri-ciri seorang Buddha. Ia harus memberikannya, sehingga anda tidak keliru mengenali seorang Buddha. Perlu diingat juga bahwa sutra ini diberikan kepada Sariputra. Buddha juga ingin menyampaikan kepada Sariputra, ‘Temanku, sahabatku, demikianlah ciri-ciri seorang Buddha. Lakukan introspeksi diri, apakah kamu telah mencapainya?’ Untuk bertemu dengan seorang Buddha, anda memang harus membayar mahal. Anda harus membayar dengan otak anda, dengan pikiran anda. Bersama sandal, bersama alas kaki, anda juga harus melepaskan otak, melepaskan mind, sebelum memasuki ruangannya.” (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Membaca kisah Boddhisattva, kita harus melepaskan otak dan mencoba menggunakan rasa. Bagi otak kita, kisah tersebut tidak masuk akal. Pikiran diibaratkan pikiran rumah yang mempunyai dinding-dinding pembatas, sedangkan alam rasa adalah halaman rumah. Halaman rumah adalah bagian dari alam bebas. Dalam buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan: “Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa. Dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Cinta adalah alam rasa. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih!”

 

Kisah Kelinci, Berang-Berang, Serigala dan Monyet

Dikisahkan Bodhisattva lahir sebagai kelinci. Dia memuaskan kebutuhan hidupnya dengan makan rumput, mengenakan bulu sendiri sebagai pakaiannya dan jauh dari perbuatan jahat. Ada 3 hewan yang menjadi murid sekaligus sahabatnya yaitu  berang-berang, serigala dan monyet. Mereka saling mengasihi dan hidup dalam sukacita. Keserakahan tidak lagi menggoda mereka, mereka hidup dalam dharma.

Pada suatu malam sebelum bulan purnama, Sang kelinci memberikan wacana bahwa besok malam adalah bulan purnama, mereka jangan hanya berpikir tentang kebutuhan pribadi. Apabila ada tamu, mereka perlu menghormati tamu dengan menyiapkan makanan yang baik. Mereka perlu melakukan good karma, tindakan bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri. Ketiga sahabat Kelinci mendengarkan dengan seksama, memberi hormat dan kemudian mohon ijin pulang ke kediamannya.

Sampai kini hari pada saat bulan purnama dianggap sebagai hari yang baik untuk melakukan kebaikan.

“Sesungguhnya, kita semua terhubung. Albert Eistein telah mengemukakan tentang adanya unified field of energy. Ada sebuah medan energi yang menyatukan kita semua. Kita semua satu. Hanya saja, kita perlu meningkatkan kesadaran untuk bisa mengakses energi yang lebih tinggi itu. Soalnya, adalah bagaimana cara mengaksesnya? Dalam banyak tradisi kuno, festival-festival keagamaan selalu dikaitkan dengan bulan purnama. Pada saat bulan purnama, bukan hanya air laut, tapi air di dalam tubuh kita akan mengalami pasang naik. Pada saat itu pula, energi kita akan ikut meningkat. Oleh sebab itu, mereka yang memahami mekanisme ini akan memanfaatkan momentum ini dengan mengajak umat beragama untuk melakukan zikir atau sembahyang. Dengan cara itu, kesadaran kita dapat ikut meningkat.” (Krishna, Anand dkk. (2006). Mengungkap Misteri Air. One Earth Media)

Pengetahuan tentang unsur alami air ini berkaitan erat dengan sifat alam. Pasang surut air laut dipengaruhi oleh tarikan bulan dan matahari, pada waktu air pasang, maka 70% air di tubuh manusia juga mengalami pasang. Pada waktu terjadi gerhana dimana matahari, bulan dan bumi pada pada posisi garis lurus, maka pasang terbesar akan terjadi. Tubuh kita akan merasakannya.

 

Tekad sang Kelinci

Matrudevo bhava, pitrudevo bhava, acharyadevo bhava, atithidevo bhava. Ibu adalah Tuhan, Ayah adalah Tuhan, Guru adalah Tuhan, Tamu adalah Tuhan – Taittiriya Upanishad.” Kita perlu menghormati ibu, ayah, guru, tamu sebagai Tuhan yang mewujud untuk menemui kita.

Setelah ketiga sahabatnya pulang, Kelinci merenung lama. Tiga sahabatnya mempunyai banyak cara untuk mempersiapkan makanan bagi tamu, akan tetapi dia hanya mempunyai sedikit rumput untuk mempertahankan kehidupannya dan tidak mungkin dia menawarkan rumput kepada seorang tamu. Apa gunanya hidup bila tidak bisa memberikan kepuasan pelayanan terhadap tamu? Kelinci merenung lagi, “Apakah tubuhku ini tidak berguna bagi siapa pun?” Tubuh seperti halnya pikiran juga perlu dilatih mempersembahkan diri kepada sesama. Kemudian datang tekad dalam dirinya, “Aku bisa menggunakan tubuhku untuk melayani orang lain. Ini tubuhku dan aku tidak merugikan tubuh orang lain.” Kelinci bersukacita  dan pemikiran luhur tersebut membuat bumi berguncang, samudera bergelombang karena sukacita. Bumi, samudera dan alam semesta telah lama mempersembahkan tubuhnya bagi kemanusiaan.

Melihat ini, Sakra, dewa penguasa ingin menguji kesalehan Kelinci dan para sahabatnya. Dia menyamar sebagai seorang pengembara yang lelah dan tersesat serta putus asa di sekitar tempat mereka.

 

Mengorbankan Nyawa

“Ia yang telah melihat ‘momok’ kematian, tidak akan takut menghadapi para maling biasa. Para prajurit yang pernah terlibat dalam perang nyata, tidak akan takut oleh lemparan batu dari anak-anak kecil. Kematian adalah ‘Maling Kelas Wahid’-The Thief! Tidak ada maling sehebat dia. Ia ‘mencuri’ nyawa anda – sesuatu yang tidak bisa dicuri oleh siapa pun juga, selain dia. Hanya seorang ‘pemberani’, seorang ‘pahlawan’ yang tidak takut menghadapi kematian. Banyak diantara kita hanya ‘mengaku’ tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi ‘rasa takut’ yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita – bahkan ‘kekitaan’ itu sendiri. Dan kalau Anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena ‘ego’. Seolah-olah kalau Anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa.” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang brahmana yang tersesat berkata, “Saya kehilangan teman, sendirian lapar, haus dan lelah.Siapa yang bisa membantu saya?”

Keempat binatang bersahabat segera menghampirinya. Berang-berang berkata, “Aku menemukan tujuh ekor ikan yang mungkin ditinggalkan oleh nelayan, silakan memanfaatkannya!” Serigala  berkata, “Aku menemukan kadal dan susu asam yang mungkin ditinggalkan orang tak dikenal, silakan menikmatinya!” Monyet datang dan berkata, “aku mempunyai mangga yang matang, silakan menikmatinya!” Kelinci mendekat dan berkata, “aku tidak punya kacang, atau butir nasi yang akan kutawarkan. Akan hanya punya tubuh dan aku serahkan kepada Tuan!”

Sang brahmana berkata, “Terima kasih teman-teman semua yang telah memberikan makanan kepadaku. Akan tetapi aku tidak bisa menerima kebaikan Kelinci. Bagaimana aku bisa membunuh makhluk hidup?” sambil berkata demikian sang brahmana mengumpulkan ranting-ranting dan mulai membuat api. Kelinci berkata, “Aku mempunyai tekad untuk memberi, dan Tuan adalah tamu yang layak. Kesempatan ini tidak mudah diperoleh. Ini adalah caraku menunjukkan niat baikku, silakan menikmati dagingku!” dan Kelinci melemparkan dirinya ke dalam api yang berkobar.

Sakra kembali pada wujudnya sendiri dan mengangkat Kelinci ke langit. “Para dewa, lihatlah dan bersukacitalah atas perbuatan heroik hewan ini. Tanpa ragu-ragu dia mempersembahkan tubuhnya kepada tamunya. Dalam tubuh hewaninya dia mempunyai kebesaran sejati yang patut diteladani manusia dan dewa!”

Kemudian Sakra menghiasi istananya dengan gambar Kelinci untuk memuliakan kejadian tersebut. Dan ia juga menghiasi bulan dengan gambar yang sama.

 

Mengapa Selalu Mengutip Pendapat Para Master dalam Menyampaikan Sebuah Kisah?

Kata-kata kita hanyalah kata-kata belaka. Kisah yang kita sampaikan hanyalah sekedar pengutipan belaka, karena kita hanya menyampaikan pengalaman orang lain. Seorang Master telah mengalami semuanya, sehingga pandangannya sangat berharga, karena apa yang Master ucapkan, Beliau telah mengalaminya.

“Kata-kata bukanlah ajaran. Untuk menjadi ajaran, kata-kata haruslah diterangi oleh pencerahan si penyampainya, Pencerahan seorang Master, seorang Mursyid bagaikan nyawa. Kata-kata plus nyawa sama dengan ajaran. Bila Anda berwawasan luas, tidak fanatik terhadap suatu ajaran, dan masih bisa berpikir dengan kepala dingin, anda akan melihat persamaan dalam setiap ajaran. Setiap Master, setiap Guru, setiap Murysid sedang menyampaikan hal yang sama. Cara penyampaian mereka bisa berbeda. Tekanan mereka pada hal-hal tertentu bisa berbeda. Tetapi inti ajaran mereka sama. Dan memang harus sama, karena berasal dari sumber yang sama. And yet, setiap kali, ada saja yang mengulanginya. Kenapa? Yang kita anggap pengulangan sesungguhnya adalah proses pemberian nyawa. Para Master, para Guru, para Mursyid memberi nyawa kepada ajaran-ajaran lama.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: